MEWUJUDKAN SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA BAGI GURU DAN SISWA
Makalah
Disajikan untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung
Tahun 2013
Oleh:
YOEDIMANTO, S.Pd. NIP 19530625 197903 1 007
Judul Makalah : Mewujudkan Sekolah Sebagai Rumah Kedua bagi Guru dan Siswa Penulis : Yoedimanto, S.Pd., guru SMP Negeri 1 Ngantru
NIP : 19530625 197903 1 007
ABSTRAKS
Sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa bukan hal yang mustahil untuk dilaksanakan. Obsesi ini muncul karena fenomena dunia pendidikan saat ini tampak dibebani materi pelajaran yang terlalu sarat dan padat. Akibatnya, pelaku pendidikan, baik guru maupun siswa menjadi jenuh yang pada muaranya menjadi tersiksa dan enggan pergi ke sekolah. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah hendaknya mampu membuat anak didik dan pengelola sekolah kerasan (betah).
Konsekuensi logis yang muncul adalah harus diiringi sarana dan prasarana yang memadai untuk mewujudkan obsesi demikian ini. Tata ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, tempat ibadah, sampai toilet, serta sarana dan tempat bermain harus tersedia. Peran guru harus maksimal untuk membentuk pendidikan semacam ini, sebagai guru profesional harus menguasai materi pelajaran, sebagai orang tua di sekolah harus mampu mengayomi, asah, asih, dan asuh terhadap siswanya.
Untuk merealisasikan obsesi mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa perlu dicanangkan visi dan misi yang tepat. Visi “Membentuk generasi cerdas, kreatif, dinamis yang berbasis kekeluargaan”. Visi tersebut harus dijabarkan dengan beberapa misi yang relevan dan mendukung pelaksanaan demi terwujudnya visi yang telah digariskan dan ditargetkan.
Untuk kesuksesan meraih target atau visi tersebut, perlu juga disusun rencana strategis jangka panjang 4 tahun yang dirumuskan bersama dengan seluruh komponen sekolah. Dengan arah yang jelas dan pembagian kerja yang terarah, diharapkan visi tersebut mampu dilaksanakan. Adapun sumber dana sebagai penunjang utama pelaksanaan visi dan misi diperoleh dari (1) pemerintah, (2) masyarakat, dan (3) donatur.
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Selama ini pendidikan di sekolah hanya menekankan pembelajaran yang berorientasi kepada materi pelajaran yang terkemas dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan di sekolah tidak lagi terfokus kepada pembentukan anak yang cerdas dan berkarakter. Hal ini disebabkan peran guru yang memposisikan diri bukan lagi sebagai pendidik, tetapi hanya sebagai pengajar semata. Makna pendidikan di sekolah bergeser hanya dalam bentuk pengajaran materi pelajaran semata yang mengedepankan aspek inteligensi semata.
Cara mengajarnya pun cenderung masih menerapkan pola konvensional, pemberian materi cenderung hanya di dalam kelas. Pun pula dalam hal pengambilan nilai. Pengambilan nilai dengan bentuk tes yang hanya berupa hafalan dengan menjawab tes pilihan ganda atau hanya sekedar ditugasi untuk menjawab pertanyaan, tanpa diberi kebebasan menyampaikan pendapat dan analisis.
Realitas yang sering kita lihat di sekitar kita menunjukkan bahwa lulusan sekolah adalah generasi yang jauh dari nilai etis, pedagogis, dan religius. Tawuran pelajar seakan terjadi di mana-mana, sedang peran guru seakan tak berdaya karena kehilangan wibawa.
Oleh karena itu, pendidikan di sekolah sudah selayaknya mulai difokuskan pada pembentukan karakter atau perilaku anak didik. Anak didik sudah seharusnya ikut merasakan sentuhan kasih sayang orang tua di sekolah. Anak didik sudah seharusnya merasakan bahwa berada di sekolah seakan-akan berada di rumah sendiri. Sekolah diharapkan menjadi suatu tempat yang nyaman sehingga membuat anak didik menjadi betah atau kerasan di sekolah.
Demikian juga, bagi para pengelola sekolah. Diharapkan pengelola sekolah pun mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik anak agar anak didik kerasan di sekolah. Yang dimaksud dengan pengelola sekolah di sini tidak hanya terbatas pada sosok guru saja, melainkan seluruh elemen yang ada di lembaga pendidikan. Mulai dari kepala sekolah, guru, staf administrasi (tatausaha), serta petugas keamanan sekolah.
topik “Mewujudkan Sekolah Sebagai Rumah Kedua bagi Guru dan Siswa” ini menjadi judul makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan judul makalah di atas, maka perlu dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
1) Bagaimana rumusan visi dan misi yang sesuai dengan konsep mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa?
2) Bagaimanakah strategi yang sesuai untuk mencapai keberhasilan visi yang telah digariskan?
3) Program apa saja yang perlu dicanangkan untuk melaksanakan strategi demi terwujudnya visi yang telah digariskan?
4) Bagaimanakah tolok ukur keberhasilan visi yang telah digariskan secara terukur?
C. Tujuan Penulisan
Berdasrkan rumusan masalah yang telah disusun, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1) Merumuskan visi dan misi yang sesuai untuk mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa.
2) Merumuskan strategi yang sesuai untuk mencapai keberhasilan visi yang telah digariskan.
3) Menyusun program jangka panjang yang tepat untuk mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa.
4) Menyusun indikator-indikator kinerja (performance indicators) yang terukur untuk mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa.
II. Pembahasan
1) Merumuskan visi dan misi
Visi merupakan gambaran masa depan (future) yang realistis dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu (Hariany, 2011). Adapun kriteria pembuatan visi meliputi:
a) visi bukan fakta, melainkan gambaran pandangan ideal masa dengan yang ingin diwujudkan
d) gambaran yang realistik dan kredibel dengan masa depan
Dengan berpedoman pada pendapat tersebut maka visi yang tepat untuk mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa adalah “Membentuk generasi cerdas, kreatif, dinamis yang berbasis kekeluargaan”
Indikator visi sekolah adalah: (1) unggul dalam prestasi akademik (2) unggul dalam prestasi non-akademik (3) tangguh dalam menghadapi tantangan (4) respek terhadap sesama dan lingkungan
Misi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang harus dicapai (Hariany, 2011). Pernyataan misi mencerminkan tugas utama yang harus dilakukan oleh sekolah
(1) melaksanakan KBM sesuai dalam rangka mencerdaskan anak bangsa (2) menyalurkan bakat dan minat siswa dalam bentuk kegitan ekstrakurikuler (3) membentuk karakter siswa yang berbudaya dan tidak mudah putus asa
(4) membentuk karakter siswa yang mencintai sesama, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat
Sedangkan penjabaran misi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) melaksanakan KBM sesuai dalam rangka mencerdaskan anak bangsa
Pelaksanaan KBM harus menjadi tanggung jawab seluruh pelaku pendidikan di sekolah. Pelaksanaan pembelajaran harus sesuai dengan program yang telah ditentukan sesuai dengan kriteria spesifikasi masing-masing mata pelajaran, dan dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Membentuk siswa yang gemar belajar dan gemar membaca. Untuk itu, diperlukan ruang perpustakaan dan buku-buku yang memadai. (2) menyalurkan bakat dan minat siswa dalam bentuk kegitan ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan di luar jam sekolah, dan dilaksanakan di area sekolah, kecuali kegiatan tertentu yang di sekolah tidak mempunyai fasilitas. Pembina kegiatan adalah guru yang diberi tugas untuk itu. Sedangkan instruktur diambilkan dari luar yang mempunyai kompetensi dalam bidangnya.
Adapun jenis kegiatan yang direncanakan adalah:
a) Olah raga, misalnya: sepak bola, bola voli, bulu tangkis, tenis meja, sepak takraw, renang, bela diri, atletik.
Kecuali sepak bola dan renang, untuk kegiatan olah raga lainnya yang terprogram bisa dilakukan di area sekolah. Pihak sekolah menyediakan fasilitas berupa tempat dan alat untuk bermain.
b) Kesenian, misalnya: seni tari (baik tradisional maupun modern), seni lukis, seni suara (musik), seni drama,
Untuk merealisasikan kegiatan ini sekolah mengupayakan berdirinya aula atau gedung serba guna serta berbagai peralatan yang mendukung, yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan kesenian
c) Keterampilan, misalnya kerajinan membatik, fotografi, tata busana, tata boga, berkebun,
Untuk merealisasikan kegiatan keterampilan, sekolah menyediakan gedung/lahan yang diperlukan dan peralatan yang mendukung
d) Sains dan kegiatan, seperti Karya Ilmiah Remaja, drum band, PMR, Pramuka
Untuk merealisasikan kegiatan ini, pihak sekolah mengupayakan pelatihan yang berkesinambungan, seperti penelitian dan studi banding untk KIR, unjuk kebolehan di masyarakat ntuk drum band, dan praktek lapangan serta berbagai lomba untuk kegiatan PMR dan pramuka.
Pendidikan outborn pun selalu dilakukan.
(3) membentuk karakter siswa yang berbudaya dan tidak mudah putus asa
melaksanakannya tanpa paksaan. Hal ini penting mengingat karakter bangsa harus dibentuk sedini mungkin.
Dengan pendidikan karakter semacam ini siswa terhindar dari kegiatan yang negatif, terhindar dari bahaya narkoba, serta tawuran antarpelajar.
(4) membentuk karakter siswa yang mencintai sesama, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat
Pembinaan kekeluargaan kepada seluruh pelaku pendidikan dengan murid. murid dengan murid, dan antar pelaku pendidikan itu sendiri. Diharapkan saling mengisi, saling membantu, dan menciptakan suasana “melu handarbeni, melu angrungkebi, dan mulat sarira angrasa wani” kepada setiap elemen yang ada di sekolah, dari kepala sekolah, guru, TU, petugas keamanan, petugas kebersihan, dan petugas kantin sekolah.
Diharapkan dengan kebiasaan hidup penuh kekeluargaan di sekolah, akan membawa dampak positif di dalam keluarganya maupun masyarakat.
2) Strategi yang sesuai untuk mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa
Strategi yang ditempuh untuk mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa adalah melakukan sosialisasi. Terutama kegiatan ini dilakukan menjelang tahun pelajaran baru untuk adaptasi bagi siswa baru. Kemudian secara berkala dan berkesinambungan diberikan penyuluhan dan pembinaan agar siswa kerasan/betah tinggal di sekolah. Guru harus mampu memposisikan diri sebagai orang tua di sekolah.
Untuk menjaga kenyamanan dan keasrian perlu dilengkapi dengan aneka pepohonan perdu dan aneka bunga sehinga sekolah tetap sejuk, bersahabat, penuh kehangatan, dan kekeluargaan.
3) Program jangka panjang (4 tahun) untuk mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa
Untuk merealisasikan visi yang mulia tersebut, perlu dilakukan langkah-langkah konkret untuk melaksanakannya. Program yang jelas dan terarah sangat diperlukan agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan harapan tanpa ada hambatan yang berarti. Program inilah yang dimaksud dengan rencana strategis. Rencana strategis disusun mengacu kepada beberapa rambu yang telah dirumuskan. Pendekatan yang ditempuh untuk menyusun rencana strategis ini adalah selalu melibatkan seluruh elemen yang ada dalam lembaga pendidikan (sekolah) ini. Karena merekalah yang akan mengimplementasikan rencana tersebut (Gunata, t.t.)
Hal yang sangat mendasar agar pelaksanaan program bisa tercapai adalah dana. Dana yang cukup akan sangat membantu kelancaran program. Adapun rencana penggalian dana bersumber pada (a) pemerintah, (b) masyarakat, dan (c) donatur atau sponsor tanpa mengikat.
Segala kegiatan rencana strategis (renstra) menggunakan konsep dasar SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, dan Threats).
4) Tolok ukur keberhasilan pencapaian untuk mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi guru dan siswa
Menurut Tjitrosoemarto (2011), Indikator Kinerja (performance indicators) adalah ciri-ciri atau ukuran status kinerja yang dihasilkan suatu kegiatan atau suatu proses. Indikator kinerja diperlukan agar kegiatan dapat (1) diikuti, (2) dikendalikan, jika menyimpang dapat dikoreksi, dan (3) dipastikan untuk mewujudkan kinerja yang dikehendaki.
Masukan (Input) ketersediaan dana, SDM, material, waktu, perangkat
mengajar,
penataan ruang, penataan taman, yang memadai dan harmonis, sanitasi dan irigasi lancar
ketersediaan tempat sepeda murid/guru, tempat mobil guru, tempat parkir tamu
ketersediaan lapangan upacara, lapangan olah raga
Luaran (Output) kebersihan lingkungan, kelas, toilet, kantin, lapangan,
halaman sekolah terjamin
kawasan hijau: rimbun, teduh, dan tidak gersang Hasil (Outcome) mendapat kejuaraan di bidangnya
tidak ada gap atau intrik di antara pengelola pendidikan – siswa
tidak ada gejolak dan reaksi dari masyarakat sekitar pelaksanaan salam, senyum, sapa
tidak ada perkelahian antarsiswa, atau dengan pelajar lain sekolah
selalu bertegur sapa di antara sesma tidak merokok, narkoba, miras
Manfaat (Benefit) Membawa nama baik sekolah dalam kejuaraan/
pertandingan
dapat diterima di masyarakat
siswa mampu melanjutkan sekolah yang lebih tinggi guru dapat berperan aktif dalam masyarakat
Dampak (Impact) tidak ada gejolak/protes dari masyarakat, baik dalam KBM
maupun penanganan guru terhadap siswa tidak ada gejolak dari para siswa
III.Kesimpulan
Pendidikan selayaknya mulai diarahkan tidak hanya untuk menyampaikan materi pelajaran saja, melainkan harus juga difokuskan pada pembentukan perilaku dan pendidikan karakter anak didik. Pendidikan di sekolah seharusnya juga mengarah kepada sentuhan kasih sayang dari pengelola sekolah yang berperan sebagai orang tua kepada para siswa.
adalah kelengkapan sekolah mulai dari tata ruang akademik dan nonakademik, fasilitas pendukung aktivitas belajar mengajar, termasuk arena bermain anak, haruslah memadai. Dengan demikian, para siswa dan para guru mampu berinteraksi bagaikan keluarga besar. Siswa diharapkan tidak merasa terkekang berada di sekolah, mau dan mampu belajar dengan tenang dan serius. Sebaliknya, para guru juga mampu mendidik para siswa dengan setulus hati seakan kepada anak sendiri.
Itulah obsesi penulis jika menjadi kepala sekolah di tempat penulis mengajar.
Daftar Pustaka
Henny Hariany. 2011. Perumusan Visi, Misi, Tujuan, dan Program Sekolah. http://blog.unsri.ac.id.
Krida Pandu Gunata.t.t. Modul Penyusunan Perencanaan Pendidikan: Rencana Pengembangan Sekolah. http://pandu32.co.cc
Local Gouernance Support Program. 2009. Contoh-contoh Indikator Kinerja untuk SKPD. swamandiri.files.wordpress.com
Mahmun Syarif Nasution. t.t. Teknik Menyusun Indikator Kinerja Utama Organisasi. http://sumut.kemenag.go.id