• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Konstitusi Yunani Kuno Modern

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Konstitusi Yunani Kuno Modern"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH KONSTITUSI DARI MASA YUNANI KUNO HINGGA MASA MODERN DAN KONSTITUSI DALAM PENGERTIAN MODERN

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Hukum Konstitusi

Dosen Pengampu: Wiwik Budi Wasito S.H., M.H.

Disusun oleh: V/ICP Izzatul Ulya (15230082)

JURUSAN HUKUM TATA NEGARA FAKULTAS SYARIAH

(2)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim..

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Allah seru sekalian alam dan rahmat serta salam untuk disanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Atas nama Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan melalui proses perjuangan yang cukup panjang, maka makalah yang berjudul “Sejarah Konstitusi dari Masa Yunani Kuno Hingga Masa Modern dan Konstitusi dalam Pengertian Modern” dapat diselesaikan idengan baik. untuk itu kami sebagai penulis mensyukuri atas rahmat yang telah diberikan oleh Allah.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat jauh dari kesempurnaan, banyak terdapat kejanggalan dan kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik dari pembaca akan senantiasa kami terima dengan penuh rasa menghargai. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis maupun pembaca. Semoga menjadi amal pengabdian kami terhadap agama, bangsa, dan negara.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Apabila dilihat dari perkembangannya, makna konstitusi sering mengalami perubahan makna. Hal tersebut tentu saja dilatarbelakangi oleh situasi pada masa itu. Luasnya makna serta ruang lingkup konstitusi, khususnya jika dikaitkan dengan paham konstitusionalisme, menjadikan beragamnya bentuk-bentuk konstitusi dalam kehidupan politik dan bernegara modern.

Konstitusi sendiri telah dikenal sejak Yunani kuno, pada masa itu pemahaman tentang konstitusi hanyalah suatu kumpulan dari peraturan serta adat kebiasaan semata-mata. Sejalan dengan perjalanan waktu, pada masa Romawi kuno konstitusi mengalami perubahan makna; ia merupakan suatu kumpulan ketentuan serta peraturan yang dibuat oleh para kaisar, pernyataan dan pendapat ahli hukum, negarawan, serta adat kebiasaan setempat selain undang-undang. Selanjutnya pada abad VII lahirlah Piagam Madinah yang mana dianggap sebagai konstitusi modern yang dianggap revolusioner. Dari beberapa penjelasan di ataslah yang melatarbelakangi pembuatan makalah ini untuk mengetahui sejarah konstitusi yang lebih rinci.

2. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang permasalahan itu, kami menyusun beberapa rumusan masalah, di antaranya:

1. Bagaimana sejarah konstitusi pada masa Yunani Kuno? 2. Bagaimana sejarah konstitusi pada masa Romawi Kuno? 3. Bagaimana sejarah konstitusi pada Piagam Madinah? 4. Bagaimana konstitusi dalam pengertian modern? 3. TUJUAN PENULISAN

(4)

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Konstitusi

2. Untuk mengetahui sejarah konstitusi dari Yunani Kuno hingga Modern 3. Untuk mengetahui pengertian konstitusi dalam pengertian modern

4. MANFAAT PENULISAN

Dari beberapa rumusan masalah di atas, kami menyusun beberapa tujuan penulisan, di antaranya:

(5)

BAB II PEMBAHASAN

1. Sejarah Konstitusi Yunani Kuno

Awal muncul istilah konstitusi, dalam catatan sejarah klasik terdapat dua perkataan yang berkaitan erat dengan pengertian sekarang tentang konstitusi, yaitu dalam perkataan Yunani kuno ‘politeia’ dan perkataan bahasa Latin ‘constitutio’ yang juga berkaitan dengan kata ‘jus’. Dalam kedua perkataan ‘politeia’ dan ‘constitutio’ itulah awal mula gagasan konstitusionalisme diekspresikan oleh umat manusia beserta hubungan di antara kedua istilah tersebut dalam sejarah. Jika kedua istilah tersebut dibandingkan, dapat dikatakan bahwa yang paling tua usianya adalah kata ‘politeia’ yang berasal dari kebudayaan Yunani.1

Pada masa Yunani Kuno, pengertian konstitusi masih bersifat materiil, dalam arti belum berbentuk seperti yang dapat dimengerti di zaman modern. Namun, perbedaan antara konstitusi dengan hukum biasa sudah tergambar dalam pembedaan yang dilakukan oleh Aristoteles terhadap pengertian politeia dan nomoi. Pengertian politeia dapat disepadankan dengan arti konstitusi, sedangkan nomoi adalah undang-undang biasa. Politeia cenderung mengandung kekuasaan yang lebih tinggi daripada nomoi karena politeia mempunyai kekuasaan pembentuk sedangkan nomoi tidak ada karena ia hanya merupakan materi yang harus dibentuk. Dalam kebudayaan Yunani, istilah konstitusi berhubungan erat dengan ucapan Republica Constituere yang melahirkan semboyan, Prinsep Legibus Solutus Est, Salus Suprema Lex, yang artinya, ‘Rajalah yang berhak menentukan struktur organisasi Negara karena dialah satu-satunya pembuat undang-undang.’2

Menurut Sir Paul Vinogradoff

“The Greeks recognized a close analogy between the organization of the State and the organism of the individual human being. They thought that the

1 Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011) h. 1

(6)

two elements of body and mind, the former guided and governed by the latter, had a parallel in two constitutive elements of the State, the rulers and the ruled.”

Pengaitan yang bersifat analogis antara organisasi negara dan organisme manusia tersebut, menurut W.L. Newman, memang merupakan pusat perhatian (center of inquity) dalam pemikiran politik di kalangan para filosof Yunani kuno. Dalam bukunya The Laws (Nomoi), Plato menyebutkan bahwa “Our whole state is an imitation of the best and noblest life”. Socrates dalam bukunya Panathenaicus ataupun dalam Areopagiticus menyebut bahwa “the politeia is the ‘soul of the polis’ with power over it like that of the mind over the body”. Keduanya sama-sama menunjuk kepada pengertian konstitusi. Demikian pula Aristoteles dalam bukunya Politics mengaitkan pengertian kita tentang konstitusi dalam frase “in a sense the life of the city”3

Menurut Aristoteles, klasifikasi konstitusi tergantung pada: (i) the end persued by states, dan (ii) the kind of authority exercise by their government. Tujuan tertinggi Negara adalah a good life, dan hal ini merupakan kepentingan bersama seluruh warga masyarakat. Oleh karena itu, Aristoteles membedakan antara right constitution dan wrong constitution. Jika konstitusi diarahkan untuk tujuan mewujudkan kepentingan bersama, maka disebut sebagai konstitusi yang benar. Jika sebaliknya, konstitusi tersebut merupakan konstitusi yang salah (prevent constitution). Konstitusi yang terakhir ini diarahkan untuk memenuhi kepentingan para penguasa yang tamak. Ukuran baik buruknya atau normal-tidaknya konstitusi terletak pada prinsip bahwa, ‘political rule, by virtue of its specific nature, is essentially for the benefit of the ruled.’4

Konstitusionalisme Yunani sendiri dapat dimaknai dari tulisan-tulisan dari Plato dan Aristoteles. Menurut filosuf ini, ujian atas kewarganegaraan yang baik adalah kepatuhannya terhadap undang-undang atau konstitusi. Dengan pernyataan

3 Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, h. 5

(7)

tersebut tersirat bahwa pada waktu itu telah berkembang suatu pemikiran tentang kehidupan bernegara yang baik yaitu warga negaranya dituntut untuk mematuhi konstitusi. Upaya untuk membangun suatu kehidupan negara konstitusional dapat diketahui dari penjelasannya mengenai konstitusi ideal yang menekankan pentingnya pendidikan politik, sebab melalui warga yang terdidik negara dapat dilindungi dari timbulnya anarki.5

Di antara karya Plato seperti Republic dan Nomoi, terdapat pula dialog-dialog Plato yang berjudul ‘Politicus’ atau statesman’ yang memuat tema-tema yang berkaitan erat dengan gagasan konstitualisme. Jika dalam Republic, Plato menguraikan gagasan the best possible state, maka dalam buku ‘Politicus’ (statesman) sebelum ia menyelesaikan karya monumental berjudul ‘nomoi’. Dalam buku tersebut Plato mengakui kenyataan-kenyataan yang harus dihadapi oleh Negara sehingga ia menerima Negara dalam bentuknya sebagai the second best dengan menekankan pentingnya hokum yang bersifat membatasi.

Aristoteles sendiri membayangkan keberadaan seorang pemimpin Negara yang ideal yang kuat dan berbudi luhur. Pada masa Yunani kuno ini, dapat dikatakan bahwa belum ada mekanisme yang tersedia untuk merespon keadaan atau tindakan-tindakan revolusioner yang dalam pengertian sekarang disebut sebagai inkostitusional. Selain itu, revolusi-revolusi semacam itu tidak hanya mengubah corak public law, tetapi juga mengubah segala institusi secara besar-besaran, bahkan juga terhadap segala tatanan kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Yang terakhir yaitu, bahwa revolusi yang demikian itulah yang selalu dianggap diiringi dengan kekerasan.6

Selanjutnya, Aristoteles juga menyatakah bahwa, ‘seorang tiran gemar berperang sebagai cara untuk memelihara agar anak buahnya terus mengabdi dan melayani kebutuhannya sebagai seorang komandan.’ Namun demikian, harus juga

5 Syafnil Effendi, "Konstitusionalisme dan Konstitusi Ditinjau dari Perspektif Sejarah". Fakultas Ilmu Sosial Vol. X No.1 Th. 2011, h. 76

(8)

dimengerti bahwa sebelum munculnya pengaruh kaum Stoics7, orang Yunani Kuno

memmang belum membedakan sama sekali antara konsep Negara (state) dan masyarakat (society), maupun antara civil dan social. Oleh karena itu, para filosof Yunani cenderung melihat hokum sebagai bagian atau satu aspek saja dalam pembicaraan mereka tentang polity, tentang Negara. Pemikiran filosof pada masa ini juga tidak atau belum membayangkan hokum sebagai sesuatu yang berada di luar pengertian polity (Negara) atau sesuatu yang terpisah dari Negara di mana Negara harus tunduk dan menyesuaikan diri dengan aturan yang telah ditentukan.8

2. Sejarah Konstitusi Romawi Kuno

Konstitusionalisme Romawi sendiri muncul dilatarbelakangi oleh suatu kenyataan bahwa Romawi juga merupakan negara kota seperti juga di Yunani, tetapi sejak tahun pertama keberadaannya telah dikelilingi dan terancam oleh negara-negara yang memusuhinya, mendorong munculnya politik ekspansi yang tidak pernah lenyap sampai kekaisaran Romawi terkalahkan oleh dunia beradab. Pentingnya Romawi dalam sejarah konstitusinalisme menurut CF.Strong adalah terletak pada fakta bahwa peranan konstitusinya dalam dunia kuno dapat diperbandingkan dengan peranan konstitusi Inggris dalam dunia modern.

Tentang konstitusi Romawi pada awalnya merupakan sebuah instrument pemerintahan yang sangat mantap, walaupun tidak ditemukan dalam bentuk tertulis. Ia merupakan sekumpulan preseden yang dibawa dalam ingatan seseorang atau tercatat secara tertulis, kumpulan keputusan pengacara atau negarawan, kumpulan adat istiadat, kebiasaan, pengertian, dan keyakinan yang berhubungan dengan metode pemerintahaan, disatukan sejumlah tertentu undang-undang. Ide konstitusionalisme dapat ditangkap ditangkap dari perubahan pemerintahan Romawi yang semula sebuah monarki, tetapi kemudian raja-rajanya diturunkan dengan paksa. Dijelaskan,

7 Kelompok penganut paham stoicism yang sangat cocok dengan karakteristik budaya di Romawi

(9)

sekitar 500 S.M, bentuk republik mulai muncul secara jelas, disusul dengan perebutan kekuasaan antar golongan.9

Gagasan mengenai konstitusionalisme pada masa Romawi Kuno diawali dari seorang filsuf, yakni Cicero. Karyanya yaitu, ‘De Re Republica’ dan ‘De Legibus’ adalah pemikiran tentang hokum yang sangat berbeda sekali dengan pemikiran pada masa Yunani Kuno. Pada abad ke-6, konstitusi mulai dipahami sebagai sesuatu yang berada di luar dan bahkan di atas Negara. Tidak seperti pada masa sebelumnya, konstitusi mulai dipahami sebagai lex yang menentukan bagaimana bangunan kenegaraan harus dikembangkan sesuai dengan prinsip the higher law. Prinsip hierarki hokum juga semakin dipahami secara tegas kegunaannya dalam praktik penyelenggaraan kekuasaan.10

Di samping itu, para filososf Romawi jugalah yang secara tegas membedakan dan memisahkan antara pengertian hokum public dan hokum privat, sesuatu hal yang baru yang belum dikembangkan sebelumnya. Biasanya keduanya dibedakan dari sudut kepentingan yang dipertahankan. Hokum public membela kepentingan umum yang tercermin dalam kepentingan Negara, the civitas, sedangkan hokum privat menyangkut kepentingan per orang.

Kemudian, Cicero juga menegaskan bahwa Tuhan tak ubahnya bagaikan Tuan dan Penguasa semua manusia, serta merupakan pengarang atau penulis, Penafsir, dan Sponsor Hukum. Oleh karena itu, Cicero sangat mengutamakan peranan hokum dalam pemahamannya tentang persamaan antarmanusia. Baginya konsepsi tentang manusia tidak bias dipandang hanya sebagai political animal atau insane politik. Melainkan yang lebih utama adalah kedudukannya sebagai legal animal atau insane hukum.

Untuk itu dapat disimpulkan bahwa pengalaman sejarah konstitusi Romawi Kuno, yaitu ilmu hokum haruslah dipandang penting atau sekurang-kurangnya sama

9 Syafnil Effendi, "Konstitusionalisme dan Konstitusi Ditinjau dari Perspektif Sejarah". Fakultas Ilmu Sosial U. Vol. 3 No. 2, Summer 1991, 157

(10)

pentingnya dibandingkan hanya dengan pembicaraan materi hokum semata. Selanjutnya, bahwa ilmu pengetahuan mengenai hokum dibedakan dari asal corak Romawi yang sesuai dengan pertumbuhannya juga sebagai pusat perhatian dan prinsip pokok yang dikembangkan dalam ilmu hokum romawi bukanlah absolute, melainkan terletak pada doktrin kerakyatan, yaitu bahwa rakyat merupakan sumber dari semua legitimasi kewenangan politik dalam suatu Negara. 11

3. Sejarah Konstitusi Islam: Piagam Madinah

Piagam Madinah merupakan surat perjanjian yang dibuat pada masa Rasulullah SAW bersama dengan orang-orang Islam dan pihak lain (Yahudi) yang tinggal di Yasrib (Madinah). Piagam tersebut memuat pokok-pokok pikiran yang dari sudut tinjauan modern dinilai mengagumkan. Dalam konstitusi itulah untuk pertama kalinya dirumuskan ide-ide yang kini menjadi pandangan hidup modern, seperti kebebasan beragama, keberagaman, multikulturalism, humanism dan hak setiap kelompok untuk mengatur hidup sesuai dengan keyakinannya, kemerdekaan hubungan ekonomi, dan lain-lain. Selain itu juga ditegaskan adanya suatu kewajiban umum, yaitu partisipasi dalam usaha pertahanan bersama menghadapi musuh dari luar, dan menjunjung tinggi nilai-nilai humanis.12

Para ahli ilmu pengetahuan , khususnya ahli sejarah menyebut naskah politik yang dibuat oleh Muhammad SAW. itu dengan sebutan yang bermacam-macam. W. Montgomery Watt menakanannya dengan ‘The Constitution of Medina’, R.A. Nicholson ‘charter’, Majid Khadduri ‘treaty’, Phillip K. Hitti ‘agreement’, Zainal Abidin Ahmad ‘piagam’. Sedangkan al-Shahifah adalah nama yang disebut dalam naskah itu sendiri. Yang menurut Ahmad Sukardja, shahifah semakna dengan carter dan piagam lebih menunjuk kepada surat resmi yang berisi pernyataan tentang suatu hal.

11 Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, h. 83

(11)

Dalam berbagai tulisan yang disusun oleh para ilmuwan muslim maupun non-muslim, adanya piagam madinah tersebut tampak telah diakui. Montgomery menyatakan, bahwa dokumen ini secara umum diakui otentik. Ia menambahkan dokumen tersebut merupakan sumber ide yang mendasari Negara Islam pada awal pembentukannya.13

Mengenai penyebutan konstitusi bagi Piagam Madinah, apakah Piagam Madinah termasuk konstitusi atau bukan, dapat dikatakan bahwa Piagam Madinah tidak dapat memenuhinya secara paripurna. Sebab di dalamnya tidak ditemukan mengenai pembagian kekuasaan antara badan legislative, eksekutif, dan yudikatif. Tetapi ia menetapkan adanya pemegang hokum tertinggi. Namun demikian, Piagam Madinah dapat dikatakan sebagai konstitusi karena memiliki cirri-ciri yang terpenuhi, di antaranya di dalam bentuk tertulis, menjadi dasar organisasi pemerintahan masyarakat Madinah sebagai suatu umat, adanya kedaulatan Negara yang dipegang oleh Muhammad SAW., dan adanya ketetapan prinsip-prinsip pemerintahan yang bersifat fundamental yang mengakui kebiasaan-kebiasaan masyarakat Madinah, mengakui hak-hak mereka dan menetapkan kewajiban-kewajiban mereka. Sebagai himpunan peraturan yang mengatur kehidupan masyarakat, Piagam Madinah bercita-cita mewujudkan persatuan dan kesatuan semua golongan menjadi satu umat dan hidup berdampingan.14

Prinsip-prinsip Piagam Madinah dapat dikatakan sebagai ide revolusioner pada saat itu. Dari sudut tinjauan modern, Piagam Madinah dapat diterima sebagai sumber inspirasi untuk membangun masyarakat yang majemuk. Dalam kaitan ini Nurcholis menyatakan bahwa bunyi naskah konstitusi itu sangat menarik. Piagam madinah memuat pokok-pokok pikiran yang dari sudut pandang tinjauan modern pun mengagumkan. Dalam konstitusi itulah untuk pertama kalinya dirumuskan ide-ide yang kini menjadi pandangan hidup sesuai dengan keyakinannya, kemerdekaan hubungan ekonomi dan lain-lain. Tetapi juga tegaskan adanya suatu kewajiban

13 Ni’matul Huda, Ilmu Negara, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014) h. 133

(12)

umum, yaitu partisipasi dalam usaha pertahanan bersama menghadapi musuh dari negara koloni Inggris pada tahun 1776, yang menetapkan konstitusi sebagai dasar negara yang berdaulat.

Kemudian, pada 1789 meletus revolusi di Perancis, ditandai oleh ketegangan di masyarakat dan terganggunya stabilitas keamanan negara. Kekacauan sosial di Perancis ini yang memunculkan akan perlunya konstitusi. Maka, pada 14 September 1791 dicatat sebagai peristiwa diterimanya konstitusi Eropa pertama oleh Louis ke 16. Sejak peristiwa inilah sebagian besar negara-negara di dunia, baik monarki maupun republik, negara kesatuan maupun negara federal, yang sama sama mendasarkan prinsip ketatanegaraannya pada sandaran konstitusi. Di Perancis J. J. Rousseau dengan karyanya Du Contract Social, yang mengatakan bahwa manusia terlahir dalam keadaan bebas dan sederajat di dalam hak haknya, sedangkan hukum merupakan ekspresi dari kehendak umum (rakyat). Pandangan Rousseau ini sangat menjiwai hak hak dan kemerdekaan rakyat (De Declaratioan des Droit d I’Homme et Du Citoyen). Deklarasi inilah yang mengilhami pembentukan Konstitusi Perancis pada tahun 1791, khususnya yang menyangkut HAM (Hak Asasi Manusia). Setelah peristiwa ini, maka muncul kontitusi di dalam bentuk tertulis yang dipelopori oleh Amerika.16

Dalam pengertian modern, Negara pertama yang dapat dikatakan menyusun konstitusinya dalam satu naskah UUD seperti sekarang ini adalah Amerika Serikat

15 Ni’matul Huda, Ilmu Negara, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014) h. 136

(13)

pada tahun 1787. Kemudian, konstitusi tertulis model Amerika tersebut diikuti oleh berbagai negara di Eropa, seperti Spanyol (1812), Norwegia (1814) dan Belanda (1815). Perlu dicatat bahwa konstitusi pada waktu itu belum menjadi hukum dasar yang penting. Konstitusi sebagai UUD sering kali disebut dengan “Konstitusi Modern” baru muncul bersamaan dengan perkembangan sistem demokrasi perwakilan. Demokrasi perwakilan muncul sebagai pemenuhan atas kebutuhan rakyat akan lembaga perwakilan (legislatif). Lembaga ini dibutuhkan sebagai pembuat UU untuk membatasi dan mengurangi dominasi para raja. Alasan inilah yang menempatkan konstitusi tertulis sebagai hukum dasar yang memiliki posisi lebih tinggi daripada raja.17

Namun, para ahli tetap dapat menyebut adanya konstitusi dalam konteks hokum tata Negara Inggris, yaitu sebagaimana dikemukakan oleh Phillips Hood dan Jackson sebagai:

Suatu bentuk aturan, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan yang menentukan susunan dan kekuasaan organ-organ Negara dan yang mengatur hubungan-hubungan di antara berbagai organ Negara itu satu sama lain, serta hubungan organ-organ Negara itu dengan warga Negara.

Dengan demikian, ke dalam konsep konstitusi itu juga tercakup pengertian peraturan tertulis, kebiasaan, dan konvensikonvensi kenegaraan (ketatanegaraan) yang menentukan susunan dan kedudukan organ-organ Negara tersebut dengan warga Negara.

Berlakunya suatu konstitusi sebagai hokum dasar yang mengikat didasarkan atas kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu Negara. Jika Negara itu menganut paham kedaulatan rakyat, maka sumber legitimasi konstitusi adalah rakyat. Jika yang berlaku adalah paham kedaulatan raja, maka raja yang menentukan berlaku tidaknya suatu konstitusi. Hal inilah yang disebut dengan constituent power yang merupakan kewenangan yang berada di luar dan sekaligus di

(14)

atas system yang diaturnya. Untuk itu, di lingkungan Negara-negara demokrasi liberal, rakyatlah yang menentukan berlakunya suatu konstitusi.18

Hal ini dapat dilakukan secara langsung oleh rakyat misalnya melalui referendum, seperti yang dilakukan oleh Irlandia (1937) atau dengan cara tidak langsung melalui lembaga perwakilan rakyat. Cara tidak langsung ini juga dilakukan di Amerika Serikat dengan cara menambahkan naskah perubahan undang-undang dasar secara terpisah dengan naskah aslinya.

Konstitusi bukanlah undang-undang biasa. Ia tidak ditetapkan oleh lembaga legislative yang biasa, tetapi oleh badan yang lebih khusus dan lebih tinggi kedudukannya. Jika norma hokum yang terkandung di dalamnya bertentangan dengan norma hokum yang terdapat dalam undang-undang, maka ketentuan undang-undang dasar itulah yang berlaku, sedang undang-undang harus memberikan jalan untuk itu.19

18 Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, h. 94

(15)

BAB III KESIMPULAN

KESIMPULAN

1. Pada masa Yunani Kuno belum dapat membedakan antara konsep Negara dan masyarakat, maupun antara civil dan social. Para filosof Yunani cenderung melihat hokum sebagai bagian atau satu aspek saja dalam pembicaraan mereka tentang polity, tentang Negara. Mereka belum membayangkan hokum sebagai sesuatu yang berada di luar pengertian polity atau sesuatu yang terpisah dari Negara. 2. Pada masa Romawi Kuno, bahwa ilmu pengetahuan mengenai hokum dibedakan

dari asal corak Romawi yang sesuai dengan pertumbuhannya juga sebagai pusat perhatian dan prinsip pokok yang dikembangkan dalam ilmu hokum romawi bukanlah absolute, melainkan terletak pada doktrin kerakyatan, yaitu bahwa rakyat merupakan sumber dari semua legitimasi kewenangan politik dalam suatu Negara. 3. Piagam Madinah dapat dikatakan sebagai konstitusi karena memiliki cirri-ciri

yang terpenuhi, di antaranya di dalam bentuk tertulis, menjadi dasar organisasi pemerintahan masyarakat Madinah sebagai suatu umat, adanya kedaulatan Negara yang dipegang oleh Muhammad SAW., dan adanya ketetapan prinsip-prinsip pemerintahan yang bersifat fundamental yang mengakui kebiasaan-kebiasaan masyarakat Madinah.

4. Konstitusi memiliki kedudukan yang tinggi yang ditetapkan oleh badan yang lebih khusus dan lebih tinggi kedudukannya. Jika norma hokum yang terkandung di dalamnya bertentangan dengan norma hokum yang terdapat dalam undang-undang, maka ketentuan undang-undang dasar itulah yang berlaku, sedang undang-undang harus memberikan jalan untuk itu.

SARAN

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Asshiddiqie, Jimly. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika. 2011

Asshiddiqie, Jimly. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015

Effendi, Syafnil. "Konstitusionalisme dan Konstitusi Ditinjau dari Perspektif Sejarah". Fakultas Ilmu Sosial Vol. X No.1 Th. 2011

Hasymy. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1975 Huda, Ni’matul. Ilmu Negara. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2014

Referensi

Dokumen terkait