• Tidak ada hasil yang ditemukan

Negotiation Across Culture Negosiasi Lin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Negotiation Across Culture Negosiasi Lin"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

NEGOSIASI ANTAR BUDAYA

SUB TOPIK 3

Sub Topik 3: Konsep Kompleksitas Negosiasi & Teknik, Bentuk, Isu dalam Bernegosiasi

Pengertian Negosiasi

Komunikasi merupakan suatu proses dua arah yang menghasilkan pertukaran informasi dan pengertian antara masing-masing individu yang terlibat. Komunikasi merupakan dasar dari seluruh interaksi antar manusia. Komunikasi merupakan kebutuhan dasar dalam kehidupan manusia untuk

saling tukar menukar informasi. Manusia memerlukan hubungan dan relasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagian besar interaksi manusia berlangsung dalam situasi komunikasi interpersonal

(komunikasi antar pribadi). Dalam perkspektif lain, seperti dalam aplikasi bisnis terdapat bentuk komunikasi yang umumnya dinamakan negosiasi. Jadi negosiasi merupakan salah satu bentuk

komunikasi, dimana negosiasi dalam konteks komunikasi dapat dijelaskan sebagai sebuah bentuk interaksi sosial saat pihak-pihak yang terlibat berusaha untuk saling menyelesaikan tujuan yang

berbeda dan bertentangan.

Negosiasi merupakan salah satu keterampilan dalam berkomunikasi yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Secara sederhana negosiasi merupakan kegiatan antara dua pihak atau

lebih untuk mencapai kesepakatan bersama. Secara definisi negosiasi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang dilakukan oleh beberapa pihak untuk menyelesaikan masalah, melakukan perundingan

untuk mencapai suatu keputusan bersama, melakukan kegiatan tawar menawar untuk mendapatkan keuntungan tertetntu, dan atau berusaha menyelesaikan permasalahan untuk keutungan tertentu. Negosiasi pada perspektif umumnya dikenal sebagai salah satu bentuk alternative dispute resulation.

Alternative dispute resulation merupakan alternatif penyelesaian sengketa, contohnya adalah mediasi atau negosiasi.

Dalam buku Teach Yourself Negotiating, karangan Phil Baguley, dijelaskan tentang definisi

negosiasi yaitu suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. Sedangkan

negosiasi memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu:

o Senantiasa melibatkan orang (baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok),

(2)

o Menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu baik berupa tawar menawar (bargain) maupun tukar menukar (barter),

o Hampir selalu berbentuk tatap-muka yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi,

o Negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi,

o Akhir dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat

Negosiasi dalam pembahasan manajemen lintas budaya memiliki kaitan erat dengan aspek serta

lingkup internasional. Ada dua konteks yang membedakan negosiasi internasional, yaitu konteks lingkungan dan konteks langsung.

I. Konteks lingkungan. Terdapat tujuh faktor yang terkait konteks lingkungan:

1. Politik dan Hukum Pluralisme

o Perusahaan melakukan bisnis di negara-negara yang berbeda (dalam hal hukum dan politik).

o Pertimbangan politik dapat mempengaruhi negosiasi bisnis di berbagai negara pada waktu yang berbeda.

2. Ekonomi Internasional

o Nilai tukar mata uang internasional secara alami berfluktuasi.

o Fluktuasi nilai mata uang menimbulkan risiko yang besar terhadap kedua negara.

o Setiap perubahan dalam nilai mata uang secara signifikan dapat mempengaruhi nilai perjanjian bagi kedua negara.

3. Pemerintah Asing dan Birokrasi

o Sejauh mana pemerintah mengatur industri dan organisasi. 4. Instabilitas

o Terdapat beberapa bentuk ketidakstabilan seperti dapat contohkan: kurangnya sumber daya, kekurangan barang dan jasa, ketidakstabilan politik.

o Tantangan bagi negosiator internasional untuk mengantisipasi perubahan dengan lead time yang cukup untuk menyesuaikan konsekuensinya.

5. Ideologi

o Negosiator dari negara lain tidak setiap waktu berbagi ideologi yang sama.

o Perbedaan pada ideologi dapat menyebabkan pihak tidak setuju pada tingkat yang

paling mendasar tentang apa yang sedang dinegosiasikan.

6. Budaya

(3)

prinsip yang berbeda.

7. Stakeholder Eksternal

o Negosiator internasional dapat menerima banyak promosi dan bimbingan dari

pemerintah melalui kedutaan besar

II. Konteks Langsung, termasuk faktor-faktor yang negosiator tampaknya memiliki control

1. Perundingan Daya Relatif

o Perundingan terhadap operasional sejumlah besar ekuitas yang masing-masing

pihak bersedia untuk berinvestasi dalam usaha baru.

o Anggapan adalah bahwa pihak yang berinvestasi ekuitas lebih memiliki kekuatan

lebih dalam negosiasi dan karena itu akan lebih berpengaruh pada proses negosiasi

serta hasilnya.

2. Tingkat Konflik

o Situasi konflik yang tinggi berdasarkan etnis, identitas, atau geografi lebih sulit untuk

dicarikan solusi.

3.Hubungan antara Negosiator

Negosiasi adalah bagian dari hubungan yang lebih besar antara dua pihak. Sejarah

hubungan yang ada antara pihak-pihak akan mempengaruhi negosiasi saat ini, seperti

negosiasi saat ini akan menjadi bagian dari setiap negosiasi di masa depan.

4. Hasil yang Diinginkan

o Faktor berwujud dan tidak berwujud memainkan peran besar dalam menentukan hasil

dari negosiasi internasional.

o Negara sering menggunakan negosiasi internasional untuk mencapai kedua tujuan

politik domestik dan internasional

5. Stakeholder

o Keterampilan, kemampuan, dan pengalaman oleh negosiator internasional memiliki

dampak besar pada proses dan hasil dari negosiasi internasional.

Konsep Budaya dalam Negosiasi

Konsep budaya dapat dijelaskan sebagai fenomena pada tingkat grup, seperti berbagi

keyakinan, nilai-nilai, ekspektasi perilaku, keyakinan budaya, dan harapan perilaku yang berbeda pada

setiap negara. Kesalahan atribusi budaya juga dapat terjadi pada proses negosiasi dimana terdapat

kecenderungan untuk mengabaikan faktor situasional mendukung dalam penjelasan budaya.

Kebudayaan adalah nilai-nilai bersama serta perbandingan lintas budaya yang dibentuk dengan

menetapkan norma-norma penting dan nilai-nilai yang membedakan satu budaya dari yang lain dan

kemudian memahami bagaimana perbedaan-perbedaan ini akan mempengaruhi negosiasi internasional.

(4)

1. Individualisme / Kolektivisme

o Konsep individualisme berorientasi utama pada bahasan terkait proses, hasil, dan

preferensi dari negosiasi. Masyarakat yang individualistik umumnya mengunakan

kriteria jangka pendek yang dirasa tepat dan wajar.

2. Power Distance

o Jarak kekuasaan yang lebih besar akan lebih berkonsentrasi dalam pengambilan

keputusan. Dimana negosiator dari budaya dengan jarak kekuasaan yang tinggi perlu

meminta persetujuan dari supervisor mereka dengan intensitas yang lebih tinggi,

sehingga dapat dikatakan lambat dalam negosiasi (dapat juga dikatakan proses

pengambilan keputusan akan terkonsentrasi pada manajemen puncak).

3. Masculinity/Femininity

o Budaya berbeda dalam sejauh mana individu terkait memegang nilai-nilai yang

dipromosikan, apakah terkait kesuksesan karir atau kualitas hidup.

o Meningkatkan daya saing ketika negosiator dari budaya kesuksesan hadir.

4. Uncertaincy Avoidance

o Negosiator dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi akan merasa tidak nyaman berada

dalam kondisi negosiasi yang ambigu, sehingga dibutuhkan sebuah kepastian seperti

melalui penjelasan secara lengkap detail kepada individu terkait.

(5)

Dalam kaitannya terhadap perspektif budaya yang dapat mempengaruhi negosiasi,

terdapat beberapa indikator yang perlu dianalisis yaitu:

o Bagaimana budaya didefinisikan,

Budaya Strategi Responsif Negosiasi, Menurut Keakraban dengan budaya pihak lain:

1. Keakraban rendah

o Mempekerjakan agen atau advisors (Strategi Unilateral).

o Membawa seorang Mediator (Strategi Joint).

o Menginduksi perunding lain menggunakan pendekatan (Strategi Joint).

2. Keakraban moderat

o Beradaptasi dengan pendekatan negosiator lain (Unilateral Strategi).

o Mengkoordinasikan penyesuaian (Strategi Joint).

3. Keakraban tinggi

o Merangkul pendekatan negosiator lain (Unilateral Strategi).

o Berimprovisasi pendekatan (Strategi Joint).

o Efek symphony (Strategi Joint).

Negosiasi Bilateral

Negosiasi menurut jumlah pihak yang terlibat dibedakan menjadi dua, yaitu negosiasi

bilateral yang diikuti oleh dua pihak dan negosiasi multilateral atau multipartai yang diikuti oleh banyak pihak. Dalam negosiasi bilateral pun terdapat bermacam-macam cara dalam

pelaksanaannya. Aplikasi dari negosiasi bilateral pada kebijakan yang ada di dunia salah satunya dapat dianalisis melalui Camp David Negotiation.

Camp David Negotiation adalah salah satu contoh dari negosiasi bilateral yang

(6)

Text. Perundingan Camp David ini melibatkan dua pihak yaitu Anwar Sadat, Presiden Mesir

dan Menachem Begin, Perdana Menteri Israel serta Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator. Carter mengundang Sadat dan Begin ke Camp David, tempat peristirahatan presiden Amerika Serikat di Frederick County, Maryland, pada bulan September

1979.

Perjalanan menuju perundingan Camp David dimulai sekitar awal tahun 1977.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Henry Kissinger dalam menyelesaikan konflik Arab-Israel mulai ditinggalkan dan Presiden Jimmy Carter dan sekretaris negara Amerika Serikat Cyrus Vance memiliki cara baru. Beberapa perundingan sempat dilakukan misalnya konferensi

Jenewa yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Dalam konferensi tersebut, beberapa pihak yang berkepentingan tidak hadir dalam konferensi tersebut, misalnya Suriah

tidak hadir karena isu yang menimpa Palestina, Israel tidak hadir karena tidak mau menyetujui PLO yang dianggap organisasi teroris dan bukan representasi rakyat Palestina, serta Mesir yang

keberatan dengan peraturan yang ditetapkan oleh Uni Soviet. Presiden Mesir Anwar Sadat mengadakan kunjungan ke Jerussalem dan berunding dengan Perdana Menteri Israel

Menachem Begin pada November 1977. Sadat, dalam hal ini bertindak sebagai juru bicara untuk semua kepentingan negara-negara Arab, meminta pengembalian semua wilayah yang diduduki seperti Semenanjung Sinai, tepi barat wilayah Jordan, Dataran Tinggi Golan di Siria

serta kembalinya Jerussalem Timur sebagai ganti perdamaian dan normalisasi hubungan dengan Israel. Begitu pula dengan Begin, dia tampak senang dengan prospek negosiasi yang

dilakukan Israel dengan Mesir, selama kedua belah pihak fokus terhadap isu-isu bilateral yang

terjadi.

Perdamaian yang akan tercapai dengan Mesir memberikan keuntungan di bidang

militer bagi Israel. Israel dapat terhindar dari masalah keamanan dengan kembalinya Dataran Tinggi Golan ke Siria dan tepi barat ke Jordan. Namun, ada indikasi dengan terjadinya

perdamaian, Sadat akan berusaha untuk mendapatkan sebuah perjanjian dari Israel yang isinya memberikan hak otonomi kepada Palestina terhadap jalur Gaza dan West Bank. Hak yang

diberikan kepada Palestina nantinya akan memperbesar kemungkinan Palestina untuk bisa mengembangkan lebih jauh mengenai kesepakatan tersebut. Untuk mempermudah proses

negosiasi yang sedang berlangsung, Sadat dan Begin menyetujui diadakannya rapat setingkat dua menteri di Ismalia. Di ranah militer telah disepakati adanya pengembalian tentara Israel dari Sinai agar kesepakatan damai kedua negara dapat tercapai. Di ranah politik telah disepakati

(7)

menginginkan adanya konstruksi dari Declaration of Principles supaya terbentuk “framework” untuk tercapainya perundingan perdamaian.

Peran Amerika Serikat terlihat dari teknik yang dilakukannya dalam memediasi Sadat dan Begin. Mereka menggunakan single negotiation text untuk menengahi proses negosiasi

kedua negara yang sangat alot. Single text negotiation ini diusulkan oleh Roger Fisher dari

fakultas hukum univeritas Harvard yang menempatkan mediator bagi pihak-pihak yang bernegosiasi. Mediator bisa mengajukan usulan solusi yang kemudia masih bisa diperiksa dan

dikoreksi oleh pihak-pihak yang bernegosiasi. Penggunaan SNT ini juga biasa diterapkan pada perundingan tingkat internasional, terutama perundingan yang melibatkan banyak pihak.

Amerika Serikat mulai memberikan penawaran solusi di SNT 1 tapi kemudian dikritisi oleh kedua pihak karena kedua pihak protes proposal yang diajukan oleh Amerika sangat

konyol. Sadat meminta Amerika Serikat tidak menjadikan hal terebut sebagai hasil akhir perundingan dan menjadikannya sebagi dokumen yang dikritisi untuk membuat perjanjian yang

lebih layak. Setelah Sadat dan Begin mengajukan keberatan, Amerika Serika mengajukan solusi berupa SNT-2, meskipun menurut kedua belah pihak SNT-2 lebih baik dibandingkan

dengan SNT-1 tapi mereka belum bisa menerima SNT-2 tersebut. Kemudian Amerika Serikat meninjau kembali SNT-3, kemudian SNT-4 dan SNT-5. Mungkin masih ada keuntungan bersama yang bisa didapat jika Mesir menyetujui SNT-4. Mengingat Israel tidak dapat

menerima SNT-4, maka SNT-4 pun tidak diterima, padahal jika Israel juga menerima SNT-4, Israel mendapatkan sedikit keuntungan yang berlebih dibandingkan Mesir. Jika SNT-5

dirancang untuk menguntungkan salah satu pihak, maka pihak lain akan dirugikan.

Dalam bahasan ini dapat dikenal istilah composite reservation value. Analisis lanjutan menyimpulkan Mesir hanya ingin mencapai suatu kesepakatan dan tidak ingin mencapai suatu

perjanjian begitu pula dengan Israel yang hanya ingin mencapai suatu kesepakatan. Dengan demikian, kedua belah pihak menyetujui adanya sebuah kesepakatan di titik composite

reservation value daripada terbentuknya sebuah perjanjian.

Perundingan Camp David yang terjadi pada 1979 antara Mesir dan Israel memiliki salah satu agenda utama yaitu pembahasan mengenai semenanjung Sinai. Kedua belah pihak

ingin memberikan konsesi teritorial. Dengan kata lain, baik Mesir maupun Israel sama-sama berkeinginan untuk menguasai wilayah semenanjung Sinai. Perundingan berlangsung alot dan hampir menemui jalan buntu. Namun, setelah proses negosiasi yang panjang dan berhari-hari,

(8)

kebutuhan yang berbeda. Mesir menginginkan semenanjung Sinai karena kebutuhan akan

adanya pengakuan kedaulatan, sedangkan Israel menginginkan Sinai karena membutuhkan jaminan keamanan.

Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator dapat dikatakan sangat jeli dimana

AS mencoba untuk mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan pihak-pihak yang terlibat dengan berbagai proposal SNTnya. Kepekaan diperlukan oleh mediator dalam hal ini Amerika Serikat

yang berperan sebagai mediator untuk mengidentifiki perbedaan sehingga menciptakan SNT-5. Kepekaan untuk mengidentifikasi perbedaan kebutuhan itulah yang akhirnya menghasilkan terobosan kesepakatan yang menarik: menciptakan zona demiliterisasi yang berada di bawah

naungan bendera Mesir. Kedua negara itu puas dengan hasil kesepakatan karena kebutuhannya sama-sama terpenuhi.

Multiple Parties Negotiation: Kompleksitas Dalam Negosiasi

Negosiasi tidak selalu hanya melibatkan dua pihak yang berkepentingan saja, ada negosiasi yang sangat kompleks yang melibatkan jauh lebih banyak pihak. Multiple partie

negotiation adalah sebuah kegiatan negosiasi yang melibatkan lebih dari satu pihak untuk bekerja bersama-sama dalam mencapai suatu goal yang diinginkan oleh setiap pihak tersebut.

Ada sejumlah perbedaan antara multiparties negotiation dengan two-party negotiation (bilateral), dimana jumlah pihak yang mengikuti proses negosiasi tersebut merupakan

perbedaan yang paling mendasar antara keduanya. Pada negosiasi multipartai aktor yang mengikuti proses negosiasi lebih dari dua pihak. Dalam negosiasi multipartai ini juga terdapat

tantangan karena setiap pihak-pihak memiliki masing-masing kesempatan untuk mengutarakan kepentingan mereka masing-masing.

Dalam negosiasi multipartai yang melibatkan banyak pihak akan lebih banyak isu-isu

yang akan dibahas karena ada banyak sekali pandangan-pandangan yang berbeda dari masing-masing pihak terhadap satu isu yang sama. Dengan semakin banyaknya isu ini, akan semakin banyak pula informasi (seperti, fakta dan argumen) yang dikenalkan dalam negosiasi ini.

Banyaknya pihak yang terlibat dan banyaknya isu yang dibahas akan meningkatkan intensitas diskusi. Proses diskusi akan meluas menjadi diskusi-diskusi kecil yang dilakukan oleh

kelompok-kelompok kecil. Ini akan menambah kompleksitas negosiasi. Prosedur yang harus diikuti pun menjadi semakin banyak dan rumit jika dibandingkan dengan negosiasi yang

dijalankan oleh dua pihak saja. Hal yang juga membedakan negosiasi multipartai dengan negosiasi bilateral adalah jika pada negosiasi bilateral para negosiator hanya perlu untuk

(9)

maka dalam multipartai, masing-masing negosiator mempertimbangakan strategi yang akan

digunakan dalam negosiasi demi tercapainya keinginan yang diinginkan oleh masing-masing pihak.

Dalam mengatur atau mengelola negosiasi multipartai setidaknya terdapat 3

langkah-langkah penting, diantaranya adalah 1. Prenegotiation,

2. Actual Negotiation,

3. dan Managing the Agreement.

Prenegotiation

Prenegotiaton Stage adalah negosiator masih melakukan hubungan yang

belum formal dengan pihak lain dan cenderung untuk membahas isu-isu yang akan dibahas selanjutnya. Hal-hal yang termasuk dalam prenegotiaton stage adalah

membahas mengenai pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi, siapa yang berbicara dalam negosiasi, dan posisi mereka dalam negosiasi. Peraturan-peraturan dalam

kelompok juga ditentukan, jika suatu grup telah memiliki serangkain peraturan dan struktur seperti pemimpin, mediator, maka sudah tidak perlu lagi dibentuk. Namun, jika dalam suatu kelompok anggotanya tidak pernah bertemu sama sekali maka perlu

dibuat suatu susunan atau peraturan dalam kelompok tersebut dan ada salah satu anggota dalam kelompok yang harus mengambil alih kepemimpinan. Sebagian orang

dalam kelompok tersebut ada yang ingin menjadi pemimpin, ada juga yang aktif,

namun tidak sedikit juga yang diam dan tidak ingin menyampaikan pendapatnya. Kemudian, pemahaman mengenai biaya-biaya yang akan dikeluarkan dalam proses negosiasi, dan konsekuensi jika tidak tercapainya suatu perjanjian. Dan yang terakhir

adalah mempelajari isu-isu dan mengkonstruksikan agenda-agenda yang akan mereka iktui selama negosiasi.

Formal Negotiation Stage

Formal Negotiation Stage adalah langkah kedua dari negosiasi multipartai. Tahap ini mencerminkan proses negosiasi yang sebenar-benarnya baik dalam mengatur

kelompok atau masing-masing pihak dalam bernegosiasi dan nantinya dalam langkah ini akan dikeluarkan kerangka hasil yang akan digunakan dalam pembuatan persetujuan. Dalam langkah kedua ini, Juga ditetapkan beberapa hal yang merupakan

(10)

apabila ada beberapa agenda yang tidak disetujui oleh salah satu pihak harus diatur

kembali. Pertukaran informasi dan manner oleh semua pihak juga terjadi dalam tahap ini.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan atau diaplikasikan misalnya

dengan menggunakan Delphi technique dengan menggunakan kuisioner, brainstorming, dan beberapa teknik lainnya. Proses pemilihan tata cara mengatur

konflik agar dapat diselesaikan secara efektif, meninjau dan mengatur kembali peraturan-peraturan yang akan digunakan, menjamin informasi dan pandangan dari berbagai macam pihak yang berbeda-beda, berjuang keras agar persetujuan yang

pertama dapat terwujud juga merupakan hal-hal yang termasuk dalam tahap ini.

Agreement Phase

Agreement Phase. Langkah yang terakhir adalah menunjukkan hasil-hasil

yang telah dibahas selama proses negosiasi berlangsung untuk disepakati secara bersama dan dirangkum sebagai sebuah perjanjian. Dalam tahap ini, masing-masing

pihak diharapkan untuk mempertahankan satu alternatif yang telah disepakati pada tahap sebelumnya. Tapi tidak menutup kemungkinan pada tahap ini para negosiator menemui kesulitan disaat-saat ‘final’ dalam pengambilan keputusan, seperti

munculnya isu-isu yang tidak dapat diselesaikan pada tahap selanjutnya. Oleh karena itu, ada 4 langkah dalam menghadapi masalah pengambilan keputusan tersebut,

diantaranya adalah

1. memilih solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut agar

suatu persetujuan dapat segera disepakati bersama, 2. mengembangkan rencana aksi,

3. melaksanakan rencana aksi tersebut, dan

4. mengevaluasi proses-proses tersebut apakah masalah yang dibahas telah

teratasi dengan baik, sehingga wajar jika proses ini memakan waktu lama.

Selain itu, dalam proses pembentukan persetujuan ini, ketua negosiasi dapat membantu memperlancar persetujuan agar dapat disetujui oleh semua pihak,

diantaranya adalah berterimakasih kepada para peserta negosiasi atas partisipasinya, kerja keras, dan usaha mereka untuk menyelesaikan negosiasi ini dan mencapai suatu kesepakatan, pemimpin juga bisa bergerak mendekati kelompok-kelompok untuk

(11)

Contoh dari negosiasi multipartai ini adalah perundingan yang membahas

mengenai hukum laut internasional. Perundingan tersebut melibatkan banyak negara yang akhirnya membentuk suatu konvensi internasional yang dikenal dengan UNCLOS. Negosiasi yang melibatkan banyak pihak ini menjadi berbeda jika

dibandingkan negosiasi bilateral. Tingkat kompleksitas semakin bertambah karena

semakin banyaknya pihak yang terlibat, semakin banyaknya isu yang dibahas, dan semakin banyaknya tahapan dan prosedur yang harus dilakukan. Tahapan-tahapan itu

sendiri terbagi menjadi tahap prenegotiaton stage yang meliputi persiapan, penghimpunan informasi, dan penentuan isu; tahap formal negotiation stage yang merupakan cerminan dari proses negosiasi formal dimana terdapat pimpinan sidang

yang mengatur dan menjamin kelancaran jalannya sidang; dan tahap agreement phase yang merupakan tahap dimana persetujuan akan diambil dengan memperhatikan

proses-proses yang telah dijalankan sebelumnya.

Isu

Isu dalam Negosiasi

Ada empat isu kotemporer dalam negosiasi, yaitu:

o Peran suasana hati dan sifat kepribadian dalam negosiasi.

Para negosiator yang suasana hatinya dan pemikiran positif akan memperoleh

hasil yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak. Bagi negosiator yang gembira cenderung lebih mempercayakan pihak lain, dengan demikian akan lebih banyak

mendapatkan masukan dalam pengambilan keputusan. Hasil penilaian terhadap hubungan

kepribadian negosiasi menunjukkan bahwa sifat – sifat kepribadian tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap proses tawar menawar ataupun hasil

negosiasi.

o Perbedaan gender dalam negosiasi

Streotip yang popular dianut oleh banyak orang mengatakan bahwa kaum

perempuan lebih kooperatif dan menyenangkan dalam negosiasi daripada kaum laki – laki. Namun laki – laki ditemukan mampu menegosiasikan hasil yang lebih baik daripada

perempuan, meskipun perbedaannya relatif kecil.

o Perbedaan kultur dalam negosiasi

Gaya bernegosiasi beragam antara satu kultur dengan kultur yang lainnya. Dpata

(12)

berlawanan dengan orang lain. Dalam bagian lainnya, Bangsa Cina cenderung mengulur

– ngulur perundingan, tetapi karena mereka percaya bahwa negosiasi tidak pernah berakhir. Bangsa Cina dan juga jepang bernegosiasi untuk membangun hubungan dengan komitmen bekerja sama, jadi bukan hanya untuk menyelesaikan apa yang belum

disepakati. Dibandingkan dengan negosiator Amerika, negosiator Jepang berkomunikasi

secara tidak langsung dan menyesuaikan prilaku mereka dengan situasi. Orang Amerika dikenal dengan ketidaksabaran mereka dan keinginan mereka untuk disukai.

Para negosiator berpengalaman sering memanfaatkan karakteristik ini demi keuntungan mereka dengan cara mengulur negosiasi dan menjalin persahabatan yang bergantung pada penyelesaian akhir.

o Negosiasi pihak ketiga

Terkadang individu atau perwakilan kelompok mencapai kebuntuan dan tidak mampu menyelesaikan perbedaan – perbedaan diantara mereka melalui negosiasi

(13)

GROUP

Kesimpulan

Negosiasi adalah salah satu bentuk komunikasi dalam tujuan untuk pencapaian kesepakatan atau perjanjian antara dua pihak atau lebih. Dalam konteks dan ruang lingkup internasional dengan berbagai keragaman budaya diperlukan manajemen yang tepat dalam negosiasi. Kesuksesan dari negosiasi ditentukan dari kemampuan negosiator dalam mengenal dan memposisikan diri dengan budaya negara terkait, sehingga diperlukan analisis dan pembentukan strategi untuk mewujudkan kesepakatan yang terbaik bagi kedua belah pihak.

Rekomendasi

Dalam melakukan negoisasi lintas budaya kita harus mengenal dan memahami perbedaan budaya pihak lainnya bisa dilihat dari segi nilai-nilai sosial, peran dan status, pengambilan keputusan, konsep waktu, konsep jarak komunikasi, konteks budaya, bahasa tubuh, perilaku sosial, perilaku etis, dan perbedaan budaya perusahaan. Setelah memahami perbedayaan budaya asing baru kita mempelajari

komunikasi budaya asing dengan mempalajari budayanya, karena ketika tinggal di negara lain alangkah baiknya kita sedikit banyak mengenal budaya maupun adat istiadat yang berlaku di negara tersebut.

Mengenal beberapa kata bahasa asing untuk seatu pergaulan di lingkungan bisnis merupakan langkah baik yang senantiasa perlu dikembangkan. Jadi belajar tentang budaya negara lain juga bisa dijadikan

(14)

Daftar Pustaka

Curry, Edmund Jeffrey. 2002. Memenangkan Negosiasi Bisnis Internasional: Merencanakan dan Mengendalikan Negosiasi Bisnis Internasional. PPM. Indonesia

Erlin, Elin. 2012. Makalah Negosiasi Bisnis, (online)

(http://www.slideshare.net/elinituerlin/makalah-negosiasi-bisnis, diakses tanggal 25 Juni

2016)

Kozicki, Stephen. 2005. The Creative Negotiator. McGrawHill. New Delhi.

Kurniawan, Helmi. 2012. Makalah Negosiasi, (online)

(https://www.scribd.com/doc/86438997/makalah-NEGOSIASI, diakses tanggal 23 Juni 2016)

Lewicki, Roy J, et al. 2007. (4) Negotiation : Strategy and Planning dalam Essentials of Negotiation (4th edition). New York : McGraw-Hill Companies, Inc.

Nierenberg, Juliet;Irene, S Ross. 2003. The Secrets of Successful Negotiation : Effective Strategies to Improve Your Negotiating Skills.Singapore.

Prijosaksono, Aribowo Roy Sembel. 1999. Negosiasi. The Indonesia Learning Institute, Indonesia.

Raiff, Howard. 2003. The Art and Science of Negotiations. Cambridge : The Belknap Press of Harvard

University Press.

Seng, Joo Seng. 2004. Strategies for Effective Cross – Cultural Negotiation: The FRAME Approach. Singapore.

Raiff, Howard. 2003. The Art and Science of Negotiations. Cambridge : The Belknap Press of

Harvard University Press.

(15)

Lewicki, Roy J, et al. 2007. (4) Negotiation : Strategy and Planning dalam Essentials of

Negotiation (4th edition). New York : McGraw-Hill Companies, Inc.

Pouliot, Janine S. Eight Steps To Success In Negotiating. ; importance of business negotiating.

Nation’s Business. 1999.

Prijosaksono, Aribowo Roy Sembel. Negosiasi. The Indonesia Learning Institute, Indonesia.

Gambar

Tabel 1.1 Analisis Konsep Budaya Negara di Dunia

Referensi

Dokumen terkait