ZAKAT FITRAH
DAN
PERMASALAHANNYA
Oleh :
Ust. Drs. H. Atho’illah Wijayanto
Ketua LBM NU Kota Malang
Pengasuh PP. MAMBAUL HUDA
BANDULAN – MALANG
Makalah yang Disampaikan dalam Acara Seminar
di Aula Kementrian Agama Kota Malang
ZAKAT FITRAH
I. MAKNA ZAKAT FITRAH
Ibnu Qutaibah berkata : “Yang dimaksud dengan zakat fitrah adalah zakat jiwa”.Nama ini diambil dari kata fitrah yang berarti asal kejadian.Dengan demikian, zakat fitrah adalah zakat sebagai pembersih jiwa, sebagaimana zakat mal sebagai pembersih harta dari hak-hak mustahiq.
Sedangkan beberapa hadits yang membahas tentang zakat fitrah ini antara lain : Hadits yang berasal dari sahabat Abdulloh bin Umar r.a, yang dia berkata :
“Rosululloh Saw. telah Mewajibkan menunaikan zakat ftrah berupa satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi seorang budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, maupun orang dewasa dari kalangan umat Islam.Dan beliau memerintahkan zakat ftrah itu untuk dilaksanakan sebelum keluarnya manusia menuju sholat ‘Idul Fitri.”
(Muttafaq ‘alaih)
ِرْطِفلْا َةاَكَز َمّلَسَو ِهْيَلَع ُا ىّلَص ِا ُلْوُسَر َضَرَف
ّرُحلْاَو ِدْبَعلْا ىَلَع ٍرْيِعَش ْنِم اًعاَص ْوَأ ،ٍرْمَت ْنِم اًعاَص
َرَمَأَو َنْيِمِلْسُملْا َنِم ِرْيِبَكلْاَو ِرْيِغّصلاَو ىَثْنُلْاَوو ِرَكّذلاَو
( .
قفتم ِةَلّصلا ىَلِإ ِساّنلا ِجْووُرُخ َلْبَق ىّدَؤُت ْنَأ اَهِب
Hadits yang berasal dari sahabat Ibnu Abbas r.a, yang dia berkata
ِرْطِفلْا َةاَكَز َمّلَسَو ِهْيَلَع ُهللا ىّلَص ِهللا ُلْوُسَر َض َرَف
. ِنْيِكاَسَمْلِل ًةَمْعُطَو ِثَفّرلاَو ِوْغّللا َنِم ِمِئاّصلِل ًةَرْهُط
اَهاّدَأ ْنَمَو ٌةَلْوُبْقَم ٌةاَك َز َيِهَف ِةَلّصلا َلْبَق اَهاّد
َأ ْنَمَف
دواد وبأ هاور( ِتاَقَدّصلا ِنَم ٌةَقَدَص َيِهَف ِةَلّصلا َدْعَب
)مكاحلا هححصو هجام نباو
II. BEBERAPA HIKMAH ZAKAT FITRAH
Adapun hikmah diwajibkannya zakat fitrah dalam bulan Romadhon atau di waktu
Maghrib pada tanggal 1 Syawwal itu adalah :
Menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap fakir miskin. Diharapkan dengan zakat yang
diberikan, mereka tercukupi kebutuhannya pada saat hari raya dan dapat bersuka cita bersama lainnya.
Bagi yang menunaikannya, hal tersebut sebagai pembersih dari kekhilafan-kekhilafan
yang dilakukan saat berpuasa. Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits dari sahabat Ibnu Abbas r.a yang dia telah berkata :
“Rosululloh SAW. telah mewajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyuci
III. KEPADA SIAPA ZAKAT FITRAH DIWAJIBKAN ?
Kewajiban zakat ftrah ini dibebankan kepada setiap orang yang memiliki tiga syarat
Beragama Islam, maka zakat ftrah tidak diwajibkan bagi seorang yang kafr ashliy kecuali dia mengeluarkan zakat ftrah orang muslim yang ia tanggung nafkahnya yang bentuknya bisa jadi adalah budak atau karib kerabatnya yang Islam.
Dia menemui atau masih hidup diwaktu wajibnya zakat ftrah yaitu dia menemui sebagian akhir dari bulan Romadhon dan awal dari bulan Syawwal.
Dan apabila seseorang telah mengumpulkan syarat-syarat tersebut di atas, maka wajiblah baginya untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri.
Kemudian setelah dirinya terpenuhi, siapa lagi yang ia harus bayarkan dari
orang-orang yang ditanggungnya. Maka, dalam hal ini urutannya adalah sebagai berikut
:
Istrinya
Anaknya yang masih kecil Bapaknya
Ibunya
Anaknya yang sudah besar
Ini semua berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Imam Muhammad Az-Zuhri Al-Ghomrowi dalam kitabnya Anwarul Masalik:
Barang yang digunakan zakat ftrah adalah makanan pokok yang
wajib ada pada tempat muzakki mengeluarkan zakat ftrahnya. Hal ini dikarenakan tujuan dari zakat ini tiada lain adalah untuk mengenyangkan fakir miskin dan mustahiq-mustahiq lain pada malam dan siang hari raya tersebut. Jadi jelasnya orang yang berada di daerah Jawa kalau dia hendak mengeluarkan zakat ftrahnya, hendaknya dia mengeluarkan zakat dalam bentuk makanan pokok penduduk jawa, yaitu beras, karena inilah yang dijadikan makanan pokok pada lazimnya, walaupun makanan pokok dari muzakki tersebut bukan beras. Dan pendapat Ulama’ yang menyatakan bahwa zakat ftrah hendaknya berdasarkan makanan pokok dari muzakki, munurut Imam Al-Qolyubi adalah pendapat yang marjuh (lemah) dibanding pendapat pertama dan tidak boleh dipergunakan patokan dan sandaran hukum.
Adapun kadar dan ukuran zakat ftrah adalah satu sho’ yang pernah dipakai Rasulullah SAW yang menurut ukuran kita adalah:
1 Sho’= 4 Mud
1 Mud = 600 gram
4 Mud = 2400 gram = 2,4 Kg
Jadi, ukuran satu Sho’ itu sama dengan ukuran 2,4
Kg pada saat ini, yang biasanya dibulatkan menjadi
2,5 Kg. sesuai hasil konversi yang disebutkan dalam
kitab
Mukhtashor Tasyyid al-Bunyan
, satu
sho’
setara dengan 2,5 kilogram. Sedang kadar zakat
ftrah yang harus ditunaikan dalam bentuk satu
sho’
Disamping itu yang perlu kita perhatikan dalam berzakat, adalah memilih barang yang baik bahkan mungkin juga yang terbaik dalam pelaksanaan zakat tersebut, karena tujuan kita dalam berzakat adalah ibadah dalam mencari keridhoan Allah disamping kerelaan dan rasa suka dari orang yang kita zakati, dengan kita melaksanakan yang demikian ini, niscaya ibadah kita mendapatkan pahala, dan di sisi lain mereka merasa senang dengan apa yang kita berikan ini. Tapi, apabila yang kita berikan dari barang zakat adalah mutunya jelek, barang curian dan sebagainya, maka Imam Sayyid Bakri Syatho menyatakan zakat kita belum mencukupi atau dianggap belum berzakat.
V. WAKTU-WAKTU MENGELUARKAN
ZAKAT FITRAH
Pendeknya bahwasannya zakat fitrah itu ada lima waktu:
- Waktu jawaz (boleh)
- Waktu wujub (wajib)
- Waktu fadlilah (utama)
- Waktu karohah (makruh)
- Waktu hurmah (harom)
Adapun waktu jawaz adalah awal bulan; waktu wujub adalah
ketika tenggelamnya matahari; waktu fadlilah ialah sebelum
keluar
untuk
sholat;
wktu
karohah
ialah
ketika
mengakhirkannya dari sholat Id kecuali ada udzur seperti
menunggu kerabat den=kat atau orang yang sangat
membutuhkan;
sedangkan
waktu
karohah
ketika
VI. PEMBAGIAN ZAKAT KEPADA 8 GOLONGAN YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT (AL-ASNAFUS TSAMANIYAH)
Zakat fitrah yang telah dibahas pada pembahasan ini haruslah diserahkan pada 8 golongan penerima zakat yang telah disebutkan oleh Allah dalam Al-Quran yang biasa kita sebut dengan Al-Ashnafus Tsamaniyah.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
َو ْمُهُبْوُلُق ِةَفّلَؤُمْلا َو اَهْيَلَع َنْيِلِماَعْلا َو ِنْيِكاَسَمْلا َو ِءاَرَقُفْلِل ُتاَقَدّصلا اَمّنِإ
:ةبوتلا) .ِلْيِبّسلا ِنْبا َو ِا ِلْيِبَس ْيِف َو َنْيِمِراَغْلا َو ِباَقّرلا يِف
60
(
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah diberikan kepada orang-orang fakir, orang-orang miskin, para pekerja urusan zakat, orang-orang yang
dijinakkan hatinya (karena baru memeluk islam), hamba sahaya yang sedang berikhtiyar menembus dirinya untuk menjadi orang yang
Pada ayat ini ada lafadzاَمّنإإإ yang faidahnya untuk
Lil Khashri
(menyempitkan)
artinya pembagian zakat ataupun zakat fitrah hanya dibatasi dan disempitkan
hanya 8 golongan saja yang lain tidak boleh, sedang empat golongan pertama dalam ayat ini menggunakan “huruf jer Lam yang bermakna (memiliki). Sedangkan, empat golongan yang lainnya digandeng dengan huruf jer Fi yang bermakna dzorfiyah yang berarti menempati. Hal ini berarti bahwa untuk fuqoro’, masakin, muallaf, dan amil, maka zakat itu mutlak milik mereka dengan pembagian yang telah ditentukan oleh agama dan tidak boleh ditarik kembali dari tangan mereka.
Sedangkan untuk budak, ghorim, pejuang di jalan Allah dan ibnu sabil
(musafir) zakat tersebut bukanlah milik mereka, tetapi mereka hanya bisa menggunakan, sedangkan apabila terdapat kelebihan dari kebutuhannya harus dikembalikan pada muzakki, amil/panitia.
Fakir
Fakir adalah orang yang tidak punya harta benda
dan pekerjaan sama sekali atu orang yang punya
harta atau pekerjaan tetapi tidak mencukupi
kebutuhannya.
Gambaran yang lebih konkrit dari makna ini adalah
Miskin
Miskin adalah orang yang memiliki harta yang
hampir mencukupi kebutuhannya tapi tidak cukup
untuk
menutupi
seluruh
kebutuhan
kesehariannya.
Misal dari orang miskin ini adalah orang yang
Amil
Amil adalah orang yang diperkerjakan oleh
Mu’allaf
Lafadz
Al Mu’allaf Kulubuhum
dari segi
bahasa
artinya
yang
artinya
adalah
“dilemahkan,” Sedangkan makna
muallaf
adalah : Orang yang masuk islam, sedangkan
niatnya masih lemah maka di lunakkan
hatinya dengan di beri zakat untuk
menguatkan imannya atau tokoh yang masuk
islam dan niatannya sudah kuat dan dia
punya kemulyaan/wibawa pada kaumnya,
sehingga
dengan
memberinya
zakat
Ar Riqob
Riqob adalah budak-budak mukathab (yang
Ghorim
Ghorim adalah orang yang berhutang buat
Sabilillah
Sabilillah adalah pejuang agama sukarelawan (yang tidak dibayar oleh pemerintah) sekalipun kaya, maka pejuang diberi bagian sebagai nafkahnya, pakaiannya dan juga untuk keluarganya, selama masa ia bepergian (untuk perang) dan pulang. Demikian pula diberi biaya (untuk membeli) alat peperangan/perjuangan.
Adapun ucapan sebagian ulama termasuk Imam Qoffal bahwa maksud dari lafadz Fi Sabilillah adalah “Sabilil Khoir” ( jalan kebaikan apa pun), sehingga zakat boleh diberikan untuk pembangunan masjid, pembangunan pondok, membeli kain kafan untuk mayyit dan sebagainya. Maka Pendapat yang demikian ini adalah pendapat yang lemah seperti yang diputuskan dalam Mu’tamar Nahdhotul Ulama’ , dan hal ini sesuai dengan pernyataan kitab Rohmatul Ummah yang menyatakan
ٍتّيَم ِنْيِفْكَت َو ٍدِجْسَم ِءاَنِبِل ِجاَر ْخِلْا ِعْنَم ىَلَع اْوُقَفّتا َو
Ibnu Sabil
Ibnu Sabil adalah musafir yang melewati daerah zakat atau
memulai kepergiannya yang diperbolehkan syara’ dari daerah
zakat, sekalipun untuk pesiar atau ia rajin bekerja; lain halnya bila
musafir berbuat maksiat kecuali apabila ia bertaubat atau musafir
tanpa tujuan yang benar, misalnya orang berpetualang.
Musafir yang demikian ini diberi bagian secukupnya yaitu
kebutuhannya dan kebutuhan pesertanya yang menjadi
tanggungannya, baik biaya nafkah, pakaian, selama pergi sampai
pulang, jika tidak memiliki harta di tengah perjalanan atau tempat
tujuannya.
Inilah delapan golongan yang berhak untuk menerima zakat dan
AMIL DAN
AMIL DAN PANITIA ZAKAT FITRAH
Di Indonesia, Ketika Bulan Ramadhan seperti
saat ini banyak kita jumpai disekitar kita
badan-badan tertentu, yang telah menamakan
dirinya Amil atau Panitia Zakat. Maka dalam
hal ini ada beberapa point yang harus
diperhatikan
bagi
orang
yang
ingin
Definisi Amil Zakat adalah :
اَهَعَفْدَيِل ِتاَوَكّزلا ِذْخَأ ىَلَع ُماَمِلْا ُهَلَمْعَتْسا يِذّلا َوُه ُلِماَعلا
ىَلاَعَت ُهوّللا ُهَرَمَأ اَمَك اَهْيِِّحَتْسُم ىَلِإ
.
Amil adalah orang yang diperkerjakan oleh imam untuk mengambil zakat kemudian membagikannya kepada para mustakhiq zakat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Alloh SWT dalam Al-Qur’an.
Dari definisi diatas dapat kita fahami kalau ada perorangan, kelompok, lembaga
Panitia zakat posisinya sebagai wakil (orang yang diberi
wewenang menyampaikan zakat fitrah) dari muzakki (orang yang
berzakat) yang disebut “Muwakkil,” oleh karena adanya wakalah
maka si panitia tidak boleh sama sekali mengambil, menjual
beras zakat fitrah. Tetapi harus menyampaikan benar-benar
kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat fitrah).
Sekalipun panitia bukanlah amil, tetapi
kerjanya tidak ada bedanya dengan amil maka
pantaslah panitia mendapatkan apresiasi,
Sebagaimana Hadist Nabi yang berbunyi :
ّقَحْلاِب ََِقَدّوصلا ىَلَع ُولِماَعلا َمّلَسَو ِوهْيَلَعُ ا ىّلَوص ُلْوَُِيْ
ىّتَح وّلَجَو ّزَع ِا ِلْيِبَوس يِوِف ِزاَغْلاَك ىوَلَاعَت ِا ِوهْجَوِل
)دمحأ هاور( ِهِلْهَأ ىَلِإ َعِجْرَيْ
Bersabdalah Nabi Muhammad saw, Amil zakat
Dan Hadist lain yang menandaskan
ُقِراَشَم ْمُكْيَلَع ُحَتْفُتَس ُهّنَإ ؛َمّلَسَو ِهْيَلَعُ ا ىّلَص ُلْوَُِيْ
َقّتا ِنَم ّلِإ ِراّنلا يِِف اَهَلاّمُع ّنِإ َو اَهُبِراَغَم َو ِضْرَلْا
.َََناَمَلْا ىّدَأ َو ّلَج َو ّزَع ُا
“Sesungguhnya akan dibukakan untuk kalian
dunia
timur
dan
dunia
barat
dan
Hendaknya dana operasional panitia tidak
Agar zakat fitrah ini bisa sampai pada mustahiqnya maka
syarat-syarat amil, lebih baik juga di penuhi oleh para panitia
zakat yaitu antara lain:
Mengerti masalah zakat yang dipercayakan padanya;
Seorang Muslim
Mukallaf;
Merdeka;
Adil;
Mendengar/Tidak Tuli;
Melihat/Tidak Buta;
CARA PEMBAGIAN ZAKAT FITRAH
Sebelum membagi zakat, seseorang pemilik zakat/amil zakat yang
َنِم َنْيِْدْوُجْوَمْلا ِباَعْيِتْسا ُبْوُجُو يِِعِفاّشلا َبَهْذَم ّنِإ َءاَفَخ َل
ِراَصِتْقِلْا ُزاَوَج ََِثَلّثلا ُبَهْذَم َو ِةَرْطِفْلا َو ِةاَكّزلا يِِف ِفاَنْصَلْا
ِهْيَلِإ َبَهَذ َو يِِحُبْصَلْا َو ٍلْيَجُع ُنْبا ِهِب ىَتْفَأ َو ٍدِحاَو ٍفْنَص ىَلَع
َو اَهِلَِْن يِِف ِءَلُؤه ُدْيِلَِْت ُزْوُجَيْ َو ِرْمَلْا ِرْسُعِل َنْيِْرّخَأَتُمْلا ُرَثْكَأ
ُهُرْيَغ َو ٍلْيَجُع ُنْبا ِهِب ىَتْفَأ اَمَك ٍدِحاَو ٍصْخَش ىَلِإ اَهِعْفَد
.
“ Tidak disangsikan lagi, sesungguhnya mazhab Syaf’i
Dalam hal ini Imam Ibnu Hajar Al Haitami juga sependapat
dengan Imam Ujail, beliau berkata dalam kitabnya Syarhul Ubab,
membolehkan
akan
kebolehan
hal
itu
َُّمِئَلْا َلاَق ِباَبُعْلا ِْْرَش يِِف ٍرَجَح ُنْبا َلاَقَو
ٍدِحاَو ٍصْخَش ىَلِإ اَهُفْرَص ُزْوُجَيْ َنْوُرْيِثَك َو ََُثَلّثلا
ِفاَنْصَلْا َنِم
Berkatalah Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Kitab
Sarhulul Ubab :
Berkatalah tiga Imam Madzhab
Adapun bagi pemilik zakat, sekali-kali tidak boleh untuk memindah-mindahkan zakatnya (Naqluz Zakat) dari daerah setempat ke daerah berlainan dan zakatnya dinilai tidak sah, selagi para mustahiq ada di daerah itu. Hal itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Al Allamah Zainuddin Al Malibary dalam Fathul Mu’in:
َو
َو ِلاَمْلا ِدَلَب ْنَع ِةاَكّزلا ُلَِْن ٍكِلاَمِل ُزْوُجَيْ َل
ُئِزْجُت َل َو ٍََبْيِْرَق ٍََفاَسَم ىَلِإ ْوَل
Tetapi apabila di daerah tersebut mustahiq sudah mendapatkan bagian, kemudian masih ada sisanya, maka hendaknya kelebihan ini di tambahkan kepada mustahiq yang dirasa kurang sampai tercukupi semuanya; apabila masih ada sisanya taupun di daerah tersebut sama sekali tidak ada mustahiq, maka wajiblah zakat itu dipidah ke daerah yang berdekatan dengan daerah zakat tersebut. Hal ini sesuai dengan apa yang di ungkapkan oleh Imam Nawawi
Al-Jawi :
َبَجَو ٌءْيَِش ْمُهْنَع َلُضَف ْوَأ اَهِبْوُجُو ّلَحَم يِِف ُفاَنْصَلْا ِتَمِدُع ْنِإَف
ْوَأ ْمُهُضْعَب َمِدُع ْنِإَف .ِهْيَلِإ ٍدَلَب ِبَرْقَأِب ْمِهِلْثِم ىَلِإ ِلِضاَفْلا ِوَأ اَهُلَِْن
ْنِإ َنْيِقاَبْلا ىَلَع ُهْنَع ِلِضاَفْلا ِوَأ ِضْعَبْلا ُبْيِصَن ّدُر ٌءْيَِش ُهْنَع َلُضَف
َكِلذ ىَلِإ َكِلذ َلََِن ْصُِْنَيْ ْمَل ْنِإَف ،ْمِهِتَيْاَفِك ْنَع ْمُهُبْيِصَن َصََِن
.ِهْيَلِإ ٍدَلَب ِبَرْقَأِب ِفْنّصلا