• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKTIVITAS EKONOMI PERKOTAAN PKL DI KAWAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "AKTIVITAS EKONOMI PERKOTAAN PKL DI KAWAS"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

5432 Any Street West

Townsville, State 54321 USA

(543) 0150 (800) 555-0150

PROGRAM STUDI

PERENCANAAN WILAYAH DAN

KOTA

JURUSAN ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

PENGARUH AKTIVITAS

PEDAGANG KAKI LIMA DI

ALUN-ALUN KRATON KASUNANAN

SURAKARTA TERHADAP

PERTUMBUHAN EKONOMI

WILAYAH KARESIDENAN

SURAKARTA

Disusun oleh:

1.Anggit Pratomo (I0612003)

2.Ardita Putri U (I0612005)

3.Hasbi Asidiqi (I0612023)

4.Nilla Teni Pratiwi (I0612030)

5.Nurul Handayani (I0612035)

6.Yuli Alfiani Tauda (I0612044)

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Kegiatan ekonomi merupakan suatu aktivitas yang dapat membangkitkan petumbuhan ekonomi suatu wilayah atau kota guna mencapai kemakmuran. Kegiatan ekonomi meliputi kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi. Ekonomi kota merupakan aktivitas ekonomi dengan sumberdaya terbatas dengan efisiensi berbasis lokasi. Kota sendiri memiliki karakteristik sebagai pusat distribusi koleksi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kota. Ekonomi kota lebih terfokus pada kegiatan industri dan perdagangan serta jasa. Kegaiatan industri ini banyak menyerap teknologi di dalam proses kegiatannya untuk dapat menghasilkan barang siap pakai.

Aktivitas ekonomi perkotaan secara umum dibedakan menjadi dua sektor yaitu sektor formal dan sektor informal. Sektor formal merupakan kegiatan ekonomi atau bidang usaha yang dikelola pemerintah yang masuk ke dalam anggaran PDRB suatu kota atau wilayah. Sektor informal ini biasanya muncul untuk mendukung sektor formal, contohnya pedagang makanan di sekitar perkantoran, pendidikan, pusat perbelanjaan, dan pusat rekreasi.

Tumbuhnya sektor informal di kota disebabkan karena krisis ekonomi berkepanjangan yang membuat banyaknya pengangguran serta kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja formal, karena kurangnya lapangan pekerjaan ini memaksa mereka untuk menciptakan lapangan kerja baru. Pemerintah menganggap bahwa hanya sektor formal yang dapat mengatasi keterbelakangan ekonomi. Pada kenyataannya dewasa ini ternyata sektor formal belum mampu untuk memacahkan kemiskinan sebagian masyarakat.

(3)

mencukupi kebutuhan masyarakat kelas menengah dan bawah serta memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.

Sektor informal sendiri dapat diartikan sebagai unit-unit usaha yang berskala kecil yang menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa dengan tujuan pokok menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan bagi dirinya sendiri (Agung Ridlo, 2001)

Keberadaan sektor informal memiliki timbal balik bagi sektor formal. Sektor formal tergantung pada sektor informal terutama dalam hal input murah dan penyedian barang-barang bagi pekerja di sektor formal. Sebaliknya, sektor informal tergantung dari pertumbuhan di sektor formal. Pilihan untuk bekerja pada sektor informal mempunyai banyak hambatan karena pemerintah memperlakukan sektor informal berbeda dengan sektor formal. Sektor informal yang tidak diakomodir dalam rencana tata ruang dalam aktivitasnya hampir selalu menempati ruang publik kota dengan segala ketidakteraturannya dan pemerintah kabupaten atau kota cenderung menggunakan pendekatan kekuasaan (pola usir dan gusur) untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Salah satu sektor informal yaitu pedagang kaki lima (PKL) yang tidak diakomodir dalam rencana tata ruang kota sehingga dalam aktivitasnya selalu “menyerbu” ruang publik kota. Ruang publik yang menjadi lokasi aktivitas PKL diantaranya trotoar dan bahu jalan di kawasan pedagangan yang mengakibatkan gangguan bagi pengguna yang lain seperti pembeli, pemilik toko, dan pejalan kaki yang sekadar ingin menikmati kawasan tersebut.

Salah satu pedagang kaki lima yang (PKL) yang menempati ruang publik kota adalah PKL yang berada di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta. Alun-alun ini merupakan salah satu ruang publik kota yang dimanfaatkan oleh masyarakat Surakarta dan sekitarnya untuk menghabiskan waktu luang. Banyaknya masyarakat Kota Surakarta dan sekitarnya yang memanfaatkan ruang publik ini memunculkan peluang bagi PKL untuk menjajakan dagangannya. Mereka menganggap bahwa alun-alun selatan ini merupakan lahan pekerjaan yang cukup potensial untuk mengembangkan usaha kecil mereka, karena bagi sebagian PKL ini merupakan pekerjaan utama.

(4)

pedagang diwajibkan membayar uang retribusi. Alun-alun selatan ini juga memunculkan peluang bagi para pedagang di luar Kota Surakarta untuk berjualan disana. Selain berasal dari Kota Surakarta para pedagang juga banyak berasal dari wilayah lain seperti dari Kabupaten Sukoharjo. Para pedagang yang berasal dari Kota Surakarta ini umumnya tinggal di sekitar Kraton Kasunanan Surakarta dan biasanya PKL ini membeli bahan baku untuk dagangan mereka tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan tidak sedikit pedagang yang berasal dari luar Kota Surakarta bermigrasi dan bertempat tinggal di sekitar kraton agar mudah untuk berjualan di alun-alun.

Sebagian pedagang mengolah bahan baku dan memproduksi sendiri barang dagangan mereka. Namun tidak sedikit dari pedagang itu yang tidak memproduksi sendiri dan mengambil dari produsen makanan maupun mainan. Pedagang yang tidak memproduksi barang dagangannya sendiri biasanya disebabkan karena keterbatasan modal untuk memulai usaha dan mereka mencari fasilitator untuk berjualan di alun-alun, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan modal untuk membeli bahan baku dan memproduksi sendiri

B.Objek Kajian

Objek kajian merupakan lingkup objek yang akan dibahas dalam penelitian. Objek kajian dibagi menjadi dua yaitu lingkup objek primer yang merupakan pelaku utama dari objek kajian itu sendiri dan lingkup objek sekunder yang merupakan pelaku pendukung dari objek primer.

1. Lingkup Objek Primer

Lingkup objek primer pada penelitian ini adalah para pedagang kaki lima di sekitar kawasan Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta yang berasal dari wilayah Karesidenan Surakarta.

2. Lingkup Objek Sekunder

Lingkup objek sekunder pada penelitian ini adalah pihak kraton, dan wisatawan lokal yang berkunjung ke Kraton Surakarta.

C.Tujuan dan Sasaran

(5)

Adapun sasaran yang ingin dicapai untuk mencapai tujuan tersebut antara lain: 1. Mengidentifikasi karakter ruang Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta 2. Mengidentifikasi karakter aktivitas ekonomi di Alun-alun Selatan Kraton

Kasunanan Surakarta.

3. Mengidentifikasi sekelompok pelaku ekonomi di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta

4. Mengidentifikasi interaksi ekonomi antar lokasi dalam wilayah objek kajian

BAB II

KAJIAN LITERATUR

Kota Surakarta memiliki luas wilayah 44,1 km2 (0,14 % luas Jawa Tengah). Kota Surakarta mempunyai batas administrasi yaitu sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar. Kota Surakarta merupakan kota yang terkenal dengan kentalnya budaya jawa dan memiliki salah satu peninggalan monarki yang menjadi ikon kota yaitu Kraton Kasunanan Surakarta

Kraton Kasunanan Surakarta masih berfungsi sebagai mana mestinya dan sampai sekarang masih menjalankan sistem kratonnya, namun pihak Kraton Kasunanan Surakarta tidak ikut mengambil andil dalam sistem Pemerintah Kota Surakarta, tidak seperti Kraton Yogyakarta. Selain sebagai cagar budaya di Kota Surakarta, Kraton Kasunanan Surakarta dijadikan tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun asing. Kraton Kasunanan Surakarta memiliki 2 alun-alun yaitu alun-alun selatan Surakarta dan alun-alun utara Surakarta. Alun-alun berfungsi untuk tempat rekreasi keluarga kraton dan kerabat kraton. Seiring berjalannya waktu alun-alun ini menjadi ruang publik yang dimanfaatkan oleh masyarakat Surakarta dan sekitarnya.

(6)

Aktivitas ekonomi perkotaan secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu sektor formal dan sektor informal. Menurut Manning (1996) aktivitas disebut formal atau tidak yang membedakannya adalah birokrasi dalam bidang perijinan. Sektor formal cenderung lebih banyak mendapatkan perlindungan dari pemerintah daripada usaha informal. Sektor formal mendapat prioritas dari pemerintah karena dianggap dapat mengatasi masalah perekonomian. Anggapan ini membuat sektor formal banyak dicari oleh masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, pada kenyataannya sektor formal sudah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan.

Dampak dari kurangnya lapangan pekerjaan di sektor formal menyebabkan munculnya sektor informal di perkotaan. Sedangkan pengertian sektor informal menurut kamus tata ruang (1997) adalah usaha pelayanan tidak resmi yang dilakukan perorangan dengan tujuan untuk memperolah imbalan terhadap jasa atau bantuan pelayanan yang diberikan.

Pemerintah hanya menyediakan ruang-ruang untuk pengembangan kegiatan formal. Namun, seiring berjalannya waktu keberadaan sektor formal mendorong munculnya kegiatan sektor informal untuk menyediakan kebutuhan para pekerja sektor formal. Setiap pelaku sektor informal memiliki pilihan yang berbeda dalam upaya memenuhi barang dagangannya. Upaya untuk memperoleh barang dagangannya ini disebut rantai sektor informal. Para pelaku sektor informal dapat memperoleh barang dagangannya dari produsen langsung, melalui distributor, toko pengecer maupun dari sesama pelaku sektor informal (Chandrakirana, 1994). Pelaku sektor informal memiliki kebebasan untuk memperoleh barang dagangannya, mereka dengan bebas memilih dengan siapa dan bagaimana caranya untuk bisa memperoleh barang dagangnya. Para pelaku sektor informal memakai prinsip ekonomi yaitu melakukan pengeluaran seminimal mungkin tetapi memperoleh keuntungan yang lebih besar. Salah satu pelaku sektor informal adalah Pedagang Kaki Lima (PKL).

Dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 8 Tahun 1995 mendefinisikan PKL adalah setiap orang yang melakukan usaha dagang maupun jasa di tanah milik negara. Dari definisi ini dapat diartikan bahwa lokasi yang dijadikan oleh PKL untuk berjualan tidak memiliki ijin/ilegal karena tanah merupakan milik negara yang berarti diperuntukkan kepada publik, bukan untuk komersil.

(7)

menggunakan prasarana kota, fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah dan/atau swasta yang bersifat sementara atau tidak menetap. PKL menggunakan fasilitas kota untuk menjajakan barang dagangannya dan tidak sedikit PKL yang menggunakan bahu jalan, trotoar, dan taman kota sebagai lokasi berjualan. Fungsi utama taman kota adalah sebagai ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat untuk menghabiskan waktu luang atau hanya sekedar berjalan-jalan.

Sifat PKL yang tidak menetap atau sementara ini merupakan salah satu karakteristik yang mencerminkan keberadaan PKL itu sendiri. mereka tidak memiliki kebebasan untuk mengembangkan usaha karena tidak memiliki ijin usaha secara resmi. Selain sifatnya yang tidak menetap, PKL memiliki karakteristik yang lain diantaranya modal usaha terbatas atau kecil, karena sebagaian pedagang memiliki tingkat ekonomi menengah kebawah. Sebagian besar pedagang juga tidak memiliki kemampuan khusus yang mumpuni untuk bekerja di sektor formal. Karakteristik PKL menurut Simanjutak (1989) adalah aktivitas usaha yang relatif sederhana dan tidak memilki sistem kerjasama yang rumit dan pembagian kerja yang fleksibel, skala usaha relatif kecil dengan modal usaha, modal usaha dan pendapatan yang umumnya relatif kecil.

Munculnya pedagang kaki lima telah memberikan berbagai dampak baik dampak positif maupun dampak negatif. Menurut Usman (2006) PKL merupakan sabuk penyelamat yang menampung kelebihan tenaga kerja yang tidak tertampung dalam sektor formal sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Seiring berjalannya waktu angka angkatan kerja terus meningkat setiap tahunnya. Namun, jumlah angkatan kerja ini tidak seimbang dengan lapangan kerja formal yang disediakan oleh pemerintah. Salah satu lahan pekerjaan yang memungkinkan adalah sebagai pelaku sektor informal atau PKL. Tanpa disadari pemerintah ternyata sektor informal ini dapat memunculkan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja yang kurang memiliki kemampuan khusus. Pedagang kaki lima ini dapat meningkatkan pendapatan daerah itu sendiri dan mengurangi kemiskinan.

(8)

binaan yang ditetapkan bupati atau walikota. Lokasi binaan terdiri atas lokasi permanen dan lokasi sementara. Lokasi PKL yang besifat permanen dilengkapi dengan aksesibilitas dan sarana serta prasarana antara lain fasilitas listrik, air, tempat sampah dan toilet umum. Sedangkan lokasi sementara, merupakan lokasi tempat usaha PKL yang terjadwal sampai jangka waktu yang ditetapkan oleh pemerintah kabupatan atau kota. Salah satu pusat keramaian kota yang banyak digunakan oleh PKL untuk berjualan adalah ruang publik kota. Ruang publik memiliki aksesibilitas tinggi yang dapat mendatangkan konsumen bagi PKL.

Ruang publik merupakan ruang terbuka yang disediakan pemerintah untuk kepentingan masyarakat kota dan sebagai wadah untuk menampung aktivitas masyarakat kota. Ruang terbuka adalah bagian dari ruang yang memiliki definisi sebagai wadah yang menampung aktivitas manusia dalam suatu lingkungan yang tidak mempunyai penutup dalam bentuk fisik (Budihardjo, 1998). Kemampuan ruang publik untuk menampung aktivitas masyarakat semakin berkurang karena sebagai besar PKL menempati ruang publik. Menjamurnya PKL membuat keindahan atau estetika ruang publik menjadi menurun, karena disebabkan sampah yang dihasilkan oleh PKL.

Ruang publik yang digunakan oleh PKL salah satunya alun-alun selatan Kota Surakarta. Alun-alun selatan memilki ruang publik yang memungkinkan PKL untuk menjajakan dagangannya. Alun-alun selatan ini disediakan oleh pihak kraton untuk melakukan upacara kenegaraan dan dibuka untuk masyarakat umum. Masyarakat memanfaatkan alun-alun untuk menghabiskan waktu luang. Ruang publik di alun-alun selatan ini tidak hanya dimanfaatkam oleh masyarakat sekitar Karesidenan Surakarta tetapi juga oleh wisatawan lokal yang mengunjungi Kota Surakarta.

(9)

Pedagang yang berasal dari luar Surakarta menganggap bahwa Kota Surakarta menyediakan peluang lapangan pekerjaan di sektor informal dan akhirnya membuat pedagang ini melakukan migrasi sementara. Interaksi keruangan yang diciptakan antara Kota Surakarta dan Kabupaten sekitarnya membuat alun-alun selatan menjadi magnet bagi PKL untuk datang dan menjajakan dagangannya.

Salah satu penyebab yang menyebabakan munculnya interaksi keruangan ini adalah batas administrasi Kota Surakarta dengan beberapa Kabupaten di sekitarnya. Interaksi keruangan ini mengakibatkan bervariasinya jenis dagangan dan asal pedagang. Interaksi keruangan yang ditimbulkan antara Kota Surakarta dengan wilayah sekitarnya memiliki lingkup yang kecil, karena pedagang di alun-alun ini hanya berpengaruh untuk pihak kraton dan dirinya sendiri.

BAB III

METODE PENELITIAN A.Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam pelaporan ini menggunakan dua metode yaitu pengumpulan data secara primer dengan cara observasi dan wawancara serta pengumpulan data secara sekunder dengan cara pengambilan data melalui dokumen tertulis pada instansi terkait atau pihak kraton yang mengelola Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta. Berikut ini merupakan uraian pengumpulan data secara primer dan sekunder :

Data primer: a. Observasi

(10)

Gambar 1. Tempat duduk pembeli

Gambar 2. Penjual bakso bakar di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta

b. Wawancara

(11)

Data sekunder:

a.Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1995 tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima

b.Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pengelolaan PKL

c.Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 17b Tahun 2012 sebagai penjabaran Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3/2008 tentang Pengelolaan PKL

d.Data jumlah Pedagang Kaki Lima di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta e.Data jumlah Pedagang Kaki Lima di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta

Tahun 2012

f. Data persyaratan dan aturan berjualan di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta

B.Metode Analisis

Tabel 1. Proses dan Metode Analisis

No. Aspek Input Proses Output Teknik Analisis

1. Mengetahui fungsi Alun-alun Selatan Kraton

Kasunanan Surakarta sebagai bagian dari

2. Membuat susunan proses produksi komoditas

yang diperdagangkan oleh PKL di Alun-alun

Selatan Kraton Kasunanan Surakarta

• Mengidentifikasi karakter pelaku ekonomi yang berjualan di Alun-alun Selatan Kraton

(12)

No. Aspek Input Proses Output Teknik Analisis wawancara

dengan PKL

dagangan serta daerah asal bakar, dll) yang

dijajakan oleh pedagang

• Membuat mata rantai kegiatan ekonomi (produksi, distribusi, konsumsi) yang

(13)

yang merupakan bagian akhir dari penelitian dalam menganalisis karakter ekonomi yang lebih spesifik di lokasi penelitian, yang dimana penarikan kesimpulan ini dibuat berdasarkan analisis data yang dibandingkan dengan tujuan dan sasaran kemudian dibuatnya suatu kesimpulan akhir.

BAB IV

GAMBARAN AKTIVITAS PEDAGANG KAKI LIMA

DI ALUN-ALUN SELATAN KRATON KASUNANAN SURAKARTA

Kota Surakarta tergolong salah satu kota besar di Indonesia. Sebagaimana kota-kota besar di Indonesia, pertumbuhan penduduk Kota Surakarta mengalami peningkatan yang tajam, karena Kota Surakarta selain berfungsi melayani masyarakat kota secara administratif juga berperan melayani masyarakat regional yaitu daerah-daerah sekitar Kota Surakarta tanpa melihat batas administrasi pemerintahan, seperti Kabupaten Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar,Wonogiri, Sragen dan Klaten (Subosuka Wonosraten). Pertumbuhan penduduk Kota Surakarta yang semakin pesat tersebut berimplikasi terhadap jumlah angkatan kerja yang jika tidak segera ditangani akan meningkatkan jumlah pengangguran di kota.

Meningkatnya jumlah tenaga kerja harus diimbangi dengan peluang lapangan kerja. Kondisi saat ini peluang lapangan pekerjaan sektor formal memerlukan persyaratan-persyaratan yang tidak mudah dipenuhi oleh pencari kerja, dengan tingkat pendidikan dan keterampilan mereka yang serba terbatas. Perkembangan ekonomi Kota Surakarta sebagaimana yang terjadi pula di kota-kota Indonesia tidak hanya terjadi pada sektor formal saja tetapi juga terjadi pada sektor informal. Kota Surakarta mempunyai sifat dualisme modern formal dengan informal tradisional yang mengandung berbagai macam fungsi yaitu sebagai kota perdagangan, industri, pendidikan, budaya, pemerintahan, dan fasilitas sosial dimana setiap fungsi memiliki skala pelayanan yang berbeda-beda.

(14)

A.Karakter Ruang

Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta sebagai salah satu peninggalan budaya dan sejarah di Kota Surakarta pada dasarnya merupakan suatu kawasan yang memiliki nilai historis dan merupakan sebuah kawasan yang memiliki warisan yang berupa bangunan dan desain arsitektur tertentu yang mencirikan keadaan masa lalu ataupun kondisi yang ada pada masa tersebut. Kawasan ini dulunya merupakan bagian dari salah satu pusat pemerintahan kerajaan di Jawa Tengah (Kraton Surakarta). Pada awal berdirinya kraton dan hingga masa kemerdekaan, kawasan ini diperuntukkan sebagai bagian ruang publik untuk menunjang aktivitas dari pihak Kraton Pakubuwono. Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) membawa pengaruh terhadap status kraton sebagai bagian dari pengaruh aristokrat (LPM-ITB, 2001).

Pada akhirnya, juga terdapat pengaruh pada perubahan pemanfaatan Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta yang kemudian berkembang sebagai ruang publik dan bisa diakses oleh segala kalangan. Status ruang publik yang diberlakukan terhadap alun-alun ditambah lagi dibukanya Kraton Surakarta sebagai salah satu objek wisata di Surakarta kemudian memberikan implikasi salah satunya adalah masuknya pedagang informal di kawasan Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta ini. Banyak sekali dijumpai pedagang kaki lima yang memenuhi kawasan tersebut sehingga menutupi keberadaannya sebagai kawasan yang mempunyai nilai historis tinggi. Alasan sebagian besar Pedagang Kaki Lima berdagang disini karena birokrasinya yang mudah. Hanya melihat celah yang kosong, melapor pada pihak kraton, meminta ijin, mau menaati peraturan yang ada, akhirnya ijin pun diberikan, dan pedagang berhak berdagang di tempat tersebut. Semakin hari semakin banyak pihak yang berdagang dan semakin banyak pula pengunjung yang berdatangan. Hal ini menyebabkan Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta seakan menjadi tempat kegiatan masyarakat sekitar untuk bersosialisasi dan bersantai serta berbagai kegiatan-kegiatan lainnya.

B.Gambaran Aktivitas PKL di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta

(15)

berasal dari luar Surakarta seperti dari Solo baru, Sukoharjo, Boyolali dan daerah lainya.

Menurut hasil wawancara dari beberapa PKL yang berjualan di sana, bahwa untuk mencukupi kebutuhan hidup, ada sebagian PKL yang berjualan di tempat lain setelah pulang berjualan dari Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta ini . Mereka cenderung mencari tempat keramaian lain untuk berjualan. “Biasanya sepulang dari sini saya langsung menuju ke depan Bank Indonesia, di sana juga laris bisa dari jam 22.00 –

04.00 itu masih ramai, tapi berjualan tetapnya disni dari tahun 2009”, tutur pak Agus (penjual bakso bakar). Jadi para pedagang yang berjualan di kawasan alun-alun ini juga banyak yang berjualan di tempat lain sepulang dari alun, tetapi kawasan alun-alun ini telah menjadi tempat tetap mereka untuk berjualan sejak tahun 2009 sampai sekarang.

Banyaknya pedagang yang berjualan di kawasan ini sehingga banyak pula jenis dagangan yang dijajakan. Jenis dagangan yang dijual di Alun-alun Selatan Kasunanan Surakarta ini meliputi dagangan makanan dan permainan anak-anak yang dapat dikelompokan sebagai berikut :

Tabel 2. Pengelompokan Jenis Dagangan

No Jenis Dagangan Nama Dagangan

1 Makanan - Bakso Bakar

- Siomay - Batagor - Angkringan

2 Permainan - Trampolin (sewa)

- Mobil-mobilan (sewa) - Aneka permainan anak

Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa jenis dagangan makanan yang dijual lebih banyak dari pada dagangan permainan. Hal ini juga sesuai dengan hasil pengamatan di lapangan bahwa jumlah PKL yang menjual makanan kawasan alun-alun lebih banyak dibandingkan dengan penjual permainan.

2. Proses Produksi

(16)

manusia (Ahyari, 2002). Proses produksi komoditas yang ditawarkan oleh PKL di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta tergolong sederhana karena tidak membutuhkan bahan serta proses yang rumit.

Komoditas yang ditawarkan oleh PKL di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta berupa bakso bakar, siomay, batagor, angkringan, serta jasa penyewaan mainan, berasal dari berbagai wilayah di sekitar kompleks kraton. PKL yang berjualan di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta sebagian mendapatkan suplai barang dagangan dari para produsen yang berasal dari wilayah sekitar kompleks kraton seperti Solo Baru, serta sebagian kecil PKL lainnya memilih untuk memproduksi barang dagangannya secara mandiri karena bahan baku yang mudah diperoleh.

Berdasarkan tipe produksi (Yamit, 2002), proses produksi komoditas yang ditawarkan oleh PKL di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta khususnya yang berupa makanan termasuk proses produksi menerus. Proses produksi terus-menerus adalah proses produksi barang atas dasar aliran produk dari satu operasi ke operasi berikutnya tanpa penumpukan di suatu titik dalam proses. Hal ini dikarenakan hasil produksi direncanakan dalam jumlah besar, variasi produk yang dihasilkan rendah sebab umumnya satu produsen hanya menghasilkan satu jenis produk seperti misalnya produsen bakso bakar, dan produk bersifat standard (tidak mengandung bahan-bahan kimia yang memerlukan pengujian klinis).

BAB V

INTERAKSI KERUANGAN DALAM AKTIVITAS EKONOMI DI ALUN-ALUN SELATAN KRATON KASUNANAN SURAKARTA

(17)

dari daerah Kraton Kasunan Surakarta sendiri tetapi juga terdapat pedagang yang berasal dari luar daerah Kraton Kasunan Surakarta. Para pedagang tersebut tidak memproduksi barang dagangan tersebut tetapi mereka mengambil dari daerah lain. Pedagang yang asli dari daerah Kraton Kasunanan Surakarta sendiri juga mengambil barang dagangan di daerah lain tetapi tidak sedikit dari pedagang yang mereka produksi sendiri.

(18)

Dari interaksi di atas memunculkan siklus aktivitas ekonomi di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta. Berikut ini adalah alur terjadinya aktivitas ekonomi di Alun-alun Selatan.

Setelah dijajakan, hasil penjualan barang (makanan dan jasa permainan) di daerah tersebut akan dialihkan ke daerah asal produksi yakni Solo Baru. PKL di alun-alun pada awalnya menerima barang distributor dengan cara pembayaran setelah mereka menjualkan barang tersebut. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam remitans atau rantai produksi yang di lakukan oleh PKL di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta dan pihak produsen di Solo Baru. Remitans yang dilakukan bukan dengan cara transfer dari Bank tetapi PKL langsung menyetorkan pembayaran ke para distributor lalu pihak distributor menyetorkan langsung ke pihak produsen.

(19)

yang dijajakan oleh PKL berbeda nominalnya dan waktu penyetorannya, ada yang setiap hari ada pula yang setiap bulan.

BAB VI

PENUTUP

KESIMPULAN

Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta sebagai bagian dari kompleks Kraton Kasunanan Surakara yang merupakan kawasan cagar budaya dan memiliki fungsi utama untuk menunjang aktivitas dari pihak kraton namun seiring berjalannya waktu terjadi perubahan fungsi sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan berbagai kalangan masyarakat. Perubahan fungsi alun-alun selatan menjadi ruang publik ini yang kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Surakarta sebagai objek wisata, kemudian memberikan implikasi bagi wilayah Kraton Kasunanan Surakarta itu sendiri. Salah satu implikasi yang ditimbulkan dari beralihnya fungsi ini adalah munculnya pelaku ekonomi khususnya pelaku sektor informal di Alun-alun Selatan Kraton Kasunanan Surakarta.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Agung Ridlo, Muhammad. 2001. Kemiskinan di Perkotaan. Semarang: Unissula Press Ahyari, Agus. 2002. Manajemen Produksi. Yogyakarta: Gramedia

Budirdjo, Eko. 1998. Kota yang Berkelanjutan. Jakarta: Universitas Indonesia Press

Candhrakirana, Kamala dan Isono. 1994. Dinamika Ekonomi Informal di Jakata Industri Dur Ulang, Angkutan Becak dan Dagang Kaki Lima. Jakarta: Center of Policy and Implementation Studies CIP

Manning, Chris dan Effendi, Tadjuddin . 1996. Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Rahman. Arif. 2001. Pengaruh PKL Terhadap Historis Kraton Kasunanan Surakarta. Bandung: Lembaga Penelitian Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Republik Indonesia. 2012. Peraturan Menteri No. 41 tentang Pedoman Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima. Jakarta: Menteri Dalam Negeri

Republik Indonesia. 1995. Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 8 tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima. Surakarta: Wali Kotamadya Kepala Daerah Republik Indonesia. 1997. Kamus Tata Ruang. Jakata: Dinas Jenderal Pekerjaan Umum dan

Ikatan Ahli Perencana Indonesia

Republik Indonesia. 2012. Peraturan Menteri No. 41 Pasal 33 tentang Penetapan Lokasi Pedagang Kaki Lima, Jakarta: Menteri Dalam Negeri

Simanjuntak, Payaman J. 1989. Pengantar Ekonomi Sumberdaya Manusia. Jakarta: Lembaga Penelitian Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Usman. 2006. Negara vs Kaum Miskin. Jogjakarta: Pustaka Pelajar

Gambar

Gambar 1. Tempat duduk pembeli
Tabel 1. Proses dan Metode Analisis
Tabel 2. Pengelompokan Jenis Dagangan

Referensi

Dokumen terkait

[r]

(b) Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,

Sosiologi sastra dijadikan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini karena tujuan dari sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap sastra dalam kaitannya

KEVIN EFRIANDHANI: Respons Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit ( Elaeis guineensis Jacq. ) Pada Berbagai Komposisi Media Tanam dan Pemberian Limbah Cair Pabrik Kelapa

2 tentang Laporan Realisasi Anggaran dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan karena belum pernah dilakukan penelitian terkait PSAP tersebut, maka sangat

Apabila dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan tidak menjelaskan mengenai “kepentingan umum”, maka dalam UUK dan PKPU telah diatur dengan jelas sebagaimana

Kawasan bekas Terminal Umbulharjo yang dulunya selalu dipadati pengguna jalan/ beberapa. waktu terakhir ini berubah menjadi lebih lengang// jalan yang mempertemukan