PENDAHULUAN
3. Apa factor produksi bawaan dan Teori Heckscher-Ohlin? 4. Apa hasil uji empiris Paradoks Leontief?
3. Untuk mengetahui factor produksi bawaan dan Teori Heckscher-Ohlin. 4. Untuk mengetahui hasil uji empiris Paradoks Leontief.
5. Untuk mengetahui pertumbuhan factor produksi Teorema Rybczynski. 6. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan teori Stolper-Samuelson.
1.3 Manfaat 1. Bagi Penulis
Hasil Tugas Akhir ini, dapat digunakan untuk memperdalam ilmu pengetahuan mengenai Asumsi dan Perbedaan Teori keunggulan Absolut, teori Komparatif, Teori Heckscher-Ohlin, Teori Rybczynsk, Teori Leontief, Teori Stolper-Samuelson. Selain itu, hasil dari Tugas Akhir ini juga berguna untuk menambah ilmu dalam dunia Ekonomi Internasional. Serta untuk menerapkan ilmu Ekonomi Internasional yang sudah dipelajari ketika kuliah. 2. Bagi Akaemisi
Dapat dijadikan sumber informasi dan masukan yang baik untuk digunakan oleh mahasiswa dalam Tugas Akhir selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perdagangan Berdasarkan Keunggulan Absolut: Adam Smith 2.1.1 Keunggulan Absolut
Menurut Adam Smith, perdagangan antara dua Negara didasarkan pada keunggulan absolut. Ketika satu Negara lebih efisien daripada (atau memiliki keunggulan absolut atas) yang lain dalam produksi satu komoditas tetapi kurang efisien daripada (atau memiliki kelemahan absolut terhadap) Negara lain dalam memproduksi komoditas yang kedua, kedua Negara dapat mendapatkan manfaat dengan masing-masing mengkhususkan diri dalam produksi komoditas yang memiliki keunggulan absolut dan bertukar hasil dengan Negara lain untuk komoditas yang memiliki kelemahan absolut. Dengan proses ini, sumber daya digunakan dengan cara yang paling efisien dan hasil dari kedua komoditas akan naik. Peningkatan dalam hasil komoditas keduanya merupakan ukuran keuntungan dari spesialisasi dalam produksi yang tersedia untuk dibagi antara ke3dua Negara melalui perdagangan.
Misalnya, karena kondisi iklim, Kanada lebih efisien dalam menumbuhkan gandum tapi tidak efisien dalam menumbuhkan pisang (harus menggunakan rumah kaca). Di sisi lain, Nikaragua efisien dalam menumbuhkan pisang tapi tidak efisien dalam menumbuhkan gandum. Dengan demikian, Kanaada memiliki keunggulan absolut atas Nikaragua dalam budi daya gandum, tetapi memiliki kelemahan absolut dalam budi daya pisang. Kondisi sebaliknya berlaku untuk Nikaragua.
Dalam keadaan ini, kedua Negara akan mendapat manfaat jika masing-masing mengkhususkan diri dalam produksi komoditas yang memiliki keunggulan absolut dan kemudian diperdagangkan dengan Negara lain. Kanada akan menghususkan diri dalam produksi gandum (yaitu menghasilkan lebih dari yang dibutuhkan oleh dalam negeri) dan menjual sebagian (surplus) untuk pisang yang tumbuh di Nikaragua. Akibatnya, akan lebih banyak gandum dan lebih banyak pisang yang akan ditanam dan dikonsumsi, dan keduanya, Kanada dan Nikaragua, akan mendapatkan manfaat. Dalam hal ini, Negara berperilaku tidak berbeda dari seorang individu yang tidak akan berusaha untuk menghasilkan semua komoditas
yang dia butuhkan. Sebaliknya, ia hanya akan menghasilkan komoditas itu apabila ia dapat menghasilkannya dengan cara yang paling efisien dan kemudian menukarkan output-nya untuk komoditas lain yang dia butuhkan atau inginkan. Dengan cara ini, total hasil dan kesejahteraan semua inidvidu dapat dimaksimalkan.
Dengan demikian, sementara para penganut merkantilisme percaya bahwa satu Negara bisa mendapatkan keuntunan hanya dengan mengorbankan Negara lain dan emnganjurkan control pemerintah yang ketat dari semua kegiatan ekonomi dan perdagangan, Adam Smith (dan ekonom klasik lainnya yang mengikutinya) percaya bahwa semua Negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan bebas dan sangat menganjurkan kebijakan laissez-faire (yakni membatasi campur tangan pemerintah sekecil mungkin dalam system ekonomi). Perdagangan bebas akan menyebabkan sumber daya dunia akan digunakan dengancara yang paling efisien dan akan memaksimalkan kesejahteraan dunia. Ada beberapa pengecualian untuk kebijakan laissez-faire dan perdagangan bebas ini. Salah satunya adalah perlindungan industry penting bagi pertahanan nasional.
2.1.2 Ilustrasi Keunggulan Absolut
Tabel 2.1 menunjukkan bahwa satu jam dari waktu kerja dapat menghasilkan enam gantang gandum di Amerika Serikat, tetapi hanya satu di Inggris. Di sisi lain, satu jam dari waktu kerja menghasilkan lima meter kain di Inggris tapi hanya empat di Amerika Serikat. Dengan demikian, Amrika Serikat lebih efisien daripada, atau memiliki keunggulan absolut atas, Inggris dalam produksi gandum, sedangkan Inggris lebih efisien daripada, atau memiliki keunggulan absolut atas, diri dalam produksi gandum dan sebagian diperdagangkan untuk mendapatkan kain dari Inggris. Kondisi sebalknya juga berlaku untuk Inggris.
Amerika Serikat Inggris
Gandum (gantang/jam) 6 1
Kain (meter/jam) 4 5
Tabel 2.1. Keunggulan Absolut
Jika Amerika Serikat melakukan pertukaran enam gantang gandum (6G) dengan enam meter kain Inggris (6K), Amerika Serikat mendapat keuntungan 2K atau meyelamatkan ½ jam atau 30 menit dari waktu kerja (karena Amerika Serikat hanya bisa menukar 6G untuk 4K di dalam negeri). Demikian pula, 6G yang diterima Inggris dari Amerika Serikat adalah setara dengan atau akan memerlukan enam jam waktu kerja untuk memproduksi di Inggris. Keenam jam yang sama dapat menghasilkan 30K di Inggris (6 jam kali 5 meter kain per jam). Dengan pertukaran 6K (memerlukan sedikit lebih dari satu jam untuk memproduksi di Inggris) untuk 6G dengan Amerika Serikat, Inggris mendapat keuntungan 24K, atau menghemat hampir lima jam kerja.
Fakta bahwa Inggris mendapat keuntungan jauh lebih banyak daripada Amerika Serikat tidak penting untuk saat ini. Yang penting adalah bahwa kedua Negara dapat memperoleh keuntungan dari spesialisasi dalam produksi dan perdagangan.
Keunggulan absolut, bagaimanapun, hanya dapat menjelaskan bagian yang sangat kecil dari perdagangan dunia saat ini, khususnya perdagangan di antara Negara maju dan berkembang. Sebagian besar perdagngan dunia, khususnya perdagangan di antara Negara-negara maju, tidak dapat dijelaskan oleh keungguan absolut. Baru kemudian muncul Daviid Ricardo, dengan hokum keunggulan komparatif, yang dapat benar-benar menjelaskan landasan dan manfaat dari perdagngan. Memang pada kenyatannya, keunggulan absolut hanya akan dianggap sebagai kasus khusus yang lebih umum dari teori keunggulan komparatif.
2.2 Perdagagan Berdasarkan Keunggulan Komparatif: David Ricardo
Pada 1817, David Ricardo menerbitkan tulisannya mengenai Principles of Political Economy and Taxation, yang mana ia menyajikan hokum keunggulan komparatif. Ini adalah salah satu hokum yang paling penting dan masih tak tertandingi dalam bidang ekonomi, dan bisa diaplikasikan.
Hukum Keunggulan Komparatif
produksi kedua komoditas, masih ada landasan untuk perdagngan yang saling menguntungkan. Negara pertama harus mengkhususkan diri dalam produksi dan ekspor komoditas yang mempunyai kerugian absolut yang lebih kecil (ini yang akan menjadi komoditas yang merupakan keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditas yang mempunyai kerugian absolut yang lebih besar (ini yang akan menjadi komoditas dengan kerugian komparatif).
Pernyataan hokum tersebut dapat dijelaskan dengan melihat Tabel 2.2. satu-satunya perbedaan Tabel 2.2 dan 2.1 adalah bahwa Inggris kini memproduksi hanya dua meter per jam bukan lagi lima. Dengan demikian, Inggris sekarang memiliki kelemahan absolut baik dalam produksi gandum dan kain dibandingkan dengan Amerika Serikat.
Amerika Serikat Inggris
Gandum (gantang/jam) 6 1
Kain (meter/jam) 4 2
Tabel 2.2. Keunggulan Komparatif
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
Namun, karena tenaga kerja Inggris adalah setengah produktif dalam kain, tetapi enam kali kurang produktif dalam gandum dibandingkan dengan Amerika Serikat, Inggris memiliki keunggulan komparatif dalam kain. Di sisi lain, Amerika Serikat memiliki keunggulan absolut di kedua barang, gandum dan kain, dibandingkan dengan Inggris, tapi karena keunggulan absolut lebih besar dalam gandum (6:1) dibandingkan dengan kain (4:2) Amerika Serikat memiliki keunggulan komparatif dalam gandum. Untuk meringkas, keunggulan absolut Amerika Serikat lebih besar dalam gandum, sedangkan kelemahan absolut Inggris lebih kecil di kain sehingga keunggulan komparatifnya terletak pada kain. Menurut hokum keunggulan komparatif, kedua Negara dapat memperoleh manfaat perdagnagn jika Amerika Serikat mengkhususkan diri dalam produksi gandum dan mengekspor sebagian dalam perdagangan untuk mendapatkan kain dari Inggris (Pada saat yang sama, Inggris mengkhususkan diri dalam produksi dan ekspor kain).
Keuntungan dari Perdagangan
Inggris. Amerika Serikat kemudian akan mendapatkan keuntungan sebesar 2K (atau menyimpan ½ jam waktu kerja) karena Amrika Serikat hanya bisa menjual 6G untuk mendapatkan 4K dalam negeri.untuk melihat bahwa Inggris juga akan mendapatkan keuntunan, perhatikan 6G yang diterima Inggris dari Amerika Serikat akan membutukan enam jam untuk diproduksi di Inggris. Inggris bisa menggunakan enam jam ini untuk menghasilkan 12K dan hanya melepaskan produksi 6K untuk kemudian mendapatkan 6G dari Amerika Serikat. Dengan demikian, Inggris akan mendapatkan keuntungan 6K atau menyimpan tiga jam dari waktu kerja. Sekali lagi, fakta bahwa Inggris mendapat keuntungan lebih dari perdagngan ini disbanding Amerika Serikat tidak penting pada saat ini. Yang penting adalah bahwa kedua Negara dapat memperoleh keuntungan dari perdagngan bahkan jika salah satu dari mereka (dalam hal ini Inggris) kurang efisien daripada yang lain dalam produksi kedua komoditas.
Kembali ke permasalahan Amerika Serikat dan Inggris, kita melihat bahwa kedua Negara akan memperoleh keuntungan dengan bertukar 6G untuk 6K. namun, ini bukan hanya nilai pertukaran di mana perdagangan yang saling menguntungkan terjadi. Karena Amerika Serikat bisa menukar 6G untuk 4K di dalam negeri (dalam arti bahwa keduanya membutuhkan 1 jam untuk dibuat), Amerika Serikat akan mendapatkan keuntungan jika bisa menukar 6G dengan lebih dari 4K dari Inggris. Di sisi lain, di Inggris, 6G = 12 K (dalam arti bahwa keduanya membutuhkan 6 jam untuk diproduksi). Apabila Inggris bisa melepaskan berapapun asal kurang dari 12K untuk mendapatkan 6G dari Amerika Serikat, Inggris akan mendapatkan keuntungan dari perdagngan. Untuk meringkas, Amerika Serikat mendapat keuntungan selama dapat menukar 6G untuk mendapat lebih dari 4K dari Inggris. Inggris mendapat keuntungan selama dapat menukar kurang dari 12K untuk mendapatkan 6G dari Amerika Serikat. Dengan demikian, kisaran perdagangan yang saling menguntungkan adalah:
4K < 6G < 12K
= 6G (tingkat produksi domestic, atau internal di Amerika Serikat---lihat Tabel 2.2), semakin kecil bagian dari keuntungan yang masuk ke Amerika Serikat dan semakin besar bagian dari keuntungan yang masuk ke Inggris. Di sisi lain, semakin dekat nilai tukar dengan 6G = 12K (tingkat produksi domestic, atau internal, di Inggris), semakin besar keuntungan yang didapat Amerika Serikat relative terhadap Inggris.
Pengecualian Hukum Keunggulan Komparatif
Hal ini terjadi ketika kelemahan absolut yang dimiliki satu Negara terhadap Negara lain adalah sama di kedua komoditas. Misalnya, jika dala satu jam Inggris menghasilkan 3G bukan 1G 9lihat Tabel 2.2), Inggris akan persis separuh produktif dibandingkan Amerika Serikat di kedua macam komoditas ggandum dan kain. Inggris (dan Amerika Serikat) tidak akan memiliki keunggulan komparatif dalam kedua komoditas dan tidak ada perdagngan yang saling menguntungkan bisa terjadi.
Alasannya adalah bahwa (seperti sebelumnya) Amerika Serikat akan berdagang hanya jika bisa bertukar 6G untuk lebih dari 4K. namun, sekarang Inggris tidak bersedia melepaskan lebih dari 4K untuk mendapatkan 6G dari Amerika Serikat karena Inggris dapat menghasilkan baik 6G atau 4K dalam dua jam di dalam negeri. Dalam keadaan ini, tidak ada perdagngan yang saling meguntungkan dapat terjadi.
Hal ini membutuhkan sedikit modifikasi pernyataan hokum keunggulan komparatif, sehingga berbunyi sebagai berikut. Bahkan, jika satu Negara memiliki kelemahan absolut disbanding Negara lain dalam produksi kedua komoditas, masih ada landasan untuk perdagangan yang saling menguntungkan, kecuali kelemahan absolut (yang dimiliki satu Negara terhadap Negara lain) berada dalam proporsi yang sama untuk kedua komoditas.
Keunggulan Komparatif dengan Uang
dibandingkan dengan Amerika Serikat dalam memproduksi kedua komoditas? Jawabannya adalah bahwa upah di Inggris akan cukup rendah dibandingkan upah di Amerika Serikat, sehingga membuat harga kain (komoditas yang mana Inggris memiliki keunggulan komparatif) lebih rendah di Inggris, dan harga gandum lebih rendah di Amerika Serikat ketika kedua komoditas disajikan dalam bentuk nilai tukar di kedua Negara.
Misalkan tingkat upah di Amerika Serikat adalah $6 per jam. Karena satu jam menghasilkan 6G di Amrika Serikat (lihat Tabel 2.2), harga satu gantang gandum adalah PG = $1. Di sisi lain, karena satu jam menghasilkan 4K, PK = $1.50 (dari $6/4K). misalkan pada saat yang sama tingkat upah di Inggris adalah £1 per jam . karena satu jam menghasilkan 1G di Inggris (lihat Tabel 2.2), PG = £1 di Inggris. Demikian pula, karena satu jam menghasilkan 2K, PK = 0.5 = $1 di Inggris, Tabel 2.3. menunjukkan harga dolar gandum dan kain di Amerika Serikat dan Inggris dengan kurs £1 = $2.
Dari Tabel 2.3, kita dapat melihat bahwa harga dolar gandum (komoditas di mana Amerika Serikat memiliki keunggulan komparatif) lebih rendah di Amerika Serikat daripada di Inggris. Di sisi lain, harga dolar kain (komoditas di mana Inggris memiiki keunggulan komparatif) lebih rendah di Inggris.
Amerika Serikat Inggris Harga satu gantang
gandum $1,00 $2,00
Harga satu meter kain $1,50 $1,00
Tabel 2.3 Harga Dolar Gandum dan kain di Amerika Serikat dan Inggris pada kurs £1 = $2
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
nilai tukar antara dolar dan pound (yaitu harga dolar dalam pound) akan meningkat.
Di sisi lain, jika niai tukar adalah £1 = $3 (sehingga tingkat upah Inggris adalah persis ½ tingkat upah Amerika Serikat), harga kain di Inggris akan sama dengan PK = £0,5 = $1,50 (yan sama seperti pada Amerika Serikat--- lihat Tabel 2.3). Akibatnya, Inggris tidak bisa mengekspor kain ke Amerika Serikat. Perdagangan tidak akan seimbang dan memihak Amerika Serikat, dan nilai tukar akan jatuh. Nilai tukar antara dolar dan pound pada akhirnya akan menetap pada tingkat yang akan menghasilkan perdagangan yang seimbang (tanpa adanya campur tangan atau transaksi internasional).
2.2.1 Keunggulan Komparatif dan Biaya Oportunitas
David Ricardo mendasarkan hokum keunggulan komparatif pada sejumlah asumsi sederhana: (1) hanya dua Negara dan dua komoditas, (2) perdagngan bebas, (3) mobilitas tenaga kerja yang sempurna di dalam setiap Negara tapi tidak di antara kedua Negara, (4) biaya produksi konstan, (5) biaya transportasi tidak ada, (6) tidak ada perubahan teknis, dan (7) teori nilai tenaga kerja, sementara asumsi satu sampai enam dengan mudah dicapai, asumsi ketujuh (yaitu bahwa teori nilai tenaga kerja berlaku) tidak valid dan tidak boleh digunakan untuk menjelaskan keunggulan komparatif.
Keunggulan Komparatif dan Teori Buruh terhadap Nilai
Berdasarkan teori nilai tenaga kerja, nilai atau harga suatu komoditas tergantung secara eksklusif pada jumlah tenaga kerja yang akan masuk ke produksi komoditas. Ini berarti (1) bahwa tenaga kerja adalah satu-satunya factor produksi atau tenaga kerja yang digunakan dlam proporsi yang tetap sama dalam produksi komoditas dan (2) tenaga kerja adalah homogeny (misalnya, hany satu jenis). Karena tidak satu pun dari asumsi ini benar, kita tidak bisa mendasarkan teori keunggulan komparatif pada teori nilai tenaga kerja.
substitusi antara tenaga kerja, modal, dan factor-faktor lain dalam produksi komoditas. Selain itu, tenaga kerja jelas tidak homogen, tetapi sangat bervariasi dalam pelatihan, produtivitas, dan upah.
Teori Biaya Oportunitas
Haberler pada 1936 akhirnya menjelaskan atau mendasarkan teori keunggulan komparatif pada teori biaya oportunitas (opportunity cost theory).
Menurut teori biaya oportunitas, biaya komoditas adalah jumlah komoditas kedua yang harus diberikan untuk dapat menggunakan sumber daya yang cukup untuk memproduksi satu unit tambahan komoditas pertama. Tidak ada asumsi yang dibuat yang menyatakan bahwa tenaga kerja merupakan satu-satunya factor produksi atau tenaga kerja yang homogeny. Juga tidak diasumsikan bahwa biaya atau harga suatu komoditas tergantung pada, atau dapat dinilai secara secara eksklusif dari, komposisi tenaga kerjanya. Akibatnya Negara dengan biaya oportunitas lebih rendah dalam produksi komoditas memiliki keunggulan komparatif dalam komoditas (dan kelemahan komparatif dalam komoditas kedua).
Misalnya, jika tanpa adanya perdagangan Amerika Serikat harus megeluarkan dua pertiga dari unit kain untuk dapat menggunakan sumber daya yang hanya cukup untuk memproduksi satu unit tambahan gandum dalam negeri,
biaya oportunitas gandum adalah dua-pertiga dari unit kain (yaitu 1G = 2/3K di Amerika Serikat). Jika 1G = 2K di Inggris, biaya oportunitas dari gandum (dalam hal jumlah kain yang harus diberikan atas) lebih rendah di Amerika Serikat daripada di Inggris, dan Amerika Serikat akan memiliki keunggulan komparatif (biaya) atas Inggris dalam produksi gandum. Dalam perdagangan dunia dua-negara, dua-komoditas Inggris kemudian akan memiliki keunggulan komparatif dalam produksi kain.
Batas Kemungkinan Produksi dalam Biaya yang Konstan
artinya, 30G = 20 K (dalam arti bahwa keduanya membutuhkan jumlah sumber daya yang sama). Dengan demikian, biaya oportunitas dari satu unit gandum di Amerika Serikat adalah 1G = 2/3K dan tetap konstan. Di sisi lain, Inggris dapat meghasilkan 60G dan 0K, 50G dan 20K, atau 40G dan 40K, turun ke 0G dan 120K. dengan demikian, Inggris bisa meningkatkan output sebesar 20K untuk setiap 10G yang dilepaskan. Denan demikian, biaya oportuitas gandum di Inggris adalah 1G = 2K dan tetap konstan.
Amerika Serikat Inggris
Gandum Kain Gandum Kain
180 0 60 0
150 20 50 20
120 40 40 40
90 60 30 60
60 80 20 80
30 100 10 100
0 120 0 120
Tabel 2.4 Daftar Kemungkinan Produksi untuk Gandum dan Kain di Amerika Serikat dan Inggris
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
Amerika Serikat dan Inggris mempunyai kemungkinan komposisi produksi yang diberikan dalam Tabel 2.4 yang digambarkan sebagai batas kemungkinan produksi pada Gambar 2.1. Setiap titik di batas merupakan salah satu kombinasi gandum dan kain yang dapat diproduksi suatu Negara. Sebagai contoh, pada titik A, Amerika Serikat menghasilkan 90G dan 60K. pada titik A; Inggris menghasilkan 40G dan 40K.
Titik-titik yang berada di dalam, atau di bwah, kurva batas kemungkinan produksi juga melambangkan kemungkinan komposisi produksi, tetapi tidak efisien, dalam arti bahwa Negara tersebut masih memiliki beberapa sumber daya yan belum digunakan secara maksimal dan/atau belum menggunakan teknologi terbaik yang tersedia untuk itu. Di sisi lain, titik-titik di atas batas kemungkinan produksi tidak dapat dicapai dengan sumber daya dan teknologi yang saat ini tersedia untuk Negara tersebut. Kemiringan (slope) ke bawah, atau negative, dari garis batas kemungkinan produksi pada Gambar 2.1 menunjukkan bahwa jika Amerika Serikat dan Inggris ingin menghasilkan lebih banyak gandum, mereka harus melepaskan sebagian dari produksi kain mereka. Fakta bahwa batas kemungkinan produksi kedua Negara berupa garis lurus mencerminkan fakta bahwa biaya oportunitas mereka konstan. Artinya, untuk setiap 1G tambahan yang harus diproduksi, Amerika Serikat harus melepaskan 2/3K dan Inggris harus melepaskan 2K, tidak peduli dari mana titik pada garis batas kemungkinan produksi Negara tersebut dimulai.
Biaya Oportunitas dan Harga Komoditas Relatif
Gambar 2.1 menunjukkan bahwa kemiringan (absolut) dari kurva transformasi Amerika Serikat adalah 120/180 = 2/3 = biaya oportunitas untuk gandum di Amerika Serikat dan nilainya tetap konstan. Kemiringan kurva transformasi Inggris adalah 120/60 = 2 = biaya oportunitas untuk gandum di Inggris dan nilainya tetap konstan. Pada asumsi bahwa harga sama dengan biaya produksi dan masing-masing Negara menghasilkan beberapa gandum dan kain, biaya oportunitas gandum sama denan harga gandum relative terhadap harga kain (PG/PK).
Dengan demikian, PG/PK = 2/3 di Amerika Serikat, dan sebaliknya PK/PG = 3/2 = 1,5. Di Inggris, PG/PK = 2, dan PK/PG = 1/2. Nilai PG/PK yang lebih rendah di Amerika Serikat (2/3 dibandingkan dengan 2 di Inggris) adalah refleksi dari keunggulan komparatif dalam gandum Amerika Serikat. Demikian pula, PK/PG yang lebih rendah di Inggris (1/2 dibandingkan dengan 2/3) mencerminkan keunggulan komparatif pada kain. Perhatikan bahwa dalam kondisi biaya konstan, PG/PK ditentukan secara eksklusif oleh pertimbangan produksi, atau penawaran, di setiap Negara. Pertimbangan permintaan tidak masuk sama sekali dalam penentuan harga komoditas relative (relative commodity prices).
2.2.2 Dasar dan Keuntungan dari Perdagngan di Bawah Biaya Konstan Ilustrasi Keuntungan dari Perdagngan
Dengan tidak adanya perdagngan, Amerika Serikat mungkin memilih untuk memproduksi dan mengonsumsi kombinasi A (90G dan 60K) di batas kemungkinan produksi (lihat Gambar 2.2) dan Inggris mungkin memilih kombinasi A’ (40G dan 40K).
2.2) dan Inggris mendapat keuntungan 30G dan 10K (bandingkan titik A’ dengan titik E’).
Gambar 2.2. Keuntungan dari Perdagngan. Dengan tidak adanya perdagangan, Amerika Serikat memproduksi dan mengonsumsi di A, dan Inggris di A’. dengan perdagangan, Amerika Serikat mengkhususkan diri dalam produksi gandum dan memproduksi B, sedangkan Inggris mengkhususkan diri dalam produksi kain dan menghasilkan di B’. Dengan bertukar 70G untuk 70K dengan Inggris, Amerika Serikat berakhir mengonsumsi di E (untung 20G dan 10K), sedangkan Inggris berakhir mengonsumsi di E’ (untung 30G dan 10K).
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
Harga Komoditas Relatif dengan Perdagngan
180G 9semua yang diproduksi di Amerika Serikat) dan harga ekulibrium PG/PK = 1 dengan perdagngan. Panel kanan menunjukkan keseimbangan untuk kain di persimpangan DG(IN+AS) dengan SG(IN+AS) pada titik E’ dengan 120K (semua diproduksi di Inggris) dan PG/PK = 1.
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
2.2.3 Pengujian Empiris Model Ricardian
Tes empiris pertama pada model perdagangan Ricardian dilakukan oleh
MacDougall pada 1951 dan 1952 dengan menggunakan produktivitas tenaga kerja dan data ekspor untuk 25 industri di Amerika Serikat dan Inggris untuk 1937.
Gambar 2.4 merangkum hasil uji empiris MacDougall. Sumbu vertical mengukur rasio output per pekerja Amerika Serikat untuk output per pekerja Inggris. Semakin tinggi rasio ini, semakin besar produktivitas relative tenaga kerja Amerika Serikat. Sumbu horizontal mengukur rasio ekspor Amerika Serikat ke Inggris ke seluruh dunia. Perhatikan bahwa skala yang dipakai adalah logaritmik (sehingga jarak yang sama mengacu pada pertumbuhan persentase yang sama) buka skala aritmatik (jarak yang sama akan mengukur perubahan mutlak yang sama).
Seluruh studi empiris tampaknya mendukung teori Ricardian tentang keunggulan komparatif. Artinya, pola perdagangan yang sebenarnya tampaknya didasarkan pada produktivitas tenaga kerjayang berbeda dalam industry yang berbeda di kedua Negara.
Gambar 2.4. Produktivitas Buruh Relatif dan Perbandingan Keuntungan---Amerika Serikat dan Inggris. Angka ini menunjukkan hubungan positif antara produktivitas tenaga kerja dan nilai ekspor untuk 20 industri di Amerika Serikat dan Inggris sehingga mengonfirmasikan model perdagangan Ricardian.
Sumber: Diadaptasi dari G.D.A MacDougall, “British and American Exports: A Study Suggested by the Theory of Comparative Cost”, Economic Journal, December 1951, hlm. 703.
2.3 Faktor Produksi Bawaan dan Teori Heckscher-Ohlin 2.3.1 Makna dari Asumsi Teori
Teori Heckscher-Ohlin didasarkan pada asumsi sebagai berikut.
1. Ada dua Negara (Negara 1 dan Negara 2), dua komoditas (komoditas X dan komoditas Y), dan dua factor produksi (tenaga kerja dan modal). Asumsi ini dibuat dengan pengetahuan bahwa penyerderhanaan (sehingga untuk menangani kasus yang lebih realistis lebih dari dua Negara, lebih dari dua komoditas, dan lebih dari dua faktor) akan menghasilkan kesimpulan yang dasarnya tidak berubah dari teori.
2. Kedua Negara menggunakan teknologi yang sama dalam produksi, bahwa kedua Negara memiliki akses menggunakan teknik produksi yang secara umum. Dengan demikian, jika harga-harga factor produksi sama di kedua Negara, produsen di kedua Negara akan menggunakan jumlah tenaga kerja dan modal yang sama persis dalam produksi setiap komoditas.
3. Komoditas X adalah padat karya, dan komoditas Y adalah padat modal di kedua Negara. Dalam cara yang lebih teknis dan tepat, berarti bahwa rasio tenaga kerja modal (L/K) lebih tinggi untuk komoditas X daripada komoditas Y di kedua Negara pada harga factor produksi yang relative sama.
kerja maupun jumlah modal yang digunakan pada produksi komoditas X,
output komoditas X juga akan berganda.
5. Ada spesialisasi tidak menyeluruh dalam produksi di kedua Negara. Bahwa bahkan dengan perdagangan bebas kedua Negara terus memproduksi kedua komdoditas. Hal ini menyiratkan bahwa tidak satu pun dari kedua Negara adalah “sangat kecil”.
6. Selera yang sama di kedua Negara. Seperti yang tercermin dalam bentuk dan lokasi kurva indiferen, adalah identic di kedua Negara. Dengan demikian, ketika harga komoditas relative sama di kedua Negara (misalnya, perdagngan bebas), kedua Negara akan mengonsumsi X dan Y dalam proporsi yang sama. 7. Ada persaingan sempurna di kedua komoditas dan pasar factor produksi di kedua Negara. Bahwa produsen, konsumen, dan pedagang komditas X dan kmoditas Y di kedua Negara masing-masing terlalu kecil untuk memengaruhi harga komoditas tersebut. Hal yang sama berlaku untuk setiap pengguna dan pemasok tenaga kerja dan modal. Persaingan sempurna berarti, dalam jangka panjang, harga komoditas sama dengan biaya produksi mereka, tanpa meninggalkan keuntungan (ekonomi) setelah pembayaran semua biaya (termasuk biaya implisit) yang diperhitungkan.
8. Mobilitas factor internal/ internal factor mobility yang sempurna tapi tidak ada mobilitas factor produksi secara Internasional, berarti bahwa tenaga kerja dan modal bebas bergerak, dan memang bergerak cepat, dari daerah dan industry yang pendapatannya lebih rendah ke daerah dan industry yang pendapatannya lebih tinggi sampai pendapatan untuk jenis tenaga kerja dan modal yang sama adalah sama di semua bidang, penggunaan, dan industry Negara.
9. Tidak ada biaya transportasi, tariff, atau penghalang lain untuk arus bebas perdangan internasional, berarti bahwa spesialisasi dalam hasil produksi berlangsung terus sampai harga komoditas relative (dan mutlak) yang sama di kedua Negara dengan perdagngan tercapai.
10. Semua sumber daya sepenuhhnya digunakan di kedua Negara, berarti bahwa tidak ada sumber daya atau factor produksi menganggur di suatu Negara. 11. Perdagangan internasional antara kedua Negara seimbang, berarti bahwa total
2.3.2 Intensitas Faktor Produksi, Kelimpahan Faktor Produksi dan Bentuk Garis Batas Produksi
Intensitas Faktor Produksi
Jika kita gambar modal (K) di sepanjang sumbu vertical grafik dan tenaga kerja (L) sepanjang sumbu horizontal, dan produksi berlangsung sepanjang garis lurus dari titik asal, kemiringan garis akan mengukur rasio modal-tenaga kerja (K/L) dalam produksi komoditas tersebut. Hal ini ditunjukkan dalam Gambar 2.5.
Gambar 2.5. Intensitas Faktor untuk Komoditas X dan Y di Negara 1 dan 2. Di Negara 1, rasio modal-tenaga kerja (K/L) sama dengan 1 untuk komoditas Y dan K/L = ¼ untuk komoditas X. ini ditunjukkan oleh kemiringan garis titik asal untuk setiap komoditas Negara 1. Dengan demikian, komoditas Y adalah komoditas K-intensif di Negara 1. Di Negara 2, K/L = 4 untuk Y dan K/L = 1 untuk X. dengan demikian, komoditas Y adalah komoditas K-intensif, dan komoditas X adalah L-inetnsif di kedua Negara. Negara 2 menggunakan K/L lebih tinggi daripada Negara 1 dalam produksi kedua komoditas karena harga relative modal (r/w) lebih rendah di Negara 2. Jika r/w menurun, produsen akan menggantikan K untuk L dalam produksi kedua komoditas untuk meminimalkan biaya produksi mereka. Akibatnya, K/L akan naik untuk kedua komoditas.
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
asal untuk komoditas X di Negara 1. Karena K/L, atau kemiringan garis dari titik asal Negara 1 lebih tinggi untuk komoditas Y dibandingkan untuk komoditas X, kita mengatakan bahwa komoditas Y adalah K intensif dan komoditas X adalah L intensif di Negara 1.
Di Negara 2, K/L (atau kemiringan garis) adalah 4 untuk Y dan 1 untuk X. oleh karena itu, Y adalah komoditas K-intensif, dan X adalah komoditas L-intemnsif di Negara 2 juga. Hal ini diilustrasikan oleh fakta bahwa garis dari titik asal untuk komoditas Y adalah curam (yaitu memiliki kemiringan lebih besar) daripada garis untuk komoditas X di kedua Negara.
2.3.3 Faktor Bawaan dan Teori Heckscher-Ohlin Teorema Heckscher-Ohlin
Dari semua kemungkinan alasan untuk perbedaan harga komoditas relative dan keunggulan komparatif antarnegara, teori H-O mengisolasi perbedaan dalam kelimpahan factor produksi relative, atau factor produksi bawaan, antarnegara sebagai penyebab dasar atau penentu keunggulan komparatif dan perdagangan Internasional. Untuk alasan ini, model H-O sering disebut sebagai teori factor produksi proporsi atau factor produksi bawaan (factor proportions or factor-endowment theory). Artinya, setiap Negara mengkhususkan diri dalam produksi dan ekspor komoditas yang intensif dalam factor produktif yang relative berlimpah dan murah dan mengimpor komoditas yang intensif dalam factor produksi yang relative langka dan mahal.
Dengan demikian, teori H-O menjelaskan apa keunggulan komparatif itu daripada hanya mengasumsikannya (seperti yang terjadi pada teori dari para ekonom klasik). Artinya, teori H-O mendalilkan bahwa perbedaan relative dalam kelimpahan dan harga factor produksi merupakan penyebab perbedaan harga komoditas relative antara dua Negara sebelum terjadi perdagngan.
Gambar 2.6. Kerangka Ekulibrium Umum Teori Heckscher-Ohlin. Dimulai dari sudut kanan bawah dari diagram, kita melihat bahwa distribusi kepemilikan factor produksi atau pendapatan dan selera menentukan permintaan untuk komoditas. Permintaan untuk factor-faktor produksi kemudian berasal dari permintaan untuk komoditas akhir. Permintaan dan penawaran factor produksi menentukan harga factor produksi. Harga factor produksi dan teknologi menentukan harga komoditas akhir. Perbedaan harga komoditas relative antarnegara kemudian menentukan keunggulan komparatif dan pola perdagngan.
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
2.4 Hasil Uji Empiris---Paradoks Leontief
Untuk uji ini, Leontief memanfaatkan table input-output ekonomi Amerika Serikat untuk menghitung jumlah tenaga kerja dan modal dalam “himpunan perwakilan” dari ekspor Amerika Serikat dan pengganti impor pada tahun 1947 yang bernilai $1 juta. (Tabel input-output adalah table yang menunjukkan asal dan tujuan dari setiap produksi dalam perekonomian. Leontief sendiri telah memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan teknik analisis baru ini dan menerima hadiah Nobel pada tahun 1973 atas kontribusinya).
sebenarnya, mereka masih akan kurang K intensif daripada ekspor Amerika Serikat jika model H-O memang benar adanya.
Hasil uji Leontief sangat mengejutkan. Sustitusi impor Amerika Serikat adalah sekitar 30 persen lebih K intensif daripada ekspor Amerika Serikat. Artinya, Amerika Serikat tampak seperti mengekspor komoditas yang L-intensif dan mengimpor komoditas K-intensif. Ini adalah kebalikan dari apa yang diprediksi dalam model H-O, dan hal tersebut menjadi dikenal sebagai Paradoks Leontief/ Leontief paradox.
Dalam studi tersebut, Leontief mencoba merasionalisasi hasilnya daripada langsung menolak model H-O. dia beragumen bahwa apa yang dia miliki di sini adalah ilusi optic. Sejak tahun 1947, tenaga kerja di Amerika Serikat sekitar tiga kali lebih produktif dibandingkan tenaga kerja asing, Amerika Serikat benar-benar Negara dengan L-berlimpah jika kita kalikan tiga angkatan kerja Amerika Serikat dan bandingkan angka hasilnya dengan ketersediaan modal di Negara ini. Oleh karena itu, adalah tepat bahwa ekspor Amerikat Serikat harus L intensif dalam kaitannya dengan komoditas substitusi impor Amerika Serikat. Penjelasan ini tidak dapat diterima, dan Leontief sendiri kemudian menariknya. Alasannya adalah bahwa sementara tenaga kerja Amerika Serikat pasti lebih produktif daripada tenaga kerja asing (meskipun angka lipat tiga yang digunakan oleh Leontief sebagian besar hanyalah perkiraan), begitu juga modal Amerika Serikat. Oleh karena itu, baik tenaga kerja Amerika Serikat maupun modal Amerika Serikat harus dikalikan dengan pengali yang hampir sama, sehingga menghasilkan kelimpahan relative modal di Amerika Serikat lebih kurang tidak terpengaruh.
2.5 Teorema Rybczynski
Teorema Rybczynski mendalilkan bahwa pada harga komoditas kontan, peningkatan kemampuan dari salah satu factor akan meningkatkan output dari komoditas yang padat dalam factor itu dengan proporsi yang lebih besar dan akan mengurangi output dari komoditas lainnya. Misalnya, jika hanya L yang tumbuh di Negara 1, output komoditas X (komoditas padat L) berkembang lebih dari proporsional, sedangkan output komoditas Y (komoditas padat K) menurun di PX dan PY konstan.
Negara 1 memproduksi di titik B (yaitu 130X dan 20Y) pada PX/ PY = PB = 1, seperti dalam bab-bab sebelumnya. Setelah hanya L yang berlipat ganda dan dengan PX/PY tetap ganda PB = 1, Negara 1 akan berproduksi pada titik M di batas produksi baru. Pada titik M, Negara 1 menghasilkan 270K, tetapi hanya 10Y. dengan demikian, output dari komoditas X meningkat lebih dari dua kali lipat, sedangkan output komoditas Y menurun (seperti yang diperkirakan oleh teorema Rybczynski). Menggandakan L dan mentransfer beberapa L dan K dari produksi komoditas Y lebih dari dua kali lipat output komoditas X.
Gambar 2.7. Pertumbuhan Tenaga Kerja dan Teorema Rybczynski. Dengan adanya perdagangan tapi sebelum terjadi pertumbuhan, Negara 1 memproduksi di titik B (130X dan 20Y) pada Px /PY = PB = 1, seperti dalam bab-bab sebelumnya. Setelah pada PB = 1, Negara 1 memproduksi di titik M (270X 10Y) pada batas produksi baru yang lebih besar. Dengan demikian, output dari X (komoditas padat L) diperbanyak, dan output dari Y (komoditas padat K) menurun, sebagaimana didalilkan oleh Teorema Rybczynski.
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
untuk meringkas, kita dapat mengatakan bahwa untuk PX dan PY (dan arena itu PX/PY) tetap konstan, r harus tetap konstan. Namun, r dapat tetap konstan hanya jika K/L tetap konstan dalam produksi kedua komoditas. Satu-satunya cara untuk hal ini terjadi dan juga menyerap semua kenaikan L adalah untuk mengurangi output Y, sehingga akan melepaskan K/L supaya digunakan derngan proporsi yang lebih besar dalam produksi Y, dan menggabungkan K yang dilepaskan dengan L tamabahan pada K/L yang lebih rendah yang digunakan dalam produksi X. dengan demikian, output dari X naik dan Y turun. Bahkan,
2.5.1 Bukti Formal dari Teorema Rybczynski
Seperti yang dibahas dalam Bagian 7.2B, teorema Rybczynski mendalilkan bahwa pada harga komoditas konstan, peningkatan kemampuan dari salah satu factor produksi akan meningkatkan, dengan proporsi yang lebih besar, output dari komoditas yang padat dalam factor itu dan akan mengurangi output dari komoditas lainnya.
Teorema dapat dibuktikan baik dengan memulai dari titik produksi perdagangan bebas B (seperti pada Gambar 7.2) maupun dengan memulai dari autarki, atau dari kondisi di mana tidak ada perdagangan, di titik ekulibrium produksi dan konsumsi A (dari bab sebelumnya). Titik awal tidaklah penting asalkan titik produksi baru setelah pertumbuhan bisa dibandingkan dengan titik awal tertentu yang telah dipilih dan harga komoditas dijaga pada tingkat yang sama seperti pada titik ekulibrium awal. Kita akan mulai dari titik A karena itu juga akan memungkinkan kita untuk memeriksa implikasi dari teorema Rybczynski untuk harga komoditas relative tanpa adanya perdagangan.
Gambar 2.8 menunjukkan bukti. Titik A pada batas produksi Negara 1 (di bagian bawah) berasal dari titik A dalam diagram kotak Edgeworth Negara 1 (di atas gambar) sebelum jumlah tenaga kerja berlipat ganda. Setelah jumlah tenaga kerja berlipat ganda, diagram kotak Edgeworth Negara 1 berlipat ganda panjangnya, tetapi tetap pada ketinggian yang sama (karena jumlah modal dipertahankan konstan).
berlipat ganda dan dengan K/L konstan dalam produksi kedua komoditas. Perhatikan bahwa isokuan memiliki kemiringan yang sama pada titik A dan A*, menunjukkan bahwa w/r adalah sama pada kedua titik.
Gambar 2.8. Bukti Grafis dari Teorema Rybczysnki. Titik A pada batas produksi Negara 1 (di bagian bahwa gambar) berasal dari titik A dalam diagram kotak Edgeworth Negara 1 (di bagian atas gambar). Supaya PX dan PY bisa tetap sama, w dan r harus tetap konstan. Namun, w dan r dapat tetap konstan hanya jika K/L tetap konstan dalam produksi kedua komoditas. Titik A* di bagian atas dan bawah gambar adalah titik di mana hal ini mungkin terjadi dan semua peningkatan L sepenuhnya diserap. Pada titik A*, K/L dalam produksi kedua komoditas adalah sama seperti pada titik A. pada A*, output komoditas X (komoditas padat L) lebih dari berlipat ganda, sedangkan output komoditas Y menurun sebagaimana didalilkan oleh Teorema Rybczynski.
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
2.5.2 Pertumbuhan dengan Imobilitas Faktor Produksi
peningkatan tenaga kerja yang dipekerjakan dalam produksi komoditas X. selain itu, Karena lebih banyak tenaga kerja yang digunakan dalam industry masing-masing dengan tidak berubahnya jumlah modal, VMPK dan hasil dari modal (r) meningkat di kedua industry.
Mari kita beralih ke panel kanan Gambar 7.10, yaitu pasokan modal (factor produksi yang langka dan tidak bergerak di Negara 1) meningkat dalam produksi komoditas X saja. Karena setiap unit kerja dalam produksi komoditas X akan memiliki modal lebih dalam produksinya, kurva VMPLX bergeser hingga VMPL’X. perpotongan kurva VMIPL’X dan VMPLY sekarang menentukan upah ekulibrium yang baru dan lebih tinggi dari E”D” di kedua industry, dan DD” tenaga kerja akan ditransfer dari produksi komoditas Y ke produksi komoditas X. karena w naik di kedua industry, r harus turun di kedua komoditas agar harga komoditas tetap konstan.
2.6 Teori Stolper-Samuelson secara Grafik
Untuk melakukannya, kita menggunakan diagram kotak Edgeworth untuk Negara 2 pada Gambar 2.8 . pada Gambar 2.8, titik A merupakan titik produksi autarki, titik B merupakan titik produksi perdagangan bebas, dan titik F yang semakin jauh dari titik OX dan semakin mendekati titik OY dibandingkan titik B, menunjukkan bahwa kenaikan PX/PY merupakan akibat dari adanya tariff impor pada komoditas X, Negara 2 menghasilkan lebih banyak komoditas X dan lebih sedikit komoditas Y.
Gambar 2.9. Teori Stolper-Samuelson secara Grafis. Ketika Negara 2 membebankan tariff impor pada komoditas X, PX/PY naik dan Negara bergerak dari titik perdagangan bebas B menuju titik F pada kurva kontrak produksinya dan memproduksi lebih banyak komoditas X tetapi lebih sedikit komoditas Y. karena kedua garis putus-putus dari titik pangkal ke titik F lebih curam dibandingkan kedua garis lurus dari titik pangkal ke titik B, K/L lebih tinggi pada produksi kedua komoditas dengan adanya tariff disbanding saat perdagangan bebas. Semakin banyak modal yang digunakan tiap satuan tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja meningkat, dan kemudian pendapatan tenaga kerja menjadi lebih tinggi setelah tariff diberlakukan, seperti yang dirumuskan oleh teori.
Sumber: Ekonomi Internasional, edisi 9 buku 1: Dominick Salvatore, Tahun (2014)
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurut Adam Smith, perdagangan antara dua Negara didasarkan pada keunggulan absolut. Ketika satu Negara lebih efisien daripada (atau memiliki keunggulan absolut atas) yang lain dalam produksi satu komoditas tetapi kurang efisien daripada (atau memiliki kelemahan absolut terhadap) Negara lain dalam memproduksi komoditas yang kedua, kedua Negara dapat mendapatkan manfaat dengan masing-masing mengkhususkan diri dalam produksi komoditas yang memiliki keunggulan absolut dan bertukar hasil dengan Negara lain untuk komoditas yang memiliki kelemahan absolut. Dengan proses ini, sumber daya digunakan dengan cara yang paling efisien dan hasil dari kedua komoditas akan naik. Peningkatan dalam hasil komoditas keduanya merupakan ukuran keuntungan dari spesialisasi dalam produksi yang tersedia untuk dibagi antara ke3dua Negara melalui perdagangan.
Menurut hukum keunggulan komparatif, bahkan jika satu Negara kurang
efisien daripada (memiliki kelemahan absolut terhadap) Negara lain dalam produksi kedua komoditas, masih ada landasan untuk perdagngan yang saling menguntungkan. Negara pertama harus mengkhususkan diri dalam produksi dan ekspor komoditas yang mempunyai kerugian absolut yang lebih kecil (ini yang akan menjadi komoditas yang merupakan keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditas yang mempunyai kerugian absolut yang lebih besar (ini yang akan menjadi komoditas dengan kerugian komparatif).
Teori Heckscher-Ohlin didasarkan pada asumsi sebagai berikut.
1. Ada dua Negara (Negara 1 dan Negara 2), dua komoditas (komoditas X dan komoditas Y), dan dua factor produksi (tenaga kerja dan modal). Asumsi ini dibuat dengan pengetahuan bahwa penyerderhanaan (sehingga untuk menangani kasus yang lebih realistis lebih dari dua Negara, lebih dari dua komoditas, dan lebih dari dua faktor) akan menghasilkan kesimpulan yang dasarnya tidak berubah dari teori.
2. Kedua Negara menggunakan teknologi yang sama dalam produksi, bahwa kedua Negara memiliki akses menggunakan teknik produksi yang secara umum. Dengan demikian, jika harga-harga factor produksi sama di kedua
Negara, produsen di kedua Negara akan menggunakan jumlah tenaga kerja dan modal yang sama persis dalam produksi setiap komoditas.
3. Komoditas X adalah padat karya, dan komoditas Y adalah padat modal di kedua Negara. Dalam cara yang lebih teknis dan tepat, berarti bahwa rasio tenaga kerja modal (L/K) lebih tinggi untuk komoditas X daripada komoditas Y di kedua Negara pada harga factor produksi yang relative sama.
4. Kedua komoditas yang diproduksi diukur dalam skala hasil konstan. Misalnya, jika Negara 1 meningkatkan sebesar 10 persen baik jumlah tenaga kerja maupun jumlah modal yang digunakan pada produksi komoditas X, output komoditas X juga akan berganda.
5. Ada spesialisasi tidak menyeluruh dalam produksi di kedua Negara. Bahwa bahkan dengan perdagangan bebas kedua Negara terus memproduksi kedua komdoditas. Hal ini menyiratkan bahwa tidak satu pun dari kedua Negara adalah “sangat kecil”.
6. Selera yang sama di kedua Negara. Seperti yang tercermin dalam bentuk dan lokasi kurva indiferen, adalah identic di kedua Negara. Dengan demikian, ketika harga komoditas relative sama di kedua Negara (misalnya, perdagngan bebas), kedua Negara akan mengonsumsi X dan Y dalam proporsi yang sama.
7. Ada persaingan sempurna di kedua komoditas dan pasar factor produksi di kedua Negara. Bahwa produsen, konsumen, dan pedagang komditas X dan kmoditas Y di kedua Negara masing-masing terlalu kecil untuk memengaruhi harga komoditas tersebut. Hal yang sama berlaku untuk setiap pengguna dan pemasok tenaga kerja dan modal. Persaingan sempurna berarti, dalam jangka panjang, harga komoditas sama dengan biaya produksi mereka, tanpa meninggalkan keuntungan (ekonomi) setelah pembayaran semua biaya (termasuk biaya implisit) yang diperhitungkan. 8. Mobilitas factor internal/ internal factor mobility yang sempurna tapi
tenaga kerja dan modal yang sama adalah sama di semua bidang, penggunaan, dan industry Negara.
9. Tidak ada biaya transportasi, tariff, atau penghalang lain untuk arus bebas perdangan internasional, berarti bahwa spesialisasi dalam hasil produksi berlangsung terus sampai harga komoditas relative (dan mutlak) yang sama di kedua Negara dengan perdagngan tercapai.
10. Semua sumber daya sepenuhhnya digunakan di kedua Negara, berarti bahwa tidak ada sumber daya atau factor produksi menganggur di suatu Negara.
11. Perdagangan internasional antara kedua Negara seimbang, berarti bahwa total nilai ekspor masing-masing Negara sama dengan nilai total impor nasional.
12. Biaya peluang opportunitas
Untuk uji ini, Leontief memanfaatkan table input-output ekonomi Amerika Serikat untuk menghitung jumlah tenaga kerja dan modal dalam “himpunan perwakilan” dari ekspor Amerika Serikat dan pengganti impor pada tahun 1947 yang bernilai $1 juta. (Tabel input-output adalah table yang menunjukkan asal dan tujuan dari setiap produksi dalam perekonomian. Leontief sendiri telah memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan teknik analisis baru ini dan menerima hadiah Nobel pada tahun 1973 atas kontribusinya).
Teorema Rybczynski mendalilkan bahwa pada harga komoditas kontan, peningkatan kemampuan dari salah satu factor akan meningkatkan output dari komoditas yang padat dalam factor itu dengan proporsi yang lebih besar dan akan mengurangi output dari komoditas lainnya. Misalnya, jika hanya L yang tumbuh di Negara 1, output komoditas X (komoditas padat L) berkembang lebih dari proporsional, sedangkan output komoditas Y (komoditas padat K) menurun di PX dan PY konstan.
Analisis ekulibrium parsial suatu tarif menggunakan kurva permintaan dan
DAFTAR PUSTAKA