PERSATUAN RAKYAT JAKARTA
SPRI, KASBI, POSINDO, Puskapol UI, PPMI, SBMI, KPO PRP, SGMK, KP-KPBI, HAMAS, GEBER BUMN, ASPEK Indonesia, GSBI, Yappika, Budaya Mandiri, FSPMI, FBTPI, Arus Pelangi, SPN, FAKTA, PPRI, Perem puan Mahardika,
Asosiasi Pelajar Indonesia, KontraS, HFDI, FSPASI, KSN, TII, GPI Jakarta Raya, Solidaritas Perem puan, BEM Universitas Indonesia, UPC, KPRI DKI Jakarta, LBH Jakarta, LBH Pers, Turun Tangan, LMND, SGBN, SPJ, KOPEL,
Forum Indonesia Muda, FMN, Imparsial
Risalah Kebijakan
PERSATUAN
RAKYAT JAKARTA
RISALAH KEBIJAKAN
09 November 2015 / Volume I
Pembatasan Demokrasi
oleh Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 228 Tahun 2015
Tentang Pengendalian Penyampaian Pendapat di Muka Umum
PENGANTAR
Pengekangan DemonstrasiPada t anggal 28 Okt ober 2015, Gubernur DKI Jakart a, Basuki Tjahaja Purnam a, m enerbit kan Perat uran Gubernur Nom or 228 Tahun 2015 t ent ang Penyam paian Pendapat di Muka Um um pada Ruang Terbuka (“Pergub 228/ 2015”). Pergub 228/ 2015 m engat ur m engenai pem bat asan t em pat dan wakt u aksi dem onst rasi di wilayah DKI Jakart a. Berdasarkan Pergub 228/ 2015, dem onst rasi di DKI Jakart a hanya dapat dilakukan pada 3 (t iga) t em pat , yait u kawasan Parkir Tim ur Senayan, Silang Selat an Monum en Nasional, dan Alun-Alun Dem okrasi DPR/ MPR. Wakt u pelaksanaan dem onst rasi dibat asi pada pukul 08.00 – 18.00 WIB.
Pasal 13, 14, dan 15 Pergub 228/2015 juga m em berikan kewenangan kepada Tent ara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) unt uk m engarahkan at au m elakukan pem bubaran t erhadap aksi-aksi dem onst rasi yang t idak berjalan sesuai dengan ket ent uan sebagaim ana diat ur di dalam Pergub. TNI dan
POLRI juga diam anatkan unt uk m engkoordinasikan m ediasi ant ara pesert a dem onst rasi dan perwakilan Pem erint ah baku kebisingan penggunaan pengeras suara agar t idak m elebihi 60 desibel.
Berdasarkan uraian di at as, konsolidasi organisasi m asyarakat sipil m enilai bahwa pem bat asan-pem bat asan dem onst rasi yang diat ur dalam Pergub 228/ 2015 m erupakan bent uk pengekangan t erhadap dem okrasi dan kebebasan berekspresi. Selain it u, Pergub 228/ 2015 juga m em iliki serangkaian kelem ahan di sisi m at eriil dan form il.
PERSATUAN RAKYAT JAKARTA
SPRI, KASBI, POSINDO, Puskapol UI, PPMI, SBMI, KPO PRP, SGMK, KP-KPBI, HAMAS, GEBER BUMN, ASPEK Indonesia, GSBI, Yappika, Budaya Mandiri, FSPMI, FBTPI, Arus Pelangi, SPN, FAKTA, PPRI, Perem puan Mahardika, Asosiasi Pelajar Indonesia, KontraS, HFDI, FSPASI, KSN, TII, GPI Jakarta Raya,
PEM BATASAN DEM ONSTRASI DAN KEBEBASAN BEREKSPRESI
M emerlukan Syarat Ketat
Dem onstrasi m erupakan bagian dari penerapan prinsip dem okrasi dan term asuk ke dalam Hak Asasi Manusia atas kebebasan untuk berekspresi. Hak tersebut dilindungi oleh Pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (“DUHAM ”), Pasal 28
juncto Pasal 28E ayat (2) dan (3) Undang-Undang
Dasar 1945 (“UUD 1945”), Pasal 19 Kovenan
Internasional Hak-hak Sipil dan Politik sebagaim ana telah diratifikasi oleh Undang-Undang Nom or 12 Tahun 2005, dan Pasal 23 ayat (2), Pasal 25, dan Pasal 44 Undang-Undang Nom or 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM ”).
Instrum en-instrum en hukum tersebut m em berikan syarat yang sangat ketat terhadap pem batasan terhadap dem okrasi dan kebebasan berekspresi. Pasal 29 ayat (1) DUHAM, Pasal 19 ayat (3) Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik, Pasal 28J UUD 1945, dan Pasal 70 UU HAM m ensyaratkan bahw a pem batasan terhadap hak dan kebebasan setiap orang, dari segi form il, hanya dapat dilakukan beradasarkan hukum , atau
lebih spesifik, dengan instrum en hukum Undang-Undang – bukan Peraturan Gubernur.
Dari segi m ateriil, pembatasan hak dan kebebasan setiap orang juga harus m em enuhi beberapa syarat substantive. Syarat tersebut diatur di dalam DUHAM, Kovenan Internasional Hak-hak SIpil dan Politik, UUD 1945, UU HAM, dan Siracusa
Principles on the Lim itation and Derogation Provisions in the International Covenant on Civil and Political Rights. Syarat-syarat tersebut antara
lain: (1) prescribed by law ; (2) in a dem ocratic
society; (3) public order; (4) public health; (5) public m orals; (6) national security; (7) public safety; (8) rights and freedom s of others/ rights or reputation of others; dan (9) restriction on public trial.
Adapun, Pergub 228/ 2015 tidak m emenuhi satupun syarat-syarat pengecualian pem batasan yang diatur berdasarkan instrum en-instrum en hukum di atas. Karenanya, tidak tepat dan harus dicabut sam a sekali.
SUDAH DIATUR OLEH UNDANG-UNDANG LAIN
Pembatasan Demonstrasi Sudah Diatur di dalam UU Nomor 9 Tahun 1998
Sesuai dengan am anat Pasal 28 dan 28J UUD 1945, Indonesia telah m em iliki aturan yang m emberikan batasan-batasan terhadap kebebasan berpendapat dalam konteks pelaksanaan dem onstrasi, yaitu Undang-Undang Nom or 9 Tahun 1998 tentang Kem erdekaan Menyam paikan Pendapat di Muka Um um (“UU Kemerdekaan M enyampaikan Pendapat di
M uka Umum”). Ketentuan peraturan
perundang-undangan tersebut juga telah m emberikan pem batasan terhadap tem pat dan w aktu yang tidak boleh dijadikan sasaran atau tidak boleh berlangsung aksi dem onstrasi, antara lain: (1) di lingkungan istana kepresidenan, tempat ibadah, instalasi m iliter, rum ah sakit, pelabuhan udara atau laut, stasiun kereta api, term inal angkutan darat; (2) objek-objek vital nasional; dan (3) pada saat hari raya atau hari besar keagam aan.
Nam un, ketentuan Pergub 228/ 2015 justru
Menyam paikan Pendapat di Muka Um um. Pergub 228/ 2015 juga tidak m em perbolehkan pelaksanaan paw ai atau konvoi, padahal Pasal 9 UU Kem erdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Um um m em bolehkan pelaksanaan bentuk dem onstrasi tersebut. UU Kem erdekaan Menyam paikan Pendapat di Muka Um um juga tidak m em batasi w aktu pelaksanaan dem onstrasi.
Di sisi lain, dari segi hierarki peraturan perundang-undangan, berdasarkan Pasal 8 ayat (2) Undang-Undang Nom or 12 Tahun 2011 tentang Pem bentukan Peraturan Perundang-Undangan,
Pergub baru diakui keberadaannya dan
m em punyai kekuatan hukum m engikat sepanjang
diperintahkan oleh Peraturan
BERTENTANGAN DENGAN KETENTUAN YANG TERDAPAT PADA
BERBAGAI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Di Antaranya adalah Deklarasi Universal HAM dan UUD 1945
Apabila dit elisik, ket ent uan yang t erdapat di dalam Pergub 228/2015 bertent angan dengan serangkain perat uran perundang-undangan, ant ara lain:
PENYIM PANGAN TERHADAP KEDUDUKAN DAN FUNGSI
TNI DAN POLRI
Ket ent uan Pasal 7 ayat (2), Pasal 14, Pasal 15, Pasal 16 ayat (2) but ir c, Pasal 17 ayat (2), dan Pasal 19 ayat (3) Pergub 228/ 2015 m em berikan wewenang t am bahan kepada TNI dan POLRI unt uk m em bubarkan m assa dan m engkoordinasikan pelaksanaan m ediasi. Pelaksanaan fungsi t ersebut dengan inst rum en hukum set ingkat Perat uran Gubernur sam a dengan m em posisikan kedudukan kedua inst it usi t ersebut m enjadi di bawah Gubernur DKI Jakart a. Hal ini t ent u m enyim pangi kedudukan dan fungsi TNI dan POLRI sebagaim ana diat ur di dalam Undang-Undang Nom or 34 Tahun 2004 t ent ang Tent ara Nasional Indonesia (“UU TNI”) dan Undang-Undang
Nom or 2 Tahun 2002 t ent ang Kepolisian Negara Republik Indonesia (“UU POLRI”).
Gubernur DKI Jakart a selaku Kepala Daerah t idak m em iliki kewenangan dalam hal pengerahan kekuat an TNI di sekt or keam anan dan ket ert iban. Kewenangan berada pada Panglim a TNI, sesuai dengan Pasal 13 UU TNi, at as perint ah Presiden Republik Indonesia selaku pem egang kekuasaan t ert inggi m ilit er berdasarkan Pasal 10 UUD 1945. Pun, Pasal 41 ayat (1) UU POLRI secara t egas m enyat akan bahwa POLRI yang m em iliki wewenang unt uk berkoordinasi dengan TNI unt uk m enjaga keam anan dan ket ert iban um um , bukan Pem erint ah Daerah.
Deklarasi Universal HAM
Konvensi Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik
Pasal 28E UUD 1945
Pasal 25 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM
UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia
UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
DEM ONSTRASI BUKAN PENYEBAB KEM ACETAN
Buruknya Tata Kelola Transportasi Publik adalah Akar M asalahnyaPada t ahun 2010, Pusat Inform asi Transport asi Perkot aan, Kem enterian Perhubungan Republik Indonesia, m enyat akan bahwa 6,4 jut a unit at au 98,6 persen m erupakan kendaraan p ribadi dan 88.477 unit at au sekit ar 1,4 persen adalah angkut an um um , dengan pert um buhan kendaraan m encapai 11 persen set iap t ahunnya. Sedangkan, panjang jalan yang ada 7.650 Km dengan luas 40,1 Km2 at au 6,2 persen jalan pada t ahun 2011 it u hanya 40.093.774 m2. Berdasarkan dat a t ersebut , kem acet an t ot al di jalan m enjadi sesuat u yang t ak t erhindarkan. Lebih lanjut , m enurut Badan Pusat St at ist ik Provinsi DKI Jakart a, baru 23, 64 persen kom ut er di Jakart a yang m enggunakan t ransport asi publik unt uk pergi dan 24,95 persen kom ut er di Jakart a yang m enggunakan t ransport asi publik unt uk pulang. Angka ini, diakui oleh Gubernur DKI Jakart a, dalam salah sat u wawancara
dengan CNN Indonesia t ert anggal 9 Januari 2015, jauh di bawah Singapura, Mum bai, dan India yang m encapai angka pengguna t ransport asi publik m encapai 50 persen. Tent u, rendahnya angka ini juga dipicu oleh m inim nya opsi ket ersediaan t ransport asi publik di wilayah DKI Jakart a.
Buruknya t at a kelola Pem erint ah Provinsi DKI Jakart a juga dapat m enjadi fakt or ut am a m engapa m asalah kem acet an t ak kunjung dapat diat asi. Menurut Direkt orat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kem ent erian Dalam Negeri, per 22 Sept em ber 2015, DKI Jakart a adalah provinsi dengan penyerapan anggaran paling rendah dibandingkan dengan seluruh 34 provinsi di Indonesia. proporsional, m erupakan kesesat an berpikir, dan t idak m em iliki landasan em pirik.
PENETAPAN BATAS KEBISINGAN TIDAK M ASUK AKAL
60 Desibel Hanya Setara Kebisingan Percakapan Dua Orang di Dalam RuanganKESIM PULAN DAN REKOM ENDASI
Berdasarkan uraian di at as, Pergub 228/2015 t erbukt i m em iliki kecacat an hukum , baik dari segi form il, dalam kont eks perum usan perat uran perundang-undangan, juga dari segi m at eriil m engenai karena bert ent angan dengan banyak perat uran perundang-undangan dan m enyerobot kedudukan dan fungsi lem baga negara lain, sepert i TNI dan POLRI. Penet apan bat as kebisingan sebesar 60 desibel juga m engukuhkan bahwa, berdasarkan Pergub 228/ 2015, dem onst rasi sebenarnya sam a sekali t idak dapat dilaksanakan karena bat as t ersebut hanya set ara kebisingan percakapan biasa di dalam ruangan.
At as kesim pulan t ersebut , kam i, Persat uan Rakyat Jakarta (PRJ), m erekom endasikan:
Pertama, Gubernur DKI Jakart a, Basuki Tjahaja Purnam a, unt uk m enghent ikan segala upaya
pem bat asan kebebasan berekspresi warga Negara dan seharusnya lebih berperan agar Provinsi DKI Jakart a m enjadi t em pat yang kondusif bagi set iap warga negara m enyam paikan pendapat nya kepada seluruh lem bagadan pejabat negara.
Kedua, Ment eri Dalam Negeri unt uk m enggunakan wewenangnya m em bat alkan Perat uran Gubernur
Nom or 228 Tahun 2015 t ent ang Pengendalian Pelaksanaan Penyam paian Pendapat di Muka Um um pada Ruang Terbuka karena bert ent angan dengan UUD 1945 dan Undang-Undang Nom or 39 Tahun 1999 tent ang Hak Asasi Manusia.
Ketiga, Mahkam ah Agung unt uk m em bat alkan Perat uran Gubernur [Pergub] Nom or 228 Tahun 2015
t ent ang Pengendalian Pelaksanaan Penyam paian Pendapat di Muka Um um pada Ruang Terbuka karena bert ent angan dengan UUD 1945 dan Undang-Undang Nom or 39 Tahun 1999 t ent ang Hak Asasi Manusia.
TI M PENYUSUN RISALAH KEBI JAKAN
Al ld o Fel l i x Jan u ard y | At ika Yuanit a Paraswat y | Sat rio Abdillah Wirat aru