TANTANGAN DALAM SUSTAINABILITAS
PEMBIAYAAN JKN
PEMBIAYAAN JKN
DONALD PARDEDE
Things To Share:
1.Adekuasi Pendapatan Iuran JKN
2.Ketidak seimbangan Bauran Resiko
3.Pembiayaan Pelayanan Kesehatan JKN Terkait
3.Pembiayaan Pelayanan Kesehatan JKN Terkait
Transisi Epidemiologi
Besaran Iuran PBI Sejak Awal Belum
Ditetapkan
Sesuai Kebutuhkan
Pada awal implementasi JKN Tahun 2014:
Kementerian Kesehatan menghitung kebutuhan besaran iuran (flexible) masing2: PBI Rp 24.218, Non PBI Kls II Rp 40.435 serta Kls I Rp 59.759
BPJS Kesehatan dan DJSN mengusulkan besaran iuran PBI sebesar Rp 27.500
Kondisi Keuangan JKN 2014:
“Pengeluaran lebih besar dari
pendapatan”
1. PerMenkes 69/2013 jo 59/2014 memberi kontribusi pada biaya Pelkes per orang per bulan (PMPM) Rp30.088,- (historis) & Rp33.327,- (adjusted CF IBNR) Rp33.327,- (adjusted CF IBNR) 2. Sementara PerPres 111/2013
hanya berimplikasi pada pendapatan iuran (rerata) Rp. 27.696 PMPM;
3. Akibatnya, Saldo (Defisit) sulit dihindari, meskipun hanya untuk mendanai Pelkes belum
termasuk biaya operasional
Kondisi diatas menyebabkan klaim rasio diatas ambang batas normal, yaitu 109% (unadjusted) & 120% (Adjusted). Sehingga kesinambungan pendanaan program, harus menjadi perhatian.
Kondisi Keuangan 2014-2019
(Proyeksi)
Historis dan Proyeksi:
(Permenkes 59/2014)
Pengeluaran lebih tinggi dari pemasukan :
2014 2015 2016 2017 2018 2019 Premi 27,696 29,080 30,244 31,453 32,712 34,020 Biaya Klaim 31,812 33,332 37,401 38,247 42,248 42,248 Rasio Klaim (%) 114.9% 114.6% 123.7% 121.6% 129.2% 124.2% Saldo (Defisit)** (4,116) (4,252) (7,157) (6,794) (9,536) (8,228)
*kecuali rasio klaim, semua angka dalam RP, POPB
**Estimasi saldo belum memperhitungkan komponen biaya loading
Penjelasan* TAHUN
Klaim rasio & kondisi keuangan (Rp, POPB) jika iuran tetap sesuai PePres 111/2013
pemasukan :
Iuran KURANG hanya untuk
biaya PELKES.
Kesinambungan pendanaan menjadi tantangan:
Dana BPJS TIDAK mampu
menyuntik akumulasi difisit.
Butuh upaya SISTEMATIK
untuk mempertahankan sustainabilitas JKN
6 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Premi 27,696 29,080 30,244 31,453 32,712 34,020 Biaya Klaim 31,812 33,332 37,401 38,247 42,248 42,248 Rasio Klaim (%) 114.9% 114.6% 123.7% 121.6% 129.2% 124.2% Saldo (Defisit)** (4,116) (4,252) (7,157) (6,794) (9,536) (8,228)
*kecuali rasio klaim, semua angka dalam RP, POPB
**Estimasi saldo belum memperhitungkan komponen biaya loading
Penjelasan* TAHUN
Kebutuhan Iuran JKN (
Blended,
dalam Rp PMPM)
Tahun 2015 dan 2016
Tahun 2015 & 2016 butuh iuran (blended) Rp 38.642,- & 43.396,-Namun utkpaybackdefisit tahun sebelumnya butuh iuran
masing-masing Rp 41.761,- dan 55.932,-.
Tahun 2015 & 2016 butuh iuran (blended) Rp 38.642,- & 43.396,-Namun utkpaybackdefisit tahun sebelumnya butuh iuran
Perubahan Besaran Iuran 2016:
Usulan vs Penetapan
Upaya Pengusulan Iuran
Perhitungan penyesuaian iuran yg dilakukan Kemkes, DJSN & BPJSK telah mengusulkan nilai iuran ideal
Nilai Iuran: Ideal vs Penetapan
KELOMPOK PESERTA
JKN IdealIURAN 2016Penetapan Delta(%)
telah mengusulkan nilai iuran ideal yang dibutuhkan untuk mengatasi kondisi pendapatan yang lbh kecil dari pengeluaran
Namun iuran yang disetujui menurut Perpres 28/ 2016 tdk sebesar
perhitungan kebutuhan.
Usulan iuran ideal yang disepakati
hanya PBPU Kelas I, sementara untuk:
PBPU Kelas II & III dibawah usulan;
PBI masih jauh dari perhitungan
KELOMPOK PESERTA
JKN Ideal Penetapan
PBI (Rp. POPB) 36.000 23.000 -57%
PBPU & BP (Rp. POPB)
Kelas I 80.000 80.000 0%
Kelas II 63.000 51.000 -24%
Kelas III 53.500 25.500 -78%
PPU (Konversi Upah)
Nilai (%-Upah) 6% 5% 20%
Batas Atas (PTKP-K1) 6 8.000.000 200%
Pertumbuhan Peserta PBPU 2014-15-16
10,561,190
11,659,543 12,555,236 12,972,437 13,294,099 13,641,469 14,111,735
14,513,852 14,821,880 15,358,620 15,806,123 16,331,819 16,648,515 12,000,000 14,000,000 16,000,000 18,000,000
Trend Pertumbuhan Peserta PBPU
369,121 856,464 1,416,930 1,920,366
2,680,352 3,465,478 4,080,932 4,989,674 6,035,181 7,017,231 7,634,687 9,052,859 9,877,935 10,561,190 11,135,556 12,252,797 -2,000,000 4,000,000 6,000,000 8,000,000 10,000,000 12,000,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
Peserta 156,79 juta jiwa Beban Jaminan Kesehatan Pendapatan Iuran PBPU, 14.96 , 10%
Ketidak-seimbangan Resiko Kelompok
PBPU
Dibandingkan Kelompok Non PBPU
11 PBPU, 16,678 , 29% Non PBPU, 40,405 , 71% Beban Jaminan Kesehatan Rp.57,08 Triliun*)
Pendapatan Iuran Rp.54,02 Triliun PBPU, 5,918 , 11% Non PBPU, 48,103 , 89% Non PBPU, 141.83 , 90%
Transisi Epidemiologi
Penyebab Utama dari Beban Penyakit,
1990-2015
Cede Cede
ra Ceder
1990 2000 2010 2015
Cede
Sumber : Double Burden of Diseases & WHO NCD Country Profiles (2014)
Cede ra 7% Peny akit Tidak Menu lar 37% Peny akit Menu lar 56% ra 8% Peny akit Tidak Menu lar 49% Peny akit Menu lar 43% Ceder a 9% Peny akit Tidak Menu lar 58% Peny akit Menu lar 33%
Keterangan: Pengukuran beban penyakit dgn Disability-adjusted Life
Years (DALYs) hilangnya hidup dlm tahun akibat kesakitan &
Dominasi Biaya Pelkes Oleh Penyakit
Khronis Katastropis JKN Tahun
2015
Sebanyak 23,90% biaya
pelayanan kesehatan
tahun 2015 dihabiskan
untuk membiayai
penyakit Katastropik,
yang terdiri dari
yang terdiri dari
1. Penyakit Jantung
(13%)
2. Gagal Ginjal Kronik
(7%
3. Kanker (4%).
4. Stroke (2%).
Sebaran Kasus Penyakit dan Biaya Klaim
RITL
Tren Biaya (Rp Milyar) Enam Penyakit Katastropik
Tren Proporsi Kasus & Biaya Katastropik
Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Di
Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Di
Kasus & Biaya CBGs 2014-15:
RAJAL
NonPBI PBI TOTAL Th-2014 5,331 1,758 7,089 Th-2015 9,077 2,461 11,538 ALL 14,408 4,219 18,627
Kasus & Biaya CBGs 2014-15:
RANAP
NonPBI PBI TOTAL
Th-2014 18,974 7,196 26,170 Th-2015 22,111 7,484 29,595
ALL 41,084 14,680 55,765
Keterbatasan Penyesuaian
Tarif
Penyesuaian tarif kapitasi
maupun INA-CBG melalui
revisi Permenkes 59/2014;
Hasil Perhitungan
Dampak Permenkes 59/2014 thd klaim rasio ketika nilai iuran sesuai realitas 2016
Kondisi Pendapatan IuranTdk Membuat
Keleluasaan Penyesuaian Tarif Kapitasi dan
INA-CBG
revisi Permenkes 59/2014;
PP 87/2013 jo 84/2015
mengamanatkan batas maksimal biaya pelayanan kesehatan
adalah 90% dari total penerimaan iuran
Hasil menemukan bahwa sulit menaikkan itarif kapitasi dan INA-CBG karena situasi defisit BPJS Kes . Tanpa revisi Permenkes 59/2014 saja, klaim rasio sudah mencapai 98.9%.
Tren rerata beda Tarif RANAP:
INA-CBG vs. RS (dlm Rp. Juta)
Sumber: Perhitungan peneliti, dari sumber data BPJSK s/d bulan bayar Agustus 2015
Note: triming data tarif RS= inrange(‘ r(p25)’, ‘ r(p90)’); n=5.756.807
1. Rerata tarif CBGs selalu lebih mahal dari tarif RS.
2. Tarif RS cenderung naik sejak Jan 2014 hingga Juli 2015, sementara tarif CBGs sejak September turun. Ini dampak revisi Permenkes 69/2013 menjadi
59/2014.
1. Rerata tarif CBGs selalu lebih mahal dari tarif RS.
2. Tarif RS cenderung naik sejak Jan 2014 hingga Juli 2015, sementara tarif CBGs sejak September turun. Ini dampak revisi Permenkes 69/2013 menjadi
59/2014.
Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Di
Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Di
2015
Proporsi pembayaran
biaya manfaat tahun
2015 sbb:
- 20,05% pada FKTP
Proporsi Biaya Manfaat di Puskesmas vs
Rumah Sakit Th 2015
- 20,05% pada FKTP
atau sebesar Rp
33.066.554,-1. Pencapaian efisiensi:
- Efisiensi teknis
kontrol moral hazard peserta,
gatekeeper
- Efisiensi alokatif
meningkatkan promosi,
prevensi & deteksi dini
mendorong peserta
Apakah Tujuan Kapitasi Tercapai?
Indikator Kinerja?
KBK: 3 indikator
prevensi & deteksi dini
mendorong peserta
sehat
2. Peningkatan kualitas layanan primer
-Mendorong kompetisi antar FKTP
- Pemilihan FKTP oleh peserta
3. Stabilitas dan pemerataan pendapatan
3 indikator +
Potensi Kapitasi
A. Faskes Tingkat Pertama
No Uraian
Jlh Faskes
1 Puskesmas
a. Puskesmas
8,268
b. Puskesmas Dengan Tempat Tidur
1,544
Sumber Data: BPJS Kesehatan
b. Puskesmas Dengan Tempat Tidur
1,544
Sub Total :
9,812
2 Dokter Praktek Perorangan
4,431
3 Klinik Pratama
4,700
4 RS Kelas D Pratama
12
Total FKTP :
18,955
5 Dokter Gigi
1,140
Integrasi Pemanfaatan Kapitasi Dan BOK di
Puskesmas Untuk Pendorongan Promotif dan
Preventif
KAPITASI
BOK
REGULASI
1. PERPRES 32/2014 (REK Kapitasi FKTP sbg bagian dari BUD)
SUMBER; Iuran Peserta
Dibayar BPJS langsung ke FKTP (Bln)
REGULASI
1. ---? 2. ---? 3. ---? SUMBER; DAK Non Fisik
Dibayar Tiap ………..
29
PEMANFAATAN
KAPITASI BOK
BUD)
2. PERMENKES 19/2014
3. SE MENDAGRI No.900/2280 SJ (SP3B & SP2B)
3. ---? 1. INDIKATOR UKP/PKP 2. INDIKATOR UKM/PKM
KINERJ
A
FKTP PEMDA SKPD DINKESCONTOH FORM POA TERPADU
PROPINSI : KABUPATEN/KOTA : POA TAHUN : PUSKESMAS :
1 5 6 7 11
I.JAMINAN KES NAS
1.Pembayaran Jasa Pelayanan 12 BL Pusk Pusk Rp.
2.Belanja Obat Rp.
3.Belanja BHP 4.Penyuluhan/Sosialisasi JKN
a. Sosilisasi JKN bagi Peserta JKN a.1. Belanja Makan-Minum
(……. Or x ………. Kl) OK Rp.
a.2. Honor Narasumber
(……. Or x ………. Jam) OJ Rp.
a.3. Fotocopy bahan pert a.4. Perjalanan
Narasumber
Transport (…….. Or x ……. Kl) OT Rp.
Uang harian (…….. Or x ……. Hr) OT Rp. Peserta Pertemuan
Transport Lokal (…… Or x ….. Kl) OK Rp.
5.Operasional Pusling: a. BBM b. Penggantian Oli c. Penggantian Suku Cadang Pusling 6.Dst ……
Rp. II.KEG APBD
Rp. III.BOK 1. Rp. 2. Rp. 3. Rp. Dst Rp. Puskesmas ………, ………, ………, 20….. Kepala Puskesmas,
LOKASIPELAKSANA WAKTU PELAKSANAAN
SUMBER & BESAR BIAYA
4 8 9 10
PLAN OF ACTION (POA) TERPADU PEMBIAYAAN KESEHATAN DI FKTP
No. KEGIATAN UTAMA/ RINCIAN KEGIATAN SASARAN TAHUNAN PELAYANAN PER BLN JUMLAH JUMLAH JUMLAH (……….) KET JKN APBD KAB BOK
2 3
Resume:
Solusi
Resume:
Sustainabilitas Pembiayaan JKN?
Sisi Pemasukan
Memperjuangkan nilai iuran agar besarannya sesuai
Sisi Pengeluaran
Jangka pendek: Rasionalisasi tarif
1. mempersempit gap tarif antar tipe RS pemerintah
Regulator
besarannya sesuai dengan nilai usulan ideal. Kenaikan tarif tidak dengan rasional dan amat berhati-hati
pemerintah
2. membedakan standar tarif RS Swasta dan RS Pemerintah
3. Unbundling (special CMG) menjadi “Bundle”, termasuk obat onkologis dan sejenisnya kini dibayar FFS
Jangka panjang: reklasifikasi penyakit per CMG & perbaikan algoritma
Grouper
Pelembagaan HTA untuk mengkaji
berbagai benefits JKN sampai level BIA;
Sustainabilitas Pembiayaan JKN?
Sisi Pemasukan
Bersama-sama Kemkes dan DJSN, terus
perjuangkan nilai iuran
Sisi Pengeluaran
Aplikasi UR dan
cost-containment
BPJS Kesehatan
perjuangkan nilai iuran agar besarannya ideal.
Bidik sektor formal untuk segera menjadi peserta JKN
Finalkan konsep COB agar sektor formal memiliki keterkaitan masuk JKN
1. Mencegah caveat atas
penerapan Kapitasi dan INA-CBGs (next slide)
2. Modul aplikasi pada
penerapan berbagai siklus bisnis JKN
3. Optimalisasi KMKB, dan
pastikan mereka menjalankan topuksinya
Pembiayaan Kapitasi
Kendali Angka rujukan & referral
Pendorongan (insentif) kinerja UKM
Pembiayaan INA-CBGs
Awasi Cream-Skimming & Dumping
Awasi Readmisi, Bloody Discharge
Awasi Upcoding
Non Kapitasi dan INA-CBGs
Un-necesseary services Tren Over-uitilisasi
Sustainabilitas Pembiayaan JKN?
Awasi Cream-Skimming & Dumping
Awasi Readmisi, Bloody Discharge
Awasi Upcoding
Konsekuensi tersebut diatas akan berimplikasi lebih lanjut
terhadap pendanaan JKN dan kualitas layanan?
1. Perlu upaya signifikan untuk meredam konsekuensi
negatif dari penerapan skema pembayaran providers