Jurnal Khitah: Kajian Islam, Budaya & Humaniora Vol. 1 No. 1 Tahun 2020
DOI:
Budaya Konsumerisme dan Kehidupan Modern; Menelaah Gaya
Hidup Kader Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya
Consumerism Culture and Modern Life; Analyzing Lifestyle of Islamic
Student Association Cadres of Gowa Raya
Suci Rahmayani R. Hanapi1, Askar Nur2 1
Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar, Indonesia 2
Humani Institute, Makassar, Indonesia *Corresponding author, e-mail: [email protected]
Abstract
Artikel ini membahas tentang bagaimana perilaku konsumtif dan gaya hidup modern kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat perilaku konsumerisme apa saja yang dialami oleh kader HMI Cabang Gowa Raya dan perubahan gaya hidup seiring perkembangan zaman. Dalam artikel ini, Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pada analisis Jean Baudrillard. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa perubahan gaya hidup kader HMI Cabang Gowa Raya di masa modern yang menggambarkan perilaku konsumtif sesuai pandangan Jean Baudrillard, antara lain; perilaku dan budaya instan, gaya hidup mewah dan boros.
Kata Kunci: gaya hidup,perilaku konsumtif, modern, HMI, Jean Baudrillard
Abstrak
This article discusses about how the consumptive behavior and modern lifestyle of Islamic Student Association (HMI) cadres of Gowa Raya. The aim of this research is to find the consumerism phenomena experienced by HMI cadres of Gowa Raya and lifestyle changes in this modern era. In this article, the writer uses qualitative method by using approach on analysis of Jean Baudrillard. The result of this research showed that there are several lifestyle changes toward HMI cadres of Gowa Raya in modern era which describe consumptive behavior based on the theory of Jean Baudrillard, such as; instant behavior and culture, glamour lifestyle and extravagant.
Keywords: lifestyle, consumptive behavior, modern, HMI, Jean Baudrillard
Article History: Received 10-11-20; Revised 17-11-20; Accepted 20-11-20; Published 06-12-20. Jurnal Khitah
Pendahuluan
Berkembangnya teknologi informasi merupakan sebuah kemajuan zaman yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan hari ini. Teknologi dalam perkembangan arus produksi, konsumsi dan distribusi informasi memegang peranan penting. Urgensi peranan teknologi dalam proses massifikasi informasi terjadi ketika hasil teknologi membantu mengubah pola komunikasi yang dibatasi oleh ruang dan waktu menjadi pola komunikasi informasi tanpa batas.
Kesederhanaan sebagai pola utama kehidupan merupakan perkara yang terbilang sangat jarang digeluti manusia pada model kehidupan saat ini. Seperti kita ketahui bersama bahwa zaman yang kita hadapi dewasa ini merupakan zaman yang bergerak ke depan (modernisasi) (Nur, 2020a). Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat merupakan ciri mendasar dari proses modernisasi. Modernisme sebagai proses kemunculan industrialisme, kapitalisme, dan pengawasan yang mengacu kepada bentuk-bentuk kultural manusia yang terikat dengan modernisasi. Proses modernisasi tentu meniscayakan terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan masyarakat, baik dari segi ekonomi, pembangunan, hingga kesehatan.. See
-https://ibtimes.id/masyarakat-adat-kajang-dan-budaya-modern/
Lebih lanjut, ruang teknologi informasi yang disediakan oleh media massa telah mengalihkan aktivitas berupa politik, sosial, ekonomi, budaya, seksual maupun spiritual dari dunia nyata, kedalam bentuk digital. Media massa memiliki peran penting dalam mensosialisasikan nilai-nilai tertentu di masyarakat (David Croteau, 2014). Perkembangan media massa yang masif, telah merekonstruksi struktur budaya masyarakat. Relasi sosial hubungan masyarakat justru kini lebih erat terbangun dalam dunia maya, sehingga hubungan dalam dunia nyata justru menjadi relatif.
Kebanyakan masyarakat terlena dengan apa yang disajikan media, dibanding apa yang tampak pada realitas di kehidupan nyata di sekitarnya, seperti ada jarak antara tampilan atau citra dan realitas sesungguhnya. Menurut Guy Debord (1983) seperti “In this world when the spectacle is limited to merely being "representation", the truth is the moment of falsehood (falsehood) ”ada benarnya, ketika sebuah tontonan hanyalah sebatas menjadi “representasi” semata, maka kebenaran adalah momen kepalsuan (Debord, 1983).
Media kemudian hadir memberikan proyeksi gaya hidup yang ideal dengan pola konsumsi masyarakat. Hal ini berdampak pada gaya hidup (lifestyle) yang tidak terlepas dari pengaruh bangunan realitas atau representasi realitas yang ditampilkan oleh media. Bagi sebagian orang, gaya hidup merupakan suatu hal yang penting karena dianggap sebagai sebuah bentuk ekspresi diri. Media hadir memproyeksikan bentuk realitas yang bagi Baurdillard merupakan sebuah rekayasa, adalah salah satu kemungkinan yang terjadi akibat fenomena perkembangan media yang berdampak pada pola konsumerisme dan juga halusinasi image melalui teknologi (Piliang, 1998).
Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi melalui media seperti yang telah penulis gambarkan di atas, tingkat konsumerisme masyarakat semakin meningkat (Jacob, 1988). Bentuk konsumtifitas manusia terhadap suatu produk tidak lagi terletak pada kebutuhannya, melainkan pada hasrat manusia tersebut. Yasraf mengemukakan, satu-satunya objek yang dapat memenuhi hasrat adalah objek hasrat yang muncul dalam bawah sadar secara imajiner. Objek hasrat ini tidak menghilang dan hanya mampu mencari substitusi-substitusinya dalam dunia objek dari simbol-simbol yang dikonsumsi (Baudrillard, 1998).
Perkembangan media sosial menjadi cambuk bagi perubahan budaya konsumerisme, dimana budaya yang tampak adalah budaya “latah” karena trend, memenuhi tingkat sosial, dan pencitraan diri. Hal ini sejalan dengan Schor yang menggambarkan situasi budaya konsumtif sebagai The New Consumerism, yaitu upaya peningkatan gaya hidup, keinginan untuk tampil diakui, prestise terhadap sebuah barang dan perlombaan untuk memilikinya, serta keterputusan antara keinginan konsumen dengan pendapatan. Pada akhirnya konsumerisme menjadi sebuah wabah, semakin lama menjamur dan menyebabkan ketergantungan. Masyarakat menjadi bekerja keras hanya demi memenuhi hasrat budaya konsumerisme yang selalu mengeluarkan trend terbaru (Alfirahmi & A.R., 2018).
Mengapa kemudian penting bagi kader HMI untuk mempelajari studi perubahan sosial, termasuk tinjauan adanya perubahan pola konsumsi dalam masyarakat yang disebabkan oleh arus media, penulis menyelaraskan dengan tujuan latihan kader II yang termaktub dalam ruh perkaderan HMI yaitu: “Terbinanya kader HMI yang mempunyai kemampuan intelektual untuk memetakan peradaban dan memformulasikan gagasan dalam lingkup organisasi” penulis merasa bahwa perlunya studi perubahan dalam gerak nafas kader HMI untuk kemudian cita-cita memetakan peradaban melalui kemampuan intelektual dengan memfoormulasikan gagasan yang didapatkan dalam organisasi sehingga control sosial tetap menjadi salah satu arah gerak juang bagi kader Himpunan Mahasiswa Islam itu sendiri. Hal ini kemudian akan sejalan dengan tujuan perkaderan tingkat lanjut, dalam hal ini Latihan Kader III yaitu rekayasa sosial.
Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini bertujuan untuk untuk melihat perilaku konsumerisme apa saja yang dialami oleh kader HMI Cabang Gowa Raya dan perubahan gaya hidup seiring perkembangan zaman.
Metodologi
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif berdasarkan analisis teori Jean Baudrillard yang disajikan dalam bentuk uraian tentang fenomena yang ditemukan, kemudian dianalisa dan dijelaskan sesuai aturan-aturan berfikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis. Bogdan dan Tylor, dalam Moleong (2001), Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data deskriptif baik secara tertulis maupun lisan dari orangorang terkait objek penelitian (Nur, 2020b).
Hasil dan Pembahasan
1. Teori konsumerisme ala Baudrillard
Dalam The Consumer Society, Baudrillard memulai pembahasannya mengenai konsumsi dengan mempertanyakan kembali tentang hakikat kebutuhan. Dalam penelusurannya mengenai hakikat kebutuhan, Baudrillard melihat bahwa pada dasarnya kebutuhan masyarakat modern itu merupakan bentukan dari perkembangan sistem produksi yang terjadi di era modern.
Menurut Baudrillard (Baudrillard, 1998), hasrat untuk mengonsumsi muncul karena manipulasi tanda pada objek. Hasrat itu muncul karena proses manipulasi tanda pada objek melalui media komunikasi massa, salah satunya iklan. Objek di dalam iklan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan simulasi dan hiperrelitas: gambaran imajiner atas suatu objek. Masyarakat tidak lagi mengonsumsi objek sebagaimana adanya, tetapi mengonsumsi objek karena keseluruhan pemaknaan yang tekandung di dalam objek tersebut. Masyarakat konsumsi oleh Baudrillard bukan lagi
meninjau pada nilai guna (use value) suatu produk melainkan citra (image) yang ditampilkan produk dalam hal ini objek konsumsi.
Konsumsi bukan sekedar hasrat untuk membeli berbagai komoditas, tapi suatu fungsi kenikmatan, fungsiindividual, pembebasan kebutuhan, pemuasan diri, kekayaan atau konsumsi objek. Konsumsi berada dalam satu tatanan pemaknaan pada satu “panoply ” objek; suatu sistem, atau kode, tanda; “satu tatanan manipulasi tanda”; manipulasi objek sebagai tanda; satu system komunikasi (seperti bahasa); satu sistem pertukaran (seperti kekerabatan primitif); satu moralitas, yaitu satu sistem pertukaran ideologis; produksi perbedaan; satu generalisasi proses modesecara kombinatif”; menciptakan isolasi dan mengindividu; satu pengekang secara bawah sadar, baik dari sistem tanda dan dari sistem sosio-ekonomiko-politik dan satu logika sosial.
Konsumsi dalam perspektif Baudrillard juga dipahami sebagai sistem tanda berdasarkan penafsiran terhadap tanda (simbol-simbol) sosial, antara lain: perbedaan kelas sosial, gender, dan ras. Baudrillard memakai istilah yang dipakai oleh Bourdieu, bahwa perbedaan kelas tersebut disebut sebagai distinction, dimana kelas dominan membedakan diri melalui tiga struktur konsumsi, yaitu: makanan/minuman, budaya, dan penampilan.
Melalui tiga perbedaan struktur konsumsi tersebut , tingkat konsumsi antara kelas sosial yang satu dengan lainnya nampak dalam nilai atau kualitas objek konsumsi walaupun fungsi utamanya sama. Perbedaan pendidikan, gender, keturunan, pekerjaan, kedudukan, kemampuan berbelanja, berpengaruh terhadap kesempatan dan kepemilikan terhadap objek yang berbeda. Perbedaan inilah yang menjadi ciri masyarakat konsumsi dalam memahami hakikat konsumsi. Menurut Baudrillard hanya ada satu makna dalam logika sosial konsumsi, yaitu makna pembeda.
Menurut Baudrillard, konsumsi kini telah menjadi faktor fundamental dalam ekologi spesies manusia (Baudrillard, 1970: 29). Dalam masyarakat konsumer,konsumsi sebagai system pemaknaan tidak lagi diatur oleh faktor kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan, namun oleh seperangkat hasrat untuk mendapatkan kehormatan, prestise, status, dan identitas melalui sebuah mekanisme penandaan.
2. Budaya Konsumerisme dan Gaya Hidup Kader HMI Cabang Gowa Raya HMI umumnya sebagai Organisasi yang berorientasi pada perekrutan dan pembinaan mestinya berkualitas insan cita sesuai dengan tujuan HMI. Begitu pula dengan kader-kader HMI Cabang Gowa Raya. Penurunan kualitas kader HMI khususnya Cabang Gowa Raya tidak terlepas dari pengaruh perilaku konsumtif yang kemudian ditawarkan dalam era modern ini. Kita hidup di era digital yang mana melihat realitas melalui apa yang digambarkan oleh media hari ini, apapun bentuknya. Selaras dengan pemikiran Guy Debord (1983) tentang bagaimana masyarakat digital melihat realitas semu melalui apa yang kemudian terproyeksi pada media (maya) merupakan realitas yang sesungguhnya, dan menangguhkan realitas alam nyata.
Tidak dapat dipungkiri, dewasa ini hampir tidak ada lagi mahasiswa dalam hal ini kader HMI Cabang Gowa Raya yang tidak menggunakan smartphone. Perangkat digital yang mampu memuat jutaan informasi tiap harinya juga tidak terlepas dari gaya hidup kader HMI selain daripada fungsi utama yaitu alat bertukar informasi dan komunikasi.
Pola konsumsi yang kemudian di gambarkan Baudrillard, dialami oleh kebanyakan kader HMI yang melupakan basic demads sebagai kader HMI. Gaya
konsumsi tidak lagi berdasar pada basic needs sebagai manusia pada umumnya (sandang,pangan,papan), melainkan mengikuti gaya hidup sesuai apa yang diagungkan oleh media pada saat itu. Dengan kata lain, Kader HMI cenderung mengikuti trend dalam konsumsi.
Misalnya pada fenomena jenis gawai yang dimiliki oleh kader HMI. Secara umum, jika kita membeli gawai sesuai dengan kebutuhan dan juga fungsi objek konsumsi tersebut, maka tidak akan ada wacana komparasi brand, trend, and price dan segala sesuatu diluar dari fungsi orisinil barang tersebut. Tapi melalui kacamata Baudrillard, budaya konsumsi kita memang pada taraf mengikuti trend, berdasarkan filosofis barang, stigma masyarakat digital, yang tidak lepas dari bangunan media itu sendiri.
Penulis menemukan tiga pola hidup signfikan dalam keseharian kader HMI Cabang Gowa Raya, sebagai berikut :
1) Manusia instan
Berkat adanya teknologi dan didukungnya masifikasi media hari ini, kader – kader HMI cukup mendapatkan kemudahan dalam menjalani hidupnya. Bahkan dalam pemenuhan basic needs, kita sudah bisa membeli barang tanpa harus mengeluarkan tenaga (Alwi, 2000). Dan iming-iming media dan pemasaran (iklan) ditengah bercokolnya pola kehidupan kader di era modern, hiruk pikuk perkotaan, menjadikan kader-kader cenderung berperilaku dan berfikir instan .
2) Hidup Mewah
Kader cenderung menghabiskan kekayaannya untuk kesenangan pribadi dan melupakan tanggung jawab nya sebagai kader dalam fungsi control sosial. alibi refreshing kerap membutakan para kader dalam perilaku konsumtif keseharannya. Banyak kader yang selalu ingin melepas kepenatan entah karena tekanan pendidikan dan dinamika organisasi, kita selalu ingin menjernihkan pikiran serta memulihkan stamina. Tetapi lagi-lagi metode refreshing hanyalah menjai standar gaya hidup mewah, bukan fungsi utama sebagai energy healing.
3) Boros
Budaya konsumerisme mengakibatkan orang boros, tidak produktif, dan hanya memberikan kesadaran palsu kepada masyarakat. Budaya ini hanya menghargai orang dari sebanyak apa dia mengeluarkan uang untuk mengonsumsi.
Pelabelan oleh masyarakat digital melalui media juga berpengaruh trhadap borosnya seseorang kader. Semakin banyak dan prestisius barang yang dibeli seseorang kader, semakin ia akan dihargai. Pelabelan ini dianggap akan menaikkan taraf/status sosial dan meninggikan gengsi kader dalam budaya konsumtifnya. Supaya mendapat penghargaan, kita akan rela membeli barang-barang yang sebetulnya tidak terlalu dia perlukan atau diluar kemampuannya. Dalam budaya kita, konsumerisme akan mengakibatkan orang terjebak dalam kehidupan yang tidak seimbang ( Denden 2005).
Sejalan dengan apa yang dijabarkan oleh Baudrillard bahwasanya dalam perilaku konsumsi, masyarakat konsumeris dalam hal ini kader HMI Cabang Gowa Raya tidak lagi memperhitungkan usabilitas daripada objek konsumsinya.
Kesimpulan
Baudrillard memberikan pemahaman bahwa kita sekiranya dalam perilaku konsumtif, kita memang tidak membeli barang, melainkan membeli tanda atau symbol yang melekat pada barang tersebut. Symbol yang kemudian akan menjaditanda dalam
kelompok sosial mana kita berada. Hal ini tidak terlepas dari masifnya media dalam mengamini budaya konsumerisme masyarakat digital.
Perilaku konsumerisme pada kader hmi cab. Gowa raya menjadi tantangan bagi keberlangsungan kader di era digitalisasi. Banyak karakteristik ideal kader HMI yang kemudian terdegradasi diantaranya ditandai dengan berkurangnya kader HMI yang berfokus dalam pemupukan kualitas intelektual karena perilaku hedonis kader HMI yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berbelanja atau bahkan sekedar jalan menghilangkan stress semasa kuliah, dibanding menghabiskan waktu bersama buku-buku dan teman diskusi.
Sebagai kader yang kemudian menghadapi era digital, selayaknya mampu besikap bijak dalam melakukan praktik konsumsi, mengasah kritis agar tidak mudah terbujuk rayuan iklan serta mengkonsumsi sesaui dengan taraf kebutuhan, bukan keinginan.
Kader HMI yang ideal dicita-citakan dalam tujuan HMI yaitu sebagai insan cita merupakan bagian dari “Intelektual community” atau kelompok intelegensi yang mampu merealisasi cita-cita umat dan bangsa dalam suatu kehidupan masyarakat yang religius sejahtera, adil dan makmur serta bahagia (masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahuwataalah).
Daftar Pustaka
Alfirahmi, & A.R., H. F. (2018). Fenomena Fidget Spinner Ditinjau Dari Sudut Pandang Konsumerisme dan Kultivasi. Jurnal, 2(1), 33–41.
Baudrillard, J. (1998). Th e Consumer Society Wr:�� :res.
Nur, A. (2020a). Interelasi Masyarakat Adat Kajang dan Pola Kehidupan Modern. Center for Open Science. https://doi.org/10.31219/osf.io/twke7
Nur, A. (2020). MISTISISME TRADISI MAPPADENDANG DI DESA
ALLAMUNGENG PATUE, KABUPATEN BONE. Jurnal Khitah: Kajian Islam, Budaya dan Humaniora, 1(1), 1-6.
Nur, A., & Makmur, Z. (2020). Implementasi Gagasan Keindonesiaan Himpunan Mahasiswa Islam; Mewujudkan Konsep Masyarakat Madani. Jurnal Khitah, 1(1), 7-12.
Croteau, David and William Hoynes. 2014. Media/Society.Industries Images and Audiences. Fifth edition.London: Sage Publications
Keith R Stamm, The Mass Communication Process, A Behavioral and Social Perspektive, dalam, Nurdi, Komunikasi.
Jacob, T. (1988). Manusia Ilmu dan Teknologi. Yogyakarta: Tiara wacana
Dahlan, Alwi. 2000. Perkembangan Industri dan Teknologi Media, Jakarta: Universitas Indonesia
Straubhaar, Joseph dan Robert La Rose. 2002. Media Now: Communication Media in the Information Age: Australia: Wadsworth
Tapscott, Don. 1996. The Digital Economy Era: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence, New York: McGraw Hill.
Fatchan. (2004), Teori-Teori Perubahan Sosial. Surabaya : Yayasan Kampusina
Amir, Piliang Yasraf. 2011. Dunia yang dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Bandung : Matahari.
Amir, Piliang Yasraf, 2003. Hipersemiotika:Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna (Jalasutra,)
Debord, Guy.1983.”Society of the Spectacle”,Rebel Press, London,
Subandi, Idi Ibrahim.2017.”Kritik Budaya Komunikasi “Budaya, Media,Dan Gaya Hidup, Dalam Proses Demokratisasi Di Indonesia”.Yogyakarta:Jalasutra