• Tidak ada hasil yang ditemukan

OLEH : Dr. M. ADI TOEGARISMAN JAKSA AGUNG MUDA BIDANG INTELIJEN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "OLEH : Dr. M. ADI TOEGARISMAN JAKSA AGUNG MUDA BIDANG INTELIJEN."

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

1

OLEH :

Dr. M. ADI TOEGARISMAN

JAKSA AGUNG MUDA BIDANG INTELIJEN.

Yogyakarta, 12 April 2016

Latar belakang terbongkarnya kegiatan

keagamaan GAFATAR

2 Banyaknya kasus orang hilang al. Dr. Rita Tri Handayani bersama anaknya Dilapor kan ke polisi

(2)

3 REKRUT-MEN UTK MENARIK SIMPATIK MASYARAKAT GAFATAR MELAKUKAN KEGIATAN SOSIAL TELAH MENGEMBANGKAN AJARAN KEAGAMAAN YG MENYIMPANG DARI AJARAN AGAMA POKOKNYA YAITU AGAMA ISLAM

GAMBARAN UMUM TENTANG

ORMAS GAFATAR

ORMAS GAFATAR KOMUNITAS MILAH ABRAHAM {KOMAR} AL QIYADAH AL ISLAMIYAH

(3)

5

Penyimpangan ajaran

keagamaan GAFATAR

Syahadat yang dilakukan tidak sesuai dengan aqidah agama Islam tetapi mengucapkan ”syahadat” ala Ahmad Mushadeq berbunyi “asyhadu alla illa ha illallah, wa asyhadu anna Al Masih Al Maw`ud rasullllullah” artinya, “saya bersaksi tiada illah selain Allah, dan saya bersaksi Anda Al Masih Al Maw`ud utusan Allah.

Menginjak Alquran tidak berdosa karena hanya sampul, yang terpenting adalah makna dan isinya.

Sholat 5 waktu tidak wajib, tidak lebih dari sebatas olah raga saja, yang wajib itu sholat malam (sholat tahajud dan hajat).

Pengajian atau berkumpul sudah dikategorikan melakukan

sholat.

Mempraktekan konsep

“sinkretisme” yakni menggabungkan

ajaran agama islam dan ajaran agama lainnya seperti kristen

dan yahudi menjadi satu keyakinan, dimanifestasikan dalam

bentuk antara lain penggantian salam

“Assalamualaikum”

menjadi “salam damai dan sejahtera” dan pengakuan adanya

mesias akhir zaman (juru selamat) yaitu Ahmad Mushadeq.

 Apabila tidak seaqidah (menjadi anggota Gafatar) berarti

musyrik termasuk orang tua atau keluarga lainnya.

 Azan yang dikumandangkan sebelum shalat sama saja

dengan nyanyian;

 Hadist itu bohong;

 Alquran bisa saja diterjemahkan/ditafsirkan oleh semua

orang;

(4)

7

 Ibadah Haji hanya rekreasi dan membuang uang saja;  Tidak mewajibkan para pengikutnya untuk membayar

zakat.

 Mereka yang telah mencapai level 2, maka mereka telah

menyakini nilai-nilai universal, konsekuensinya apapun yang dikatakan oleh orang tuanya baik dalam bentuk nasehat atau saran akan ditentang habis-habisan olehnya;

 Tidak di izinkan mengikuti sekolah formal;  Melarang menggunakan hijab;

 Melarang menganut agama yang telah ditetapkan

pemerintah dan adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad S.A.W. yaitu mempercayai Ahmad Mushadeq sebagai mesias, Millah Abraham atau pemimpin umat pengganti nabi Muhammad S.A.W.

Penyelesaian GAFATAR

Tim Pakem Tingkat Pusat melakukan rapat pembahasan tentang Ormas Gafatar dilakukan sebanyak 4 (empat) kali rapat, kemudian masing-masing anggota Tim Pakem Tingkat Pusat membuat Kajian tentang Ormas Gafatar, yang disepakati bahwa ormas Gafatar merupakan ormas yang bergerak dibidang sosial namun dalam pelaksanaannya juga mengajarkan/mengembangkan paham keagamaan yang menyimpang dari ajaran agama pokoknya yaitu agama Islam oleh karenanya Tim Pakem Tingkat Pusat sepakat untuk meminta fatwa kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI).

(5)

merupakan metamorfosis dari aliran

al-Qiyadah al-Islamiyah yang sudah difatwakan

sesat melalui Fatwa MUI Nomor 04 Tahun

2007

mengajarkan paham dan keyakinan Millah

Abraham, yang sesat menyesatkan karena

mencampuradukkan ajaran Islam, Nasrani,

dan Yahudi dengan menafsirkan ayat-ayat

al-Quran yang tidak sesuai dengan kaedah tafsir.

9

Aliran GAFATAR adalah sesat dan

menyesatkan, karena:

Bahwa setelah terbitnya Fatwa MUI kemudian Tim Pakem

Tingkat Pusat sepakat merekomendasikan untuk diterbitkan

Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 (tiga) Menteri;

Pada hari Senin tanggal 29 Februari 2016 telah diterbitkan

Keputusan Bersama 3 (tiga) Menteri, yakni Menteri Agama

Republik Indonesia Jaksa Agung Republik Indonesia, Menteri

Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor : 93 Tahun 2016;

Nomor : Kep-043/A/Ja/02/2016; Nomor : 223 - 865 Tahun

2016 tentang perintah dan peringatan kepada mantan

pengurus, mantan anggota, pengikut dan / atau simpatisan

organisasi kemasyarakatan gerakan fajar nusantara atau

dalam bentuk lainnya untuk menghentikan penyebaran

kegiatan keagamaan yang menyimpang dari ajaran pokok

agama Islam.

(6)

DASAR HUKUM

PENGAWASAN ALIRAN KEPERCAYAAN

DAN ALIRAN KEAGAMAAN DALAM

MASYARAKAT

Undang-Undang Nomor : 1/PNPS

Tahun 1965 Tentang Pencegahan

Penyalahgunaan

Dan/Atau

Penodaan Agama, yang

unsur-unsurnya sebagai berikut :

Pasal 1

• Setiap orang

• dilarang dengan sengaja di muka umum

• menceritakan,

menganjurkan

atau

mengusahakan dukungan umum, untuk

melakukan penafsiran tentang sesuatu

agama yang dianut di Indonesia atau

• melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan

yang

menyerupai

kegiatan-kegiatan

keagamaan dari agama itu,

• penafsiran

dan

kegiatan

mana

menyimpang dari pokok-pokok ajaran

agama itu.

(7)

13

Pasal 2 Ayat (1) :

- Barang siapa

- melanggar ketentuan tersebut dalam

pasal 1 diberi perintah dan peringatan

keras

untuk

menghentikan

perbuatannya itu di dalam suatu

keputusan bersama Menteri Agama,

Menteri/Jaksa Agung dan Menteri

Dalam Negeri.

14

Ayat

(2)

:

Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat

(1)

dilakukan oleh Organisasi atau sesuatu aliran

kepercayaan,

maka Presiden Republik Indonesia dapat

membubarkan Organisasi itu dan menyatakan

Organisasi

atau

aliran

tersebut

sebagai

Organisasi/ aliran terlarang,

satu dan lain setelah Presiden mendapat

pertimbangan

dari

Menteri

Agama,

Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.

(8)

15

Pasal 3

• Apabila setelah dilakukan tindakan oleh

Menteri Agama bersama-sama Menteri/Jaksa

Agung dan Menteri Dalam Negeri

• atau oleh Presiden Republik Indonesia menurut

ketentuan dalam pasal 2 terhadap orang,

Organisasi atau aliran kepercayaan,

• mereka masih terus melanggar ketentuan

dalam pasal 1,

• maka orang, penganut, anggota dan/atau

anggota

Pengurus

Organisasi

yang

bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan

pidana penjara selama-lamanya lima tahun.

(9)

17

Pasal 156

a KUHP :

Dipidana dengan pidana penjara

selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan

sengaja di muka umum mengeluarkan

perasaan atau melakukan perbuatan:

a. yang

pada

pokoknya

bersifat

permusuhan,

penyalahgunaan

atau

penodaan terhadap suatu agama yang

dianut di Indonesia;

b. dengan maksud agar supaya orang

tidak menganut agama apapun juga,

yang bersendikan ke-Tuhanan Yang

Maha Esa.

PERBANDINGAN PASAL 156

DENGAN PASAL 156 a KUHP

18

Pasal 156 KUHP : BARANG SIAPA DIMUKA UMUM

MENYATAKAN PERASAAN

PERMUSUHAN, KEBENCIAN ATAU PENGHINAAN TERHADAP SESUATU

ATAU BEBERAPA GOLONGAN

PENDUDUK NEGARA INDONESIA, DIHUKUM PENJARA SELAMA – LAMANYA 4 (EMPAT) TAHUN ATAU DENDA SEBANYAK – BANYAKNNYA Rp. 4.500,-

Pasal 156 a KUHP :

Dipidana dengan pidana

penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan

sengaja di muka umum

mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:

a. yang pada pokoknya

bersifat permusuhan,

penyalahgunaan atau

penodaan terhadap

suatu agama yang dianut di Indonesia;

b. dengan maksud agar

supaya orang tidak

menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha

(10)

Pasal 5

Penetapan Presiden Republik Indonesia ini

mulai berlaku pada hari diundangkannya.

(11)

21

TENTANG

PERINTAH DAN PERINGATAN

KEPADA

MANTAN PENGURUS, MANTAN ANGGOTA, PENGIKUT

DAN/ATAU SIMPATISAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN

GERAKAN FAJAR NUSANTARA

ATAU DALAM BENTUK LAINNYA

UNTUK

MENGHENTIKAN PENYEBARAN KEGIATAN KEAGAMAAN

YANG MENYIMPANG DARI AJARAN POKOK AGAMA ISLAM

Memberi Perintah dan Peringatan kepada mantan

pengurus, mantan anggota, pengikut dan/ atau

simpatisan organisasi kemasyarakatan Gerakan Fajar

Nusantara (GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya,

dilarang dengan sengaja dimuka umum menceritakan,

menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum,

untuk melakukan penafsiran tentang suatu agama yang

dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan

keagamaan

yang

menyerupai

kegiatan-kegiatan

keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan

mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

(12)

Memberi perintah dan peringatan kepada

mantan pengurus, mantan anggota, pengikut

dan/

atau

simpatisan

organisasi

kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara

(GAFATAR) atau dalam bentuk lainnyauntuk

menghentikan penyebaran, penafsiran dan

kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok

ajaran Agama Islam.

23

Kedua

Mantan

pengurus,

mantan

anggota,

pengikut dan/ atau simpatisan organisasi

kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara

(GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya yang

tidak

mengindahkan

perintah

dan

peringatan sebagaimana dimaksud pada

Diktum KESATU dan Diktum KEDUA dapat

dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan, termasuk

(13)

Memberi perintah dan peringatan kepada

warga

masyarakat

untuk

menjaga

dan

memelihara

kerukunan

umat

beragama

serta ketenteraman dan ketertiban kehidupan

bermasyarakat

dengan

tidak

melakukan

perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum

terhadap mantan pengurus, mantan anggota,

pengikut dan/ atau simpatisan organisasi

kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara

(GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya.

25

Keempat

Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada Diktum KEEMPAT dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kelima

Memerintahkan kepada aparat Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini.

keenam

Keputusan Bersama ini berlaku sejak tanggal

ditetapkan.

(14)

27

SURAT EDARAN BERSAMA

SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN AGAMA

REPUBLIK INDONESIA,

JAKSA AGUNG MUDA INTELIJEN,

DAN DIREKTUR JENDERAL POLITIK DAN

PEMERINTAHAN UMUM

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

NOMOR: SE/SJ/06/2016.

NOMOR: SE/B-264/D/Dsp.2/03/2016.

NOMOR: 410/921/POLPUM.

TENTANG

PEDOMAN PELAKSANAAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA, JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA, MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 93 TAHUN

2016; NOMOR: KEP-043/A/JA/02/2016; NOMOR: 223 - 865 TAHUN 2016

TENTANG

PERINTAH DAN PERINGATAN KEPADA MANTAN PENGURUS, MANTAN ANGGOTA, PENGIKUT DAN/ATAU SIMPATISAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN GERAKAN FAJAR NUSANTARA ATAU DALAM BENTUK LAINNYA UNTUK MENGHENTIKAN

PENYEBARAN KEGIATAN KEAGAMAAN YANG MENYIMPANG DARI AJARAN POKOK AGAMA ISLAM

(15)

“Memberi Perintah dan Peringatan kepada mantan

pengurus, mantan anggota, pengikut dan/atau

simpatisan organisasi kemasyarakatan Gerakan Fajar

Nusantara (GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya,

dilarang dengan sengaja dimuka umum menceritakan,

menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum,

untuk melakukan penafsiran tentang suatu agama

yang dianut di Indonesia atau melakukan

kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan

keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan

mana menyimpang dari pokok ajaran agama itu.”

29

DIKTUM KESATU

Yang dimaksud dengan menceritakan,

menganjurkan

atau

mengusahakan

dukungan umum ialah segala usaha, upaya,

kegiatan atau perbuatan penyebaran yang

dilakukan oleh seseorang kepada orang lain,

baik yang dilakukan di tempat umum

maupun tempat khusus seperti bangunan

rumah ibadat dan bangunan lainnya.

(16)

“Memberi perintah dan peringatan kepada

mantan pengurus, mantan anggota, pengikut

dan/atau simpatisan organisasi kemasyarakatan

Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) atau dalam

bentuk

lainnya

untuk

menghentikan penyebaran, penafsiran dan

kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok

ajaran Agama Islam.”

31

DIKTUM KEDUA

a. Peringatan dan perintah ditujukan kepada mantan pengurus, mantan anggota, pengikut dan/atau simpatisan ormas Gerakan Fajar Nusantara(GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya.

Artinya bahwa yang menjadi subyek hukum dalam SKB ini adalah mantan pengurus, mantan anggota, pengikut dan/atau simpatisan ormas Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya yang melakukan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok ajaran agama Islam.

b. Yang dimaksud dengan perintah dan peringatan untuk menghentikan penyebaran, penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam adalah suatu kegiatan yang menyebarkan faham dan keyakinan Millah Abraham serta faham dan keyakinan yang serupa, yang sesat dan menyesatkan karena mencampuradukan antara ajaran agama Islam, agama Nasrani, dan Yahudi dengan menafsirkan ayat-ayat Alquran yang tidak sesuai

(17)

“Mantan pengurus, mantan anggota, pengikut

dan/atau

simpatisan

organisasi

kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara

(GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya yang

tidak

mengindahkan

perintah

dan

peringatan sebagaimana dimaksud pada

Diktum KESATU dan Diktum KEDUA dapat

dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan, termasuk

organisasi dan badan hukumnya.”

33

DIKTUM KETIGA

 Artinya apabila peringatan dan perintah untuk menghentikan

penyebaran sebagaimana yang disebutkan pada diktum kesatu dan diktum kedua tidak dilaksanakan, maka dapat dikenai sanksi.

 Sanksi yang dimaksud dalam ketentuan diktum tersebut adalah

sanksi pidana yang terkait dengan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 jo Pasal 3 Undang-Undang Nomor: 1/PnPs/1965 dan/atau Pasal 156a KUHP yang ancaman hukumannya maksimal lima tahun penjara.

 Disamping sanksi pidana tersebut di atas, terhadap organisasi

kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya dapat dikenakan sanksi berupa pembubaran organisasi dan badan hukumnya melalui prosedur sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(18)

“Memberi perintah dan peringatan kepada

warga masyarakat untuk menjaga dan

memelihara

kerukunan

umat

beragama

serta ketentraman dan ketertiban kehidupan

bermasyarakat dengan tidak melakukan

perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum

terhadap mantan pengurus, mantan anggota,

pengikut dan/atau simpatisan organisasi

kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara

(GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya.”

35

DIKTUM KEEMPAT

 Artinya bahwa warga masyarakat diberi peringatan dan perintah untuk tidak melakukan perbuatan atau tindakan melawan hukum terhadap mantan pengurus, mantan anggota, pengikut dan/atau simpatisan organisasi kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya, dengan tujuan untuk melindungi mantan pengurus, mantan anggota, pengikut dan/atau simpatisan organisasi kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya termasuk harta bendanya dalam rangka memelihara kerukunan umat beragama serta ketentraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat.

 Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat mematuhi hukum dengan tidak melakukan tindakan anarkis seperti penyegelan, pengrusakan, pembakaran dan perbuatan melawan hukum lainnya terhadap mantan pengurus, mantan anggota, pengikut dan/atau simpatisan

(19)

“Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada Diktum KEEMPAT dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”

Artinya warga masyarakat yang melanggar hukum dengan melakukan main hakim sendiri, berbuat anarkis dan bertindak sewenang-wenang terhadap mantan pengurus, mantan anggota, pengikut dan/atau simpatisan organisasi kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) atau dalam bentuk lainnya dapat dikenai sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan, antara lain sebagaimana diatur dalam KUHP Pasal 156 tentang penyebaran kebencian dan permusuhan, Pasal 170 tentang tindakan kekerasan terhadap orang atau barang, Pasal 187 tentang pembakaran, Pasal 351 tentang penganiayaan, Pasal 335 tentang perbuatan tidak menyenangkan, Pasal 406 tentang perusakan barang dan peraturan lainnya.

37

DIKTUM KELIMA

Diktum KEENAM yang berbunyi

“Memerintahkan kepada aparat Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini.”

Pembinaan dilakukan oleh : 1. Pemerintah daerah,

Pemda bersama Tim Pakem diminta secara proaktif mengadakan pertemuan dengan mantan pengurus, mantan anggota, pengikut dan/atau simpatisan Ormas Gafatar atau dalam bentuk lainnya dan warga masyarakat untuk melakukan pembinaan.

(20)

a.

Pembinaan dilakukan oleh Pemerintah diarahkan

untuk menghentikan perbuatan atau kegiatan

yang mengandung muatan dan diamksudkan

untuk penyebaran faham dan keyakinan Millah

Abraham serta faham dan keyakinan yang serupa

yang sesat dan menyesatkan.

b.

Pembinaan yang diarahkan untuk memantapkan

kesadaran kehidupan bermasyarakat, berbangsa

dan bernegara.

c.

Pembinaan dibidang agama dilakukan oleh Menteri

Agama RI dan seluruh jajaran instansi Kementerian

Agama di Pusat dan di Daerah.

39

2. Pemerintah

1. Pemda bersama Tim Pakem (Tingkat

Propinsi, Kab/Kota) melakukan pengamanan

dan pengawasan yang ditujukan untuk

mengetahui ketaatan mantan pengurus,

mantan

anggota,

pengikut

dan/atau

simpatisan

organisasi

kemasyarakatan

Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) atau

dalam bentuk lainnya dan warga masyarakat

(21)

2. Pemerintah melakukan pengamanan dan

pengawasan pelaksanaan SKB melalui

monitoring evaluasi dan supervisi yang

dilakukan oleh Pemerintah Daerah

3. Masyarakat

dapat

melakukan

pengawasan pelaksanaan SKB dengan

memantau, mengamati dan melaporkan

kepada aparat setempat.

41

Gubernur, Bupati/Walikota bersama-sama

dengan Tim Pakem di daerah hukumnya

untuk

melakukan

koordinasi

dalam

pelaksanaan SKB yang meliputi pembinaan

dan

pengawasan,

dan

melaporkan

pelaksanaannya secara berjenjang.

(22)

Referensi

Dokumen terkait