BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kebudayaan selalu berubah dan berkembang supaya mengalami keberlanjutan, dengan mendapat mendapat pengaruh dari luar maupun dari dalam kebudayaan itu sendiri. Berdasar rumusan masalah yang telah diungkapkan di awal, yaitu mengenai proses perkembangan yang terjadi pada busana pengantin gaya Yogyakarta dan nilai-nilai yang bertahan dan berubah pada busana pengantin gaya Yogyakarta, maka dari penelitian yang telah penulis lakukan diperoleh kesimpulan.
Kontinuitas yang terjadi karena adanya keinginan dan rasa kebangaan untuk menunjukkan identitas sebagai orang Jawa pada acara pernikahan oleh para pengantin. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kontinuitas dan perubahan pada busana pengantin Yogyakarta ialah, kesadaran dan keinginan pelaku budaya, khususnya juru rias untuk menjaga dan melanjutkan keberadaan busana adat sangat tinggi. Hal ini terlihat dari bagaimana perias menawarkan paket pernikahan pengantin adat Yogyakarta sebagai suatu yang adiluhung namun menarik. Keberadaan keraton sebagai sebagai institusi warisan budaya yang dilingkupi hal-hal mitologis didalamnya yang masih eksis berperan terhadap kesinambungan busana pengantin adat Yogyakarta di kalangan masyarakat umum.
Secara visual, kontinuitas tatanan pengantin adat gaya Yogyakarta terdapat pada paes yang terdiri dari penunggul, penitis, pengapit dan godheg dengan bentuk melengkung dan ujungnya runcing. Warna hitam pekat selalu digunakan pada paes gaya yogyakarta, namun ada kebaruan bahan pembuatan dengan kertas yang ditempel sebagai pengganti pidih. Cengkorongan paes yang terbuat dari kertas tidaklah seindah yang diolesi pidih karena rawan lepas saat digunakan. Ukuran lebar dan panjang paes juga mengalami pergeseran tidak sesuai pakem dikarenakan faktor kemampuan dan pengetahuan juru rias maupun permintaan calon pengantin. Kain motif batik sebagai bawahan busana selalu digunakan sebagai padanan kebaya yang mengalami banyak perubahan. Motif yang digunakan harus memiliki makna kebaikan seperti motif semen seperti semen rama, sido mukti, sido asih, dan sido luhur. Meskipun senantiasa memakai kain motif batik, teknik pembuatannya sudah beragam seperti batik cap dan batik printing. Dalam perkembangannya selalu melihat selera seni semasa di masa perkembangan itu terjadi, disesuaikan dengan aspek akar seni budaya, agama, dan ekonomi. Fungsi dari busana pengantin adat Yogyakarta mengalami keberlanjutan sebagai pemenuhan kebutuhan dalam pernikahan masyarakat hingga saat ini.
Busana pengantin gaya Yogyakarta mengalam proses perubahan dari yang semula sesuai pakem dengan ukuran dan aturan tertentu menjadi banyak variasi dan modifikasi. Dari munculnya busana pengantin modifikasi merupakan kelanjutan dari proses perubahan yang ada di Keraton sendiri sebagai sumbernya. Fenomena perubahan seperti itu menurut Sedyawati (1980:34) merupakan proses lahirnya kesenian baru selalu berasal dari kesenian yang telah ada sebelumnya.
Perkembangan busana pengantin terlihat jelas mengalami perubahan bentuk dan nilai.Adapun perkembangan unsur visual busana pengantin terletak ada pada penggunaan kebaya yang tidak lagi terbatas pada bentuk dan warnanya. Kebaya yang digunakan cenderung lebih mewah penuh dengan payet dan mote, begitu pula pada beskap yang digunakan pengantin pria. Bentuk kebaya mendapat pengaruh dari busana pengantin barat dengan ekor panjang dan dipadukan dengan veil. Penggunaan asesoris dengan ukuran, warna, dan cara pemakaian yang semakin bervariasi. Persentuhan dengan agama Islam membentuk gaya busana busana baru dalam busana pengantin adat Yogyakarta, dengan memadukannya dengan kerudung, sehingga walaupun bersanggul tidak menampakkan rambut.
Busana pengantin gaya Yogyakarta mengalami perkembangan karena mengikuti kreativitas dan kebutuhan masyarakat pendukungnya. Faktor sosial budaya yang berkembang turut mempengaruhi busana pengantin adat. Masyarakat kini menerima informasi dari mana saja, yang berpengaruh pada kreatifitas. Juru rias menjadi salah 1 unsur pelaku budaya yang berpengaruh terhadap perkembangan busana pengantin. Upaya juru rias berkreativitas tidak lepas dari pengaruh latar belakang lingkungan dan kebudayaan yang dia kenal sebelumnya. Interaksi juru rias dalam merespon keinginan klien dapat melahirkan kreativitas baru yang dapat memberi warna dalam setiap perubahan.Atas dorongan faktor tersebut itu mengakibatkan busana penganton dari waktu ke waktu mengalami perkembangan dalam berbagai unsur dengan tujuan agar busana dapat eksis di tengah masyarakat, bertahan hingga saat ini
Perubahan yang ada pada pada busana pengantin gaya Yogyakarta justru berdampak positif pada keberlanjutan penerapan pernikahan adat dalam dinamika masa kini. Perubahan dan penggayan yang ada pada busana pengantin merupakan wujud kreatifitas sebagai upaya regenerasi budaya. Hal tersebut tidak lantas mengambil alih posisi busana pengantin gaya Yogyakarta yang pakem, karena suatu budaya yang klasik tidak dapat lagi ditandingi. Keberadaan modifikasi busana pengantin di bawah busana pengantin gaya Yogyakarta klasik.
B. Saran
Bsana pengantin gaya Yogyakarta merupakan produk budaya yang bernilai tinggi bagi masyarakat pendukungnya. Perubahan kondisi sosial budaya masyarakat memancing tumbuhnya kreatifitas pelaku budaya, khususnnya juru rias yang menghasilkan beragam modifikasi busana pengantin. Pemahaman mengenai pakem busana pengantin adat Yogyakarta pada juru rias seharusnya dimengerti dengan baik sebelum melakukan modifikasi supaya terjadi keberlanjutan pemahaman untuk generasi penerusnya.
Penelitian mengenai busana pengantin adat Yogyakarta masih perlu dilakukan dengan lebih mendalam, sehingga masih ada banyak celah yang dapat dikaji oleh peneliti selanjutnya.
KEPUSTAKAAN
Barnard, Malcolm. (2009) Fashion Sebagai Komunikasi, Jalasutra ,Yogyakarta Bawoek Soemiyati, (2008), Berkerudung Tanpa Paes, Tata Rias Pengantin
Yogyakarta, Kanisius, Yogyakarta
Bogdan, Robert. Taylor, J, Steven. (1975), Kualitatif; Dasar-Dasar Penelitian, terjemahan A. Khozin Afandi, Penerbit Usaha Nasional, Surabaya.
Burhan, Agus, M. (Ed). (2006), Jaringan Makna; Tradisi Hingga Kontemporer: Kenangan Purna Bakti untuk Prof. Soedarso Sp., M.A., BP ISI Yogyakarta, Yogyakarta
Condronegoro, Mari S. (1995) Busana Adat Kraton Yogyakarta, Makna dan Fungsi Dalam Berbagai Upacara. Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta
Denzin, K Norman. Lincoln, S Yvonna. (2011), The Sage Handbook Of Qualitative Research 2: Edisi Ketiga, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Forshee, Jill, (2006) Culture and Customs in Indonesia, Greenwood Press,USA Heryanto, Ariel, (2008) Popular Culture in Indonesia, Taylor & Francis
Routledge
Ibrahim, Idi Subandy (ed.), (2006) Lifestyle Ectassy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Jalasutra, Yogyakarta
Ihromi, T,O. (1981) Pokok-Pokok Antropologi Budaya, Gramedia, Jakarta Mochtar, Kusniati (1988), Adat Perkawinan Kraton Yogyakarta dalam Busana
Kebesaran, Anjungan DIY TMII, Jakarta
Nordholt, Henk Schulte, (2005) Outward Appreances; Trend, Identitas, dan Kepentingan, Lkis, Yogyakarta:
Peursen, Van C.A. (1988), Strategi Kebudayaan, Kanisius, Yogyakarta.
Piliang, Yasraf, Amir. (2003), Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta.
Puspita Martha International Beauty School, (2012), Pengantin Yogya Putri dan Paes Ageng; Prosesi, Tata Rias dan Busana, Gramedia, Jakarta
Ratna Kutha Nyoman, (2010), Metodologi Penelitian: Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya, Pustaka pelajar, Yogyakarta..
Riyanto, Arifah A. (2003) Teori Busana, Penerbit Yampemdo, Bandung
Sachari, Agus. (2002), Estetika: Makna, Simbol dan Daya, Penerbit ITB, Bandung.
Sachari, Agus. (2005), Pengantar Metodologi Penelitian Budaya Rupa; Desain,Arsitektur, Seni Rupa, dan Kriya, Erlangga, Jakarta
Sanyoto, Sadjiman Ebdi . (2005) Dasar-Dasar Tata Rupa dan Desain,Jalasutra, Yogyakarta
Soedarso, Sp. (2006), Trilogi Seni: Penciptaan Eksistensi Dan Trilogi Seni, BP ISI Yogyakarta, Yogyakarta
Strauss, Anselm. Corbin Juliet. (2003), Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif; Tatalangkah dan Teknik-Teknik Teoritis Data, terjemahan Muhammad Shodiq dan Imam Muttaqien, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Strinati, Dominic, (2003) Popular Culture:Pengatar Menuju Budaya Populer, Bentang Budaya, Yogyakarta
Suwarna. (2006). Tata Upacara dan Wicara Pengantin Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: Kanisius.
Tate, Sharon Lee. (2004), Inside Fashion Designer, Prentice Hall
Walker, John A., Desain, Sejarah, dan Budaya; Sebuah Pengantar Komprehensif , Yogyakarta: Jalasutra 2005
Wilson, E. (1985) Adorned in Dreams; Fashion and Modernity. Virago Press, London
Wisetrotomo, Suwarno. (Ed). (2009), Lanskap Tradisi, Praksis Kriya, Dan Desain: Cendera hati Purnabakti untuk Prof. Drs. SP. Gustami, SU., BP ISI Yogykarta, Yogyakarta.
Yosodipuro, R.Ay Marmien Sardjono, (2008) ,Rias Pengantin Gaya Yogyakarta dengan Segala Upacaranya, Kanisius, Yogyakarta
Narasumber:
Rosemala Dewi, perias, wawancara tanggal 2 Mei di Godean
Djiyah, perias, wawancara tanggal 2 Mei 2015 di Tebon, Yogyakarta
Yunarsih, pelaku industri pernikahan, wawancara tanggal 8 Mei di Condong Catur,Yogyakarta
Asih, perias, wawancara tanggal 2 Juni di Tegalrejo, Yogyakarta Tatik, perias, wawancara tanggal 4 Mei di Margorejo
Sariyanti, pengguna busana pengantin, wawancara tanggal 10 Mei di Sewon Ninda, pengguna busana pengantin, wawancara tanggal 3 Mei di Mlati Ferry, pengguna busana pengantin, wawancara tanggal 1 Juni di Kasihan
Handa, pengguna busana pengantin, wawancara tanggal 3 Mei di Lempuyangan Jurnal dan artikel:
Andono, (2009), Seni Kriya: Sekilas Kontinuitas dan Perubahannya,dalam Gawe Besar Kriya,Purnatugas Prof. Drs. SP Gustami, SU. Dan Dra. Ambar Astuti, M.A. Jurusan Kriya ISI Yogyakarta.
Meyrawati, Dewi (2013), Fesyen dan Identitas: Simbolisasi Budaya dan Agama dalam Busana Pengantin Jawa Muslim di Surabaya dalam Makara Seri Sosial Humaniora
Rahayu, Sri (2014), Arti Simbolis Paes Ageng Masa Hamengkubuwono IX dalam jurnal Avatara Volume 2 No.3.