• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAYA VISUAL ETALASE RM. PADANG YANG MENJADI SYLE NAVIGATION DALAM BISNIS KULINER MASAKAN PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAYA VISUAL ETALASE RM. PADANG YANG MENJADI SYLE NAVIGATION DALAM BISNIS KULINER MASAKAN PADANG"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

45

GAYA VISUAL ETALASE RM. PADANG YANG MENJADI SYLE

NAVIGATION DALAM BISNIS KULINER MASAKAN PADANG

1 Agustina Kusuma Dewi, S.Sos, M.Ds

1Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Nasional,

Jalan PKH. Mustopha No. 23 Bandung. e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Gaya sebagai sebuah gagasan yang dituliskan dan kemudian diimplementasikan menjadi

the constant form dan/atau terkadang the constant elements, setiap orang memiliki konsepnya

sendiri untuk kemudian mengadopsi atau mengadaptasi sebuah gaya sebagai gaya yang paling memanifestasikan dan mengaktualisasikan dirinya. Terkait hal ini, ada relevansi pengaplikasian gaya dalam hidup seseorang dengan kesadaran atau consciousness dengan ketidaksadaran atau unconsciousness yang dimilikinya. Tak jarang, bawah sadar seseorang yang menggerakkannya untuk menunjukkan kecenderungan gaya tertentu dalam perilakunya sehari-hari. Sebagai sebuah gagasan yang memiliki integritas di dalamnya; integritas berarti gaya menyimpan aturan dan sistemik dan/atau bentuk-bentuk yang teratur dengan capaian tertentu, gaya tidaklah bersifat permanen. Setiap orang dapat mengadaptasikan gaya yang paling mendefinisikan dirinya, meski setiap orang, seperti yang telah di bahas pada bagian sebelumnya, akan memiliki kecenderungan gaya yang paling menjadi ‘karakter dasar’ dirinya. Sebagai the constant form, gaya bukan sesuatu yang ‘serta-merta’, namun ada kesadaran yang membentuknya menjadi sebuah ‘mekanisme’, ‘keteraturan’, ‘punya daya adaptasi’ terhadap lingkungan sosial. Menggunakan metode Kolb dalam Kerangka Berpikir Experiential Learning, penelitian ini menggunakan pendekatan Reflective Observation untuk mengidentifikasi gaya dan fungsinya sebagai sebuah konsep untuk dapat memahami masyarakat dan identitas kultural; yang lebih jauhnya, gaya diposisikan sebagai style navigations, sebuah cultural guide.

Kata kunci: navigasi budaya, identitas kultural, gaya hidup, reflection observation ABSTRACT

Style as an idea written and then implemented into the constant form and / or sometimes the constant elements, each person has their own concept to adopt or adapt a style as their most manifests and actualizes itself. Related to this, there is relevance in the application of style in one's life with consciousness or consciousness with the unconsciousness or unconsciousness that it has. Quite often, someone's subconscious moves it to show the tendency of certain styles in their daily behavior. As an idea that has integrity in it; integrity means the style of storing rules and systemic and / or regular forms with certain achievements, style is not permanent. Everyone can adapt the style that best defines him, even though everyone, as discussed in the previous section, will have the tendency to style the most 'basic character' himself. As the constant form, style is not something that is 'immediate', but there is an awareness that shapes it into a 'mechanism', 'order', 'has adaptability' to the social environment. Using the Kolb’s Schema method in the Experiential Learning Thinking Framework, this study uses the Reflective Observation approach to identify its style and function as a concept to be able to understand society and cultural identity; further away, the style is positioned as style navigations, a cultural guide.

(2)

46

PENDAHULUAN

Berkaitan dengan karakter manusia yang polymorph atau sanggup melenturkan diri dan beradaptasi dalam situasi sosial pada lingkungan sosial, maka gaya tidak dipandang sebagai sebuah gagasan yang bersifat ‘kuantitas’, melainkan sesuatu yang bersifat ‘kualitas’. Sekalipun gaya cenderung dianggap menjadi sesuatu yang bersifat luaran atau permukaan di dunia objektif, dunia yang terpersepsikan; namun mengacu pada pernyataan John Walker yang mengungkapkan bahwa ‘style is public and social’; maka gaya diasumsikan memiliki relasi yang sangat kuat dengan keberadaannya di dan/atau dalam (ruang) publik dan (ruang) sosial. Dalam hal ini, diartikan bahwa gaya dengan historisitasnya dapat disepakati secara kultural memiliki nilai power relations, dan/atau dapat berperan sebagai style navigation, sebuah panduan budaya (‘cultural guides’), yang dapat mempermudah setiap orang untuk mempersepsikan sebuah identitas kultural, atau kecenderungan identitas kultural seseorang dalam lingkungan sosialnya.

Penelitian ini dilakukan sepanjang jarak antara Turangga – Ir. H. Juanda Bandung sejauh kurang lebih 8,8 Km. Dalam jarak tempuh yang demikian, meskipun dengan rute yang terkadang berbeda-beda, namun ada satu hal yang berlaku sama di rute jalan yang dilewati, yaitu keberadaan Rumah Makan Padang.

Sebagai fenomena kuliner yang diterima dalam beragam tatanan relasi sosial, semua masyarakat mengenal dengan baik Rumah Makan Padang. Rasa masakan yang lezat dan nikmat membuat rasa masakan Padang cocok di semua lidah baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dan hal ini membuat Rumah Makan Padang menjadi kuliner yang memiliki tempat di hati seluruh masyarakat Indonesia. Rumah Makan Padang terkenal hingga benua Amerika, bahkan CNN pun memberikan apresiasinya dengan menobatkan salah satu masakan andalan di Rumah Makan Padang, yaitu rendang, sebagai masakan terlezat di dunia versi CNN.

Dari jarak Turangga – Ir. H. Juanda (Dago) yang ditempuh dalam proses penelitian, ada banyak Rumah Makan Padang yang berdiri baik Rumah Makan kecil yang berada di pinggir jalan, maupun Restoran yang besar di areal perempatan jalan dan sekitarnya. Tak jarang jarak antara Rumah Makan Padang dengan Restoran Padang atau dengan Rumah Makan Padang lainnya saling berdekatan, seakan-akan antara satu tempat dengan tempat lainnya tak saling bersaing dan takut kehilangan pelanggan. Hal yang menarik dan teramati dari Rumah Makan Padang, adalah seperangkat sistem visual yang diberlakukan sebagai the constant form, unsur-unsur visual yang memiliki korelasi erat antara ‘bentuk’ dan ‘makna’.

(3)

Agustina Kusuma dewi Gaya Visual Etalase Rm. Padang Yang Menjadi Syle Navigation Dalam Bisnis Kuliner Masakan Padang Pages 45 - 50

47

Gambar 1. Tiga Rumah Makan Padang yang berada di satu ruas Jalan Turangga, Bandung,

Jawa Barat, Indonesia. Sumber: A.K. Dewi, 2018

Dimanapun Rumah Makan Padang berada, apapun penamaan Rumah Makan Padang tersebut, namun kesemuanya memiliki gaya visual etalase yang serupa. Gaya visual ini seakan-seakan telah ‘disepakati secara kultural’ untuk menunjukkan cultural guides, seperangkat navigasi gaya atas Rumah Makan Padang; dan hal ini diperkuat oleh hasil studi literatur penulis terkait Rumah Makan Padang.

TINJAUAN PUSTAKA

Globalisasi memang cenderung berbenturan dengan identitas budaya. Identitas budaya menyiratkan kepemilikan individu ke dalam kelompok budaya atau komunitas.

Sementara globalisasi

mengimplikasikan persatuan atau universalitas. Secara sederhana, yang dimaksud dengan identitas budaya adalah penguraian karakteristik atau karakteristik suatu budaya yang dimiliki oleh sekelompok orang yang kita kenal batas-batasnya jika dibandingkan dengan karakteristik atau karakteristik budaya orang lain. Menurut Ting-Toomey (1999), identitas kultural merupakan perasaan (emotional

significance) dari seseorang untuk ikut memiliki (sense of belonging) atau berafiliasi dengan kultur tertentu. Masyarakat dibagi menjadi kelompok-kelompok kemudian mengidentifikasi budaya, yaitu bahwa setiap orang menganggap diri mereka sebagai representasi dari budaya tertentu. Pencitraan dipandang sebagai simbol visual, yang, ketika dikaitkan dengan pemikiran Saussure, ditempatkan ke dalam bahasa yang melembagakan makna melalui sistem perbedaan. Subjek yang melihat akan dipahami dan berada dalam posisi sosial tertentu, di mana posisi ini akan membentuk parameter yang sangat terbuka untuk interpretasi. Upaya membaca yang berlangsung dalam operasi itu dilihat di sini sebagai praktik sosial. Bukan hanya menyangkut masalah eksternal ruang sosiologis di mana subjek melihat tempat tinggal, tetapi juga kapasitas subjektif mereka.

Berbicara tentang citra sebagai ‘sensasi cahaya yang jatuh pada retina, ditransmisikan sebagai dorongan energi di otak yang secara bersamaan menerjemahkannya menjadi entitas yang bermakna '; maka makna di sini akan terkait dengan berbagai simbol sebagai sistem pensinyalan yang telah dibangun oleh sistem sosial masyarakat; seperti diungkapkan Baudrillard, dalam situasi di mana periklanan dan televisi menang dengan penciptaan realitas semu, perbedaan antara yang nyata dan yang fantasi, yang asli dan yang palsu sangat tipis. Ini adalah ruang yang tidak lagi peduli tentang kategori nyata, palsu, benar, salah, referensi, representasi,

(4)

48

dari segala sesuatu yang melebur menjadi satu dalam persilangan tanda-tanda (Baudrillard, 1987: 33).

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi mengakibatkan terjadinya percepatan segala hal, termasuk produksi tanda dan makna dalam segala aspek kehidupan. Etalase rumah makan, dalam hal ini, sebagai bagian dari pabrik yang memproduksi makna, turut memainkan peran dominan dalam kehidupan dan sebagai wujud kapitalisme, iklan-yang-tak-sengaja-mengiklankan produknya, hadir kapanpun dan dimanapun dan secara subliminal telah menjadi kebutuhan sehari-hari.

METODOLOGI

Model Kolb merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mendukung penelitian etnografi. Skema model terdiri dari : 1. Pengalaman Nyata (pengalaman atau situasi baru ditemui, atau area interpretasi pengalaman yang ada); 2. Pengamatan Reflektif dari pengalaman baru (proses penyelarasan antara pengalaman dan pemahaman); 3. Abstrak Konseptualisasi (refleksi memunculkan ide baru, atau modifikasi dari konsep abstrak yang ada); 4. Eksperimen aktif (menguji coba hasil analisis yang dikonseptualisasi berdasarkan observasi reflektif atau reflective observation).

Observasi reflektif mengandung siklus yang juga terdiri atas empat tahap: dari (1) memiliki pengalaman konkret,

tentang pengalaman itu, yang mengarah pada (3) pembentukan konsep abstrak (analisis) dan generalisasi (kesimpulan), yang kemudian (4) digunakan untuk menguji hipotesis dalam situasi masa depan, menghasilkan pengalaman baru. Kolb (1974) memandang pembelajaran sebagai proses yang terintegrasi dengan setiap tahap saling terkait mendukung dan memberi makna ke yang berikutnya.

HASIL DAN DISKUSI

Berdasarkan hasil Reflective Observation, gaya visual etalase Rumah Makan Padang yang menunjukkan potensi sebagai style navigations dalam konteks cultural guides yang kemudian mengekspansi ke banyak tempat, diidentifikasi melalui ‘bentuk’ dan ‘tanda’ baik yang berwujud maupun tak berwujud (menjadi sebuah praktik sosial yang mengadaptasi nilai budaya tertentu), sebagai berikut:

1. Penamaan Rumah Makan Padang. Apapun nama rumah makannya, entah itu Sederhana, Ampera, Upik, Padang Sehat dan sebagainya, namun semua orang akan menyebutnya sama dengan sebutan “Rumah Makan Padang”. Hal ini diasumsikan penulis terkait dengan persepsi masyarakat atas asosiasi mereka yang lekat dengan merek Rumah Makan Padang ketimbang penamaan lainnya. Asosiasi yang melekat ini kemungkinan terbentuk karena efek posisioning mereka yang memang senantiasa mengambil lokasi yang strategis dan mudah dijumpai.

(5)

Agustina Kusuma dewi Gaya Visual Etalase Rm. Padang Yang Menjadi Syle Navigation Dalam Bisnis Kuliner Masakan Padang Pages 45 - 50

49 2. Pemilik Rumah Makan Padang

belum tentu orang Padang.

Identifikasi ini dibuktikan dari hasil data wawancara dengan Pak Solihin, seorang pemilik Rumah Makan Padang berlokasi di Jalan Burangrang, Bandung yang mengatakan bahwa dia tidak berasal dari Padang, namun sudah 5 tahun berbisnis Rumah Makan Padang. Hal ini dikarenakan resep masakan Padang mudah dipelajari dari berbagai sumber yang ada saat ini, citarasa yang membumi bagi lidah masyarakat nusantara dan kualitas masakannya sudah sangat dikenal masyarakat. Sehingga menjadi usaha yang cukup mudah dibangun bagi masyarakat lain yang bukan asli dari wilayah Padang. 3. Gaya Visual Etalase Rumah Makan Padang.

Kekuatan display menjadi keunggulan dari Rumah Makan Padang untuk menjadi mudah dikenal dan melekat dalam benak masyarakat. Mulai dari warna dominan merah dan kuning pada etalase yang menerakan tulisan Rumah Makan Padang, hingga penataan makanan dengan piring-piring bertumpuk yang membuat Rumah Makan Padang memiliki gaya khasnya sendiri, serta di beberapa lokasi, di antara penamaan pada etalase ada gambar rumah Minang. Gaya visual serta penataan makanan pada etalase Rumah Makan Padang tidak berubah dimanapun lokasi Rumah Makan Padang tersebut berada, seakan-akan gaya itu telah menjadi sebuah pakem tersendiri.

Gambar 2. Gaya Visual Etalase Rumah Makan Padang di Berau, Indonesia

Sumber: A.K. Dewi, 2018

Lebih jauhnya lagi, gaya Rumah Makan Padang kemudian melahirkan gaya hidup yang terkait dengan cara makan di Rumah Makan Padang. Rumah Makan Padang dengan keteraturan dan kerapiannya, seakan-akan membentuk sebuah ‘pola’ yang tampil dan diberlakukan secara berulang-ulang dengan daur hidup yang panjang dan memiliki massa, mulai dari cara penyajian oleh pelayan dengan meletakkan beberapa piring bertumpuk sekaligus di atas tangan, memberikan lebih dari yang diminta oleh pengunjung (Rumah Makan Padang menyediakan gratis teh tawar, sayur, kuah), hingga bagaimana mereka membungkus makanan yang dipesan untuk dibawa pulang, termasuk porsi nasi yang lebih besar dan banyak jika masakan dipesan untuk take-away.

(6)

50

KESIMPULAN

Tentu saja, karena baru dilakukan dengan berangkat dari jarak tempuh dengan rute Turangga - Ir. H. Juanda di Kota Bandung, amatan ini bisa jadi masih menghasilkan serangkaian identifikasi yang masih perlu dikaji lebih dalam lagi; terutama ketika memposisikan gaya Rumah Makan Padang sebagai style navigations dalam konteks cultural guides.

bahwa gaya visual etalase Rumah Makan Padang memang telah melakukan ekspansi dan pengembangannya sebagai sebuah sistem, sebuah keteraturan, sebuah tata cara yang telah ‘secara tidak tertulis’ disepakati secara kultural dapat mengidentifikasikan khas dari kelompok masyarakat yang berasal dari etnis budaya tertentu, yaitu Padang atau Minangkabau, baik sebagai praktik sosial dan atau produk budaya.

KEPUSTAKAAN

Baudrillard, J., 1983. Simulations. New York : Semiotext.

---., 1987. The Evil Demon of Images, Trans P. Patton dan P. Foss. Sydney: Power Institute Publications.

Hall, S., 1990. Cultural Identity and Diaspora dalam J. Rutherford (ed), Identity, Community,

Culture, Difference. London : Lawrence and Wishart.

Joel, K., 1995. Culture, Multiculture, Postculture. London: SAGE Publication. Koentjaraningrat., 1999. Pokok-pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Gramedia.

Lindholm, C., 2007. Culture and Identity: The History, Theory, and Practice of Psychological

Anthropology , Oneworld Publications.

Anon., 2010. Sosiologi. http://ramadhanitaufiksosiologi.blogspot.com. Di akses pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 08:49 Wib.

Iskandar., 2011. Etnis dan Suku Bangsa. http://iskandarberkasta-sudra.blogspot.com. Di akses pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 08:37 Wib.

Sukmaningsih, N., 2011. Diferensiasi Sosial. http://aprianilafanty.blogspot.com. Di akses pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 07:23 Wib

Gambar

Gambar 2.  Gaya Visual Etalase Rumah Makan  Padang di Berau, Indonesia

Referensi

Dokumen terkait