• Tidak ada hasil yang ditemukan

M I F I ISSN : MAJALAH ILMIAH FISIOTERAPI INDONESIA, Volume 1, Number 1 Januari 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "M I F I ISSN : MAJALAH ILMIAH FISIOTERAPI INDONESIA, Volume 1, Number 1 Januari 2016"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

M I F I

PERBEDAAN INTERVENSI MUSCLE ENERGY TECHNIQUE DAN INFRARED DENGAN POSITIONAL RELEASE TECHNIQUE DAN INFRARED TERHADAP PENURUNAN NYERI MYOFASCIAL PAIN SYNDROME OTOT UPPER TRAPEZIUS

Putu Mulya Kharismawan, I Made Niko Winaya, I Nyoman Adiputra

INTERVENSI ULTRASOUND DAN PERTURBATION TRAIN-ING LEBIH EFEKTIF DIBANDTRAIN-INGKAN DENGAN ULTRA-SOUND DAN CLOSED KINEMATIC CHAIN EXERCISE TER-HADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA PENDERITA OSTEOARTHRITIS GENU GRADE 2

Gede Parta Kinandana, I Putu Sutha Nurmawan, I Nyoman Adiputra

APLIKASI PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA HIPERTENSI DERAJAT I DI KOTA DENPASAR

Ni Komang Ayu Juni Antari, I Gusti Ayu Artini, Ni Luh Nopi Andayani

PELATIHAN 12 BALANCE EXERCISE LEBIH MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS DARIPADA BALANCE STRATEGY EXERCISE PADA LANSIA DI BANJAR BUMI SHANTI, DESA DAUH PURI KELOD, KECAMATAN DENPASAR BARAT

Made Hendra Satria Nugraha , Nila Wahyuni, I Made Muliarta PELATIHAN PROPRIOSEPTIF EFEKTIF DALAM MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA PEMAIN SEPAK BOLA DENGAN FUNCTIONAL ANKLE INSTABILITY DI SSB PEGOK

Ni Made Lidia Swandari, I Putu Sutha Nurmawan, Luh Putu Ratna Sundari

PEMBERIAN PELATIHAN KEKUATAN AYUNAN LENGAN (ARM SWING) DENGAN DUMBBELL MENINGKATKAN KECEPATAN LARI 100 METER PADA ATLET SPRINT SMK NEGERI 1 DENPASAR

I Putu Gede Angga Winata, Putu Sutha Nurmawan, Nila Wahyuni

INTERVENSI SLOW STROKE BACK MASSAGE LEBIH MENURUNKAN TEKANAN DARAH DARIPADA LATIHAN DEEP BREATHING PADA WANITA MIDDLE AGE DENGAN PRE-HYPERTENSION

Ni Putu Haryska Wulan Dewi , I Made Niko Winaya, I Made Muliarta

WANITA OVERWEIGHT DAN OBESITAS MEMILIKI SUDUT EVERSI CALCANEUS LEBIH BESAR DAN EKSTENSIBILITAS GASTROCNEMIUS LEBIH KECIL DARIPADA WANITA NORMAL DI DESA MENGESTA, KECAMATAN PENEBEL, KABUPATEN TABANAN

Ni Made Rininta Adi Putri, Ari Wibawa, I Wayan Sugiritama, I Made Muliarta

KOMBINASI INTERVENSI INFRARED DAN CONTRACT RELAX STRETCHING LEBIH EFEKTIF DARIPADA INFRARED DAN SLOW REVERSAL DALAM MENINGKATKAN LINGKUP GERAK SENDI LEHER PADA PEMAIN GAME ONLINE DI BMT NET BAJERA TABANAN Nyoman Harry Nugraha, Ni Wayan Tianing, Nila Wahyuni TERAPI LATIHAN KONSEP TARI GALANG BULAN EFEKTIF DALAM PENURUNAN PERSENTASE LEMAK SUBKUTAN REGIO TRICEPS PADA PELAJAR DENGAN OVERWEIGHT DI YAYASAN PERGURUAN KRISTEN HARAPAN

Ayu Riesky,Nila Wahyuni, I Wayan Gede Sutadarma

PELATIHAN HATHA YOGA MODIFIKASI DAPAT MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA LANSIA DI DENPASAR TIMUR

Pricela Da Costa,Nila Wahyuni, Susy Purnawati,I Made Krina Dinata

MAJALAH ILMIAH FISIOTERAPI INDONESIA, Volume 1, Number 1

Januari 2016

Program Studi Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

(2)

M I F I

Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Volume 1, Number 1, Januari 2016

(3)

Daftar Isi

PERBEDAAN INTERVENSI MUSCLE ENERGY TECHNIQUE DAN INFRARED DENGAN POSITIONAL RELEASE TECHNIQUE DAN INFRARED TERHADAP PENURUNAN NYERI MYOFASCIAL PAIN SYNDROME OTOT UPPER TRAPEZIUS

Putu Mulya Kharismawan, I Made Niko Winaya, I Nyoman Adiputra

1

INTERVENSI ULTRASOUND DAN PERTURBATION TRAINING LEBIH EFEKTIF DIBANDINGKAN DENGAN ULTRASOUND DAN CLOSED KINEMATIC CHAIN EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA PENDERITA OSTEOARTHRITIS GENU GRADE 2

Gede Parta Kinandana, I Putu Sutha Nurmawan, I Nyoman Adiputra

7

APLIKASI PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA HIPERTENSI DERAJAT I DI KOTA DENPASAR

Ni Komang Ayu Juni Antari, I Gusti Ayu Artini, Ni Luh Nopi Andayani

14

PELATIHAN 12 BALANCE EXERCISE LEBIH MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS DARIPADA BALANCE STRATEGY EXERCISE PADA LANSIA DI BANJAR BUMI SHANTI, DESA DAUH PURI KELOD, KECAMATAN DENPASAR BARAT

Made Hendra Satria Nugraha , Nila Wahyuni, I Made Muliarta

19

PELATIHAN PROPRIOSEPTIF EFEKTIF DALAM MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA PEMAIN SEPAK BOLA DENGAN FUNCTIONAL ANKLE INSTABILITY DI SSB PEGOK

Ni Made Lidia Swandari, I Putu Sutha Nurmawan, Luh Putu Ratna Sundari

27

PEMBERIAN PELATIHAN KEKUATAN AYUNAN LENGAN (ARM SWING) DENGAN DUMBBELL MENINGKATKAN KECEPATAN LARI 100 METER PADA ATLET SPRINT SMK NEGERI 1 DENPASAR

I Putu Gede Angga Winata, Putu Sutha Nurmawan, Nila Wahyuni

31

INTERVENSI SLOW STROKE BACK MASSAGE LEBIH MENURUNKAN TEKANAN DARAH DARIPADA LATI-HAN DEEP BREATHING PADA WANITA MIDDLE AGE DENGAN PRE-HYPERTENSION

Ni Putu Haryska Wulan Dewi , I Made Niko Winaya,I Made Muliarta

35

WANITA OVERWEIGHT DAN OBESITAS MEMILIKI SUDUT EVERSI CALCANEUS LEBIH BESAR DAN EKSTENSIBILITAS GASTROCNEMIUS LEBIH KECIL DARIPADA WANITA NORMAL DI DESA MENGESTA, KECAMATAN PENEBEL, KABUPATEN TABANAN

Ni Made Rininta Adi Putri, Ari Wibawa, I Wayan Sugiritama, I Made Muliarta

42

KOMBINASI INTERVENSI INFRARED DAN CONTRACT RELAX STRETCHING LEBIH EFEKTIF DARIPADA INFRARED DAN SLOW REVERSAL DALAM MENINGKATKAN LINGKUP GERAK SENDI LEHER PADA PEMAIN GAME ONLINE DI BMT NET BAJERA TABANAN

Nyoman Harry Nugraha, Ni Wayan Tianing, Nila Wahyuni

49

TERAPI LATIHAN KONSEP TARI GALANG BULAN EFEKTIF DALAM PENURUNAN PERSENTASE LEMAK SUBKUTAN REGIO TRICEPS PADA PELAJAR DENGAN OVERWEIGHT DI YAYASAN PERGURUAN KRISTEN HARAPAN

Ayu Riesky,Nila Wahyuni, I Wayan Gede Sutadarma

55

PELATIHAN HATHA YOGA MODIFIKASI DAPAT MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA LANSIA DI DENPASAR TIMUR

(4)

Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia, Volume 2, Nomor 1 ● 35

INTERVENSI SLOW STROKE BACK MASSAGE LEBIH MENURUNKAN

TEKANAN DARAH DARIPADA LATIHAN DEEP BREATHING PADA WANITA

MIDDLE AGE DENGAN PRE-HYPERTENSION

1 Ni Putu Haryska Wulan Dewi , 1 I Made Niko Winaya, 2 I Made Muliarta 1, 2 Program Studi Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar Bali

3Bagian Faal Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar Bali

ABSTRAK

Pre-hypertension merupakan suatu kondisi peningkatan tekanan darah dimana seseorang memiliki tekanan

darah sistolik 120-139 mmHg dan tekanan darah diastolik 80-89 mmHg. Risiko menderita pre-hypertension pada pria dan wanita relatif sama pada umur 45 tahun. Faktor psikologi, prilaku, pekerjaan dan hormon mempengaruhi tim-bulnya kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan intervensi slow stroke back massage lebih menurunkan tekanan darah daripada intervensi latihan deep breathing pada wanita middle age dengan

pre-hypertension. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini yaitu eksperimental pre and posttest control group de-sign terhadap 20 responden yang dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok 1 diberikan latihan deep breathing

kemudian kelompok 2 diberikan intervensi slow stroke back massage. Hasil analisis data dengan paired sample t-test pada Kelompok 1 dengan beda rerata 6,8±2,15 dengan p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah sistolik dan beda rera-ta 7,6±2,1 dengan p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah diastolik. Kelompok 2 dengan beda rerarera-ta 16,2±5,2 dengan p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah sistolik dan beda rerata 13,6±3,6 dengan p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah diastolik. Dari hasil analisis tersebut dikatakan bahwa pada tiap kelompok terdapat penurunan tekanan darah yang bermakna. Berdasarkan uji independent samples t-test antara kelompok 1 dan 2 diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05). Didapat kesimpulan bahwa intervensi slow stroke back massage lebih menurunkan tekanan darah daripada latihan deep breathing pada wanita umur menengah dengan pre-hypertension.

Kata Kunci: Tekanan Darah, pre-hypertension, slow stroke back massage, latihan deep breathing

THE INTERVENTION OF SLOW STROKE BACK MASSAGE MORE REDUCING

BLOOD PRESSURE THAN DEEP BREATHING EXERCISE AMONG MIDDLE

AGE WOMAN WITH PRE-HYPERTENSION

ABSTRACT

Pre-hypertension was a condition which a person's blood pressure has a systolic blood pressure of 120-139 mmHg and diastolic blood pressure of 80-89 mmHg. The risk of suffering from pre-hypertension in men and women are relatively equal at 45 years. Psychological factors, behavior, work and hormones influence this condition. This study aims to determine the intervention of slow stroke back massage which lowers blood pressure more than the intervention of deep breathing exercise in middle age women with pre-hypertension. This study used an experimental design of pre and posttest control group design of the 20 respondents who were divided into two groups. Group 1 was given a deep breathing exercise and group 2 was given an intervention of slow stroke back massage. The results of the data analysis by paired sample t-test on Group 1 with a mean difference of 6.8 ± 2.15 with p = 0.000 (p <0.05) for systolic blood pressure and a mean difference of 7.6 ± 2.1, p = 0.000 (p <0.05) for diastolic blood pressure. Group 2 with a mean difference of 16.2 ± 5.2 with p = 0.000 (p <0.05) for systolic blood pressure and a mean difference of 13.6 ± 3.6 with p = 0.000 (p <0.05) for pressure diastolic blood. From the analysis, it is said that in each group there is a significant drop in blood pressure. Based on the independent samples t-test between group 1 and 2, this study ob-tained the value p = 0.000 (p <0.05). The conclusion was the intervention of slow stroke back massage reduce blood pressure more than deep breathing exercises with pre-hypertension in middle age woman.

Keywords: Blood pressure, pre-hypertension, slow stroke back massage, deep breathing exercise PENDAHULUAN

Era globalisasi ditandai oleh penduduk dunia yang mengalami pergeseran pola pekerjaan dan aktivitas. Dari yang sebelumnya memiliki pola kehidupan agraris berubah menjadi kehidupan industri, sehingga manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat terlepas dari aktivitas dan pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari. Tuntutan terhadap pekerjaan menyebabkan manusia rentan

ter-hadap stress.

Stres merupakan suatu keadaan yang dapat disebabkan oleh tuntutan aktifitas fisik, lingkungan, dan keadaan sosial, bersifat internal dan berpotensi merusak dan tidak terkontrol.1 Studi yang dilakukan oleh Health

and Safety Executive di Inggris melibatkan penduduk

Inggris sebanyak 487.000 orang yang masih produktif dari tahun 2013-2014. Didapatkan data bahwa angka kejadian

(5)

Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia, Volume 2, Nomor 1 ● 36

stres lebih besar terjadi pada wanita (54,62%) dibanding-kan pada pria (45,38%). Sedangdibanding-kan insiden tertinggi ter-jadi pada kelompok umur 45-54 tahun.2

Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh Hasurungan pada tahun 2002 untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada pening-katan tekanan darah pada lansia di Kota Depok dengan jumlah sampel 310 orang. Hasil yang didapatkan yaitu proporsi peningkatan tekanan darah sebesar 50,0% dan berdasarkan jenis kelamin pada laki-laki sebesar 41,9% sedangkan pada perempuan 57,4%. Stres merupakan salah satu dari faktor tersebut. Responden dengan dera-jat stres tinggi berpeluang mendapatkan peningkatan tekanan darah 3,02 kali dibandingkan dengan derajat stres rendah dan responden dengan derajat stres sedang berpeluang memiliki peningkatan tekanan darah 2,47 kali dibandingkan dengan derajat stres rendah.3 Stres mem-berikan dampak pada peningkatan tekanan darah melalui peningkatan denyut jantung dan cardiac output. Pening-katan kadar aldosteron, endorpin, vasopresin, kortisol, dan katekolamin juga terjadi pada kondisi stres akut di-mana sebagian berhubungan dengan mekanisme pening-katan tekanan darah.4

Tekanan darah merupakan kekkuatan yang dihasilkan oleh darah di setiap luas dinding pembuluh darah.5 The

Seventh Report of the Joint National Committee on Pre-vention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure mengklasifikasikan tekanan darah

men-jadi 4 kategori, yaitu: normal, pre-hypertension, hipertensi tahap 1, dan hipertensi tahap 2.6 Kondisi

pre-hypertension dengan tekanan darah sistolik berkisar

120-139 mmHg dan tekanan darah diastolik berkisar 80-89 mmHg biasanya tidak diketahui oleh seseorang dan han-ya mengalami sedikit peningkatan pada tekanan darahnya.7

Dalam sebuah studi kohort yang dilakukan di Amerika, mengenai hubungan pre-hypertension dan morbiditas kardiovaskular melibatkan 14.407 responden dengan rentang umur 25-74 tahun. Dari keseluruhan responden didapatkan prevalensi hipertensi sebesar 47%, prevalensi

pre-hypertension 33% dan prevalensi normotensi 20%.

Dari hasil studi tersebut didapatkan data bahwa 93% individu dengan pre-hypertension memiliki sedikitnya satu faktor risiko untuk terkena penyakit kardiovaskular. Studi tersebut juga menyatakan bahwa individu dengan kondisi

pre-hypertension memiliki risiko untuk mengidap penyakit

kardiovaskuler 1,37 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang memiliki tekanan darah normal.8

Dua faktor penting dalam peningkatan tekanan darah adalah usia dan jenis kelamin. Penurunan elastisitas ar-teri menyebabkan peningkatan tegangan pada pembuluh darah yang nantinya membantu peningkatan tekanan darah yang terjadi pada setiap peningkatan usia. Peru-bahan sistem hormonal pada jenis kelamin wanita me-nyebabkan wanita akan memiliki peningkatan tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan pria. 5

Fisioterapi sebagai salah satu tenaga kesehatan yang melayani masyarakat harus mampu bergerak pada tinda-kan preventif, promotif kuratif dan rehabilitatif. Maka dari itu sangat penting bagi seorang fisioterapis untuk menge-tahui berbagai macam tindakan promotif dan preventif untuk orang yang rentan terhadap sakit.9 Dari segi

fisiot-erapi, penatalaksanaan pada kondisi pre-hypertension

dapat dilakukan melalui terapi non-farmakologis dian-taranya latihan deep breathing dan stimulasi kutaneus

slow stroke back massage.

Latihan deep breathing merupakan teknik bernafas dalam dan perlahan dengan penggunaaan otot diafrag-ma, sehingga diharapkan terjadi pengembangan dada secara penuh.10 Penelitian sebelumnya telah dilakukan

oleh Suwardianto pada tahun 2011 mengenai efek latihan

deep breathing pada tekanan darah kondisi hipertensi di

Kota Kediri. Jenis penelitian yang digunakan adalah

quasy experiment non equivalent control group design.

Sampel penelitian berjumlah 44 responden. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik sebesar 9,00 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 10 mmHg. Penurunan tekanan darah dengan latihan deep breathing terjadi melalui mekanisme peningkatan refleks baroreseptor akibat regangan kardio-pulmonari. Peningkatan refleks baroreseptor ini kemudian merangsang aktivitas saraf parasimpatis dan mengham-bat aktivitas saraf simpatis yang nantinya berdampak pa-da penurunan tekanan pa-darah.11

Terapi non-farmakologis lain yang dapat diberikan yaitu stimulasi kutaneus slow stroke back massage. Intervensi ini diberikan dengan cara memberikan usapan secara perlahan, tegas, berirama dengan kedua tangan menutup area selebar 5 cm diluar tulang belakang yang dimulai dari kepala hingga area sacrum.12 Penelitian

pen-dahuluan telah dilakukan oleh Dewi pada tahun 2014 mengenai efek slow stroke back massage dapat mempengaruhi tekanan darah pada kondisi

pre-hypertension di Kota Denpasar. Sampel berjumlah 21

responden dan menggunakan teknik purposive sampling. Uji hipotesis menggunakan uji Wilcoxon dengan hasil yai-tu menunjukkan ada pengaruh slow stroke back massage dalam menurunkan tekanan darah kondisi

pre-hypertension dengan penurunan tekanan sistolik sebesar

9,09% dan tekanan diastolik sebesar 10,42% . Penurunan tekanan darah dengan slow stroke back massage melalui HPA aksis yang berdampak pada penurunan AVP dan ACTH, pelepasan endorpin, vasodilatasi sistemik, penurunan kontraktilitas dan menunjang proses penurunan tekanan darah.13

Berdasarkan penjelasan singkat terkait intervensi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kedua intervensi memiliki konsep yang berbeda dalam penerapannya pada kondisi pre-hypertension. Akan tetapi, belum ada penelitian yang membandingkan antara kedua intervensi ini pada kondisi pre-hypertension. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk mengetahui slow stroke back

massage lebih menurunkan tekanan darah daripada

lati-han deep breathing pada wanita middle age dengan

pre-hypertension.

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan pre test

and post test control group design. Pemberian intervensi

dalam penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai Mei tahun 2015. Populasi yang ditargetkan yaitu Ibu-ibu

middle age dengan pre-hypertension di Banjar Pegok,

Sesetan, Denpasar. Dalam pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling didasarkan atas

(6)

Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia, Volume 2, Nomor 1 ● 37

adanya kriteria inklusi, kriteria eksklusi dan melalui pemeriksaan fisioterapi dengan sampel sebanyak 20 re-sponden dan nantinya akan dibagi secara acak dan sama rata menjadi 2 kelompok. Pada kelompok intervensi 1 diberikan latihan deep breathing sedangkan kelompok 2 dengan perlakuan slow stroke back massage.

Instrumen Penelitian

Sphygmomanometer dan stethoscope

merupa-kan alat pengukuran yang digunamerupa-kan dalam mengukur tekanan darah. Pengukuran tekanan darah melalui pem-balutan manset di lengan atas dan dikembangkan dengan pompa yang terdapat pada sphygmomanometer. Tekanan yang dipompa dalam manset dinaikkan sampai denyut nadi menghilang. Manset kemudian dikem-bangkan lagi sebesar 20 sampai 30 mmHg. Manset dikempiskan secara perlahan, dan dilakukan pembacaan tekanan darah secara auskultasi. Auskultasi dilakukan melalui ujung stetoskop yang diletakkan di area arteri brakialis pada lipatan siku. Pengempisan manset dil-akukan dengan kecepatan 2 sampai 3 mmHg per detik. Bunyi detakan pertama yang terdengar menunjukkan nilai tekanan darah sistolik. Detakan akan terus terdengar hingga sampai detakan terakhir dan bunyi menghilang yang menunjukkan nilai tekanan darah diastolik. Pen-gukuran tekanan darah diberikan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Ketika peneliti sudah melakukan intervensi pada masing-masing kelompok dan telah mem-peroleh data yang diperlukan secara lengkap kemudian akan dilakukan uji analisis . Uji paired sample t-test dil-akukan untuk korelasi data dan mengetahui apakah ter-dapat penurunan tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi pada kedua kelompok tersebut. Kemudian dil-akukan uji independent sample t-test yang bertujuan un-tuk mengetahui ada tidaknya perbedaan penurunan tekanan darah pada setiap kelompok.

HASIL PENELITIAN

Di bawah ini merupakan uraian karakteristik sam-pel diantaranya Indeks Massa Tubuh (IMT) dan umur. Tabel 1.Data Sampel Berdasarkan IMT

Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa seluruh sampel memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) normal (18,5-22,9 kg/m2) dimana pada Kelompok 1

memiliki rerata IMT (21,5±0,71). Pada Kelompok 2 memiliki rerata IMT (21,4±0,70).

Tabel 2.Data Sampel Berdasarkan Umur

Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa Ke-lompok 1 memiliki rerata umur (49,7±1,77) tahun dan pa-da Kelompok 2 memiliki rerata umur (49,6±1,35) tahun.

Tabel 3.Hasil Uji Normalitas (Shapiro-wilk test) dan Ho-mogenitas (Lavene’s test)

Dari Tabel 3 didapatkan hasil bahwa data berdistribusi normal dan homogen (p > 0,05).

Tabel 4. Hasil Uji Paired Sample T-Test

Dari Tabel 4, pengujian hipotesis yang dianalisis dengan menggunakan paired sample t-test didapatkan hasil pada Kelompok 1 untuk tekanan sarah sistolik p=0,000 (p<0,05) dan tekanan darah diastolik p=0,000 (p<0,05) yang artinya ada penurunan tekanan darah sis-tolik dan tekanan darah diassis-tolik yang bermakna sebelum dan sesudah intervensi latihan deep breathing pada Ke-lompok 1. Pada KeKe-lompok 2 untuk tekanan sarah sistolik p=0,000 (p<0,05) dan tekanan darah diastolik p=0,000 (p<0,05) yang artinya ada penurunan tekanan darah sis-tolik dan tekanan darah diassis-tolik yang bermakna sebelum dan sesudah intervensi latihan slow stroke back massage pada Kelompok 2.

Gambar 1. Grafik Rerata Nilai Tekanan Darah Sistolik Sebelum dan Sesudah Intervensi

Karakteristik Kel. 1 (kg/m²) Mean±SD Kel. 2 (kg/m²)

Indeks Massa

Tubuh 21,5±0,71 21,4±0,70

Karakteristik Mean±SD

Kel. 1 (tahun) Kel. 2 (tahun)

Umur 49,7±1,77 49,6±1,35

Uji Normalitas (Saphiro-Wilk Test) Homogenitas Uji (Levene's test) Sebelum Rerata Sesudah Rerata

SD Sistolik (p) Diastolik (p) Sistolik (p) Diastolik (p)

K 1 0,659 0,052 0,447 0,154 1.000 0,907 K 2 0,133 0,156 0,215 0,351 0,478 0,321 Mean±SD Sebelum Intervensi (mmHg) Mean±SD Setelah Intervensi (mmHg) p Sistolik Kelompok I 131,6±4,88 124,8±4,13 0,000 Diastolik Kelompok I 83,00±2,87 75,4±4,01 0,000 Sistolik Kelompok II 132,8±4,54 116,6±5,34 0,000 Diastolik Kelompok II 84,4±3,1 70,8±3,3 0,000 105 110 115 120 125 130 135 Sebelum Sesudah

Penurunan Tekanan Darah Sistolik Kelompok 1 dan Kelompok 2

(7)

Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia, Volume 2, Nomor 1 ● 38

Gambar 2. Grafik Rerata Nilai Tekanan Darah Diastolik Sebelum dan Sesudah

Intervensi Keterangan:

Klp 1 : Kelompok Intervensi Latihan Deep Breathing Klp 2 : Kelompok Intervensi Slow Stroke Back Massage Tabel 5. Hasil Uji Independent T-test

Berdasarkan Tabel 5 diatas diketahui bahwa ter-dapat korelasi dan perbedaan pada Kelompok 1 dan Ke-lompok 2. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p=0,000 (p < 0,05).

Tabel 6. Persentase Penurunan Tekanan Darah

Gambar 3. Grafik Persentase Rerata Penurunan Nilai Tekanan Darah Sistolik

Gambar 4. Grafik Persentase Rerata Penurunan Nilai Tekanan Darah Diastolik

Berdasarkan persentase rerata penurunan tekanan darah pada kondisi pre-hypertension pada Gam-bar 3 dan GamGam-bar 4 menunjukkan bahwa persentase rerata penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada Kelompok 2 lebih besar daripada Kelompok 1. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa intervensi Kelompok 2 yaitu slow stroke back massage lebih baik dibandingkan dengan intervensi Kelompok 1 yaitu latihan

deep breathing. PEMBAHASAN 60 65 70 75 80 85 90 Sebelum Sesudah

Penurunan Tekanan Darah Diastolik Kelompok 1 dan Kelompok 2

Klp 1 Klp 2

Intervensi

Rerata±SD Kelompok Mean±SD 1 (mmHg) Mean±SD Kelompok 1 (mmHg) n p Selisih sistolik 6,8±0,68 16,2±1,65 10 0,000 Selisih diastolik 7,6±0,65 13,6±1,15 10 0,000 Kelompok Hasil Analisis Tekanan Darah Awal Tekanan Darah Akhir Beda Tekanan Darah Persentas e Tekanan Darah TD Sistolik Kelompok 1 131,6 124,8 6,8 5,2% TD Diastolik Kelompok 1 83 75,4 7,6 9,16% TD Sistolik Kelompok 2 132,8 116,6 16,2 12,20% TD Diastolik Kelompok 2 84,4 70,8 13,6 16,11% 0 2 4 6 8 10 12 14 Klp 1 Klp 2

Presentase Penurunan Nilai Tekanan Darah Sistolik

Presentase Penurunan Nilai Tekanan Darah

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 Klp 1 Klp 2

Presentase Penurunan Nilai Tekanan Darah Diastolik

(8)

Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia, Volume 2, Nomor 1 ● 39 Karakteristrik Sampel

Pada penelitian ini keseluruhan sampel memiliki usia 45-59 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada Kelompok 1 dengan pemberian intervensi latihan deep breathing memiliki rera-ta umur (49,7±1,77) rera-tahun dan pada Kelompok 2 dengan pemberian intervensi slow stroke back massage memiliki rerata umur (49,6±1,35) tahun. Hal ini menunjukkan bah-wa jenis kelamin perempuan dan usia menengah (middle

age) sangat rentan memiliki kondisi pre-hypertension.13

Hormon pada wanita sangat mempengaruhi terjadinya peningkatan tekanan darah. Ketika wanita memasuki ma-sa menopause maka hormon estrogen yang dimiliki wanita berangsur-angsur akan menurun sehingga perlin-dungan pembuluh darah dari kerusakan juga semakin menurun. Kuantitas dari hormon estrogen akan berubah secara alami pada masa ini. Hal tersebut berdampak pula terhadap peningkatan tekanan darah pada wanita, pada rentang middle age (45-59 tahun) cenderung lebih rent-an.4

Dilihat dari karakteristik Indeks Massa Tubuh (IMT), seluruh sampel memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) normal (18,5-22,9 kg/m2). Pada Kelompok 1 mem-iliki rerata Indeks Massa Tubuh (21,5±0,71). Sedangkan pada Kelompok 2 memiliki rerata Indeks Massa Tubuh (21,4±0,70). Hal ini menunjukkkan bahwa keseluruhan sampel memiliki IMT normal. Pernyataan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kawamoto, et al. (2008) di Jepang dimana didapatkan data bahwa seseorang yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) berkisar 21,0-24,9 kg/m2 berisiko tinggi untuk memiliki

kondisi pre-hypertension.

Intervensi Latihan Deep Breathing dapat Menurunkan Tekanan Darah Pre-hypertension

Berdasarkan hasil uji paired sample t-test pada Kelompok 1, didapatkan rerata nilai tekanan darah sistolik sebelum intervensi sebesar 131,6 dan rerata setelah in-tervensi sebesar 124,8. Rerata nilai tekanan darah dias-tolik sebelum intervensi 83,00 dan rerata setelah interven-si sebesar 75,4. Selain itu, diperoleh juga nilai interven-sistolik p = 0,000 (p < 0,05) dan nilai diastolik p = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa ada korelasi dan perbedaan nilai yang bermakna pada rerata tekanan darah sebelum dan setelah intervensi latihan deep breathing.

Tehnik pernafasan yang perlahan dan dalam mengaktivasi dari kerja saraf otonom melalui pengham-batan sinyal reseptor peregangan dan arus hiperpolar-isasi di jaringan saraf dan non saraf. Latihan ini mem-berikan efek peregangan pada jaringan paru dan menghasilkan sinyal inhibitor yang mengakibatkan aktiva-si dari slowly adapting stretch reseptors (SARs) dan hiperpolarisasi pada jaringan. Kedua efek ini membantu menyinkronkan sistem saraf dan penurunan aktivitas metabolik yang merupakan fungsi dari saraf parasimpatis. Peningkatan status saraf parasimpatis akan memberikan dampak metabolik yaitu penurunan tekanan darah, denyut jantung dan konsumsi O2.14

Refleks baroreseptor juga memiliki peranan penting dalam mekanisme penurunan tekanan darah pada latihan deep breathing. Selama melakukan pernafasan dalam, terjadi peningkatan regangan kardiopulmonari yang diteruskan oleh saraf vagus ke

medula oblongata (pusat regulasi kardiovaskuler), hal inilah yang mencetuskan efek baroreseptor.10 Perangsan-gan saraf parasimpatis dan penghambatan aktivitas saraf simpatis terjadi ketika impuls aferen dari baroreseptor mencapai pusat jantung sehingga menyebabkan penurunan denyut dan daya kontraksi pada jantung se-hingga terjadi penurunan tekanan darah.14

Hasil penelitian ini diperkuat oleh hasil penelitian yang diteliti oleh Mori, et al., (2005) di Jepang. Dari hasil tersebut diketahui terdapat perbedaan pada penurunan tekanan darah sebelum dan setelah pemberian intervensi latihan deep breathing (p < 0,001) . Penelitian lainnya yang mendukung hasil penelitian ini yaitu oleh Tawaang,

et al., (2013) di Manado yang meneliti tentang efek

relaksasi nafas dalam pada tekanan darah pasien hipertensi di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou. Hasil penelitian ini memaparkan bahwa ada pengaruh yang jelas terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05).

Intervensi Slow Stroke Back Massage Dapat Menurunkan Tekanan Darah Pre -hypertension

Berdasarkan hasil uji analisis paired sample t-test pada Kelompok 2, diketahui rerata nilai tekanan darah sistolik sebelum intervensi sebesar 132,8 dan rerata setelah intervensi sebesar 116,6. Rerata nilai tekanan darah diastolik sebelum intervensi 84,40 dan rerata sesudah intervensi sebesar 70,8. Selain itu, diperoleh juga nilai sistolik p = 0,000 (p < 0,05) dan nilai diastolik p = 0.000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi dan perbedaan bermakna pada nilai rerata tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi slow

stroke back massage.

Slow-stroke back massage merupakan stimulasi

yang dilakukan pada kulit punggung dengan usapan yang perlahan. Massage ini dapat menghasilkan efek relaksasi oleh stimulasi taktil di jaringan tubuh yang menyebabkan respon neurohumoral yang kompleks dalam The

Hypothalamic–Pituitary Axis (HPA) ke sirkuit melalui

pusat jalur sistem saraf. Stimulus tersebut didistribusikan otak tengah melalui korteks di otak dan diinterpretasikan sebagai respon relaksasi. Sistem saraf otonom yang paling berperan dalam mekanisme ini yaitu saraf parasimpatis. Neurotransmiter norepinephrin dikeluarkan oleh saraf parasimpatisyang membantu menghambat de-polarisasi SA node dan AV node. Efek yang dihasilkan yaitu penurunan curah jantung, volume sekuncup dan kkecepatan denyut jantung yang nantinya membantu penurunan tekanan darah. Massage juga menstimulasi penurunan suhu tubuh dan level hormon stres dian-taranya norepinephrin dan adrenalin.15

Penurunan tekanan darah terjadi melalui tekanan mekanis yang akan menstimulasi terbentuknya

peizeo-electric effect yang membantu melonggarkan,

mereng-gangkan dan memperpanjang serabut otot sehingga dengan adanya proses perenggangan otot ini maka akan meningkatkan sirkulasi darah dan membawa kembali O2

serta nutrisi kembali ke area tubuh yang tegang.16 Efek

perenggangan otot polos ini juga terjadi pada arteri verte-bra yang cenderung vasokontriksi pada lansia sehingga sirkulasi darah menuju medulla spinalis kembali normal yang berakibat pada penurunan tekanan darah secara

(9)

Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia, Volume 2, Nomor 1 ● 40

fisiologis. Kembalinya sirkulasi darah juga akan mengu-rangi nyeri otot akibat pH asam yang ditimbulkan oleh timbunan asam laktat sehingga sensitifitas reseptor ASIC3 (Acid-Sensing Ion Channel Number 3) menurun dan menimbulkan perasaan tenang, rileks dan lebih baik.15 Mekanisme timbulnya perasaan tenang dan rileks

ini selanjutnya juga diinduksi oleh menurunnya aktifitas gelombang α dan β serta meningkatnya aktifitas gelombang δ pada system saraf pusat saat dan setelah pemberian massage. Gelombang δ adalah gelombang otak yang secara normal muncul saat seseorang telah tertidur.16 Efek relaksasi melalui penurunan sekresi

hor-mon katekolamin akan berlanjut pada penurunan aktifitas saraf simpatis disertai penurunan tekanan darah. Rasa enak dan nyaman akan tercapai sehingga secara psikis memberikan dampak positif bagi rasa tenang, nyaman, rileks, dan stres yang menurun. Hal ini dikarenakan secara fisiologis respon tersebut mucul melalui jalur HPA Aksis yang mengaktivasi Locus Coerulus (LC) dan hipotalamus. Penurunan sekresi Corticotropin Releasing

Hormone (CRH) oleh hipotalamus menyebabkan Adreno-corticotropic Hormone (ACTH) menurun dan membantu

aktivasi Pro-opimelanocortin (POMC) yang seiring dengan penurunan produksi ACTH dan meningkatkan produksi endorphin. Locus Coerulus (LC) banyak mem-bantu dalam menengahi efek simpatis saat terjadi stress. Dalam keadaan rileks, penurunan Arginine Vasopressin (AVP) bisa terjadi akibat penurunan sintesis norepinefrin di medulla adrenal. Ketiga metabolisme di atas (penurunan AVP dan ACTH serta peningkatan endorphin) akan menurunkan tahanan perifer dan cardiac output se-hingga tekanan darah akan menurun.16

Hasil penelitian ini ditunjang oleh penelitian yang diteliti oleh Pokorny (2001) di Amerika. Hasil penelitian tersebut menyebutkan adanya perbedaan yang jelas pada penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah pemberian intervensi slow stroke

back massage. Penelitian ini juga ditunjang oleh hasil

penelitian yang diteliti oleh Dewi (2014) di Denpasar yang meneliti tentang efek intervensi ini pada wanita umur menengah dengan kondisi -pre-hypertension di Bali. Hasil yang dipaparkan yaitu terdapat penurunan yang jelas ter-hadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan penurunan tekanan darah sistolik sebesar 9,09% dan tekanan darah diastolik 10,42%.

Intervensi Slow Stroke Back Massage Lebih Baik Menurunkan Tekanan Darah kondisi Pre-hypertension Daripada Latihan Deep Breathing

Berdasarkan hasil uji independent t-test yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan penurunan tekanan darah pada kedua kelompok, diperoleh nilai selisih penurunan tekanan darah sistolik pada Kelompok 1 sebesar (6,8±0,68) dan selisih penurunan tekanan darah diastolik Kelompok 1 sebesar (7,6±0,65). Se-dangkan selisih penurunan tekanan darah sistolik Ke-lompok 2 sebesar (16,2±1,65) dan selisih penurunan tekanan darah diastolik sebesar (13,6±1,15). Selain itu, diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah sis-tolik dan nilai p=0,000 (p<0,05) untuk tekanan darah dias-tolik. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (signifikan) dari kedua intervensi tersebut

dalam penurunan tekanan darah kondisi pre-hypertension.

Menurut hasil kajian dari Jerath, et al. pada tahun 2006, mengemukakan bahwa tehnik pernafasan yang perlahan dan dalam mengaktivasi dari kerja saraf otonom melalui penghambatan sinyal reseptor peregangan dan arus hiperpolarisasi di jaringan saraf dan non saraf. Lati-han ini memberikan efek peregangan pada jaringan paru dan menghasilkan sinyal inhibitor yang mengakibatkan adaptasi reseptor peregangan lambat atau slowly

adapt-ing stretch reseptors (SARs) dan hiperpolarisasi pada

jaringan. Kedua efek ini membantu menyinkronkan sistem saraf dan penurunan aktivitas metabolik yang merupakan fungsi dari saraf parasimpatis. Peningkatan status saraf parasimpatis akan memberikan dampak metabolik yaitu penurunan tekanan darah, denyut jantung dan konsumsi O2.

Menurut hasil kajian dari Valentino dan Bock-staele pada tahun 2008, pemberian massage pada punggung akan menghasilkan relaksasi melalui jalur HPA (The Hypothalamic–Pituitary) Aksis. Hal ini dikarenakan secara fisiologis respon tersebut muncul melalui jalur HPA Aksis yang mengaktivasi Locus Coerulus (LC) dan hipotalamus. Penurunan sekresi Corticotropin Releasing

Hormone (CRH) oleh hipotalamus menyebabkan Adreno-corticotropic Hormone (ACTH) menurun dan membantu

aktivasi Pro-opimelanocortin (POMC) yang seiring dengan penurunan produksi ACTH dan meningkatkan produksi endorphin. Locus Coerulus (LC) banyak mem-bantu dalam mengehai efek simpatis saat terjadi stress. Dalam keadaan rileks, penurunan Arginine Vasopressin (AVP) bisa terjadi akibat penurunan sintesis norepinefrin di medulla adrenal. Ketiga metabolisme di atas (penurunan AVP dan ACTH serta peningkatan endorphin) akan menurunkan tahanan perifer dan cardiac output se-hingga tekanan darah akan menurun.

Dari hasil pembahasan mengenai kedua interven-si di atas, maka dapat diinterven-simpulkan bahwa efek relaksainterven-si yang dihasilkan oleh intervensi slow stroke back massage lebih baik dibandingkan latihan deep breathing. Hal ini disebabkan karena pada pemberian intervensi slow

stroke back massage mempengaruhi sistem neuro

hu-moral yang menyebabkan penurunan tekanan darah. Se-dangkan pemberian intervensi latihan deep breathing mempengaruhi sistem saraf simpatis dan parasimpatis dalam menurunkan tekanan darah. Mekanisme inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah pada wanita middle age dengan kondisi pre-hypertension.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Simpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini yaitu:

Intervensi slow stroke back massage lebih menurunkan tekanan darah dengan persentase tekanan darah sistolik sebesar 12,20% dan diastolik 16,11% da-ripada intervensi latihan deep breathing dengan persentase tekanan darah sistolik sebesar 5,2% dan diastolik 9,16% pada wanita middle age dengan kondisi pre-hypertension.

Saran

(10)

Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia, Volume 2, Nomor 1 ● 41

terdapat dalam penelitian ini adalah :

1. Intervensi latihan deep breathing dan slow stroke

back massage dapat dijadikan pilihan intervensi

non-farmakologi yang efektif dan efisien oleh fisioterapis untuk wanita middle age dengan kondisi

pre-hypertension.

2.

Untuk pengembangan penelitian selanjutnya, dapat menambahkan jumlah sampel penelitian serta membandingkan dengan metode lainnya agar dapat lebih mengetahui efektifitas dari intervensi slow stroke

back massage dan latihan deep breathing dalam

menurunkan tekanan darah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sriati, A. Tinjauan Tentang Stres. Diakses 25 Januari 2015. Diunduh dari:http://resources.unpad.ac.id/ unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/TINJAUAN% 20TENTANG%20STRES.pdf. 2007.

2. Waningsiha. Hubungan Jenis Kelamin, Konsumsi Mie

Instan, Minuman Suplemen dan Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Taruna Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. Skripsi. Semarang:

Uni-mus Universitas Muhammadiyah Semarang. 2012. 3. Hasurungan, S. J. Faktor-Faktor yang Berhubungan

dengan Hipertensi pada Lansia di Kota Depok. Di-akses 28 Januari 2015. Diunduh dari: http:// www.digilib.ui.ac.id. 2002.

4. Dewi, A. A. A. A. S. Pemberian Intervensi Slow

Stroke Back Massage Menurunkan Tekanan Darah pada Wanita Middle Age dengan Kondisi Pre-hypertension di Banjar Batan Buah, Desa Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, Bali. Skripsi. Bali:

Uni-versitas Udayana. 2014.

5. Guyton, A. C. & Hall J. E. Buku Ajar Fisiologi

Kedok-teran. Edisi 11. Jakarta: EGC. 2008.

6. Yu, D., Huang, J., Hu, D., Chen, J., Cao, J., Li, J. & Gu, D. Prevalence and Risk Factors of

Prehyperten-sion Among Chinese Adults. Diakses 22 Januari

2015. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pub`med/18841073. 2008.

7. Wibowo, S. BAB II Klasifikasi Tekanan Darah. Skripsi. Sumatera: Repository Universitas Sumatera Utara. 2011.

8. Liszka, H. A., Mainous, A. G., King, D. E., Everett, C. J. & Egan, B. M. Pre-hypertension and

Cardiovascu-lar Morbidity. Diakses 29 Januari 2015. Diunduh dari:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/ PMC1466908/. 2005.

9. Silka, F. Hubungan Proporsi Tubuh terhadap

Keseim-bangan. Skripsi. Jakarta: Universitas Esa Unggul.

2013.

10. Suwardianto, H. Pengaruh Terapi Relaksasi Napas

Dalam (Deep Breathing) terhadap Perubahan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Pusk-esmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri. Skripsi.

Ke-diri: Stikes RS. Baptis Kediri. 2011.

11. Potter, A. P. & Perry, G. A. Buku Ajar Fundamental

Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 4.

Jakarta: EGC. 2005.

13. Widjaja, F. F., Santoso, L. A., Barus, N. R.V., Pradana, G. A. & Estetika, C. Prehypertension and

Hypertension Among Young Indonesian Adults at A Primary Health Care in A Rural Area. Diakses 1 Mei

2015. Diunduh dari: http://mji.ui.ac.id/journal/ index.php/mji/article/view/519. 2013.

14. Jerath, R., Edry, J. W., Barnes, V. A. & Jerath, V.

Physiology of Long Pranayamic Breathing : Neural Respiratory Elements may Provide a Mechanism that Explains How Slow Deep Breathing Shifts The Auto-nomic Nervous System. Diakses 20 Januari 2015.

Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmed/16624497. 2006.

16. Arifin, R. Perbedaan Communication Back Massage

dan Back Massage dalam Menurunkan Tekanan Darah Pada Klien dengan Lansia dengan Hipertensi.

Diakses 2 Februari 2015. Diunduh dari: http:// journal.unair.ac.id. 2012.

Gambar

Tabel 2.Data Sampel Berdasarkan Umur
Gambar  2.  Grafik  Rerata  Nilai  Tekanan  Darah  Diastolik  Sebelum dan Sesudah

Referensi

Dokumen terkait

Terapi bekam terhadap penderita hipertensi dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan rata-rata tekanan darah arteri dibuktikan dengan uji statistik yang didapatkan

Hasil penelitian nya adalah bahwa dengan melakukan latihan pengaturan pernafasan dapat menurunkan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik pada penderita hipertensi

Dari hasil penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa terapi diet pisang ambon secara bermakna menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada klien hipertensi di

Kesimpulan penelitian ini adalah latihan zig zag run &amp; neural mobilization lebih efektif digunakan untuk meningkatkan kelincahan pada pemain sepak bola di Fakultas

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh pemberian intervensi back massage terhadap perubahan tekanan darah pasien hipertensi,