• Tidak ada hasil yang ditemukan

Marsudin Silalahi dan Suryani

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Marsudin Silalahi dan Suryani"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 PENGARUH PEMBERIAN SILASE DAUN SINGKONG TERHADAP KENAIKAN BERAT BADAN HARIAN TERNAK KAMBING DI DESA

NGESTIRAHAYU KECAMATAN PUNGGUR KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Marsudin Silalahi dan Suryani Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung

Jl. Hi. Z.A. Pagar Alam No. 1A Rajabasa, Bandar Lampung 35145 E-mail : [email protected]

ABSTRAK

Tanaman singkong merupakan tanaman jenis umbi yang merupakan sumber karbohidrat dan hasil ikutan tanaman singkong yang berupa daunnya yang melimpah pada saat panen semestinya dapat di manfaatkan sebagai pakan ternak belum di manfaatkan secara optimal. Di tinjau dari segi nutrisi kandungan zat gizi daun singkong tergolong jenis hijauan yang cukup baik dan memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibanding dengan rumput gajah. Daun singkong mengandung senyawa sianida (HCN) yang terdapat dalam getah yang bersipat racun dan dapat mematikan ternak. Salah satu cara untuk menurunkan kadar HCN dan untuk mengawetkan limbah daun singkong yang melimpah pada saat panen adalah dengan cara pembuatan silase daun singkong. Penambahan bobot badan ternak kambing yang menggunakan silase daun singkong selama 42 hari adalah R1 (55 gr), R2 (71 gr), R2 (83 gr) dan R3 (99 gr) per ekor/hari. Hasil anlisa usaha ternak kambing menunjukan bahwa perlakuan R1 adalah Rp 69170,- R2 adalah Rp 86670,- R3 adalah Rp 90170,-dan R4 adalah Rp 189,970.-. Ternyata pemberian silase daun singkong dengan kwantitas lebih tinggi mengahasilkan pertambahan berat badan yang lebih tinggi dan berdampak pada pendapatan usaha taninyaa lebih meningkat.

Kata Kunci : Silase, Daun Singkong, Kambing ABSTRACT

Cassava is a tuber crop species that are a source of carbohydrates and cassava by-product in the form of abundant leaves at harvest should be utilized as animal feed has not been optimally utilized. In the review of terms of nutritional content of cassava leaf nutrients considered pretty good forage species and has a higher protein content than grass. Cassava leaves contain cyanide compounds (HCN) found in pesticides and rubber bersipat can turn off cattle. One way to reduce HCN and to preserve the abundant cassava leaf waste at harvest time is a way of cassava leaf silage making. he addition of goat body weight using cassava leaf silage for 42 days is R1 (55 gr), R2 (71 gr), R2 (83 gr) and R3 (99 gr) per cow / day. Results anlisa effort goats R1 indicates that treatment is Rp 69,170, - R2 is Rp 86,670, - R3 is Rp 90,170, Rp-and R4 is 189,970. -. It turns giving cassava leaf silage fumes increase your volume higher higher body weight and more impact on efforts to increase revenue.

(2)

2 PENDAHULUAN

Tanaman singkong merupakan tanaman jenis umbi-umbian yang merupakan sumber karbohidrat aneka ragam makanan yang terbuat dari singkong sudah lama di kenal namun daun singkong yang semestinya dapat di manfaatkan sebagai pakan ternak belum di manfaatkan secara optimal. Di tinjau dari segi nutrisi kandungan zat gizi daun singkong tergolong jenis hijauan yang cukup baik dan memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibanding dengan rumput gajah.

Tabel 1. Kandungan Kimiawi Limbah Ubi Kayu Secara Keseluruhan

Bahan BK Protein TDN SK Lemak Ca P Daun 20,33 21,45 61,00 25,71 9,72 0,72 0,59 Kulit 17,45 8,11 74,73 15,20 1,29 0,63 0,22 Onggok 85,50 10,57 82,76 0,25 1,03 0,42 0,01 Sumber Sarwono (2002)

Berikut kandungan nutrisi rumput dan hijauan sisa hasil pertanian yang dapat di berikan pada ternak sebagai salah satu pakan alternatif

Tabel 2. Kandungan Nutrisi Rumput dan Hijauan Sisa Hasil Pertanian.

No Jenis Rumput dan Hijauan Kandungan nutrisi Protein (%) Serat kasar (%) Lemak Kasar (%) Abu (%) BETN (%) 1 Rumput gajah 6,4 34,5 3,0 8,6 47,5 2 Rumput lapangan 6,69 34,19 1,73 9,70 47,64 3 Jerami padi 4,1 19,2 1,6 21,5 43,6 4 Tanaman kacang tanah 16,59 15,41 2,90 7,50 47,59 5 Tanaman singkong 3,98 33,29 1,59 49,79 11,35 6 Tanaman kedelai 12,50 36,00 3,92 10,88 36,70 7 Tanaman ubi jalar 3,9 2,1 0,4 - 4,3 8 Tanaman jagung 5,56 33,58 1,25 7,28 52,32 9 Daun tebu 7,40 42,30 2,90 7,40 40,00 Sumber: Sarwono (2002)

(3)

3 Daun singkong mengandung senyawa cianida (HCN) yang terdapat dalam getah yang bersipat racun dan dapat mematikan ternak. Ada beberapa cara untuk menurunkan kandungan asam sianida daun singkong di antaranya. mengeringkan, melayukan atau menyimpan dalam waktu yang lama (McDonald 1988). Menurut Gatenby (1986) yang disitasi oleh Urip Santoso et al. (2008), Menjemur selama 72 jam kandungan HCN yang tersisa tinggal 12,8%. Merendam daun singkong yang telah di iris-iris kemudian di cuci dengan air mengalir atau dengan merebusnya, karena sifat HCN yang mudah larut dalam air, serta dengan menambahkan unsure sulfur (S) seperti Cystine, methione dan tiosulfat dapat mengurangi pengaruh HCN. Enzim rhodanase sianida yang terbentuk akan dikeluarkan melalui urine (Blackley dan Coop, 1994) yang disitasi oleh Jajo et al (2008) memperhitungkan bahwa untuk menghilangkan pengaruh racun HCN pada kambing diperlukan 1,2 gram Sulfur (S).

Bagi peternak memilih cara mengeringkan dengan melalui penjemuran dengan sinar matahari yang lebih mudah dan tidak memerlukan biaya dengan pengeringan langsung dengan matahari dapat mengurangi kandungan HCN hingga 90% dalam waktu penyimpanan selama 3 hari dengan demikian daun singkong aman digunakan sebagai pakan ternak tetapi pada musim hujan peternak mengalami kesulitan. Dari segi kandungan nutrisi daun singkong yang telah di buat silase ada kandungan protein kasar justru meningkat. Sebelum di buat silase kandungan protein nya 21,45% dan setelah di buat silase menjadi 25,41%. Data hasil analisis daun singkong yang di buat silase adalah kadar air 69,50%, kadar Nitrogen 13,41%, kadar P 0,405, kadar K 2,73% dan kadar protein kasar (PK) 25,75% ( Sumber BPTP Lampung 2011)

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian silase daun singkong terhadap pertambahan berat badan harian kambing, konsumsi ransum dan nilai ekonomisnya.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di kandang bapak Ridwan Desa Ngesti Rahayu Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah, pada zona agroekologi lahan kering dataran rendah. Di lokasi tersebut sebagian besar penduduknya bekerja

(4)

4 sebagai petani, peternak kambing. Peternak kooperator merupakan petani dan peternak. Ternak kambing yang digunakan dalam penelitian ini adalah kambing Peranakan Ettawa (PE) umur 8-10 bulan sejumlah 12 ekor yang diamati selama 42 hari. Bahan pakan hijauan yang digunakan adalah silase daun singkong, rumput lapang dan mineral yang berasal dari sekitar lokasi peternak kooperator.

Penelitian disusun menurut rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Pakan yang diberikan adalah rumput lapang dan Silase daun singkong dengan masing-masing perlakuan R1 : Pemberian silase daun singkong 25 % dan 75% rumput lapang, R2. pemberian silase daun singkong 50% , rumput lapang 50% , R3. Pemberian silase daun singkong 75% , rumput lapangan 25% dan R4. Pemberian silase daun singkong 100% masing-masing 10% dari berat badan. Pemberian pakan diberikan sebanyak 3 kali dalam sehari dan untuk pemberian air minum di berikan secara adlibitum. Sebelum penelitian dilaksanakan terlebih dahulu ternak kambing diberi Vitamin B Complek dan obat cacing. Parameter yang diamati meliputi pertambahan bobot badan harian, konsumsi ransum dan nilai ekonomis.

Data hasil pengamatan pertambahan bobot badan harian diuji dengan analisis varians (anova) dan selanjutnya apabila ada perbedaan yang nyata dilakukan uji beda nyata terkecil (BNT) (Still and Torrie, 2006). Nilai Ekonomis dihitung berdasarkan Analisis return cost ratio, yaitu perbandingan antara penerimaan dan biaya (Soekartiwi, 1995)

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum lokasi pengkajian.

Peternak di Desa Ngestirahayu telah lama memberikan pakan silase daun singkong namun jumlah atau dosis pemberianya belum menentu. Tujuan utama pembuatan silage adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau daun singkong agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak. Sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Pembuatan silase daun singkong menggunakan bahan tambahan yaitu dedak halus sebanyak 4% dari hijauan.

(5)

5 Komoditas ternak ruminansia yang terdapat di Desa Ngestirahayu data tahun 2011 adalah terdiri atas sapi dengan jumlah populasi 364 ekor, kerbau 32 ekor dan Kambing 335 ekor. Kebutuhan akan bahan pakan ternak dipenuhi dari rumput hijauan yang ditamam maupun rumput lapangan dan dari limbah pertanian seperti jerami padi, batang jagung, jerami kacang tanah dan ubi kayu. Jenis tanamam yang ada di Desa Ngestirahayu selain padi terdapat juga tanaman ubi kayu seluas 30 Ha, jagung 25 Ha, kacang tanah 3 Ha, kacang kedelai 2 Ha dan rumput lapang ditambah rumput kebun dan campuran 40 Ha, tanaman ini limbahnya dapat mendukung kesediaan pakan untuk makanan ternak.

Ketersediaan bahan kering(BK) hijauan di Desa Ngestirahayu yaitu sebanyak 2.783.465 kg BK dan Unit Ternak (UT) yang tersedia di Desa Ngestirahayu sebanyak 838 UT sedangkan kebutuhan UT yang baru digunakan sebanyak 454 UT dengan demikian masih ada kelebihan UT sebanyak 383,6 UT atau ternak kambing yang masih bisa dikembangkan sebanyak 383 ekor. (Data potensi bahan pakan di Desa)

Penampilan Ternak selama Pengkajian

Penampilan produksi ternak kambing selama penelitian sebagai terlihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan Pertambahan Bobot Badan dan Konsumsi Ransum Ternak Kambing Selama Penelitian.

Perlakuan Berat Awal kg Berat Akhir kg Pertambahan bobot badan (gr/ekor/hari) Konsumsi Ransum(kg/ ekor/hr) R1 21.83 24.17 51.59 c 1.75 R2 22.00 25.00 71.43 bc 1.94 R3 22.00 25.50 83.44 ab 2.28 R4 20,33 24.50 99.21 a 2.45

Ransum yang di konsumsi adalah unutuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan untuk hidup pokok, produksi dan pertumbuhan kambing. Pada pengkajian ini konsumsi ransum tertinggi 2,45 kg/ekor/hari yang ditampilkan oleh perlakuan R4 dan yang terendah oleh perlakuan R1 (1.75 kg).

(6)

6 Dari hasil penelitian ini juga terlihat bahwa semakin tinggi konsumsi ransum juga diikuti semakin tingginya pertambahan bobot harian walaupun hasil sidik ragam tidak berpengaruh nyata. Lebih lanjut Church dan Pond (1982) menyatakan bahwa konsumsi pakan dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu palatabilitas, tektur fisik pakan dan Lingkungan. Hal ini juga didukung hasil penelitian Daniel et al, (2004) menyatakan bahwa kualitas pakan dengan kandungan protein tinggi akan meningkatkan konsumsi pakan.

Dari keempat perlakuan pakan yang digunakan ternyata R4 memperlihatkan hasil yang terbaik dengan rataan pertambahan bobot badan harian 99.21 gr/ekor/hari disusul R3 dengan rataan pertambahan bobot badan 83.44gr/ekor/hari, yang berbeda nyata terhadap perlakuan R1 dengan rataan pertambahan bobot badan 51.59 gr/ekor/hari. Ada kecenderungan semakin tinggi pertambahan bobot badan harian dikuti juga dengan konsumsi pakan, hal ini diduga akibat semakin tingginya protein silase daun singkong, yaitu sebesar 25,75% (sesesudah di buat menjadi silase) dan 21,45% (sebelum dibuat silase). (Analisis proksimat BPTP Lampung, 22 juni 2011) selain itu juga bau khas silase yang lebih disenangi oleh ternak kambing dibandingkan dengan daun singkong yang di keringkan saja sedangkan kandungan rumput lapang yaitu 6,69 % (Martawidjaya. 2002).

Analisis Ekonomi

Hasil analisa ekonomi pada masing-masing perlakuan terlihat pada Tabel 4. Hasil pada Tabel 4. Tampak bahwa perlakuan R4 memberikan pendapatan lebih besar yaitu Rp. 183.970 dibandingkan R1, R2 dan R3 dengan nilai R/C ratio 1.07. dengan nilai ini dapat dinyatakan bahwa pemberian silase daun singkong hingga seratus persen dapat memberikan manfaat atau layak untuk dilakukan usaha.

Dari hasil analisa usaha ternak kambing diperoleh keuntungan R1 sebesar RP 69170,- R2 adalah Rp 86670,- R3 Rp 90170,- dan R4 sebesar Rp 183970,- R/C = R1=1,03, R2=1.03, R3=1.04 dan R4=1,07.

(7)

7 Tabel 4. Analisa Usaha Ternak Kambing.

Parameter Perlakuan R1 R2 R3 R4 Input : Pembelian kambing 2.520.000 2.625.000 2.310.000 2.383.500 Pakan Hijauan 31.500 31.500 31.500 25.200 Obat cacing 5.000 5.000 5.000 5.000 B-Komplek 3.000 3.000 3.000 3.000

Biaya tenaga kerja 12.600 12.600 12.600 12.600 Biaya penyusutan 35.530 35.530 35.530 35.530 Biaya Tetap, Rp 2.607.630 2.712.630 2.397.630 2.464.830

. Output :

Penjualan Kambing 2,639,000 2,761,500 2.450.000 2.611.000 Nilai Pupuk Kandang 37.800 37.800 37.800 37.800 Jumlah Penerimaan, Rp. 2.676,800 2.799.300 2.487.800 2.648.800

Pendapatan Bersih, Rp. 69.170 86.670 90.170 183.970

R/C 1.03 1.03 1.04 1.07

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan yang dilaksanakan di Desa Ngestirahayu dapat di simpulkan bahwa:

1. Limbah berupa daun singkong yang ada di sekitar Desa Ngestirahayu kecamatan punggur saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, pada musim panen daun singkong melimpah sementara pada musim kemarau peternak kekurangan pakan dan daun singkong juga mengandung senyawa cianida (HCN) yang terdapat dalam getah, yang jika diberikatankan dalam keadaan segar dapat mengakibatkan keracunan pada ternak dan dapat menyebabkan kematian. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dibuatlah silase daun singkong

(8)

8 2. Pemberian silase daun singkong ternyata berpengaruh nyata terhadap kenaikan berat badan harian, ternak kambing yang diberi silase daun singkong 100% mendapatkan kenaikan berat badan harian yang lebih tinggi di banding dengan pemberian yang 75%, pemberian 50%, pemberian 25% dan dengan pemberian 100% rumput yaitu masing- masing 55 gram/ekor/hari, 71 gram/ekor/hari, 83 gram/ekor/hari dan 95 gram/ekor/hari.

3. Hasil analisa usaha menunjukan keuntungan R1 sebesar RP 69170,- R2 adalah Rp 86670,- R3 Rp 90170,- dan R4 sebesar Rp 183970,- R/C = R1=1,03, R2=1.03, R3=1.04 dan R4=1,07, Pemberian silase daun singkong seratus persen ternyata pemberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertambahan berat harian ternak kambing yang pada akhirnya perpengaruh pada peningkatan pendapatan peternak itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. 2011. Analisis proksimat silase daun Singkong. Laboratorium BPTP Lampung.

Chursh, D.C. dan W.G.Pond, 1982. Basic animal Nutrition anf Feeding 2 nd. Ed.Jhon Wiley and Sons New York.

Daniel B. Agustinus. N., Kairipan dan F.F Munier. 2004. Pemanfaatan Daun Gamal (Glirisidia maculate) sebagai Pakan Ternak Kambing pada Perkebunan kakao di Sulawesi Tengah. Prosiding Sistem Integrasi Tanaman Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

Gatenby. R.M. 1986. Sheep Productionin the tropics and sub-tropics Tripical Agreculture Series. Longman, London and New York: 145-168

http://jajo66.wordpress.com/2008/06/02 dasar-dasar pembuatan silase 15 juli 2012 http:/Urip santoso.wordprees.com./2008/04/08/perubahan komposisi kimia daun ubi kayu

yang di frementasi dengan EM4 20 juli 2012

Martawidjaya. M, dan B. Setiadi, D. Yulistiani, D. Priyanto dan Kuswandi. 2002. Pengaruh Pemberian konsentrat protein tinggi dan rendah terhadap penampilan kambing jantan Kacang dan persilangan Boer. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbangnak. Badan Litbangtan. Deptan, Bogor.

McDonald, P.R.A. Edward and J.F.D.Grennhalgh. 1988. Animal Nutrition. 4th Ed. LongmanScientific & Technical, New York : 321-370

(9)

9 Soekartawi. 1995. Analis Usaha Tani. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)

Steel, R.G.D dan J. H. Torrie. 2006. Prinsip dan Prosedur Statistika (terjemahan) Cetakan ke-4 PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hal 289-300.

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis penelitian ini adalah dengan pembuatan silase daun akasia dengan penambahan kombinasi feses sapi dan urea dapat meningkatkan kandungan nutrisi silase

Kandungan nutrisi hasil fermentasi dengan waktu yang ideal untuk pembuatan bahan baku pakan ikan belum diketahui secara signifikan, karena setiap perlakuan memiliki

Penelitian dilakukan melalui 3 tahapan, yaitu (1) tahap pembuatan ekstrak etanolik daun singkong (EEDS); (2) pengujian kandungan flavonoid; (3) pengujian daya analgesik

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,