• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENERASI INDIGO. Oleh: Dra. Lilis Madyawati, M.Si *)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GENERASI INDIGO. Oleh: Dra. Lilis Madyawati, M.Si *)"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

GENERASI INDIGO

Oleh: Dra. Lilis Madyawati, M.Si *)

Abstract

Indigo child fenomenon typical minded suspected due to a mistake in the performance of the brain (brain worksystems) are disrupted. They are more than normal children interns of empathy and creativity and unique behavioral characteristics. Because it has a sixth sense, they are considered to have ability to describe past and future. In order for the development of his soul is not disturbed, it’s better indigo children are treated fairly.

Keywords: indigo

A. Pendahuluan

Indigo merupakan fenomena baru kehidupan manusia yang memiliki ketajaman indra keenam. Bocah indigo mengacu pada zaman baru yang percaya bahwa beberapa bocah terutama yang lahir setelah tahun 1970, menghadirkan tingkatan lebih tinggi pada evolusi manusia. Jangka waktu itu sendiri mengacu pada keyakinan bahwa bocah itu mempunyai suatu “aura indigo”. Beberapa orang yakin bahwa bocah indigo mempunyai kemampuan paranormal yang bisa membaca pikiran orang lain. Yang membedakan dari non-Indigo children adalah ciri-ciri mereka lebih dari anak-anak biasa dalam hal empati (pengenalan jiwa orang lain) dan kreativitas.

B. Definisi Indigo

Banyak istilah yang dipakai untuk menyebut fenomena anak indigo. Di Rusia para ilmuwan menyebutnya sebagai spesies manusia baru. Dalam majalah Journal Trust Rusia dilaporkan, beberapa ilmuwan Rusia meyakini bahwa di atas bumi saat ini telah muncul suatu spesies “manusia baru” yang disebutnya sebagai “Bocah Biru”. Istilah “indigo” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila (kombinasi biru ungu, yang diidentifikasi melalui cakra tubuh yang memiliki spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu.

(2)

Jaman indigo children berasal dari sebuah penerbitan buku tahun 1982, “Understanding Your Life Through Color,” Nancy Ann Tape, seorang psikolog yang mengklaim memiliki kemampuan melihat “aura” orang-orang. Dia menulis akhir 1970-an dan mulai memperhatikan bahwa banyak anak-anak yang lahir dengan “indigo auras”. Sekarang dia memperkirakan 60% dari orang-orang umur 14- 25 dan 97% anak-anak di bawah 10 tahun adalah indigo.

Gagasan bocah indigo dipopulerkan oleh buku tahun 1998, The Indigo Children”: The New Kids Have Arrived (Bocah Indigo: Bocah Baru telah sampai). Ditulis oleh Lee Carrol and Jan Tober keduanya sepasang suami istri.

Indigo adalah warna nila, biru gelap. Anak indigo adalah anak yang memiliki lapangan aura berwarna nila. Cara berpikirnya yang khas, pembawaannya yang tua, membuat anak indigo tampil beda dengan anak sebayanya.Pancaran aura yang dimilikinya membawa kepada suatu karakteristik perilaku unik. Secara fisik anak indigo sama sekali tak berbeda dengan anak lainnya.

Lewat bukunya Understanding Your Life Through Color, Nancy Tape membuat klasifikasi manusia berdasarkan warna energi atau cakra. Cakra adalah pintu-pintu khusus dalam tubuh manusia untuk keluar masuknya energi. Konon pada tubuh manusia ada 7 cakra, yaitu cakra mahkota ada di puncak kepala, cakra Ajna di antara dua alis, cakra tenggorokan di tenggorokan, cakra jantung di tengah dada, cakra pusar ada di pusar, cakra seks ada pada tulang pelvis, dan cakra dasar ada di tulang ekor.

Anak indigo memiliki keunggulan pada cakra Ajna (the third eyes) yang berkaitan dengan kelenjar hormon hipofisis dan epifisis di otak. Adanya mata ketiga ini membuat anak indigo disebut memiliki indra keenam. Mereka dianggap memiliki kemampuan menggambarkan masa lalu dan masa datang.

Generasi Indigo adalah generasi spiritual, sebuah generasi yang terlahir memiliki kekuatan rohani dan menjalani kehidupan berdasarkan kebenaran dalam yang dipahami tanpa diajarkan lebih dulu. Orang-orang indigo adalah generasi supranaturalis yang mampu memadukan teori-teori sains dan teknologi informatika dengan kemampuan supranatural mereka. Teori-teori fisika seperti mekanika kwantum, gelombang

(3)

elektromagnetik (cahaya dan listrik), medan magnet, dan teori relativitas dipadu dengan teori biokimia seperti genetika, biologi molekuler, sistem hormonal tubuh dan diolah dengan kemampuan supranatural mereka seperti kekuatan pikiran, perasaan dan kehendak.

C. Faktor Penyebab Indigo

Menurut Soewardi (2006) anak-anak indigo mesti disikapi secara hati-hati terutama oleh lingkungan sosial dan keluarganya, karena gejala tersebut adalah gejala ketidakwajaran. Keajaiban anak indigo itu terjadi karena ada kesalahan dalam kinerja otaknya; dengan kata lain sistem kerja otak (neurotransmitter dalam sistem limbik otak) terganggu. Ini yang harus diupayakan kesembuhannya. Oleh karena itu anak indigo tidak perlu diistimewakan; lebih baik diperlakukan secara wajar supaya perkembangan jiwanya tidak terganggu. Perlakuan demikian akan dapat mempercepat kinerja otak anak indigo agar berfungsi seperti sedia kala. Anak indigo itu tidak normal (alias sakit).

D. Macam Indigo

Satu hal yang penting digarisbawahi yaitu tidak jarang anak indigo salah diidentifikasi. Mereka sering dianggap sebagai LD (Learning Disability) ataupun anak ADD/ HD (Attention Deficit Disorder/ Hyperactivity Disorder). Perbedaannya adalah ketidakajegan munculnya perilaku yang dikeluhkan. Misalnya pada anak indigo, mereka menunjukkan keunggulan pemahaman terhadap aturan-aturan sosial dan penalaran abstrak, tapi tak tampak dalam kesehariannya baik di sekolah maupun di rumah.

Terdapat 4 macam anak indigo: 1. Humanis

Tipe ini akan bekerja dengan orang banyak. Kecenderungan karir di masa datang adalah dokter, pengacara, guru, pengusaha, politikus atau pramuniaga. Perilaku menonjolnya berupa hiperaktif, sehingga perhatiannya mudah tersebar. Mereka sangat sosial, ramah, dan kokoh berpendapat.

2. Konseptual

Lebih senang bekerja sendiri dengan proyek-proyek yang ia ciptakan sendiri. Karirnya di bidang arsitek, perancang, pilot, astronot, prajurit militer. Dia suka mengontrol perilaku orang lain.

(4)

Tipe ini menyukai pekerjaan seni. Perilakunya yang menonjol berupa sensitif dan kreatif. Mereka mampu menunjukkan minat sekaligus dalam 5 atau 6 bidang seni. Namun banyak remaja minat terfokus hanya pada satu bidang saja yang dikuasai secara baik.

4. Interdimensional

Anak indigo tipe ini di masa datang akan jadi filsuf/ pemuka agama. Dalam usia 1 atau 2 tahun, orang tua merasa tidak perlu mengajarkan apapun karena mereka sudah mengetahuinya.

E. Karakteristik Indigo

Generasi indigo menampakkan suatu sifat psikologis yang serba baru dan lain dari yang lain, serta memiliki sejumlah perilaku yang sangat berbeda dengan sebagian besar keajaiban dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Berikut ciri-ciri anak indigo dalam The Care and Feeding of Indigo Children (Tobler, 2007 ):

1. Anak indigo sangat memiliki rasa ingin berbagi serta menghayati hak keberadaannya di dunia serta heran bila ada yang menolaknya;

2. Sering menyampaikan „siapa dirinya sesungguhnya‟ kepada orang tuanya.

3. Sulit menerima otoritas mutlak tanpa alasan, sehingga anak indigo ini tidak pernah mau menunggu giliran

4. Sangat kecewa bila menghadapi hal-hal tanpa pemikiran kreatif, sering menemukan caranya sendiri tanpa kompromistik;

5. Tampak seperti antisosial, amat sulit bersosialisasi;

6. Tidak merespon terhadap sebuah aturan kaku (misal tunggu sampai ayah datang). 7. Tidak malu meminta apa yang dibutuhkannya

Lebih lanjut Carrol (2008) mengemukakan ciri khas bocah indigo yaitu:

1. Bertingkah dan memiliki rasa „ini adalah tempat saya‟ serta tak suka bila orang lain tak berpikir demikian.

2. Sering memberi tahu kepada orang tua tentang jati diri mereka. 3. Suka membuat aturan sendiri baik di rumah maupun di sekolah.

4. Biasanya introvert (suka menyembunyikan perasaan), merasa orang lain tidak pernah dapat memahaminya.

(5)

5. Tidak pernah pelit terhadap kebutuhan pribadi;

6. Memiliki kemampuan mata batin yang kuat, dapat mengetahui permainan orang dewasa.

7. Mudah hanyut dalam kecanduan/ kebiasaan jelek lainnya.

Anak indigo memiliki kesadaran yang lebih tinggi daripada kebanyakan orang tentang siapa dan apa tujuan hidup mereka. Anak indigo tak pernah mau diperlakukan seperti anak kecil, tak mau mengikuti tata cara maupun prosedur yang ada. Anak ini cerdas dan kreatif baik mental maupun spiritual. Ketika baru lahir jasmaninya tampak kecil tidak sematang mental dan spiritualnya. Pertumbuhan fisik anak indigo tak jauh berbeda dengan anak lainnya, batinnya cenderung sangat dewasa. Tidak jarang mereka sering memberi nasehat orang tuanya masing-masing.

Anak indigo sering dianggap aneh, suka berbicara sendiri, dapat melihat masa lalu dan masa depan serta cenderung lebih matang dari usianya. Karena kecerdasannya di atas rata-rata, maka mereka mampu melakukan hal-hal yang bahkan belum pernah mereka pelajari sebelumnya. Sebagai contoh seorang bocah indigo di Jakarta yang berusia 8 tahun memiliki kemampuan lebih, mampu menguasai bahasa Inggris, Arab, bahkan Belanda melebihi kemampuannya dalam berbahasa Indonesia. Dia sanggup menghipnotis ribuan jama‟ah pengajian yang mayoritas usianya lebih tua dari dia dengan retorika yang indah dan mengena. Dia pun mampu membuat arsitektur rumah berlantai empat sehebat arsitektur kelas dunia (The largest Indonesian Community).

Karena sering berbicara sendiri, banyak orang tua anak Indigo menyangka anak mereka menyandang aautisme atau hiperaktif. Ciri lain yang mudah dikenali ialah memiliki kemampuan spiritual tinggi. Dia dapat melihat mahluk atau materi-materi halus yang tidak tertangkap oleh indra penglihatan biasa. Kemampuan spiritual ini berada dalam wilayah ESP (Extra- Sensory Perception) atau indera keenam yang dapat menjelajah ruang dan waktu. Ketika jasmani anak indigo berada di suatu tempat, pada saat bersamaan dia tahu apa yang terjadi di lokasi lain.

Karena keanehannya ada beberapa orang tua dan masyarakat yang belum dapat menerima sepenuhnya. Hal ini senada dengan pernyataan beberapa psikolog yang berpendapat bahwa lebih baik kemampuan anak indigo ini dinormalkan kembali seperti manusia biasa lainnya. Sadardjoen (2010) menyarankan kepada para orang tua untuk

(6)

“menormalkan” anak-anak istimewa ini, untuk menumpulkan kemampuan si anak dengan cara memberi pengertian kepada mereka bahwa apa yang diketahui si anak semata-mata faktor kebetulan. Sadardjoen berpendapat untuk menumpulkan kelebihan dari anak indigo ini berdasarkan atas rasa khawatir si anak akan tersiksa dengan kelebihan yang dimiliki. Kemampuannya justru akan membuat anak menjadi tidak realistis dan malas, sebab jika suatu saat dia memusatkan energi anak indigo dapat membayangkan soal-soal yang akan keluar dalam ujian sehingga membuatnya malas belajar.

Menurut Leo (2009), ciri lain anak indigo adalah suka menyendiri. Begitu berada pada suatu situasi atau lingkungan baru, anak indigo akan mencermati keadaan sekelilingnya dengan sangat teliti. Kemampuan mereka mengenal suasana dan individu luar biasa. Walaupun terkadang mereka terlihat acuh tak acuh, sebenarnya di balik itu mereka paham apa yang sedang terjadi.

Di bawah ini beberapa karakteristik anak berbakat yang indigo: 1. Memiliki sensitivitas tinggi;

2. Memiliki energi berlebih untuk mewujudkan rasa ingin tahunya yang berlebihan 3. Mudah bosan

4. Menentang otoritas bila tidak berorientasi demokratis 5. Memiliki gaya belajar tertentu

6. Mudah frustrasi karena banyak ide namun kurang sumber yang dapat membimbingnya.

7. Suka bereksplorasi, tidak dapat duduk diam kecuali pada objek yang menjadi minatnya

8. Sangat mudah jatuh kasihan pada orang lain

9. Mudah menyerah dan terhambat belajar jika di awal kehidupannya mengalami kegagalan.

F. Tugas Generasi Indigo

Kemampuan indigo benar-benar kemampuan mandiri, semakin sedikit peran dari kekuatan lain. Maksud dan tujuan dari kehadiran orang indigo adalah tugas yang diembannya di muka bumi ini. Orang indigo secara umum mempunyai tugas:

1. Menjaga harmonisasi alam nyata dan alam supranatural beserta penghuninya, serta manusia dalam hubungan dengan Tuhan.

(7)

2. Membantu penumbuhan kesadaran pada manusia akan kebenaran yang mulai ditinggalkan.

3. Membantu pengeliminasian penyebab ketidakseimbangan harmonisasi dan penumbuhan kesadaran, terutama manusia yang jahat dan buruk ahlaknya dan mahluk lain yang berusaha menggagalkan usaha ini.

4. Saling berkoneksasi dan berinteraksi antar indigo dan mahluk di dimensi lain dalam rangka tugas-tugas di atas.

G. Upaya Penyembuhan Indigo

Perlakuan terhadap anak indigo menurut Soewardi (2006) juga bisa mempercepat kinerja otak anak indigo agar berfungsi seperti sedia kala. Untuk penyembuhannya antara lain dilakukan melalui terapi termasuk terapi religius; terapi melalui agama juga bisa dilakukan. Hindari penyembuhan melalui cara-cara pengobatan yang aneh-aneh atau di luar medis.

Selain itu kecenderungan para psikolog atau psikiatri memberi label „anak indigo‟ sebagai manusia dengan gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) jelas memberi kategori mental disorder pada sindrom ADHD tersebut. Karena sakit jiwa tentunya harus ditangani oleh seorang psikiater dan bukan oleh seorang psikolog. Ironisnya justru seorang psikiater tidak mampu menyembuhkan penyakit ADHD tersebut sampai sekarang ini. Dalam kurun penanganan oleh seorang psikiater kemudian gejala ADHD tersebut mulai tampak berkurang belum tentu menunjukkan efektivitas dari terapinya. Mungkin juga terjadi secara alamiah justru karena atrofi dari kelenjar pineal itu sendiri yang menjadi biang keladi semua fenomen yang tampaknya abnormal tersebut.

Selanjutnya, Erwin (2008) menilai anak indigo adalah anugerah Ilahi. Dalam pandangan Erwin anak indigo pada dasarnya seumur hidup akan indigo terus. Di usia anak-anak mereka kerap berontak. Tetapi ketika dewasa, karena sudah dapat menyesuaikan diri, sikap pemberontaknya berkurang. Artinya, pendampingan terhadap anak indigo sangat diutamakan, agar mereka dapat tumbuh secara wajar. Menurutnya, anak indigo pada dasarnya mempunyai cita-cita berbuat baik dalam menjalani kehidupan di masyarakat. Modalnya sudah di tangan: memiliki indera keenam, IQ-nya di atas rata-rata dan bijaksana, tinggal memolesnya saja. Itulah yang kini telah diupayakan di Barat. Sekolah untuk anak indigo sudah banyak bertebaran. Bagaimana di Indonesia? Itulah

(8)

yang tengah dipikirkan oleh mereka yang sangat peduli pada indigo. Jumlah anak indigo di Indonesia mungkin belum mencapai ratusan. Tetapi dari yang sedikit itu, jika mendapat bimbingan yang sempurna diharapkan mereka kelak menjadi pemimpin masa depan yang arif bijaksana, humanis, dan cinta damai.

Terdapat sekolah khusus untuk anak indigo yang dikelola oleh Organisasi Indigo Indonesia. Karena dengan kemampuan dan kecerdasan mereka melebihi dari anak seusia mereka lainnya biasanya sering menyebabkan mereka malas bahkan memberontak. Untuk mengatasi hal tersebut perlunya sistem pendidikan yang sesuai dengan mereka. Para psikiater yang tertarik menangani kasus kemunculan anak-anak indigo, bersama mereka mencoba merangkul para orang tua dalam menghadapi anak-anak indigo.

H. Tips Mengasuh Anak Berciri Indigo 1. Hargai keunikan anak

2. Hindari kritikan negatif

3. Jangan pernah mengecilkan anak.

4. Berikan rasa aman, nyaman, dan dukungan 5. Membantu anak untuk berdisiplin.

6. Memberikan mereka kebebasan memilih tentang apapun.

7. Membebaskan anak untuk memilih bidang kegiatan yang menjadi minatnya, karena pada umumnya mereka tidak ingin menjadi pengekor.

8. Menjelaskan sejelas-jelasnya mengapa suatu instruksi diberikan, karena mereka tidak suka patuh pada hal-hal yang dianggapnya mengada-ada.

9. Menjadikan diri sebagai mitra dalam membesarkan mereka.

Soewardi (2006) berpesan bahwa anak-anak indigo sebaiknya disikapi secara hati-hati terutama oleh lingkungan sosial dan keluarganya. Sebenarnya gejala tersebut adalah gejala „ketidakwajaran‟. Keajaiban anak indigo itu terjadi karena ada kesalahan dalam kinerja otaknya (sistem kerja otaknya terganggu) (Soewardi, 2006).

Akibatnya tak sedikit yang kemudian bentrok dengan kehendak orang tuanya. Jika orang tua masih otoriter membatasi aktivitas spiritual anak indigo, si anak pasti akan berontak. Oleh karena itu perlunya pendidikan yang harus diketahui oleh orang tua dalam menghadapi anak mereka yang tentu saja berbeda dengan anak-anak biasa lainnya.

(9)

Chapman (1991), memberikan tips untuk mendidik anak-anak indigo sebagai berikut:

1. Perlakukan mereka dengan penuh penghargaan. Jika seseorang tidak menunjukkan penghargaan kepada mereka, mereka juga akan demikian, walaupun seseorang tersebut memiliki otoritas/ kekuasaan;

2. Dengarkan pendapat mereka. Mereka perlu mengetahui bahwa seseorang peduli dan mengenali sistem nilai mereka.

3. Kembangkan kemampuan mereka. Memberi mereka pilihan, seperti misalnya tipe produk yang akan dipelajari, apa perintah untuk pekerjaan yang harus dilakukan. 4. Bangunlah sikap kooperatif dan hindari memberi perintah. Anak indigo tidak akan

peduli terhadap hal-hal yang dimaksudkan untuk mengontrol mereka. Mereka akan peduli terhadap perlakuan yang bersifat adil dan baik.

5. Bantu mereka melakukan hal yang berbeda. Jika mereka frustrasi, misalnya tugas-tugas sekolah, bantulah mendorong mereka untuk berbuat sesuatu yang positif untuk mengubahnya. Seperti menulis surat, karya tulis, puisi, membuat poster, T-shirt, atau mengorganisasi kelompok diskusi.

6. Bantu mereka membangun bakat dan kemampuannya. Dorong mereka untuk kreatif dan berani mengekspresikan kepribadian mereka yang unik.

7. Bersikap toleran terhadap emosinya yang ekstrim. Bantu mereka membuat keseimbangan menggunakan aromaterapi, izinkan mereka minum air putih di kelas, bersikap tenang atau latihan visualisasi.

8. Dorong mereka untuk menjadi sumber kedamaian bagi orang lain, sebab indigo dilahirkan untuk menjadi sumber kedamaian. Dorong mereka untuk melatihnya. Hal ini akan membangun komunikasi dan belas kasih; jadilah pembimbingnya.

9. Jelaskan „mengapa‟ untuk semua hal. Mengapa ada aturan, mengapa mereka perlu mengerjakan pekerjaan rumah/ sekolah, mengapa dunia seperti ini. Jika kita tidak mempunyai jawabannya, pahami rasa frustrasi mereka dan tunjukkan sikap empati. 10. Kurangi pemberian obat-obatan untuk ADD, karena indigo bukan ADD tetapi indigo

secara alamiah memberikan perhatian pada sesuatu secara selektif. Jika mereka dapat fokus pada sesuatu yang mereka pilih untuk jangka waktu yang lama, kemungkinan anak ini indigo, bukan ADD. Walaupun nampaknya ada masalah pada perhatian,

(10)

carilah alternatif terapi, bukan dengan Ritalin. Hindari menekan kreativitas alamiah dan kepemimpinan indigo, tetapi bantulah untuk mengorganisir.

Sebagai orang tua kita juga harus membuat anak indigo disiplin, membuat mereka belajar tentang perilaku yang bisa diterima atau tidak; belajar untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa diterima. Bersikaplah adil, berikan batas toleransi yang pantas. Katakan yang sesungguhnya sesuai dengan usianya. Jangan bohong karena mereka akan tahu. Katakan bahwa dia dicintai dan peluk sebanyak mungkin.

Indigo juga eksploratif dan banyak energi. Akan sangat menolong jika orang tua membantu menyalurkan energi pada sesuatu yang menyenangkan, produktif dan tidak berbahaya.

Berikut hal-hal yang harus dilakukan guru: 1. Jadilah pendengar yang baik;

2. Gunakan pernyataan positif;

3. Sediakan waktu untuk berdiskusi dengan anak indigo; 4. Saling berbagi perasaan antara guru dengan anak indigo;

5. Ciptakan suasana kekeluargaan dalam kelas dengan aturan kelas yang dibuat bersama;

6. Menetapkan konsekuensi berdasarkan penyebab masalah.

Akhirnya, penulis berharap kepada semua orang dewasa untuk bermitra dalam membesarkan anak indigo.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Carol. The Indigo Children Ten Years Later. http:// www. biocassanova.wordpres. com. (akses 2 Desember 2008).

Chapman. 1991. The Indigo Children. London: Chapman & Hall. Erwin W. 2008. Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Kapita Selekta. Leo. 2009. Weaving Patterns of Live. France Agency.

Sadardjoen. Dia yang Dinantikan. http://archive. kaskus.us.thread. (akses 3 Nopember 2010). Soewardi. 2006. Ties that Bind. Borneo Research Council.

(12)

FUNGSI OTAK ANAK DAN UPAYA MEMAKSIMALKAN PERKEMBANGANNYA Oleh: Dra. Lilis Madyawati, M.Si *)

Abstract

Children are born with 10 billion neuron in his brain. The first three years was a period in which glial cells grow to fertilize neurons. Maximize the child’s brain development can be done with a variety of early stimulation, namely minimizing watching TV, introducing books to children, storytelling, excitatory for clever language, play, and respon to the wishes of children.

Keywords: brain function, brain development of children

Otak (enchepalon) merupakan pusat sistem syaraf (central nervous

system) pada vertebrata dan banyak invertebrata lainnya. Otak juga bertanggung

jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik dan

segala bentuk pembelajaran lainnya. Neuron ke seluruh tubuh mengirimkan

berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter yang kemudian

dikirimkan pada celah yang dikenal sebagai sinapsis. Avertebrata seperti

serangga mungkin mempunyai jutaan neuron pada otaknya. Vertebrata besar

bisa mempunyai hingga seratus milyar neuron.

Terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf di

dalamnya dipercayai dapat mempengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan

mengenai otak mempengaruhi perkembangan psikologi kognitif. Generasi

unggul tidak tumbuh dengan sendirinya. Laju tumbuh kembang dan tingkat

inteligensia seorang anak sebenarnya tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan

saja. Ada tiga faktor yang saling mempengaruhi, yaitu genetik atau keturunan,

faktor lingkungan, dan faktor gizi. Para ahli menemukan bahwa 20% tingkat

*) Dosen Kop. Wil. VI dpk di FKIP Univ. Muhammadiyah Magelang

(13)

kecerdasan terbentuk di dalam kandungan. Menurut Rusmil (2010), sel-sel otak

janin terbentuk sejak usia tiga bulan dalam kandungan dan berlanjut sampai

anak berusia tiga hingga lima tahun.

Semakin sering otak menerima „data/ pesan‟ semakin sering pula suatu

kemampuan diasah sehingga menjadi tahap „mahir‟ atau piawai. Di otak, DHA

adalah membran yang paling penting berkaitan dengan fungsi sambungan antar

sel-sel saraf. Sementara asam amino esensial dibutuhkan karena tubuh bayi tidak

dapat memproduksinya. Asam amino esensial, seperti tirosin dan triptofan

bersama-sama dengan mineral dan kolin akan membuat kinerja otak lebih baik

lagi untuk tumbuh kembang optimal.

Selain kualitas, kuantitas makanan bayi juga perlu diperhatikan.

Hendaknya nutrisi makro dan mikro diberikan dalam jumlah yang sesuai dengan

angka kecukupan gizi (AKG). Selain itu, jumlah percabangan saraf (sinaps) di

otak bayi akan bertambah atau berkurang tergantung apakah otak diberi

stimulasi atau tidak.

Apa yang terjadi pada anak yang sedang tumbuh dan berkembang jika

mereka dipapari rangsangan audio dan visual pada saat bersamaan? Berapa

banyak kemampuan otak yang hilang atau bahkan tidak berkembang akibat

suatu kebiasaan.

Anak dilahirkan dengan 10 miliar neuron (sel syaraf) di otaknya. Tiga

tahun pertama sejak lahir merupakan periode di mana miliaran sel glial terus

bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel syaraf ini dapat membentuk ribuan

sambungan antarneuron yang disebut sinaps yang mirip sarang laba-laba dan

axon yang berbentuk memanjang.

Perkembangan otak anak yang sedang tumbuh melalui tiga tahapan,

mulai dari otak primitif (active brain), otak limbik (feeling brain), dan akhirnya

ke neokortex (thought brain)/ otak pikir. Saat menghadapi ancaman atau

(14)

keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik, otak primitif menyiapkan reaksi

fight or flight response bagi tubuh. Otak akan bereaksi secara fisik dan emosi

lebih dulu sebelum otak pikir sempat memproses informasi (Susan, 2010).

Otak pikir yang merupakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak

yang paling obyektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik.

Namun ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi, termasuk

image dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat

bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk

melahirkan gagasan dan tindakan.

Anak membutuhkan pengalaman yang merangsang pancaindera.

Namun, indera mereka perlu dilindungi dari rangsangan yang berlebihan karena

anak-anak itu ibarat spon. Mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar,

dicium, dirasakan, dan disentuh dari lingkungan mereka. Kemampuan otak

mereka untuk memilah atau menyaring pengalaman, rasa yang tidak

menyenangkan dan berbahaya belum berkembang (Susan, 2010).

Apa kerugian otak akibat menonton Televisi?

Ketika menonton TV belahan otak kanan inilah yang paling dominan

kerjanya, sedangkan ketika membaca, menulis, dan berbicara belahan otak kiri

yang dominan. Kedua belahan otak dijembatani oleh bundel urat syaraf yang

disebut corpus collosum. Sisi kanan dan kiri tubuh saling berkoordinasi melalui

jembatan ini. Aktivitas motorik kasar seperti lompat tali, memanjat, lari serta

aktivitas motorik halus misalnya menggambar, merenda, membuat origami, dan

memasak kue merupakan aktivitas penting bagi proses mielinasi C. collosum.

Televisi sesungguhnya hanya memberikan informasi kepada dua indera:

mata dan telinga. Padahal ketajaman visual dan pandangan tiga dimensional

pada anak belum berkembang sepenuhnya sampai usia empat tahun. Gambar

(15)

yang dihasilkan layar televisi itu gambar dua dimensi, tidak fokus dan kabur

karena tersusun dari titik-titik sinar. Itu membuat mata anak-anak harus

memaksa diri agar gambar menjadi jelas. Saat menonton, pupil mata anak tidak

melebar dan nyaris tidak ada gerakan mata yang justru penting dalam kegiatan

membaca. Mata dituntut terus bergerak dari kiri ke kanan halaman saat

membaca.

Membaca buku, berjalan-jalan di alam, atau bercakap dengan orang lain,

di mana anak memiliki kesempatan merenung dan berpikir jauh lebih baik

daripada menonton televisi. Menonton TV merupakan pekerjaan tanpa akhir,

tanpa tujuan dan tak membuat kenyang. Menonton TV tidak ada ujungnya;

membuat anak ingin terus menonton tanpa pernah merasa puas (Susan, 2010).

Otak primitif tidak dapat membedakan mana gambar riil dan mana

gambar dari televisi karena penglihatan merupakan tanggung jawab otak pikir.

Karena itu ketika televisi menayangkan gambar close-up dan

gambar-gambar bercahaya secara tiba-tiba, otak primitif bersama otak limbik segera

menyiapkan respon hadapi atau lari dengan melepaskan hormon dan bahan

kimia ke seluruh tubuh. Degup jantung dan tekanan darah naik. Darah yang

mengalir ke otot-otot anggota badan meningkat, bersiap-siap menghadapi

keadaan bahaya.

Ketika otak anak dipapari rangsangan visual sekaligus suara, yang

diserap hanyalah visualnya. Ilustrasi tentang fenomena ini dapat dilihat pada

sekelompok anak (6-7 tahun) yang disuguhi tontonan video yang suaranya tidak

sesuai dengan gerakan visualnya. Begitu ditanya mereka tidak paham kalau

suara dan gambarnya tidak klop., artinya mereka tidak menyerap isi

tontonannya.

(16)

Mengenalkan Buku Pada Anak

Ranakusuma (2009) mengatakan stimulasi berarti segala pengalaman,

kondisi dan lingkungan yang kondusif dan dapat memberi kontribusi pada

perkembangan anak. Sejak dahulu pun membaca sudah ditanamkan dalam

kehidupan masyarakat Indonesia. Membaca dapat membuka pintu pengetahuan

bagi anak.

Para ahli menegaskan membaca buku bagi anak balita dapat mendorong

keintiman emosional dan komunikasi antara anak dengan orang tua. Bahkan

berdasarkan penelitian, anak yang sering dibacakan oleh orang tuanya ketika

berusia 1- 3 tahun memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik pada usia 2-

5 tahun. Selain itu mereka juga memiliki pemahaman bacaan yang lebih baik

pada usia tujuh tahun dibandingkan anak-anak yang tidak dibiasakan membaca.

Berikut beberapa tips mudah mengajak si kecil menyukai buku:

1. Luangkan waktu 15 menit setiap hari di waktu santai untuk membacakan

cerita pada anak. Saat pulang kerja, setelah makan malam, setelah

mengerjakan pekerjaan rumah atau menjelang tidur.

2. Di sekolah diadakan kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru.

3. Membiasakan memberi hadiah buku pada saat anak berulang tahun.

4. Dorong anak untuk melakukan kegiatan membaca dengan teman-temannya.

5. Ciptakan suasana membaca di rumah maupun di sekolah. Sediakan rak buku

untuk menyimpan buku bacaan yang bervariasi.

6. Ajak anak berwisata buku dengan mengunjungi pameran buku, toko buku

atau perpustakaan.

7. Kurangi waktu menonton TV dan main game. Gunakan waktu untuk

membaca dan membahas cerita yang dibaca. Mintalah pada anak untuk

menceritakan ulang isi buku yang dibacanya.

(17)

8. Kebiasaan membaca juga harus dilakukan oleh orang tua karena orang tua

adalah figur yang akan dicontoh oleh anak.

9. Membiasakan anak membaca merupakan investasi masa depan. Selain anak

menjadi cerdas, membaca juga diyakini dapat membuat seseorang mencegah

degradasi otak seperti pikun (alzheimer) di masa tua mendatang.

Mendongeng

Dongeng dapat membuat anak lebih mudah memahami aturan dunia yang

begitu kompleks melalui dongeng yang sederhana daripada mendengar begitu

banyak larangan dan aturan. Kutner (2009), mengatakan dongeng dapat

mengajak anak memasuki pengalaman hidup tanpa resiko. Anak juga dapat

memetik hikmah dengan mengidentifikasi diri dengan tokoh cerita. Sungguh

luar biasa kemampuan dongeng untuk menanamkan nilai kebaikan. Oktaviani

(2010) menyarankan agar orang tua teliti pada saat memilih dongeng yang akan

diceritakan pada anak. Oktaviani memaparkan beberapa hal yang perlu

diperhatikan orang tua saat ingin mendongeng. Untuk memilih buku cerita,

perhatikan panjang ceritanya. Anak biasanya tidak akan bisa berlama-lama pada

satu hal. Pilihlah cerita dengan durasi sekitar 10 sampai 15 menit. Saat anak

mulai bosan biarkan dia melakukan apa yang dia mau.

Sebaiknya memilih cerita sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Untuk

anak usia dini, pilihlah cerita yang sesuai dengan kegiatan keseharian anak atau

apa yang anak temui di sekitarnya, misalnya tentang hewan, warna, makan atau

bermain ayunan.

Agar anak tertarik pada dongeng yang akan diceritakan, orang tua dapat

memilih buku cerita dengan penyajian visual yang menarik. Anak-anak berusia

dini akan lebih menyukai ilustrasi yang sederhana dengan warna-warna yang

mencolok. Gambar pada buku cerita harus jelas, tidak terlalu ramai dan

(18)

seharusnya dapat menjelaskan cerita bahkan tanpa teks di dalamnya. Terlebih

secara psikologis (Oktaviani, 2010), anak usia taman kanak-kanak akan sangat

menggunakan imajinasi ketika mereka mendengar cerita atau melihat gambar.

Mendongeng/ bercerita memang terdengar kuno, namun dengan mendongeng

para tetua jaman dahulu pun menanamkan nilai-nilai kehidupan pada

anak-anaknya.

Rangsang Anak Agar Pandai Berbahasa

Menurut Gardner, kecerdasan berbahasa yaitu kecerdasan anak dalam

mengolah kata. Misalnya keterampilan menceritakan atau menggambarkan

sesuatu atau kejadian dengan kata-kata. Jika seorang ibu berhasil

mengoptimalkan kemampuan berbahasa anak, maka anak akan mudah

mempelajari bahasa asing. Kemampuan anak dalam berbahasa dapat

menggunakan berbagai media, misalnya buku bacaan anak atau tulisan yang

terdapat di sepanjang jalan. Dengan digunakannya berbagai media anak dapat

berlatih menjadi pembuat pesan.

Saat anak berusia enam hingga delapan tahun keterampilan mereka

berbahasa lebih meningkat. Orang tua dapat melatih keterampilan dasar

berbahasa anak. Salah satu cara di antaranya dengan menantang anak untuk

membuat jurnal perjalanan. Membuat jurnal perjalanan setelah mereka pulang

liburan merupakan cara untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak.

Selain itu juga melatih anak sebagai pembuat atau penyampai pesan.

Rangsangan yang terus menerus dari lingkungan menjadi kebutuhan

pokok mengembangkan kecerdasan berbahasa anak. Selain itu kebutuhan fisik

dan emosi anak dapat terpenuhi dengan mengajak anak mengobrol, menyanyi

atau menceritakan dongeng. Untuk itu, menurut Shihab (2009), lebih baik anak

(19)

diajak mengobrol daripada menonton di rumah saat di dalam rumah atau di

dalam kendaraan pribadi.

Anak yang memiliki kecerdasan berbahasa maka kemampuan logika

berpikirnya pun akan berjalan dengan baik. Satyadi (2010) mengatakan

mengajari anak berbahasa Inggris sedini mungkin memang lebih baik. Ajarkan

anak secara bertahap dalam menerima bahasa baru. Misalnya dari kegiatan

sehari-hari melalui gambar atau sapaan sederhana seperti “good morning” atau

“How are you”.Cara yang paling mudah mengajarkan anak berbahasa Inggris

adalah dengan menggunakannya untuk berkomunikasi dengannya dalam situasi

sehari-hari, mengajaknya bercakap sederhana, membacakan beberapa kata, dan

sebagainya. Sekalipun demikian perlu pula diperhatikan adalah kematangan

anak untuk belajar bahasa asing. Jika anak memang belum siap untuk

mempelajari bahasa baru , jangan memaksakannya.

Bermain

Berbagai stimulus di atas disarankan selama anak tidak merasa terbebani

saat para orang tua memberikan stimulasi tersebut, misalkan memberikan

stimulasi saat anak-anak bermain. Dari stimulasi ini para orang tua dapat

mengetahui bakat dan kecerdasan anak, sehingga tugas orang tua untuk

menempatkan anak sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Kendati demikian,

dalam kehidupan yang modern ini banyak para orang tua tidak banyak waktu

dalam memberikan stimulasi kepada anak. Namun semua itu dapat disiasati

dengan memaksimalkan waktu dan mempertimbangkan kualitas dan kuantitas

pada waktu stimulasi kepada anak. Saat memberikan stimulasi pastikan ada

perubahan pada si kecil. Jika tidak ada perubahan, itu artinya pola stimulasi yang

diberikan segera diubah untuk mudah diterima.

(20)

Stimulasi bisa diberikan saat bermain bersama sehingga akan terasa

menyenangkan untuk si kecil, misalnya memberikan anak kertas gambar dan

krayon agar si kecil bisa menggambar dan mewarnai sesuka hati. Bermainpun

dapat dilakukan melalui lingkungan , seperti menunjukkan kepadanya pohon,

rumput, dan segala yang ada di sekitar rumah. Dengan cara ini anak dengan

mudah memahami dan meniru apa yang telah diberikan orang tua kepadanya.

Selanjutnya Gardner (1993) berpendapat bahwa sekurangnya terdapat 7

kecerdasan yang dapat diasah lewat bermain. Macam permainan dimaksud yaitu:

a. Permainan untuk mengasah kecerdasan linguistik

Mulailah dengan menirukan suara-suara yang ke luar dari mulut anak ketika

anak mulai bubling (mengoceh). Seringlah mengajaknya berkomunikasi

walau dia belum dapat berbicara banyak, serta mulailah banyak membacakan

cerita untuknya.

Ajaklah anak bermain dengan permainan yang bersuara, seperti telepon

teleponan yang bisa mengeluarkan suara, sehingga anak tertarik

mendengarkan dan memainkan. Pada usia tiga tahun, kecerdasan linguistik

dapat diasah dengan memberikan buku yang memiliki teks bagi anak yang

sudah bisa membaca. Bacakan cerita pada anak yang lebih kecil, ajak anak

menceritakan pengalamannya. Orang tua juga bisa memulai membiasakan si

kecil menemukan simbol-simbol di sepanjang perjalanan.

b. Permainan untuk mengasah kecerdasan logis- matematis

Kecerdasan ini sudah dapat diajarkan sejak dini. Caranya, berikan beberapa

benda yang sama pada anak. Misalnya: bola- bola. Lalu sambil

memberikannya pada anak, kita mulai menghitung: „satu‟, dua‟, dst. Anak

mulai dikenalkan pada konsep angka. Dengan bertambahnya usia ajari si

kecil menyusun urutan balok. Di atas usia satu tahun, mulailah mengajaknya

(21)

bermain puzzle sederhana (kurang dari 10 keping) atau bermain balok

membentuk bangunan.

c. Permainan untuk mengasah kecerdasan spasial dan kinetik

Mengasah kemampuan spasial dan kinetik dengan cara memperdengarkan

sumber suara. Misalnya: kerincingan, suara ibu atau ayah. Biarkan anak

mencari sumber suara. Semakin bertambah usia, semakin variatif juga

metode permainannya. Selanjutnya, orang tua juga bisa mengajaknya

bermain dengan benda bergerak. Berikan mainan yang dapat bergerak,

seperti mobil-mobilan. Jalankan mobil tersebut, biarkan si kecil bergerak

mengikuti arah mobil. Orang tua juga dapat memberikan wadah berisi

biskuit kecil untuk anak yang lebih besar dan sudah tumbuh gigi. Biarkan

anak untuk mencoba mengambil dan belajar memasukkan ke mulut. Anak

yang sudah diberikan makanan pendamping ASI dan sudah mulai bisa

duduk, ada baiknya juga didudukkan di kursi bayi (high chair) , sehingga

bisa belajar duduk baik.

d. Permainan untuk mengasah kecerdasan musikal

Kecerdasan yang satu ini juga dapat mulai diberikan sejak dini.

Perdengarkan musik bagi anak. Bunyi-bunyian yang memiliki ritme bebas

juga akan membantu anak untuk belajar memahami bunyi. Pada tahap

selanjutnya asah kemampuan musik si kecil dengan memperdengarkan

musik atau lagu-lagu.

e. Permainan untuk mengasah kecerdasan interpersonal

Jika kemampuan interpersonal seorang anak sudah mulai tumbuh, ajari si

kecil melambaikan tangan, „gimme five’ dan bersalaman untuk merangsang

anak menciptakan interaksi dengan orang lain. Ajaklah anak bermain di

taman/ dekat rumah. Biarkan dia mulai mengenal orang lain di luar

keluarga. Semakin bertambah usia, para orang dewasa dapat mengajak si

(22)

kecil bermain peran. Bermain dengan teman sebaya juga sangat bermanfaat

untuk mengasah kemampuan interpersonal.

f. Permainan untuk mengasah kecerdasan intrapersonal

Pada anak., kecerdasan ini dapat dilatih dengan cara memanggil namanya.

Biarkan dia memahami bahwa itu adalah namanya dan tunggu hingga dia

memberikan respon, misalnya dengan menoleh ke arah pemanggil. Lalu

ajak

si

kecil

menggambar

untuk

mengekspresikan

diri

dan

mengembangkan imajinasi. Dari gambar yang dia buat, si kecil bisa

melihat harapan-harapan ataupun emosi yang saat itu sedang dominan

padanya.

g. Permainan untuk mengasah kecerdasan Naturalis

Cara mengasah kecerdasan ini juga bisa dilakukan melalui cara yang

menyenangkan. Bawa anak ke halaman rumah, perkenalkan dengan

binatang piaraan, perkenalkan dengan tanaman dan pohon-pohon. Lihat

reaksinya. Seiring usia yang bertambah, ajak anak untuk memelihara

binatang, tentu yang tidak berbahaya. Ajak juga si kecil bertanam atau

merawat tanaman.

Menanggapi Keinginan Anak

Menuruti keinginan si buah hati tak selamanya berdampak buruk.

Selama masih dalam koridor positif apa yang orang tua lakukan tersebut

ternyata bisa merangsang kecerdasan si kecil. Verauli (2009) mengatakan

bahwa untuk merangsang kecerdasan anak, orang tua hanya perlu memastikan

sudah seberapa jauh peduli dan mampu menghargai setiap kemampuan yang

dimiliki anak. Bila anak mampu menunjukkan kemampuan yang melebihi

anak seusianya, dapat dikatakan bahwa dia memiliki kapasitas belajar yang

baik alias cerdas.

(23)

Sementara bila anak menunjukkan keterlambatan, orang tua

diharapkan lebih waspada dan berhati-hati dalam memahami setiap respon

yang ditampilkan anak. Ketahuilah apakah keterlambatan hanya disebabkan

keterlambatan biasa mengingat setiap anak memiliki milestone yang berbeda

atau karena kurang stimulasi atau juga ada faktor lain yang menghambat

seperti adanya gangguan-gangguan perkembangan. Oleh sebab itu jeli pada

potensi dan bakat anak dengan cara menyuguhkan berbagai rangsangan

melalui kegiatan yang bervariasi dan menyuguhkan berbagai sarana. Jika

sudah terlihat segera tanggapi, kemudian biarkan anak fokus pada apa yang

diminati selama itu positif dan orang tua cukup mengawasi dan memberi

dukungan pada anak.

Soedjatmiko (2009) mengatakan bahwa dalam masa golden years

period anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa besar. Yang

mengejutkan dan perlu diketahui, bahwa rasa ingin tahu seorang anak periode

ini tidak pernah terulang lagi pada periode mana pun dalam hidupnya. Dalam

mengembangkan kecerdasannya, tanggapi perilaku anak sesuai keinginannya.

Misalnya, saat ibu bermain dengan anak dan anak mengamati mainan, maka

ambil dan berikan mainan itu padanya. Dari apa yang diamati anak, berarti

ada yang ingin diketahui olehnya, dan saat itu anak mendapatkannya. Dia

akan „mengeksplorasi‟ dengan sendirinya benda tersebut. Stimulasi

mempunyai banyak fungsi, di antaranya diperlukan untuk mendorong

terjadinya hubungan antar sel otak anak yang belum terhubung secara

sempurna.

Akhirnya, disarankan untuk tidak menghentikan rasa ingin tahu anak,

jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba

asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Gardner, Howard. 1993. Frames of Mind: the Theory of Multiple Intelligences. Harvard University.

Kutner, Lawrence. 2009.Parent & Child: getting through to each other. Cornel University: W. Morrow.

Oktaviani, Dina. 2010. Bisikan Kata, Teriakan Kota. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta. Ranakusuma, Teguh AS. 2009. Stimulasi dengan Tanaman Obat. Jakarta: Balai Pustaka. Rusmil, K. 2010. “Bulletin of Icon Group the World Health Organization International. Satyadi, Varga. 2010. Diagnosis and Treatment of Diseases in Ayurveda. Concept Publishing

Company.

Shihab, Quraish. 2009. Kumpulan Tanya Jawab Quraish Shihab. “Republika”.

Susan, Beal. 2010. Common Emotions and Activities Experiences. American: Langford. Verauli, Roslina. 2009. Celoteh Anak. Pustaka Anggrek.

(25)

EFEKTIVITAS TERAPI REALITAS UNTUK

MENGHENTIKAN PERILAKU KETERBELENGGUAN:

SEBUAH STUDI KASUS

Lilis Madyawati Abstract

Such condition may be influenced by cognitive distortions (Walker, 1999) Competency model explains that people’s behavior is based on their competence. Every individual is responsible to feel his or her own needs, and responsibility is the basic content of reality therapy (Glasser, 1995). A female client feels being neglected, emotionally abused and feel helpless. During therapy the therapist explains that it was all her responsibility. Realizing thet it was all her responsibility she changed her attitude and behavior resulting improvement of their relationship after 4 phases (2 session each). This paper decribes the phasses of the therapeutic of reality therapy to terminate Stockholm syndrome.

Keywords: Stockholm syndrome, reality therapy. PENDAHULUAN

Terapi realitas diperkenalkan oleh Glasser (1981) terutama untuk mengatasi berbagai masalah psikologis yang dialami para pelajar di Ventura School for Girls. Kemudian metodenya kian banyak digunakan orang dan tidak terbatas untuk masalah di lingkungan sekolah, tetapi juga di berbagai lingkungan. Tanggung jawab individu yang merupakan prinsip dasar terapi realitas untuk memilih berpikir, berkehendak, dan berperilaku. Jika individu hendak memperoleh hasil yang berbeda maka ia harus juga memilih pola pikir, perasaan, serta perilaku berbeda pula (Glasser, 1991).

Kondisi keterbelengguan korban kekerasan terhadap pembelenggu atau pelaku kekerasan dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya. Penyandang keterbelengguan ini cenderung memilih peran sebagai penyandang yang sulit melepaskan diri dari pengaruh sosial budaya yang mendistorsi penalarannya sendiri. Paparan dalam tulisan ini merupakan salah satu contoh kasus penyandang keterbelengguan dalam menjalani terapi realitas yang membantunya dalam melepaskan diri dari pengaruh distorsi penalarannya. Ia adalah seorang istri korban kekerasan suami yang telah menjalani hidup dalam kondisi selaku korban kekerasan selama beberapa tahun lamanya, dan melalui bantuan terapi realitas ia lebih mampu memberdayakan diri dalam menghadapi tindak kekerasan suami.

PERILAKU KETERBELENGGUAN

Seorang penyandang perilaku keterbelengguan tidak sekedar menyerahkan diri kepada orang lain yang memiliki otoritas lebih tinggi daripada dirinya, tetapi ia menjadikan dirinya terbelenggu dan tidak berdaya terhadap otoritas lain tersebut.

Jadi di satu pihak otoritas membelenggu korbannya dan di lain pihak korban menyerahkan diri untuk terbelenggu. Pope dan Cristia Petronemi (2001) menjelaskan

(26)

sindrom ini sebagai kondisi di mana seseorang yang terbelenggu cenderung memiliki rasa nyaman dan kehangatan terhadap orang yang membelenggunya.

Sindrom ini muncul ketika 3 orang perempuan disandera oleh perampok bank (1973) di Stockholm, Swedia. Mereka disandera selama 6 hari dan dalam proses penyanderaan itu mereka juga diperlakukan cukup baik oleh perampok tersebut, bahkan para sandera itu merasa mencintai para perampok. Akhirnya 2 dari 3 sandera menikah dengan para perampok tersebut. (Trigiani, 2001; Walhej, 2004).

Menurut Ehrensaft dan Vivian (1998) banyak korban kekerasan rumah tangga tidak melaporkan tindak kekerasan yang mereka alami karena mereka mempersepsi bahwa: a) kondisi tersebut disebabkan oleh faktor eksternal yang berada di luar kendali mereka; b) perilaku keras memang sudah merupakan bagian dari pribadi pasangan hidup; c) sesungguhnya pelaku kekerasan tidak berniat menyakiti; d) adanya kondisi yang kurang stabil yang kelak akan dapat membaik; dan e) pelaku kekerasan kelak akan menyadari dan memperbaiki diri. Di samping itu, dalam kasus perkawinan laporan tentang adanya kekerasan fisik dalam rumah tangga relatif sedikit. Kalaupun ada laporan kekerasan fisik maka hal tersebut terjadi hanya apabila dampak yang ditimbulkan cukup parah.

Di Indonesia, seorang suami dianggap memiliki otoritas lebih tinggi daripada istri dan tindakan kekerasan terhadap istri masih dianggap wajar oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Demikian halnya kasus yang dipaparkan dalam tulisan ini. Subyek (pasien) merasa suaminya memiliki otoritas yang lebih tinggi daripadanya dan dalam kedudukannya sebagai istri wajarlah jika ia harus mentaati suaminya. Di samping itu, untuk menunjukkan perannya sebagai istri yang baik, ia memilih sikap tidak berdaya terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh suami.

PENYEBAB PERILAKU KETERBELNGGUAN

Hoyenga dan Hoyenga (2003) mengemukakan, bahwa dalam setiap budaya ada sejumlah aktivitas dan pekerjaan yang dianggap memiliki karakteristik gender. Sebaliknya sebagian besar budaya menempatkan kedudukan laki-laki pada umumnya lebih tinggi daripada perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan sesungguhnya tidak menyukai tindak kekerasan. Untuk lebih jelasnya hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Ehrensaft dan Vivian (1998) yang mengemukakan bahwa perempuan cenderung lebih dapat menerima jika ada perempuan yang bersifat agresif dalam upaya mempertahankan diri. Jadi, perempuan lebih mengaitkan agresi sebagai tindak pertahanan diri, sedangkan laki-laki mengaitkan bentuk agresi semata-mata sebagai respon yang layak. Di samping itu, laki-laki juga beranggapan layak untuk melakukan tindak agresi pada pasangannya jika pasangan berselingkuh atau dianggap tidak setia, sedangkan perempuan tidak beranggapan bahwa agresi merupakan tindakan yang layak untuk dilakukan.

Myers (2003) menjelaskan bahwa, walaupun dalam beragam budaya terdapat beragam peran gender, laki-laki cenderung lebih agresif dibandingkan perempuan. Selanjutnya, otoritas, kekuasaan dan kekerasan memiliki hubungan satu sama lain (Noerhadi, 2005). Enam aspek budaya yang terkait dalam kesinambungan ini adalah: a) stereotip; b)

(27)

keterbatasan peluang; c) peran dan peran ganda; d) hak reproduksi; e) otoritas, kekuasaan dan kekerasan; serta f) norma, nilai, dan hukum.Keterbatasan peluang mengacu pada berbagai pertimbangan yang membatasi perempuan untuk mengerjakan pekerjaan tertentu. Di Indonesia, laki-laki dianggap lebih berhak memiliki rumah daripada perempuan. Kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi juga masih berada di bawah laki-laki. Noerhadi (2005) memberikan contoh bahwa dalam banyak keluarga Indonesia, anak laki-laki lebih memiliki peluang dan kesempatan untuk dapat mengikuti pendidikan di perguruan tinggi daripada perempuan.

Di Indonesia laki-laki memiliki hak untuk menentukan keluarga berencana di dalam keluarga, namun perempuanlah yang bertanggung jawab dalam melaksanakan program keluarga berencana tersebut. Konsep ini terkait dengan konsep bahwa laki-laki adalah pemegang otoritas sedangkan perempuan adalah korbannya.

Masyarakat menjadi terbiasa dengan aturan sosial yang berlaku. Dalam kasus tindak kekerasan rumah tangga, sistem nilai sosial yang berlaku dapat menimbulkan distorsi penalaran termasuk penyangkalan dan disosiasi. Dalam kasus kekerasan rumah tangga korban menyangkal diri untuk mempertahankan hidup. Penyangkalan hingga batas ini merupakan alat atau instrumen untuk mempertahankan diri.

Namun dalam kasus keterbelengguan, korban bukan sekedar menyangkal, melainkan justru memiliki kehangatan untuk ada bersama dengan pelaku kekerasan (Somnier & Genefke, 1996). Oleh karena itu mereka cenderung tidak melaporkan tindak kekerasan yang mereka alami, sebaliknya mereka merahasiakan peristiwa-peristiwa tersebut dan melindungi pelaku kekerasan.

TERAPI REALITAS

Terapi realitas merupakan salah satu bentuk psikoterapi yang dilandasi oleh kenyataan bahwa individu berhak memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya (Sharf, 2006). Pada mulanya terapi ini dikembangkan oleh Glasser (1981) terutama untuk mengatasi kesenjangan hubungan pasien dengan terapis yang sungkan mengungkapkan perasaannya kepada terapis. Sebaliknya, jika pasien/konseli bersikap lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaannya, ia menjadi lebih terlibat di dalam proses terapi itu sendiri, dan ia lebih memiliki komitmen dalam mengeksplorasi perilakunya.

Dalam terapinya Glasser (1981) menggunakan teknik metafora sebagai salah satu pendekatannya. Ia juga menggunakan thermostat yang merupakan perangkat pengendali temperatur di dalam ruangan. Selanjutnya sistem pendingin atau pemanas ruang akan bekerja kembali hingga mencapai suhu tertentu dan thermostat kembali akan menghentikan kerja pendingin atau pemanas ruang.

Glasser (1991) menjelaskan bahwa individu mempersepsi lingkungan dan hasil persepsi diolah di dalam fungsi kognitif yang selanjutnya akan mempengaruhi individu dalam memilih respon terhadap persepsinya. Jadi, pada dasarnya perilaku individu ditentukan oleh hasil perbandingan individu atau persepsinya terhadap kondisi-kondisi yang ia hadapi.

(28)

Menurut Glasser, hal-hal yang dipersepsikan individu dan disimpan di dalam diri bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sebagai contoh, seorang alkoholik beranggapan bahwa alkohol akan dapat memuaskan hidupnya, sehingga ia tetap mengkonsumsi alkohol untuk memuaskan dirinya. Kondisi seperti inilah yang relatif mempersulit seseorang untuk hidup di dalam realitas nasional.

Ada 5 kebutuhan yang mempengaruhi kondisi rasional tidak rasionalnya individu (Glasser, 1991), yaitu: a) kebutuhan bertahan hidup (need of survival), b) kebutuhan kebersamaan (need to belong to or belongingness), c) kebutuhan kekuasaan (need for power), d) kebutuhan kebebasan (need for freedom), e) kebutuhan kesenangan (need for fun).

Karena individu menempatkan diri di dalam QW (quality word), maka ia bukan mengalami depresi, melainkan mendeskripsikan diri guna memenuhi kebutuhannya. Glasser (1991) tidak menggunakan istilah depressed melainkan depressing; ia tidak menggunakan istilah anger melainkan angering untuk menggambarkan kondisi individu yang marah. Sharf (2006) menyatakan bahwa individu memilih marah untuk memenuhi kebutuhan kekuasaan. Individu juga dapat memilih marah untuk memenuhi kebebasan berekspresi. Individu tidak harus memilih tindakan marah untuk memperoleh posisi yang lebih unggul (kekuasaan). Jika hasil perilaku itu memberi dampak yang kurang nyaman baginya, maka hal tersebut merupakan tanggung jawabnya sendiri untuk mengubahnya.

Selanjutnya, Glasser (1991) mengemukakan bahwa dalam berprilaku, individu juga dipengaruhi oleh kreativitasnya yang memiliki rentang dari sangat positif seperti berkreasi seni hingga kreativitas yang sangat negatif seperti bunuh diri. Ia melakukan tindakan tersebut untuk memenuhi kebutuhannya misalnya kebutuhan kesenangan; atau mungkin saja ia ingin dikagumi banyak orang (kebutuhan kebersamaan, belongingness). Individu juga dapat bertindak mengurangi makan bahkan tidak makan. Ia merasa dengan mengurangi makan maka penampilannya akan lebih menarik, dan ia menikmati respon lapar secara fisiologis. Glasser (1991) juga memberikan jawaban atas pertanyaan tentang alasan seseorang memilih untuk bertindak yang bersifat merugikan dirinya. Menurut Glasser, tindakan seperti cemas dan menunjukkan kesedihan ditampilkan untuk memperoleh uluran tangan orang lain (belongingness).

Berdasarkan pada tujuan dari terapi realitas, maka pendekatan yang dilakukan untuk kasus seperti ini adalah dengan cara mendidik (pendekatan edukatif), pasien/ konseli untuk melakukan perbandingan antar pilihan mereka secara bertanggung jawab. Konseli harus terlebih dahulu memahami keinginan atau kebutuhannya. Melalui pendekatan edukatif, pasien konseli belajar untuk memahami dampak perubahan sekiranya ia mengubah tindakan, pemikiran, perasaan, dan responnya. Sebagai contoh, jika seorang istri memilih untuk menjadi korban abuse dari suaminya ia mungkin berupaya memenuhi kebutuhan, kebersamaan dengan mengorbankan kebutuhan kesenangan,

SUBYEK

Subyek adalah seorang perempuan berusia 42 tahun dan telah menikah selama 21 tahun serta dikarunia 3 orang anak (2 laki-laki dan 1 perempuan). Ia menikah dengan seorang

(29)

pengusaha sukses yang berpendidikan tinggi di luar negeri.Sekalipun ia tidak bekerja karena semua biaya hidup dapat dipenuhi oleh suaminya dengan layak. Ia sendiri pernah menjadi figur sosial (public figure) di dalam sebuah majalah nasional.

Ia mengaku telah diperlakukan secara kasar oleh suaminya. Ia tidak pernah diijinkan suami untuk memperoleh penghasilan sendiri. Selain itu, selama lebih dari 21 tahun (sejak masa pacaran hingga sebelum terapi) subyek sering dipukul dan dibentak. Suaminya juga berulang kali melakukan perselingkuhan dengan perempuan lain. Ia merasa tidak berdaya mengatasi perilaku suaminya dengan berbagai alasan. Ia merasa bersalah karena ia telah melakukan hubungan seksual dengan calon suaminya ketika mereka masih pacaran dan akibat „dosa‟ (menurut ungkapan subyek) tersebut, ia pantas dihukum dengan menjalani kehidupan yang sulit.

Subyek tidak melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, dan lebih memikirkan kemungkinan untuk menikah dengan calon suaminya yang ketika itu telah menyelesaikan pendidikan SMA-nya dan kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri. Hingga menikah ia menggantungkan diri pada suaminya, mentaati segala perintah suami dan berusaha menjadi istri yang baik sesuai dengan harapan sosial sebagaimana persepsinya. Sebagai seorang istri, ia harus menjalankan peran dengan sebaik-baiknya, termasuk berkorban untuk suami. Ia selalu bersikap setia menanti kepulangan suaminya dan tidak berusaha untuk juga mengikuti pendidikan tinggi, baik di luar maupun di dalam negeri.

Ia begitu tahu sikap suaminya yang begitu keras, namun ia berharap bahwa setelah menikah sikap suaminya akan mengalami perubahan. Suami bahkan berselingkuh dengan perempuan lain beberapa bulan setelah mereka menikah. Korban telah memaafkan dan memakluminya, tetapi suami kembali mengulangi perselingkuhannya yang akhirnya ia juga melakukan perselingkuhan dengan laki-laki lain walau tidak lama. Subyek sangat takut hal ini diketahui suaminya dan tetap merahasiakannya. Entah mengapa sekitar 4 tahun yang lalu kekerasan fisik suami mulai berkurang namun kekerasan verbal suami terus berlanjut. Akhir-akhir ini rumah tangga mereka semakin dipenuhi pertengkaran terutama antara ayah dan anak. Subyek merasa ia tidak memperhatikan perkembangan anak-anaknya. Segala sesuatu kebutuhan anak-anak dipenuhi oleh pembantu. Ia merasa bahwa ia cukup memperoleh perhatian orang tua dan kakak-kakaknya, ia tumbuh dalam rumah tangga yang penuh kasih sayang. Ia mengatakan dapat memaklumi perilaku suaminya yang tumbuh dan dibesarkan di dalam keluarga dan dengan orang tua yang otoriter. Jadi dapat dimaklumi jika suaminya bertindak dengan kekerasan.

Akhirnya, ia menjadi tidak tahan lagi untuk menyimpan perasaannya seorang diri. Konselor spiritual yang pernah ia temui menganjurkannya untuk meminta bantuan psikolog; inilah yang kemudian membawanya untuk menjalani psikoterapi.

PROSES TERAPI

Proses terapi mencakup 4 tahapan: a) evaluasi perilaku, b) menyusun perencanaan perubahan perilaku, c) evaluasi perubahan perilaku, d) terminasi. Tiap tahapan berlangsung dalam 2 sesi, sesi individual bersama subyek dan sesi bersama dengan subyek dan suami.

(30)

Pada sesi keempat terdiri atas evaluasi menyeluruh akan kondisi awal dan kondisi yang sudah dicapai.

Fase Awal

Setelah ia menjelaskan kondisi yang dialami, ia diminta untuk menjelaskan respon-responnya terhadap perlakuan suaminya. Dalam sesi ini subyek belajar memahami apakah responnya dapat membuahkan hasil seperti harapan ataukah tidak memberikan hasil seperti harapannya. Subyek dibimbing untuk memahami bahwa pilihan reponnya itu terarah untuk memenuhi berbagai kebutuhannya termasuk kebutuhan untuk bertahan hidup. Dukungan finansial suami justru membuatnya merasa memiliki kebebasan menggunakan uang dan memperoleh pujian dari berbagai instansi karena keterlibaannya dalam aktivitas sosial.

Pada fase pertama sesi kedua bertujuan memperoleh masukan untuk menguji kebenaran cerita subyek yang pada kenyataannya memang sesuai dengan paparan suami subyek. Pada sesi individual bersama subyek, ia menjelaskan bahwa ia sangat takut dengan suaminya namun ia juga merasa berdosa karena tidak terbebas dari kesalahan sehingga patut menjalani pernderitaan tersebut.

Fase Kedua

Pada fase ini subyek diminta untuk mempertimbangkan dampak berperilaku pasif dan asertif. Selanjutnya ia diberikan „pekerjaan rumah‟ untuk mencobakan alternatif perilaku untuk menghadapi tindakan kekerasan suami termasuk dengan jalan: a) menghindar, b) mencari perlindungan keluarga, c) bersikap lebih asertif dan tidak bersedia diperlakukan sebagai korban kekerasan.

Pada fase kedua sesi kedua subyek mengatakan bahwa suami menghentikan tindak kekerasa fisik, namun masih melakukan kekerasan verbal hingga suatu saat subyek bersikap „melawan‟ dengan lebih asertif. Perlawanan subyek pada kenyataannya membuat sumi tidak melakukan tindak kekerasan lebih jauh.

Fase Ketiga

Pada fase ketiga sesi pertama, perubahan perilaku subyek juga ternyata berlanjut tidak sekedar menghadapi tindak kekerasan suami dengan lebih berani, tetapi subyek juga mulai berani memberdayakan diri untuk membuka usaha sendiri yang semula dianggapnya menentang kehendak suami. Pada sesi ini subyek semakin menyadari bahwa banyak persepsinya selama ini keliru. Kenyataannya berbagai ancaman yang ia cemaskan tidak sungguh-sungguh muncul. Sebagai contoh, suami mungkin melakukan tindak kekerasan sebagai bentuk pelampiasan perasaan tertekan di tempat kerja, bukan karena subyek memiliki usaha.

Pada fase ketiga sesi kedua, rasa bersalah masih menghantui si subyek, anggapan bahwa ia bukan istri yang baik masih menimbulkan keraguan. Sementara itu subyek merasa

(31)

khawatir karena kekerasan verbal suami terhadap anak-anak masih berlangsung walau anak-anak memberi perlawanan. Subyek merasa tidak mampu mengatasi dan ia merasa bukan seorang ibu yang baik, walau kini tidak terlalu dipersalahkan oleh anak-anak sebagai seseorang yang tidak berdaya.

Fase Keempat

Pada fase keempat sesi pertama, subyek kini merasa lebih berdaya khususnya karena ia merasa lebih mandiri dengan memiliki usaha kecil sekalipun secaca finansial ia tidak terlalu membutuhkannya. Di samping itu segala bentuk kebutuhan pembelanjaan yang ia gunakan merupakan uang penghasilan suami. Ia mengaku dapat menyisihkan dana dari suami untuk pendidikan anak-anak di perguruan tinggi sedangkan kebutuhannya dapat dipernuhi dari hasil usaha kerajinan tersebut.

Walaupun masih dihantui rasa bersalah pernah menjalani peran sebagai ibu yang kurang mendukung anak-anaknya, kondisi ini tidak lagi dirasakan terlalu mengganggu seperti sebelumnya. Anak-anak dirasakan menjadi lebih dekat, lebih bersedia berkomunikasi dengan ibu dan tidak lagi terlalu menyalahkan ibu seperti sebelumnya.

Evaluasi juga diberikan sebagai terminasi yang diarahkan pada pemahaman baru bahwa berbagai tindakan tersebut merupakan hasil pilihannya sendiri dengan terlebih dahulu membandingkan alternatif perilaku serta dampak dari berbagai kemungkinan respon yang dapat ia lakukan.

Follow Up

Setelah diberikan layanan konseling realitas oleh penulis, pada follow up ini tindak kekerasan termasuk cemooh verbal tidak lagi dialaminya. Pertentangan antara anak dan orangtua jauh berkurang. Catatan konflik terakhir adalah keberatan suami melepas anak bungsu untuk kuliah di luar kota, tetapi konflik ini tidak berkepanjangan karena akhirnya anak bungsu berhasil masuk perguruan tinggi di dalam kota. Interaksi anak dengan ibu meningkat secara kuantitatif.

KESIMPULAN DAN DISKUSI

Terapi realitas merupakan salah satu bentuk terapi yang efektif untuk menghentikan perilaku keterbelengguan. Sekalipun bentuk terapi ini belum tentu dapat dimanfaatkan bagi semua orang, namun pada sejumlah kasus pendekatan ini dapat diterapkan dengan disertai harapan untuk memberikan hasil yang baik. Subyek (konseli) dalam kasus ini dapat melakukan perubahan karena ia memiliki kesediaan untuk bersikap lebih rasional, berpikir lebih rasional, dan bersedia mengubah irasionalitasnya serta emosionalitasnya. Lebih mudah baginya untuk menerima masukan edukatif serta saran untuk perubahan. Kesediaan serta kesiapan tersebut ditandai dengan kesediaannya untuk mengikuti program secara disiplin dan melakukan pekerjaan di rumah dengan baik.

Bentuk terapi ini juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan serta sosial ekonomi subyek yang cukup mendukung, sehingga subyek merasa memiliki tempat berlindung

(32)

sekiranya ia memperoleh ancaman lebih lanjut. Sekiranya subyek tidak memiliki dukungan latar belakang seperti ini, pendekatan terapi realitas mungkin akan menghadapi kendala akibat keterbatasan fungsi nalar atau keterbatasan dukungan anggota keluarga. Kondisi hidup seseorang ditentukan oleh pilihan tindakan individu yang bersangkutan. Pendekatan ini mengandung nilai edukatif bagi seseorang untuk belajar memilih perilaku secara bertanggung jawab untuk kesejahteraan dirinya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Ehrensaft; Vivian. 1998. Without Conscience: Teh Disturbing World of the Psychopaths among us. The Guilford.

Glasser. 1981. Social Psychology. Understanding Human Interaction. Boston: Allyn & Bacon, Inc.

Glasser. 1985. Relationship Qualityin dating Couples. Journal of Personality and Social Psychology, 58 (673- 674).

Glasser. 1991. Stockholm Syndrome. Cambridge: Blackwell Publisher. Hoyenga & Hoyenga. Family is a Contect for Human Development: Research.

Perspective, http://www.psy.pdx.edu/key Theorist/ Bronfenberner htm. (accesed 6 Mei 2008). Myers. 2003. Kesetaraan Gender dalam Adat. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Noorhadi.2005. Perilaku Keterbelengguan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Pope & Cristia Petronemi. Social Support and Health. http.//www. Qestia. com. (accesed 6 Mei 2008).

Sharf. Woman and Stockholm Syndrome. http://www.google.com. (accesed 9 Juni 2008). Gonefke, Somnier. 1998. Patern of Human Efectivness. Tokyo: Mc. Graw- Hill. Trigiani.

Stres Dalam Keluarga. http://www. Google/ infoibu. Com. (accsed 10 Juni 2008). Walfej. Social Support from Family. http://www. Mentalhelp.net. (accesed 4 Mei 2008). Walker. 1999. Health Psychology. Singapore. Mc. Graw- Hill. Inc.

Referensi

Dokumen terkait