• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual

Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu: 1) Variabel Kepemimpinan transformasional.

Variabel ini dipilih karena Kepemimpinan merupakan salah satu elemen penting dalam mencapai, mempertahankan dan meningkatkan kinerja organisasi.

2) Variabel Kualitas Kehidupan Kerja (quality of work life)

Kualitas kehidupan kerja karyawan sangat penting diperhatikan oleh pimpinan, karena secara langsung maupun tidak langsung akan memotivasi karyawan untuk bekerja dengan baik. Kedudukan karyawan telah menjadi mitra strategis bagi organisasi dan bukan hanya menjadi alat produksi semata.

3) Variabel Perilaku Ekstra Peran (organizational citizenship behavior)

Variabel ini sangat menarik untuk dikaji, karena perilaku karyawan tidak semata inrole, namun juga bagaimana extra role, atau OCB ini dapat membantu karyawan mewujudkan tanggung jawab perannya. Karena dengan OCB, karyawan dapat saling membantu satu sama lain sehingga dapat menciptakan kondisi yang mampu memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik lagi.

Ketiga variabel di atas dapat dijelaskan dengan konsep sebagai berikut: 1. Definisi variabel kepemimpinan transformasional

Konsep kepemimpinan transformasional dalam penelitian ini mengacu pada teori yang dikembangkan oleh Bernard Bass, dimana kepemimpinan transformasional diartikan sebagai kepemimpinan yang sejati, karena mampu membentuk konsensus bersama anggota grup dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Kuesioner yang dipakai adalah MLQ (Multifactor Leadership Questionnaire) yang dikembangkan Ivancevich (1999). Kuesioner ini mengukur empat dimensi dari kepemimpinan transformasional, yaitu idealized influence, inspirational motivation, intelectual

(2)

stimulation, dan individualized consideration. Masing-masing dimensi diberikan 5-7 pertanyaan dalam bentuk skala likert.

2. Definisi variabel kualitas kehidupan kerja (QWL)

Konsep kualitas kehidupan kerja pada penelitian ini merujuk pada teori Cascio (2006), yaitu mengatakan bahwa kualitas kehidupan kerja adalah sejumlah keadaan dan praktek dari tujuan organisasi. Variabel QWL ini memiliki sembilan indikator yang masing-masing indikator memuat 6-7 pertanyaan. Kuesioner tentang QWL ini memiliki banyak versi, dan pada penelitian ini mengadopsi dari Quality of Worklife Module-NIOSH, dan sebagian pertanyaan mengadaptasi dari penelitian Leo Lingham.

3. Definisi variabel perilaku ekstra peran (OCB)

Konsep variabel perilaku ekstra peran atau OCB pada penelitian ini didasarkan dari teori Organ, yang mengasumsikan bahwa perilaku ekstra peran dapat mewakili sebuah bentuk kinerja yang lebih luas yang dapat dan berkaitan dengan tipe kepribadian dari karyawan. Perilaku yang baik dari karyawan ditunjukkan melalui lima (5) dimensi, yaitu altruism, civic virtue, constiusness, courtesy dan sportmanship. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini mengadaptasi dari penelitian Podsakoff et al (2000).

Mengapa pada penelitian ini mengaitkan ketiga variabel di atas adalah karena manusia sebagai sumber daya berperan sangat penting di dalam kehidupan organisasi. Setiap strategi yang dilaksanakan organisasi diharapkan akan membawa perubahan ke arah yang baik. Peran aktif sumber daya manusia tersebut salah satunya sebagai pemimpin organisasi. Pemimpin yang baik dapat bertindak cepat dalam mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup suatu organisasi. Berbagai manusia dengan tipe kepemimpinan dapat ditemukan di dalam organisasi, salah satunya adalah kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan ini bertindak sebagai motor penggerak organisasi. Kebutuhan dan keinginan yang beragam dari karyawan perlu dicermati oleh pemimpin karena dapat menciptakan suatu lingkungan kerja yang kondusif, yang disebut dengan kualitas kehidupan kerja (quality of work life).

(3)

Berbagai dimensi di dalam kualitas kehidupan kerja tersebut diharapkan akan menghasilkan lingkungan kerja yang lebih manusiawi dan berupaya agar dapat memenuhi kebutuhan karyawan yang lebih pokok. Bila karyawan merasa telah terpenuhi segala kebutuhan pokoknya, maka akan tercipta lingkungan kerja yang kondusif dan mereka akan merasa diberi penghargaan, tidak saja secara materi namun juga immaterial.

Dengan konsep kualitas kehidupan kerja ini diharapkan karyawan akan memiliki motivasi untuk lebih bekerja dengan baik. Tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepada karyawan akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Karyawan memainkan peran yang berkontribusi kepada sesama karyawan. Kontribusi tersebut seperti perilaku menolong sesama yang lain, kerelaan melakukan pekerjaan tambahan, menjunjung prosedur dan aturan kerja tanpa menghiraukan permasalahan pribadi. Perilaku ini disebut dengan perilaku ekstra peran. Identifikasi faktor-faktor perilaku ekstra peran akan membantu pimpinan menerapkan gaya kepemimpinan di dalam organisasi yang nantinya berkontribusi pada pencapaian visi dan misi organisasi (Gambar 3).

(4)

Gambar 3. Konsep Kerangka Pemikiran konseptual

= Lingkup Penelitian

Gambar 3 Kerangka pemikiran

3.2Perumusan Hipotesa

Hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah:

Hipotesis 1: Terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan transformasional terhadap perilaku ekstra peran (OCB)

Hipotesis 2: Terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan transformasional terhadap kualitas kehidupan kerja (QWL)

Hipotesis 3: Terdapat pengaruh yang signifikan kualitas kehidupan kerja (QWL) terhadap perilaku ekstra peran (OCB).

Visi , Misi dan Tujuan UT Strategi SDM Kepemimpinan Transformasional Kualitas kehidupan Kerja

Perilaku Ekstra Peran

Masukan Bagi Pimpinan UT

Visi , Misi dan Tujuan UT Strategi SDM Kepemimpinan Transformasional Kualitas kehidupan Kerja

Perilaku Ekstra Peran

(5)

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di Universitas Terbuka, Jl. Cabe Raya Pondok Cabe Tangerang. Obyek dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Pusat khususnya staf Administrasi. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan cara sengaja karena UT merupakan salah satu universitas negeri yang melaksanakan pendidikan jarak jauh dan terbuka dan beroperasi di seluruh wilayah Indonesia. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2011 sampai bulan Nopember 2011.

3.4. Data dan Sumber Data

Data dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini tampak pada Tabel 2. Tabel 2. Jenis dan Sumber Data

No. Jenis Data Sumber Data

1. Primer Staf administrasi UT Pusat

2. Sekunder Literatur, Buku, Jurnal, Tesis, Disertasi serta data kepegawaian dan SDM UT.

3.5. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei dengan menggunakan kuesioner. Bentuk kuesioner adalah kuesioner tertutup. Instrumen penelitian menggunakan skala likert dari 1-5, pengukuran yang digunakan dengan memberikan bobot tertentu pada setiap jawaban pernyataan. Likert digunakan untuk menganalisi pengaruh penerapan kepemimpinan transformasional dan kualitas kehidupan kerja terhadap perilaku ekstra peran karyawan dengan analisis regresi berganda. Variabel yang ada terdiri dari variabel:

1. Variabel laten eksogen (ξ) adalah kepemimpinan transformasional, dan kualitas kehidupan kerja (QWL), yang terdiri dari :

(6)

KT.1 = Kharisma

KT.2 = Perhatian Individu

KT.3 = Memotivasi secara intelektual KT.4 = Memberi aspirasi

b. Kualitas Kehidupan Kerja (Quality of Work Life) (ξ1) adalah persepsi-persepsi karyawan bahwa organisasi mengenal peranan sumber daya manusia dan perbaikan produktivitas dan menghargai kekuatan tenaga kerja yang mempunyai komitmen, terutama diarahkan pada sumber daya dan manajemen, dimana karyawan dapat memberikan kontribusi ada perbaikan kinerja maksimum. Usaha ini dinamakan quality of work life (Wibowo,2009). Indikator QWL terdiri dari : QWL.1 = Partisipasi karyawan QWL.2 = Pengembangan Karir QWL.3 = Komunikasi QWL.4 = Keselamatan Kerja QWL.5 = Kebanggaan

QWL.6 = Kompensasi yang Layak QWL.7 = Keamanan Kerja

QWL.8 = Kesehatan Kerja QWL.9 = Penyelesaian Konflik

2. Variabel laten endogen adalah perilaku ekstra peran (η). Perilaku ekstra peran atau organizational citizenship behavior (OCB) adalah perilaku kerja karyawan yang bekerja tidak hanya pada tugasnya (in-role) tetapi juga tidak berdasarkan pada kontrak. Indikator OCB, yaitu :

OCB.1= Altruism OCB.2= Civic virtue OCB.3= Conscientiousness OCB.4= Courtesy

(7)

Jenis skala pengukuran yang digunakan pada kedua variabel yaitu, variabel eksogen dan variabel endogen adalah skala ordinal. Skala pengukuran instrument berupa kuesioner menggunakan skala Likert, yaitu pertanyaan tertutup yang mengukur sikap dari keadaan yang negatif ke jenjang yang positif. Digunakan untuk mendapatkan data tentang dimensi-dimensi dari variabel-variabel yang dianalisis dalam penelitian ini, dengan 5 alternatif nomor untuk mengukur sikap responden.

Dalam penelitian ini penskoran atas kuesioner skala Likert yang digunakan dalam merunjuk pada lima alternatif jawaban, sesuai Tabel 3. Instrumen penelitian skala Likert dari 1 – 5, yang memuat dimensi kualitas kehidupan kerja meliputi: sistem imbalan yang memadai, partisipasi dalam penyelesaian masalah, restrukturisasi kerja, kondisi lingkungan kerja yang aman, keseimbangan kehidupan kerja dan kehidupan pribadi, dan perilaku ekstra peran yang berintikan: altruism, civic virtue, conscientiousness, courtesy, sportsmanship.

Tabel 3. Skor skala Likert

a. Sangat Tidak Setuju Nilai 1

b. Tidak Setuju Nilai 2

c. Netral Nilai 3

d. Setuju Nilai 4

e. Sangat Setuju Nilai 5

Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang kejadian sosial. Cara penilaian terhadap hasil jawaban kuesioner dengan skala likert dilakukan dengan rumus :

Setelah memperoleh rataan skor dari masing-masing pertanyaan, kemudian dihitung skor rataan akhir dengan rumus :

(8)

Keterangan :

= Skor rataan pernyataan

= frekuensi yang memiliki pernyataan ke – i n = jumlah responden

= skor rataan akhir

Wawancara dilakukan kepada karyawan-karyawan untuk mengetahui persepsi mereka mengenai penerapan kepemimpinan transformasional dan kualitas kehidupan kerja terhadap perilaku ekstra peran karyawan.. Wawancara yang dilakukan kepada pimpinan, ditujukan untuk mengetahui tanggapan mengenai kinerja bawahannya yang berkaitan dengan penerapan QWL dan perilaku ekstra perannya. Pengumpulan data melalui studi pustaka akan dilakukan berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu dan teori-teori yang sudah ada. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 220 responden.

3.6. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data

Data penelitian yang terkumpul dari observasi, kuesioner, wawancara, dan studi literatur yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan model persamaan struktural (Structural Equation Modeling – SEM) dengan menggunakan Software SmartPLS (Partial Least Structural) dan bantuan SPSS (Statistical Program for Social Sciences) 17.00. Untuk keperluan penolakan atau penerimaan hipotesis, digunakan taraf signifikansi P < 0,05. SPSS digunakan untuk menghitung validitas dan realibitas dari instrument penelitian yang digunakan. Data kuisioner dalam bentuk skala ordinal dikonfersi ke dalam bentuk skala interval.

3.6.1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah analisis yang berkaitan dengan pengumpulan data dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna. Analisis deskriptif dilakukan dengan cara menabulasi hasil kuisioner secara manual,

(9)

bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas kehidupan kerja dan perilaku ekstra peran karyawan berdasarkan karakteristik responden seperti usia, jenis kelamin, golongan dan lama waktu bekerja.

Analisis deskriptif mengGambarkan proporsi jawaban responden terhadap berbagai pilihan jawaban yang mendeskripsikan tentang perilaku ekstra peran melalui butir-butir peryataan yang tersedia dalam kuesioner.

3.6.2 Analisis SEM dengan PLS

Analisa pengaruh kepemimpinan transformasional dan kualitas kehidupan kerja terhadap perilaku ekstra peran karyawan menggunakan model Structual Equation Model (SEM) dengan PLS.

Terdapat beberapa alasan untuk menggunakan alat analisis PLS, antara lain: 1. Data tidak harus berdistribusi normal multivariate (indikator dengan skala

nominal sampai ratio dapat digunakan pada model yang sama)

2. Dapat digunakan pada sample kecil. Minimal direkomendasikan sample > 30 telah dapat digunakan.

3. PLS selain digunakan untuk mengkonfirmasi teori, tetapi dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar variabel laten.

4. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indicator refleksif dan formatif.

5. PLS mampu mengestimasi model yang besar dan komplek dengan ratusan variabel laten dan ribuan indikator (Ghozali, 2006).

3.6.3 Model Spesifikasi dengan PLS

1) Inner Model (Inner relation, structural model dan substantive theory)

Inner Model atau disebut juga inner relation mengGambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan pada teori. Model struktural dievaluasi dengan melihat nilai R-Square untuk konstruk laten dependen, Stone Geisser Q-square test untuk predictive relevance dan uji t, serta signifikansi dari koefisien

(10)

parameter jalur struktural. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen terhadap variabel laten dependen.

2) Outer Model (Outer Reletion atau Measurement Model)

Outer Model atau outer relation mendefinisikan bagaimana hubungan antar variabel laten dengan indikator. Outer Model terdiri dari 2 (dua) macam mode, yaitu mode reflective (mode A) dan mode formative (mode B). Mode reflektif merupakan relasi dari peubah laten ke peubah indikator atau ”effect”. Sedangkan mode formative merupakan relasi dari perubah indikator membentuk peubah laten ”causal”.

Model pengukuran dengan indikator reflesi dievaluasi dengan Convergent Validity dan Discriminant Validity dari indikatornya. Convergent Validity dari model pengukuran dengan refleksif indikator dengan penilaian didasarkan pada korelasi antara item score dengan construk score. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,70 dengan konstruk yang ingin diukur. Namun demikian untuk penelitian awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,50 sampai dengan 0,60 dianggap cukup (Chin, 1998 dalam Imam Ghozali, 2006).

Discriminat validity dari model pengukuran dengan indikator refleksif dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruk. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk lainnya, maka hal itu menunjukkan bahwa konstruk laten memprediksi ukuran pada blok mereka lebih baik daripada ukuran pada blok lainnya. Cara lain adalah melihat nilai square root of average variance extracted (AVE) setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. Jika nilai akar AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik (Ghozali, 2006). Selain itu dievaluasi juga composite reliability dari blok indikator. Composite reliabilty blok indikator yang mengukur suatu konstruk dapat dievaluasi dengan dua macam ukuran yaitu internal consistensy dan Cronbach’s Alpha.

(11)

3) Weight Relation, Inner dan Outer model memberikan spesifikasi yang diikuti

dalam estimasi algoritma PLS.

Ghozali (2006) mengutip pendapat dari Chin bahwa karena PLS tidak mengasumsikan adanya distribusi tertentu untuk estimasi parameter, maka teknik parametrik untuk menguji signifikansi parameter tidak diperlukan. Model evaluasi PLS berdasarkan pada pengukuran prediksi yang mempunyai sifat non parametrik.

Metode SEM menggunakan dua macam komponen yaitu : 1. Variabel Laten

Variabel laten adalah variable kunci yang menjadi perhatian. Variabel laten tidak dapat diobservasi, sehingga tidak dapat diukur secara langsung. Variabel laten dibagi menjadi dua macam variabel yaitu variabel eksogen (ξ) dan variabel endogen (η). Variabel eksogen adalah suatu variabel yang tidak dapat dipengaruhi oleh variabel lain (atau disebut variabel independen didalam model regresi). Sedangkan variabel endogen adalah variabel yang dapat dipengaruhi variabel lain. Pada penelitian ini, variabel eksogen adalah penerapan kepemimpinan transformasional dan kualitas kehidupan kerja sedangkan variabel endogen adalah perilaku ekstra peran.

2. Variabel teramati atau indikator. Merupakan variabel yang dapat diamati atau dapat diukur secara empiris. Notasi matematik untuk variable teramati yang merupakan ukuran dari variable eksogen (ξ) adalah X, sedangkan yang merupakan efek dari variable laten endogen adalah Y. pada penelitian ini indikator sebagai refleksi dari variabel laten. Indikator yang digunakan untuk menjelaskan hubungan refleksi dengan variabel laten dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 4 pada halaman berikutnya.

(12)

Tabel 4. Variabel dan Indikator Kepemimpinan Transformasional, Quality of Work Life (QWL), dan Perilaku Ekstra Peran.

Variabel Indikator Pengukuran

Variabel eksogen Kepemimpinan Transformasional X1 = Karisma X2 = Perhatian Individu X3 = Memotivasi secara intelektual X4 = Memberi aspirasi

Skala Likert 1 s/d 5 yang Merupakan pendapat Sangat Tidak Setuju (STS) Sampai dengan Sangat Setuju (SS) dari responden

Variabel eksogen Quality of Work Life (QWL) X5 = Partisipasi karyawan X6 = Pengembangan karir X7 = Penyelesaian konflik X8 = Komunikasi X9 = kesehatan kerja X10 = Keselamatan Kerja X11 = Keamanan Kerja X12 = Kompensasi yang layak X13 = Kebanggaan

Skala Likert 1 s/d 5 yang Merupakan pendapat Sangat Tidak Setuju (STS) Sampai dengan Sangat Setuju (SS) dari responden

Variabel endogen Perilaku Ekstra peran

Y1= Altruism Y2= Civic virtue Y3= Conscientiousness Y4= Courtesy

Y5= Sportmanship

Skala Likert 1 s/d 5 yang Merupakan pendapat Sangat Tidak Setuju (STS) Sampai dengan Sangat Setuju (SS) dari responden

Untuk menganalisis hubungan variabel dengan menggunakan software SmartPLS. Langkah-langkah analisis SEM dengan PLS dapat dilihat pada Gambar 4

(13)

Gambar 4. Langkah-langkah Analisis PLS Merancang Model Struktural (inner model)

Merancang Model Pengukuran (outer model)

Mengkonstruksi Diagram Jalur

Konversi Diagram Jalur ke Sistem Persamaan

Estimasi: Koef. Jalur, Loadingdan Weight

Evaluasi Goodness of Fit

(14)

δ15 δ14 δ16 δ17 δ18 ζ2 Model dalam penelitian ini ditampilkan dalam Gambar 5 berikut.

δ4 δ3 δ2 δ1 δ6 δ5 δ10 δ11 δ12 δ13 δ7 δ8 δ9 ζ1 γ1 β1  γ2

(15)

Untuk persamaan model :

1. Outer model

Hubungan antara konstruk laten first order dengan Indikator

X1.1.1 = λX1.1.1ξKarisma+ εX1.1.1  s/d X1.1.7 = λX1.1.7ξKarisma+ εX1.1.7 X1.2.1 = λX1.2.1ξPerhatian+ εX1.2.1  s/d  X1.2.4 = λX1.2.4ξPerhatian+ εX1.2.4 X1.3.1 = λX1.3.1ξMI+ εX1.3.1  s/d  X1.3.5 = λX1.3.5ξMI+ εX1.3.5 X1.4.1 = λX1.4.1ξInspirasi+ εX1.4.1  s/d  X1.4.3 = λX1.4.3ξInspirasi+ εX1.4.3 X2.1.1 = λX2.1.1ξPartisipasi + εX2.1.1  s/d X2.1.5 = λX2.1.5ξPartisipasi + εX2.1.5 X2.2.1 = λX2.2.1ξP. Karir + εX2.2.1  s/d  X2.2.5 = λX2.2.5ξP. Karir + εX2.2.5 X2.3.1 = λX2.3.1ξKomunikasi + εX2.3.1  s/d  X2.3.4 = λX2.3.4ξKomunikasi + εX2.3.4 X2.4.1 = λX2.4.1ξKeselamatan + εX2.4.1  s/d  X2.4.5 = λX2.4.5ξKeselamatan + εX2.4.5 X2.5.1 = λX2.5.1ξKebanggaan + εX2.5.1  s/d  X2.5.5 = λX2.5.5ξKebanggaan + εX2.5.5 X2.6.1 = λX2.6.1ξKeamanan + εX2.6.1  s/d  X2.6.3 = λX2.6.3ξKeamanan + εX2.6.3 X2.7.1 = λX2.7.1ξKompensasi + εX2.7.1  s/d  X2.7.5 = λX2.7.5ξKompensasi + εX2.7.5 X2.8.1 = λX2.8.1ξKesehatan + εX2.8.1  s/d  X2.8.4 = λX2.8.4ξKesehatan + εX2.8.4 X2.9.1 = λX2.9.1ξP. Konflik + εX2.9.1  s/d  X2.9.4 = λX2.9.4ξP. Konflik + εX2.9.4 Y1.1 = λY1.1ξAtuisme + εY1.1  s/d  Y1.5 = λY1.5ξAtuisme + εY1.4 Y2.1 = λY2.1ξAcivic virtue + εY2.1 s/d  Y2.3 = λY2.3ξAcivic virtue + εY2.3 Y3.1 = λY3.1ξConsient + εY3.1 s/d  Y3.5 = λY.3.5ξConsient + εY3.5 Y4.1 = λY4.1ξCortesy + εY4.1 s/d  Y4.3 = λY4.3ξCortesy + εY4.3 Y5.1 = λY5.1ξspotnas + εY5.1 s/d  Y5.3 = λY5.3ξsportnas + εY5.3  

(16)

1. Inner model :

a. Hubungan antara konstruk laten first order dengan konstruk laten second order Karisma = γKarisma ξkepemimpinan + δ1

Pengembangan Karir = γPerhatian ξ kepemimpinan + δ2

MI = γMI ξ kepemimpinan + δ3

Inspirasi = γInspirasi ξ kepemimpinan + δ4

Partisipasi = γPartisipasi ξQWL + δ5 Pengembangan Karir = γP. Karir ξQWL + δ6 Komunikasi = γKomunikasi ξQWL + δ7 Keselamatan = γKeselamatan ξQWL + δ8 Kebanggaan = γKebanggaan ξQWL + δ9 Keamanan = γKeamanan ξQWL + δ10 Kompensasi = γKompensasi ξQWL + δ11 Kesehatan = γKesehatan ξQWL + δ12 Penyelesaian Konflik = γP. Konflik ξQWL + δ13 Atuisme = γ Atuisme ξOCB + δ14 Acivic virtue = γ Acivic virtue ξOCB + δ15 Consient = γ Consient ξOCB + δ16 Cortesy = γ Cortesy ξOCB + δ17 Sportnas = γ Sportnas ξOCB + δ18

b. Hubungan antar konstruk laten second order ηOCB = γkepemimpinan 1 ξkepemimpinan + ζ1 ηOCB = β1ηQWL + ζ2

ηOCB = γkepemimpinan 2 ξkepemimpinan + ζ2

(17)

Keterangan

ξ = Ksi, konstruk latent first order dan second order berupa konstruk eksogen

ηi = Eta, konstruk laten second order dimana i = 1 dan 2

λ = Lamnda (kecil), loading faktor konstruk latent berupa konstruk laten first order,

β1 = Beta (kecil), koefisien pengaruh kepuasan (variabel endogen 1) terhadap OCB karyawan (variabel endogen 2)

γi = Gamma (kecil), koefisien parameter antara konstruk laten second order ke konstruk laten first order dan koefisien parameter antar konstruk laten second order

ζi = Zeta (kecil), galat model pada konstruk laten second order endogen dimana i = 1 dan 2

δ = Delta (kecil), galat model pada konstruk laten first order

e = Error, galat pengukuran (indikator) pada konstruk laten first order  

Gambar

Gambar 3. Konsep Kerangka Pemikiran konseptual
Gambar 4. Langkah-langkah Analisis PLS
Gambar 5. Penerapan Kerangka Pemikiran Pada Model Persamaan Structural

Referensi

Dokumen terkait

PENYIAPAN READINESS CRITERIA KEGIATAN CIPTA KARYA TA 2021 PROVINSI SULAWESI SELATAN.. NAMA

Kemiringan Silang Kontrol Perataan Cat adalah sistem terpadu sepenuhnya, yang dipasang di pabrik guna mempermudah operator Anda menjaga kemiringan silang yang diinginkan

b) Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya muncul pada pasien berisiko bunuh diri. 2) Mengajarkan keluarga cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri..

Dan dari keseluruhan jenis-jenis ikan yang tertangkap, ada dua jenis ikan yang tertangkap dalam jumlah yang lebih banyak daripada jenis-jenis ikan lainnya yaitu jenis Stolephorus

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT MENGGUNAKAN PETA KONSEP.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Presiden tentang Pembubaran Dewan Riset Nasional, Dewan Ketahanan Pangan, Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura, Badan Standardisasi dan Akreditasi

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 29 Tahun 2000 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Ketertiban Kota

Syamsul Arifin, Kepala SMP Al Falah Ketintang Surabaya, wawancara pribadi, Surabaya, 14 Mei 2012.. bukunya Administrasi Pendidikan bahwa kepala sekolah di Sekolah Menengah