• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengujian Konsumsi pada Tikus Rumah

Pengujian Konsumsi Perlakuan Kontrol Gabah, Beras, dan Jagung

Konsumsi tikus rumah terhadap umpan gabah, beras, dan jagung disajikan pada Tabel 3 dan analisis ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 1 . Dari hasil pengujian tersebut, dapat diketahui bahwa komsumsi beras yang paling besar (6,688 g), dilanjutkan dengan gabah (6,388 g), kemudian jagung (6,024 g). Akan tetapi selisih jumlah konsumsi sang at sedikit dan berdasarkan Uji Duncan α=5% menunjukkan hasil pengujian umpan tidak berbeda nyata pada masing -masing perlakuan.

Tabel 3 Konsumsi rerata tikus rumah pada perlakuan kontrol

Keterangan:

Angka dalam kolom yang sama, diikuti oleh huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α= 5% (huruf kecil) dan α= 1% (huruf kapital).

Pengujian Konsumsi pada Perlakuan Rodentisida Brodifacoum vs Umpan pada Tikus Rumah

Hasil yang diperoleh dari pengujian rodentisida brodifacoum vs umpan disajikan pada Tabel 4 dan analisis ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 2 -4. Secara statistika, per bandingan konsumsi antara umpan beras dan gabah dengan rodentisida berbeda sangat nyata (α= 1%). Perbandingan konsumsi umpan jagung dengan rodentisida tidak berbeda nyata. Umpan gabah yang dikonsumsi relatif sama dengan umpan beras, begitu juga dengan rode ntisida yang dikonsumsi pada kedua perlakuan ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa tikus lebih memilih mengonsumsi umpan beras dan gabah daripada rodentisida brodifacoum. Umpan

Perlakuan Umpan Gabah Beras Jagung 6,338 aA 6,688 aA 6,024 aA Pr > F 0,5185 ns

(2)

jagung yang dikonsumsi merupakan yang terendah, sedangkan konsumsi racun merupakan yang tertinggi.

Tabel 4 Rerata konsumsi tikus rumah pada pengujian rodentisida brodifacoum vs umpan gabah, beras, dan jagung

Perlakuan Umpan Rodentisida Pr > F

Gabah Beras Jagung 8,992 aA 8,844 aA 5,033 aA 0,425 bB 0,145 bB 3,174 aA 0,0001 ** 0,0001 ** 0,1562 ns Keterangan:

Angka dalam baris yang sama, diikuti oleh huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α= 5% (huruf kecil) dan α= 1% (huruf kapital).

Pengujian Konsumsi pada Perlakuan Rodentisida Bromadiolone vs Umpan pada Tikus Rumah

Hasil yang diperoleh dari pengujian rodentisida bromadiolone vs umpan disajikan pada Tabel 5 dan analisis ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 5 -7. Seperti halnya konsumsi beras dan gabah pada perlakuan rodentisida

brodifacoum, rerata konsumsi tikus rumah terhadap umpan dan rodentisida relatif sama antar kedua perlakuan. Pada pengujian rodentisida bromadiolone terdapat perbedaan dengan pengujian seb elumnya, perlakuan dengan umpan jagung menunjukkan konsumsi rodentisida lebih banyak dan berbeda nyata (α=5%) daripada umpan jagung.

Tabel 5 Rerata konsumsi tikus rumah pada pengujian rodentisida bromadiolone vs umpan gabah, beras, dan jagung

Perlakuan Umpan Rodentisida Pr > F

Gabah Beras Jagung 7,668 aA 7,778 aA 2,522 aA 0,431 bB 0,143 bB 5,010 bA 0,0001 ** 0,0001 ** 0,0367 * Keterangan:

Angka dalam baris yang sama, diikuti oleh huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α= 5% (huruf kecil) dan α= 1% (huruf kapital).

(3)

Pengujian Konsumsi pada Perlakuan Rodentisida Coumatetralyl vs Umpan pada Tikus Rumah

Konsumsi tikus rumah pada pengujian rodentisida coumatetralyl vs umpan disajikan pada Tabel 6 dan analisis ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 8 -10. Konsumsi umpan dan rodentisida pada perlakuan rodentisida coumatetralyl

menunjukkan perbandingan yang berbeda sangat nyata (α=1%) pada ketiga perlakuan. Tingkat konsumsi tikus rumah terhadap perlakuan umpan lebih tinggi daripada rodentisida.

Tabel 6 Rerata konsumsi tikus rumah pada pengujian rodentisida coumatetralyl

vs umpan gabah, beras, dan jagung

Perlakuan Umpan Rodentisida Pr > F

Gabah Beras Jagung 6,868 aA 6,027 aA 4,278 aA 0,353 bB 0,272 bB 1,089 bB 0,0001 ** 0,0001 ** 0,0001 ** Keterangan:

Angka dalam b aris yang sama, diikuti oleh huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α= 5% (huruf kecil) dan α= 1% (huruf kapital).

Perbandingan Rerata Konsumsi pada Konsumsi Umpan pada Kontrol dan Rodentisida Brodifacoum, Bromadiolone, dan Coumatetralyl

Perbandingan rerata konsumsi umpan gabah, beras, dan jagung pada masing-masing perlakuan disajikan pada Tabel 7 dan analisis ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 11 -13. Perlakuan kontrol gabah menunjukkan has il yang lebih kecil dari ketiga perlakuan lainnya. Pada perlakuan kontrol beras, hasil lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan brodifacoum dan bromadiolone dan lebih besar dibandingkan dengan perlakuan coumatetralyl. Hal ini dapat disebabkan pada saat ti kus rumah diberi perlakuan dengan rodentisida, dapat menstimulir konsumsi terhadap umpan tanpa racun. Berbeda dengan perlakuan jagung yang menunjukkan jumlah konsumsi kontrol lebih banyak dari pada perlakuan lainnya, tikus rumah cenderung menyukai rodentis ida sehingga konsumsi untuk umpan menjadi berkurang.

(4)

Tabel 7 Perbandingan rerata konsumsi umpan pada perlakuan kontrol dan rodentisida

Perlakuan Rodentisida

Rerata Konsumsi Umpan

Gabah Beras Jagung

Kontrol Brodifacoum Bromadiolone Coumatetralyl 6,338 cB 8,992 aA 7,668 bAB 6,868 bcB 6,688 bcBC 8,844 aA 7,778 abAB 6,027 cC 6,024 aA 5,033 aAB 2,522 bB 4,278 abAB Rata-rata 7,446 7,334 4,460 Pr > F 0,0002** 0,0007** 0,0045** Keterangan:

Angka dalam kolom yang sama, diikuti oleh huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α= 5% (huruf kecil) dan α= 1% (huruf kapital).

Pengujian Konsumsi pada Tikus Pohon

Pengujian Konsumsi Perlakuan Kontrol Gabah, Beras, dan Jagung

Hasil konsumsi kontrol umpan pada tikus pohon dapat dilihat pada Tabel 8 dan analisis ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 14 . Konsumsi umpan beras dan gabah pada tikus pohon menunjukkan hasil yang sama dan tidak berbeda nyata (α=5% dan 1%). Berbeda dengan umpan jagung yang jumlah konsumsinya lebih sedikit dan berbeda sangat nyata dengan umpan lainnya. Umpan beras dan gabah lebih disukai oleh tikus pohon daripada umpan jagung.

Tabel 8 Jumlah konsumsi rerata tikus pohon pada perlakuan kontrol

Perlakuan Umpan Gabah Beras Jagung 8,011 aA 8,357 aA 3,917 bB Pr > F 0,0001 ** Keterangan:

Angka dalam kolom yang sama, diikuti oleh huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α= 5% (huruf kecil) dan α= 1% (huruf kapital).

(5)

Pengujian Konsumsi pada Perlakuan Rodentisida Brodifacoum (Biru) vs Umpan

Pada Tabel 9 disajikan perbandingan konsumsi rodentisida brodifacoum

biru dengan umpan dan analisis ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 15 -17. Dari hasil rerata konsumsi umpan gabah, beras, dan jagung dibandingkan dengan konsumsi rodentisida berbeda sangat nyata α=5% dan 1%. Hal ini menunjukkan perbandingan konsumsi umpan jauh lebih besar daripada konsumsi rodentisida. Tabel 9 Konsumsi rerata tikus pohon pada pengujian rodentisida brodifacoum

(biru)vs umpan gabah, beras, dan jagung

Perlakuan Umpan Rodentisida Pr > F

Gabah Beras Jagung 7,681 aA 7,236 aA 4,536 aA 0,381 bB 0,472 bB 0,265 bB 0,0001** 0,0001** 0,0001** Keterangan:

Angka dalam baris yang sama, diikuti oleh huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α= 5% (huruf kecil) dan α= 1% (huruf kapital).

Pengujian Konsumsi pada Perlakuan Rodentisida Brodifacoum (Hijau) vs Umpan

Data perbandingan konsumsi antara ketiga umpan terhadap rodentisida

brodifacoum hijau disajikan pada Tabel 10 dan analisis ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 18-20.

Tabel 10 Konsumsi rerata tikus pohon pada pengujian rodentisida brodifacoum

(hijau) vs umpan gabah, beras, dan jagung

Perlakuan Umpan Rodentisida Pr > F

Gabah Beras Jagung 6,406 aA 5,484 aA 2,780 aA 0,192 bB 0,868 bB 0,941 bA 0,0001 ** 0,0004 ** 0,0204 * Keterangan:

Angka dalam baris yang sama, diikuti oleh huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α= 5% (huruf kecil) dan α= 1% (huruf kapital).

Konsumsi umpan gabah pada saat perlakuan menunjukkan tingkat konsumsi yang lebih tinggi dari kedua umpan, dan konsumsi umpan jagung menunjukkan tingkat konsumsi yang paling rendah. Perbandingan jumlah konsumsi dengan

(6)

rodentisida pada perlakuan umpan gabah dan ber as berbeda sangat nyata (α=1%), sedangkan pada perbandingan ump an jagung dengan rodentisida berbeda nyata (α=5%).

Perbandingan Rerata Konsumsi pada Konsumsi Umpan pada Kontrol dan Rodentisida Brodifacoum

Perbandingan rerata konsumsi umpan gabah, beras, dan jagung

menunjukkan variasi pada masing -masing perlakuan dan disajikan pada Tabel 11 dan analisis ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 21 -23. Perbandingan konsumsi umpan gabah dan beras kontrol lebih ti nggi daripada konsumsi umpan vs rodentisida. Berbeda dengan umpan jagung kontrol yang konsumsinya lebih rendah daripada umpan pada rodentisida brodifacoum biru tetapi lebih besar daripada rodentisida brodifacoum hijau.

Dari ketiga umpan yang diuji pada kontrol dan rodentisida, umpan gabah adalah umpan yang paling disukai dibandingk an dengan kedua umpan lainnya, sedangkan umpan jagung adalah umpan yang paling tidak disukai oleh tikus pohon.

Tabel 11 Perbandingan rerata konsumsi umpan pada perlakuan kontrol dan rodentisida

Perlakuan Rodentisida

Rerata Konsumsi Umpan

Gabah Beras Jagung

Kontrol Brodifacoum biru Brodifacoum hijau 8,011 aA 7,681 abA 6,406 bA 8,357 aA 7,236 aAB 5,484 bB 3,917 aA 4,536 aA 2,780 aA Rata-rata 7,366 7,026 3,744 Pr > F 0,0393* 0,0001** 0,0493 ns Keterangan:

Angka dalam kolom yang sama, diikuti oleh huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α= 5% (huruf kecil) dan α= 1% (huruf kapital).

Perubahan Bobot Tikus

Perubahan Bobot Tikus Rumah Sebelum dan Sesudah Perlakuan

Dalam setiap perlakuan dilakukan penimbangan sebelum dan sesudah perlakuan untuk mengetahui perubahan bobot dan rata -rata bobot tikus rumah

(7)

pada masing-masing perlakuan. Perubahan bobot dan rata -rata bobot tikus rumah disajikan pada Tabel 12. Perubahan bobot tikus pada perlakuan rodentisida

brodifacoum menunjukkan kenaikan pada saat diberi umpan gabah dan beras dan terjadi penurunan pada pemberian umpan jagung. Hal ini disebabkan jumlah konsumsi umpan pada perlakuan jagung (C) sangat sedikit dan jauh dari jumlah yang normal. Selain itu konsumsi rodentisi da yang cukup banyak dapat menyebabkan reaksi dalam tubuh sehingga menyebabkan penurunan bobot tubuh. Tabel 12 Perubahan dan rerata bobot tikus rumah pada perlakuan

Perlakuan Bobot Awal (g) Bobot Akhir (g) Perubahan Bobot (g) A B C 121,756 113,362 121,973 123,408 114,384 121,839 1,652 1,022 -0,134 D E F 118,927 118,966 117,296 118,114 117,745 117,242 -0,813 -1,221 -0,358 G H I 127,845 132,208 131,316 124,748 127,739 129,648 -3,097 -4,469 -1,667 J K L 124,091 123,448 118,815 120,041 123,125 119,953 -4,050 -0,323 1,138 Rata-rata 122,500 121,498 -1,001

Pada perlakuan rodentisida bromadiolone menunjukkan perubahan bobot yang menurun pada semua perlakuan umpan. Penurunan bobot tertinggi berurutan adalah umpan gabah (D), beras (E), dan jagung (F). Jika dilihat dari konsumsi umpan, perlakuan E dan D tikus lebih banyak mengonsumsi umpan sedangkan perlakuan F lebih banyak mengonsumsi rodentisida, tetapi perlakuan F paling kecil penurunan bobotnya. Hal ini disebabkan tikus merasa dalam cekam an pada saat mencicipi rodentisida D dan E sehingga tikus menjadi stres dan pengaruh rodentisida yang bereaksi dalam waktu yang berbeda.

(8)

Begitu juga dengan perlakuan rodentisida coumatetralyl yang menunjukkan penurunan bobot pada setiap perlakuan terutama perlakuan coumatetralyl vs beras yang paling besar penurunannya.

Perlakuan kontrol gabah dan beras menunjukkan penurunan bobot, sedangkan kontrol jagung menunjukkan kenaikan bobot meskipun jumlah konsumsi totalnya lebih sedikit. Kandungan protein pada j agung lebih tinggi daripada beras, protein berfungsi untuk memberikan bahan pertumbuhan, pembentukan jaringan, dan pemeliharaan (Harper etal 1986).

Perubahan Bobot Tikus Pohon Sebelum dan Sesudah Perlakuan

Konsumsi tikus pohon terhadap umpan dan rodent isida dapat mempengaruhi terhadap bobot tikus. Perubahan bobot dan rata -rata bobot tikus pohon disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Perubahan dan rerata bobot tikus pohon pada perlakuan

Perlakuan Bobot Awal (g) Bobot Akhir (g) Perubahan Bobot (g) A B C 125,681 112,314 134,088 126,916 112,731 131,322 1,235 -0,418 -2,766 D E F 123,104 122,973 131,958 122,879 120,689 128,891 -0,225 -2,284 -3,067 G H I 123,280 119,758 121,010 127,504 121,012 116,848 4,226 1,253 -4,162 Rata-rata 123,796 123,199 -0,591

Pada pengujian umpan vs rodentisida brodifacoum biru terjadi perubahan berupa kenaikan bobot pada perlakuan umpan gabah dan terjadi penurunan bobot pada perlakuan umpan beras, dan jagung. Penurunan bobot pada perlakuan jagung disebabkan konsumsi tikus terhadap umpan pada perlakuan ini sangat sedikit dan sangat kurang dari kebutuhan pakan normal.

(9)

Pada perlakuan rodentisida brodifacoum hijau terjadi penurunan pada semua perlakuan. Penurunan bobot terbesar terjadi pada perlakuan umpan jagung, karena jumlah konsumsi umpan sangat sedikit dan konsumsi rodentisida yang cukup banyak. Pada perlakuan umpan gabah penurunan bobot paling sedikit

dibandingkan dengan umpan lainnya, karena konsumsi umpan paling banyak dan konsumsi rodentisida paling sedikit.

Pada perlakuan kontrol, terjadi peningkatan bobot tubuh pada perlakuan umpan gabah dan beras dan terjadi penurunan bobot pada perlakuan jagung. Hal ini disebabkan konsumsi jagung yang sedikit bila di bandingkan dengan kedua umpan.

Perubahan Bobot pada Saat Masa Istirahat

Tikus yang yang masih hidup dan telah digunakan selama tiga hari perlakuan kemudian diberi pakan berupa gabah secara melimpah ( ad libitum) selama tiga hari. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh rodentisida yang telah dikonsumsinya dan mengistirahatkan tikus dari pengujian rodentisida. Jika setelah tiga hari tikus dalam kondisi yang sehat, maka tikus dapat digunakan lagi untuk perlakuan berikutnya. Perubahan bobot tikus uji set elah masa istirahat disajikan pada Tabel 14 dan 15.

Tabel 14 Rerata perubahan bobot tubuh tikus rumah setelah masa istirahat Perlakuan Bobot Awal (g) Bobot Akhir (g) Perubahan Bobot (g)

A B C D E F G H I 123,401 128,549 119,943 118,369 118,011 122,453 127,187 125,201 123,595 126,730 130,650 122,858 124,251 119,330 124,994 132,751 124,726 123,956 3,329 2,104 2,915 5,883 1,319 2,540 5,564 -0,474 0,361 Rata-rata 122,968 125,583 2,616

(10)

Tabel 15 Rerata perubahan bobot tubuh tikus pohon setelah masa istirahat

Pemberian gabah secara melimpah selam tiga hari pada tikus rumah dan tikus pohon dapat menyebabkan peningkatan bobot tubuh tikus dengan rerata 2,616 g untuk tikus rumah dan 1,851 g untuk tikus pohon. Penurunan bobot terjadi pada tikus rumah perlakuan rodentisida coumatetralyl vs beras, karena pada bobot sebelum dan sesudah perlakuan menunjukkan penurunan bobot yang tinggi.

Pembahasan Umum

Pengujian kontrol pada tikus rumah menunjukkan jumlah konsumsi yang relatif sama pada ketiga umpan. Berdasarkan bobot tikus, jumlah konsumsi umpan kurang dari jumlah normal (10%) sehingga terjadi penurunan bobot tikus kecuali pada umpan jagung karena peng aruh kandungan gizi. Pada saat diberikan rodentisida brodifacoum, konsumsi umpan lebih banyak daripada konsumsi rodentisida kecuali pada umpan jagung, sehingga pada perlakuan jagung terjadi penurunan bobot tikus. Bila diberikan rodentisida bromadiolone, konsumsi rodentisida pada umpan jagung lebih banyak daripada konsumsi umpan sehingga terjadi penurunan bobot tubuh. Jika diberi umpan gabah dan beras konsumsi umpan lebih banyak daripada konsumsi rodentisida, penurunan bobot tubuh terjadi pada perlakuan bera s. Pada pengujian rodentisida coumatetralyl konsumsi umpan lebih banyak daripada konsumsi rodentisida. Penurunan bobot terjadi pada perlakuan umpan jagung karena konsumsi rodentisidanya yang cukup tinggi sehingga menimbulkan efek negatif dalam tubuh tikus.

Pengujian kontrol pada tikus pohon menunjukkan bahwa konsumsi umpan gabah dan beras relatif sama dan lebih banyak daripada umpan jagung sehingga

Perlakuan Bobot Awal (g) Bobot Akhir (g) Perubahan Bobot (g) A B C D E F 133,247 116,383 121,879 120,769 124,504 133,958 136,470 115,244 123,317 123,138 127,924 135,754 2,901 1,139 1,438 2,981 3,420 1,797 Rata-rata 125,123 126,974 1,851

(11)

pada perlakuan jagung terjadi penurunan bobot tubuh tikus yang lebih besar. Pada perlakuan rodentisida brodifacoum biru, konsumsi umpan relatif lebih banyak daripada konsumsi rodentisida , hal ini sejalan dengan penelitian Aryata (2006) yang menunjukkan bahwa tikus pohon lebih menyukai umpan dibandingkan rodentisida. Penurunan bobot tubuh pada tikus terjadi pada s emua perlakuan ini. Penurunan terbesar terjadi pada perlakuan jagung karena konsumsi umpan yang paling sedikit, dan penurunan terkecil terjadi pada perlakuan umpan gabah disamping karena jumlah konsumsi gabah yang lebih banyak juga karena konsumsi r odentisida yang lebih sedikit, s edangkan pada perlakuan rodentisida

brodifacoum hijau konsumsi umpan yang paling banyak adalah gabah sehingga mengalami kenaikan bobot yang paling besar. Konsumsi umpan paling sedikit dan konsumsi rodentisida paling banyak adalah p erlakuan jagung sehingga terjadi penurunan bobot tubuh.

Gambar

Tabel 4  Rerata konsumsi tikus rumah pada pengujian rodentisida  brodifacoum vs  umpan   gabah, beras, dan jagung
Tabel 6  Rerata konsumsi tikus rumah pada pengujian rodentisida  coumatetralyl  vs umpan gabah, beras, dan jagung
Tabel 7  Perbandingan rerata konsumsi umpan pada perlakuan kontrol dan  rodentisida
Tabel Lampiran 18-20.
+5

Referensi

Dokumen terkait

Setelah mengetahui perencaan tata guna lahan baru skenario berdasarkan hasil overlay dengan peta fungsi kawasan, tata guna lahan baru skenario di jalankan kembali pada ArcSWAT

Simpulan dari penelitian ini adalah KET berhubungan dengan karakteristik tertentu yaitu peningkatan proses infeksi tuba, penggunaan kontrasepsi dan riwayat operasi serta

salah. Layanan Informasi memiliki fungsi untuk mengelola seluruh pendataan dari Kelola Biodata Tuna Karya dan Anak Jalanan, Kelola Data Status, Kelola Kronologis dan

Sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan ini dengan kebutuhannya.” Jika penjelasan dari adaptasi tersebut dihubungkan dengan

Ciri-ciri orang tua ideal baik bapak Pada komponen tentang Harapan maupun ibu pada masa kini, ada kesamaan Remaja agar Terjadi Harmonisasi dan Tidak pendapat antara

Antioksidan merupakan senyawa yang berguna mengatasi kerusakan oksidatif akibat radikal bebas dalam tubuh.Daun buas-buas merupakan salah satu alternatif bahan makanan

Senyawa fenol akan berikatan dengan ergosterol yang merupakan penyusun membran sel jamur sehingga menyebabkan terbentuknya suatu pori pada membran sel. Terbentuknya

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sintesis serbuk MZT01 dengan metode pencampuran larutan dapat menghasilkan fasa MgTiO 3.. Struktur