• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah motivasi kerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "makalah motivasi kerja"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

makalah motivasi kerja

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti “dorongan atau daya penggerak”.

Motivasi ini sangat diperlukan seseorang dalam menjalankan segala aktivitasnya. Dalam

menjalankan hidup, seseorang memerlukan banyak motivasi agar ia dapat menjalankan

segala sesuatu yang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam dunia

pendidikan, seorang anak memerlukan motivasi baik dari orang tua, guru, maupun

teman-temannya agar ia mampu meningkatkan prestasi belajarnya.

Hal ini pula yang dibutuhkan orang dalam dunia kerja. Seseorang hanya dapat bekerja

dengan baik apabila ia mendapatkan motivasi kerja yang baik pula. Motivasi kerja tidak

hanya bersumber dari dalam diri orang itu saja, melainkan memerlukan perpaduan baik dari

diri sendiri, atasan, mapun lingkungan kerja itu sendiri.

Namun di balik semuanya itu, kita perlu mengetahui cara meningkatkan motivasi kerja

karyawan. Terdorong akan rasa keingintahuan serta kenyataan seperti yang tersebut itulah

yang membuat penulis memilih topik mengenai cara meningkatkan motivasi kerja.

Selanjutnya, hasil pengkajian itu penulis uraikan dalam makalah berjudul “Meningkatkan

Unjuk Kerja dengan Memberikan Motivasi Kerja yang Baik”

1.2 Rumusan Masalah

Beberapa rumusan makalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain:

1.

Apa pengertian motivasi kerja?

2.

Bagaimana kaitan motivasi kerja dengan unjuk kerja?

3.

Bagaimana cara meningkatkan motivasi kerja?

1.3

Tujuan

Beberapa tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut.

1.

Untuk mengetahui pengertian motivasi kerja.

2.

Untuk mengetahui kaitan motivasi kerja dengan unjuk kerja.

3.

Untuk mengetahui cara meningkatkan motivasi kerja.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian

2.1.1 Moral Kerja

Yang dimaksud dengan moral adalah suasana batiniah seseorang yang mempengaruhi

perilaku individu dan perilaku organisasi. Suasana batiniah itu terwujud di dalam aktivitas

individu pada saat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Suasana batin dimaksud

berupa perasaan senang atau tidak senang, bergairah atau tidak bergairah dan bersemangat

atau tidak bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan.

(2)

Proses manajemen dan leadership yang efektif memerlukan moral kerja yang positif

dalam arti suasana batin yang menyenangkan hingga memiliki semangat yang tinggi dalam

melakukan pekerjaan. Moral kerja yang tinggi merupakan dorongan bagi terciptanya usaha

berpartisipasi secara maksimal dalam kegiatan organisasi/kelompok, guna mencapai tujuan

yang telah ditentukan.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya moral kerja seseorang.

Dalam kegiatan manajemen dan leadership pendidikan, moral kerja yang tinggi dari setiap

SDM yang terlibat di dalamnya, merupakan faktor yang menentukan bagi tercapainya

tujuan-tujuan pendidikan. Berbagai faktor itu di antaranya adalah sebagai berikut.

1.

Sebagian orang memandang bahwa minat / perhatian terhadap pekerjaan berpengaruh

terhadap moral kerja. Bilamana seseorang merasa bahwa minat/perhatiannya seusai dengan

jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan maka akan memiliki moral kerja yang tinggi.

2.

Sebagian lainnya menempatkan faktor upah atau gaji penting dalam meningkatkan moral

kerja. Upah atau gaji yang tinggi dipandang sebagai faktor yang dapat mempertinggi moral

kerja.

3.

Di samping itu ada kelompok orang yang memandang faktor status sosial dari pekerjaan

dapat mempengaruhi moral kerja. Pekerjaan yang dapat memberikan status sosial atau posisi

yang tinggi/baik (misalnya, sebagai kepala, staf pimpinan, kepala bagian dan sebagainya)

menurut kelompok ini akan mempertinggi moral kerja.

4.

Sekolompok lain memandang tujuan yang mulia atau pekerjaan yang mengandung

pengabdian merupakan faktor yang dapat mempertinggi moral kerja. Tujuan dan sifat

pengabdian diri dalam suatu pekerjaan mengakibatkan seseorang bersedia mendertia,

berkorban harta benda dan bahkan jiwanya demi terwujudnya pekerjaan yang menjadi

tanggung jawabnya.

5.

Kelompok terakhir memandang faktor suasana kerja dan hubungan kemanusiaan yang baik,

sehingga setiap orang merasa diterima dan dihargai dalam kelompoknya dapat mempertinggi

moral kerja.

2.1.2 Motivasi Kerja

Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti “dorongan atau daya penggerak”.

Motivasi ini diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut.

Adapun kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan mental untuk mengerjakan sesuatu

pekerjaan. Terkait dengan hal tersebut, maka yang dimaksud dengan motivasi adalah

mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah kerja bawahan, agar mereka mau

bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan ketrampilannya untuk

mewujudkan tujuan organisasi. (Hasibuan, 2003).

Sementara menurut arti katanya,

motivasi atau motivation berarti motif, penimbulan

motif atau hal yang menimbulkan dorongan. Dalam kamus administrasi, Drs. The Liang Gie

CS, memberikan perumusan akan motivating atau pendorong kegiatan sebagai berikut:

“pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer dalam memberikan insprasi, semangat dan

dorongan kepada orang lain, dalam hal ini karyawannya untuk mengambil tindakan-tindakan.

Pemberian dorongan ini bertujuan untuk menggiatkan orang-orang atau karyawan agar

mereka bersemangat dan dapat mencapai hasil sebagaimana dikehendaki dari ornag-orang

tersebut.

Di bawah ini tercantum beberapa definisi atau pengertian motivasi kerja dari sejumlah

penulis sebagai berikut:

(3)

George R. Terry berpendapat “motivasi kerja adalah suatu keinginan dalam diri seseorang yang

mendorongnya untuk bertindak sesuatu”.

Dr. Sondan P. Siagian, MPA berpendapat bahwa: “Motivasi kerja merupakan keseluruhan

proses pemberian motiv berkerja para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau

bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis.

Wahjosumadjo menyatakan, “motivasi kerja merupakan suatu prsoses psikologis yang

mencerminkan interaksi antara sikap kebutuhan persepsi dan kepuasan yang terjadi pada diri

seseorang

G. Terry mengemukakan bahwa “Motivasi diartikan sebagai mengusahakan supaya seseorang

dapat menyelesaikan mempekerjaan dengan semangat karena ia ingin melaksanakannya”.

M. Manullang memberikan pengertian motivasi sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh seorang

manajer memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada orang lain, dalam hal ini

karyawan untuk mengambil tindakan-tindakan. Pemberian dorongan ini bertujuan untuk

menggiatkan orang-orang karyawan agar mereka bersemangat dan dapat mencapai hasil

sebagaimana dikehendaki dari orang-orang tersebut.

2.2

Dasar-Dasar Pokok Motivasi Kerja

Pada dasarnya motivasi dapat mamacu karyawan untuk bekerja keras sehingga dapat

mencapai tujuan mereka. Hal ini akan meningkatkan produkitvitas kerja karyawan sehingga

berpengaruh pada pencapaian tujuan perusahaaan. Sumber motivasi ada tiga faktor, yaitu:

1.

Kemungkinana untuk berkembang,

2.

Jenis pekerjaan ,dan

3.

Apakah mereka dapat merasa bagga menjadi bagian dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Di samping itu terdapat beberapa aspek yang terpengaruh terhadap motivasi kerja

karyawan, yakni: rasa aman dalam bekerja, mendapatkan gaji yang adil dan kompetitif.

Lingkungan kerja yang menyenangkan, penghargaan atas prestasi kerja dan perlakuan yang

adil dari manajemen. Dengan melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan, pekerjaan

yang menarik menantang, kelompok dan rekan-rekan kerja yang menyenangkan, kejelasan

akan standar keberhasilan, output yang diharapkan serta, bangga terhadap pekerjaan dan

perusahaan dapat menjadi faktor pemicu kerja karyawan.

Pada dasarnya proses dapat digambarkan jika seseorang tidak puas akan mengakibatkan

ketegangan, yang pada akhirnya akan mencapai jalan atau tindakan untuk memenuhi dan

terus mencari kepuasan yang menurut ukurannya sendiri sudah sesuai dan harus terpenuhi.

Sebagai contohnya, beberapa karyawan secara regular menghabiskan sebagian besar

waktunya untuk berbicara atau mendiskusikan sesuatu di kantor, yang sebenarnya hanya untk

memuaskan kebutuhan sosialnya. Langkah ini sebagai suat usaha yang bagus, namun tidak

produktif dapat mewujudkan hasil kerja atau target kerja.

2.3 Teori-Teori Motivasi Kerja

1.

Teori A. H. Maslow

Teori motivasi yang sangat terkenal adalah toeri kebutuan yang dikemukakan oleh

Abraham Maslow. Menurut Maslow bahwa pada setiap diri manusia itu terdiri atas lima

kebutuhan, yaitu: kebutuhan secara fisiologis, rasa aman, social, penghargan dan aktualisasi

diri.

(4)

Kebutuhan untuk menggunakan , skill, potensi, kebutuhan untuk berpendapat dengan

mengemukakan ide-ide, memberikan penilaian dan kritik terhadap Sesuatu

Penghargaan diri

Kebutuhan akan harga diri, kebutuhan dihormati dan dihargai orang lain

Kepemilikan sosial

Kebutuhan merasa memiliki, kebutuhan untuk diterima dalam kelompok, berafiliasi,

berinteraksi dan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai

Rasa aman

Kebutuhan rasa aman, kebutuhan perlindungan dari ancaman, bahaya, pertentangan dan

lingkungan hidup

Kebutuhan fisiologis

Kebutuhan fisiologis, kebutuhan makan, minum, perlindungan fisik, seksual, sebagai

kebutuhan terendah

2.

Teori David Mc Clelland

David Mc Clelland direktur pusat penelitian kepribadian di universitas Harvard

menganalisis tentang tiga kebutuhan manusia yang sangat penting di dalam organisasi tentang

motivasi mereka. Mc Clelland theory of needs memfokuskan kepada tiga hal, yaitu:

Kebutuhan dalam mencapai kesuksesan (Need for a chievement); kemampuan untuk

mencapai hubungan kepada standar perusaahn yang telah ditentukan juga perjuangan

karyawan untuk menuju keberhasilan.

Kebutuhan dalam kekuasaan/otoritas kerja (need for power), kebutuhan untuk membuat

orang berperilaku dalam keadaan yang wajar dan bijaksana dalam tugasnya masing-masing.

Kebutuhan untk berafiliasi (need for affiliation); hasrat untuk bersahabat dan mengenal lebik

dekat rekan kerja dalam organisasi.

3.

Toeri Douglas Mc Gregor

Dogles Mc Gregor mengajukan dua pandangan yang berbeda tentang manusia negative

dengan tanda X dan positif dengan tanda Y.

Teori X adalah teori motivasi yang menyatakan bahwa orang-orang sesungguhnya tidak mau

bekerjasama.

Teoro Y adalah teori motivasi yang menyatakan bahwa orang-orang sesungguhnya energik,

berorientasi kepada perkembangan motivasi diri sendri dan tertarik untuk menjadi produktif.

Perbedaan teori X dan teori Y.

Teori X

Teori Y

Orang-orang malas

Orang-orang kurang berambisi

dan tidak mengakui tanggung

jawab

Orang-orang yang berpusat pada

dirinya.

Orang-orang tidak mau berubah.

Orang-orang mudah tertipu dan

tidak telalu pintar.

Orang-orang energetik

Orang-orang ambisius dan mencari

tanggung jawab.

Orang-orang dapat tidak

mementingkan diri sendiri.

Orang-orang ingin berkontribusi pada

pertumbuhan dan mau berubah.

Orang-orang pintar.

(5)

Menurut teori Herzberg, faktor-faktor yang berperan sebagai motivator terhadap pegawai,

yakni yang mampu memuaskan dan mendorong orang untuk bekerja baik terjadi dari:

Achievement (keberhasilan pelaksanaan)

Agar seorang bawahan dapat berhasil dalam pekerjaannya, maka pemimpin harus

mempelajari bawahannya dan pekerjaannya dengan memberikan kesempatan agar bawahan

dapat berusaha mencapai hasil. Selanjutnya agar pemimpin memberi semangat pada para

pegawainya sehingga pegawai telah berhasil mengerjakan pekerjaannya, pemimpin harus

menyatakan keberhasilan itu.

Recognition (pengakuan)

Pengakuan terhadap keberhasilan pegawai dapat dilakukan berbagai cara, yaitu:

- Memberi surat penghargaan

- Memberi hadiah berupa uang tunai

- Memberi medali, surat penghargaan, dan hadiah uang tunai

- Memberi kenaikan gaji dan promosi

The work it self (pekerjaan itu sendiri)

Pemimpin membuat usaha-usaha yang riil dan meyakinkan, sehingga pegawai mengerti akan

pentingnya pekerjaan yang dilakukannya dan berusaha menghindarkan kebosanan dalam

pekerjaan pegawai serta mengusahakan agar pegawai sudah tepat dalam pekerjaannya.

Responsibilities (tanggung jawab)

Agar responsibilities benar-benar menjadi motivator bagi pegawai, pemimpin harus

menghindari supervise yang ketat, dengan memberikan pegawai bekerja sendiri sepanjang

pekerjaan itu memungkinkan dan menerapkan prinsip partisipasi.

Advancement (pengembangan)

Agar faktor ini benar-benar berfungsi sebagai motivator maka pemimpin dapat memulainya

dengan melatih bawahannya untuk pekerjaan yang lebih bertanggung jawab. Selanjutnya

pemimpin memberi rekomendasi tentang pegawai yang siap untuk mengembangkan, untuk

menaikkan pangkatnya atau dikirim mengikuti pendidikan atau latihan lanjutan.

2.4 Bentuk-Bentuk Motivasi

Motivasi mempunya dua bentuk yaitu sebagai beriku:

Motivasi Positif

Motivasi positif merupakan proses untuk mempengaruhi orang lain dengan cara

memberikan penambahan tingkat kepuasan tertentu , misalanya dengan memberikan promosi,

memberikan insentif atau tambahan penghasilan, menciptakan kondisi tempat kerja yang baik

agar mereka merasa aman dalam bekerja, dan sebagainya.

Motivasi Negatif

Motivasi negativ merupakan proses untuk mempengaruhi orang lain dengan cara

menakut-nakuti atau mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu secara terpaksa.

Misalnya menakut-nakuti bawahan dengan memberikan gambaran seolah-olah mereka akan

kehilangan jabatan, diturunkan pangkat , dipotong gajinya dan sebagainya.

2.5 Sumber-Sumber Motivasi Kerja Terhadap Kepuasan Kerja

Kepuasan Kerja adalah perasaan senang/puas karena pekerjaan yang

dilakukannya.Kepuasan kerja ini berkaitan dengan motivasi kerja.

Bagaimana hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja ? Perbaikan kondisi kerja yang

menaikkan peluasan pekerja cenderung meningkatkan produktivitas (kinerja). Tetapi

hubungan itu tidak begitu kuat. ( korelasinya rata-rata hanya 0,14). Pekerjaan yang untuk

(6)

mengerjakannya memerlukan pengetahuan dan keterampilan dirasa bernilai oleh yang

mengerjakan, akan menghasilkan kepuasan. Sebaliknya jenis pekerjaan yang hanya

memerlu-kan pengetahuan dan keterampilan yang dinilai rendah tidak amemerlu-kan menghasilmemerlu-kan kepuasan

tetapi justru akan menghasilkan ketidak puasan.

Ketidak puasan kerja berakibat menurunnya motivasi kerja. Sumber-sumber

ketidak-puasan antara lain : Kebosanan, penugasan yang tidak sesuai, adanya gangguan-gangguan

selama kerja, kekurangan fasilitas kerja dan lain sebagainya.

Sumber-sumber kepuasan kerja antara lain :

Mengetahui dirinya telah berhasil dalam kerjanya;

Merasa senang telah dapat menggunakan pengeta-huan/keterampilannya;

Mendapatkan pengembangan keterampilan pribadi secara mental dan fisik;

Kegiatan itu sendiri;

Perkawanan dan kebersamaan;

Kesempatan mempengaruhi orang lain;

Penghargaan (respect) dari orang lain;

Waktu untuk bepergian dan liburan;

Keamanan dalam penghasilan dan kedudukan;

2.6

Strategi Untuk Meningkatkan Kepuasan Dan Motivasi Kerja

1.

Reinforcement atau teori modifikasi prilaku

Menyatakan bahwa prilaku dapat didoraong atau dikurangi memberikan secara

berturut-turut imbalan dan hukuman.

2.

Manajemen berdasarkan sasaran (MBO/Management by objective)

Serangkain prosedur yang mencangkup manajer dan bawahannya dalam menetapkan

tujuan dan mengevaluasi kemajuan.

3.

Manajemen partisipatif dan pemberdayaan.

Metode meningkatkan kepuasan kerja dengan cara memberi kesempatan kepada

karyawan untuk memberi suara dalam manajemen pekerjaan perusahaan.

4.

Persaingan, partisipasi dan kebanggaan

Pada umumnya, setiap orang sering bersaing secara sehat dan jujur. Sikap dasar ini bisa

di manfaatkan oleh para pemimpin dengan memberikan motivasi persaingan yang sehat

dalam menjalankan tugasnya. Pemberian hadiah untuk yang menang merupakan bentuk

motivasi postif. Dengan dijalankannya partisipasi ini bisa di peroleh manfaat, seperti bisa

dibuatnya keputusan yang lebih baik karena banyak sumbangan pikiran, adanya penerimaan

yang lebih besar terhadap perintah yang diberikan dan adanya perasaan diperlukan.

Kebanggan disini sebagai alat motivasi dengan persaingan dan pemberian penghargaan.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Kaitan Motivasi Kerja dengan Unjuk Kerja

Kaitan motivasi kerja dengan unjuk kerja dapat diungkapkan sebagai berikut: unjuk

(7)

peluang

(opportunities)

, dengan kata lain unjuk kerja adalah fungsi dari motivasi kerja kali

kemampuan kali peluang. Ungkapan ke dalam rumus menjadi:

Bila motivasi kerja rendah, maka unjuk kerjanya akan rendah pula meskipun

kemampuannya ada dan baik, serta peluangnya pun tersedia. Misalnya, seorang sarjana

komputer bekerja dalam prusahaan konsultasi dalam bidang teknologi informasi sebagai

tenaga ahli (peluang ada, dan punya kemampuan yang diperlukan). Namun suasana kerja,

hubungan antar tenaga kerja, kebijakan perusahaan tidak dirasakan sesuai, maka “semangat”

kerjanya menurun dengan hasil unjuk kerjanya kurang. Sebaliknya jika motivasi kerjanya

besar, namun peluang untuk menggunakan kemampuan-kemampuannya tidak ada atau tidak

diberikan, unjuk kerjanya juga akan rendah. Kalau motivasi kerja tinggi, peluang ada, namun

karena keahliannya dalam bidang tersebut tidak pernah ditingkatkan lagi, unjuk kerjanya juga

tidak akan tinggi.

3.2 Cara Meningkatkan Motivasi Kerja

3.2.1 Memotivasi Lewat Sentuhan-Sentuhan Kecil

Beberapa bentuk sentuhan-sentuhan kecil yang membuat bawahan termotivir, antara

lain:

1.

Mengucapkan salam lebih dahulu;

2.

Mengembangkan jabat tangan yang hangat dengan menatap matanya;

3.

Memberikan pujian yang tulus dan memergoki orang mengerjakan yang benar;

4.

Berikan senyuman pada saat bertemu dan berpisah;

5.

Tanyakan kesehatan dan kondisi keluarganya dan tunjukkan rasa empati.

3.2.2 Mengobarkan Semangat Bawahan dengan Cara Membuat Mereka Merasa Penting

Beberapa cara manajer dapat membuat karyawannya merasa penting, antara lain:

1.

Dengarkanlah mereka secara baik-baik dengan penuh perhatian;

2.

Jangan sekali-sekali pada saat bawahan menghadap di ruang Anda, Anda mendengarkan

sambil menulis, menandatangani surat, atau mengangkat telepon;

3.

Hargai pendapat, dan ide-idenya, tanggapilah dengan umpan balik yang positif;

4.

Memberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan training.

3.2.3

Kritik yang Konstruktif untuk Bawahan

Beberapa cara mengkritik secara konstruktif untuk bawahan yaitu sebagai berikut.

1.

Jika ada sesuatu yang tidak beres, usahakan mencara siapa yang bersalah atas hal itu secara

tepat;

2.

Jelaskan kepada bawahan mengenai suatu kesalahan secara spesifik dan berilah kesempatan

pada orang yang bersalah untuk mengetahui secara jelas kesalahannya;

3.

Seharusnya kita dapat mengendalikan diri pada saat mengkritik seseorang;

4.

Seharusnya kita biasa memberikan kritik secara pribadi;

(8)

5.

Seharusnya kita memuji terlebih dahulu sebelum memberikan kritik;

6.

Tunjukkan bahwa kita turut bertanggung jawab atas kesalahan bawahan;

7.

Dengarkan dengan sabar penjelasan dan alasan dari orang yang melakukannya.

8.

Bantulah orang tersebut untuk memperoleh kembali kepercayaan dan harga dirinya;

9.

Seharusnya kita bisa memaafkan dan melupakan suatu kesalahan.

3.2.4 Taktik Mengatasi Bawahan yang Tidak Loyal

Beberapa taktik mengatasi bawahan yang tidak loyal antara lain:

1.

Beri keteladanan pada mereka, sikap dan perilaku kita harus pantas menjadi contoh, jangan

pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan mereka;

2.

Bertindaklah adil jika kita terpaksa memperlakukan istimewa terhadap satu atau beberapa

orang, berikan penjelasan mengapa ia berbuat begitu agar ia memahami;

3.

Menjaga perkataan kita terutama pada saat marah, kata-kata yang menusuk hati tidak akan

membuat orang sadar tapi sebaliknya justru akan antipati pada kita.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal

berikut.

1.

Motivasi kerja adalah dorongan yang tumbuh dalam diri seseorang, baik yang berasal dari

dalam dan luar dirinya untuk melakukan suatu pekerjaan dengan semangat tinggi

menggunakan semua kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.

2.

Kaitan motivasi kerja dengan unjuk kerja dapat diungkapkan sebagai berikut: unjuk

kerja

(performance)

adalah hasil interaksi antara motivasi kerja, kemampuan

(abilities),

dan

peluang

(opportunities)

, dengan kata lain unjuk kerja adalah fungsi dari motivasi kerja kali

kemampuan kali peluang.

3.

Beberapa cara untuk meningkatkan motivasi kerja ialah sebagai berikut.

1.

Memotivasi lewat sentuhan-sentuhan kecil

2.

Mengobarkan semangat bawahan dengan cara membuat mereka merasa penting

3.

Memberikan kritik yang konstruktif untuk bawahan

4.

Menggunakan taktik untuk mengatasi bawahan yang tidak loyal

4.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat diajukan saran-saran sebagai berikut.

1.

Memberikan pemahaman kepada para staff perusahaan mengenai cara memotivasi bawahan

agar dapat memberikan unjuk kerja yang baik.

2.

Membuat lingkungan kerja yang nyaman dan hangat untuk mempertahankan dan

meningkatkan motivasi kerja karyawan.

3.

Menghilangkan rasa terlalu ingin dihormati dan dihargai sehingga menimbulkan terjadinya

kesenjangan perbedaan kedudukan antara atasan dan bawahan, yang pada akhirnya dapat

menghilangkan rasa simpati satu sama lain.

(9)

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Swastha,Basu & Sukatjo,Ibnu,2007,

Pengantar Bisnis Modern

, Liberty Yogyakarta: Yogyakarta.

Griffin, Ricky W & Ebert,Ronald J (Penerjemah Prof.Wagino Ismangil), 1997,

Bisnis

,

Prenhalindo: Jakarta.

Jatmiko,RD, 2004,

Pengantar Bisnis

, UMM Pers 2004: Malang

Http://kisahku-elin.blogspot.com/2012/01/makalah-motivasi-kerja.html

Http://jeffy-louis.blogspot.com/2012/04/makalah-motivasi-kerja.html

Motivasi

Pengertian Motivasi

Usaha yang dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi para pagawai, serta menemukan cara untuk mempengaruhi para agar melakukan tugasnya secara ikhlas dan bekerja lebih giat untuk mencapai hasil optimal dikenal dengan motivasi. Menurut Gray (2001:3), berpendapat bahwa motivasi merupakan sejumlah proses yang bersifat internal atau eksternal bagi individu yang menyebabkan timbulnya antusiasme dan persistensi dalam hak melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.

Salah satu aspek memanfaatkan pegawai ialah pemberian motivasi (daya perangsang) kepada pegawai, dengan istilah popular sekarang pemberian kegairahan bekerja kepada pegawai. Telah dibatasi bahwa memanfaatkan pegawai yang membari manfaat kepada perusahaan. Ini juga berarti bahwa setiap pegawai yang memberi kemungkinan bermanfaat ke dalam perusahaan, diusahakan oleh pimpinan agar kemungkinan tersebut ialah dengan jalan memberikan motivasi. Motivasi ini dimaksudkan untuk memberikan daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar pegawai tersebut bekerja dengan segala daya dan upaya. Menurut Daryanto (2003:756), Bahwa motivasi adalah suatu dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.

Menurut Nawawi (2003:351), pengertian dari motivasi adalah :

“Suatu keadaan yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara sadar”. Selain itu Menurut Hasibuan (2007:95) motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan. Menurut Menurut McCormick (dalam Mangkunegara, 2000), motivasi kerja adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan kerja.

Motivasi berasal dari motove atau dengan prakata bahasa latinnya, yaitu movere, yang berarti “ mengerahkan”. Seperti yang dikatakan Liang Gie( dalam Martoyo 2000 : 12), motive atau dorongan adalah suatu dorongan yang menjadi pangkal seseorang melakukan sesuatu atau bekerja. Seseorang yang sangat termotivasi, yaitu orang yang melaksanakan upaya substansial, guna menunjang tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya, dan organisasi dimana ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi, hanya memberikan upaya upaya

(10)

minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi, merupakan sebuah konsep penting studi tentang kinerja individual. Dengan demikian motivasi atau motivation berarti pemberian motiv, penimbulan motivasi atau hal yang nenimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Dapat juga dikatakan bahwa motivation adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Menurut Martoyo (2000:13) mengemukakan bahwa manusia dalam aktivitas kebiasaannya memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu asalkan dapat menghasilkan sesuatu yang dianggap oleh dirinya memiliki suatu nilai yang sangat berharga, yang tujuannya jelas pasti untuk melangsungkan kehidupannya, rasa tentram, rasa aman dan sebagainya. Martoyo (2000) motivasi kinerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja.

Menurut Robbins (2002:12), mengemukakan bahwa motivasi adalah kesediaan untuk keorganisasian, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya demikian untuk memenuhi kebutuhan individual tertentu. Selain itu, Menurut Manullang (2004) menyatakan bahwa, motivasi adalah memberikan daya perangsang kepada karyawan yang bersangkutan agar karyawan tersebut bekerja dengan segala daya dan upayanya. Menurut Soemanto motivasi adalah sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai dengan dorongan efektif dan reaksi-reaksi pencapaian tujuan.

Motivasi atau dorongan kepada pegawai untuk bersedia bekerja bersama demi tercapainya tujuan bersama ini terdapat dua macam yaitu :

a) Motivasi finansial, yaitu dorongan yang dilakukan dengan memberikan imbalan finansial kepada pegawai. Imbalan tersebut sering disebut insentif.

b) Motivasi non finansial, yaitu dorongan yang diwujudkan tidak dalam bentuk finansial atau uang, akan tetapi berupa hal-hal seperti pujian, penghargaan, pendekatan manusia dan lain sebagainya.

Konsep motivasi, merupakan sebuah konsep penting studi tentang kinerja individual. Dengan demikian motivasi berarti pemberian motivasi atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Dapat juga dikatakan bahwa motivasi adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu.

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan motivasi sangat penting bagi suatu perusahaan atu instansi, karena merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong karyawan atau pegawai untuk bertindak secara ikhlas agar tujuannya dapat tercapai secara efisien.

2.1.2 Teori Motivasi Kepuasan

Teori yang didasarkan pada kebutuhan insan dan kepuasannya. Maka dapat dicari faktor-faktor pendorong dan penghambatnya. Pada teori kepuasan ini didukung juga oleh para pakar seperti Taylor yang mana teorinya dikenal sebagai Teori Motivasi Klasik. Teori secara garis besar berbicara bahwa motivasi kerja hanya dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja baik secara biologis maupun psikologis. Yaitu bagaimana mempertahankan hidupnya.

Selain itu juga teori Hirarki Kebutuhan (Need Hirarchi) dari Abraham Maslow yang

menyatakan bahwa motivasi kerja ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja baik secara biologis maupun psikologis, baik yang berupa materi maupun non-materi. Secara garis besar tersebut teori jenjang kebutuhan dari Maslow dari yang rendah ke yang paling tinggi yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah merasa puas, karena kepuasannya bersifat sangat relatif maka disusunlah hirarki kebutuhan seperti hasrat menyusun dari yang teruraikan sebagai berikut:

(11)

1. Kebutuhan pokok manusia sehari-hari misalnya kebutuhan untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan fisik lainnya (physiological need). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah, apabila sudah terpenuhi maka diikuti oleh hirarki kebutuhan yang lainnya.

2. Kebutuhan untuk memperoleh keselamatan, keamanan, jaminan atau perlindungan dari yang membayangkan kelangsungan hidup dan kehidupan dengan segala

aspeknya (safety need).

3. Kebutuhan untuk disukai dan menyukai, disenangi dan menyenangi, dicintai dan mencintai, kebutuhan untuk bergaul, berkelompok, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menjadi anggota kelompok pergaulan yang lebih besar (affiliation needs).

4. Kebutuhan untuk memperoleh kebanggaan, keagungan, kekaguman, dan kemasyuran sebagai seorang yang mampu dan berhasil mewujudkan potensi bakatnya dengan hasil prestasi yang luar biasa (the need for self actualization). Kebutuhan tersebut sering terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari melalui bentuk sikap dan prilaku bagaimana menjalankan aktivitas kehidupannya.

5. Kebutuhan untuk memperoleh kehormatan, pujian, penghargaan, dan pengakuan (esteem need).

2.1.3 Faktor-Faktor Pendukung Motivasi

Teori kebutuhan dari Maslow menjelaskan bahwa kebutuhan rangka pencapaian tujuan ini yakni :

1. Kebutuhan fisologis

Merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia, untuk mempertahankan kelangsungan hidup yang bersifat primer.

2. Faktor keselamatan dan keamanan kerja

Keselamatan kerja adalah kebutuhan akan keamanan dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melakukan pekerjaan agar bebas dari rasa takut dimasa yang akan datang, dengan adanya jaminan dan perlindungan akan pekerjaannya bila terjadi sesuatu atas dirinya.

3. Faktor sosial

Iklim kerja atau suasana kerja yang harmonis perlu diciptakan dilingkungannya agar pekerja dapat melaksanakan pekerjaanya dengan sebaik-baiknya. Karena manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan berupa tercipta hubungan yang akrab dan penuh kekeluargaan baik hubungan antara pegawai dan atasannya.

4. Faktor penghargaan

Pada dasarnya semua manusia dalam bermasyarakat mempunyai kebutuhan dan keinginan akan penilaian serta mengaharapakan penghargaan dari orang lain berupa pujian maupun materi sehingga pengertian tentang penghargaan dalam memotivasi karyawan dapat diwujudkan bekerja dengan semangat.

5. Faktor Aktualisasi diri

Merupakan suatu upaya untuk bisa mengembangkan kemampuan untuk berbuat lebih baik kepada karyawan yang diperuntungkan bagi pengembangan dan keberhasilan bagi suatu instansi.

2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Pegawai

Secara umum ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi pegawai sebagai berikut: 1. Faktor-faktor yang timbul dari dalam diri pegawai (faktor intern) yakni:

Setiap individu menjadi karyawan atau pegawai pada suatu perusahaan atau instansi dalam melakukan kegiatannya tentunya didasarkan pada kepentingan ekonomi karena desakan

(12)

ingin memenuhi kebutuhan dan meningkatkan taraf hidupnya hak inilah yang menjadi motivasi atau pendorong bagi mereka. (1) Kepuasan dalam memperoleh pelayanan. Adapun yang menjadi pendorong bagi pegawai untuk lebih giat bekerja adalah untuk memperoleh pelayanan yang efisien, karena dengan adanya pelayanan yang baik dengan sendirinya dapat meningkatkan motivasi kerja bagi para pegawai itu sendiri. (2) Adanya harapan untuk

memperoleh fasilitas. Setiap pegawai atau karyawan tentunya mengharapkan fasilitas yang lebih baik pula, artinya setiap karyawan terdorong untuk bekerja lebih giat demi

mendapatkan jabatan dan fasilitas yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkannya. 2. Faktor-faktor yang timbul dari luar diri Pegawai (faktor ekstern) yaitu :

a) Keadaan lingkungan

Keadaan lingkungan disini tak lain adalah jarak antara instansi dengan tempat tinggal pegawai, merupakan faktor yang dapat mempengaruhi motivasi pegawai, karena semakin jauh jarak tempat tinggal pegawai dengan instansi maka semakin berkurang motivasi pegawai untuk lebih giat dalam bekerja hal ini sering kali disebabkan oleh adanya hambatan transport.

b) Adanya Hadiah

Dalam meningkatkan gairah kerja pegawai untuk lebih aktif dan termotivasi maka instansi akan memberikan sesuatu yang bersifat merangsang gairah kerja para pegawai yang giat, aktif, dan rajin, hal ini diharapkan agar dapat menumbuhkan kegairahan kerja para pegawai untuk lebih giat meningkatkan kinerja kerja mereka demi pencapaian tujuan yang telah direncanakan oleh perusahaan tersebut.

c) Penempatan Jabatan yang sesuai.

Penempatan jabatan bagi para pegawai seringkali dapat menimbulkan suatu masalah bagi pegawai yang bersangkutan. Hal ini disebabkan oleh jabatan yang diberikan dan ditempati oleh para pegawai tersebut tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki, sehingga menyebabkan kegairahan kerja dan motivasi kerja pegawai yang berkurang.

Pada dasarnya, salah satu pelaksanaan motivasi dapat dilakukan dengan cara pemberian kompensasi.

2.2 Kompensasi

Salah satu fungsi manajemen personalia yang paling rumit tetapi sangat penting baik bagi perusahaan maupun karyawan, yaitu menyangkut penentuan kompensasi. Dikatakan penting bagi perusahaan, karena upah dan gaji merupakan biaya perusahaan, sedangkan penting bagi pegawai, karena uang gaji merupakan alat untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan secara ekonomis.

Menurut Handoko (2000) yang memberikan pengertian bahwa Pemberian kompensasi adalah pemberian kepada pegawai dengan pembayaran finansial sebagai balas jasa untuk pekerjaan yang dilaksanakan dan sebagai motivator untuk pelaksanaan kegiatan diwaktu yang akan datang. Sebelum perusahaan memberikan kompensasi kepada para pegawai, maka terlebih dahulu menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan dan praktek-praktek manajemen, karena hal ini menyangkut biaya perusahaan.

Menurut Handoko (2000) kebijaksanaan-kebijaksanaan dan praktek-praktek manajemen ditentukan oleh interaksi tiga faktor yaitu:

1. Kesediaan membayar

Adalah bukan merupakan pernyataan yang berlebihan untuk menyatakan bahwa para manajer sebenarnya ingin membayar upah secara adil. Sebab itu para manajer juga merasa bahwa para karyawan seharusnya melakukan pekerjaan sesuai upah yang mereka terima.

(13)

Manajer perlu mendorong para karyawan untuk meningkatkan keluaran mereka agar upah dan gaji yang lebih tinggi dapat dibayarkan.

2. Kemampuan membayar

Tanpa memperhatikan semua faktor lainnya, dalam jangka panjang realisasi pemberian kompensasi akan tergantung pada kemampuan membayar dari perusahaan. Hal ini tergantung pada pendapatan dan laba yang diraih, di mana hal ini tergantung pada

produktivitas karyawan. Penurunan produktivitas karyawan dan inflasi akan mempengaruhi pendapatan nyata karyawan.

3. Persyaratan-persyaratan pembayaran

Dalam jangka pendek, pengupahan dan penggajian sangat tergantung pada tekanan-tekanan eksternal dari pemerintah, organisasi karyawan (serikat buruh) kondisi permintaan dan penawaran tenaga kerja dan para pesaing.

Berdasarkan teori yang telah dikemukan pada kajian teori, maka untuk membahas masalah motivasi kerja pegawai pada kantor kelurahan pilolodaa, peneliti menggunakan teori yang dikemukan oleh Abraham Maslow yang menyatakan bahwa motivasi kerja ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja baik secara biologis maupun psikologis, baik yang berupa materi maupun non-materi.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dapat dimengerti karena para ondernemer ketika itu tidak biasa dengan hukum adat kita (yang tidak tertulis) maka dalam model akta 1877, model aktaa 1878,1884 dan

Dalam dua kutipan berita tersebut sekilas nampak bahwa YZ- lah yang menjadi obyek pemberitaan, namun jika fokus analisis ditempatkan pada cara bercerita wartawan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Dukungan Atasan dilihat dari Memanfaatkan ketrampilan, Waktu untuk mempelajari tujuan dan aspirasi karir, Keberhasilan

konsep geografi. Dalam mengembangkan pembelajaran geografi di kelas, yang diharapkan adalah keterlibatan aktif selutuh siswa dalam kegiatan pembelajaran, menemukan

[r]

Walaupun secara legal formal argumentasi yang diajukan fuqaha jumhur lebih kuat, namun untuk mengantisipasi bahaya (mudharat) dan fitnah yang akan muncul, yaitu kebiasaan berbuat

Simpan dan refresh halaman tambah data pengguna dan silahkan coba untuk diisi sesuai kolom yang dibuat dan klik tombol simpan maka akan muncul konfirmasi

a) Masalah itu menunjukkan suatu kesenjangan antara teori dan fakta empirik yang dirasakan dalam proses pembelajaran. b) Masalah tersebut memungkinkan untuk dicari dan