• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAVI- CSO IBI MENGASAH UJUNG TOMBAK KIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAVI- CSO IBI MENGASAH UJUNG TOMBAK KIA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

GAVI- CSO IBI

MENGASAH

UJUNG

TOMBAK

KIA

(2)

Pelatihan GAVI-CSO IBI membuka kerja

Didirikan pada 24 Juni 1951, Ikatan Bidan

Indonesia (IBI) merupakan organisasi profesi bidan di Indonesia dengan visi mewujudkan bidan profesional berstandar global. Misi IBI adalah meningkatkan kekuatan organisasi, meningkatkan peran IBI dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pelayanan bidan, meningkatkan kesejahteraan anggota dan mewujudkan kerja sama dengan jejaring kerja.

IKATAN

BIDAN

INDONESIA

Pada 1951, IBI menjadi anggota Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) , dan lima tahun kemudian, tepatnya pada 1956, IBI menjadi anggota ICM (International Confederation of Midwives) hingga sekarang. Berkedudukan di Jakarta, IBI memiliki perwakilan di 33 provinsi, 445 Kota/Kabupaten, dan 1.944 kecamatan di seluruh Indonesia. Saat ini anggota IBI mencapai 140.000 bidan.

Sudah enam tahun ini Onih kasanova, 44 tahun, menjadi kader posyandu desa Pantai Makmur, kecamatan Bebelan, kabupaten Bekasi. Bukan hanya sebagai kader, Onih juga menyediakan rumahnya sebagai posyandu. dari sekitar 125 keluarga, sekitar 70-90 warga berkunjung tiap bulan untuk mendapatkan pelayanan suntik kB, penyuluhan bayi dan balita, dan imunisasi.

Tapi, menurut Onih, ada yang berubah sejak dua tahun lalu. imunisasi dulu tidak diminati warga, tapi sekarang hampir semua di desanya anak-anak di bawah lima tahun sudah terimunisasi. Membaiknya antusiasme warga terhadap

WILAYAH INTERVENSI DAN SASARAN

sama lintas program di antara para

penanggung jawab kesehatan. Sebuah

imunisasi ini, menurut Onih, tak lepas dari pelatihan yang ia terima dari GaVi-CSO. “imunisasi sudah ada sejak dulu selama

511

2

PROVINSI

5

KABUPATEN

73

KEC/PUSKESMAS

365

DESA

930

POSYANDU

upaya terobosan untuk memberi

penyegaran, pemberdayaan sekaligus

pengakuan bagi para petugas kesehatan

saya di posyandu. Tapi dulu-dulu, sebelum ada GaVi, belum semua mau, karena saya juga belum bisa ngarahin. Saya belum tahu alasannya kalau anak panas. Sekarang

BIDAN/

PERAWAT

1.825

KADER/DUKUN

18.250

MASYARAKAT SASARAN

dan kader di bidang KIA dan imunisasi.

karena saya sudah tahu, saya beritahu,”

tutur Onih, yang telah mendapat 6 kali pelatihan di puskesmas dan di kecamatan Bebelan, Bekasi.

Onih kasanova adalah satu di antara 1.825 kader posyandu yang mendapat

PROVINSI KAB/KOTA KECAMATAN/ PUSKESMAS Kabupaten Luwu Timur Sulawesi DESA/ KEL. POSYANDU BIDAN/ PERAWAT

KADER KELUARGA pelatihan yang diselenggarakan oleh

GaVi-CSO iBi. Sejak menandatangani kesepakatan untuk menyelenggarakan GaVi-CSO pada 2010, iBi bergerak di dua

Selatan Kota Palopo

Kabupaten Enrekang Kabupaten

33 165 330 231 825 8.250

provinsi, jawa Barat dan Sulawesi Selatan, di 5 kabupaten/kota. keterlibatan iBi diha- rapkan dapat meningkatkan cakupan

imu-Jawa Barat Bekasi 40 200 600 280 1.000 10.000 Kabupaten Bogor 73 365 930 511 1.825 18.250

nisasi rutin sebesar 10 persen melalui pemberdayaan kader, bidan, dan dukun.

Pelaksanaan program diawali dengan

(3)

pengumpulan data awal. dari pendataan tersebut diketahui bahwa angka uCi desa tertinggi yang melebihi cakupan uCi desa (80%) terdapat di Bekasi 93% dan Luwu Timur 84% dan nilai terendah di Enrekang 76%. angka drop out imunisasi terdapat di Bekasi sebesar 5,7%, Bogor 4,52%. untuk cakupan kunjungan k1 tertinggi di Luwu Timur 117% dan terendah di Bogor 81,2%, sedangkan kunjungan k4 tertinggi di Luwu Timur 108% dan terendah di Enrekang 74%. Persalinan oleh tenaga kesehatan tertinggi di Luwu Timur 105% dan terendah di Bogor 76,6%. kunjungan neonatal pertama (kn1) tertinggi di Luwu Timur 100% dan terendah di Bogor 79% dan kunjungan neonatal kedua (kn2) ter- tinggi di Luwu Timur 98% dan terendah di Palopo 73%.

data di atas diolah dan digunakan untuk mengembangkan modul serta stra- tegi pelatihan. hasilnya, kurikulum dan

Penyusunan kurikulum ini dengan mempertimbangkan kearifan lokal daerah

binaan.

modul pelatihan bagi bidan/perawat dan modul pelatihan bagi kader/dukun sebagai upaya menyikapi hasil analisis data cakupan imunisasi yang masih rendah di daerah binaan GaVi CSO iBi. Penyusunan kurikulum ini dengan mempertimbangkan kearifan lokal daerah binaan.

Setelah modul siap, mulailah pelatihan di bidang imunisasi dan kia untuk kader dan bidan. diselenggarakan dalam dua tahap, pelatihan tersebut menjangkau 511 bidan/perawat. angka ini jauh di atas target 365 peserta di 2 provinsi binaan GaVi-CSO iBi. di samping itu, dilatih pula 1.825 kader dan dukun di kecamatan untuk mendukung peningkatan cakupan

kader melakukan penyuluhan menggunakan media penyuluh (lembar balik, kaos, dan pin.

imunisasi. Selesai pelatihan, kader diminta memberikan penyuluhan kepada 18.250 keluarga sasaran di 5 kab/kota binaan GaVi-CSO iBi.

Pada pertengahan 2013, GaVi-CSO ikatan Bidan indonesia (iBi) melaksanakan kampanye imunisasi melalui radio spot yang disiarkan oleh rri Pusat, 2 radio swasta nasional (Bahana dan Women), 2 rri daerah (jawa Barat dan Sulawesi Selatan), 2 radio swasta provinsi (Madama FM di Sulsel dan Global FM di jabar), dan 5 radio swasta kabupaten/kota di wilayah sasaran, yaitu kabupaten Bogor dan Bekasi untuk jawa Barat serta Palopo, Enrekang, dan Luwu Timur untuk Sulawesi Selatan (radio GiSS, Makara, adira, Elpas, dan 8Eh). Siaran itu dilakukan antara 10 juli dan 1 agustus 2013.

Pada 2013 itu pula GaVi-CSO iBi mengadakan vaccine carier sebanyak 83 buah, yang kemudian didistribusikan ke puskesmas sasaran. Tujuannya adalah untuk melengkapi peralatan imunisasi di puskesmas dan posyandu sehingga pelaksanaan imunisasi tak terhambat dan cakupan meningkat.

Bidan Bintang Petralina, SST, Mkeb.

Sedemikian penting peran bidan untuk suatu proses

reproduksi dalam masyarakat kita, hingga

kata “bidan” itu mengalami pelebaran

makna.

PELATIHAN DAN KOORDINASI

di indonesia dan terutama negeri-negeri sedang berkembang, tidak berlebihan bila mengatakan bahwa bidan adalah ujung tombak kesehatan ibu dan anak. Seperti ditegaskan oleh Bidan Bintang Petralina, SST, Mkeb., sudah kewajiban seorang bidan mempersiapkan dan menolong orang untuk hidup. Bahkan, di pelosok-pelosok desa, seorang bidan biasa merasakan merangkap fungsi sebagai guru dan tempat curhat untuk warga sekitar. Sedemikian penting peran bidan untuk suatu proses reproduksi dalam masyarakat kita, hingga kata “bidan” itu mengalami pelebaran makna. Menurut kamus Besar Bahasa indonesia, membidani bukan hanya berarti membantu kelahiran seorang manusia, tetapi kelahir- an apa pun, mulai dari ide hingga sesuatu yang kasat mata.

kenyataan ini, di satu sisi, menempat- kan bidan pada posisi yang strategis dalam usaha meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Pembicaraan tentang angka kematian ibu dan anak, kecukupan gizi, imunisasi, tak mungkin lepas dari urusan

(4)

ka

da

bidan. akan tetapi, di sisi l ini menimbulkan sesuatu for granted”, bahwa suda

Palopo anggaran kesehatan masih ter- dukun, kader da batas. dilatih beberapa efektif. Metode y permainan dan dengan alat-ala tentang imunisa Menurut Bi SiP, MM, Sekr latihan dilakuka berkelanjutan. “ syarakat pertam

Bidan Zulvi Wiyanti, SSiT, M.kes lalu bidan diber

Staf Teknis iBi dalam hal pemb

Modul pemberdayaan masyarakat pertama diberikan

kepada bidan, lalu bidan diberi materi pelatihan

der dalam hal pemberdayaan masyarakat,

n kader diharapkan bisa memberdayakan

masyarakat paling tidak 10 orang.

Bidan Tuminah Wiratnoko, SiP, MM Sekretaris jendral iBi

kader diharapkan bisa memberdayakan masyarakat paling tidak 10 orang.” Sifat pelatihan yang berjenjang ini, menurut Bi- dan Suryani, Bidan desa Samudera jaya, Bekasi, membedakan pelatihan GaVi-CSO iBi dari beberapa pelatihan yang pernah dia ikuti. Biasanya, pelatihan hanya diper- untukkan kepada bidan, lalu bidan secara individual dan tidak sistematis membagi- bagikan hasil pelatihan kepada kader. dalam program GaVi-CSO, bidan desa

diskusi kelompok kader di kab. Bekasi

ain, kerap hal yang “taken h selayaknya menyerahkan urusan ibu dan anak ke tangan bidan. akibatnya, pembinaan kader apalagi penyegaran bidan jarang mendapat perhatian. Pengalaman Bidan rita Tikula, M. kes di kota Palopo, bisa menjadi contoh. Sebagai ketua iBi kota Palopo, rita telah lama mengidamkan agar bidan dan kader posyandu di wilayahnya memperoleh pe- nyegaran dan pemberdayaan. namun, keinginan itu tak kunjung terwujud. Selain karena pelatihan kader dianggap bukan tanggung jawab bidang kesehatan, di kota

kehadiran GaVi-CSO iBi menerobos kebuntuan tersebut. Tidak heran, berbinar- binar mata rita ketika mengingat kembali banyaknya kader posyandu yang telah mendapat pelatihan mengenai imunisasi dan kia. Tahun 2010 program GaVi-CSO iBi menyentuh kota Palopo. Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, melalui program ini rita yang menjadi ketua GaVi-CSO iBi dapat menyelenggarakan pelatihan untuk 250 kader posyandu dan 50 bidan.

Materi pelatihan mencakup dua hal: Pertama, teknik komunikasi dan promosi kesehatan. agar bidan dapat bersikap lebih aktif mengajak dan memberdayakan n masyarakat, bidan-bidan

teknik komunikasi yang ang digunakan mencakup klasikal, serta dilengkapi t peraga. kedua, materi si itu sendiri.

dan Tuminah Wiratnoko, etaris jenderal iBi, pe- n secara berjenjang dan Modul pemberdayaan ma- a diberikan kepada bidan, i materi pelatihan kader erdayaan masyarakat, dan

mengajarkan kepada kader, dari kader ke kelompok masyarakat, dari kelompok ke rumah rumah.

Proses pelatihan hingga di tingkat kader ini dirasakan memberikan dampak positif. di satu sisi kader semakin terampil dan percaya diri dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Menurut ketua Pd iBi Sulawesi Selatan, hj Waode aliah, SkM, M.kes, setelah ada GaVi-CSO kesadaran masyarakat untuk datang ke posyandu dan mendapat layanan imunisasi serta kia membaik. “karena setelah dilatih kader bisa bergerak maksimal,” tutur Waode. Bidan Zulvi Wiyanti, SSiT, M.kes., staf teknis iBi, melihat sisi lain dari gejala yang sama. “kader merasa diuwongke

hj Waode aliah, SkM, M.kes ketua Pd iBi Sulawesi Selatan

diskusi kelompok ibu hamil/ibu bayi di kab. Bekasi

Target sasaran penyuluhan ibu hamil/ibu dan bayi di kab. Bekasi

(5)

(dihargai). Saya dilatih jadi saya tahu. jadi mereka mengajak masyarakat pun pede.” Sebaliknya, kader yang aktif membuat masyarakat lebih tergerak dan mudah berinteraksi. “ada daya tarik setelah ada penyuluhan, karena masyarakat melihat kesungguhan kader dan bidan. Mereka juga bisa lebih jelas menanyakan langsung. Biasanya hanya katanya katanya,” tutur Suryani yang telah lima tahun menjalani tugasnya.

KOORDINASI LINTAS SEKTOR

Selain membuka kesempatan untuk pe- latihan kader dan bidan, program GaVi- CSO iBi juga mempererat jaringan

koor-dinasi lintas-program. Zulvi menjelaskan, di lapangan, program imunisasi dikelola baik oleh bidan maupun perawat. Selama ini agaknya pengelola program jarang duduk bersama untuk merencanakan dan memberikan pelatihan guna memberdaya- kan masyarakat. keberadaan GaVi-CSO memungkinkan iBi merangkul semua pihak, bukan hanya para bidan tapi semua pihak yang terlibat dalam program imunisasi, dari tingkat pusat hingga tingkat desa. kerja sama antar-lembaga pun, antara lain dengan Pkk, organisasi kewanitaan, dan organisasi keagamaan, akhirnya terjalin berkat program ini.

Referensi

Dokumen terkait