1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transportasi umum adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah kota, terlebih kota metropolitan seperti Jakarta. Idealnya, transportasi umum memberikan akses mudah bagi publik untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan biaya terjangkau, serta menjadi jawaban bagi permasalahan utama transportasi yaitu akses dan kemacetan. Sayangnya, hal ini belum berlaku di Jakarta. Hal ini terlihat dari ketidakmampuan transportasi umum dalam mempersuasi masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi (terutama masyarakat kelas atas) agar menggunakan sarana dan prasarana transportasi umum yang sudah disediakan.
Terlepas dari usaha Pemerintah Kota Jakarta untuk membangun sarana transportasi umum yang handal, fakta yang terjadi adalah masyarakat Jakarta lebih memilih untuk memiliki transportasi pribadi seperti sepeda motor dan mobil. Menariknya, hal ini terus terjadi ketika kemacetan yang terjadi sudah cukup parah. Sebuah kajian yang dilakukan Kementrian Pekerjaan Umum (Kementerian Pekerjaan Umum, 2009) menyatakan bahwa kemacetan sudah mempengaruhi perekonomian hingga kesehatan dari masyarakat Kota Jakarta. Hal ini semakin menjadi dengan adanya insentif dari dua produsen otomotif terbesar di Indonesia, Toyota dan Daihatsu, melalui Toyota Agya dan Daihatsu Ayla yang memperkenalkan konsep “mobil murah” (The Jakarta Post, 2012) (Tempo, 2013). Apa itu mobil murah? Menurut PP Nomor 41/2013 tentang Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) dan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 33/2013 tentang Pengembangan Produksi Mobil Murah Hemat Energi, mobil murah adalah kendaraan roda empat yang memiliki kapasitas mesin dibawah 1200 cc, dengan konsumsi bahan bakar paling sedikit 20 km/liter dan memiliki kandungan lokal sebesar 80%. Mobil murah juga tidak terkena PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah), sehingga harga yang dipatok berada dibawah 100 juta rupiah (Seputar Indonesia, 2013).
Hal ini juga ditanggapi oleh produsen mobil lain, seperti Honda, Suzuki, dan Datsun (Nissan) juga merespon melalui produk mereka yaitu Honda Satya
Brio, Suzuki Karimun Wagon R dan Datsun GO+ (The Jakarta Post, 2013), dimana puncaknya terjadi saat pameran otomotif Indonesia International Motor Show 2013. Ketua Pelaksana dan Wakil Ketua GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) Johny Darmawan memproyeksikan untuk tahun 2013 akan terserap 3000 unit dari mobil murah hanya untuk di daerah Jabodetabek (Liputan 6, 2013) saja. Apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Secara intuitif, kita semua mengetahui bahwa dampak yang akan terjadi adalah kemacetan. Apabila 3.000 mobil murah ini dibariskan ke dalam satu barisan panjang, dengan panjang 3.5 meter per unitnya dan jarak 1 meter di depan dan belakang setiap unit, maka akan menghasilkan barisan 16 kilometer mobil murah. Dengan pertumbuhan jalan sekitar 0.01% setiap tahunnya, dimana panjang jalan Jakarta sekarang adalah 7.200 km, maka akan dihasilkan 0.72 km tambahan jalan setiap tahunnya, atau defisit 15.28 km setiap tahunnya hanya dari mobil murah saja, tanpa menghitung mobil lain yang juga terserap di Jakarta (Katadata, 2013). Dari sini kita dapat menarik sebuah kesimpulan, yaitu stagnasi Jakarta hanya masalah waktu.
Setiap orang yang sudah menjadi warga Jakarta, tanpa membaca kajian tersebut pun sudah merasakan sendiri dampak dari kemacetan Jakarta secara pribadi. Sampai kapan kita harus seperti ini? Dari sinilah terdapat motivasi untuk melakukan sebuah tindakan kecil, dengan harapan menggerakkan masyarakat Kota Jakarta untuk beralih ke transportasi umum yang disediakan dan dikembangkan oleh Pemerintah Kota Jakarta. Apabila setiap orang sudah mengetahui alternatif transportasi umum yang membantu mengurangi kemacetan kota Jakarta, sekaligus memberikan keuntungan biaya dan waktu untuk kepentingan masing – masing pengguna transporasi umum, maukah masyarakat mencoba transportasi umum tersebut? Apabila pepatah mengatakan “banyak jalan menuju Roma”, mengapa kita tidak mencobanya?
Dengan teknologi Wordpress dan arsitektur mobile web, terciptalah sebuah Personal Knowledge Management berbasis blog tentang penggunaan transportasi umum di Kota Jakarta, yang bernama “BinusRaya”. BinusRaya memiliki teknologi responsive web, yaitu optimisasi presentasi konten untuk
pengguna smartphone dan tablet dengan penyesuaian pada Personal Computer seperti Laptop dan Computer agar tetap tampil dengan baik. Secara konten, terdapat berbagai pengetahuan dasar hingga best practice yang dapat dijadikan pembelajaran bagi pengguna sehingga dapat menentukan transportasi dan rute terbaik yang dapat memenuhi kepentingan pribadi dari pengguna tersebut. PKM ini juga memfasilitasi terjadinya kolaborasi antar pengguna (melalui social media) dan kolaborasi antar informasi (melalui knowledge taxonomy), sehingga pengetahuan dapat berkembang seiring dengan dinamisme penggunaan transportasi umum di DKI Jakarta.
Penting untuk diketahui pula bahwa penamaan BinusRaya tidak memiliki hubungan khusus dengan jajaran rektorat, School of Information System Bina Nusantara, atau bagian apapun dari Universitas Bina Nusantara. Ini adalah sebuah proyek skripsi pribadi yang tidak disponsori, disubsidi, dan/atau disepakati dalam bentuk apapun dengan Universitas Bina Nusantara. Penamaan tersebut hanya sebatas nama proyek (codename) dan Universitas Bina Nusantara tidak memiliki hak eksklusif untuk mengklaim skripsi ini sebagai milik universitas atau bagian manapun yang representatif. Nama aplikasi ini dapat berubah sewaktu – waktu, dan hak tersebut dimiliki secara penuh oleh Tim BinusRaya.
1.2 Ruang Lingkup
Secara garis besar untuk kepentingan sidang skripsi, penulisan ini berfokus pada pembangunan repositori pengetahuan, sehingga hasil observasi dan pengetahuan di dalamnya belum lengkap dan rinci. Berikut adalah penjabaran lengkap dari ruang lingkup yang menjadi batasan dalam skripsi ini:
a. Tidak mencakup aspek keamanan web (web security) dari aplikasi.
b. Tidak mencakup aspek antropologis dan sosiologis masyarakat tentang penggunaan transportasi umum.
c. Tidak mencakup aspek hukum, keamanan, dan etika berlalu lintas, serta definisi dan penggunaan marka dan rambu di jalan raya.
d. Tidak membahas tentang teknis transmisi data dari server menuju device yang digunakan pengguna untuk mengakses Knowledge Management BinusRaya.
Adapun keterbatasan yang memaksa diterapkannya ruang lingkup ini adalah: a. Keterbatasan pengetahuan penulis tentang web security, protocol jaringan,
dan bahasa pemrograman PHP, yang menjadi dasar dari Wordpress. b. Keterbatasan pengetahuan penulis tentang antropologi dan sosiologis dari
masyarakat Jakarta, baik secara teoritis maupun penerapan.
c. Keterbatasan pengetahuan dan subjektivitas dari hukum, keamanan, dan etika dalam berlalu lintas.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan skripsi ini beserta penerapannya adalah membangun sebuah knowledge management yang berguna untuk membagikan dan memfasilitasi produksi pengetahuan melalui collaboration dan double loop learning Pengetahuan yang dimaksud adalah:
a. Pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan tentang transportasi umum yang meliputi ciri fisik dari transportasi umum dan tempat pemberhentian (halte). Selain itu, pengetahuan dasar juga mencakup letak halte dan bagaimana cara menggunakan transportasi umum tersebut.
b. Pengetahuan lanjutan, yaitu pengetahuan tentang transportasi umum yang meliputi best practice yang dimiliki dalam penggunaan transportasi umum tertentu secara spesifik. Pengetahuan lanjutan ini secara eksplisit terdapat didalam post pada bagian “Komunitas BinusRaya”.
Manfaat yang dapat dirasakan oleh pengguna adalah ketersediaan pengetahuan tentang penggunaan transportasi umum di Kota Jakarta, sehingga mampu untuk menggunakan transportasi umum dengan mendapatkan kenyamanan dan efisiensi harga namun tidak menutup kemungkinan tercapainya efisiensi waktu.
1.4 Metodologi Penelitian
Metodologi yang digunakan untuk membuat skripsi ini terdiri dari: a. Objek Penelitian
1. Keadaan lalu lintas di Kota Jakarta Barat.
2. Sarana dan Prasarana transportasi umum di Kota Jakarta bagian Barat.
b. Metode Penelitian
1. Metode Pengumpulan Data i. Observasi
Mengumpulkan data dengan cara mengamati secara langsung lalu lintas di Kota Jakarta dan menaiki kendaraan umum yang ada, sehingga dapat mencatat (capture) data yang ada secara faktual untuk kemudian dianalisa dan diolah menjadi pengetahuan.
ii. Studi Kepustakaan dan Literatur
Pengumpulan data dan informasi dari berbagai literatur, internet, atau media informasi lainnya yang berhubungan dengan objek penelitian untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah pengetahuan.
2. Metode Analisa
i. Boisot Information Space KM Model
Boisot Information Space adalah rangka kerja konseptual yang dibangun dengan premise intuitif yang simple, aliran pengetahuan yang terstruktur lebih siap dan ekstensif dibandingkan dengan pengetahuan yang tidak terstruktur (Boisot, Canals, & Macmillan, 2004). Alasan dalam menggunakan permodelan pengetahuan ini adalah metode ini lebih cocok untuk diterapkan pada Personal Knowledge Management dibandingkan dengan permodelan lain
(seperti Inukshuk dan EFQM yang berfokus pada kepemimpinan dan organisasi) dan hasil akhir yang selaras dengan visi dari skripsi ini, yaitu Absorbtion (penerapan pengetahuan dengan cara learning by doing) dan Impacting (terdapat embedding dari pengetahuan abstrak di dalam tindakan konkrit).
ii. McElroy Knowledge Lifecycle
Knowledge Life Cycle adalah sebuah gambaran dari
knowledge processing dan hubungannya dengan
operational business processing (Firestone & McElroy, 2005) yang dikembangkan oleh komunitas knowledge management yaitu sebuah model tiga tahap untuk knowledge management generasi kedua (McElroy, 1999). Alasan dalam menggunakan siklus KM ini adalah kesesuaian siklus dengan pemanfaatan teknologi Wordpress, dimana terdapat pembagian hak pengguna (otorisasi) yang memperbolehkan pengguna yang terdaftar untuk membagi pengetahuannya di dalam KM, namun harus melewati seleksi terlebih dahulu lalu dipublikasikan oleh Tim BinusRaya. Selain itu, Knowledge Lifecycle juga memungkinkan terjadinya Double Loop Learning (McElroy, 1999) melalui collaboration (Razmerita, Kirchner, & Sudzina, 2009) (Ives & Watlington, 2005) yang difasilitasi oleh Wordpress.
iii. Task Analysis and Modelling
Task Analysis mempelajari apa yang harus dilakukan oleh knowledge worker untuk tindakan tertentu yang harus diambil dengan proses kognitif yang harus dipanggil (called) untuk menyelesaikan sebuah tugas/task (Preece et al. 1994 dalam Dalkir, 2011). Task Analysis yang gunakan untuk menuangkan hasil observasi agar terstruktur dan terkodifikasi dengan baik.
3. Metodologi Pengembangan dan Pembangunan BinusRaya Metodologi yang digunakan untuk membangun dan mengembangkan BinusRaya ini adalah Web Development Life Cycle (French, 2011). Arsitektur yang digunakan adalah mobile web dan menggunakan teknologi Wordpress.
1.5 Sistematika Penulisan
Berikut adalah sistematika dari penulisan skripsi ini, yang dituangkan ke dalam 5 bab yaitu:
a. BAB I: Pendahuluan
Bab ini menjelaskan hal – hal umum yang berkaitan dengan skripsi ini, seperti latar belakang, ruang lingkup penelitian, tujuan dan manfaat, serta metodologi penelitian serta sistematika penulisan yang digunakan.
b. BAB II: Landasan Teori
Bab ini menjelaskan tentang teori – teori yang diterapkan di dalam penulisan skripsi ini, terutama yang berhubungan secara langsung dengan knowledge management, transportasi umum di Kota Jakarta, metodologi yang digunakan, serta pengembangan dan pembangunan mobile web dengan menggunakan teknologi Wordpress.
c. BAB III: Analisis Perancangan dan Pembangunan Konten Beserta Aplikasi Knowledge Management
Bab ini berisi penerapan dari Knowledge Lifecycle dan Information Space di dalam pembangunan konten pengetahuan, yang tertuang dalam analisis permasalahan, pengumpulan data, knowledge taxonomy, dan lain – lain. Untuk kepentingan skripsi, relevansi dari pengetahuan yang terdapat pada knowledge management adalah gambaran pada saat penulisan skripsi. Pada bab ini juga akan dibahas tentang presentasi konten dengan
teknologi Wordpress dengan metodologi Web Development Life Cycle (French, 2011) yang juga selaras dengan kedua teori tersebut.
d. BAB IV: Penerapan Knowledge Management BinusRaya Kepada Pengguna Transportasi Umum
Bab ini berisi hasil uji coba dari penggunaan knowledge management oleh para pengguna transportasi umum dengan menggunakan BinusRaya yang dibagi menjadi 4 kategori yaitu pengguna baru (baru menaiki transportasi umum pada saat melakukan observasi), pengguna pemula (sesekali menggunakan transportasi umum, 1 - 4 kali dalam sebulan), pengguna menengah (cukup sering menggunakan transportasi umum, 1-4 kali dalam seminggu) dan pengguna ahli (mengandalkan transportasi umum untuk bepergian/sering menggunakan transportasi umum, 5 kali atau lebih dalam seminggu). Evaluasi akan dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dengan menggunakan perancan an Questionnaire Design Process dari Malhotra (2010).
e. BAB V: Penutup
Bab ini berisi simpulan yang ditarik berdasarkan hasil observasi dan kuesioner dari responden. Simpulan dan saran yang dihasilkan dapat digunakan untuk memperbaiki knowledge management BinusRaya agar menjadi lebih baik lagi.