• Tidak ada hasil yang ditemukan

AUTHORITARIAN PARENTING RELATION WITH AGGRESSION IN ADOLESCENT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "AUTHORITARIAN PARENTING RELATION WITH AGGRESSION IN ADOLESCENT"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

AUTHORITARIAN PARENTING RELATION WITH

AGGRESSION IN ADOLESCENT

Fini Fortuna, Ni Made Taganing K, M.Psi., Ps

Undergraduate Program, 2008

Gunadarma University

http://www.gunadarma.ac.id

Key Words: authoritarian parenting, aggression, adolescent.

ABSTRACT :

Acts of violence happen anywhere, like in the streets, in schools, even in housing

complexes. These actions may include verbal abuse (scold) and non-verbal

keekrasan (hitting, punching). Aggressiveness is done by individuals will impact

on him as well. Danger to the individual's own aggressiveness is another person

will stay away from players who will only hurt others without thinking that will

result in long-able after hurting others. Aggression by Berkowitz (1995) are all

forms of behavior intended to hurt anyone, either verbally or non verbally. One of

the factors that influence the aggressiveness is a pattern of care. The essence of

the relationship between parent and child is largely determined by the attitudes of

parents in raising children, how he feels and what the parents.. So parents have

enormous influence in shaping the personality of children so that children develop

into strong personal self-confidence, initiative, ambition, beremosi stable,

responsible, able to establish positive interpersonal relationships. Hurlock (1993)

states that each parent differently in applying their behavioral patterns and

attitudes toward children. This is influenced by a number of attitudes that they

learned in caring for and educating children, among others, the initial experience

with children, the existence of cultural values about the best way to treat children

either authoritarian, democratic or permissive. Santrock (2002) suggests that

author itarian parenting is a style that demands restrict and punish the child for

follow perintahperintah parents and respect the work and effort. Authoritarian

parents applying strict limits and no member with vast opportunities for children

to talk (deliberation). Sarwono (1997) argues that aggressive behavior by

adolescents is influenced by the upbringing of their master. Parents who are too

demanding their children to always follow any accord would make the child so the

child frustrated when outside your home will berindak arbitrarily and in an

aggressive manner. The survey results revealed the scale of 30 items tested for

aggressive behavior have a valid 19 items with a value of correlation

between0.306 to 0.604 with a reliability coefficient of 0.856. While the

authoritarian parenting scale of the analysis results are known from 30 items

tested there are 16 valid item correlation value between 0.315 to 0.600 with a

reliability coefficient of 0.819. Based on the analysis of Pearson product moment

(N = 46) showed r = 0.303 with a significance value of 0.041 (p<;0.05). Based on

this research can be concluded that there was an authoritarian parenting

(2)

relationships with aggressive behavior in adolescents.. Children will be a difficult

to socialize with her friends so that the child will have a sense of loneliness and

want to be considered by others to behave in an aggressive manner. Parents often

give physical punishment on their children because of failure to meet standards set

by the parents will make the child angry and resentful to the parents but the

children did not dare express his anger and vent it to others in the form of

aggressive perialku. With ways to teach parents who are not too restrain, children

will be children who took the initiative, confident and able to establish positive

interpersonal relationships.

(3)

Hubungan Pola Asuh Otoriter dengan Perilaku Agresif Pada Remaja

Ni Made Taganing, SPsi., MPsi Fini Fortuna, 10503078

Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Ii + 50, 10 tabel, Daftar Pustaka, Lampiran, 2008

ABSTRAKSI

Aksi-aksi kekerasa terjadi dimana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, bahkan di kompleks-kompleks perumahan. Aksi-aksi tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun kekerasan non verbal (memukul, meninju). Agresivitas yang dilakukan oleh individu akan berdampak terhadap dirinya juga. Bahaya agresivitas terhadap individu itu sendiri adalah orang lain akan menjauhi pelaku yang hanya akan menyakiti orang lain tanpa berfikir panjang akibat yang akan di dapat setelah menyakiti orang lain. Agresi menurut Berkowitz (1995) adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang, baik secara verbal maupun non verbal. Salah satu factor yang mempengaruhi agresivitas adalah pola asuh.

Hurlock (1993) menyatakan bahwa setiap orang tua berbeda di dalam menerapkan pola sikap dan perilaku mereka terhadap anak. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa sikap yang mereka pelajari di dalam mengasuh dan mendidik anak antara lain adanya pengalaman awal dengan anak, adanya nilai budaya mengenai cara terbaik dalam memperlakukan anak baik secara otoriter, demokratis maupun permisif.

Santrock (2002) menyatakan bahwa pola asuh otoriter adalah suatu gaya membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orang tua yang otoriter menerapkan batas-batas yang tegas dan tidak member peluang yang besar kepada anak-anak untuk berbicara (bermusyawarah). Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menguji ada tidaknya hubungan pola asuh otoriter dengan perilaku agresif pada remaja. Sarwono (1997) berpendapat bahwa perilaku agresif yang dilakukan oleh remaja sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tuannya. Orang tua yang terlalu menuntut anaknya untuk selalu mengikuti segala kemauannya akan membuat anak frustasi sehingga anak bila berada di luar rumah akan berindak seenaknya dan berperilaku agresif.

Dari hasil penelitian diketahui dari 30 item skala perilaku agresif yang diuji cobakan terdapat 19 item yang valid dengan nilai korelasi antara 0,306 sampai dengan 0,604 dengan koefisien reliabilitas 0,856. Sedangkan skala pola asuh otoriter dari hasil analisis penelitian diketahui dari 30 item yang diuji cobakan terdapat 16 ietm yang valid dengan nilai korelasi antara 0,315 sampai dengan 0,600 dengan koefisien reliabilitas 0,819. Berdasarkan analisis product moment pearson (N=46) diketahui r = 0,303 dengan nilai signifikansi 0,041 (p<0,05).

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan pola asuh otoriter dengan perilaku agresif pada remaja. Pemaksaan dan kontrol yang sangat ketat dapat menyebabkan kegagalan dalam berinisiatif pada anak dan memiliki keterampilan komunikasi yang sangat rendah. Anak akan menjadi seorang yang sulit untuk bersosialisasi dengan teman-temannya sehingga anak akan mempunyai rasa sepi dan ingin diperhatikan oleh orang lain dengan cara berperilaku agresif. Orang tua yang sering memberikan hukuman fisik pada anaknya dikarenakan kegagalan memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh orang tua akan membuat anak marah dan kesal kepada orang tuanya tetapi anak tidak berani mengungkapkan kemarahannya itu dan melampiaskan kepada orang lain dalam bentuk perialku agresif. Dengan pola asuh orang tua yang tidak terlalu mengekang, anak akan menjadi anak yang berinisiatif, percaya diri dan mampu menjalin hubungan interpersonal yang positif.

(4)

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Bagi warga Jakarta, aksi-aksi kekerasan baik individual maupun massal mungkin sudah merupakan berita harian. Saat ini beberapa televisi bahkan membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang aksi kekerasan. Aksi-aksi kekerasan dapat terjadi di mana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, bahkan di kompleks-kompleks perumahan. Aksi tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun kekerasan fisik (memukul, meninju, dll). Pada kalangan remaja aksi yang biasa dikenal sebagai tawuran pelajar/massal merupakan hal yang sudah terlalu sering kita saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan aksi ini bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SLTP/SMP. Hal ini sangatlah memprihatinkan. Hal yang terjadi pada saat tawuran sebenarnya adalah perilaku agresi dari seorang individu atau kelompok ( http://www.e-psikologi.com/remaja.htm).

Berkowitz (1995) mendefinisikan agresi sebagai segala bentuk perilaku yang di maksudkan untuk menyakiti seseorang, baik secara fisik maupun mental. Agresi yang dilakukan berturut-turut dalam jangka lama yang terjadi pada anak atau sejak masa

anak-anak akan berdampak terhadap perkembangan kepribadian anak yang makin lama dikenal oleh masyarakat sebagai suatu kriminal. Sikap agresif merupakan penggunaan hak sendiri dengan cara melanggar hal orang lain. Salah satu faktor penyebab agresi yang pertama adalah frustasi. Frustasi dapat menimbulkan kemarahan dan emosi marah inilah yang dapat memicu seseorang melakukan perilaku agresi. Frustasi itu sendiri adalah hambatan terhadap pencapaian suatu tujuan (Sarwono, 2002). Frustasi dapat disebabkan oleh pola asuh otoriter. Sikap orang tua yang terlalu menuntut dapat membuat anak frustasi. Frustasi dapat ditimbulkan oleh orang tua yang menginginkan anaknya tunduk dan patuh serta selalu menuruti semua kehendak orang tuanya. Orang tua yang terlalu keras serta tidak responsif pada kebutuhan anak akan membuat anak cenderung menjadi takut serta murung. Kondisi-kondisi itu bisa melandasi perilaku agresif. Orang tua yang sering memberikan hukuman fisik pada anaknya dikarenakan kegagalan memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh orang tua akan membuat anak marah dan kesal kepada orang tuanya tetapi anak tidak berani mengungkapkan kemarahannya itu dan melampiaskannya kepada orang lain

(5)

dalam bentuk perilau agresif (Sarwono, 2002).

Esensi hubungan antara orang tua dengan anak sangat ditentukan oleh sikap orang tua dalam mengasuh anak, bagaimana perasaan dan apa yang dilakukan orang tua. Hal ini bercermin pada pola asuh orang tua, yakni suatu kecenderungan cara-cara yang dipilih dan dilakukan oleh orang tua dalam mengasuh anak. Siti Meichati (dikutip Dayakisni, 1988) mengemukakan bahwa pola asuh adalah perlakuan orang tua dalam rangka memenuhi kebutuhan, memberi perlindungan dan mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan baik yang tercipta antara anak dan orang tua akan menimbulkan perasaan aman dan kebahagiaan dalam diri anak. Sebaliknya hubungan yang buruk akan mendatangkan akibat yang sangat buruk pula, perasaan aman dan kebahagiaan yang seharusnya dirasakan anak tidak lagi dapat terbentuk, anak akan mengalami trauma emosional yang kemudian dapat ditampilkan anak dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti menarik diri dari lingkungan, bersedih hati, pemurung, temper dan sebagainya (Hurlock, 1994).

Jadi pola asuh orang tua merupakan pola interaksi antara anak

dengan orang tua bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang, dan lain-lain), tetapi juga mengajarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan. Pola asuh otoriter adalah suatu gaya membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar kepada anak-anak untuk berbicara (bermusyawarah) (Santrock, 2002).

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa, pola asuh orang tua memiliki pengaruh yang amat besar dalam membentuk kepribadian anak yang tangguh sehingga anak berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, berinisiatif, berambisi, beremosi stabil, bertanggung jawab, mampu menjalin hubungan interpersonal yang positif dan lain-lain. Kepribadian tersebut dapat dikembangkan dalam keluarga. Pola asuh yang salah dapat menyebabkan seorang anak melakukan perilaku agresif. Orang tua yang terlalu mendominasi akan membuat anak tidak dapat mengembangkan kreativitasnya

(6)

yang akhirnya anak akan melakukan perilaku agresif diluar lingkungan keluarga. Sehingga pertanyaan pada penelitian ini adalah apakah ada hubungan pola asuh otoriter dengan perilaku agresif pada remaja.

TINJAUAN TEORITIS

A. Agresivitas

1. Definisi Agrsivitas

Berkowitz (1995) mendefinisikan agresi sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang, baik secara fisik maupun mental.

2. Jenis-jenis Agresivitas

Berkowitz (1995) membagi agresi ke dalam dua bentuk, yaitu:

1. Agresi Instrumental (Instrumental Agression) 2. Agresi benci (Hostile

Agression) atau Agresi Emosional

Buss dan Durkee (dalam Edmuds&Kendrick, 1980) menggolongkan beberapa bentuk tindakan agresif yang secara operasional dapat digunakan untuk mengukur agresi, yaitu sebagai berikut: 1. Penyerangan: kekerasan

fisik terhadap manusia termasuk perkelahian, tidak

termasuk pengerusakan properti.

2. Agresi tidak langsung: menyebarkan gosip yang berkonotasi negatif, gurauan (yang negatif). 3. Negativisme: tingkah laku

menantang, termasuk penolakan untuk bekerja sama, menolak untuk patuh dan pembangkangan. 4. Agresi verbal: berdebat,

berteriak, menjerit, mengancam dan memaki. 5. Irritability: kesiapan untuk

marah meliputi temper yang cepat dan kekasaran. 6. Resentment: iri dan rasa

benci terhadap orang lain. 7. Kecurigaan:

ketidakpercayaan dan proyeksi permusuhan terhadap orang lain, bentuk ekstrim dari kecurigaan ini adalah paranoia.

3. Tipe-tipe Agresi

Pembagian agresi diajukan oleh Moyer (dalam Sarwono, 1988) yang merinci agresi menjadi ke dalam tujuh tipe agresi, sebagai berikut: a. Agresi predatori

b. Agresi antar jantan c. Agresi ketakutan

d. Agresi tersinggung e.Agresi pertahanan f.Agresi maternal

(7)

g.Agresi instrumental

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Agresi

Sikap agresif merupakan penggunaan hak sendiri dengan cara melanggar hak orang lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku agresi, diantaranya:

a. Frustasi

b. Media kekerasan c. Faktor Lingkungan Fisik

d. Social Modeling (Observational

Learning)

e. Arousal yang Bersifat Umum

5. Teori-teori Agresi

a. Teori Bawaan

Teori bawaan atau bakat terdiri atas teori naluri dan teori biologi. 1). Teori Naluri

Freud dalam teori psikoanalisis klasiknya mengemukakan bahwa agresi adalah satu dari dua naluri dasar manusia. Jika naluri seks berfungsi untuk melanjutkan keturunan, naluri agresi berfungsi mempertahankan jenis. Kedua naluri tersebut berada dalam alam ketidaksadaran, khususnya pada bagian dari kepribadian yang disebut id yang pada prinsipnya selaku ingin agar kemauannya dituruti (prinsip kesenangan atau pleasure principle). Akan tetapi, tidak semua keinginan id dapat terpenuhi. Kendalinya terletak pada bagian lain dari kepribadian yang

dinamakan super-ego yang mewakili norma-norma yang ada dalam masyarakat dan ego yang berhadapan dengan kenyataan.

2). Teori Biologi

Moyer (dalam Sarwono, 1997) berpendapat bahwa perilaku agresif ditentukan oleh proses tertentu yang terjadi di otak dan susunan syaraf pusat. Demikian pula hormon laki-laki (testoteron) dipercaya sebagai pembawa sifat agresif.

b. Teori Lingkungan

1). Teori Frustasi-Agresi Klasik 2) Teori Frustasi-Agresi Baru

c. Teori Belajar Sosial

Berbeda dari teori bawaan dan teori frustasi agresi yang menekankan faktor-faktor dorongan dari dalam, teori belajat sosial lebih memperhatikan faktor tarikan dari luar. Bandura (dalam Sarwono, 1997) mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun perilaku agresif dipelajari dari model yang dilihat dalam keluarga, dalam lingkungan kebudayaan setempat atau melalui media massa.

B. Pola Asuh

1. Definisi Pola Asuh

Kenny & Kenny (1991)menyatakan bahwa pola asuh merupakan segala sesuatu yang dilakukan orang tua untuk membentuk

(8)

perilaku anak-anak mereka meliputi semua peringatan dan aturan, pengajaran dan perencanaan, contoh dan kasih sayang serta pujian dan hukuman. 2. Jenis-jenis Pola Asuh

Berikut tiga pola asuh yang biasa diterapkan orang tua pada anak menurut Santrock (1998):

a. Pola asuh authoritarian, yaitu pola asuh yang penuh pembatasan dan hukuman (kekerasan) dengan cara orang tua memaksakan kehendaknya, sehingga orang tua dengan pola asuh authoritarian memegang kendali penuh dalam mengontrol anak-anaknya.

b. Pola asuh authoritative, yaitu pola asuh yang memberikan dorongan pada anak untuk mandiri namun tetap menerapkan berbagai batasan yang akan mengontrol perilaku mereka. Adanya saling memberi dan saling menerima, mendengarkan dan didengarkan. c. Pola asuh permissive

Pola asuh permissive , Maccoby dan Martin (dalam Santrock, 1998) membagi pola asuh ini menjadi dua: neglectful parenting dan indulgent parenting. Pola asuh yang neglectful yaitu bila orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak (tidak peduli). Pola asuh ini menghasilkan anak-anak yang kurang memiliki kompetensi social terutama karena adanya kecenderungan kontrol diri yang

kurang. Pola asuh yang indulgent yaitu bila orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak, namun hanya memberikan kontrol dan tuntutan yang sangat minim (selalu menuruti atau terlalu membebaskan) sehingga dapat mengakibatkan kompetensi sosial yang tidak adekuat karena umumnya anak kurang mampu untuk melakukan kontrol diri dan menggunakan kebebasannya tanpa rasa tanggung jawab serta memaksakan kehendaknya.

3. Dimensi Pola Asuh

Kenny & Kenny (1991) mengemukakan ada tujuh dimensi dalam pola asuh, yaitu:

a. Pusat Perhatian (Negatif lawan Positif)

b. Campur Tangan Orang Tua (Hukuman lawan Hadiah)

c. Akibat Yang Diinginkan (Keadilan lawan Hasil)

d. Prinsip-prinsip (Mutlak lawan Relatif)

e. Sasaran-sasaran Disiplin (Sikap lawan Tingkah laku)

f. Tujuan Perkembangan (Ketaatan lawan Kemandirian)

g. Sumber Kekuatan (Otoriter lawan Demokrasi)

4. Ciri-ciri Pola Asuh

Hurlock (1993) mengemukakan ciri-ciri pola asuh, yaitu:

(9)

1) Anak harus tunduk dan patuh pada kehendak orang tua 2) Pengontrolan orang tua pada

tingkah laku anak sangat ketat hampir tidak pernah memberi pujian

3) Sering memberikan hukuman fisik jika terjadi kegagalan memenuhi standar yang telah ditetapkan orang tua

4) Pengendalian tingkah laku melalui kontrol eksternal b. Pola asuh demokratis mempunyai ciri:

1) Anak diberi kesempatan untuk mandiri dan mengembangkan kontrol internal

2) Anak diakui sebagai pribadi oleh orang tua dan turut dilibatkan dalam pengambilan keputusan

3) Menetapkan peraturan serta mengatur kehidupan anak. c. Pola asuh permisif mempunyai ciri:

1) Kontrol orang tua kurang 2) Bersifat longgar atau bebas 3) Anak kurang dibimbing dalam mengatur dirinya

4) Hampir tidak menggunakan hukuman

5) Anak diijinkan membuat keputusan sendiri dan dapat berbuat sekehendaknya sendiri

5. Karakteristik Anak Berdasarkan Pola Asuh

a. Pola asuh demokratis mempunyai karakteristik anak mandiri, dapat

mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengna teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan kooperatif terhadap orang lain.

b. Pola asuh otoriter mempunyai karakteristik anak penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas, dan menarik diri.

c. Pola asuh permissif mempunyai karakteristik anak impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial. C. Remaja

1. Definisi Remaja

Mappiare (1986) berpendapat bahwa ada saat usia seseorang genap 12-13 tahun, maka ia mulai menginjak pada masa remaja awal, masa remja muda berakhir pada usia 17-18 tahun, dan rentang usia yang biasa terjadi dalam masa remaja akhir antara 17-21 tahun (wanita) dan 18-22 tahun (pria).

2. Ciri-ciri Masa Remaja

Menurut Hurlock (1994) ciri-ciri masa remaja, sebagai berikut:

a.Masa remaja sebagai periode penting, b. Masa remaja sebagai peride peralihan,c. Masa remaja sebagai peride perubahan, d. Masa remaja sebagai usia bermasalah, e.

(10)

Masa remaja sebagai masa mencari identitas, f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik, h. Masa remaja sebagai ambang masa depan.

3. Perubahan-perubahan Pada Masa Remaja

a. Perubahan Biologis b. Perubahan Kognitif c. Perubahan Sosisoemosional D. Hipotesis

Berdasarkan uraian diatas dapat diajukan hipotesis penelitian bahwa ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan perilaku agresif pada remaja.

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini, ada beberapa variabel yang akan diuji, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Prediktor : Pola Asuh Otoriter 2. Kriterium : Agresivitas

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

1. Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter akan diukur dengan skala pola asuh otoriter yang dikemukakan oleh Kenny & Kenny (1991), yaitu: pusat perhatian yang negatif, campur tangan orang tua berupa hukuman, akibat yang diinginkan berupa keadilan, prinsip-prinsip yang absolut, sasaran disiplin berupa sikap, tujuan

perkembangan yang membentuk ketaatan, sumber kekuatan berupa otoriter. Semakin tinggi skor yang di dapat maka semakin tinggi tingkat pola asuh otoriter.

2. Agresi

Perilaku agresi akan diukur dengan skala agresi yang dikemukakan oleh Buss dan Durkee (dalam Edmunds & Kendrick, 1980), yaitu: penyerangan, agresi tidak langsung, negativisme, agresi verbal, irritability, resentment, dan kecurigaan. Semakin tinggi skor yang didapat maka semakin tinggi tingkat agresivitas.

C. Subjek Penelitian

Pada penelitian ini, subjek yang akan diambil adalah remaja pria maupun wanita. Usia subjek penelitian ini berkisar antara 16-18 tahun, pendidikan SMU.

D. Teknik Analisa Data

Analisa data dilakukan dengan statistik deskriptif untuk menggambarkan variabel pola asuh otoriter dengan perilaku agresif dengan menggunakan mean. Untuk menguji hipotesis yang diajukan sesuai dengan tujuan penelitian, maka metode statistik yang digunakan korelasi Product Moment Karl Pearson, yaitu analisis hubungan pola asuh otoriter sebagai prediktor (X) dengan perilaku agresif sebagai kriterium (Y). Analisis dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 12.00 for Windows.

(11)

PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Pola Asuh Otoriter

a. Uji Validitas

Menurut Azwar (2005) koefisien validitas dapat dianggap memuaskan apabila melebihi 0,300. Dari hasil uji coba pada Skala Pola Asuh Otoriter diperoleh hasil bahwa dari 30 item yang diujicobakan terdapat 16 item yang dinyatakan valid dan 14 item yang dinyatakan gugur. Dari 16 item yang valid tersebut, memiliki korelasi total item antara 0,315 sampai dengan 0,600.

b. Uji Reliabilitas

Untuk mengetahui konsistensi alat ukur, maka dilakukan uji reliabilitas. Teknik yang digunakan untuk mendapatkan nilai konsistensi dari alat ukur ini adalah dengan teknik Alpha Cronbach. Dari hasil uji reliabilitas alat ukur tersebut, diperoleh nilai reliabilitas sebesar 0,819.

3. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Perilaku Agresi

a. Uji Validitas

Menurut Azwar (2005) koefisien validitas dapat dianggap memuaskan apabila melebihi 0,300. Dari hasil uji coba pada Skala Perilaku Agresi diperoleh hasil

bahwa dari 30 item yang diujicobakan terdapat 19 item yang dinyatakan valid dan 11 item yang dinyatakan gugur. Dari 19 item yang valid tersebut, memiliki korelasi total item antara 0,306 sampai dengan 0,604.

b. Uji Reliabilitas

Untuk mengetahui konsistensi alat ukur, maka dilakukan uji reliabilitas. Teknik yang digunakan untuk mendapatkan nilai konsistensi dari alat ukur ini adalah dengan teknik Alpha Cronbach. Dari hasil uji reliabilitas alat ukur tersebut, diperoleh nilai reliabilitas sebesar 0,856.

3. Hasil Uji Normalitas dan Linearitas Skala Pola Asuh Otoriter dan Skala Perilaku Agresi

a. Uji Normalitas

Untuk uji normalitas digunakan uji Kolmogorov Smirnov dan Shapiro-Wilk untuk menguji normalitas sebaran skor. Berdasarkan pengujian normalitas pada variabel Pola Asuh Otoriter

diperoleh nilai signifikansi pada Kolmogorov Smirnov sebesar 0,165 (p> 0,05), dan Shapiro-Wilk sebesar 0,192 (p>0,05). Berdasarkan pengujian normalitas pada variabel Perilaku Agresi diperoleh nilai signifikansi pada Kolmogorov Smirnov sebesar 0,200 (p> 0,05),

dan Shapiro-Wilk sebesar 0,373

(12)

dikatakan bahwa distribusi skor Pola Asuh Otoriter dan skor Perilaku Agresi pada sampel yang telah diambil adalah normal. b. Uji Linearitas

Berdasarkan uji Linearitas diketahui nilai F sebesar 4,446 sehingga diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,041 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hasil pola asuh otoriter dan perilkau agresif yang diukur linear.

4. Hasil Uji Hipotesis Skala Pola Asuh Otoriter dan Skala Perilaku Agresi

Berdasarkan analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis Pearson Correlationt, didapat skor untuk Pearson Correlation sebesar 0,303 dengan nilai signifikansi sebesar 0,041 (p<0,05). Sehingga R square yang diapat sebesar 9,2% yang menyatakan bahwa pola asuh otoiter dengan perilaku agresif memiliki pengaruh sebesar 9,2%, selebihnya disebabkan oleh factor-faktor lain diluar pembahasan ini. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan pola asuh otoriter dan perilaku agresi pada remaja adalah diterima.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2007). Agresivitas Pada Remaja.

Http://www.e-psikologi.com/remaja.htm.

Azwar, S. (2005). Tes Prestasi: Fungsi & Pengembangan Prestasi Belajar. Edisi Kedua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Berkowitz, L. (1995). Agresi: Sebab & Akibatnya. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo.

Edmunds, G. & Kendrick, D. C. (1980). The

Measurement of Human

Agressiveness. International

Edition: John Willey & Sans.

Dayakisni, T. (1988). Perbedaan Intensi Prososial Siswa-siswi Ditinjau Dari Pola Asuh Orang tua. Jurnal Psikologi. No 1 Tahun Ke-XVI. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Hurlock, E. B. (1993). Psikologi Perkembangan Anak. Edisi 6. Alih Bahasa: dr. Med. Meitasari Tjandrasa. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hurlock, E. B. (1994). Psikologi

Perkembangan (Suatu

Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan). Edisi 5. Jakarta: Erlangga.

Kenny, J., & Kenny, M. (1991). Dari Bayi Sampai Dewasa. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Mappiare, A. (1986). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

Santrock, J. W. (2002). Life Span

Development (Perkembangan

Masa Hidup). Jilid 1: Edisi Kelima. Penerbit Erlangga.

Sarwono, S. W. (1988). Agresi Manusia. Bandung: PT Eresco.

Sarwono, S. W. (1997). Psikologi Sosial: Individu & Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: PT Balai Pustaka.

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh perbedaan konsentrasi detergen terhadap frekuensi bukaan operkulum dan kelangsungan hidup ikan mas yang terpapar

3) salaku barang-barang tina hasil karya manusa. Wujud kahiji nyaéta wujud idéal tina kabudayaan, sipatna abstrak, teu bisa dicabak atawa dipoto, ayana dina jero alam pikiran

Mungkin ada Warga, atau dalam bahasa Lalu Darmawan disebut Krue, Kadang Kukila yang tertarik untuk menanggapi atau ingin memberikan tanggapan lain tentang Kadang

Selain itu, pengalaman (pengetahuan) dalam kegiatan usaha tani yang sudah lama akan berbeda dengan petani yang masih tergolong pemula, demikian pula dengan tingkat adopsinya. Dari

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Etika ialah penelitian ini lebih mengfokuskan mengenai jenis-jenis dan strategi bertutur tindak tutur direktif, sedangkan

ke4a, ikan ala... /ulai keha8isan

dalam Kaswan (2014:51) menjelaskan, tujuan – tujuan dari pengembangan karir yang melayani baik kebutuhan organisasi maupun kebutuhan karyawan. Tujuan

[r]