IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ZONASI PASAR TRADISIONAL DAN PASAR
MODERN (STUDI DI KABUPATEN PURBALINGGA)
Weda Kupit a dan Rahadi Wasi Bint oro
Fakult as Hukum Universit as Jenderal Soedirman E-mail: rahadiwasibint oro@gmail. com
Abst ract
Regency ar ea t hat invest ment i ncr eased mor e r elat i vel y i s Pur bal i ngga. One of t he Incr eased i ndust r i al sect or i s r et ai l , whet her t r adi t ional mar ket and moder n mar ket f or mat s such as al f amar t and Indomar t . Today al most ever y di st r i ct i n Pur bali ngga have mor e t han one r et ai l mar ket i n a moder n f or mat , such as i n Kal imanah Di st r i ct , Padamar a Di st r i ct , Bobot sar i Di st r i ct and Boj ongsar i Di st r i ct . Ther ef or e, r esear cher s ar e i nt er est ed t o di scuss about t he i mpl ement at ion of zo-ni ng pol i ci es of t r adi t ional mar ket s and moder n mar ket s i n Pur bal i ngga and what f act or s ar e l i kel y t o af f ect t he i mpl ement at ion of zoni ng pol i ci es of t r adi sional mar ket and a moder n mar ket i n Pur bal i ngga. Based on t he r esul t s t her e ar e un synchr oni zed l egi sl at ion i n zonat i on of t r adit i onal mar ket and moder n mar ket . The f act or s t hat af f ect i n pol i cy of zoning t r adit ional mar ket and moder n mar ket ar e t he l aw, l aw enf or cement , f aci l it ies and i nf r ast r uct ur e, communi t y, and cul t ur al f act or s.
Keywor ds : pol i cy, t r adi t i onal mar ket , moder n mar ket ,
Abst rak
Kabupet en yang invest asinya relat if meningkat adalah Kabupat en Purbalingga. Salah sat u indust ri yang berkembang saat ini adalah sekt or ret ail/ pasar, baik dalam f ormat t radisional maupun modern, sepert i Alf amart dan Indomart . Saat ini beberapa kecamat an di Kabupat en Purbalingga memiliki lebih dari sat u ret ail dalam f ormat pasar modern, sepert i Kecamat an Kalimanah, Padamara, Bobot sari dan Boj ongsari. Oleh karena it u, penulis t ert arik unt uk membahas mengenai implement asi kebij akan zonasi pasar t radisional dan pasar modern di Kabupat en Purbalingga dan f akt or yang cenderung mempengaruhi kebij akan zonasi pasar t radisional dan pasar modern di Kabupat en Purbalingga. Berdasarkan hasil penelit ian diket ahui bahwa t erdapat ket idaksinkronan perat uran perundang-undangan, sehingga mengakibat kan implement asi kebij akan zonasi pasar t radisional dan pasar modern t idak komprehensif . Fakt or-f akt or yang cenderung mempengaruhi kebij akan zonasi pasar t radisional dan pasar modern yait u hukum, penegak hukum, masyarakat , sarana dan f asilit as sert a budaya. Penulis mengaj ukan saran agar Permendagri Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 dan Perda Kabupat en Purbalingga No. 2 t ahun 2010 dilakukan amandemen at au uj i mat eriil.
Kat a kunci: kebij akan, pasar t radisional, pasar modern
Pendahuluan
Manusia, apabila dit inj au dari sisi sej a-rah, t elah mengenal dan melakukan kegiat an j ual beli sej ak mengenal peradaban sebagai bent uk pemenuhan kebut uhan. Dalam kegiat an j ual beli, keberadaan pasar merupakan salah
Art ikel ini merupakan hasil Penel it ian Pemul a dengan
sumber bi aya DIPA UNSOED berdasarkan Surat Per j an-j ian Pel aksanaan Jasa Penel it ian Tahun Anggar an 2011 No. 1583/ H23. 9/ PN/ 2011 t anggal 31 Maret 2011. Ucapan t eri ma kasi h disampaikan kepada Marien Adit i -yant o, Mahasi swa Fakul t as Hukum UNSOED, yang t el ah membant u pel aksanaan penel it ian ini.
lah sat u hal yang paling pent ing, karena me-rupakan t empat unt uk melakukan kegiat an t er-sebut selain menj adi salah sat u indikat or paling nyat a kegiat an ekonomi masyarakat di suat u wilayah.
si-kap dan cara berpikir sert a bert indak yang sela-lu berpegang kepada norma dan adat kebiasaan yang ada secara t urun t emurun. Berdasarkan art i di at as, maka pasar t radisional adalah t em-pat orang berj ual beli yang berlangsung di suat u t empat berdasarkan kebiasaan.1 Kebera-daan pasar t radisional bukan semat a urusan ekonomi t et api lebih j auh kepada norma, ranah budaya, sekaligus peradaban yang berlangsung sej ak lama di berbagai wilayah di Indonesia.
Pasar t radisional mempunyai f ungsi dan peranan yang t idak hanya sebagai t empat per-dagangan t et api j uga sebagai peninggalan kebudayaan yang t elah ada sej ak zaman dahu-lu. Saat ini perlu disadari, bahwa pasar t radisi-onal bukan sat u-sat unya pusat perdagangan. Semakin banyaknya pusat perdagangan lain sepert i pasar modern, baik dalam bent uk mini -market , hyper mar t maupun mal l yang pada
gi-lirannya dapat membuat pasar t radisional harus mampu bert ahan dalam persaingan agar t idak t ergilas oleh arus modernisasi.
Maraknya pembangunan pasar-pasar mo-dern j ust ru dipert anyakan kemanf aat an secara meluas, karena melahirkan ket impangan. Pasar modern mengambilalih keunt ungan pedagang kecil, dan mengalir ke pasar modern dengan berbagai bent uknya. Berdasarkan dat a AC Niel-sen, kont ribusi penj ualan pasar t radisional me-mang t erus merosot . Bila pada t ahun 2002, do-minasi penj ualan di segmen pasar ini mencapai 75%, maka pada t ahun 2007 lalu t urun menj adi hanya 70%.2 Dengan demikian, pasar t radisional j uga semakin t ersingkirkan. Tidak heran apabila muncul sengket a dan resist ensi para pedagang t radisional yang t elah lama menghuni pasar-pa-sar desa at au perkampungan. Bahkan model re-st rukt urisasi pasar t radisional yang dibangun “ at as nama kelayakan” j uga melahirkan per-soalan baru, karena makin mahalnya pengelola-an pasar bergaya modern it u dpengelola-an akibat nya harga sewa t idak t erj angkau oleh pedagang.
1
Rahadi Wasi Bi nt oro, “ Aspek Hukum Zonasi Pasar Tra-di sional dan Pasar Modern” , Jur nal Di nami ka Hukum,
Vol . 10, No. 3 edisi Sept ember 2010, hl m. 201
2 Arie Suj it o, “ Mal dan Marginal isasi” , Jur nal Fl amma
Edisi 24 Tahun 2005, websit e www. ireyogya. org di ak-ses padat anggal 10 Januar i 2010.
Ada bebrapa ancaman yang muncul dari keberadaan pasar modern. Per t ama, memat
i-kan warung-warung t radisional karena adanya pergeseran kebiasaan konsumen. Posisi yang berdekat an ant ar supermarket , hyper mar ket
at au mi ni mar ket melalui keunggulan yang
dimi-liki dibandingkan dengan pasar t radisional di kot a-kot a besar t elah menyebabkan berpindah-nya para pembeli pasar t radisional ke pasar modern. Kedua, t erkait permasalahan
pereko-nomian lokal. Perput aran uang di daerah, awal-nya sebagian besar perput aran uang t ersebut merupakan konst ribusi dari usaha kecil mene-ngah (UKM), namun seiring dengan relat if ber-kurangnya UKM dan pasar t radisonal akibat ka-lah bersaing dengan pasar modern, maka secara ot omat is mengecilkan konst ribusi mereka. Se-ment ara di sisi lain, keberadaan pasar modern di suat u daerah cenderung t idak memberikan sumbangan yang signif ikan pada perekonomian lokal karena pendapat an yang diperoleh dari pasar modern biasanya hanya berasal dari paj ak IMB dan paj ak reklame. Bandingkan dengan pendapat an pemerint ah daerah dari penarikan ret ribusi t erhadap pedagang pasar t radisional. Ket iga, panj angnya masa kerj a pasar modern. Pasar modern cenderung beroperasi selama t uj uh hari dalam dalam seminggu (365 hari at au 366 hari set ahun) dari mulai pukul 09. 00 at au 10. 00 hingga pukul 22. 00 t anpa hari libur. Ka-laupun t ut up, it u dilakukan hanya unt uk st ock-r echeck, bahkan di haock-ri ock-raya apapun j uga meock-re-
mere-ka t et ap beroperasi, meskipun dengan j am ker-j a yang berubah at au digeser. Hal t ersebut t i-dak mungkin kit a j umpai di pasar t radisional yang wakt u kerj anya amat t erbat as karena pe-dagang harus menyesuaikan kebut uhan konsu-men dan meluangkan wakt u pedagang unt uk keluarganya.
Kabupat en di wilayah Eks Karisidenan Ba-nyumas yang invest asinya relat if lebih mening-kat adalah Kabupat en Purbalingga. Sekt or in-dust ri yang dalam t iga t ahun t erakhir ini par-t umbuhannya relapar-t if meningkapar-t adalah sekpar-t or indust ri rit el, baik rit el t radisional maupun rit el
rit el dalam f ormat pasar modern, bahkan di beberapa kecamat an t erdapat lebih dari sat u rit el dalam f ormat pasar modern, sepert i di Kecamat an Kalimanah, Kecamat an Padamara, Kecamat an Bobot sari, Boj ongsari maupun Keca-mat an Kut asari. Keberadaan rit el ini t ent u saj a mendat angkan sisi posit if bagi warga masyara-kat , dimana mereka t idak perlu j auh-j auh ke kot a unt uk memenuhi kebut uhannya. Namun demikian, keberadaan ret ail sepert i indomart dan alf amart di lokasi yang berdekat an dengan pasar t radisional, pada gilirannya menimbulkan suat u permasalahan t ersendiri. Pada sat u sisi keberadaan pasar modern ini memberikan nilai posit if t ersendiri bagi konsumen, akan t et api di sisi lain keberadaan pasar modern berhadap-hadapan dengan keberadaan pasar t radisional. Berkait an dengan pendirian pasar t radi-sional, pusat perbelanj aan dan pasar modern t elah dit ent ukan dalam Perpres ini, harus me-ngacu pada rencana t at a ruang wi1ayah kabu-pat en/ kot a, dan rencana det ail t at a ruang ka-bupat en/ kot a, t ermasuk perat uran zonasinya. Lebih lanj ut berkait an dengan zonasi pasar t ra-disional, Pasal 4 huruf a dan b Perpres No. 112 menent ukan bahwa pendirian pusat perbelanj a-an da-an pasar modern waj ib memperhit ungka-an kondisi sosial ekonomi masyarakat , keberadaan pasar t radisional, usaha kecil dan usaha mene-ngah yang ada di wilayah yang bersangkut an dan memperhat ikan j arak ant ara hyper mar ket
dengan pasar t radisional yang t elah ada sebe-lumnya.
Berdasarkan penj elasan t ersebut t ampak bahwa pengelolaan zonasi pasar t radisional de-ngan pasar modern menj adi kewenade-ngan peme-rint ah daerah. Hal ini t ent u saj a kont radiksi dengan f akt a yang ada, di mana di beberapa daerah, khususnya di wilayah Kabupat en Purba-lingga t erdapat beberapa mini mar ket dalam
f ormat pasar modern yang let aknya relat if ber-dekat an dengan pasar t radisional. Penelit ian-penelit ian berkait an dengan eksist ensi pasar t radisional dan pasar modern dit engah arus li-beralisasi menj adi suat u hal yang pent ing unt uk
dilakukan, karena hasil dari penelit ian ini pada akhirnya dapat mendorong pemerint ah daerah unt uk mengelola pasar t radisional dan pasar
modern secara berkesinambungan, sehingga masyarakat kecil, khususnya usaha kecil mene-ngah t idak dirugikan dengan keberadaan pasar modern.
Perumusan Masalah
Berdasarkan lat ar belakang t ersebut di at as, penulis t ert arik unt uk membahas mengenai implement asi kebij akan zonasi pasar t radisio-nal dan pasar modern di Kab. Purbalingga dan f akt or-f akt or yang cenderung mempengaruhi implement asi kebij akan zonasi pasar t radisional dan pasar modern di Kab. Purbalingga.
Met ode Penelitian
Met ode Pendekat an yang t epat digunakan unt uk menj awab rumusan masalah t ersebut adalah yuridis sosiologis dengan rancangan penelit ian survey lapangan, st udi pust aka, st udi perundang-undangan dan st udi dokument asi. Inf orman dalam penelit ian ini meliput i peme-gang peran kebij akan zonasi pasar t radisional dan pasar modern, yait u, per t ama, eksekut if ,
meliput i pej abat di Dinas Perindust rian, Perda-gangan dan Koperasi Disperindagkop, Kant or Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu; dan
kedua, Legislat if , Komisi B DPRD Kabupat en
Purbalingga, dan pedagang t radisional, dalam hal ini meliput i Pengelola Pasar Padamara, Pa-sar Kut aPa-sari dan PaPa-sar Segamas. Pengambilan Sampel dilakukan dengan menggunakan met ode
pur posive sampl i ng, di mana pengumpulan
da-t a dilakukan dengan menggunakan meda-t ode wa-wancara dan st udi kepust akaan, sedangkan da-t a yang dihasilkan dianalisis dengan mengguna-kan t riangulasi sumber.
Pembahasan
Implement asi Kebij akan Zonasi Pasar Tradi-sional Dan Pasar Modern di Kab. Purbalingga
Berabad-abad lamanya kegiat an ekono-mi silih bergant i diat ur oleh mekanisme pasar (dokt rin l ai ssez Fai r e) at au oleh pemerint ah
(dokt rin Wel f ar e st at e). Hal ini mengandung
makna bahwa apabila t ernyat a mekanisme
t angan pemerint ah.3 Upaya meref ormasi hukum ekonomi, sesungguhnya t idak t erlepas dari ku-rangnya pengat uran hukum t erhadap bidang-bi-dang ekonomi.4 Tent u saj a paradigma ini sej a-lan dengan pandangan bahwa pert embuhan ekonomi sangat t ergant ung pada t ingkat inves-t asi dalam sebuah negara, dimana semakin t inggi invest asi semakin t inggi pula t ingkat per-t umbuhan ekonomi.5 Invest asi dapat menj adi pendorong sekt or ekonomi t ert ent u, t et api se-kaligus dapat meminggirkan pengusaha lokal.6
Keberadaan pasar modern yang menye-barluas di Indonesia, mengakibat kan pemerin-t ah perlu pemerin-t urupemerin-t campur. Berkaipemerin-t an dengan pen-dirian pasar t radisional, pusat perbelanj a-an dan pasar modern t elah diat ur dalam Perpres No. 112 Tahun 2007, di mana pendiriannya ha-rus mengacu pada rencana t at a ruang wi1ayah kabupat en/ kot a, dan rencana det ail t at a ruang kabupat en/ kot a, t ermasuk perat uran zonasi-nya. Penent uan t at a ruang wilayah yang mem-berikan lokasi yang t epat unt uk akt ivit as usaha pada gilirannya akan memberika pot ensi lebih besar unt uk menarik invest asi.7 Namun demikan, t at a ruang wilayah j uga hat us memperhat i-kan pula kondisi ekonomi, budaya maupun so-sial masyarakat set empat , agar invent asi t idak hanya memberikan keunt ungan semat a bagi pemerint ah daerah t et api j uga masyarakat nya. Lebih lanj ut berkait an dengan zonasi pasar t ra-disional, Pasal 4 huruf a dan b Perpres No. 112 menent ukan bahwa pendirian pusat perbelan-j aan dan pasar modern waperbelan-j ib memperhit ung-kan kondisi sosial ekonomi masyarakat , kebera-daan pasar t radisional, usaha kecil dan usaha menengah yang ada di wilayah yang bersang-kut an dan memperhat ikan j arak ant ara
3 Diana Hal i m Koent j oro, “ Penegakan Hukum dan
Pert umbuhan Ekonomi di Indoenesi a” , Gl or i a Jur i s Vol .
6 No. 2, Mei-Agust us 2006, hl m. 166
4
Hasnat i, “ Perl unya Ref or masi Hukum Pembangunan Ekonomi di Indonesia” , Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol .
4 No. 1, Tahun 2004, hl m. 84
5
Ridw an Khairandy, “ ikl i m Invest asi dan j aminan Kepast ian Hukum Dal am era Ot onomi Daerah” , Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol . 5 No. 2 Tahun 2006, hl m. 148 6
Zul karnain Sit ompul , “ Invest asi Asing di Indonesia: Memet ik Manf aat Li beral isasi” , Jur nal Legi sl asi Indo-nesi a, Vol . 5 No. 2, Juni 2008, hl m. 94
7 P Agung Pambudi , “ Per at uran Daer ah dan Hambat an
Invest asi ” , Jent er a, edi si 14 Tahun IV, Okt
ober-Desember 2006, hl m. 35
market dengan pasar t radisional yang t elah ada sebelumnya.
Berdasarkan penj elasan t ersebut , maka dapat diint erpret asikan bahwa zonasi pasar modern dan pasar t radisional pengat uran men-j adi kewenangan pemerint ah daerah, dengan memperhat ikan kondisi sosial ekonomi masya-rakat , keberadaan pasar t radisional, usaha ke-cil dan usaha menengah yang ada di wilayah yang bersangkut an dan memperhat ikan j arak ant ara hypermarket dengan pasar t radisional yang t elah ada sebelumnya. Pemberian kewe-nangan kepada pemerint ah daerah merupakan wuj ud pelaksanaan dari ot onomi daerah. UU No. 32 Tahun 2004 Tent ang Pemerint ahan Dae-rah menganut prinsip ot onomi secara luas, nya-t a dan bernya-t anggung j awab. Hal ini berarnya-t i dae-rah diberikan kewenangan unt uk mengat ur dan mengurus urusan pmerint ahan di luar urusan pemerint ahan pusat yang t elah dit et apkan un-dang-undang. Penyelenggaraan pemerint ahan daerah dalam melaksanakan t ugas, wewenang, kewaj iban dan t anggung j awabnya sert a at as kuasa perat uran perundang-undangan yang le-bih t inggi dapat membuat perat uran perun-dang-undangan t ingkat daerah at au menet ap-kan kebij aap-kan daerah yang dirumusap-kan dalam perat uran daerah, perat uran kepala daerah dan ket ent uan daerah lainnya. Beberapa bidang yang menj adi urusan pemerint ah pusat adalah: polit ik luar negeri; pert ahanan; keamanan; yus-t isi; moneyus-t er dan f iskal nasional; dan agama. Urusan waj ib yang menj adi kewenangan peme-rint ahan daerah unt uk kabupat en/ kot a merupa-kan urusan yang berskala kabupat en/ kot a, yang meliput i: perencanaan dan pengendalian pem-bangunan; perencanaan, pemanf aat an, dan pe-ngawasan t at a ruang; penyelenggaraan ket ert i-ban umum dan ket ent raman masyarakat ; pe-nyediaan sarana dan prasarana umum; pena-nganan bidang kesehat an; penyelenggaraan pendidikan; penanggulangan masalah sosial; pelayanan bidang ket enagakerj aan; f asilit asi pengembangan koperasi, usaha kecil dan mene-ngah; pengendalian lingkungan hidup;
penana-man modal; penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan urusan waj ib lainnya yang diama-nat kan oleh perat uran perundang-undangan.
Perat uran perundang-undangan t ingkat daerah diart ikan sebagai perat uran perundang-undangan yang dibent uk oleh pemerint ah dae-rah at au salah sat u unsur pemerint ah daedae-rah yang berwenang membuat perat uran perun-dang-undangan daerah. Hal ini unt uk menghin-dari salah penaf siran yang diperluas mengenai perat uran perundang-undangan t ingkat daerah. Perlu diperj elas, karena perat uran perundang-undangan t ingkat daerah dapat berupa per-at uran perundang-undangan yang dibent uk sa-t uan pemerinsa-t ah pusasa-t di daerah asa-t au per-at uran perundang-undangan yang dibent uk oleh pemerint ah pusat yang berlaku di daerah at au di wilayah t ert ent u. Mat eri muat an perda ada-lah seluruh mat eri muat an dalam rangka penye-lenggaraan ot onomi daerah dan t ugas pemban-t uan, menampung dan memperpemban-t imbangkan ciri khas at au kondisi khusus daerah sert a merupa-kan penj abaran lebih lanj ut dari perat uran perundang-undangan yang lebih t inggi.
Ket ent uan Pasal 2 ayat (1) j o Pasal 3 ayat (1) Presiden Nomor 112 Tahun 2007, apabila dihubungkan dengan Pasal 10 ayat (3) dan Pasal 14 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004, dapat di-int erpret asikan bahwa pengat uran mengenai zonasi pasar t radisional dan pasar modern men-j adi kewenangan pemerint ah daerah dan me-rupakan mat eri muat an perat uran daerah. Oleh karena it u, pada dasarnya Perpres No. 112 Ta-hun 2007 t elah mengamanat kan pemerint ah daerah unt uk memberikan pengat uran menge-nai zonasi pasar t radisional dan pasar modern, melalui pembent ukan perat uran daerah.
Berkait an dengan perizinan pendirian t empat usaha, di Kab. Purbalingga t erdapat be-berapa perat uran perundang-undangan yang dapat dij adikan sebagai pedoman, yait u: Kepu-t usan BupaKepu-t i Purbalingga No. 44 Tahun 2003 t ent ang Pengalihan Pengelolaan Pelayanan Per-izinan dan Invest asi Kepada Kant or Pelayanan Perizinan dan Invest asi Kabupat en Purbalingga;
Perda No. 17 Tahun 2008 t ent ang Organisasi Tat akerj a Sat uan Polisi Pamong Praj a dan Lem-baga Lain Kabupat en Purbalingga; Perda No. 2
Tahun 2010 t ent ang Pengelolaan Pasar Desa dan Perat uran Bupat i No. 24 Tahun 2011 t en-t ang Penj abaran Tugas Pokok dan Fungsi Saen-t uan Pamong Praj a. Pemerint ah Daerah Kabupat en Purbalingga sangat t erbuka dengan kehadiran invest or, namun demikian, berdasarkan pera-t uran perundangan pera-t ersebupera-t di apera-t as, para inves-t or harus inves-t einves-t ap memenuhi persyarainves-t an dalam perizinan. Pemberian izin dan pencabut an izin, bukanlah suat u t ugas dan pekerj aan yang se-derhana bagi pemerint ah, karena penerbit an izin harus mendapat kaj ian yang serius bagi pi-hak yang mengeluarkannya, apakah dimaksudkan unt uk mengendalidimaksudkan at au mendist ribusi -kan, t ent u dengan krit eria yang j elas.8 Aspek Peizinan memberikan peranan pent ing dalam memberi arah unt uk membent uk masyarakat yang hendak dicapai sesuai dengan t uj uan ke-hidupan bernegara.9
Pengaj uan perizinan di Kab. Purbalingga harus memenuhi persyarat an administ rasi se-pert i sese-pert i izin IMB, izin lokasi dan izin HO, dengan koordinasi Kasi Pembangunan, kemu-dian baru pengurusan izin SIUP. Pada proses penerbit an SIUP t erdapat t im t eknis dari kabu-pat en, sepert i Dinas Pekerj aan Umum, Dinas Lingkungan Hidup, Kecamat an dan inst ansi lain yang t erkait dengan bidang usaha yang mau didirikan. Dinas Pekerj aan Umum nant inya akan memeriksa kelengkapan sepert i izin pengairan dan bangunan, Dinas lingkunagn hidup akan memeriksa mengenai drainase. Hasil dari pe-nelit ian yang dilakukan oleh inst ansi t erkait t ersebut , kemudian direkomendasikan dalam rapat penerbit an SIUP, semisal dari dinas bisa mewakilkan anak buahnya sif at nya st rukt ural dari inst ansi bersangkut an at au siapapun yang dit unj uk unt uk di sidang, di sini it u dianggap mewakili inst ansi yang dipimpin sesuai dengan perunt ukannya. Apabila keseluruhan perizinan t elah dipenuhi, maka SIUP dapat dit erbit kan.10 Berdasarkan penj elasan t ersebut , secara normat if , sist em administ rasi berkait an dengan
8
El it a Rahmi, “ Perizinan Dal am Pemerint ah (Sebuah Tant angan dan Har apan di Era Ot onomi )” , Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol . 4, No. 1, Tahun 2004, Hl m. 122 9 Ibi d. , Hl m. 124
10 Wawancar a dengan Disperi ndagkop dan KPMPT
perizinan pendirian t empat usaha memang su-dah sesuai dengan perat uran perundangan yang berlaku, di mana dalam pendirian suat u t empat usaha diperlukan yait u copy surat izin lokasi
dari Badan Pert anahan Nasional (BPN); copy surat izin undang-undang gangguan (HO); copy surat izin mendirikan bangunan (IMB); copy akt e pendirian perusahaan dan pengesahannya; surat pernyat aan kesanggupan melaksanakan dan memat uhi ket ent uan yang berlaku, sedang-kan unt uk memperhat isedang-kan kondisi ekonomi, sosial masyarakat set empat diperlukan kerj asa-ma dengan inst ansi lain, sepert i kecaasa-mat an, dinas lingkungan hidup maupun dinas pekerj aan umum unt uk mendapat kan mendapat kan kaj ian mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat sert a rekomendasi dari inst ansi yang berwenang unt uk kemudian dij adikan sebagai dasar pe-nerbit an at au penolakan pepe-nerbit an SIUP.
Perlu dit egaskan di sini, bahwa perat ur-an perundur-angur-an di Kab. Purbalingga di at as, be-lum mendasarkan pada Perpres No. 112 Tahun 2007 t ent ang Penat aan Dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanj aan dan Pert okoan Modern dan Perat uran Ment eri Perdagangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 t ent ang Pedoman Pe-nat aan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanj aan dan Pert okoan Modern sebagai payung hukumnya. Hal ini mengakibat kan ana-lisa yang dilakukan dalam proses pendirian per-t okoan modern cenderung bersif aper-t f ormaliper-t as belaka, yang dilakukan guna memenuhi persya-rat an administ persya-rat if yang t elah digariskan pera-t uran, khususnya perapera-t uran daerah.
Eksist ensi pasar t radisional t et ap harus dij aga, sekalipun t erdapat gempuran dari pasar t radisional. Mengingat pasar t radisional meru-pakan salah sat u pusat perekonomian masyara-kat lokal. Program kemit raan dipandang seba-gai salah sat u solusi unt uk dapat menaga eksis-t ensi pasar maupun pedagang eksis-t radisional. Ke-mit raan sebagaimana diat ur dalam Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 merupakan kerj asama usaha ant ara usaha kecil dengan usaha menengah dan
usaha besar disert ai dengan pembinaan dan pe-ngembangan oleh usaha menengah dan usaha besar dengan memperhat ikan prinsip saling
me-merlukan, saling memperkuat dan saling meng-unt ungkan, sebagaimana dimaksud dalam Per-at uran Pemerint ah Nomor 44 t ahun 1997 t en-t ang Kemien-t raan. Kemien-t raan ini dapaen-t dilakukan dengan berbagai cara. Per t ama, memasarkan
barang produksi UMKM yang dikemas at au di-kemas ulang (r epackagi ng) dengan merek
pe-milik barang, Pasar modern at au merek lain yang disepakat i dalam rangka meningkat kan ni-lai j ual barang; at au kedua, memasarkan
pro-duk hasil UMKM melalui et al ase at au out let dari
Pasar modern; dan ket i ga, penyediaan lokasi
usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pengelola Pusat Perbelanj aan dan Pasar modern kepada UMKM dengan me-nyediakan ruang usaha dalam areal Pusat Per-belanj aan at au Pasar modern.
Kemit raan sendiri dimaksudkan agar da-lam pelaksanaan kegiat an usaha minimarket nant inya t idak t erdapat kesenj angan sosial, khususnya dengan pedagang t radisional. Pada dasarnya Perda No. No. 2 Tahun 2010 t ent ang Pengelolaan Pasar Desa Pasal 13 ayat (3) t elah mengat ur bahwa dalam pendirian pert okoan modern mengadakan kemit raan dengan pelaku usaha kecil. Namun demikian, ket ent uan ini belum diimplement asikan dalam prakt iknya di lapangan, mengingat belum adanya pola kemi-t raan yang baku ankemi-t ara pasar modern dengan pasar at au pedagang t radisional. Hal ini meng-akibat kan gej olak di masyarakat cenderung muncul ket ika t erdapat rencana pendirian pa-sar modern dengan f ormat minimarket di Kab.
Purbalingga. Hal ini senada dengan ket erangan yang disampaikan oleh inf orman yang menekan-kan bahwa dalam pendirian minimarket cen-derung selalu t erdapat gej olak di masyarakat .11
Berdasarkan penj elasan t ersebut di at as, maka dapat dit arik kesimpulan sement ara, bahwa implement asi perizinan pendirian per-t okoan modern di Kab. Purbalingga belum se-suai dengan perat uran perundangan yang ber-laku, khususnya Perpres No. 112 t ahun 2007 dan Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008. Hal ini mengakibat kan implement asi kebij akan
11 Wawancar a dengan inf or man dar i Pengel ol a Pasar
perizinan pendirian pasar modern t idak kom-prehensif , karena berkait an dengan kemit raan sebagaimana diamanat kan dalam Perpres dan Permendagri t idak diat ur lebih lanj ut . Padahal, pengat uran mengenai kemit raan ini dimaksud-kan mempert ahandimaksud-kan eksist ensi pasar t radisio-nal dan unt uk mengeliminir kesenj angan ant ara pert okoan modern dengan pedagang t radisio-nal. Selain it u, hal t ersebut menunj ukkan ko-munikasi ant ara pemerint ah daerah dengan peme-rint ah pusat belum berj alan ef ekt if . Pada dasarnya komunikasi organisasi di pemerint ah daerah berlangsung dalam bent uk komunikasi f ormal maupun inf ormal. Komunikasi organisa-si berj alan ef ekt if apabila sumber daya manuorganisa-sia di dalam organisasi mempunyai kualit as baik.12
Faktor-Fakt or yang Cenderung Mempengaru-hi Implement asi Kebij akan Zonasi Pasar Tra-disional dan Pasar Modern di Kab. Purbalingga
Berbicara t ent ang pelaksanaan hukum at au penegakkan hukum, adalah suat u proses unt uk mewuj udkan keinginan hukum menj adi kenyat aan, yang dimaksudkan dengan keinginan ini adalah keinginan dari badan pembuat un-dang-undang secara f ormal, dan secara mat eri-al aderi-alah keinginan dari rakyat unt uk adanya ket ert iban dalam berbagai bidang. Hukum di buat sebenarnya unt uk dilaksanakan, maka apabila perat uran hukum sudah t idak dapat dilaksanakan, akan t idak lagi disebut sebagai hukum. Hukum dapat dilihat bent uknya sebagai kaidah-kaidah yang dirumuskan secara eksplisit . Fakt or-f akt or yang dapat mempenga-ruhi berf ungsinya hukum dalam masyarakat at au ef ekt ivit as hukum dipengaruhi oleh bebe-rapa f akt or yait u: f akt or hukum/ perat uran; f akt or penegak hukum; f akt or sarana dan f asi-lit as; f akt or masyarakat / pemegang peran; dan f akt or budaya. Berikut penj elasan dari masing-masing f akt or t ersebut .
Faktor Hukum/ Perat uran
Memahami ilmu perundang-undangan sa-ngat lah pent ing, sepert i salah sat unya
12 Prihat i , “ Komunikasi Organisasi Birokrasi Pemer int ah-an
Daer ah” , Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol . 5 No. 1 Tahun
2005, hl m. 130
hami t ent ang asas-asas pembent ukan perat uran perundang-undangan, karena didalamnya t er-dapat acuan bagaimana cara melahirkan sebuah produk hukum dalam hal ini undang-undang yang sesuai dengan kebut uhan publik pada saat it u. Tidak dij adi-kannya asas-asas perat uran perundang-undangan dalam pembent ukannya mengakibat -kan kekeliruan dalam pembent uk-an hukum. Sumber hukum yuk-ang menj adi acuuk-an pemben-t ukkan produk hukum adalah Pancasi-la, UUD 1945, Yurisprudensi, Hukum Agama, Hukum Adat , dan Hukum Int ernasional.
Purnadi Purbacaraka dan Soerj ono Soe-kant o,13 memperkenalkan enam asas. Per t ama,
perat uran perundang-undangan t idak berlaku surut (non r et r oakt i f ); kedua, perat uran
perun-dang-undangan yang dibuat oleh penguasa yang lebih t inggi, mempunyai kedudukan yang lebih t inggi pula; ket iga, perat uran
perundang-un-dangan yang bersif at khusus menyampingkan perat uran perundang-undangan yang bersif at umum (l ex speci al i s der ogat lex gener al i s); ke-empat , perat uran perundang-undangan yang
berlaku belakangan membat alkan perat uran perundang-undangan yang berlaku t erdahu-lu (l ex post er ior i der ogat e l ex per i or i ); kel i ma,
perat uran perundang-undangan t idak dapat di-ganggu gugat ; dan keenam; perat uran
perun-dang-undangan sebagai sarana unt uk semaksi-mal mungkin dapat mencapai kesej aht eraan spirit ual dan mat eril bagi masyarakat maupun individu, melalui pembaharuan at au pelest ari-an (asas wel vaar st aat ).
Pembuat an kebij akan di t ingkat daerah dalam hal t ert ent u dit ent ukan pula oleh kebij a-kan yang dibuat oleh pemerint ah pusat . Dalam ket erkait an dengan ini, kebij akan mengenai zo-nasi pasar t radisional dan pasar modern, seba-gaimana t elah dij elaskan sebelumnya, t erdapat dua perat uran perundang-undangan meliput i Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008. Terlepas dari pembahasan mengenai implement asi kebij akan zonasi pasar t radisional dan pasar modern di t ingkat daerah, perlu dicermat i pula kedua
13 Purnadi Purbacaraka dan Soerj ono Soekant o, 1989, Per at ur an Per undang-undangan dan Yur i spr udensi .
at uran perundang-undangan t ersebut . Berikut ini penelit i bahas mengenai kont radiksi penga-t uran kebij akan zonasi pasar penga-t radisonal dan pa-sar modern pada kedua perat uran perundangan t ersebut . Khususnya berkait an dengan hal-hal yang harus diperhat ikan dalam pendirian pasar modern.
Ket ent uan Pasal 4 Perpres No. 112 Ta-hun 2007, menent ukan hal-hal sebagai berikut .
Pendirian Pusat perbelanj aan dan Toko Modern waj ib:
a. Memperhit ungkan kondisi sosial ekono-mi masyarakat , keberadaan Pasar Tra-disional, Usaha Kecil dan Usaha Mene-ngah yang ada di wilayah yang ber-sangkut an;
b. Memperhat ikan j arak ant ara Hyper-market dengan Pasar Tradisional yang t elah ada sebelumnya;
c. Menyediakan areal parkir paling sedi-kit seluas kebut uhan parkir 1 (sat u) unit kendaraan roda empat unt uk t iap 60 m2 (enam puluh met er per se-gi) luas lant ai penj ualan Pusat Perbe-lanj aan dan/ at au Toko Modern; dan d. Menyediakan f asilit as yang menj amin
Pusat Perbelanj aan dan Toko Modern yang bersih, sehat (hygi eni s), aman,
t ert ib dan ruang publik yang nyaman. ”
Sedangkan pada ket ent uan Pasal 1 ayat (4) Per-pres No. 112 Tahun 2007 memberikan pengert i-an pusat perbeli-anj ai-an sebagai berikut :
Pusat Perbelanj aan adalah suat u area t ert ent u yang t erdiri dari sat u at au be-berapa bangunan yang didirikan secara vert ikal maupun horizont al, yang dij ual at au disewakan kepada pelaku usaha at au dikelola sendiri unt uk melakukan kegiat -an perdag-ang--an bar-ang. ”
Pasal 1 ayat (5) Perpres No. 112 Tahun 2007 memberikan pengert ian t oko modern sebagai berikut :
Toko Modern adalah t oko dengan sist em pelayanan mandiri, menj ual berbagai j enis barang secara eceran yang ber-bent uk Minimarket , Supermarket , De-par t ment St or e, Hyper mar ket at aupun
grosir yang berbent uk Perku-lakan”
Perpres No. 112 Tahun 2007 t ersebut ke-mudian dit indaklanj ut i dengan Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 yang merupakan
per-at uran pelaksana lebih lanj ut dari Perpres No. 112 Tahun 2007. Pasal 3 Perpres No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 mengat ur bahwa:
(1) Pendirian Pasar Tradisional at au Pu-sat Perbelanj aan at au Toko Modern selain Minimarket harus memenuhi
persyarat an ket ent uan perat uran per-undang-undangan dan harus melaku-kan analisa kondisi sosial ekonomi masyarakat , keberadaan Pasar Tradi-sional dan UMKM yang berada di wila-yah bersangkut an. ”
(2) Analisa kondisi sosial ekonomi masya-rakat dan keberadaan Pasar Tradisio-nal dan UMKM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliput i:
a. St rukt ur penduduk menurut mat a pencaharian dan pendidikan; b. Tingkat pendapat an ekonomi
ru-mah t angga;
c. Kepadat an penduduk; d. Pert umbuhan penduduk; e. Kemit raan dengan UMKM lokal; f . Penyerapan t enaga kerj a lokal; g. Ket ahanan dan pert umbuhan Pasar
Tradisional sebagai sarana bagi UMKM lokal;
h. Keberadaan f asilit as sosial dan f a-silit as umum yang sudah ada; i. Dampak posit if dan negat if yang
diakibat kan oleh j arak ant ara Hy-per mar ket dengan Pasar
Tradisio-nal yang t elah ada sebelumnya; dan
j . Tanggung j awab sosial perusahaan (Cor por at e Soci al Responsi bi l it y)”
Berdasarkan pengat uran pada Pasal 4, Pasal 1 ayat (4) dan (5) Perpres No. 112 Tahun 2007 t ersebut di at as, dapat diint erpret asikan bah-wa set iap pendirian pusat perbelanj aan dan pert okoan modern (pasar modern) dengan ber-bagai varianya sepert i minimarket , super-mar-ket , depar t ement st or e, hyper mar ket maupun
penj ualan pusat perbelanj aan dan/ at au t oko modern; dan menyediakan f asilit as yang men-j amin pusat perbelanmen-j aan dan t oko modern yang bersih, sehat (hygieni s), aman, t ert ib dan
ruang publik yang nyaman. Dengan pengert ian lain pendirian suat u pasar modern dalam ben-t uk minimarkeben-t pun waj ib memperhaben-t ikan ke-t enke-t uan Pasal 4 Perpres No. 112 Tahun 2007, khususnya berkait an dengan analisa kondisi sosial ekonomi masyarakat , keberadaan pasar t radisional, usaha kecil dan usaha menengah yang ada di wilayah yang bersangkut an dan as-pek j arak ant ara Hypermarket dengan Pasar Tradisional yang t elah ada sebelumnya.
Pengat uran berkait an dengan aspek zona-si pasar t radizona-sional dan pasar modern pada Per-mendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 t erse-but sangat kont radiksi dengan Perpres No. 112 Tahun 2007, khususnya berkait an dengan kewa-j iban unt uk melakukan analisa f akt or kondisi sosial ekonomi masyarakat , keberadaan Pasar Tradisional dan UMKM yang berada di wilayah bersangkut an. Pasal 3 Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 dapat diint erpret asikan bah-wa pendirian pasar modern, selain dalam ben-t uk minimarkeben-t , harus memenuhi persyaraben-t an ket ent uan perat uran perundang-undangan dan harus melakukan analisa kondisi sosial ekonomi masyarakat , keberadaan Pasar Tradisional dan UMKM yang berada di wilayah bersangkut an, dengan kat a lain pendirian sebuah minimarket t idak perlu memenuhi persyarat an ket ent uan perat uran perundang-undangan dan t idak perlu melakukan analisa kondisi sosial ekonomi ma-syarakat , keberadaan Pasar Tradisional dan UM-KM yang berada di wilayah bersangkut an. Ke-t enKe-t uan ini, apabila dihubungkan lebih lan-j uKe-t dengan Pasal 3 ayat (2), khususnya berkait an dengan aspek j arak pasar modern dan pasar t radisional, dapat diint erpret asikan bahwa pen-dirian minimarket t idak perlu memperhat ikan dampak posit if dan negat if yang diakibat kan oleh j arak ant ara Hyper mar ket dengan Pasar
Tradisional yang t elah ada sebelumnya. Peng-at uran pada Pasal 3 Permendagri No. 53/
M-DAG/ PER/ 12/ 2008 sangat bert ent angan dengan Pasal 4 Perpres No. 112 Tahun 2007. Pert en-t angan ini melahirkan keen-t idakpasen-t ian hukum.
Terlepas dari adanya ket idakpast ian hukum berkait an dengan pengat uran mengenai zonasi pasar t radisional dan pasar modern, khu-susnya pada pengat uran mengenai aspek j arak ant ara pasar modern dan pasar t radisional, be-rikut ini penelit i uraikan mengenai penerapan kebij akan zonasi pasar t radisional dan pasar modern dari aspek normat if nya:
Pengert ian pasar menurut Pasal 1 ayat (1) Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Pasal 1 ayat (1) Perat uran Ment eri Perdagangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 adalah area t empat j ual beli barang dengan j umlah penj ual lebih dari sat u baik yang disebut sebagai pusat per-belanj aan, pasar t radisional, pert okoan, mall, plasa, pusat perdagangan maupun sebut an lainnya, sedangkan menurut Perda No. 2 t ahun 2010 pasar adalah t empat bert emunya penj ual dan pembeli unt uk melaksanakan t ransaksi, sa-rana int eraksi sosial budaya masyarakat dan penembangan ekonomi masyarakat . Berdasar-kan dua pengert ian t ersebut , pada dasarnya t i-dak j auh berbeda, hanya saj a baik dalam per-pres maupun permendagri t elah menyebut kan bent uk-bent uk pasar sepert i pusat perbelanj a-an, pasar t radisional, mall, plasa, sedangkan di perda hanya menyebut kan t empat bert emunya penj ual dan pembeli. Namun demikian, penger-t ian pasar yang diapenger-t ur dalam perda penger-t erdapapenger-t unsur-unsur f ilosof isnya, dimana pasar bukan hanya sebagai t empat bert emunya penj ual dan pembeli saj a t et api pasar merupakan sarana int eraksi sosial budaya masyarakat .
Sement ara it u, pengert ian pasar t radi-sional menurut Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Perat uran Ment eri Perdagangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerint ah, Pemerint ah Daerah, Swast a, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah t ermasuk kerj asama dengan swast a dengan t empat usaha berupa t oko, kios, los dan t enda yang dimiliki/ dikelola oleh peda-gang kecil, menengah, swadaya masyarakat at au koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses j ual beli barang
pemerint ah, swast a, koperasi at au swadaya masyarakat set empat dengan t empat usaha berupa t oko, kios, los dan t enda at au nama lain sej enisnya yang dimiliki at au dikelola oleh pedagang kecil menengah, dengan skala usaha kecil dan modal kecil, dengan proses j ual beli melalui t awar menawar. Pengert ian pasar mo-dern pun ant ara Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Perat uran Ment eri Perdagangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 sama yait u t oko dengan sis-t em pelayanan mandiri, menj ual berbagai j enis barang secara eceran yang berbent uk Minimar-ket , SupermarMinimar-ket , Depart ment St ore, Hyper-market at aupun grosir yang berbent uk Perkula-kan, sedangkan dalam Perda No. 2 Tahun 2010 ist ilah yang digunakan adalah pasar modern dan memberikan pengert ian pasar modern adalah pasar yang dibangun oleh pemerint ah, swast a at au koperasi yang berbent uk mall, hypermar-ket , supermarhypermar-ket , depart ement st ore, shopping cent re, mini market yang pengelolaannya dilak-sanakan secara modern, mengut amakan pela-yanan kenyamanan berbelanj a dengan manej e-men berada pada sat u t angan, bermodal kuat dan dilengkapi lebel harga yang past i.
Selain perbedaan dalam penggunaan ist i-lah t ersebut di at as, t erdapat perbedaan pula dalam pengat uran mengenai program kemit ra-an. Pada Pasal 1 ayat (9) Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Pasal 1 ayat (9) Perat uran Ment eri Perdagangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 me-ngat ur bahwa:
Kemit raan adalah kerj asama usaha ant ara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah dan Usaha Besar disert ai dengan pembinaan dan pengembangan oleh Usaha Menengah dan Usaha Besar dengan memperhat ikan prinsip saling memerlukan, saling mem-perkuat dan saling mengunt ungkan, seba-gaimana dimaksud dalam Perat uran Pe-merint ah Nomor 44 Tahun 1997 t ent ang Kemit raan. ”
Program kemit raan ini diat ur lebih lanj ut pada Pasal 6 Perpres No. 112 Tahun 2007 yang dila-kukan dengan penyediaan t empat usaha unt uk usaha kecil oleh Pusat Perbelanj aan dengan harga j ual at au biaya sewa yang sesuai dengan kemampuan Usaha Kecil, at au yang dapat
di-manf aat kan oleh Usaha Kecil melalui kerj a-sama lain dalam rangka kemit raan.
Selain penyediaan t empat usaha, dalam rangka pengembangan kemit raan ant ara Pema-sok Usaha Kecil dengan Perkulakan, Hyper mar -ket , Depar t ment St or e, Supermar-ket , dan
Pe-ngelola Jaringan Minimarket , perj anj ian kerj a-sama dilakukan dengan ket ent uan t idak memu-ngut biaya administ rasi pendaf t aran barang dari Pemasok Usaha Kecil; dan Pembayaran ke-pada Pemasok Usaha Kecil dilakukan secara t u-nai, at au dengan alasan t eknis t ert ent u dapat dilakukan dalam j angka wakt u lima belas hari set elah seluruh dokumen penagihan dit erima.
Ket ent uan mengenai kemit raan ini diat ur lebih lanj ut pada Pasal 5 Perat uran Ment eri Perdagangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 di mana Kemit raan dengan pola perdagangan umum dapat dilakukan dalam bent uk kerj asama pemasaran, penyediaan lokasi usaha, at au pe-nerimaan pasokan dari Pemasok kepada Pasar modern yang dilakukan secara t erbuka. Kerj a-sama pemasaran dapat dilakukan dalam ben-t uk: memasarkan barang produksi UMKM yang dikemas at au dikemas ulang (r epackagi ng)
de-ngan merek pemilik barang, Pasar modern at au merek lain yang disepakat i dalam rangka me-ningkat kan nilai j ual barang; at au memasarkan produk hasil UMKM melalui et al ase at au out let
dari Pasar modern. Penyediaan lokasi usaha dilakukan oleh pengelola Pusat Perbelanj aan dan Pasar modern kepada UMKM dengan me-nyediakan ruang usaha dalam areal Pusat Per-belanj aan at au Pasar modern.
Pengat uran mengenai program kemit ra-an pada dua perat urra-an perundra-ang-undra-angra-an t ersebut di at as menunj ukan adanya suat u sin-kronisasi. Program kemit raan ini dipandang perlu dilakukan, mengingat saat ini sangat pesat dibangun pert okoan modern dengan ber-bagai nama. Sement ara pasar t radisional belum menampakkan perkembangan yang berart i. Pa-dahal, pasar t radisional menj adi t umpuan rak-yat kecil dalam memenuhi kebut uhan hidup sehari-hari. Para pedagang di pasar t radisional
Tuj uan dari program kemit raan ini adalah unt uk memberdayaan usaha kecil dan mene-ngah. Pemberdayaan usaha kecil dan menengah
yang not abene banyak berada di pasar t
radi-sional sangat pent ing dalam rangka mengurangi kemiskinan, kesenj angan sosial, dan mengat asi masalah pengangguran. Peningkat an keberda-yaan dan kemandirian masyarakat perlu menda-pat perhat ian serius. Salah sat unya adalah usaha kecil dan menengah (UKM) yang banyak melakukan kegiat annya di pasar t radisional.
Program peningkat an pert umbuhan eko-nomi it u pent ing, t et api, yang t ak kalah pen-t ing j uga adalah mengapen-t asi kemiskinan dan kesenj angan kaya-miskin. Fakt a menunj ukkan bahwa pert umbuhan ekonomi saj a t idak ot oma-t is akan menghilangkan kemiskinan dan kesen-j angan sosial yang masih menkesen-j adi problem besar bagi pemerint ah dan bangsa Indonesia umumnya. Dilihat dari sisi normat if t ampak pemerint ah pusat relat if konsist en pada pe-nguat an pot ensi UKM yang dilakukan dengan menf asilit asi, menyubsidi, melindungi, dan membimbing at au membinanya. Perlu diingat , pengalaman menunj ukkan bahwa UKM j ust ru t idak mengalami dampak yang besar ket ika krisis monet er melanda Tanah Air t ahun 1998. Bahkan ada yang mengat akan, UKM merupakan "penyelamat " perekonomian nasional pada masa krisis lalu, sement ara banyak usaha berskala besar j ust ru mengalami kemunduran yang dah-syat at au gulung t ikar.
Perpres No. 112 Tahun 2007 dit anda t a-ngani dan mulai berlaku pada t anggal 27 De-sember 2007 dan Perat uran Ment eri Perdagngan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 dit andat a-ngani dan belaku t anggal 12 Desember 2008. Permendagri ini merupakan perat uran perun-dangan di bawah perat uran presiden dan Per-at uran Ment eri Perdagangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 merupakan perat uran pelaksana dari Perpres No. 112 Tahun 2007. Sement ara it u Perda No. 2 Tahun 2010 dit andat angani dan berlaku pada t anggal 8 Maret 2010. Apabila dit inj au dari aspek hierarkhi, maka Perpres dan
Permendagri mempunyai kedudukan yang lebih t inggi dari Perda. Oleh karena it u, perda me-rupakan pengat uran lebih lanj ut dari amanat
yang ada pada perat uran perundang-undangan di at asnya, sehingga perda t ersebut t idak boleh bert ent angan dengan perat uran perundangan di at asnya. Hal ini sesuai dengan asas perat uran perundang-undangan bahwa perat uran perun-dangan yang dibuat oleh penguasa yang lebih t inggi, punya kedudukan yang lebih t inggi pula. Berdasarkan penj elasan t ersebut , pe-ngert ian yang diberikan Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Perat uran Ment eri Perda-gangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 mengenai pasar, pasar t radisional dan pasar modern adalah sama. Na-mun demikian, Perda Kabupat en Purbalingga No. 2 Tahun 2010 memberikan pengert ian yang berbeda pada sisi redaksional, bahkan perda sendiri menggu-nakan ist ilah pasar modern bukan t oko medern sebagaimana pada Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Perat uran Ment eri Per-dagangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008, sekali-pun pada dasarnya pengert ian yang diberikan mengenai pasar, pasar t radisional dan pasar modern relat if sama dengan perpres dan per-mendagri. Namun demikian, perbedaan ini pa-da gilirannya akan mencipt akan mut it af sir pa-dan memberikan suat u makna yang ganda t erhadap suat u perist ilahan. Hal ini pada akhirnya akan bert ent angan dengan asas kepast ian hukum, yang menekankan bahwa hukum harus past i, t idak mult i t af sir at au mempunyai makna ganda (ambigu). Selain perbedaan dalam penggunaan ist ilah, Perda No. 2 Tahun 2010, j uga t erdapat perbedaan mengenai perlindungan t erhadap ek-sist ensi pasar t radisional t erhadap berkembang-nya pasar modern, sebagaimana diat ur pada Pasal 13, yait u
(1) Bupat i memperhat ikan kelangsungan pasar desa dalam memberikan izin usaha pasar modern
(2) Pendirian izin usaha pasar modern yang berlokasi di desa dilakukan de-ngan memperhat ikan pert imbade-ngan kepala desa dan BPD;
(3) Pasar modern/ ret ail yang mendapat izin di desa, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) waj ib mengadakan ke-mit raan dengan pelaku usaha kecil di desa
pun permendagri t elah menggariskan bent uk kemit raan dan syarat pendirian pasar modern, khususnya berkait an dengan j arak. Berkait an dengan kemit raan dan j arak pasar t radisional dengan pasar modern, di Purbalingga t idak t er-dapat pengat uran lebih lanj ut . Berkait an de-ngan pendirian pasar modern, pemerint ah dae-rah hanya berpat okan pada persyarat an perizi-nan sebagaimana t elah dibahas sebelumnya. Hasilnya, f ilosof i dan t uj uan yang melat arbela-kangi adanya Perpres dan Permendagri t idak dapat t erlaksana dengan baik di wilayah Kab. Purbalingga, karena pemerint ah daerah Kab. Purbalingga hanya berpat okan pada persya-rat an administ rasi, khususnya berkait an de-ngan perizinannya saj a. Hal ini sesuai dede-ngan pernyat aan yang disampaikan oleh inf orman bahwa set iap pendirian pasar modern, khusus-nya minimarket , cenderung selalu ada konf lik di wilayah yang akan dibangun pasar modern t ersebut , namun set iap ada permasalahan sela-lu ada pej abat yang t urun dan menyat akan bah-wa semua sudah sesuai dengan perat uran per-undang-undangan yang berlaku, sehingga ma-syarakat t idak dapat mengelak lagi selain me-nyet uj ui pendirian pasar modern t ersebut .
Pemerint ah memang mempunyai hak un-t uk mengaun-t ur keberadaan pasar un-t radisional dan pasar modern. Dalam usaha unt uk mencipt a-kan suasana sinergit as, at uran yang dibuat pemerint ah it u t idak boleh diskriminat if dan seharusnya j ust ru t idak membuat dunia usaha menj adi berhent i. Pedagang kecil, menengah, besar, bahkan perant ara at aupun pemasok ha-rus mempunyai kesempat an yang sama dalam berusaha. Solusi yang t epat adalah hadirnya re-gulasi yang memposisikan keduanya unt uk sa-ling melengkapi bukan sasa-ling meniadakan. Selain it u pent ing pula upaya unt uk melakukan revit alisasi pasar t radisional agar mampu me-ngikut i kecenderungan kebut uhan masyarakat . Analis kondisi sosial ekonomi masyarakat , kebe-radaan Pasar Tradisional, Usaha Kecil dan Usa-ha Menengah yang ada di wilayah yang bersang-kut an dan program kemit raan dapat dikat akan
sebagai usaha pemerint ah pusat unt uk meng-at asi dan mengeliminir kesenj angan dan mele-mahnya eksist ensi pasar t radisional. Hal ini
t ent unya harus disikapi serius oleh pemerint ah daerah, khususnya dalam pembuat an kebij akan mengenai pendirian pasar modern.
Harus diakui mencipt akan sinergit as baik secara vert ikal maupun horizont al, t idaklah mudah. Fakt anya persaingan t idak hanya t er-j adi ant ara yang besar melawan yang kecil, me-lainkan j uga ant ara yang besar dengan yang besar, sert a yang kecil dengan yang kecil. Pe-merint ah sebagai regulat or harus mewadahi semua aspirasi yang berkembang t anpa ada yang merasa dirugikan. Pemerint ah harus mam-pu melindungi dan memberdayakan peda-gang t radisional karena j umlahnya yang mayorit as. Bukan hanya pemerint ah yang akt if mencipt a-kan suasana sinergit as ini, j uga legislat if , yang dilakukan dengan cara pembuat an kebij akan yang sinkron dengan kebij akan pemerint ah pusat .
Faktor Penegak Hukum
Pasal 20 Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Pasal 28 Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 t elah menegaskan bahwa perat uran per-undangan t ersebut berlaku sej ak t anggal dit e-t apkan. Namun demikian, Perda Kabupae-t en Purbalingga No. 2 Tahun 2010 t idak menj adikan Perpres dan Permendagri t ersebut sebagai da-sar hukum. Hal ini menunj ukkan, bahwa pene-gak hukum, baik j aj aran Pemerint ah Daerah Ka-bupat en Purbalingga maupun dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupat en Purbalingga t idak cermat dalam memperhat ikan perat uran per-undang-undangan yang berlaku, hal ini meng-akibat kan pembent ukan Perda Kabupat en Pur-balingga No. 2 Tahun 2010 pengat urannya menj adi t idak komprehensif sebagaimana diamanat -kan dalam Perpres dan Permendagri t ersebut . Hal ini dapat diint erpret asikan, bahwa penegak hukum belum cermat mengenai pengat uran zo-nasi pasar t radisional dan pasar modern dan sumber hukumnya sert a belum adanya komuni-kasi yang t erj alin dengan baik ant ara pemerin-t ah pusapemerin-t dengan pemerinpemerin-t ah daerah.
Faktor Sarana dan Fasilit as
pasar Segamas yang didukung oleh f asilit as yang memadai, sepert i ket ersediaan t empat pembuangan akhir, t oilet , dan lahan parkir. Se-ment ara f asilit as pendukung berupa lahan par-kir, t idak dimiliki oleh sebagian besar pasar yang t erlet ak dekat dengan wilayah kecamat an dan pasar desa.14 Hal ini t ent unya menj adi sua-t u hambasua-t an sua-t ersendiri bagi konsumen, apalagi mengingat sebagian besar konsumen mengguna-kan kenda-raan, sehingga konsumen amengguna-kan me-ngalami kesulit an dalam memarkir kendaraan-nya. Lain halnya dengan pasar modern, baik Pasal 4 ayat (1) huruf c Perpres No. 112 Tahun 2007 maupun Pasal 4 ayat (1) Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 mewaj ibkan pasar mo-dern unt uk menyediakan lahan parkir. Ber-dasarkan penj elasan t ersebut , baik pasar t radi-sional dan pasar modern oleh perpres dan per-mendagri diwaj ibkan unt uk menyediakan lahan parkir, akan t et api Perda Kab. Purbalingga No. 2 t ahun 2010 t idak mengat ur hal t ersebut .
Faktor Masyarakat
Masyarakat , dalam hal ini dibedakan menj adi t iga yait u pedagang di pasar t radisi-onal, pengusaha pasar modern sert a masyara-kat sebagai konsumen. Sebagaimana t elah di-sampaikan sebelumnya oleh inf orman dari Ke-t ua Pengelola pasar Segamas, Wakil KeKe-t ua Pe-ngelola Pasar Kut asari, Ket ua pePe-ngelola Pasar Padamara, Ket ua Himpunan Pedagang Pasar Segamas yang pada dasarnya menyat akan bah-wa pendirian pasar modern yang berdekat an dengan pasar t radisional mengakibat kan berku-rangnya pendapat an pedagang di pasar t radisio-nal.15 Hal ini disebabkan, f asilit as pendukung yang ada pada pasar t radisional kalah bersaing dengan pasar modern, sehingga masyarakat se-bagai konsumen cenderung beralih ke pasar modern dalam memenuhi kebut uhan sehari -ha-rinya, bahkan menurut inf orman, mereka yang dat ang ke pasar t radisional cenderung merupa-kan penj ual j uga, dengan pengert ian lain pasar t radisional semat a-mat a dij adikan sebagai t em-pat pemasok barang dagangan yang akan
14 Dat a Disperi ndagkop Kabupat en Purbal ingga Tahun 2008 15 Wawancara dil aksanakan pada t anggal 28 Mei dan 16
Juni 2011
t ribusikan lagi oleh penj ual lainnya. Sement ara pasar t radisional di desa, sekedar menj ual ke-but uhan pokok, sepert i sayur mayur yang diha-silkan dari pert anian masyarakat . Pert umbuhan pasar modern, apabila t idak dapat dibendung, maka t idak hanya pasar t radisional yang akan t ergusur, t et api j uga pedagang lain yang me-masok barang dagangannya di pasar t radisional. Hal ini mengingat , f ormat pasar modern yang berkembang di wilayah Kabupat en Purbalingga berbent uk minimarket , di mana pembangunan minimarket boleh berlokasi pada set iap sist em j aringan j alan, t ermasuk sist em j aringan j alan lingkungan pada kawasan pelayanan lingkung-an (perumahlingkung-an) di dalam kot a/ perkot alingkung-an, bah-kan pada Perda Kab. Purbalingga No. 2 Tahun 2010 belum diat ur mengenai aspek zonasinya.
Jumlah pasar modern dengan berbagai f ormat nya di Kabupat en Purbalingga mencapai 54 buah, sedangkan j umlah pasar t radisional hanya 35 buah (dat a Disperindagkop Tahun 2011). Masyarakat , apabila dilihat dari sisi pe-ngusaha pasar modern, maka berdasarkan dat a j umlah pasar modern di Kab. Purbalingga, t am-pak bahwa j umlah pasar modern lebih banyak dibandingkan dengan pasar t radisional yang ada di wilayah Kab. Purbalingga. Hal ini menunj uk-kan, bent uk invest asi saat ini di Kab. Purbaling-ga bert ambah, t idak hanya indust ri rambut sa-j a, melainkan sa-j uga invest asi pasar modern de-ngan bent uk minimarket . Berdasarkan ket era-ngan yang disampaikan oleh inf orman dari Bina Perizinan Pasar KPMPT, Disperindagkop dan Sat pol PP yang pada dasarnya menyat akan bah-wa pendirian pasar modern t elah sesuai dengan at uran yang ada di kabupat en Purbalingga, ser-t a perizinannya ser-t elah sesuai dengan peraser-t uran perundangan, menunj ukkan bahwa pada dasar-nya pengusaha pasar modern t elah berusaha unt uk mendirikan t empat usahanya secara le-gal, yait u dengan memenuhi segala persyarat an perizinan yang diberlakukan oleh pemerint ah daerah. Namun demikian, sebagaimana t elah dibahas sebelumnya, bahwa Perda Kab. Purba-lingga No. 2 Tahun 2010 t idak menj adikan
pe-ngat uran pada Perda menj adi t idak kompre-hensif , khususnya berkait an zonasi pasar t radi-sional dan pasar modern, sert a program kemi-t raan. Keadaan ini mengakibakemi-t kan implemen-t asi zonasi pasar implemen-t radisional dan pasar modern di wilayah Kabupat en Purbalingga bert ent angan dengan perat uran perundangan di at asnya.
Pemegang peran berikut nya adalah ma-syarakat sebagai konsumen. Pasar adalah sisi dunia usaha yang mempunyai karakt erist ik ke-rakyat an yang lekat dengan dimensi sosial, eko-nomi dan budaya. Sebagai t umpuan kehidupan dari generasi ke generasi, t ren pasar harus da-pat memenuhi t unt ut an wakt u, baik f isik mau pun nuansa kegiat annya. Kegiat an di pasar me-libat kan masyarakat baik selaku pembeli mau pun penj ual saling membut uhkan sat u sama lainnya. Keberadaan pasar pada hakekat nya bert uj uan unt uk memberikan pelayanan kepada masyarakat agar bisa memenuhi berbagai keinginan yang dibut hkan bagi kelangsungan hi -dup. Konsumen di sini t idak dapat disalahkan sepenuhnya at as beralihnya mereka ke pasar modern, mengingat konsumen mempunyai hak unt uk memilih t empat berbelanj a.
Faktor Budaya
Masyarakat Indonesia dapat dikat akan berada dalam kondisi t ransisional, yait u ber-pindahnya dari kehidupan agraris t radisional menuj u indust rial modern, di mana kondisi t ransisional ini salah sat unya dipengaruhi oleh proses urbanisasi. Perkembangan kot a berj alan seiring dengan t erj adinya urbanisasi yang me-rupakan suat u proses perubahan wilayah desa menj adi kot a. Perubahan ini t erj adi pada aspek f isik, ekonomi, dan sosial yang saling berkait an sat u sama lain dan mengakibat kan suat u wila-yah menunj ukkan warna kekot aan sepert i di ant aranya adalah karakt er non agraris, het ero-genit as sosial, dan peningkat an int ensit as ba-ngunan. Proses urbanisasi ini t idak hanya meru-pakan perpindahan penduduk dari desa ke kot a t et api lebih pada proses masyarakat desa me-nuj u modernisasi, meninggalkan sif at -sif at t
ra-disional menuj u modern. Keadaan t ransisional akibat proses modernisasi ini dit andai dengan adanya perubahan pola pikir masyarakat dari
sif at t radisional menj adi modern, sehingga hal t ersebut mempengaruhi pula pola apresiasi ma-syarakat yang meru-pakan perilaku mama-syarakat dalam memandang, menilai, dan menghargai segala sesuat u yang t erj adi di sekit ar mereka. Proses modernisasi ini mempengaruhi pola apresiasi masyarakat t erhadap perubahan f isik perkot aan yang dit andai dengan adanya pening-kat an penggu-naan lahan unt uk kegiat an non pert anian, salah sat u di ant aranya adalah per-dagangan dan j asa yang dit unj ukkan dengan adanya pert umbuhan dan perkembangan pasar mo-dern yang semakin marak. Perilaku masya-rakat Indonesia selaku konsumen sudah mulai bergeser dari pasar t radisonal ke pasar mo-dern.
Berdasarkan penj elasan t ersebut di at as, t ampak bahwa f akt or hukum dan penegak hu-kum cenderung mempengaruhi implement asi zonasi pasar t radisional dan pasar modern, ka-rena pada f akt or hukum, t erdapat ket idaksin-kronan produk-produk hukum yang ada dit ing-kat pusat sendiri, yait u ket idaksinkronan Per-pres No. 112 Tahun 2007 dengan Permendegri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008, maupun ket idak-sinkronan produk hukum dit ingkat pusat dengan di t ingkat daerah, yait u Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Permendegri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 dengan Perda Kab. Purbalingga No. 2 Ta-hun 2010, sedangkan pada f akt or penegak hu-kum, t ampak bahwa penegak hukum dit ingkat daerah belum memperhat ikan ket ent uan Per-pres No. 112 Tahun 2007 dan Permendegri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008. Fakt or f asilit as dan sarana, f akt or masyarakat dan f akt or budaya yang kemudian mengakibat kan pasar t radisional relat if t erpinggirkan semat a-mat a merupakan dampak dari t idak dilaksanakannya Perpres No. 112 Tahun 2007 dan ket idaksinkronan ant ara Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 it u sendiri.
Penut up Simpulan
Perat uran perundangan yang mengat ur
en-t ang Penaen-t aan Dan Pembinaan Pasar Tradisio-nal, Pusat Perbelanj aan Dan Pasar modern dan Perat uran Ment eri Perdagangan No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 t ent ang Pedoman Penat aan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanj a-an da-an Pasar modern. Hal ini mengakibat ka-an implement asi kebij akan berkait an dengan per-izinan pendirian pasar modern t idak kompre-hensif , karena berkait an dengan kemit raan sebagaimana diamanat kan dalam Perpres dan Permendagri t idak diat ur lebih lanj ut . Padahal, pengat uran mengenai kemit raan ini dimaksud-kan mempert ahandimaksud-kan eksist ensi pasar t radisio-nal dan unt uk mengeliminir kesenj angan ant ara pert okoan modern dengan pedagang t radisional. Selain it u, implement asi kebij akan berkait -an deng-an penent u-an j arak -ant ara pasar t ra-disional dengan pasar modern dan penyediaan lahan parkir bagi pasar t radisional pun t idak ada, karena pendirian pasar modern sepert i di kecamat an padamara, Kut asari, Kalimanah, Rembang berhadap-hadapan dengan pasar t ra-disional, sert a sebagian besar pasar t radisional t idak mempunyai lahan parkir.
Ada beberapa f akt or yang cenderung mempengaruhi implement asi kebij akan zonasi pasar t radisional dan pasar modern di Kab. Pur-balingga. Per t ama, f akt or hukum, t erdapat
ke-t idaksinkronan dalam pengake-t uran mengenai zo-nasi pasar t radisional dan pasar modern; kedua,
f akt or penegak hukum, belum memahami bet ul Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Permendagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008; ket i ga, f akt or
sa-rana dan f asilit as, sasa-rana dan f asilit as pasar t radisional relat if belum memadai, bahkan la-han parkir yang diwaj ibkan oleh Perpres dan Permendagri bagi pasar t radisional belum t er-sedia, kecuali Pasar Segamas; keempat ; f akt or
masyarakat , Masyarakat , baik sebagai konsu-men maupun pelaku usaha/ pedagang belum memahami benar mengenai masalah zonasi pasar t radisional dan pasar modern; dan kel i -ma, f akt or budaya, lahirnya globalisasi, pada
akhirnya membawa perubahan budaya masyara-kat , dari budaya t radisional ke arah budaya
mo-dern dengan gaya hidup inst an.
Saran
Penulis memberikan saran agar Permen-dagri No. 53/ M-DAG/ PER/ 12/ 2008 maupun Per-at uran Daerah KabupPer-at en Purbalingga No. 2 Ta-hun 2010 segera dilakukan amandemen at au di-lakukan uj i mat eriil t erhadapnya. Selain it u, perlu dilakukan pengawasan dan pendamping-an bagi pemerint ah daerah, khususnya menge-nai penerapan kebij akan zonasi pasar t radisio-nal dan pasar modern.
Daft ar Pust aka
Bint oro, Rahadi Wasi. “ Aspek Hukum Zonasi Pasar Tradisional dan Pasar Modern” . Jur -nal Di nami ka Hukum, Vol. 10 No. 3 edisi
Sept ember 2010;
Hasnat i. “ Perlunya Ref ormasi Hukum Pemba-ngunan Ekonomi di Indonesia” . Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol. 4 No. 1 2004;
Khairandy, Ridwan. “ Iklim Invest asi dan Jami-nan Kepast ian Hukum Dalam era Ot onomi Daerah” . Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol.
5 No. 2 Tahun 2006;
Koent j oro, Diana Halim. “ Penegakan Hukum dan Pert umbuhan Ekonomi di Indonesia” .
Gl or i a Jur i s Vol. 6 No. 2, Mei-Agust us
2006;
Pambudi, Agung. “ Perat uran Daerah dan Ham-bat an Invest asi” . Jent er a, edisi 14 Tahun
IV, Okt ober-Desember 2006;
Prihat i. “ Komunikasi Organisasi Birokrasi Pemerint ah-an Daerah” , Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol. 5 No. 1 Tahun 2005;
Purbacaraka Purnadi dan Soerj ono Soekan-t o. 1989. Per at ur an Per undang-undangan dan Yur i spr udensi . Cet . Ke-3. Bandung:
PT. Cit ra Adit ya Bakt i;
Rahmi, Elit a. “ Perizinan Dalam Pemerint ah (Se-buah Tant angan dan Harapan di Era Ot o-nomi)” . Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol. 4,
No. 1 2004;
Sit ompul, Zulkarnain. “ Invest asi Asing di Indo-nesia: Memet ik Manf aat Liberalisasi” .
Jur nal Legi sl asi Indonesi a, Vol. 5 No. 2,
Juni 2008;
Suj it o, Arie. “ Mal dan Marginalisasi” , Jur nal Fl amma Edisi 24 Tahun 2005, websit e