• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kurwati REvisi Makalah Sejarah Indonesia (9)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kurwati REvisi Makalah Sejarah Indonesia (9)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan pendidikan pada zaman sekarang tidak terlepas dari sejarah

masa lampau. Maksudnya adalah peletak pendidikan dimulai dari adanya

konsep-konsep pendidikan yang bermula dari zaman Yunani kuno ataupun dari dunia

Islam sebagaimana yang dituntunkan oleh nabi Muhammad SAW yang membawa risalah Islam demi mewujudkan rahmatanlil’alamin. Meskipun demikian, konsep-konsep pendidikan dalam mewujudkan peradaban dunia didominasi oleh

peradaban barat, yaitu suatu peradaban yang dengan ciri sekuler, materialis dan

liberalisnya.

Berbicara masalah peradaban, tidak bisa dilepaskan dengan masalah

filsafat. Karena secara historis filsafatlah yang mengantarkan suatu kaum kedepan

pintu gerbang peradabannya masing-masing seperti yang pernah dialami

peradaban Yunani kuno dan peradaban Islam (dimasa keemasan). Kedua

peradaban yang pernah ada tersebut (terutama Islam) mencapai kegemilangannya

setelah terlebih dahulu mangalami kegemilangan dalam bidang filsafat dan

kegiatan ilmiah.

Secara keseluruan Filsafat Yunani dan filsafat Islam memegang peranan

yang besar dalam membentuk peradaban dunia. Filsafat Yunani merupakan

peletak batu pertama kemunculan usaha intelektualitas dalam memahami

fenomena alam baik yang mikro maupun yang makro, dan filsafat Islam

mengembangkan, mereformulasi mengarahkan dan mensistemasi serta

menurunkannya ketataran praktis hingga melahirkan peradaban cemerlang.

B. Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang yang ada, maka makalah ini akan

dirumuskan sebagai berikut :

1. Apa perbedaan sejarah pendidikan pada zaman Yunani Kuno dan zaman

Islam ?

2. Bagaimana perkembangan pendidikan pada zaman Yunani kuno dan

(2)

3. Bagaimana kontak antara dunia Islam dan Yunani kuno dalam bidang

pendidikan ?

C. Tujuan Penulisan

Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut :

1. Sebagai materi perkuliahan dalam mata kuliah Sejarah Indonesia dan Dunia

di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Manado

2. Sebagai referensi bagi mahasiswa dalam memahami Sejarah Pendidikan

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Pendidikan pada Masa Yunani Kuno dan Zaman Islam

a. Sejarah Pendidikan pada Masa Yunani Kuno

Periode Yunani kuno adalah cikal bakal dari berkembangnya ilmu

pengetahuan modern seperti saat ini. Yang paling menonjol dalam perkembangan

ilmu pada era ini adalah filsafat, yang nantinya akan menjadi induk bagi setiap

ilmu pengatahuan. Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan

filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan mengungkapkan ide-ide

atau pendapatnya. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang

didasarkan pada sikap menerima begitu saja, melainkan menumbuhkan sikap yang

senang menyelidiki sesuatu secara kritis.

Sikap kritis inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli

pikir-ahli pikir terkenal sepanjang masa. Pada masa ini filsafat lebih bercorak “kosmosentris”, artinya para filsuf pada waktu itu mengarahkan perhatian mereka terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan asal mula terjadinya alam

semesta. Mereka berupaya mencari jawaban tentang prinsip pertama (arkhe) dari alam semesta, oleh karena itu mereka lebih dikenal dengan julukan “Filsuf-Filsuf Alam”.1

Dalam perkembangannya, filsafat Yunani Kuno menjadi sumber dari

segala ilmu pengetahuan yang berkembang di Eropa dan seluruh dunia pada saat

itu. Banyak ahli filsafat yang lahir pada zaman Yunani Kuno. Yang terkenal

adalah Socrates. Ia mengajarkan filsafat kebijakan (etika) dengan logika sebagai

ilmu untuk membahasnya. Kemudian ada lagi Plato yang merupakan salah satu

ahli filsafat yang terkenal. Ia adalah murid dari Socrates. Ahli filsafat lainnya

adalah Aristoteles, Aristoteles merupakan murid dari Plato.

1. Pendidikan Primitif (4000 SM)

Perkembangan pendidikan di masa Yunani kuno dalam masa primitif ini di

bagi dalam dua bagian sebagai berikut yaitu :

(4)

a. Homeros, yakni menekan manusia ideal, maksudnya manusia yang

memiliki arate. Orang yang memiliki ialah orang yang memiliki kekuatan

fisik seperti keberanian dan juga kehebatan untuk meraih kegemilangan

dan kehormatan. Ciri-ciri pelajar ideal yang diinginkan Humeros yaitu

berani berperang, kuat, besar, tampan, bicara sopan dan baik, kaya,

berkuasa, budi pekerti, dan yang peting kuat fisiknya. Tujuan

pendidikanya adalah membuat manusia memiliki kualitas-kualitas

tersebut.

b. Hesiodos, yakni pendidikan yang membuat orang yang dididik memiliki

visi popolis (visi publik, umum, dan masyarakat). Dasar moralitas dalam

arete Hesiodos ialah keadilan dan kerja keras. Orang yang adil adalah

orang yang bekerja keras, kerja keras ialah jalan satu-satunya menuju

kepada keutamaan2

Dengan demikian pendidikan primitif ini menekankan pada kekuatan fisik

serta keberanian dalam hidup. Selain itu, sistem pendidikan ini menuntut

manusia untuk selalu bekerja keras dan bersikap adil.

2. Pendidikan Polis Yunani (400 SM)

Yunani Kuno terbagi menjadi dua yaitu Sparta dan Athena. penduduk Sparta

disebut dengan Bangsa Doria, sedangkan penduduk Athena disebut Bangsa

Lonia. Kedua negara tersebut merupakan Kota Polis (Negara Kota). Sparta

dengan ahli negaranya Lycurgus, sedangkan Athena ahli negaranya Solon.

Pada kedua negara tersebut terdapat perbedaan-perbedaan dalam dasar,

tujuan, pelaksanaan pendidikan dan pengajaran. Pendidikan Polis Yunani

(400 SM) yaitu :

a. Pendidikan Sparta

Pendidikan di Sparta didasarkan atas dua asas yaitu : anak adalah milik

negara dan tujuan pendidikan adalah membentuk warga negara yang siap

membela negara (membentuk tentara yang gagah berani). Ciri-ciri

pendidikannya adalah : pendidikan di selenggarakan oleh negara,

2 Asril. Sistem Pendidikan Yunani Kuno. Di akses dari

(5)

pendidikan diperuntukan hanya warga negara yang merdeka (bukan

budak), lebih mengutamakan pendidikan jasmani, anak yang telah berusia

7 tahun di asramakan, anak yang cacat dibunuh. Pelaksanaan pendidikan

Sparta yaitu : anak-anak di biasakan menahan lapar, tidur diatas bantal

rumput, pada musim dingin hanya diselimuti dengan dengan selimut tipis3. Hal

ini dimaksudkan agar anak-anak memiliki kekuatan yang baik hingga mereka

dewasa sehingga mereka siap untuk berperang.

b. Pendidikan Athena

Athena adalah Negara Demokrasi. Dasar pendidikan Athena adalah

Undang- Undang Solon berbeda dengan Sparta. Tujuan pendidikan Athena

adalah membentuk warga negara dengan jalan pembentukan jasmani dan

rohani yang selaras. Ciri-ciri Pendidikan Athena adalah : a) pendidikan di

selenggarakan oleh keluarga dan sekolah, b) pendidikan di selenggarakan

bagi seluruh warga negara (bebas). Materi atau bahan ajar terbagi atas dua

bagian yaitu : a) gymnastis, b) musik

b. Sejarah Pendidikan pada zaman Islam

Pada waktu Islam datang, bangsa Arab dikenal dengan sebutan “Kaum Jahiliyah”. Kaum Quraisy penduduk Mekkah sebagai bangsawan di kalangan Bangsa

Arab hanya memiliki 17 orang yang pandai baca tulis. Suku Aus dan Khozroj penduduk

Yastrib (Madinah) hanya memiliki 11 orang yang pandai membaca. Hal ini menyebabkan

bangsa Arab sedikit sekali mengenal ilmu pengetahuan dan kepandaian lainnya.

Pendidikan pada masa Rasulullah SAW dapat dibedakan menjadi 2 periode,

baik dari segi waktu dan tempat penyelenggaraan, maupun dari segi isi dan materi

pendidikannya, yaitu 1) periode Makkah, sebagai periode awal pembinaan Islam

dengan Mekah sebagai pusat kegiatannya, 2) periode Madinah, sebagai periode

lanjutan (penyempurnaan atau pembinaan) pendidikan Islam di Mekah. Dalam

periode ini, Madinah merupakan tempat dijadikannya sebagai pusat kegiatannya4

3 Guswita Putri. Sejarah Pendidikan Yunani Kuno. 2014 diakses dari

http://wartasejarah.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-pendidikan-yunani-kuno.html pada Senin, 02 Oktober 2017 Pukul 20.00

4 Annilta. Pendidikan Islam pada masa Rasulullah SAW. Diakses dari

(6)

Tahap pelaksanaan pendidikan pada masa Rasulullah pada periode Mekah

dilakukan dengan cara : 1) secara sembunyi-sembunyi, 2) secara terang-terangan,

dan 3) secara seruan umum. Pendidikan pada periode Mekkah pendidikan

ditekankan pada pendidikan keagamaan, pendidikan akhliyah dan ilmiah,

pendidikan akhlak dan budi pekerti serta pendidikan jasmani. Sedangkan tahap

pelaksanaan pendidikan pada periode Madinah merupakan kelanjutan dari

pendidikan tauhid di Mekah, yaitu pembinaan pendidikan di bidang pendidikan sosial dan

politik agar dijiwai oleh ajaran tauhid. Pendidikan pada periode Madinah ditekankan pada

pendidikan keagamaan, pendidikan akhlak, pendidikan kesehatan jasmani serta

pendidikan syari’at yang berhubungan dengan masyarakat5

B. Perkembangan Pendidikan pada Zaman Yunani Kuno dan Zaman Islam

secara Global

a. Perkembangan Pendidikan Pada Zaman Yunani Kuno secara Global

Yunani terkenal dengan mulainya kebudayaan Barat. Dalam waktu

beribu-ribu tahun bangsa Yunani ini berdagang. Militernya mempunyai hubungan dekat

dengan Timur. Disamping itu mempunyai hubungan dengan daerah Mediterania

dengan Eropa. Dengan adanya sifat-sifat ini maka dalam bentuk yang Istimewa

yunani merupakan tempat pertemuan kebudayaan Timur dan Barat.akibat

percampuran itulah, merupakan asal dari kebanyakan cita kebudayaan dan adat

bangsa Barat. Tetapi kesatuan daripada Yunani itu puncaknya ketika kekaisaran

Roma berkuasa. Bangsa Yunani mempunyai Negara-negara yang

terpencar-pencar, dikarenakan oleh beberapa sebab mereka tidak dapat

bersatu.negara-negara ini dapat bersatu ketika ada azaz-azaz penaklukan bangsa Macedonia 300

tahun SM dan Roma 146 SM. Sikap bangsa Roma terhadap Yunani mengandung

2 kemenangan, yaitu; 1. Kemenangan Militer bagi Bangsa Roma 2. Kemenangan

secara spiritual bagi bangsa Yunani Dikatakan spiritual karena kebesaran Roma

adalah pinjaman dari kebudayaan Yunani. Bangsa Yunani spiritual kuat (kesenian,

pengetahuan, kesusasteraan) tetapi lemah didalam organisasi. Sedangkan Roma

mempunyai kemenangan politik yang bersifat ultilitaritis . oleh karena itu

5

Annilta. Pendidikan Islam pada masa Rasulullah SAW. Diakses dari

(7)

organisasi kenegaraan Roma menjadi kuat sehingga dapat menerima kebudayaan

baru yang dibawa oleh golongan Kristen. Cita-cita kesatuan dan keagungan itu

terus hidup sampai reformasi, dan baru dapat hancur oleh Napoleon I6

Pendidikan di awal Yunani diarahkan kepada morali, keberanian,

kesenian dan pengobatan serta diarahkan untuk memiliki kepribadian yang baik.

Ahli-ahli pendidik Yunani adalah sebagai berikut :

1. Phytagoras (580-500 SM)

Pythagoras merupakan pemikir Yunani sekaligus seorang orator juga

intelektual terkenal, sekaligus guru yang karismatik. Semua itu membuat

banyak orang belajar darinya. Tidaklah mengherankan apabila tidak lama

kemudian dia mempunyai banyak pengikut dan akhirnya mendirikan sekolah.

Tujuan pendidikan menurut Phytagoras yaitu membentuk manusia susila dan

beragama. Beberapa cita-cita yang menjadi dasar pendidikan menurut

Phytagoras : a) Hanya jiwa yang berharga bukan badan, b) Jiwa berasal dari

dewa-dewa dan hidup terus jika badan telah mati, c) Sejak kecil manusia

mempunyai kecendrungan untuk berbuat jahat, pendidikan harus membawa

manusia kearah kesempurnaan, d) Kesempurnaan adalah kebajikan, yaitu

keselarasan antara jiwa dan raga, harmoni dalam hubungan antara manusia,

harmoni pula dalam negara.

2. Socrates (469-399 SM)

Socrates merupakan tokoh yang melawan ajaran Sofisme. Ia berpendapat

bahwa yang menjadi ukuran segala-galanya bukan manusia melainkan

ketuhanan (Theosentris). Berlawanan dengan Phytagoras, Socrates percaya

bahwa manusia mempunyai pembawaan untuk berbuat baik. Socrates

berpendapat bahwa ilmu adalah sumber dari kebajikan, oleh karena itu Ia

dianggap perintis kaum Philantropin (cinta pada sesama manusia).

Phytagoras dan Socrates adalah peletak dasar Paedagogik moral. Pada akhir

hidupnya Socrates dijatuhi hukuman minum racun oleh hakim, apabila Ia

tidak bersedia menarik kembali ajaranya. Socrates dianggap telah merusak

6

(8)

akhlak pemuda, dan difitnah oleh kaum Sofis tela mengajarkan dewa-dewa

baru dan membelakangi dewa-dewa resmi.

3. Plato (427-347 SM)

Plato adalah murid Socrates. Sistem pendidikan yang lengkap dan dan

merupakan bagian dari ajaran ketatanegaraan pertama disusun oleh Plato, Ia

adalah seorang pengarang pertama di Yunani. Tujuan pendidikan menurut

Plato adalah membentuk warga secara teoritis dan praktis. Setiap manusia

bertugas untuk mengabdikan kepentingannya kepada kepentingan negara.

Oleh sebab itu pendidikan harus diselenggarakan oleh negara dan untuk

negara. Dengan prinsip tersebut Plato disebut sebagai pencipta pendidikan

sosial. Plato mengatakan bahwa kesulitan-kesulitan politis dapat diatasi

apabila ada keadilan.

4. Aristotales (384-322 SM)

Aristoteles Adalah murid dari Plato. Cita-cita pendidikan Aristoteles adalah

kebajikan itu diperoleh dengan jalan aman, melalui pengalaman,

pembiasaan-pembiasaan, akal budi, dan pengertian.pendidik harus mempelajari dan

memimpin pembawaan dan kecendrungan anak-anak. Dengan latihan dan

pembiasaan mereka diajarkan melakukan perbuatan yang baik dan

meninggalkan yang buruk. Menurut Aristoteles sumber pengetahuan adalah

pengalaman, pengamatan, yang menghasilkan bahan untuk berpikir. Dalam

satu hal ia sefaham dengan J.Locke bahwa jiwa seseorang pada waktunya

diahirkan tidak berisi apa-apa (tabula rasa).

b. Perkembangan Pendidikan pada zaman Islam secara Global

Dalam perkembangan kebudayaan Islam, ada dua faktor yang

mempengaruhi perkembangan pendidikan yaitu faktor internal atau pembawaan

dari ajaran Islam itu sendiri dan faktor eksternal yaitu berupa tantangan dan

rangsangan dari luar7. Pendidikan Islam mencapai puncak kejayaan pada masa

dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa pemerintahan Harun al Rasyid (170-193 H).

Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang

ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai

7

(9)

cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan

buku-buku dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab. Karena beliau adalah ahli ilmu

pengetahuan dan mempunyai kecerdasan serta didukung negara dalam kondisi

aman, tenang dan dalam masa pembangunan sehingga dunia Islam pada saat itu

diwarnai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Pendidikan pada masa ini memiliki tujuan keagamaan dan akhlak, tujuan

kemasyarakatan, cinta ilmu pengetahuan dan tujuan kebendaan. Kehidupan murid

pada pendidikan tingkat dasar memiliki ciri-ciri yaitu diharuskannya belajar

membaca dan menulis, diajarkan membaca dan menghafalkan al Qur`an, serta

hubungan yang baik antara guru dan murid layaknya orang tua dan anak. Pada

pendidikan tingkat tinggi kehidupan murid berbeda karena mereka diberi

kebebasan untuk memilih guru yang mereka kehendaki dan diberi kebebasan

untuk berpindah dari guru yang satu ke guru yang lain apabila guru itu dianggap

lebih baik.

Pada masa itu berkembang sistem rikhlah ilmiah, yaitu pengembaraan dan

perjalanan jauh yang dilakukan oleh guru dan pelajar sehingga dinamika sosial

dan peradaban Islam terus berkembang. Juga dikenal lembaga wakaf yang

bertujuan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat Islam terutama dalam

bidang pendidikan. Pada masa kejayaan ini ditandai dengan berkembangnya

berbagai lembaga pendidikan, baik formal yaitu berupa madrasah (sekolah) dan

nonformal yang berupa kutab, pendidikan di istana, toko-toko buku, rumah-rumah

ulama, majelis kesusasteraan, badiah, rumah sakit, perpustakan, dan ribath. Selain

itu juga berkembang ilmu pengetahuan sebagai mercusuar bagi pendidikan Islam

di masa yang akan datang.

Masa kejayaan pendidikan Islam berakhir setelah jatuhnya kota Baghdad

oleh Tar-Tar (Holako) dan sebagai masa memudarnya kebudayaan Islam8. Hal

inilah yang kemudian menjadikan kekuatan pendidikan Islam di mata duni

berangsur-angsur mulai runtuh.

8 Haryono. Sejarah Pendidikan Islam. 2010 diakses dari

(10)

C. Kontak antara Dunia Islam dan Yunani Kuno dalam bidang Pendidikan

Pendidikan mempunyai peranan dalam mengubah dan memindahkan

nilai-nilai kebudayaan kepada setiap individu dalam masyarakat dan mengolah

kebudayaan tersebut menjadi sikap mental tingkah laku, bahkan menjadi

kepribadian.

Ketika Islam lahir, bangsa Arab dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang

berkebudayaan tinggi dan megah, seperti Persia, Romawi, Yunani, dan India.

Sebagai masyarakat yang baru lahir, jika Islam hendak memilki kebudayaan dan

peradaban yang tinggi, maka harus mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa lain

yang jauh lebih maju. Usaha itu telah dilakukan oleh umat Islam di zaman klasik,

khususnya di zaman sejak masa Dinasti Umayyah.

Adopsi kebudayaan bangsa-bangsa lain ke dalam Islam lebih banyak

berupa transmisi keilmuan bangsa lain ke dalam Islam dengan menggunakan

pendidikan sebagai medianya, misalnya dengan mempelajari secara langsung

peradaban bangsa lain. Cara lainnya adalah dengan menerjemahkan

literatur-literatur non Islam. Cara inilah yang membuat pendidikan Islam berkembang

dengan munculnya lembaga penerjemahan, seperti Bait al-Hikmah dan

sekolah-sekolah penerjemahan. Penerjemahan tersebut kemudian menggugah rasa tertarik

umat Islam untuk mempelajarinya dengan mengambil hal-hal yang sesuai dengan

ajaran Islam. Selanjutnya mereka mengembangkan menjadi karya-karya yang asli

milik umat Islam.

Transmisi keilmuan non-Islam yang dilakukan oleh umat Islam pada

zaman klasik sebagian besar berupa pemikiran warisan Yunani. Walaupun ada

juga pemikiran dari India, tatapi kebudayaan Yunanilah yang mempunyai

pengaruh besar terhadap perkembangan peradaban Islam. Dalam uraian berikut

ini, penulis hanya menjelaskan transmisi pemikiran Yunani karena pengaruhnya

yang besar bagi peradaban Islam penerjemahan pemikiran Yunani dilakukan jauh

lebih besar dari pada pemikiran-pemikiran lainnya.

Adapun pemikiran warisan Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa

Arab bukan hanya literatur dimasa Yunani kuno, tetapi juga

(11)

Alexander Agung sampai berkuasanya Romawi atas wilayah-wilayah Hellenistik.

Pemikiran Yunani yang ditransfer ke dalam Islam di samping warisan Hellenis,

juga warisan intelektual Hellenistik, yang keduanya di sini disebut dengan

Hellenisme.

Proses transmisi literatur Hellenistik tidak bisa terlepas dari peranan besar

para sarjana yang ahli di bidang pemikiran Hellenistik. Sekitar abad 5 dan

ke-6, migrasi sarjana-sarjana Athena, Alexandria, dan Bizantium ke wilayah-wilayah

perlindungan Islam membawa warisan ilmu dari masa Hellenistik ke wilayah

Utara Mesopotamia dan ke Jundispur, dekat Persia.9

Selain itu, banyak juga karya-karya warisan Yunani yang diterjemahkan

ke dalam bahasa Arab. Karena penerjemahan tersebut dilakukan secara

besar-besaran, tidak heran jika Bernad Lewis menyatakan bahwa Islam adalah pewaris

pusaka Hellenisme ketiga setelah Greek dan Latin Christendom. Karya-karya

yang diterjemahkan bukan hanya pemikiran Yunani yang ditulis oleh orang-orang

Nestorian, Pagan, dan pengikut Neo Platonisme yang tinggal di Siria,

Mesopotamia, dan Persia, tetapi juga buku-buku berbahasa Yunani yang di bawah

dari daerah-daerah Bizantium yang telah ditaklukkan oleh Islam.

Kontak intelektual dengan Hellenisme membawa pengaruh yang sangat

dalam bagi peradaban Islam, khususnya di bidang pemikiran Islam. Penerjemahan

terhadap karya-karya Hellenisme tidak hanya meninggalkan karya-karya

terjemahan belaka atau karya saduran belaka. Pada awal penerjemahan banyak

bermunculan karya-karya Muslim yang biasanya berjudul ikhtisiar atau

interpertasi buku-buku yang berasal dari Yunani. Selanjutnya, lahirlah generasi

penulis-penulis Muslim orisinal. Mereka tidak lagi menerjemahkan, membuat

ikhtisiar, komentar atau sekedar mengutip, tetapi juga telah mengembangkannya

dengan melakukan perenungan, pengamatan ilmiah, dan memadukan dengan

ajaran-ajaran Islam.

Adapun tokoh-tokoh Islam yang tampil dalam bidang pendidikan warisan

Yunani adalah : a) Al Kindi, b) Al Farabi, c) Ibn Sina. Mereka semu merupakan

(12)

tokoh-tokoh Islam yang menyumbangkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran brilian

(13)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang dilakukan pada Bab II, maka makalah ini

akan disimpulkan sebagai berikut :

1. Pendidikan zaman Yunani Kuno merupakan cikal bakal ilmu pengetahuan

modern. Pada zaman Yunani Kuno pendidikan yang berkembangnya

filsafat. Sedangkan pendidikan pada zaman Islam merupakan awal

mulanya peradaban Islam dimulai karena pada zaman Islam ini ditekankan

pada tauhid dan budi pekerti serta syariat.

2. Perkembangan pendidikan pada zaman Yunani Kuno adalah dimulainya

filsafat dengan tokoh-tokoh terkemuka seperti Socrates, Plato, Aristoteles,

dan lain.

3. Kontak antara dunia Islam dan Yunani Kuno dalam pendidikan

diadopsinya warisan-warisan keilmuan Yunani dan adanya penerjamahan

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Agung Leo. 2012. Sejarah Pendidikan. Jakarta. Ombak

Asrorah Harun. Sejarah pendidikan Islam. Jakarta. PT Logos Wacana Ilmu

Afid Burhanuddin. 2013. ”Perkembangan Ilmu Masa Yunani Kuno”.

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/24/perkembangan-ilmu-masa-yunani-kuno/ (diakses tanggal 02 Oktober 2017)

Asril. 2015. ”Sistem Pendidikan Yunani Kuno.

http://wartasejarah.blogspot.co.id/2015/06/sistem-pendidikan-yunani-kuno.html (diakses tanggal 10 Desember 2017)

Annilta. 2015. ”Pendidikan Islam pada masa Rasulullah SAW.

https://annilta.wordpress.com/2015/06/03/42/. (diakses tanggal tanggal 10 Desember 2017)

Guswita Putri. 2015. ”Sejarah Pendidikan Yunani Kuno”.

http://wartasejarah.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-pendidikan-yunani-kuno.html (diakses tanggal 02 Oktober 2017)

Haryono. 2010. ”Sejarah Pendidikan Islam”.

https://haryono10182.wordpress.com/tag/perkembangan-pendidikan-islam/ (diakses tanggal 10 Desember 2017)

Muh. Idris. 2015. ”Hegemoni Filsafat Yunani dalam Pemikiran Pendidikan

Islam”.

(15)

Referensi

Dokumen terkait