• Tidak ada hasil yang ditemukan

[JURNAL FIX] Aspek Biologi Ikan Kembung kelompok 12

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "[JURNAL FIX] Aspek Biologi Ikan Kembung kelompok 12"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS ASPEK BIOLOGI (PERTUMBUHAN, REPRODUKSI DAN KEBIASAAN MAKAN) IKAN KEMBUNG PEREMPUAN (Rastrelliger brachysoma)

Egi Maudy Rusmana1, Yaris Hikmawansyah1, Mohammad Syarifudin*1

1Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran *e-mail: [email protected]

Abstrak

Praktikum aspek biologi bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai aspek pertumbuhan, reproduksi serta kebiasaan makan ikan kembung perempuan. Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah Observasi untuk mendapatkan data yang selanjutnya diolah dan dianalisis dengan deskriptif kuantitatif. Hubungan panjang dan berat ikan kembung perempuan dianalisis dengan fungsi regresi dan korelasi sedangkan untuk rasio kelamin dihitung dengan uji chi kuadrat (chi square). Distribusi panjang dan bobot ikan kembung perempuan terdiri dari tujuh kelas dengan panjang kelas 14. Setelah dianalisis hubungan panjang dan berat didapatkan pola pertumbuhan ikan kembung perempuan adalah alometrik negatif (b < 3). Hubungan panjang dan bobot ikan kembung perempuan memiliki nilai regresi (R2) sebesar 0,3. Berdasarkan hasil uji chi kuadrat terhadap rasio

kelamin ikan kembung perempuan diketahui jantan : betina 2 : 1 yang berarti bahwa hasil yang didapat tidak seimbang . Berdasarkan tingkat kematangan gonad ikan kembung perempuan didominasi oleh TKG III dengan IKG sebesar 1,35%. Hasil yang diperoleh untuk tingkat trofik ikan kembung perempuan yaitu sebesar 2,6 yang artinya ikan kembung perempuan bersifat ikan omnivora. Namun memperhitungkan indeks propenderan pada ikan kembung perempuan adalah pemakan detritus (IP : 40,42%),copepoda (IP: 19,53%) ,dan bagian tumbuhan (IP:15,45%).sehingga dapat dikatakan ikan kembung perempuan termasuk ikan detrivor pula.

Kata kunci: allometrik negatif, chi kuadrat, ikan kembung perempuan, omnivora,

Abstract

Practical aspects of biology aims to obtain information on aspects of growth, reproduction and eating habits bloated fish fish. The method used in this lab is Observation to get the data which further processed and analyzed with quantitative descriptive. The relationship of length and weight of bloated fish was analyzed with regression and correlation function, while for the sex ratio was calculated by chi square test (chi square). The distribution of the length and weight of the bloated fish consists of seven classes with the length of class 14. After analyzing the relationship of length and weight, the growth pattern of bloated fish is negative allometric (b < 3). Long relationship and weight of bloated fish have regression value (R2) equal to 0,3 (Based on the results of chi square test on the ratio of male genital bloated known male: female 2: 1), then the gender ratio difference does not achieve balance (Ho hypothesis rejected). Based on the maturity level of bloated fish gonad dominated by TKG IV with IKG of 1.35%. The results obtained for trophic level of bloated fish is 2,6 which means bloated fish is omnivorous fish. But taking into account the propenderan index in bloated fish is a detritus (IP 40,42%) and Copepods (IP 19,53%),and some of parts of plants (IP 15,45 %) so it can be said bloated fish including detrivor fish also.

(2)

Pendahuluan

Pelabuhanratu merupakan daerah pesisir di Selatan Kabupaten Sukabumi dan sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,Indonesia. Pelabuhanratu terkenal dengan penghasil utama perikanan laut di Kabupaten Sukabumi.Wilayah Kabupaten Sukabumi di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bogor, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Cianjur, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Hindia.

Pertumbuhan karang di wilayah perairan Pelabuhanratu lebih didominasi oleh coral massive dan Acropora digtata.Sedangkan di sekitar perairan Teluk Pelabuhan ratu, umunya dari jenis Acropora branching dan coral branching memiliki pertumbuhan yang lebih dominan dibandingkan dengan jenis karang lainnya. Di perairan Pelabuhanratu ditemukan penyu dan ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) yang termasuk ikan yang dilindungi.Selain itu juga ditemukan jenis-jenis ikan lain seperti ikan ekor kuning (Caesio sp), kepe-kepe (Chaetodon sp), ikan biji nangka (Upeneus sp), dan lain-lain. Di samping ikan,juga ditemukan ekosistem padang lamun.

Selain ekosistem yang disebutkan diatas,spesies ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) juga termasuk salah satu ikan yang berada di perairan Pelabuhanratu.Ikan kembung perempuan menjadi bahasan untuk laporan praktikum kali ini.Laporan ini dibuat untuk lebih mengetahui aspek reproduksi,aspek pertumbuhan,dan aspek food and feeding habits dari ikan kembung perempuan.

Bahan dan Metode 1.Waktu dan Tempat

Praktikum mengenai aspek biologi ikan kembung perempuan dilaksanakan pada hari Senin, 27 Maret 2017 pukul 07.45 – 09.45 WIB. bertempat di Laboratorium Akuakultur, Gedung 2, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran. 2.Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya milimeter blok, timbangan, cawan petri, gelas ukur, sonde, gunting bedah, pisau bedah, pinset, benang, serta mikroskop, Adapun bahan yang digunaka dalam praktikum ini diantaranya ikan kembung perempuan, larutan sera, asetokarmin.

3.Metode

Metode praktikum yang digunakan adalah metode observasi. Metode observasi adalah pengumpulan data dengan pengamatan langsung. Metode ini ditujukan untuk mempelajari aspek biologi berupa kondisi.

4.Parameter Pengamatan 4.1 Hubungan Panjang Bobot

Menurut Saputra (2009), analisa hubungan panjang berat menggunakan metode yang sebagai berikut.

W=a . Lb

Keterangan :

W : Berat (gram)

(3)

a : Nilai intersep

b : Nilai slope atau sudut tangensial 4.2 Faktor Kondisi

Perhitungan faktor kondisi atau indeks ponderal menggunkan sistem metrik (K). mencari nilai K digunakan rumus sebagai berikut.

K= W a . Lb

Keterangan :

K : Faktor kondisi W : Bobot ikan (gram) L : Panjang total (mm) a : Intercept

b : Slope 4.3 Rasio Kelamin

Rasio kelamin jantan dan betina dapat diperoleh dengan menggunakan uji Chisquare () menurut Herawati (2017), dengan hipotesis yaitu:

H0 : Tidak ada perbedaan nyata antara nisbah kelamin jantan dan betina H1 : Terdapat perbedaan nyata antara nisbah kelamin jantan dan betina Kaidah pengambilan keputusan:

Jika: hitung < tabel, maka H0 diterima hitung > tabel, maka H0 ditolak 4.4 Tingkat Kematangan Gonad

Pengamatan tingkat kematangan gonad ikan dapat dilakukan dengan cara mengetahui ciri-ciri morfologis pada gonad ikan yaitu berdasarkan variabel bentuk, ukuran, warna, dan pengisian dalam rongga perut dengan melihat kunci identifikasi kematangan gonad menurut Effendie (1979) dalam Herawati (2017).

4.5 Indeks Kematang Gonad

Indeks kematangan gonad didapatkan melalui perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan dikalikan dengan 100% menurut metode dari Effendie (2002) dalam Herawati(2017) sebagai berikut:

IKG=Bg Bt ×100 Keterangan:

IKG : Indeks Kematangan Gonad (%) Bg : Bobot gonad (gram)

Bt : Bobot tubuh ikan (gram) 4.6 Hepatosomatik Indeks

Hepatosomatik indeks merupakan indeks yang menunjukkan perbandingan berat tubuh dan berat hati dan dinyatakan dalam persen. Hepatosomatik indeks (HSI) ikan dapat dihitung berdasarkan Effendie (1997) dalam Herawati(2017) sebagai berikut.

HSI=Bh Bt ×100 Keterangan :

(4)

Bh : Bobot hati (gram) Bt : Bobot tubuh ikan (gram) 4.7 Fekunditas

Fekunditas ikan dihitung berdasarkan metode volumetrik (Effendie 1997 dalam Herawati 2017) dengan rumus :

X x =

V v Keterangan :

X : Jumlah telur di dalam gonad yang akan dicari (fekunditas) x : Jumlah telur dari sebagian gonad

V : Volume seluruh gonad

v : Volume sebagian gonad contoh 4.8 Diameter Telur

Diameter telur dianalisis dalam bentuk histogram. Diameter telur dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

�� = √� × �

Keterangan:

Ds : Diameter telur sebenarnya (mm) D : Panjang diameter telur (mm) d : Lebar diameter telur (mm) 4.9 Indeks Preponderan

Kebiasaan makanan dianalisis dengan menggunakan indeks preponderan (Effendie 1979 dalam Herawati 2017). Indeks preponderan adalah gabungan metode frekuensi kejadian dan volumetrik dengan rumu sebagai berikut.

IPi= Vi x Oi

IPi : Indeks preponderan

Vi : Persentase volume satu macam makanan

Oi : Persentase frekuensi kejadian satu macam makanan V

(¿i x Oi)

¿

: Jumlah Vi x Oi dari semua jenis makanan

4.10 Indeks Pilihan (Index of Electivity)

Preferensi tiap organisme atau jenis plankton yang tedapat dalam alat pencernaan ikan ditentukan berdasarkan indeks pilihan (indeks of electivity) dalam Effendie (1979 dalam Herawati 2017) sebagai berikut :

E=ri+pi ripi Keterangan :

E : Indeks pilihan

(5)

4.11 Tingkat Trofik

Tingkat trofik ikan ditentukan berdasarkan pada hubungan antara tingkat trofik organisme pakan dan kebiasaan makanan ikan, dirumuskan sebgai berikut.

Ttp x li 100

(¿) Tp=1+

¿

Keterangan:

Tp : Tingkat trofik ikan

Ttp : Tingkat trofik kelompok pakan ke-p

Ii : Indeks bagian terbesar untuk kelompok pakan ke-p 5. Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis secara deskripsi kuantitatif, yaitu dengan cara memaparkan seluruh hasil yang didapatkan selama praktikum, dengan menentukan regresi untuk melihat hubungan panjang dengan bobot ikan, ikan untuk menganalisis jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad yang mengacu pada kriteria TKG, rasio kelamin menggunakan uji chi kuadrat, kebiasaan dan cara makan ikan dengan menggunakan indeks propenderan, indeks pilihan, dan tingkat trofik serta dapat menganalisis luas relung makanan antar jenis ikan untuk melihat adaptasi serta persaingan antar spesies ikan terhadap sumberdaya makanan.

Hasil dan Pembahasan 1.Morfometrik

Morfometrik Ikan Uji

(6)

Pertumbuhan

Pengelompokan Kelas Ukuran

Penggelompokan ikan dilakukan untuk membagi suatu kelompok ikan ke dalam kelas ukuran yang memiliki rentang ukuran yang relatif sama yang disajikan pada grafik distribusi panjang ikan kembung perempuan berikut ini:

0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35%

3%

10%

19% 33%

24%

9%

3%

Distribusi Panjang Ikan Kembung

Interval Panjang Total (mm)

Pe

rs

en

ta

se

Gambar 1. Grafik Distribusi Panjang Ikan Kembung Perempuan

(7)

0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35%

7%

24%

33%

26%

7%

1% 1%

Distribusi Bobot Ikan Kembung

Interval Bobot (gram)

Pe

rs

en

ta

se

Gambar 2. Grafik Distribusi Bobot Ikan Kembung Perempuan

Sampel dikelompokan berdasarkan distribusi panjang total tubuh dari ikan kembung. Distribusi panjang ikan kembung dibagi kedalam 7 kelas dengan range 43 setiap intervalnya.Distribusi panjang ikan kembung memiliki nilai penyebaran yang sangat varian pada setiap intervalnya. Pada interval 186-190 mm memiliki penyebaran yang paling banyak mencapai 33% dari total sampel atau sekitar 23 ikan dengan ukuran panjang rata-rata 188 mm. Untuk distribusi panjang ikan yang paling sedikit berada pada interval 171-175 yakni sebesar 3% dan pada interval 201-205 dengan presentase sebesar 3% juga dari total populasi. Bobot ikan kembung juga dapat dikelompokan menjadi 7 kelas. Distribusi bobot paling banyak terdapat pada kelas keriga dengan interval 82,28-87,28 gram sebesar 33% dari jumlah total ikan kembung yang diuji. Distribusi paling kecil berada pada kelas keenam dan ketujuh dengan interval masing-masingnya 100,28-105,28 dan 106,28-111,28 gram sebesar 1% karena pada sampel ikan kembung yang diuji

Pola Pertumbuhan

(8)

2.22 2.24 2.26 2.28 2.30 2.32

Hubungan Panjang dan Berat Ikan Kembung

log L (X) log W (Y) Linear (log L (X) log W (Y))

Panjang Bobot

Gambar 3. Grafik Hubungan Panjang dan Berat Ikan

Kembung Perempuan

Berdasarkan grafik di atas ikan kembung perempuan yang diukur panjang dan bobot tubuhnya, memiliki ukuran yang berbeda-beda antara ikan yang satu dengan ikan yang lainnya. Nilai R2 yang didapat adalah sebesar 0,3 mengindikasikan bahwa nilai korelasi yang jauh dari ikan kembung atau tidak mendekati nilai 1 maka hubungan pertambahan panjang dan peertambahan bobot tidak memiliki relasi yang dekat. Nilai b yang muncul pada pengukuran panjang dan berat ikan lalawak adalah 1,3059, artinya nilai yang didapat adalah b<3 yaitu alometrik negatif yaitu petumbuhan berat lebih kecil dari pada panjang ikan.

Faktor Kondisi

Faktor kondisi pada ikan kembung perempuan dapat diketahui dengan menggunakan graphich hubungan panjang dan bobot. Hubungan panjang dan bobot juga dapat menentukan faktor kondisi yang merupakan salah satu hal penting dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan relatif populasi ikan tertentu (Everhart dan Youngs 1981).

171-175 176-180 181-185 186-190 191-195 196-200 201-205 0.10

(9)

Berdasarkan data grafik diatas dapat kita simpulkan bahwa dari grafik faktor kondisi terlihat bahwa kondisi ikan semakin membaik seiring dengan pertambahan ukuran panjang tubuhnya. Faktor kondisi dihitung untuk menilai kesehatan ikan secara umum, produktivitas dan kondisi fisiologi dari populasi ikan (Richter 2007; Blackwell et al. 2000). Berdasarkan hal tersebut seharusnya ada fase dimana faktor kondisi ikan kembung menurun (pasca pijah) dan ada fase dimana ikan berada pada kondisi optimal (Pematangan untuk memijah). Dapat diasumsikan bahwa faktor kondisi pada grafik diatas cenderung lebih menjelaskan kondisi ikan secara fisik tidak secara produktivitas Jadi jika dilihat dari grafik maka ikan kembung tidak mengalami penurunan faktor kondisi dimana grafik terus mengalami peningkatan secara bertahap. Menurut Effendi (1997) apabila menghitung kondisi berdasarkan hubungan panjang berat maka faktor kondisinya dinamakan faktor kondisi relatif. enurut King (1995) dalam Herawati (2017) faktor kondisi yang tinggi menunjukkan ikan dalam perkebangan gonad, sedangkan faktor kondisi rendah menunjukkan ikan kurang mendapat asupan makanan. Faktor kondisi juga akan berbeda tergantung jenis kelamin

2.Reproduksi Rasio Kelamin

Grafik di bawah ini menunjukan rasio kelamin ikan kembung perempuan sebagai berikut:

Jantan ( ); 54%♂

Betna ( ); 46%♀

Rasio Kelamin Ikan Kembung

Jantan ( )♂ Betna ( )♀

Gambar 6. Rasio Kelamin Ikan Kembung Perempuan

(10)

lebih banyak dari jumalah jantan. Chi kuadrat yang didapatkan dari hasil perhitungan rasio kelamin menunjukan nilai sebesar 3,84, nilai ini menunjukan bahwa X2 hitung sebesar 0,51 dan X2 tabel sebesar 3,84 dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa X2 hitung < X2 tabel sehingga Ho dapat diterima yang artinya tidak terdapat perbedaan rasio antara jantan dan betina sehingga mencapai suatu keseimbangan.

Tingkat Kematangan Gonad

Kematangan gonad ikan pada umumnya adalah tahapan pada saat perkembangan gonad sebelum memijah. Berikut adalah tingkat kematangan gonad ikan kembung perempuan betina:

171-175 176-180 181-185 186-190 191-195 196-200 201-205 0

0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4

1 2

1

4

1

3

4 4

1 4

3

2

3

1

2

1 1

Tingkat Kematangan Gonad Ikan Kembung Jantan

TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V

(11)

171-175 176-180 181-185 186-190 191-195 196-200 201-205 0

1 2 3 4 5 6 7 8

1

2

3

4

5

6

7

11 1

2

4

1

3 3

8

4

3

1

Tingkat Kematangan Gonad Ikan Kembung Betina

TKG II TKG III TKG V

Grafik di bawah ini menunjukan tingkat kematangan gonad pada ikan kembung perempuan perempuan:

Gambar 8. Grafik Distribusi TKG Ikan Kembung Perempuan Betina

(12)

Indeks Kematangan Gonad

Perbandingan antara bobot gonad dengan bobot tubuh dinamakan koefisien kematangan yang dinyatakan dalam persen. Berikut adalah grafik hubungan TKG terhadap IKG ikan kembung perempuan jantan:

TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V 0.00%

0.50% 1.00% 1.50% 2.00% 2.50% 3.00% 3.50% 4.00%

1.00%

3.38%

2.70%

3.81%

1.55%

Hubungan TKG terhadap IKGIkan Kembung Jantan

Gambar 9. IKG Terhadap TKG Pada Ikan Kembung Jantan

Grafik hubungan TKG terhadap IKG ikan kembung perempuan betina di sajikan kedalam grafik di bawah ini:

1 2 3 4 5

0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00%

0.00%

4.33%

5.39%

3.74%

0.00%

Hubungan TKG terhadap IKGIkan Kembung Betina

(13)

perbedaan pengkategorian pada IKG dan TKG. IKG di kategorikan secara kuantitatif sedangkan TKG secara kualitatif.

Hepatosomatik Indeks

Hepatosomatik indeks pada saat perkembangan kematangan gonad menggambarkan cadangan energi yang ada pada tubuh ikan sewaktu ikan mengalami perkembangan kematangan gonad. Berikut ini grafik yang menunjukan hubungan TKG terhadap IKG dan HSI ikan kembung:

TKG terhadap IKG terhadap HSI

TKG HSI

Tingkat Kematangan Gonad

HS

I

Gambar 11. HSI Terhadap TKG Pada Ikan Kembung

Berdasarakan grafik diatas dapat kita lihat hubungan HSI terhadap TKG pada ikan kembung menunjukan angka paling tinggi yaitu 1,35% pada TKG III kemudian diikuti dengan TKG V sebesar 1,28%, selanjutnya pada TKG IV sebesar 0,94%, sedangkan pada TKG I dan TKG II yaitu 0%. Penurunan HSI dikarenakan persentase nilai HSI pada ikan kembung perempuan baik jantan maupun betina mengalami fluktuatif pada setiap waktu penelitian.

Tingkat Kematangan Telur

Proses kematangan telur ditentukan berdasarkan kreteria pergeseran posisi inti telur menuju kutub animal dan peluruhan atau penghancuran membran telur. Pengamatan inti telur dilakukan dengan meneteskan larutan sera pada telur – telur tersebut. Komposisi larutan sera terdiri atas larutan alkohol 99 %, larutan formaldehid 40 % dan larutan asam asetat 100 % dengan perbandingan 6 : 3 : 1 (Nurmadi 2005). Berdasarkan data yang telah diolah dapat dilihat bahwa telur paling banyak adalah yang melebur, kutub, dan tengah dengan masing-masingnya yaitu 12059, 3149 dan 1261. Dapat kita simpulkan bahwa telur-telur ikan ini banyak yang telah siap untuk memijah dikarenakan telur-telur ini telah melebur pada umumnya.

Diameter Telur

(14)

Diameter telur akan mempengaruhi ukuran besar kecilnya larva ikan yang akan dihasilnkan. Semakin besar diameter telur maka larva ikannya juga semakain besar, sebaliknya jika diameter telur kecil maka larva yang akan dihasilkan juga kecil. Perkembangan diameter telur semakin meningkat dengan meningkatnya tingkat kematangan gonad (Effendie 2002).

Fekunditas

Ikan uji sebanyak 70 ekor menunjukkan hasil pengamatan bahwa fekunditas ikan kembung paling banyak adalah 158.404 butir. Hal ini sama seperti yang dikatakan oleh Boonprakop (1965) yang menyatakan jumlah telur ikan kembung pada umumnya berkisar antara 100.000 hingga 166.000 butir. Nilai fekunditas yang tinggi dapat menunjukan tingkat penetasan yang tinggi atau tingkat kegagalan dalam penetasan karena potensi telur yang berdempet tinggi hal ini akan menyebabkan telur kekurangan oksigen. Nikolsky (1969) dalam Effendi (1997), menyebutkan bahwa fekunditas akan bertambah dan menurun, dimana fekunditas maksimum terjadi pada golongan ikan muda, respon terhadap persediaan makanan dan kematangan gonad yang lebih awal dari individu yang tumbuh lebih cepat.

3.Kebiasaan Makan dan Cara Makan Ikan Indeks Preponderan

Analisis data untuk mengetahui kebiasaan makanan menggunakan indeks bagian terbesar (indeks of preponderance) menurut Natarajan dan Jhingran (1961) dalam Effendie (1979).

0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00% 35.00% 40.00% 45.00%

0.00%4.98%3.62%7.18%0.00%0.05%0.47%0.38% 19.53%

0.00%0.28%1.60%0.05%6.01% 15.45%

40.42%

0.00%

Indeks Preponderan (IP) Ikan Kembung

Gambar 12. Indeks Preponderan Ikan Kembung Perempuan

(15)

pakan pelengkap dan apabila IP kurang dari 5% termasuk ke dalam kelompok pakan tambahan. Selain itu yang termasuk makanan pelengkap adalah desmidiacae dan bagian hewan masing-masing 7,18% dan 6,01%. Sisanya adalah pakan tambahan yang memiliki persentase di bawah 5%.

Tingkat Trofik

Tingkat trofik adalah urutan-urutan tingkat pemnafaatan makanan atau material dan energi yang tergambarkan oleh rantai makanan untuk mengetahui hubungan antara tingkat trofik organisme pakan dengan kebiasaan makan ikan sehingga dapat diketahui kedudukan ikan tersebut dalam ekosistem (Caddy 1986).

TINGKAT TROFIK 0.00

0.50 1.00 1.50 2.00 2.50

3.00 2.6878

Tingkat Trofik Ikan Kembung

Gambar 13. Tingkat Trofik Ikan Kembung Perempuan

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat trofik yang di hasilkan adalah 2,66878 yang termasuk ke dalam kategori tingkat trofik 2,5 yang berarti bahwa ikan kembung termasuk ke dalam golongan yang bersifat omnivora. Hal ini sesuai dengan Caddy dan Sharp (1986) yang menyatakan tingkat trofik dikategorikan, apabila tingkat trofik antara 2 untuk ikan yang bersifat herbivora, tingkat 2,5 untuk ikan yang bersifat omnivora dan tingkat trofik 3 atau lebih untuk ikan yang bersifat karnivora.

Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum mengenai aspek biologi ikan kembung meliputi aspek pertumbuhan, reproduksi, dan kebiasaan makan sebagai berikut.

1. Tipe pertumbuhan ikan kembung adalah isometrik allometrik negatif karena b < 3. Allometrik negatif adalah pertumbuhan bobot lebih kecil dibandingkan pertumbuhan panjang. Nilai regresi (R2) ) sebesar 0,3.

(16)

X2 hitung sebesar 0,51 dan X2 tabel sebesar 3,84 dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa X2 hitung < X2 tabel sehingga Ho dapat diterima yang artinya tidak terdapat perbedaan rasio antara jantan dan betina sehingga mencapai suatu keseimbangan.

3. Tingkat trofik ikan kembung perempuan didapatkan sebesar 2,5 artinya adalah ikan kembung perempuan termasuk ikan omnivora . Hal ini dapat terlihat dari jenis makanan yang ada dalam saluran pencernaan ikan berupa detritus yaitu sebesar 40,42%. Selanjutnya persentasi terbesar kedua adalah copepoda dengan persentase 19,53% dan selanjutnya bagian tumbuhan dengan persentase 15,45%. Hal ini berarti bahwa detritus merupakan makanan utama ikan kembung, sedangkan copepoda dan bagian tumbuhan merupakan makanan tambahan.

Saran

Praktikum kali ini, praktikan sebaiknya lebih disiplin dan teratur pada jalannya acara praktikum. Praktikan seharusnya menjaga kondisi saat praktikum sehingga tidak menimbulkan kekeliruan yang menyebabkan kesalahan dalam praktikum.

Daftar Pustaka

Astuti DP. 2007. Analisis tangkapan per satuan upaya (tpsu) ikan kembung di Kepulauan Seribu [skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor

Boonprakop U. 1965. Study on the fecundity of the indo-pasifik mackerel, Rastrelliger SPP. In the gulf of Thailand. Proc. Indo-Pasific Fish. Coun. 12 (2) : 124-138.

Direktorat Jendral Perikanan. 1979. Buku pedoman pengenalan sumber perikanan laut bagian 1 (Jenis-jenis ikan ekonomis penting). Direktorat Jendral Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta.

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Jakarta : Yayasan Pustaka Nusatama

Effendie. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Jogjakarta

Lachita RB. 2006. Using life-history, surplus production, and individual-based population models for stock assessment of data-poor stocks: an application to small pelagic fisheries of the Lingayen Gulf, Philippines. [tesis]. Departement of Oceanography and Coaltal Sciences. Don Mariano Marcos Memorial State University. 13p.

Ruswahyuni, 1979. Makanan alami ikan kembung perempuan berdasarkan kelas ukuran panjang total dan tingkat kematangan gonad di sekitar perairan Jepara. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 16-17 p.

Saanin H. 1984. Taksonomi dan kunci identifikasi ikan 1 dan 2. Bina Cipta. Bandung. Viii + 508 h.

Gambar

Gambar 1. Grafik Distribusi Panjang Ikan Kembung Perempuan
Gambar 2. Grafik Distribusi Bobot Ikan Kembung Perempuan
Grafik Hubungan Panjang dan Berat IkanKembung Perempuan
Gambar 6. Rasio Kelamin Ikan Kembung Perempuan
+6

Referensi

Dokumen terkait