Latar Belakang
Streptococcus suis merupakan bakteri patogen paling dominan yang dapat menginfeksi babi dan manusia. Pedagang daging babi memiliki risiko tinggi terinfeksi bakteri streptococcus suis karena setiap hari terpapar daging babi mentah tanpa menggunakan APD seperti sarung tangan.
Streptococcus suis tidak hanya ditemukan pada babi namun juga ditemukan pada beberapa mamalia lainnya termasuk manusia, anjing, kucing, kuda, serta unggas sebagai bakteri komensal (Salasia et al, 2015).
Infeksi streptococcus suis terutama serotipe-2 bersifat zoonosis, dapat menular pada manusia dengan gejala khas meningitis (Salasia et al, 2015).
PERILAKU BERISIKO PEDAGANG DAGING BABI TERINFEKSI
STREPTOCOCCUS SUIS DI KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG BALI TAHUN 2018
Metode Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional, karena penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan tentang tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal mengenai risiko terinfeksi streptococcus suis, dimana pengambilan data dilakukan pada satu waktu yaitu saat pengisian kuesioner tanpa melakukan follow up. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Maret sampai Mei 2018. Teknik sampling pada penelitian ini adalah snowballing sampling
dengan sampel sebesar 95 responden.
Tempat penelitian ini dilakukan pada semua pedagang daging babi pada pasar yang ada di Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung Bali. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 95 pedagang.
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer berupa karakteristik pedagang daging babi, tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku pedagang melalui tanya jawab menggunakan kuesioner dan observasi, sedangkan data sekunder mengenai penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri streptococcus suis diperoleh dari jurnal-jurnal kesehatan terkait, sedangkan data di wilayah Kabupaten Badung diperoleh dari laporan KLB meningitis streptococcus suis Dinas Kesehatan Kabupaten Badung tahun 2017.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terimakasih kepada pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal Kab. Badung Bali. Dinas Kesehatan serta Litbang Fak. Kedokteran Unud yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.
HASIL
Tabel 1. Tabulasi Silang Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Pedagang Daging Babi di Kecamatan Abiansemal tentang Risiko Terinfeksi Streptococcus Suis (n=95)
Tabel 2. Tabulasi Silang Sikap dengan Perilaku Pedagang Daging Babi di Kecamatan Abiansemal tentang Risiko Terinfeksi Streptococcus Suis (n=95)
Hasil penelitian menunjukkan pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebesar 72.63%, sikap negatif sebesar 76.84%, dan perilaku risiko rendah sebesar 75.79%.
Pedagang daging babi yang bersikap positif memiliki perilaku risiko rendah terinfeksi streptococcus suis, sebesar 86.36% dan yang bersikap positif memiliki perilaku risiko rendah terinfeksi streptococcus suis, sebesar 86.36%.
Photo 1 Gambaran perilaku para pedagang daging babi di pasar yang ada di Kecamatan Abiansemal Badung Bali
I Made Subrata, Ni Luh Gede Widhi Adnyani
Alamat:PS Kesehatan Masyarakat Fak. Kedokteran Universitas Udayana Email : [email protected]
Perilaku
Pengetahuan Resiko rendah Resiko tinggi Total
f % f % f %
Tinggi 61 88.41 8 11.59 69 100
Rendah 11 42.31 15 57.69 26 100
Perilaku
Sikap Resiko rendah Resiko tinggi Total
f % f % f %
Tinggi 19 86.36 3 13.64 22 100
Rendah 53 72.60 20 27.40 73 100
Simpulan dan saran
Para pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal
Badung memiliki tingkat pengetahuan tinggi dengan sikap
negatif, dan memiliki perilaku berisiko rendah. Dalam
penelitian ini dapat disarankan agar selalu memperhatikan
kebersihan diri, lingkungan tempat berdagang dan mengolah
daging, serta selalu menggunakan alat perlindungan diri.
PERILAKU BERISIKO PEDAGANG DAGING BABI TERINFEKSI STREPTOCOCCUS SUIS DI KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN
BADUNG BALI TAHUN 2018
I Made Subrata, Ni Luh Gede Widhi Adnyani
Alamat:PS Kesehatan Masyarakat Fak. Kedokteran Universitas Udayana Email : [email protected]
ABSTRAK
Streptococcus suis merupakan bakteri patogen paling dominan yang dapat menginfeksi babi dan manusia. Pedagang daging babi memiliki risiko tinggi terinfeksi bakteri streptococcus suis karena setiap hari terpapar daging babi mentah tanpa menggunakan APD seperti sarung tangan. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik meneliti bagaimana tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal Badung tentang risiko terinfeksi streptococcus suis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku pedagang daging babi tentang risiko terinfeksi streptococcus suis.
Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, dengan total sampel 95 pedagang daging babi, teknik sampling penelitian ini menggunakan snowballing sampling. Analisis data dilakukan sampai pada tahap tabulasi silang.
Hasil penelitian menunjukkan pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebesar 72.63%, sikap negatif sebesar 76.84%, dan perilaku risiko rendah sebesar 75.79%. Pedagang daging babi yang bersikap positif memiliki perilaku risiko rendah terinfeksi streptococcus suis, sebesar 86.36% dan yang bersikap positif memiliki perilaku risiko rendah terinfeksi streptococcus suis, sebesar 86.36%.
Berdasarkan uraian diatas diperoleh kesimpulan bahwa pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal Badung memiliki tingkat pengetahuan tinggi dengan sikap negatif, dan memiliki perilaku berisiko rendah. Dalam penelitian ini dapat disarankan agar selalu memperhatikan kebersihan diri, lingkungan tempat berdagang dan mengolah daging, serta selalu menggunakan alat perlindungan diri.
Kata kunci: Perilaku, Pedagang Daging Babi, dan Streptococcus Suis PENDAHULUAN
Streptococcus suis dapat menginfeksi babi dan manusia, dimana Streptococcus suis serotipe 2 merupakan patogen paling dominan yang dapat menginfeksi manusia.
Pada babi yang terinfeksi Streptococcus suis akan menunjukkan gejala meningitis, bronkopneumonia, artritis, perikarditis, poliserositis, dan septisemia.
Streptococcus suis tidak hanya ditemukan pada babi namun juga ditemukan pada beberapa mamalia lainnya termasuk manusia, anjing, kucing, kuda, serta unggas sebagai bakteri komensal (Salasia
et al, 2015). Infeksi streptococcus suis terutama serotipe-2 bersifat zoonosis, dapat menular pada manusia dengan gejala khas meningitis (Salasia et al, 2015).
Bahkan wabah S. suis pada manusia telah menyebar di beberapa wilayah di seluruh dunia. Kasus infeksi streptococcus suis ditemukan pada manusia di negara-negara Eropa seperti Denmark, Belanda, Inggris, Perancis, dan di negara-negara Asia seperti Cina, Hongkong, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, Wertheim et al, 2009 dalam (Nesa, 2017). Pada saat sistem imun menurun maka bakteri streptococcus sp.
akan masuk ke dalam tubuh baik melalui mulut, inhalasi, maupun penetrasi kulit.
Jika bakteri ini masuk ke dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya maka akan merusak organ-organ tubuh tersebut dan menyebabkan berbagai penyakit, Entjang, 2003 dalam ( Sukada et.
al, 2016). Mortality rate streptococcus suis sebesar 17 % pada populasi manusia dan terlaporkan sekitar 2/3 kematian terjadi pada 24 jam pertama. Infeksi pada manusia terlaporkan sebagai kasus yang sporadik terkecuali pada dua wabah terbesar di Cina yang masing-masing terlaporkan 25 kasus dan 14 kematian (terjadi di propinsi Jiangsu) serta 204 kasus dan 38 kematian (terjadi di propinsi Sichuan), Lun et al, 2007 dalam (Salasia et al, 2015). Pada tahun 2009, tercatat 700 kasus infeksi streptococcus suis pada manusia terjadi di sebagian besar Asia Tenggara (Thi et al., 2014). Semua korban yang sakit dan meninggal dunia adalah para peternak babi, pekerja di tempat pemotongan babi, juru masak yang mengolah daging babi yang terinfeksi, dan warga yang mengkonsumsi daging babi.
Gejala-gejala yang tampak antara lain demam tinggi, mual, dan muntah-muntah (Salasia et al, 2015). Infeksi streptococcus suis diduga sudah menyebar sampai ke Indonesia. Pada tahun 2008 streptococcus suis dapat diisolasi pada cairan persendian babi di Timika, Papua. Interaksi antara manusia dengan babi sangat erat di wilayah papua, babi masih dipelihara secara tradisional dan pengawasan lalu lintas ternak antar daerah masih sangat kurang. Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya penyebaran infeksi streptococcus suis dan penularan menjadi
lebih luas baik dari babi ke babi maupun babi ke manusia. Temuan ini merupakan indikasi yang cukup kuat terhadap keberadaan streptococcus suis di Indonesia (Salasia et al, 2015). Data Dinas Kesehatan Provinsi Bali tahun 2017, ditemukan 44 kasus positif meningitis streptococcus suis dan berdasarkan pemeriksaan CSF (Cerebrospinal Fluid) dan kultur darah beberapa sampel yang dilakukan di Laboratorium Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, pasien dinyatakan positif terinfeksi streptococcus suis serotipe dua (Nesa, 2017). Dinas Kesehatan Kabupaten Badung melaporkan terjadinya kejadian luar biasa meningitis streptococcus suis di Kecamatan Abiansemal per 24 Maret 2017, total kasus adalah 39 kasus dengan gejala demam, pusing sakit kepala, dan nyeri badan ( 1 orang dirawat di rumah sakit dan 38 orang melakukan rawat jalan di rumah). Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik meneliti bagaimana gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku pedagang daging babi di Kecamatan abiansemal tentang risiko terinfeksi streptococcus suis.
TUJUAN
Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal tentang risiko terinfeksi streptococcus suis.
METODE
Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross- sectional. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Maret sampai Mei 2018. Teknik sampling pada penelitian ini adalah snowballing sampling dengan sampel sebesar 95 responden.
HASIL
Tabel 1 Tabulasi Silang Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Pedagang Daging Babi di Kecamatan Abiansemal tentang Risiko Terinfeksi Streptococcus Suis (n=95)
Perilaku
Pengetahuan Resiko rendah Resiko tinggi Total
f % f % f %
Tinggi 61 88.41 8 11.59 69 100
Rendah 11 42.31 15 57.69 26 100
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden dengan pengetahuan tinggi berperilaku risiko rendah (88.41%), dan sebagian responden yang pengetahuannya tinggi berperilaku risiko tinggi (11.59%). Sedangkan lebih
dari setengah responden yang pengetahuannya rendah berperilaku risiko tinggi (57.69%) dan sebesar 42.31%
responden yang pengetahuannya rendah berperilaku risiko rendah.
Tabel 2 Tabulasi Silang Sikap dengan Perilaku Pedagang Daging Babi di Kecamatan Abiansemal tentang Risiko Terinfeksi Streptococcus Suis (n=95)
Perilaku
Sikap Resiko rendah Resiko tinggi Total
f % f % f %
Tinggi 19 86.36 3 13.64 22 100
Rendah 53 72.60 20 27.40 73 100
Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa responden dengan sikap positif yang memiliki perilaku risiko rendah terinfeksi streptococcus suis adalah 86.36% dan responden dengan sikap positif yang memiliki perilaku risiko tinggi terinfeksi streptococcus suis adalah 13.64%. Tabel 2 juga menunjukkan sebagian besar responden dengan sikap negatif berperilaku risiko rendah (72.60%), dan sebagiannya berperilaku risiko tinggi (27.40%).
PEMBAHASAN
Perilaku merupakan tindakan atau perilaku suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari (Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan merupakan salah satu faktor pemudah atau predisposisi terjadinya perilaku (L.
Green, 1980), maka dari itu tingkat pengetahuan yang tinggi dapat mendorong terjadinya perilaku yang baik pula. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa sebagian besar responden dengan tingkat pengetahuan tinggi berperilaku risiko rendah (88.41%). Pengetahuan dapat menjadikan seseorang memiliki kesadaran sehingga seseorang akan berperilaku sesuai pengetahuan yang dimiliki. Perubahan perilaku yang dilandasi pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif akan bersifat langgeng karena didasari oleh kesadaran mereka sendiri bukan paksaan. Sebaliknya apabila perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, cenderung tidak dapat bertahan lama atau bersifat sementara (Notoatmodjo, 2010). Dalam hal ini dapat dikatakan para pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal dengan tingkat pengetahuan tinggi, cenderung memiliki perilaku risiko rendah terinfeksi streptococcus suis.
Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian Nadia (2015), menyatakan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku hidup bersih dan sehat siswa di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Gonilan Kartasura Sukoharjo. Penelitian ini menjelaskan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Azwar (2013), menyatakan sikap adalah salah satu unsur kepribadian yang harus dimiliki seseorang untuk
menentukan tindakannya dan bertingkah laku terhadap suatu objek disertai dengan perasaan positif dan negatif. Para pakar psikologi menyatakan sikap adalah suatu sistem evaluasi positif atau negatif, yakni suatu kecenderungan untuk menyetujui atau menolak. Sikap positif akan terbentuk apabila rangsangan yang datang pada seseorang memberi pengalaman yang menyenangkan dan sikap negatif akan timbul, bila rangsangan yang datang memberi pengalaman yang tidak menyenangkan. Dapat disimpulkan, perbedaan sikap berhubungan dengan derajat kesukaan atau ketidaksukaan seseorang terhadap objek yang dihadapi.
Sikap menyangkut kesiapan individu untuk bereaksi terhadap objek tertentu berdasarkan konsep penilaian positif dan negatif. Perilaku merupakan seluruh kegiatan atau aktivitas manusia yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2010). Terdapat tiga domain perilaku yakni pengetahuan, sikap, dan praktik. Kwick (1974), sebagaimana dikutip oleh Notoatmodjo (2010), perilaku merupakan tindakan atau perilaku suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Jadi dapat dikatakan bahwa sikap merupakan salah satu domain dari perilaku. Dalam penelitian ini ditemukan pedagang daging babi yang bersikap positif memiliki perilaku risiko rendah terinfeksi streptococcus suis, yaitu sebesar 86.36%.
Hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa perilaku sebagai reaksi bersifat sederhana maupun kompleks dan merupakan ekspresi sikap seseorang (Saifudin Azwar, 2013).
Howard dan Kendler (1974), juga mengatakan bahwa antara sikap dan perilaku adalah konsisten. Artinya, semakin positif sikap para pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal tentang risiko terinfeksi streptococcus suis, maka para pedagang tersebut cenderung memiliki perilaku risiko rendah terinfeksi streptococcus suis.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Mirna (2013), yang menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara sikap remaja siswi dengan perilaku kesehatan reproduksi dengan nilai p-value 0,007.
Menurut Lawren Green dalam buku
(Notoadmodjo, 2010) menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, sikap belum merupakan suatau tindakan aktifitas akan tetapi sikap merupakan faktor predisposisi untuk bertindak. Sikap yang positif cenderung mendorong seseorang berperilaku positif juga.
SIMPULAN
Berdasarkan tujuan penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan tinggi, yaitu sebesar 72.63%. 2. Pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal bersikap negatif, yaitu sebesar 76.84%. 3. Pedagang daging babi di Kecamatan Abiansemal berperilaku risiko rendah, yaitu sebesar 75.79%. SARAN
Berdasarkan simpulan diatas, beberapa saran yang dapat dijadikan bahan
pertimbangan yaitu sebagai berikut : 1. Bagi Petugas Kesehatan Masyarakat Kabupaten Badung, meningkatkan pembinaan kepada para pedagang tentang aspek perlindungan diri dari infeksi selama berdagang maupun saat mengolah daging babi mentah, seperti pembiasaan penggunaan sarung tangan, topi, dan sepatu boots.
2. Bagi para pedagang daging babi, meningkatkan kewaspadaan dini terhadap risiko terinfeksi agent penyakit melalui tindakan pencegahan, seperti tetap memperhatikan kebersihan diri, lingkungan tempat bedagang dan mengolah daging, serta selalu menggunakan alat perlindungan diri.
DAFTAR PUSTAKA
Asrori, Ali. (2014). Psikologi Remaja.
Jakarta: Bumi Aksara.
Azwar, S. (2013). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset. Bakhtiar Amsal.
(2009). Filsafat Ilmu. Jakarta: Grafindo Persada.
Dinkes Badung. (2017). Laporan KLB Meningitis Streptococcus Suis Kabupaten Badung 2017. Tidak dipublikasi.
Direktorat Kesehatan Hewan. (2014).
Manual Penyakit Hewan Mamalia.
Direktorat Kesehatan Hewan. Jakarta.
Hanurawan. (2010). Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Bandung: Rosda.
Howard H., Kendler. 1974. Basic
Psychology. Philipines:
Benyamin/Cummings.
Juliana. (2012, July-last update).
"Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Sikap Perawat terhadap Pasien HIV/AIDS di Ruang Rawat Umum Rumah Sakit Dr.
H.Marzoeki Mahdi Bogor", (Skripsi
FKUI), Available:
lib.ui.ac.id/file?file=digital/20311993- S43437-Gambaran%20tingkat.pdf (Accessed: 2018, Januari 22).
Maya. (2010). Hubungan Antara Sikap Terhadap Kesehatan Dengan Perilaku Merokok Di SMA Negeri 1 Pleret Bantul.
Skripsi Fakultas Psikologi Universitas
Ahmad Dahlan.
Available:http://jogjapress.com/index.php /EMPATHY/article/viewFile/1543/881 (Accessed: 2018, Juni 5).
Mirna. (2013). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja Putri Di SMA 5 Banda Aceh. Skripsi Kebidana Stikes Banda Aceh.
Nadia. (2015). Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Gonilan Kartasura Sukoharjo. Skripsi FKUM.
Nesa. (2017). Faktor Risiko Meningitis Streptococcus Suis di Provinsi Bali Tahun 2017. Skripsi FK Unud.
Notoatmodjo. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Pristihana. (2013). Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Tentang Pap Smear Di Desa Kauman Kecamatan Tangen Kabupaten Sragen. Skripsi FKUM.
Rahman Abdul. (2014). Psikologi sosial.
Jakarta: Grafindo Persada.
Sabri Luknis. (2011). Statistik Kesehatan.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Salasia et.al. (2015). Diagnosis Infeksi Streptococcus suis serotipe- 2 pada Babi Secara Serologi dengan Muramidase Released . Veterenier, 16 (4 ): 489-496.
Sarwono. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Grafindo Persada.
Sastroasmoro, Ismael. (2014). Dasar- Dasar Metodelogi Penelitian Klinis.
Jakarta: Sagung Seto.
Sugiyono. (2012). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Suharyat. (2009). Hubungan antara Sikap, Minat dan Perilaku Manusia. Artikel UNISMA Bekasi.
Sukada et.al. (2016, January 27-last update). "Interpretasi Kejadian Streptococcosis Pada Babi di Daerah Tabanan", (Karya Tulis), Available:
erepo.unud.ac.id/1872/ (Accessed: 2018, Januari 17).
Swarjana. (2016). Statistik Kesehatan.
Yogyakarta: Andi Offset.
Thi et.al. (2014). Clinical Manifestation and Outcomes of Streptococcus suis Infection in Humans. CDC. 20(7):1105–
1114.