• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, pertandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan manusia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila (Cholic, 2007). Olahraga diartikan pada peningkatan prestasi yang setinggi-tingginya dalam upaya memenangkan suatu pertandingan atau perlombaan. Dengan pengertian tersebut bahwa tujuan olahraga pada hakikatnya untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian serta meningkatkan kemampuan seseorang ke arah yang lebih tinggi bagi kepentingan hidupnya. Kegiatan olahraga juga sebagai salah satu sarana untuk memberikan bentuk aktivitas positif kepada remaja. Seperti membentuk kedisiplinan, kerjasama, tekat, ulet, cermat, percaya diri dan sebagainya. Oleh karena itu olahraga mengembangkan kualitas-kualitas kepribadian tertentu yang mendasari perbuatan-perbuatan nyata, karena olahraga merupakan sebagai aktivitas fisik, mental, sosial, emosional, dan lain-lain (Syarifuddin, 1999).

Bagi masyarakat yang maju dan modern kegiatan olahraga sudah menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Olahraga telah dipandang memiliki berbagai fungsi yang tidak hanya untuk mengembangkan kualitas kebugaran fisik saja, melainkan juga mengembangkan kualitas mental individu dan masyarakat secara lebih utuh dan mantap. Melalui olahraga, individu dapat mengembangkan segi-segi mental kepribadian, moral, kepemimpinan, kesetiaan, loyalitas, pengabdian, relasi intra dan interpersonal lebih baik lagi (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Kemdiknas, 2010).

Sejalan dengan itu, pengembangan kualitas mental ke arah yang lebih baik merupakan wujud dari pembinaan mutu sumber daya manusia dalam pembangunan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa ada kaitan yang erat antara olahraga dengan pembangunan nasional. Olahraga adalah suatu aktivitas fisik yang dilakukan oleh manusia dalam usaha meningkatkan taraf kesehatan, beberapa orang menjadikan olahraga sebatas

(2)

sebagai hobi bagi mereka. Pengertian menurut International Council of Sport and Education yang dikutip oleh (Lutan 1992) bahwa “Olahraga adalah kegiatan fisik yang mengandung sifat perminan dan berisi perjuangan dengan diri sendiri atau perjuangan dengan orang lain serta konfrontasi dengan unsur-unsur alam (Abdoelah 1981). Tujuan orang melakukan kegiatan olahraga adalah sebagai latihan, pengkondisian diri, rekreasi, pendidikan, mata pencaharian, tontonan, dan kebudayaan. Tujuan utama olahraga adalah sebagai latihan untuk meningkatkan keterampilan dan mendapatkan prestasi yang maksimal.

Untuk berprestasi ada beberapa faktor yang harus dimiliki oleh seorang atlet, antara lain kemampuan teknik, taktik, fisik dan psikologis yang baik, Meraih prestasi yang maksimal dalam suatu cabang olahraga ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

Salah satunya adalah melalui pemanduan bakat, pemanduan bakat ini sebaiknya dilakukan pada anak-anak usia dini.Jadi pemanduan bakat yang dilakukan dengan tujuan mencapai prestasi yang maksimal ini dilakukan bertahap yang dimulai sejak usia dini dan kemudian meningkat ke usia pra remaja, remaja, dan kemudian dewasa.

Sehingga dengan demikian performa puncak dapat dicapai. Hal ini dikarenakan pada anak-anak masih belum banyak faktor yang mempengaruhi sehingga bakat alami anak masih benar-benar kelihatan, bukan yang diperoleh karena faktor latihan. Apabila pembinaan terlambat, maka akan lebih sulit untuk melakukan pembenahan.Dengan demikian, dapatlah ditarik konklusi bahwa tujuan utama melakukan identifikasi bakat olahraga calon atlet adalah untuk mengidentifikasi dan memilih calon atlet yang mempunyai kemampuan terbaik sesuai dengan cabang olahraga yang dipilih.

Tertinggalnya prestasi olahraga nasional dengan negara-negara Asia lainnya merupakan salah satu masalah besar bangsa untuk meningkatkan prestasi olahraga belum adanya upaya percepatan dalam prestasi menjadi salah satu penyebabnya baik secara dari tingkat nasional maupun daerah, selain upaya ilmiah dalam identifikasi bakat anak, faktor lain yang tidak kalah penting adalah penyesuaian minat olahraga sehingga anak mampu berpartisipasi dalam olahraga sesuai kemapuan anak sangatlah penting, semakin tinggi minat seseorang dalam mengikuti olahraga maka disitulah dapat diketahui seberapa besar kualitas olahraga disuatu negara.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2015, jumlah yang rutin berolahraga belum mencapai sepertiga dari total penduduk, hanya 27,61 %

(3)

penduduk Indonesia yang melakukan olahraga minimal sekali dalam seminggu. Hal ini berarti dari 100 penduduk Indonesia berumur 10 tahun ke atas, hanya sekitar 28 orang yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, sedangkan 72 orang lainnya tidak rutin berolahraga. Kemudian yang selanjutnya berdasarkan sensus tahun 2016 penduduk Sragen sebanyak 882.090 jiwa dengan perincian laki - laki 432.178 jiwa dan perempuan 449.912 jiwa , Dengan jumlah penduduk sebesar ini, tingkat minat olahraga dalam aktivitas kebugaran masih sangat rendah , menurut penelitian di Kementrian Pemuda dan Olahraga, 2017 ), tingkat minat masyarakat di Kabupaten Sragen saat ini bahkan belum mencapai 15 persen dari total penduduk, Hal tersebut menunjukkan hasil yang linier dari data prestasi olahraga di Kabupaten Sragen pada PORPROV Tahun 2018 yang diselenggarakan di Kota Surakarta, Kabupaten Sragen hanya berada di peringkat 26 dari jumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah sebanyak 35 kabupaten dan kota.

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan di Kabupaten Sragen, sarana olahraga yang dimiliki oleh Kabupaten Sragen hanya digunakan oleh klub untuk melakukan latihan rutin, sedangkan untuk masyarakat di luar klub hanya kurang dari 10 orang yang menggunakan fasillitas olahraga. Observasi yang dilakukan penulis di CFD Sragen juga menunjukkan hasil yang linier dimana sebagian besar masyarakat yang datang ke CFD tidak melakukan aktivitas olahraga melainkan belanja dan wisata kuliner. Fenomena ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat Indonesia, khususnya di Kabupaten Sragen masih sangat rendah dalam melakukan aktivitas olahraga. Kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat olahraga merupakan salah satu kegiatan yang menunjang kesehatan. Menurut Abror (1993) bahwa :

Minat atau interest bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda atau kegiatan ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, minat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan.

Disebutkan di atas bahwa minat adalah salah satu pendorong seseorang dalam melakukan suatu aktivitas. Masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam aktivitas olahraga mengindikasikan bahwa masyarakat belum sepenuhnya menyadari pentingnya pola hidup sehat sebagai motivasi dalam melalui aktivitas olahraga dan rendahnya minat masyarakat untuk melakukan aktivitas olahraga.

(4)

Untuk menumbuhkan minat seseorang dalam melakukan suatu aktivitas perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya minat itu sendiri. Menurut Adityaromantika (2010), faktor yang mempengaruhi minat seseorang dapat dibagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Salah satu faktor yang disebutkan adalah faktor eksternal yang berasal dari orang tua. Lingkungan pertaama bagi setiap manusia adalah keluarga. Pengetahuan dan pendidik seseorang berawal dari tahap paling utama yaitu keluarga terutama orang tua. Keluarga adalah tempat pertama pembentuk kepribadian anak. Definisi keluarga menurut Wahyu (2001) adalah sebagai berikut :

Sebuah keluarga adalah suatu satuan kekerabatan yang juga merupakan satuan tempat tinggal yang dilandasi oleh adanya kerjasama ekonomi, dan mempunyai fungsi untuk berkembang biak, mensosialisasikan atau mendidik anak dan menolong serta melindungi yang lemah khususnya merawat orang- orang tua mereka yang telah jompo.

Keluarga adalah tempat pertama bagi anak belajar mengenai segala hal yang ada dalam kehidupan. Cara keluarga dalam memperkenalkan kehidupan disebut pola asuh.

Menurut Gunarsa (2008) dalam bukunya Psikologi Remaja :

Pola asuh orang tua adalah sikap dan cara orang tua dalam mempersiapkan anggota keluarga yang lebih muda termasuk anak supaya dapat mengambil keputusan sendiri dan bertindak sendiri sehingga mengalami perubahan dari keadaan bergantung kepada orang tua menjadi berdiri sendiri dan bertanggung jawab sendiri.

Salah satu tujuan dari pola asuh adalah untuk mempersiapkan anak agar dapat mengambil keputusan sendiri sehingga nantinya anak dapat melakukan aktivitas tertentu bukan lagi atas dasar suruhan melainkan atas dorongan dari dalam dirinya atau disebut motivasi. Menurut Hamzah (2007), motif atau motivasi adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, demi tercapainya tujuan tertentu. Berdasarkan pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa pola asuh akan mengarahkan anak untuk minat atau tertarik pada suatu hal termasuk aktivitas olahraga. Pola asuh dibedakan menjadi 3 jenis pola asuh orang tua yaitu, otoriter, demokratis , dan permisif (Santrock, 2002). Jenis jenis pola asuh tersebut memberikan perlakuan yang berbeda kepada anak yang diasuh berdasarkan kontrol atau tuntutan dan responsibilitas dalam dukungan. (Arnasiwi,2013) dalam penelitiannya menunjukkan hasil bahwa ada perbedaan kepribadian anak dengan pola asuh yang berbeda”. Dengan berbedanya pola asuh maka hasil dari pola asuhan yang berbeda dapat memberikan dampak yang berbeda.

(5)

Tahap kehidupan manusia terdiri dari anak-anak, remaja dewasa dan lansia.

Salah satu tahapan yang paling penting adalah tahap remaja. Dalam masa remaja, manusia mengalami peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Sarwono, 2011). Pada tahap usia inilah manusia mulai dapat mandiri dan mengambil keputusan berdasarkan kemauan dari dalam diri sebagai hasil dari pola asuh orang tua.

Dari pemikiran tersebut, maka dalam penelitian ini akan meneliti tentang peran tipe pola asuh orang tua untuk dideskripsikan secara sistematis terhadap minat dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik dengan karakteristik fisik yang dimiliki anak, maka anak tersebut cenderung memiliki potensi mengembangkan bakat olahraga tertentu, maka dari itu diperlukan instrumen tes yang dapat mendeteksi bakat anak.

Hingga saat ini, belum ada organisasi atau wadah yang bekerja khusus untuk memikirkan dan mengelola program pemanduan bakat khususnya di Kabupaten Sragen. Selain itu juga pengembangan olahragawan yang dilakukan di pusat-pusat latihan daerah oleh induk-induk organisasi dan perusahaan swasta.

Dari hasil observasi yang telah dilakukan ternyata bakat olahraga anak- anak di Kabupaten Sragen belum pernah teridentifikasi secara terperinci, Selain indikator- indikator yang mengarah tentang pengidentifikasian minat ataupun bakat belum ada dokumen-dokumen yang menyatakan hal tersebut. Berangkat dari fakta tersebut, perlu dilakukan penelitian yang mengarah pada pengidentifikasian minat dan bakat olahraga ditinjau dari jenis kelamin dan tipe pola asuh orang tua. Selain itu diharapkan nantinya hasil penelitian dijadikan patokan untuk pemerintah Kabupaten Sragen dalam meningkatkan prestasi olahraga untuk menjadi bahan pertimbangan dalam membina dan membibit atlet. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan penelitian dengan judul

“Identifikasi Minat Dan Bakat Olahraga Di Kabupaten Sragen”. (Studi Perbandingan Minat Dan Bakat Dalam Cabang Olahraga Pada Remaja Usia 11 – 12 Tahun Se- Kabupaten Sragen Ditinjau Dari Jenis Kelamin Dan Tipe Pola Asuh Orang Tua).

(6)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi minat dan bakat adalah cara untuk membina dan memilih atlet yang memiliki berbagai kemampuan tertinggi dalam cabang olahraga.

2. Faktor tipe pola asuh orang tua merupakan peran terbasar terhadap anak secara umum sehingga dapat menentukan seberapa besar minat berolahraga pada remaja di Kabupaten Sragen.

3. Pemanduan bakat olahraga melalui aplikasi sport search merupakan cara yang dapat dilakukan guru, pelatih, atau pembina olahraga dalam menentukan potensi anak dalam cabang olahraga yang bisa ditekuni sejak dini sehingga dapat mencapai prestasi yang optimal baik dari anak laki-laki maupun perempuan.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Mengidentifikasi seberapa besar tingkat minat olahraga yang dimiliki oleh

remaja usia 11-12 tahun dengan tipe pola asuh orang tua authoritative , democratic dan permissive di Kabupaten Sragen ?

2. Mengidentifikasi bakat olahraga apakah yang dimiliki dari anak dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan pada remaja usia 11-12 tahun di Kabupaten Sragen ?

3. Bagaimanakah perbandingan antara minat dan bakat olahraga yang dimiliki dari anak dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan dan tipe pola asuh orang tua authoritative , democratic dan permissive pada remaja usia 11-12 tahun di Kabupaten Sragen ?

4. Bagaimanakah korelasi antara tipe pola asuh orang tua, minat dan bakat pada remaja usia 11-12 tahun di Kabupaten Sragen ?

(7)

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan seberapa besar minat olahraga apa yang dimiliki dari remaja usia 11-12 tahun dengan tipe pola asuh orang tua authoritative , democratic dan permissive di Kabupaten Sragen.

2. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan bakat olahraga yang dimiliki anak dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan pada remaja usia 11-12 tahun di Kabupaten Sragen.

3. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan bagaimanakah perbandingan minat dan bakat olahraga yang dimiliki dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan tipe pola asuh orang tua authoritative , democratic dan permissive pada remaja usia 11 – 12 tahun di Kabupaten Sragen.

4. Untuk mengetahui hubungan antara tipe pola asuh orang tua, minat dan bakat olahraga yang dimiliki dari remaja usia 11-12 tahun di Kabupaten Sragen Tahun 2019 ?

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan beberapa manfaat. Adapun maanfaat dari penelitian ini yaitu :

1. Manfaat untuk pembaca

Dapat dijadikan sebagai bahan referensi yang dapat menambah pemahaman tentang peran pola asuh orang tua terhadap minat dan bakat olahraga pada remaja di Kabupaten Sragen.

2. Manfaat untuk peneliti

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman secara jelas dan bagi peneliti mengenai pola asuh orang tua terhadap minat dan bakat olahraga pada remaja di Kabupaten Sragen.

3. Manfaat untuk Ilmu Pengetahuan

Sebagai dasar informasi ilmiah tentang kesesuaian hasil tes pemanduan bakat sport search dengan minat terhadap cabang olahraga pada remaja di Kabupaten Sragen.

Referensi

Dokumen terkait

akan dibandingkan pengaruh perbedaan sediaan krim ekstrak rosella dengan tipe minyak dalam air (M/A) dan air dalam minyak (A/M) terhadap sifat fisik krim ekstrak rosella,

Kenaikan konsentrasi gelling agent gelatin dalam sediaan gel ekstrak lidah buaya (Aloe vera L.) diduga dapat mempengaruhi sifat fisik gel yaitu daya lekat, daya sebar,

Optimasi dilakukan dengan metode Factorial Design yang bertujuan untuk melihat efek dan interaksi dari kombinasi explotab dan amilum ditinjau dari sifat fisik tablet yang baik,

Kombinasi PVP pada rentang konsentrasi 0,58-4,45% dan natrium alginat pada rentang konsentrasi 5,37-8% diduga dapat membentuk tablet ekstrak daun yacon dengan sifat

Pada konsentrasi berapa kombinasi PEG 400 dan PEG 4000 yang dapat menghasilkan salep ekstrak etanol herba pegagan yang memiliki sifat fisik dan aktivitas antibakteri

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sifat fisik sediaan krim ekstrak etanol patikan kebo dengan konsentrasi ekstrak 5%, 7,5%, dan 10% yang meliputi viskositas, daya menyebar,

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disusun hipotesis dalam penelitian ini adalah sifat fisik krim ekstrak etanolik buah mahkota dewa dengan basis M/A mempunyai viskositas dan

WolrdHealthOrganization WHO juga mempunyai pengertian tentang kesehatan yaitu sebagai suatu keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau