Wahyu, Iman Penerusannya dan
Carolus Putranto Tri Hidayat
©Carolus Putranto Tri Hidayat
https://1katolik.com
Untuk seluruh peserta kelas Pendidikan Agama STF Driyarkara
Pendahuluan
Tulisan ini hendak membahas Wahyu sebagai inisiatif Allah untuk dikenal oleh manusia, iman sebagai tanggapan manusia atas inisiatif itu dan bagaimana Wahyu diteruskan dan dijaga sehingga tetap melahirkan iman untuk orang- orang sepanjang zaman. Konsep Wahyu, Iman dan penerusannya akan dibicarakan dari sudut Pandang Gereja Katolik. Sesuai dengan materi utama pembahasan, tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu Wahyu-iman, Kitab Suci dan Tradisi sebagai dua mode penerusan Wahyu sert Magisterium sebagai instansi yang menjaga penerusan Wahyu itu.
Apa yang dibahas dalam tulisan ini menjadi bahan untuk kelas Pendidikan Agama di Sekolah Tinggi Fisafat Driyarkara.
BAGIAN PERTAMA I
TEOLOGI
What you are is God's gift to you, what you become is your gift to God
(Hans Urs von Balthasar)
Mengapa memulai pembicaraan tentang wahyu-iman dengan teologi? Karena, Wahyu-iman, mengutip yang ditulis oleh Nico Dister, adalah prologomena (pro, yang mendahului, logemai, membicarakan) bagi teologi. Dengan kata lain, wahyu-iman adalah titik berangkat bagi epistmologi teologi. Wahyu-iman menjadi urgent dibicarakan karena muncul pertanyaan: bagaimana Allah dapat menjadi isi perbincangan manusia? Dalam arti yang sangat luas, perbincangan tentang Allah adalah teologi (theos, Allah, logos, kata-kata/percakapan). Inilah alasan mengapa kita membicarakan tentang teologi lebih dahulu, yaitu untuk memberi urgensi pembicaraan tentang wahyu- iman.
Maka kita dapat memulai dengan bertanya kembali, apa itu teologi? Seribu tahun yang lalu, Anselmus dari Cantebury
(1033-1109), seorang rahib benediktin asal Italia pernah menawarkan jawabannya. Menurutnya, teologi adalah fides quaerens intellectum, artinya, iman yang mencari pertanggung-jawaban akalnya. Menurut definisi ini, iman mendahului akal. Dengan kata lain, ada kenyataan yang jauh lebih luas dari kemampuan akal kita. Meskipun St Anselmus adalah orang pertama yang merumuskan definisi ini, akan tetapi dia bukanlah orang pertama yang meyakini kebenarannya. St Agustinus dari Hippo (354-430) pernah mengibaratkan kenyataan (Allah) sebagai samudera raya dan akal kita adalah lubang yang dibuat di pasir pantai.
Dan bukankah Mzm.8 mengatakan bahwa mulut kanak- kanak dan bayi, yaitu mereka yang belum berkembang kemampuan akal dan kesadarannya, akan memuliakan Allah dan membungkam para musuhNya?
Definisi ini tidak sejalan begitu saja dengan kecenderungan zaman modern yang menuntut pembuktian fisik sebelum menerima sesuatu sebagai kebenaran. Menurut kecenderungan zaman modern ini, sesuatu harus masuk akal lebih dahulu sebelum diyakini sebagai kebenaran.
Tetapi bagaimana menentukan bahwa sesuatu itu dapat diterima oleh akal? Satu-satunya kriteria yang menentukan bahwa sesuatu itu sesuai dengan akal sehat di zaman ini adalah bahwa ia harus dapat diterima panca indra. August Comte (1798-1857), seorang filsuf ilmiah asal Perancis pernah meramalkan bahwa semakin modern dan ilmiah zaman ini, semakin orang tidak membutuhkan teolog, iman dan dengan demikian, Tuhan. Menurutnya, sejarah pemikiran manusia memang berawal dari pemikiran teologis
(fiktif), tetapi ia berkembang ke pemikiran metafisis (abstrak) dan berpuncak pada pemikiran scientifik-ilmiah (positif-yang dapat diindera). Dengan demikian, menurut Comte, segala yang fiktif dan abstrak, akan tunduk pada segala yang dapat diindera dan berguna.
Kita tentu dapat mempertanyakan pendapat Comte ini.
Benarkah kenyataan 'harus masuk akal' dan satu-satunya kriteria untuk dapat diterima akal sehat adalah sesuatu itu harus dapat 'diindera' dan 'berguna'? Bagaimana dengan misteri kematian, penderitaan, kasih, persahabatan, yang jelas bagian dari kenyataan tetapi tidak pernah dapat dikupas tuntas secara masuka akal? Dan kalau kegunaan adalah kriteria, di mana manfaat 'kematian', 'sakit', dan apakah 'kasih' juga harus diukur dari manfaatnya?
Pertentangan antara yang 'fiktif' dan 'Ilmiah', antara yang 'naratif-tak berguna' dan 'manfaat', ternyata sudah melingkupi sejarah istilah teologi. Istilah teologi ini sendiri tidak berasal dari dunia Kristen-Yahudi. Tidak ada satu bagian pun dalam Kitab Suci yang menyebutnya. Bahkan seorang pemikir Kristen yang menjadi pelopor 'teologi' G e r e j a L at i n , Te r t u l i a n u s ( 1 5 5 - 2 2 0 ) , p e r n a h mempertanyakan peran teologi bagi perkembangan iman dengan ungkapan: apa hubungannya antara Athena dan Yerusalem? Pertanyaan ini mengungkapkan keresahan orang kristen yang berupaya setia dengan dunia Kitab Suci, yaitu dunia Kristen-Yahudi, di hadapan dunia baru, yaitu dunia Filsafat Yunani. Tertulianus sendiri tidak asing dengan filsafat. Sebelum bertobat, ia seorang orator dan ahli
hukum di Kartago. Justru karena ia akrab dengan dunia Yunani, ia tahu kecenderungan budaya itu, khususnya filsafat, yang terlalu mengagungkan kemampuan akal dan dengan demikian membuka pintu untuk masuk ke dalam jerat kesombongan. Pertanyaannya, bagaimana teologi dapat dipikirkan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kesederhanaan Kitab Suci dan iman? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan melacak sejarah istilah teologi itu sendiri.
A. Teologi dalam pemikiran Platon dan Aristoteles Istilah teologi pertama kali digunakan oleh seorang filsuf besar Yunani, Platon. Istilah ini ditemukan dalam bukunya yang berjudul Politik. Aristoteles, filsuf besar lainnya, yang tidak lain adalah murid Platon, memiliki konsep yang berbeda menyangkut teologi. Sebelum melangkah lebih lanjut, ada baiknya kita cermati terlebih dahulu dua konsep yang erat terkait dengan teologi dalam sejarah pemikiran Yunani, yaitu mytos dan logos.
Mytos, mytologi, upacara
Arti paling dasar dari mytos adalah ucapan yang berwibawa dan tidak dapat dibantah. Ia tidak dapat dibantah karena berasal dari para dewa dan membuat hidup manusia memiliki makna. Melalui pendarasan mytos atau mytologi (mytologi, dari kata mythos, yaitu kisah para dewa, dan legein, yaitu membacakan-menceritakan), manusia dapat menjalin relasi dengan para dewa, mengalami kembali kekuatan mereka dan memahami dunia di sekitarnya.
Biasanya, pendarasan mytos ini dilakukan dalam upacara.
Meskipun sebagai istilah dan konsep, mytos berasal dari dunia Yunani, tetapi keberadaannya dapat ditemukan juga dalam hampir semua budaya.
Sebagai contoh, dalam budaya Jawa, ada kisah asal-usul (mytos) padi. Menurut kepercayaan mereka, tanaman padi yang menjadi penopang kehidupan manusia, berasal dari pertemuan antara Dewi Sri (benih padi) dan Dewa Wisnu (air). Dengan demikian, bagi masyarakat Jawa, segala hal yang terkait dengan padi (menanam, merawat dan memanennya) memiliki makna yang mendalam dan harus diperlakukan secara istimewa. Itu sebabnya, banyak ritual dijalankan mulai dari proses menabur benih dan juga dalam setiap tahap lainnya. Berikut contoh beberapa upacara agraria yang dilakukan masyarakat Yogyakarta:
Upacara menabur benih biasanya dilakukan oleh lelaki, pertama- tama dengan menanam sembilan butir gabah; satu butir diletakkan di tengah dan delapan butir ditanam di delapan penjuru mata angin. Upacara ritual juga dilakukan pada waktu akan dimulainya tandur (tanam), dengan kelengkapan upacara berupa jenang pethak (bubur putih), pisang kluthuk, kinang (kapur-sirih), dan bunga. Kelengkapan upacara ini dibawa ke sawah kemudian diletakkan di dekat tempat pesemaian. Setelah dibacakan doa (mantra-mantra) sembari membakar kemenyan, kelengkapan upacara (sesaji) dibagi-bagi menjadi beberapa bagian dan masing-masing bagian diletakkan di sudut-sudut kotak Sawah (mbuwaki) untuk disajikan kepada penjaga Sawah (baureksa). Sisa kelengkapan upacara tersebut kemudian dibagi- bagikan kepada para pekerja di sawah.
Ritual-ritual di atas memperlihatkan bahwa mytos bukanlah kisah khayalan. Mytos membentuk suatu cara pandang atas dunia (world view). Bagi masyarakat tradisional, dunia adalah suci karena tidak pernah lepas dari campur tangan yang ilahi. Keyakinan ini diungkapkan dalam bentuk mytos dan dipentaskan atau dikisahkan kembali dalam ritual- ritual. Setiap kali ritual dipentaskan, mytos diucapkan dan dewa-dewi diyakini hadir kembali, menciptakan atau membarui dunia ini.
Manusia ikut ambil bagian dalam karya penciptaan dengan bercocok-tanam, sesuai petunjuk yang diberikan oleh para pribadi ilahi itu. Oleh karena itu, mengolah sawah dan hasil bumi lebih dari sekedar kegiatan ekonomi. Sawah dan padi bersifat suci dan karena itu punya makna mendalam.
Bandingkan dengan cara pandang modern dalam mengolah sawah. Dalam cara pandang modern, sawah dan padi hanyalah alat produksi. Tidak ada Upacara rohani yang dibuat dalam setiap prosesnya selain menaburkan pupuk kimia, menyemprotkan cairan kimia pembunuh hama dan hasil panen dikarungi untuk kemudian dilemparkan ke atas truk dan berakhir di gudang penyimpanan yang pengab. Masyarakat industri kehilangan 'cita rasa akan yang suci' (sense of sacred) dan memandang dunia ini semata sebagai mesin produksi. Tidak heran, salah satu kehausan orang modern adalah haus akan makna hidup. Masyarakat tradisional tidak pernah mengalami krisis makna hidup seperti orang modern
karena dunia yang suci, yang terkait dengan yang ilahi, selalu melahirkan makna bagi setiap pribadi.
Logos
Apa itu logos tidak dapat dipisahkan dari gagasan dasar dalam sejarah pemikiran Yunani. Semula, logos dikaitkan dengan penyebutan, pertangungjawaban, pembenaran.
Dari sana, lahir makna lainnya yang lebih luas seperti laporan, usulan, pembuktian atau penjelasan. Dengan demikian, logos dikaitkan dengan pikiran dan kata-kata manusia. Sampai di sini, sebenarnya, mytos dan logos memiliki makna yang sama, yaitu ucapan yang penuh wibawa, yang diyakini tanpa perlu pembuktian lagi.
Ketika pikiran dan gagasan menjadi lebih jelas dan lebih dapat dipertanggungjawabkan dalam permenungan filosofis, logos semakin dipisahkan dari mytos, dari opini (doxa) dan dari persepsi. Sejarah filsafat Yunani didominasi oleh ketegangan antara mytos dan logos.
Teologi Platon
Menurut Platon, teologi adalah jembatan antara mytos (kisah para dewa) dan logos (pengetahuan). Sebagai jembatan, teologi berperan mengungkapkan makna rahasia yang disembunyikan para dewa dalam mytologi supaya kisah-kisah mereka dapat diterima akal (logos) dan berguna untuk menuntun perilaku manusia di dunia (moral). Agar makna rahasia itu dapat disingkap, teologi harus menilai secara kritis mytos. Penilaian ini dapat dilakukan hanya jika dibuka ruang kebebasan berpikir yang tidak lagi diikat oleh
kebiasaan atau tradisi lama tetapi membiarkan pikiran menguji sendiri mytos sebagai objek penilainnya.
Menurut Platon, walau merupakan kisah suci, mytos terbuka untuk penilaian kritis akal-budi sebab mytos menggunakan bahasa manusia. Yang dikritisi bukan para dewa-dewi, tetapi bahasa manusiawi yang ingin mengungkapkan keterlibatan mereka di dunia ini. Itulah tugas teologi: mengkritisi mytos sebagai bahasa manusia untuk lebih dapat melihat maksud sejati para dewa.
Dibedah dengan pisau akal budi, mytos ditanggalkan dari ciri-ciri amoral dan tahayulnya. Misalnya, perilaku para dewa yang kerapkali berperang di antara mereka sendiri (misalnya, Zeus bertempur melawan Hades) bukanlah berarti para dewa itu tidak akur tetapi melambangkan pertempuran baik dan benar dalam diri manusia itu sendiri.
Teologi Aristoteles
Menurut Aristoteles, teologi adalah puncak dari pengetahuan kontemplatif (teoritis) atau pengetahuan filosofis. Penilaian kritis atas mytos tidak menghancurkan firman para dewa tetapi membuat membuka pintu bagi masuknya banyak pertanyaan terkait para dewa dan juga upaya untuk menjawabnya. Upaya menjawab pertanyaan terkait para pribadi ilahi inilah yang oleh Aristoteles disebut teologi, yaitu pengetahuan tentang para dewa (para ilahi).
Pengetahuan tentang yang ilahi ini tentu pengetahuan yang paling tinggi sebab dari yang ilahi muncul segala kenyataan. Maka, jika sampai pada pengetahuan yang ilahi,
segala kenyataan dapat dipahami. Dalam kaca mata Aristoteles, dengan demikian, teologi berada di atas matematika (pengetahuan mengenai bilangan) dan di atas fisika (pengetahuan mengenai dunia fisik). Jika matematika membawa manusia sampai pada pengetahuan tentang hukum bilangan-angka yang diyakini membentuk dunia ini, dan hukum fisika membawa manusia memahami gejala- gejala semua kenyataan fisik, teologi menghantar manusia untuk memandang pribadi ilahi itu sendiri dan dari sana terbuka rahasia segala kenyataan.
Beberapa Butir Simpulan
Pertama, dari sejarah konsep teologi, dapat dilihat bahwa upaya menusia untuk mengenal dan memahami yang ilahi tidak mengharamkan keterlibatan usaha manusia yang bebas dan berkesadaran melalui penggunaan akal-budinya. Akal-budi tidak hanya dapat tetapi wajib diikutsertakan dalam upaya menghayati kepercayaan karena yang ilahi, yang dipercaya itu sendiri, hanya dapat dikenal dan dipahami melalui gejala-gejala duniawi. Mytos, misalnya, adalah kisah para dewa yang disampaikan melalui bahasa manusia, dan bukan bahasa para dewa. Beragam simbol dan pernak- pernik dalam upacara, dipilih dan diambil dari dunia sehari-hari. Dengan kata lain, penggunaan akal-budi dalam penghayatan kepercayaan mutlak diperlukan karena yang ilahi, yang menjadi objek kepercayaan, sampai kepada manusia berkat mediasi duniawi dan manusiawi. Akal-budi
dilibatkan dalam hidup kepercayaan agar keyakinan tidak menjadi buta dan menghancurkan kemanusiaan itu sendiri.
Kedua, setiap orang yang percaya memang wajib menghayati kepercayaan secara rasional, tetapi ada kelompok tertentu yang mendalami upaya rasional itu secara khusus dengan mempelajarinya sebagai ilmu pengetahuan. Inilah yang disebut sebagai teolog, yaitu mereka yang secara khusus dan profesional mempelajari iman-kepercayaan secara kritis dan rasional. Sebelum munculnya teologi, para profesional yang mengungkapkan keyakinan dalam bahasa manusia adalah para penyair, yang menggubah karya-karya sastra dengan mengambil mytos sebagai inspirasinya.
Setelah munculnya konsep teologi, para teolog profesional ini adalah para filsof yang mempertanyakan hakikat dan sepak terjang para dewa dalam upaya mereka mencari hakikat kenyataan.
Ketiga, untuk kita, para murid Kristus yang hendak mendalami teologi, kita dapat belajar bahwa awal teologi adalah mytos, yaitu pengetahuan tentang yang ilahi, dan mytos ini berbentuk kisah. Meskipun ada perbedaan antara orang-orang Yunani kuno dan kita dalam hal keyakinan (orang-orang Yunani kuno percaya pada banyak dewa dan orang Kristen percaya pada Allah Tritunggal), tetapi kita dapat menemukan juga kesamaannya yaitu pentingnya peran pengisahan: Kitab Suci adalah 'kisah Allah dan manusia', jantung perayaan Ekaristi adalah 'kisah institusi' yang menghadirkan kembali Perjamuan Terakhir ketika Yesus menyerahkan tubuh dan darahNya secara simbolis, dan berkat pembaptisan, kisah
Yesus Kristus terus terjadi melalui kisah hidup kita. Dengan demikian, kita tidak dapat bertologi tanpa kisah nenek moyang kita dalam beriman (Israel dan Gereja Perdana) dan juga tanpa kisah kita sendiri (hidup pribadi, keluarga dan masyarakat baik dalam skala lokal, Nasional maupun global).
Yang menjadi pertanyaan: apakah kisah tentang Allah dengan demikian adalah buatan imajinasi manusia?
Bagaimana manusia di segala zaman dan budaya dapat mengenal Dia yang disebut dengan beragam nama: Zeus di Yunani, Brahma di India, Thien di Tiongkok, YHWH di Israel? Inilah yang akan dibahas dalam bagian berikutnya, yaitu Wahyu-Iman.
Tentang Penulis
Rm Carolus Putranto Tri Hidayat adalah seorang imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta yang ditahbiskan pada tanggal 15 Agustus 2006. Perutusan studi dijalani di Universitas Kepausan Urbaniana untuk meraih gelar Master di bidang teologi misi (2004-2007). Setelah kurang lebih 3 tahun menjalani perutusan pastoral di Paroki Kalvari- Lubang Buaya dan Regina Caeli-Pantai Indah Kapuk, romo Uut, begitu ia biasa dipanggil, diutus lagi untuk belajar teologi fundamental di Institut Katolik Paris. Sejak 2016, romo Uut mendapat tugas perutusan untuk Mendampingi para calon Imam KAJ, mengampu mata kuliah teologi di STF Driyarkara dan Ketua Komisi Kateketik KAJ.