KONSEP ETIKA SOSIAL DALAM PANDANGAN KETUHANAN JEAN-LUC MARION DI ERA POSTMODERN
Oleh:
Rudolfo Jacob Manusiwa 712017040
Diajukan kepada, Program Studi: Teologi, Fakultas: Teologi, Guna memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mencapai gelar S. Si. (Teol)
Fakultas Teologi
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
2022
II
III
IV
Penulis mengucap syukur karena penulisan tugas akhir ini dapat diselesaikan, bukan karena kemampauan, kepintaran kehebatan dari penulis, tetapi itu semua karena kasih dan pertolongan Tuhan melalui Roh Kudus yang memberdayakan dan perpanjangan tangan Tuhan dari pribadi-pribadi yang mendukung. Adapun judul tugas akhir penulis ialah “Konsep Etika Sosial Dalam Pandangan Ketuhanan Jean-Luc Marion di Era Postmodern.” Melalui tulisan yang sederhana ini kiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca guna menghidupi nilai-nilai inklusif antar multireligius dan menghadirkan perintah etis dan kasih di ruang kehidupan bersama.
Proses penulisan ini tidak lepas dari banyak pihak yang terlibat dalam memberikan pemahaman baik pada sisi akademik dan kehidupan. Penulis mengucapkan terimakasih secara khusus kepada:
1. Kepada kedua orang tua tercinta seorang Mama Sherly Sarioa dan seorang Papa Glen Manusiwa yang telah mendukung anaknya. Begitu juga, Kakak Eliezer Manusia, Kakak Rion Manusiwa, Kakak Rahayu, Kakak Olive, Keponakan Avie, Aaron, Jojo, Clein dan Artur yang telah mendukung. Penulis bisa sampai pada tahap ini tidak terlepas dari proses keluarga yang telah membentuk penulis. Penulis juga mempersembahkan tulisan ini untuk almarhum keponakan Justin Gerrard Manusiwa, almarhum Bapak Ani dan almarhum Ibu Ani.
2. Dosen pembimbing yang senantiasa memberikan bimbingan terbaik kepada penulis untuk menyelesaikan tulisan ini dengan sangat baik. Terimakasih banyak Pdt. Irene Ludji, MAR., Ph.D selaku dosen pembimbing I dan Pdt. Izak Y. M. Lattu, Ph.D selaku dosen pembimbing II.
3. Terimakasih banyak kepada Pdt. Handry Jonathan, M. Phil yang telah mendukung dan memberikan ide bagi penulis dalam penulisan tugas akhir ini.
4. Terimakasih kepada Wali studi Pdt. Merry Kristina Rungkat, M.Th untuk menjadi orang tua kedua penulis di UKSW.
5. Terimakasih kepada semua dosen di Fakultas Teologi UKSW yang telah memberikan pengetahuan dan membantu penulis memahami matakuliah secara lebih mendalam. Tidak lupa juga terimakasih untuk pegawai Tata Usaha (TU) kanfak Teologi yang membantu administrasi mahasiswa.
6. Terimakasih banyak kepada Mentor dan sekaligus keluarga Pdt. Rully Antonius Haryanto, S.Si (Teol), MA, Pdt. Deiby Sofia Wilhelmina Paath, S.Si Teol, Pdt Ronald James Tarumasely, S.Si (Teol) yang mendukung penulis dan senantiasa mendoakan.
7. Terimakasih banyak kepada GPIB Tamansari Salatiga sebagai tempat penulis untuk berproses, belajar dan berpelayanan. Terimakasih banyak kepada Kakak-kakak layan PelKat PT yang menjadi bagian proses mendalami alkitab setiap persiapan dan evaluasi yang membangun penulis dalam pelayanan.
V
8. Terimakasih kepada Gabriella Kirana Mutiara Purba S. Si (Teol). Bersama-sama menyelesaikan tugas akhir, saling mendukung dalam susah dan senang. Terus memberikan semangat dan mengingatkan untuk terus berpengharapan. Pribadi yang memberikan pembelajaran banyak dalam proses mendewasakan iman. Pribadi yang menemani dalam menyelesaikan penulisan tugas akhir. Terakhir semangat untuk proses selanjutnya dan terus bersama-sama.
9. Terimakasih kepada sahabat-sahabat kos melati atau di kenal dengan kos buaya: Exel, Moko, dan Roki. Excel Yosua Hengkesa S.H. kawan seperjuangan bersama-sama di tanah Salatiga ini, saling dukung dalam susah dan senang, serta tidak lupa membawa satu piala kemenangan (Basket). Adlan C. Molewe S.Si (Teol) kawan pertama di UKSW, partner basket dan gym serta membantu penulis untuk melihat sisi lain dalam tulisan (mempertegas sebuah argumen). Roki Yunus S.Si (Teol) kawan masak dan makan martabak manis serta terus mengingatkan penulis untuk mengerjakan tugas akhir. Terimakasih kawan-kawan semangat menjalani perjalanan selanjutnya.
Salatiga, 14 Desember 2022
Penulis Rudolfo J. Manusiwa
VI MOTTO
I Can Do Everything With God
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”
Kolose 3: 23
VII
Konsep Etika Sosial dalam Pandangan Ketuhanan Jean-Luc Marion di Era Postmodern
(Rudolfo J. Manusiwa, Pdt. Irene Ludji, MAR, P.hD. Pdt. Izak Y. M. Lattu, P. hD.) Fakultas Teologi UKSW
ABSTRAK
Penelitian ini berangkat dari keprihatinan atas disharmoni di ruang kehidupan sosial pada era postmodern. Secara spesifik penelitian ini mendeskripsikan konsep etika sosial dalam pandangan ketuhanan Jean-Luc Marion. Dalam penelitian ini penulis menemukan dan memahami sumbangan pemikiran Jean-Luc Marion mengenai wajah sebagai icon dalam kehidupan bersama di era postmodern. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa gagasan Jean-Luc Marion memenuhi karakteristik konsep etika sosial.
Sehingga gagasan Jean-Luc Marion dapat berkontribusi dalam merumuskan etika sosial. Etika sosial Jean-Luc Marion tampak pada relasi manusia dengan Tuhan (relasi icon) dan manusia dengan manusia (memandang wajah sebagai icon). Jean-Luc Marion menawarkan untuk menghidupi relasi icon dan menolak relasi idol. Relasi icon sebagai orientasi etis memandang Tuhan di era postmodern. Relasi icon relevan untuk mengeliminasi klaim kebenaran (Tuhan) dalam kerangka menampilkan kembali watak pemeluk agama yang inklusif, ramah, dan tindakan konstruktif apresiatif terhadap setiap kekhasan kepelbagaian definisi dan konsep ketuhanan. Relasi icon menghidupi nilai-nilai inklusif, menerima dan terbuka terhadap kebenaran plural (definisi dan konsep Tuhan) serta memandang kebenaran sebagai relatif. Selanjutnya relasi manusia dengan manusia dalam pemahaman Marion berbicara secara fenomenologis dan bercorak normatif. Artinya, relasi manusia menunjuk pada kenyataan kesadaran individu bahwa respon-respon dalam kehidupan bersama itu merupakan perintah etis yang berbicara melalui wajah (icon) dan konteks kasih juga hadir. Dalam kepelbagaian wajah tidak ada hal yang mengiyakan untuk menyakiti, melukai, menghina, atau bahkan membinasakan.
Perintah etis dan kasih itu akan selalu membebani individu ketika setiap kali berhadapan dengan wajah (icon) pengada yang lain.
Kata Kunci: Jean-Luc Marion, Etika, Postmodern, Ketuhanan, icon