• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN ROL PERATA MATERIAL PELAT LOGAM SEBAGAI BAHAN BAKU KOMPOR BATIK DI CV. BINTANG MAS, SEMANGGI, SURAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERANCANGAN ROL PERATA MATERIAL PELAT LOGAM SEBAGAI BAHAN BAKU KOMPOR BATIK DI CV. BINTANG MAS, SEMANGGI, SURAKARTA"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PERANCANGAN ROL PERATA MATERIAL PELAT LOGAM

SEBAGAI BAHAN BAKU KOMPOR BATIK

DI CV. BINTANG MAS, SEMANGGI, SURAKARTA

Skripsi

Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

ASTRILIA ROSIANA

I 1307003

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

(5)

commit to user

(6)

commit to user

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang

telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini. Shalawat serta salam kepada Rasulullah Muhammad SAW, Al Amin

suri tauladan kita.

Pada kesempatan yang sangat baik ini, dengan segenap kerendahan hati

dan rasa yang setulus-tulusnya, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Kedua orang tua tercinta Bapak Rusmadi dan Ibu Suparni yang telah

memberikan doa, cinta, kasih sayang dan dukungan sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

2. Dr. Cucuk Nur Rosyidi, ST, MT. selaku Ketua Jurusan Teknik Industri

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Ir. Irwan Iftadi, ST, M.Eng. dan Ilham Priadythama, ST, MT. selaku dosen

pembimbing yang telah sabar dalam memberikan ilmu, pengarahan dan

bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.

4. Rahmaniyah DA, ST, MT dan Fakhrina Fahma, STP, MT. selaku dosen

penguji yang berkenan memberikan saran demi perbaikan skripsi ini.

5. Ir. Lobes Herdiman, M.T. selaku dosen yang telah memberikan semangat dan

masukan kepada penulis.

6. Seluruh dosen-dosen Jurusan Teknik Industri yang telah membekali penulis

dengan ilmu dan pengalaman dalam bidang Teknik Industri.

7. Seluruh keluarga besar Laboratorium Perancangan Sistem Keja dan Ergonomi

(LPSKE) atas persahabatan, dan kerja sama yang luar biasa.

8. Mbak Yayuk, Mbak Rina, Mbak Tutik, dan Pak Agus atas bantuan yang

diberikan dan fasilitas demi kelancaran penyelesaian skripsi ini.

9. Sudara sekandung dr. Choirul Anwar Fathony beserta istri Niken Retri

Paramita, ST. dan pangeran kecil Rayyan Albani Anwar atas kasih sayang,

dukungan dan semangatnya.

10.Bapak Sunaryo dan Ibu Rudiah Primariantari atas semangat dan kasih

(7)

commit to user

vii

11.Mahatma Nayaka Adhitama selaku penyemangat sekaligus sumber inspirasi.

Terimakasih untuk cinta, kesabaran, dan kasih sayang yang tulus dan begitu

besar.

12.Sahabat sekaligus saudaraku Dian, Ivana, Nova ”item”, Aldi, Ningrum, Via,

dan Silvi.

13.Teman-teman seperjuangan Teknik Industri angkatan 2007 Non Reguler (Afif,

Ajeng, Aris, Artha, Bayu, Beni P, Bode, Catur, Davit, Diah, Desi, Fillina,

Febri, FX Yunianto, Girindra, Lia, Mita, Monika, Nanung, Nurul, Novita,

Pendy, Putri, Rani, Rina, Sally, Sustika, Slamet, Silmi, Siwi, Vincent, Witjak,

Yustin, Yoppie dan Zaqiah atas persaudaraan dan kasih sayang selama ini.

14.Sahabat-sahabatku Silmie, Mita, Novita, Ranidya, Desi, Rina atas bantuan,

persahabatan dan persaudaraan yang tak terlupakan. Semoga persahabatan ini

akan tetap terjaga selamanya.

15.Saudara-saudaraku gudang skill, Hendry PP, Dinar Gembul, Abangku Harry

Toyo dan Ocka Ockaido, Ardian Ultahar “Bonex”, Ginung, Dwi Samto, Mbak

Kiki, Rufaida Cobi, Asti, Isti, Bang Esha, Zulfa, Budi, Brian, Arista, Kang

Edwin, Mbak Iffa dan Kang Bison. Terimakasih buat kebersamaan dan cinta

yang tidak pernah berhenti.

16.Warga kost “ajeng”, Mbak Imung, Mbak Egda, Mb Intan, Mb Arum,

Sahabatku Desi, Rahma, Rani, Nitra atas kebersamaan selama 4 tahun.

17.Seluruh pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, atas

segala bimbingan, bantuan, kritik, dan saran dalam penyusunan tugas akhir

ini.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan mahasiswa maupun

siapa saja yang membutuhkannya. Penulis menyadari bahwa laporan tugas akhir

ini masih jauh dari sempurna, dengan senang hati dan terbuka penulis menerima

segala saran dan kritik yang membangun.

Surakarta, 13 Juli 2011

(8)

commit to user

viii

ABSTRAK

Astrilia Rosiana, NIM: I1307003, PERANCANGAN ROL PERATA MATERIAL PELAT LOGAM SEBAGAI BAHAN BAKU KOMPOR BATIK DI CV BINTANG MAS, SEMANGGI, SURAKARTA. Skripsi. Surakarta: Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret, Juli 2011.

Saat ini, aktivitas perataan bahan baku berupa seng dan kaleng bekas pada industri pembuatan kompor CV. Bintang mas dilakukan dengan cara penempaan manual menggunakan martil seberat 5 kilogram dalam posisi duduk pada balok kecil dilantai dengan punggung membungkuk, kaki merentang untuk mempertahankan posisi bahan baku. Kegiatan yang berulang dengan beban yang berat berpotensi besar menyebabkan kelelahan kerja dan keluhan nyeri pada beberapa bagian tubuh. Penempaan secara manual juga menghasilkan kebisingan yang tidak aman untuk suatu tempat kerja.

Berdasarkan permasalahan yang timbul, perlu adanya perbaikan aktivitas perataan bahan baku dengan merancang alat yang bertujuan memperbaiki posisi kerja, menurukan beban kerja fisik pekerja dan menurunkan level kebisingan. Tahapan dalam perancangan alat perata bahan baku ini terdiri dari penjabaran keluhan dan kebutuhan peracangan, pengembangan ide perancangan yang dilakukan dengan mengadopsi dan memodifikasi beberapa tahapan metode cross (metode rasional), penentuan dimensi alat bantu berdasarkan anthropometri, penentuan spesifikasi perancangan, dan validasi rancangan alat bantu yang dilakukan dengan tiga cara, yaitu penilaian level resiko postur kerja metode REBA, penilaian beban kerja fisik pekerja, dan penilaian level kebisingan aktivitas perataan.

Hasil akhir dari penelitian ini adalah rol perata bahan dengan ukuran panjang 500 mm, lebar 380 mm tinggi 800 mm dan diameter rol 176 mm. Rol perata bahan baku dirancang untuk posisi kerja berdiri dengan nilai REBA (Rapid Entire Body Assesment) diantara 2 hingga 3 yang menunjukkan level resiko kecil dan rol terbukti mampu menurunkan beban kerja operator dari level heavy menjadi level moderate serta menurunkan level kebisingan dari 102 dB menjadi 69 dB.

Kata Kunci: aktivitas perataan bahan baku, posisi kerja, beban kerja fisik,

kebisingan, rol perata.

(9)

commit to user

ix

ABSTRACT

Astrilia Rosiana, NIM: I1307003, SHEET METAL ROLLER DESIGN AS THE RAW MATERIAL FOR THE BATIK STOVE INDUSTRY AT CV BINTANG MAS, SEMANGGI, SURAKARTA. Thesis. Surakarta: Industrial Engineering Department Faculty of Engineering, Sebelas Maret University, July 2011.

Recycled zinc plates are basic raw material in producing batik stoves. To flatten these plates, the normal industry practice is to manually pound zinc plates using a 5 kg hammer. This activity is done by the operator who sits on a small stool on the floor in a hunched position with their legs spread out to stabilize the zinc plates. This is done repetitively and continously, the operator will have to continously bear a heavy workload during this process. The consequences of this, is work fatigue and several health hazards, with the operator often complaining of pain. The manual pounding of zinc plates result in high noise levels in and around the work area. The purpose of this research is to develop a design for a zinc plate roller to ease the process of flattening the plates. This will result in a better working posture, lowering the workload of the operators and the decrease in noise levels.

This research consists of several steps which include: background

research, indentifying operators’ needs and wants, tool design, production and

testing. Background research is done to obtain data on which part of the

operators’ body are experiencing stress and pain due to work conditions which are not ergonomic. Data on the operators heart rate to identify the workload of the operators and the data on the noise levels of the work area are also collected. To identify the needs and wants of the operators they were extensively interviewed. The design for the roller is developed using a cross method and dimensions of the roller is determined by using the antropometry of the operator. The testing of the roller is done by comparing the working conditions before and after the roller is available. Testing is essential to find out if the roller can solve the problems before.

The final results of this research is that the roller’s dimensions are a length

of 500 mm, width of 380 mm and a height of 800 mm and a roll diameter of 176 mm. The roll design was developed to be operated in a standing work position with a REBA value between 2 and 3 which show low levels of risk. The roll was proven to be able to reduce the operators workload from a heavy level to a moderate level and it can also reduce noise levels from 102 dB to 69 dB.

Key Words: Raw Material Flattening, Work Posture, Phyical Workload, Noise Pollution, Roller.

(10)

commit to user

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN VALIDASI ... iii

SURAT PERYATAAN ORISINALITAS KARYA ILMIAH ... iv

SURAT PERYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR PERSAMAAN... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ... I- 1

1.2. Perumusan Masalah ... I- 3

1.3. Tujuan Penelitian ... I- 3

1.4. Manfaat Penelitian ... I- 3

1.5. Batasan Masalah... I- 3

1.6. Sistematika Penelitian ... I- 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum CV. Bintang Mas ... II- 1

2.1.1Prospektif Pengusaha ... II- 1

2.1.2 Jenis Produk Kompor yang Dipoduksi ... II- 2

2.1.3 Bahan Baku Pembuatan Kompor Batik ... II- 2

2.1.4 Peralatan Pembuatan Kompor Batik... II- 3

2.1.5 Proses Produksi Kompor Batik ... II- 4

(11)

commit to user

xi

2.3 ... Desain dan Ergonomi ... II- 7

2.4 Perancangan dengan Metode Rasional ... II- 9

2.4.1 Clarifying Objectives ... II- 9

2.4.2 Estabilishing Function ... II- 10

2.12 Desain Stasiun Kerja dan Sikap Kerja Berdiri ... II- 30

2.13 Uji Tarik (Tension Test) ... II- 30

2.14 Hukum Hooke ... II- 31

2.15 Pengerolan Logam ... II- 32

2.15.1Menghitung Geometri Rol ... II- 34

2.15.2Menghitung Energi Pengerolan ... II- 36

2.15.3Menghitung Torsi dan Daya ... II- 37

2.16 Penelitian Sebelumnya ... II- 38

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Deskripsi Masalah Dengan Penilaian Kondisi Awal .... III- 2

3.2 Wawancara Keluhan dan Harapan Operator ... III- 4

3.3 Penentuan Kebutuhan Perancangan ... III- 4

3.4 Penentuan Konsep Perancangan ... III- 5

3.5 Penentuan Spesifikasi Rol dan Mekanismenya ... III- 5

3.6 Penentuan Demensi Kerangka Alat dengan Pendekatan

Ergonomi ... III- 6

3.7 Bill Of Material ... III- 6

3.8 Estimasi Biaya ... III- 6

(12)

commit to user

xii

3.10 Analisa dan Interpretasi Hasil ... III- 7

3.11 Kesimpulan dan Saran ... III- 8

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Deskripsi Masalah ... IV- 1

4.1.1 Posisi Kerja Operator Pada Proses Perataan

Bahan Baku ... IV- 1

4.3.1 Penentuan Spesifikasi Rol dan Mekanismenya

Berdasarkan Spesifikasi Benda Kerja ... IV- 9

4.3.2 Penentuan Dimensi Alat dengan Pendekatan

Ergonomi ... IV- 10

4.3.3 Gambar Desain Rancangan ... IV- 14

4.3.4 Bill Of Material ... IV- 16

4.3.5 Estimasi Biaya Rancangan ... IV- 17

4.4 Prototipe ... IV- 17

4.5 Pengukuran Kondisi Setelah Implementasi ... IV- 18

4.5.1 Posisi Kerja Menggunakan Rol ... IV- 18

4.5.2 Beban Kerja Menggunakan Rol ... IV- 26

4.5.3 Kebisingan Jika Menggunakan Rol ... IV- 28

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

5.1 Penyesuaian Dimensi Alat ... V- 1

5.2 Perbandingan Posisi Kerja Operator ... V- 1

5.3 Perbandingan Beban Kerja Operator ... V- 2

5.4 Perbandingan Kebisingan ... V- 3

(13)

commit to user

xiii

5.6 Analisis Performansi Alat ... V- 5

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ... VI-1

6.2 Saran ... VI-1

DAFTAR PUSTAKA

4.6 Normalisasi Ukuran dengan Objective Matrix ... IV- 4.6.1 Perhitungan Titik Penilaian Utama ... IV- 4.6.2 Penentuan Nilai Dalam Rentang ... IV- 4.7 Uji Cobal Alat Ukur ... IV- 4.8 Perhitungan Nilai Kriteria ... IV- 4.9 Penentuan Indeks Total Usabilitas ... IV-

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

PENELITIAN

(14)

commit to user

Tabel 4.7 Data Anthropometri Operator... IV- 10

Tabel 4.8 Rekapitulasi Ukuran Alat Bantu Rol Perataan Bahan Baku . IV- 13

(15)

commit to user

xv

Tabel 4.16 Perolehan Skor C ... IV- 25

Tabel 4.17 Nilai Level Tindakan REBA ... IV- 26

Tabel 4.18 Pengukuran Denyut Jantung Operator ... IV- 26

Tabel 4.19 Klasifikasi Beban Kerja Fisik ... IV- 28

Tabel 5.1 Tabel Perbandingan Beban Kerja ... V- 2

(16)

commit to user

xvi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Contoh Kompor Batik yang Diproduksi CV. Bintang

Mas ... II- 2

Gambar 2.2 Palu untuk Meratakan Bahan Baku Seng ... II- 3

Gambar 2.3 Gunting Besi untuk Memotong Bahan Baku Seng dan

Kaleng Bekas di CV. Bintang Mas ... II- 3

Gambar 2.4 Alat Pencetak Tabung Sumbu di CV. Bintang Mas ... II- 4

Gambar 2.5 Alat (a) Landasan untuk Proses Keling (b) palu untuk

Penempa untuk Proses Keling di CV. Bintang Mas ... II- 4

Gambar 2.6 Anthropometri untuk Perancangan Produk Atau

Fasilitas ... II- 15

Gambar 2.7 Postur Tubuh Bagian Batang Tubuh (Trunk) ... II- 18

Gambar 2.8 Postur Tubuh Bagian Leher (Neck) ... II- 19

Gambar 2.9 Postur Tubuh Bagian Kaki (Leg) ... II- 19

Gambar 2.10 Postur Tubuh Bagian Lengan Atas (upper arm) ... II- 20

Gambar 2.11 Postur Tubuh Bagian Lengan Bawah (lower arm) ... II- 21

Gambar 2.12 Postur Tubuh Bagian Pergelangan Tangan (wrist) ... II- 21

Gambar 2.13 Sistem Penilaian REBA ... II- 24

Gambar 2.14 Uji Tarik dan Kurva Uji Tarik ... II- 31

Gambar 2.15 Kurva Tegangan- Regangan ... II- 32

Gambar 2.16 Diagram Skematik Pengerolan ... II- 33

Gambar 2.17 Macam-macam rol Milling (a) Two-high,Pullover; (b)

two-high, reversing; (c) Three-high; (d) Four-high; (e)

cluster ... II- 34

Gambar 3.1 Metode Penelitian... III- 1

Gambar 4.1 Perataan Bahan Baku ... IV- 1

Gambar 4.2 Postur Tubuh Operator Saat Menjangkau Ke Atas ... IV- 12

Gambar 4.3 Desain Rancangan Rol Perata Bahan Baku ... IV- 14

Gambar 4.4 Desain Rancangan Alat Bantu Tampak Depan ... IV- 15

(17)

commit to user

xvii

Gambar 4.6 Desain Rancangan Alat Bantu Tampak Atas ... IV- 16

Gambar 4.7 Bill Of Materials ... IV- 16

Gambar 4.8 Prototipe Hasil Perancangan ... IV- 18

Gambar 4.9 Posisi Pengerolan Menggunakan Rol ... IV- 20

Gambar 4.10 Sudut Tubuh Posisi Pengerolan Posisi 1 ... IV- 21

Gambar 4.11 Sudut Tubuh Posisi Pengerolan Posisi 2 ... IV- 23

Gambar 5.1 Grafik Perbandingan Energi Ekspenditure ... V- 3

(18)

commit to user

xviii

DAFTAR PERSAMAAN

Halaman

Persamaan 2.1 Perhitungan Denyut Nadi ... II- 26

Persamaan 2.2 Energy Expenditure ... II- 27

Persamaan 2.3 Konsumsi Energi ... II- 28

Persamaan 2.4 Hubungan Stress dan Strain ... II- 31

Persamaan 2.5 Contact Lenght ... II- 34

Persamaan 2.6 Gaya Gesek ... II- 34

Persamaan 2.7 Radius ... II- 34

Persamaan 2.8 Defleksi ... II- 35

Persamaan 2.9 Radius dengan Defleksi ... II- 35

Persamaan 2.10 Regangan ... II- 36

Persamaan 2.11 Tegangan Alir Rata-rata ... II- 36

Persamaan 2.12 Gaya Rol... II- 36

Persamaan 2.13 Torsi Rol ... II- 36

Persamaan 2.14 Inersia Rotasi ... II- 36

Persamaan 2.15 Energi Kinetik Rol ... II- 36

Persamaan 2.16 Daya Pengerolan ... II- 37

Persamaan 2.17 Perbandingan Lengan Momen dengan Busur Kontak .... II- 38

Persamaan 2.18 Besarnya Torsi ... II- 38

Persamaan 2.19 Kerja Rol ... II- 38

(19)

commit to user

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1-1 Kuesioner Keluhan Tubuh Operator ... L1- 2

Lampiran 1-2 Pertanyaan Terbuka ... L1- 4

Lampiran 2-1 Tabel Koefisien Gesek ... L2- 9

Lampiran 2-2 Tabel Koefisien Kekuatan ... L2- 9

Lampiran 2-3 Hasil Pengujian Tarik ... L2- 10

Lampiran 2-4 Hasil Perhitungan Dimensi Komponen Rol ... L2- 10

Lampiran 4-1 Perhitungan Menggunakan Metode OMAX ... L4-1 Lampiran 4-2 Bentuk Kuesioner Persepsi ... L4-

(20)

commit to user

I-1

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini diuraikan beberapa hal pokok mengenai penelitian ini, yaitu

latar belakang penelitian, perumusan masalah yang diangkat, tujuan dan manfaat

penelitian yang dilakukan, batasan masalah dan asumsi, serta sistematika

pembahasan.

1.1 Latar Belakang Masalah

Konversi minyak tanah yang dilakukan pemerintah tahun 2008 menyebabkan

berkurangnya jumlah pengrajin kompor konvensional. Desa Semanggi yang

dulunya merupakan sentra home industry kompor minyak di Surakarta

mempunyai anggota sebanyak 30 industri, namun sekarang hanya 5 industri saja

yang mampu bertahan, salah satunya adalah CV. Bintang Mas. Sebelum adanya

konversi minyak tanah ke gas, home industry ini memproduksi dua jenis kompor

yaitu kompor untuk rumah tangga dan kompor untuk proses batik. Namun setelah

adanya konversi hanya kompor untuk proses batik saja yang masih diproduksi.

Kompor batik mempunyai prinsip yang sama dengan kompor minyak tanah

yang biasa digunakan dalam rumah tangga, namun dimensi ukurannya yang jauh

lebih kecil. Proses pembuatan kompor batik ini terdiri dari empat tahapan, yaitu

pembuatan komponen, penggabungan (assembly), pengecetan, dan finishing.

Semua proses yang dilakukan masih manual dengan mengandalkan manusia

sebagai penggerak utamanya.

Komponen pada kompor batik terdiri dari tiga bagian utama yaitu bagian

rangka, tempat sumbu, dan perapian. Bahan dasar pembuatan ketiga bagian ini

adalah daur ulang dari lembaran kaleng bekas, seng bekas, dan benang sisa

pintalan. Proses daur ulang bahan baku berupa kaleng dan seng bekas dilakukan

secara manual dengan mengandalkan kekuatan dua operator. Kaleng maupun seng

bekas dibongkar menjadi lembaran-lembaran dan dipotong sesuai ukuran mal

yaitu dengan lebar 25 cm dan dengan panjang yang bervariasi menyesuaikan

panjang bahan baku. Kemudian dilakukan proses perataan secara manual dengan

(21)

commit to user

I-2

bahan baku yang lurus dan permukaannya rata. Proses manual ini menimbulkan

kebisingan dan debu yang mengganggu aktivitas operator.

Berdasarkan hasil wawancara kepada dua operator yang sedang melakukan

aktivitas perataan bahan baku dan observasi ditemukan permasalahan yang

dikeluhkan operator. Permasalahan tersebut antara lain adalah posisi kerja pada

saat proses perataan bahan baku dengan cara ditempa yang menimbulkan keluhan

nyeri pada leher, bahu, punggung, pinggang, lengan, pergelangan tangan, lutut,

betis serta paha, tingkat kebisingan yang mengganggu operator, dan beban kerja

yang menyebabkan keluhan kelelahan operator.

Keluhan otot di beberapa bagian tubuh operator dikarenakan operator

membungkukkan badan pada proses perataan bahan baku dengan cara manual.

Hal ini dikarenakan aktivitas perataan bahan baku dilakukan di atas lantai dengan

posisi operator jongkok dan terkadang duduk pada balok kayu. Posisi duduk yang

tidak alamiah atau tidak ergonomis akan menimbulkan kontraksi otot secara

isometris (melawan tahanan) pada otot-otot utama yang terlibat dalam pekerjaan

(Sutajaya, 1997). Otot-otot punggung akan bekerja keras menahan beban anggota

gerak atas yang sedang melakukan pekerjaan. Akibatnya beban kerja bertumpu di

daerah pinggang dan menyebabkan otot pinggang sebagai penahan beban utama

akan mudah mengalami kelelahan dan selanjutnya akan terjadi nyeri pada otot

sekitar pinggang atau punggung bawah.

Penilaian terhadap permasalahan posisi kerja dilakukan dengan melakukan

wawancara dan pengamatan. Posisi kerja pada aktivitas perataan bahan baku

membungkuk dan menggunakan kaki sebagai penjepit bahan baku

memperlihatkan posisi kerja yang tidak dianjurkan dan memerlukan perbaikan.

Kebisingan yang ditimbulkan dari proses penemapaan bahan baku adalah sebesar

102 dB yang tidak sesuai dengan standar kebisingan yang diizinkan, sedangkan

beban kerja proses perataan bahan baku dengan cara manual menunjukkan berada

pada level heavy yang menunjukkan aktivitas kerja berada pada level yang

memerlukan perbaikan.

Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dibuat alat perata bahan baku

dengan menggunakan prinsip kerja rolling press. Pemilihan penggunaan mesin rol

(22)

commit to user

I-3

menurut Warsono (2003) mesin rol jauh lebih mudah baik cara pengoperasiannya

dan pengadaannya. Mesin rol dapat dioperasikan dengan menggunakan daya yang

rendah atau manual selain itu rol mampu mengurangi tingkat kebisingan, tidak

berpotensi menimbulkan debu selama proses pengerolan, dan dapat mempercepat

proses perataan tanpa memerlukan biaya yang besar sekaligus tidak memerlukan

tempat yang luas. Hal ini juga sebagai upaya untuk mengurangi keluhan-keluhan

yang dirasakan oleh operator selama proses perataan bahan baku dan memenuhi

semua kebutuhan operator atas keberadaan sebuah rancangan alat perataan

lembaran bahan baku yang sesuai dengan harapan operator.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan

masalah dari penelitian ini yaitu bagaimana merancang alat rol perataan bahan

baku yang dapat memperbaiki posisi kerja mengurangi level kebisingan dan

menurunkan beban kerja operator.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu menghasilkan rancangan

rol perataan bahan baku yang dapat memperbaiki posisi kerja operator,

mengurangi kebisingan, dan menurunkan beban kerja operator.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat mempermudah

proses perataan bahan baku dan memberikan lingkungan kerja yang lebih nyaman

pada industri kompor CV. Bintang Mas.

1.5 Batasan Masalah

Batasan yang digunakan adalah jenis material yang dipakai sebagai acuan

pembuatan rancangan alat perata bahan baku adalah material logam seng dan

(23)

commit to user

I-4

1.6 Sistematika Penelitian

Sistematika penulisan dibuat agar dapat memudahkan pembahasan

penyelesaian masalah dalam penelitian ini. Penjelasan mengenai sistematika

penulisan, sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan berbagai hal mengenai latar belakang penelitian,

perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan

masalah, asumsi-asumsi, dan sistematika penulisan yang digunakan

dalam penelitian mengenai perancangan alat untuk proses perataan

bahan baku di home industry CV. Bintang Mas.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan teori-teori yang akan dipakai untuk mendukung

penelitian, sehingga perhitungan dan analisis dilakukan secara teoritis.

Tinjauan pustaka diambil dari berbagai sumber yang berkaitan

langsung dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi tahapan yang dilalui dalam penyelesaian masalah secara

umum yang berupa gambaran terstruktur dalam bentuk flowchart

sesuai dengan permasalahan yang ada mulai dari studi pendahuluan,

pengumpulan data sampai dengan pengolahan data dan analisis.

BAB IV : PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Bab ini berisi data-data dan informasi yang diperlukan untuk

menganalisis permasalahan, kemudian dilakukan pengolahan data

secara bertahap berdasarkan metodologi yang telah ditentukan.

BAB V : ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

Bab ini memuat uraian analisis dan intepretasi dari hasil pengolahan

(24)

commit to user

I-5 BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini menguraikan kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan

(25)

commit to user

II-1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini membahas mengenai konsep dan teori yang digunakan dalam

penelitian, sebagai landasan dan dasar pemikiran untuk membahas serta

menganalisa permasalahan yang ada.

2.1 Gambaran Umum CV.Bintang Mas

Pada subbab ini akan dijelaskan tentang prospektif pengusaha, jenis produk

kompor yang diproduksi, bahan baku, peralatan, dan pembuatan kompor di home

industry CV. Bintang Mas yang ada berlokasi di daerah Semanggi, Surakarta.

2.1.1 Prospektif Pengusaha

Home industry CV. Bintang Mas merupakan salah satu home industry yang

bergerak di bidang pembuatan kompor minyak tanah. Home industry ini didirikan

oleh pemiliknya yakni Bapak Redjo tahun 1966 yang berlokasi di Jalan Serayu

no.10 RT.03 RW.XVII Semanggi, Surakarta. Home industry ini bermula dari

sekelompok pemuda kreatif di sekitar daerah Semanggi yang mendirikan

perkumpulan bagi orang-orang yang memproduksi kompor minyak tanah dan

kompor batik. Perkumpulan ini pada awalnya terdiri dari 30-an anggota, namun

lambat laun seiring dengan perkembangan teknologi jumlah anggotanya semakin

menurun hingga 15 orang. Ini dikarenakan adanya konversi minyak tanah yang

dilakukan pemerintah. Sehingga banyak yang pesimis untuk melanjutkan usaha

pembuatan kompor tersebut. Dengan berbekal keyakinan bahwa selama masih ada

minyak tanah Bapak Redjo beserta anggota-anggota yang lain yakin bahwa

kompor produksi mereka akan tetap laku di pasaran.

Awalnya home industry ini melibatkan 30 karyawan yang bekerja 6 hari

selama satu minggu, namun seiring dengan adanya konversi minyak tanah

menjadi gas jumlah pekerja saat ini hanya tinggal 8 orang saja. Produk yang

dihasilkan saat ini hanya kompor untuk batik, tidak lagi memproduksi kompor

untuk rumah tangga. Setiap harinya produk kompor batik yang dihasilkan sekitar

200 buah kompor. Setiap karyawan bisa malakukan semua jenis pekerjaan mulai

(26)

commit to user

II-2

tidak terkhususkan hanya untuk satu jenis pekerjaan saja. Mereka memiliki jam

kerja selama 8 jam, mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00 dengan waktu istirahat

selama 1 jam pada pukul 12.00 hingga pukul 13.00 (CV. Bintang Mas, 2010).

2.1.2 Jenis Produk Kompor yang Diproduksi

Kompor yang diproduksi home industry CV. Bintang Mas merupakan

kompor khusus untuk pembuatan batik tulis. Kompor ini mempunyai ukuran yang

berbeda dengan kompor rumah tangga, namun mempunyai kemiripan bentuk.

(a) (b)

Gambar 2.1 Contoh Kompor Batik yang Diproduksi CV. Bintang Mas;

(a) Kompor Batik Tampak Atas (b) Kompor Batik Tampak Samping

2.1.3 Bahan Baku Pembuatan Kompor Batik

Berdasarkan hasil observasi di CV. Bintang Mas, kompor batik yang

diproduksi terbuat dari bahan-bahan bekas yang kemudian didaur ulang. Kompor

ini terbuat dari dua bahan baku utama yaitu kaleng atau seng bekas dan juga

benang sisa pemintalan. Sedangkan bahan baku pembantu adalah cat dan juga

paku keling. Kaleng atau seng bekas digunakan sebagai bahan baku pembuatan

rangka kompor, benang digunakan sebagai sumbu kompor batik, paku keling

sebagai penyambung antar komponen, sedangkan cat adalah untuk melapisi

rangka kompor batik agar terlihat baik dan menarik. Bahan baku kaleng bekas dan

seng bekas diperoleh dari beberapa agen barang bekas di sekitar Surakarta.

(27)

commit to user

II-3

2.1.4 Peralatan Pembuatan Kompor Batik

Kompor batik ini dibuat dengan peralatan yang sederhana. Adapun

peralatan yang digunakan adalah palu untuk alat untuk perataan permukaan bahan

baku, gunting, rol tabung sumbu, pembesaran diameter tabung sumbu, dan alat

untuk proses keling. Fungsi masing-masing alat, yaitu:

1. Palu

Alat ini berfungsi untuk menempa bahan baku yang berupa seng dan

kaleng bekas untuk meratakan permukaannya.

Gambar 2.2 Palu Untuk Meratakan Bahan Baku Seng dan Kaleng Bekas di CV. Bintang Mas

2. Gunting

Alat ini berfungsi untuk menggunting lembaran bahan baku menjadi

bagian-bagian yang lebih kecil sesuai dengan kebutuhan.

Gambar 2.3 Gunting Besi untuk Memotong Bahan Baku

Seng dan Kaleng Bekas di CV. Bintang Mas

3. Alat Rol Tabung Sumbu

Alat ini berfungsi untuk mencetak lembaran bahan baku menjadi tabung

(28)

commit to user

II-4

Gambar 2.4 Alat Pencetak Tabung Sumbu di CV. Bintang Mas

4. Alat Bantu Proses Keling

Alat ini digunakan untuk membantu proses keling, ini digunakan sebagai

alas untuk proses tersebut, sedangkan untuk penempaannya menggukan

palu.

(a) (b)

Gambar 2.5 Alat (a)Landasan Untuk Proses Keling (b) Palu Untuk Penempa Untuk Proses Keling

2.1.5 ProsesProduksi Kompor Batik

Urutan proses produksi kompor batik pada CV. Bintang Mas adalah sebagai berikut:

1. Pemotongan bahan baku

Pada proses ini bahan baku kerangka kompor berupa kaleng dan seng

bekas dibongkar dan dipotong agar dapar manjadi lembaran bahan

baku. Pemotongan dilakukan dengan dimensi lebar 25 cm dengan

panjang tergantung dari masing-masing panjang dari bahan baku.

2. Perataan bahan baku

Pada proses ini, kaleng dan seng bekas yang sudah menjadi lembaran

kemudaian diratakan permukannya dengan cara ditempa dengan

(29)

commit to user

II-5

3. Pemotongan menjadi bagian yang lebih kecil

Proses pemotongan ini dilakukan pada bahan baku yang sudah

mempunyai permukaan yang rata. Bahan baku dipotong untuk bagiann

kecil lainnya, yaitu untuk tabung sumbu, ring atas, dan kaki kompor.

4. Proses pembentukam

Proses pembentukan disini ada beberapa macam karena bagian kompor

sendiri terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu bagian badan sumbu,

perapian dan kerangka. Untuk proses pembuatan bagian kerangka,

bahan baku yang sudah dipotongi sesuai dengan ukuran part yang akan

dibuat kemudian diproses untuk menghasilkan tabung minyak, kaki

kompor, dan ring atas. Sedangkan untuk bagian sumbu proses

pembentukannya adalah membuat tabung sumbu dengan tiga ukuran

yang berbeda, ring atas dan bawah. Untuk sumbu sendiri prosesnya

adalah manual dengan menggunakan tenaga tangan manusia untuk

memilin benang-benang sisa textile menjadi panjang dan dapat

dimanfaatkan untuk sumbu.

Untuk bagian-bagian perapian sebagian besar tidak diproses sendiri,

melainkan menggunakan jasa dari luar home industry tersebut.

Contohnya adalah piringan, kenir, pekaser, dan kerostin.

5. Perakitan awal

Pada proses ini semua part-part yang telah dibuat maupun didatangkan

dari home industry lain dirakit menjadi satu kesatuan. Tujuannya untuk

merakit part-part penyusun dari masing-masing bagian kompor. Untuk

bagian kerangka kompor bagian yang dirakit adalah tabung minyak, 3

kaki dan ring atas. Kemudian untuk bagian badan sumbu adalah merakit

tabung-tabung sumbu dengan piringan, ring atas, ring bawah, dan juga

memasukkan sumbu pada tabung sumbu.

6. Pengecetan

Pada proses ini yang mengalami pengecetan hanya bagian badan

kompor, sedangkan untuk badan sumbu tidak mengalami proses

(30)

commit to user

II-6

7. Perakitan

Pada proses ini dua bagaian dari kompor yaitu rangka dan badan sumbu

yang telah terangkai kemudian disatukan dengan bagian ketiga yaitu

bagian perapian yang terdiri dari piringan, kenir, pekaser, dan kerostin

8. Finishing

Pada proses ini adalah proses pemeriksaan kompor yang sudah siap

dikirim, apakah fungsi pembesar dan pengecil api berfungsi dengan baik

dan apakah sumbu dapat naik turun dengan mudah. Kompor yang lolos

proses pemeriksaan kemudian dilabeli dan dipak setiap 10 kompor.

2.2 PENGERTIAN ERGONOMI

Ergonomi berasal dari kata Yunani yaitu ergon berarti “kerja” dan nomos

berarti “hukum”. Ergonomi ialah cabang ilmu yang sistematis untuk

memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan

manusia merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja

pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui

pekerjaan itu dengan efektif, aman, dan nyaman (Sutalaksana, dkk., 2006).

Menurut Bridger (2003), ergonomi adalah ilmu yang mempelajari interaksi

antara manusia dan mesin dan faktor yang mempengaruhi interaksi. Tujuannya

adalah untuk meningkatkan interaksi kinerja sistem dengan memperbaiki mesin

manusia. Ini dapat dilakukan dengan “merancang-masukan” interface yang lebih

baik atau dengan 'merancang-keluaran' faktor dalam lingkungan kerja, dalam

tugas atau dalam organisasi kerja yang mendegradasi kinerja manusia-mesin.

Selain pengertian diatas ada pengertian lain yang menyatakan bahwa disiplin

ergonomi adalah suatu cabang keilmuan yang sistematis untuk memanfaatkan

informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk

merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem

dengan baik untuk mencapai tujuan yang dinginkan melalui pekerjaan dengan

efektif, efesien, aman, dan nyaman. Pokok-pokok mengenai disiplin ergonomi,

sebagai berikut (Wignjosoebroto, 1995) :

1. Fokus ergonomi adalah berkaitan erat dengan aspek-aspek manusia

didalam perencanaan "Man Made Object" dan lingkungan kerja. Secara

(31)

commit to user

II-7

tercipta produk, sistem atau lingkungan kerja yang sesuai dengan

manusia.

2. Ergonomi sebagai "A Dicipline Concered" yaitu pendekatan ergonomi

akan mampu menimbulkan "Fungtional Effetiveness" dan kenikmatan

pemakai dan peralatan, fasilitas maupun lingkungan kerja yang

dirancang.

3. Maksud dan tujuan dari pendekatan disiplin ergonomi diarahkan pada

uapaya memperbaiki performansi kerja manusia seperti menambah

kecepatan kerja, accuracy (ketetapan), keselamatan kerja, dan untuk

mengurangi kelelahan.

4. Pendekatan khusus disiplin ergonomi adalah aplikasi yang sistematis

dari informasi yang berkaitan dengan karateristik dan perilaku manusia

dalam perancangan alat, fasilitas dan lingkungan kerja yang dipakai.

Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi (Tarwaka, dkk., 2004), yaitu:

1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan

cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik, dan

mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak

sosial, mengelola, dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan

meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif

maupun setelah tidak produktif.

3. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek

teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang

dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

2.3 Desain dan Ergonomi

Manusia dalam kehidupan sehari-harinya akan banyak menggunakan

berbagai macam produk, mesin maupun peralatan kerja untuk memenuhi

kebutuhannya. Manusia merupakan komponen yang penting untuk setiap sistem

operasional (sistem manusia – mesin) yang berfungsi untuk menghasilkan sebuah

aktivitas kerja. Agar sistem tersebut bisa berfungsi baik, maka sub-sistem

(32)

commit to user

II-8

dengan yang lain. Hal ini tidak saja menyangkut komponen (elemen) yang berada

didalam sub-sistem mesin, tetapi juga menyangkut manusia yang akan

berinteraksi dengan sub-sistem mesin tersebut untuk membentuk sebuah sistem

manusia-mesin (man-machine system). Oleh karena itu seorang perancang produk

haruslah bisa mengintegrasikan semua aspek manusiawi tersebut dalam

karya-karya rancangannya dalam sebuah konsep “Human Integrated Design

(Wignjosoebroto, 2000).

Desain dapat diartikan sebagai salah satu aktivitas luas dari inovasi desain

dan teknologi yang digagaskan, dibuat, dipertukarkan (melalui transaksi jual-beli)

dan fungsional. Desain merupakan hasil kreativitas budi-daya (man-made object)

manusia yang diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang

memerlukan perencanaan, perancangan maupun pengembangan desain, yaitu

mulai dari tahap menggali ide atau gagasan, dilanjutkan dengan tahapan

pengembangan, konsep perancangan, sistem dan detail, pembuatan prototyp dan

proses produksi, evaluasi, dan berakhir dengan tahap pendistribusian. (Wardani,

2003).

Secara umum aplikasi konsep Human Integrated Design (HID) dapat

dijelaskan berdasarkan 2 (dua) prinsip yaitu : pertama, seorang perancang produk

harus menyadari benar bahwa faktor manusia akan menjadi kunci penentu sukses

didalam operasionalisasi sistem manusia-mesin (produk). Kedua, seorang

perancang produk harus juga menyadari bahwa setiap produk akan memerlukan

informasi-informasi detail dari semua faktor yang terkait dalam setiap proses

perancangan. (Wignjosoebroto, 2000).

Penerapan ergonomi dalam desain sistem harus membuat sistem kerja

lebih baik dengan menghilangkan aspek sistem yang berfungsi undesireable dan

tidak terkendali (Bridger, 2003), seperti :

1. Inefisiensi

2. Kelelahan

3. Kecelakaan, cedera dan kesalahan

4. Pengguna kesulitan

(33)

commit to user

II-9

Menurut Granjean (1982) dalam Wignjosoebroto (2000), fokus perhatian

dari sebuah kajian ergonomis akan mengarah ke upaya pencapaian sebuah

rancangan produk yang memenuhi persyaratan “fitting the task to the man”. Hal

ini berarti setiap rancangan sistem manusia-mesin (produk) yang akan dibuat

haruslah selalu dipikirkan untuk kepentingan (dalam arti keselamatan, keamanan,

maupun kenyamanan) manusia. Perancangan sebuah produk dengan memusatkan

perhatian pada aspek-aspek keunggulan teknologi memang juga penting, terutama

untuk meningkatkan kemampuan teknis-fungsional dari produk tersebut. Akan

tetapi performansi produk baru akan bisa maksimal dicapai bilamana terjadi

synergy process” pada saat terjadi interaksi timbal-balik yang serasi dan selaras dengan manusia-operator yang akan melayani, mengoperasikan, dan

mengendalikannya (Wignjosoebroto, 2000).

Pertimbangan ergonomis dalam proses perancangan produk yang paling

tampak nyata aplikasinya adalah melalui pemanfaatan data anthropometri

(ukuran tubuh) guna menetapkan dimensi ukuran geometris dari produk dan juga

bentuk-bentuk tertentu dari produk yang disesuaikan dengan ukuran maupun

bentuk (feature) tubuh manusia pemakainya. Data anthropometri yang

menyajikan informasi mengenai ukuran maupun bentuk dari berbagai anggota

tubuh manusia yang dibedakan berdasarkan usia, jenis kelamin, suku-bangsa

(etnis), posisi tubuh pada saat bekerja, dan sebagainya serta diklasifikasikan

dalam segmen populasi pemakai (persentile) perlu diakomodasikan dalam

penetapan dimensi ukuran produk yang akan dirancang (Wignjosoebroto, 2000).

2.4 Perancangan Dengan Metode Rasional

Metode rasional menggunakan pendekatan yang sistematis dalam

perancangan. Metode ini banyak digunakan dalam perancangan karena memiliki

tahapan yang jelas sehingga dapat memberikan hasil rancangan dan produk akhir

yang berkualitas (Cross, Nigel 1994). Adapun langkah-langkah metode rasional

antara lain :

2.4.1Clarifying Objectives

Tahap penting pertama dalam perancangan adalah bagaimana mencoba

(34)

commit to user

II-10

membantu pada keseluruhan tahap perancangan, bila tujuan perancangan sudah

jelas, walaupun tujuan itu dapat berubah selama proses perancangan. Tujuan awal

dan sementara dapat berubah, meluas atau menyempit, atau benar-benar berubah

asalkan permasalahan menjadi lebih dimengerti dan sepanjang penyelesaian

ide-ide dapat berkembang.

Clarifying objectives menunjukkan tujuan dan maksud umum untuk

pencapaian tujuan yang sedang dalam pertimbangan. Metode ini menunjukkan

bentuk diagramatis dimana tujuan-tujuan yang berbeda dihubungkan satu sama

lain, serta pola hirarki tujuan dan sub tujuan. Langkah-langkah pembuatan

clarifying objectives adalah sebagai berikut :

a. Menyiapkan daftar tujuan perancangan, dimana daftar tersebut diambil dari

ringkasan perancangan.

b. Menyusun daftar ke dalam kumpulan tujuan tingkat tinggi dan tingkat rendah.

Perluasan daftar tujuan dan sub tujuan secara kasar dapat dikelompokkan ke

dalam tingkatan hirarki.

c. Menggambarkan diagram clarifying objectives, hubungan hirarki dan garis

hubungannya.

2.4.2Establishing Function

Establishing functions bertujuan untuk menentukan fungsi-fungsi yang

dibutuhkan dan batasan sistem dari perancangan yang akan dilakukan.

Langkah-langkah pembuatan establishing functions adalah sebagai berikut :

a. Menunjukkan fungsi perancangan secara umum dalam perubahan input

menjadi output yang diinginkan.

b. Memecah fungsi umum menjadi sub fungsi dasar yang lebih spesifik.

c. Menggambarkan diagram blok yang menggambarkan interaksi antar sub-fungsi

dasar.

2.4.3Performance Specification

Performance specification bertujuan untuk membuat spesifikasi yang akurat

dari kebutuhan perancangan. Spesifikasi yang telah ditentukan oleh perancang

ditetapkan sebagai tujuan perancangan dengan mencantumkan kriteria-kriteria.

(35)

commit to user

II-11

a. Menimbang perbedaan tingkatan umum penyelesaian yang dapat diterima.

b. Menentukan tingkatan umum yang nantinya akan dioperasikan.

c. Mengidentifikasi atribut yang dibutuhkan.

d. Menyebutkan persyaratan yang diperlukan atribut dengan tepat dan teliti.

2.5 Manusia Mesin

Sistem manusia mesin adalah kombinasi antara satu atau beberapa manusia

dengan satu atau beberapa mesin dimana salah satu dengan yang lainnya akan

saling berinteraksi untuk menghasilkan keluaran-keluaran berdasarkan

masukan-masukan yang diperoleh (Wignjosoebroto, 1995). Dalam kaitannya dengan sistem

manusia mesin maka dikenal tiga macam hubungan yaitu:

1. Sistem Manusia-Mesin Hubungan Manual (Manual Man-Machine System)

Dalam sistem ini input akan langsung ditransformasikan oleh manusia

menjadi output. Disini manusia masih memegang kendali secara penuh

didalam melaksanakan aktivitasnya. Peralatan kerja yang ada hanyalah

sekedar menambah kemampuan atau kapabilitas dalam menyelesaikan

pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

2. Sistem Manusia-Mesin Hubungan Semi Otomatis (Semi Automatic Man-Machine System)

Adanya revolusi industri dan perkembangan teknologi maka telah

berhasil ditemukan berbagai mesin dan peralatan kerja yang semakin

kompleks. Tidak seperti halnya pada manual sistem maka dalam semi

automatic man-machine sistem akan ada mekanisme khusus yang akan

mengolah input atau informasi dari luar sebelum masuk kedalam sistem

kerja manusia dan demikian pula reaksi yang berasal dari sistem manusia

ini akan diolah atau dikontrol terlebih dahulu melewati suatu mekanisme

tertentu sebelum suatu output berhasil diproses. Sistem dimana mesin

akan memberikan power (tenaga) dan manusia akan melaksanakan fungsi

(36)

commit to user

II-12

3. Sistem Manusia-Mesin Hubungan Otomatis (Automatic Man-Machine System)

Pada sistem yang berlangsung secara otomatis, maka disini mesin akan

melaksanakan fungsi dua sekaligus yaitu menerima rangsangan dari luar

(sensing) dan pengendali aktivitas seperti umumnya yang dijumpai dalam

prosedur kerja yang normal. Fungsi operator disini hanyalah memonitor

dan menjaga agar supaya mesin tetap bekerja dengan baik serta

memasukkan data atau mengganti dengan program-program baru apabila

diperlukan.

Penyelidikan terhadap fungsi manusia-mesin adalah di dasarkan atas suatu

kenyataan bahwa antara manusia dan mesin masing-masing mempunyai kelebihan

dan kekurangan. Hal ini berarti ada pekerjaan yang lebih baik jika dikerjakan oleh

manusia dan sebaliknya ada pula pekerjaan lainnya yang mungkin akan lebih baik

bila pelaksanaannya dilakukan oleh dominasi mesin (Wignjosoebroto, 1995).

Dibandingkan dengan mesin, manusia sebagai komponen yang ada dalam

proses produksi akan memiliki beberapa keterbatasan-keterbatasan antara lain

(Wignjosoebroto, 1995) :

1. Tidak bisa menghasilkan tenaga fisik ataupun tekanan dalam jumlah

besar

2. Tidak bisa menggunakan kekuatan ototnya dengan intensitas yang tetap

dan akurasi yang tinggi

3. Tidak bisa menampilkan kecepatan kerja yang tinggi dan

gerakan-gerakan yang berulang tanpa kenal lelah, bosan maupun menimbulkan

kesalahan.

4. Tidak bisa melakukan analisa dan kalkulasi perhitungan

masalah-masalah yang terlalu kompleks secara cepat dan tepat.

5. Tidak bisa mengerjakan berbagai tugas yang berbeda-beda secara

serentak dalam kurun waktu yang relatif bersamaan.

6. Tidak bisa menyimpan dan memanggil/mengingat kembali sejumlah

data dalam jumlah besar secara tepat dan akurat.

7. Tidak bisa memberikan tanggapan secara cepat terhadap signal kendali

(37)

commit to user

II-13

8. Tidak bisa memberikan performans dan fungsi kerja secara memuaskan

bilamana kondisi lingkungan fisik kerja seperti panas, dingin, bising,

kelembaban, dan sebagainya berada diatas ambang batas

kesanggupannya.

Selanjutnya dibandingkan dengan manusia, mesin istilah ini juga dipakai

untuk menyebut fasilitas kerja lainnya yang non-human secara umum juga akan

memiliki keterbatasan-keterbatasan antara lain (Wignjosoebroto, 1995) :

1. Tidak bisa memberi tanggapan terhadap perintah-perintah yang diluar

batas kemampuan yang telah dirancang sebelumnya.

2. Tidak bisa memberi tanggapan terhadap kejadian-kejadian yang tidak

diramalkan sebelumnya.

3. tidak bisa berfikir induktif yaitu menarik kesimpulan umum dari hal-hal

yang bersifat khusus.

4. Tidak bisa berfikir kreatif seperti menggambarkan cara/pola baru dalam

melaksanakan aktivitas operational.

5. Tidak bisa bertindak fleksibel seperti menggunakan alternatif-alternatif

baru yang tidak dirancang/diprogramkan sebelumnya.

6. Tidak bisa berfungsi secara layak diluar batas beban atas kapasitas

normalnya.

2.6 Anthropometri

Menurut Pheasant (1998) dalam Wardani (2003), athropometri berasal dari

kata antropos yang berarti manusia, dan metrikos yang berarti pengukuran.

Sehingga anthropometri diartikan sebagai suatu ilmu yang secara khusus

berkaitan dengan pengukuran tubuh manusia yang digunakan untuk menentukan

perbedaan pada individu, kelompok, dan sebagainya. Perbandingan fungsional

individual orang dewasa dan anak-anak dapat diketahui dengan sistem proporsi

anthromorfis didasarkan pada dimensi-dimensi tubuh manusia. Salah satu caranya

adalah dengan mengukur tubuh dalam berbagai posisi standard dan tidak bergerak

(static anthropometry), serta saat melakukan gerakan tertentu yang berkaitan

dengan kegiatan yang harus diselesaikan (dynamic anthropometry). Misalnya,

perancangan kursi mobil (gerakan mengoperasikan kemudi, pedal, tangkai

(38)

commit to user

II-14

bentuk range/rentangan gerakan, kekuatan, ketahanan, kecepatan, dan ketelitian

(Wardani, 2003).

Data anthropometri ini menyajikan informasi mengenai ukuran tubuh

manusia, yang dibedakan berdasarkan usia, jenis kelamin, suku bangsa (etnis),

posisi tubuh saat beraktivitas, dan sebagainya, serta diklasifikasikan dalam

segmen populasi pemakai, perlu diakomodasikan dalam penetapan dimensi

ukuran produk desain yang dirancang guna menghasilkan kualitas rancangan yang

tailor made dan memenuhi persyaratan fittness for use (Wignjosoebroto, 2000).

Anthropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi

tubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan

ukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampai

terbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1 percentile

sampai 100 percentile. Data dimensi manusia ini sangat berguna dalam

perancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan manusia

yang memakainya. Pemakaian data anthropometri mengusahakan semua alat

disesuaikan dengan kemampuan manusia, bukan manusia disesuaikan dengan alat.

Rancangan yang mempunyai kompatibilitas tinggi dengan manusia yang

memakainya sangat penting untuk mengurangi timbulnya bahaya akibat terjadinya

kesalahan kerja akibat adanya kesalahan disain (design-induced error)

(Liliana, 2007).

Data anthropometri yang ada dibedakan menjadi dua kategori, (Pullat,1992),

yaitu:

1. Dimensi struktural (statis),

Dimensi struktural ini mencakup pengukuran dimensi tubuh pada posisi

tetap dan standar. Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap

meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri, maupun duduk,

ukuran kepala, tinggi atau panjang lutut berdiri maupun duduk, panjang

lengan, dan sebagainya.

2. Dimensi fungsional (dinamis),

Hal pokok yang ditekankan pada pengukuran dimensi fungsional tubuh

(39)

gerakan-commit to user

II-15

gerakan nyata yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan

tertentu.

Data anthropometri dapat diaplikasikan dalam beberapa hal,

(Wignjosoebroto, 1995) yaitu:

1. Perancangan area kerja

2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, perkakas dan sebagainya

3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja

komputer, dan lain-lain

4. Perancangan lingkungan kerja fisik

Perbedaan antara satu populasi dengan populasi yang lain adalah

dikarenakan oleh faktor-faktor (Nurmianto, 2004), sebagai berikut:

1. Keacakan/random

2. Jenis kelamin

3. Suku bangsa

4. Usia

5. Jenis pekerjaan

6. Pakaian

7. Faktor kehamilan pada wanita

8. Cacat tubuh secara fisik

Pengukuran dimensi struktur tubuh yang biasa diambil dalam perancangan

produk maupun fasilitas dapat dilihat pada gambar 2.6 di bawah ini.

Gambar 2.6 Anthropometri Untuk Perancangan Produk Atau Fasilitas

(40)

commit to user

II-16 Keterangan gambar 2.6, yaitu:

1 : Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai sampai dengan ujung

kepala).

2 : Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak.

3 : Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak.

4 : Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus).

5 : Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam

gambar tidak ditunjukkan).

6 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk (di ukur dari alas tempat duduk pantat

sampai dengan kepala).

7 : Tinggi mata dalam posisi duduk.

8 : Tinggi bahu dalam posisi duduk.

9 : Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus).

10 : Tebal atau lebar paha.

11 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan. ujung lutut.

12 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari

lutut betis.

13 : Tinggi lutut yang bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk.

14 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang di ukur dari lantai sampai dengan

paha.

15 : Lebar dari bahu (bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk).

16 : Lebar pinggul ataupun pantat.

17 : Lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak ditunjukkan

21 : Panjang tangan di ukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari.

22 : Lebar telapak tangan.

23 : Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar kesamping kiri kanan

(41)

commit to user

II-17

24 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak.

25 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak.

26 : Jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan di ukur dari bahu sampai

dengan ujung jari tangan.

27 : Tinggi dalam posisi berdiri dari ujung kaki hingga pantat bagian bawah.

2.7 Postur Kerja

Postur ditandai dengan mengukur hubungan sudut antara berbagai

menghubungkan tubuh dan tetap kerangka acuan. Kerangka acuan yang paling

intuitif adalah segmen lain badan utama, seperti sebagai lengan untuk postur

pergelangan tangan atau batang tubuh untuk postur leher. Namun, beberapa sistem

menggunakan referensi jenis lainnya, seperti cakrawala. Tindakan mencakup

besar dan durasi postur tertentu (MacLeod, 2000).

Menurut MacLeod (2000), postur netral adalah posisi optimal tiap sendi

yang menyediakan kekuatan paling besar, kontrol gerakan yang paling atas, dan

stres fisik paling kecil pada sendi dan jaringan di sekitarnya. Secara umum, posisi

ini sudah dekat titik tengah dari berbagai macam gerakan, yaitu posisi di mana

otot-otot sekitar sendi seimbang dan santai. Ada pengecualian penting untuk

aturan titik-titik tengah ini. Contohnya adalah postur lengan yang dipengaruhi

oleh gravitasi, dan lutut yang berfungsi dengan baik dekat posisi

perpanjangannya.

2.8 Metode Rapid Entire Body Assessment (REBA)

Menurut McAtamney dan Hignett (2000), REBA dikembangkan untuk

menilai jenis postur kerja tak terduga yang ditemukan di industri jasa layanan

kesehatan dan lainnya. Data dikumpulkan tentang postur tubuh, kekuatan

digunakan, jenis gerakan atau tindakan, dan kopling. REBA skor akhir ini

dihasilkan untuk memberikan indikasi dari levl risiko dan urgensi yang bahu

tindakan diambil.

Metode ini mengharuskan pengamat untuk mengkategorikan postur segmen

tubuh individu untuk tingkat perpindahan dari sudut netral. Awalnya, metode

REBA dapat digunakan untuk mengukur perbedaan postur antara kondisi yang

(42)

commit to user

II-18

sehubungan terhadap tingkat stres tempat pada tubuh, dan menggunakan nilai

REBA sebagai indikasi kelayakan postur (Knight et al, 2010) .

REBA merupakan suatu metode penilaian postur untuk menilai faktor resiko

gangguan tubuh keseluruhan (McAtamney dan Hignett, 2000). Untuk

masing-masing tugas (task), menilai faktor postur tubuh dengan penilaian pada

masing-masing grup yang terdiri atas 2 grup, yaitu:

1. Grup A terdiri atas postur tubuh atas dan bawah batang tubuh (trunk), Leher

(neck), dan kaki (legs)

2. Grup B terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri dari lengan atas (upper arm),

lengan bawah (lower arm), dan pergelangan tangan (wrist).

Pada masing-masing grup, diberikan suatu skala skor postur tubuh dan suatu

pernyataan tambahan. Diberikan juga faktor beban/ kekuatan dan kopling

(coupling). Dengan melihat pada tabel penilaian untuk masing-masing postur,

tabel A untuk grup A, dan tabel B untuk grup B. skor A adalah jumlah dari hasil

pada tabel A dan skor beban/ kekuatan. Skor B adalah jumlah skor dari tabel B

dan skor kopling untuk masing-masing tangan. Skor C dibaca dari tabel C dengan

memasukkan skor A dan skor B, sehingga diperoleh skor REBA dengan jumlah

dari skor C dan skor tindakan. Akhirnya diperoleh suatu hasil berupa tingkatan

level resiko.

Grup A

1. Batang tubuh (trunk)

Gambar 2.7 Postur Tubuh Bagian Batang Tubuh (trunk)

(43)

commit to user

II-19

Tabel 2.1 Skor Batang Tubuh (trunk)

Locate Trunk Position Score Adjustment

Posisi normal (tegak lurus) 1

+1 jika batang tubuh

berputar/bengkok/bungkuk

0-200 (ke depan maupun

belakang)

2

<200 atau 200 - 600 3

>600 4

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

2. Leher (neck)

Gambar 2.8 Postur Tubuh Bagian Leher (neck)

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

Tabel 2.2 Skor Leher (neck)

Locate Neck Position Score Adjustment

100 - 200 1 +1 jika leher

berputar/bengkok

>200 (ke depan maupun belakang) 2

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

3. Kaki (legs)

Gambar 2.9 Postur Tubuh Bagian Kaki (leg)

(44)

commit to user

II-20

Tabel 2.3 Skor Kaki (leg)

Locate Legs Position Score Adjustment

Posisi normal/seimbang

(berjalan/duduk)

1

+1 jika lutut antara 300– 600

+2 jika lutut > 600

Bertumpu pada satu kaki lurus 2

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

4. Beban (load)

Tabel 2.4 Skor Beban (load)

Load Score Adjustment

< 5 kg 0

Gambar 2.10 Postur Tubuh Bagian Lengan Atas (upper arm)

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

Tabel 2.5 Skor Lengan Atas(upper arm)

Locate Upper Arm Position Score Adjustment

(45)

commit to user

II-21

2. Lengan bawah (lower arm)

Gambar 2.11 Postur Tubuh Bagian Lengan Bawah(lower arm)

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

Tabel 2.6 Skor Lengan Bawah (lower arm)

Locate Lower Arm Position Score

600– 1000 1

<600 atau >1000 2

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

3. Pergelangan tangan (wrist)

Gambar 2.12 Postur Tubuh Bagian Pergelangan Tangan (wrist)

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

Tabel 2.7 Skor Pergelangan Tangan (wrist)

Locate Lower Arm Position Score Adjustment

00– 150 (ke atas maupun ke bawah) 1 +1 jika pergelangan tangan

berputar menjauhi sisi tengah

>150 (ke atas maupun ke bawah) 2

(46)

commit to user

II-22 Adjustment

Kopling (coupling)

Tabel 2.8 Skor Coupling

Coupling Score Keterangan

Baik 0 Kekuatan pegangan baik

Sedang 1 Pegangan bagus tapi tidak ideal atau

kopling cocok dengan bagian tubuh

Kurang baik 2 Pegangan tangan tidak sesuai walaupun

mungkin

Tidak dapat diterima 3 Kaku, pegangan tidak nyaman, tidak ada

pegangan atau kopling tidak sesuai dengan

bagian tubuh

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

Tabel 2.9 Pembobotan Untuk Grup A

(47)

commit to user

II-23

Tabel 2.10 Pembobotan Untuk Grup B

Table B Uper Arm

Tabel 2.11 Perolehan Skor C

Table C Score A

Tabel 2.12 Skor Aktivitas REBA

Aktivitas Score Keterangan

Postur Statik 1 1 atau lebih bagian tubuh statis/diam

Pengulangan 1 Tindakan berulang-ulang

Ketidakstabilan 1 Tindakan menyebabkan jarak yang

besar dan cepat pada postur (tidak stabil)

(48)

commit to user

II-24

Gambar 2.13 Sistem Penilaian REBA

Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000

Tabel 2.13 Nilai Level Tindakan REBA

Nilai REBA Level Resiko Level Tindakan Tindakan

1 Dapat

diabaikan 0 Tidak diperlukan perbaikan

2-3 Kecil 1 Mungkin memerlukan

perbaikan

4-7 Sedang 2 Perlu dilakukan perbaikan

8-10 Tinggi 3 Segera dilakukan

perbaikan

> 11 Sangat tinggi 4 Dilakukan perbaikan

sekarang juga

(49)

commit to user

II-25

2.9 Perancangan Produk

Perancangan adalah suatu proses yang bertujuan untuk menganalisa,

menilai, memperbaiki dan menyusun suatu sistem, baik secara fisik maupun

nonfisik yang optimum untuk waktu yang akan datang dengan memanfaatkan

informasi yang ada (Lazuardy, 2009).

Perancangan suatu alat termasuk dalam metode teknik, dengan demikian

langkah-langkah pembuatan perancangan akan mengikuti metode Merris Asimow

yang menerangkan bahwa perancangan teknik adalah suatu aktivitas dengan

maksud tertentu menuju ke arah tujuan pemenuhan kebutuhan manusia. Dari

definisi tersebut terdapat tiga hal yang harus di perhatikan dalam perancangan

antara lain (Lazuardy, 2009):

1. Aktivitas untuk maksud tertentu

2. Sasaran pada pemenuhan kebutuhan manusia

3. Berdasarkan pada pertimbangan teknologi

Prosedur perancangan yang merupakan tahapan umum teknik perancangan

dikenal dengan sebutan NIDA, yang merupakan kepanjangan dari need, idea,

decision, and action. Artinya tahap pertama seorang perancang menetapkan dan

mengidentifikasikan kebutuhan (need), sehubungan dengan alat atau produk yang

harus dirancang. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan ide-ide (idea)

yang melahirkan berbagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan tadi. Dilakukan

suatu penilaian dan penganalisaan terhadap berbagai alternatif yang ada, sehingga

perancang dapat memutuskan (decision) suatu alternatif terbaik. Hasil rancangan

yang dibuat dituntut dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi

pemakai (Lazuardy, 2009).

2.10 Pengukuran Kerja Fisik

Penilaian beban kerja fisik dapat dilakukan dengan dua metode secara

objektif, yaitu metode penilaian secara langsung dan tidak langsung (Tarwaka,

2004). Metode pengukuran langsung yaitu melalui pengukuran energi ekspenditur

(energi yang dikeluarkan) melalui asupan oksigen selama bekerja. Semakin berat

beban kerja semakin banyak energi yang dikonsumsi. Penilaian beban kerja fisik

secara tidak langsung dilakukan dengan menggunakan denyut nadi selama

(50)

commit to user

II-26

1. Penilaian beban kerja fisik dengan menggunakan denyut jantung

Denyut jantung adalah suatu alat estimasi laju metabolisme yang baik,

kecuali dalam keadaan emosi dan vasodilatasi (Tarwaka, 2004). Kategori berat

ringannya berdasarkan pada denyut jantung dapat dilihat pada Tabel 2.14 berikut

ini.

Tabel 2.14 Klasifikasi Beban Kerja Fisik

Tingkat Pekerjan

Pengukuran denyut jantung selama kerja merupakan suatu metode untuk

menilai cardiovasculair strain. Salah satu peralatan yang dapat digunakan untuk

menghitung denyut jantung adalah telemetri dengan menggunakan rangsangan

Electro Cardio Graph (ECG). Apabila peralatan tersebut tidak tersedia maka

dapat dicatat secara manual memakai stopwatch dengan metode 10 denyut

(Tarwaka, 2004),. Dalam penelitian ini, denyut yang diukur adalah denyut nadi

karena untuk kemudahan pengukuran. Metode 10 denyut dilakukan dengan

mengukur waktu yang diperlukan nadi untuk berdetak selama 10 detik, kemudian

dikonversi dengan menggunakan formula, sebagai berikut:

Denyut nadi (denyut/menit) = 60

10

dilakukan dengan menggunakan metode 15 detik maupun 30 detik. Keuntungan

menggunakan denyut nadi untuk menentukan beban kerja yaitu mudah dilakukan,

cepat, dan hasilnya dapat diandalkan. Hal tersebut didasarkan pada pendapat E.

Grandjean (1993) dalam Tarwaka (2004), yang menjelaskan bahwa konsumsi

energi sendiri tidak cukup untuk mengestimasi beban kerja fisik. Beban kerja fisik

tidak hanya dapat ditentukan dengan menggunakan jumlah KJ yang dikonsumsi,

tetapi juga jumlah otot yang terlibat dan beban statis yang diterima dan tekanan

Gambar

gambar tidak ditunjukkan).
tabel A untuk grup A, dan tabel B untuk grup B. skor A adalah jumlah dari hasil
Tabel 2.1 Skor Batang Tubuh (trunk)
Gambar 2.10 Postur Tubuh Bagian Lengan Atas (upper arm)                           Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
+7

Referensi

Dokumen terkait