Kata Pengantar
Menjelang tahun ajaran baru, selalu ada euforia penerimaan mahasiswa baru berbarengan dengan prosesi wisuda bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya di perguruan tinggi. Setiap anak dari seluruh penjuru Indonesia berjuang dan bersaing membawa mimpi besar akan sebuah cita-cita serta harapan keluarganya untuk dapat berkuliah di Perguruan Tinggi impian. Di sisi lain, masyarakat menaruh harapan besar kepada para wisudawan agar dapat membaktikan ilmu yang didapat untuk menyelesaikan segala persoalan di negara ini.
Namun, realitas tak selalu sejalan dengan harapan. Dengan kuota penerimaan yang terbatas dan animo pendaftar yang tinggi, otomatis persaingan masuk perguruan tinggi semakin ketat setiap tahunnya. Sementara ekspektasi para wisudawan untuk hidup mapan setelah lulus tak kunjung terealisasi akibat tidak tersedianya lapangan kerja. Para lulusan yang disiapkan menjadi tenaga ahli yang siap kerja justru menjadi pengangguran terdidik dan menciptakan problematika baru. Menarik untuk meninjau sejauh mana Perguruan Tinggi dapat berperan menyikapi kondisi dilematis tersebut.
Akhir kata, saya berterima kasih kepada penulis atas kesediaannya menuangkan ide dan pemikirannya serta tak lupa mengapresiasi setinggi-tingginya segala usaha dan waktu yang telah diberikan sehingga kajian ini dapat diselesaikan tepat waktu. Semoga rilis kajian ini bisa memberi manfaat, menyajikan perspektif baru, dan menambah wawasan baru bagi para pembaca.
Tangerang, 8 Agustus 2020 Kepala Divisi Kajian dan Penelitian Hukum
Muhammad Fadhil Pratomo
DAFTAR ISI
Kata Pengantar………...1
BAB I : Pendahuluan A. Latar Belakang……….3
B. Fungsi Pendidikan Tinggi………4
BAB II : Isi A. Tata Pendidikan di Perguruan Tinggi………..6
B. Fenomena Pengangguran Terdidik di Indonesia……….9
C. Pengaruh Pendidikan Vokasional terhadap Kualitas SDM ………..18
D. Penguatan Kualitas Lulusan oleh Perguruan Tinggi………..21
BAB III : Penutup A. Kesimpulan……….30
B. Saran………...30
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam sistem pendidikan di Indonesia dikenal program Wajib Belajar. Merujuk pada UU Sistem Pendidikan Nasional, Wajib Belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh Warga Negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah.1 Merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 19 Tahun
2016 tentang Program Indonesia Pintar, disebutkan bahwa Program Indonesia Pintar/PIP bertujuan meningkatkan akses bagi anak usia 6 (enam) sampai dengan 21 (dua puluh satu) tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah dalam rangka mendukung pelaksanaan pendidikan menengah universal/rintisan wajib belajar 12 (dua belas) tahun.2
Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan wajib belajar 12 tahun yaitu setelah menyelesaikan sekolah menengah, ada sebagian orang yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia.3
Pendidikan tinggi terdiri atas pendidikan akademis, pendidikan vokasi, dan pendidikan profesi. Pendidikan akademis mengarahkan mahasiswanya untuk menguasai dan mengembangkan cabang ilmu pengetahuannya, melalui program sarjana, pascasarjana, dan doktor. Pendidikan vokasi mengarahkan mahasiswanya untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja dengan keahlian tertentu, melalui program diploma, magister terapan, dan doktor terapan. Sedangkan pendidikan profesi mengarahkan mahasiswanya untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja dengan keahlian khusus, melalui program profesi dan spesialis. Walaupun memiliki perbedaan bentuk, ketiganya saling melengkapi dan memiliki tujuan pengabdian masyarakat.
1 Indonesia, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 20 Tahun 2003.
2 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Permendikbud RI Program Indonesia Pintar, Permendikbud RI No. 19 Tahun 2016.
3 Indonesia, Undang-Undang Pendidikan Tinggi, UU No. 12 Tahun 2012.
B.
Fungsi Pendidikan Tinggi
Undang-Undang Pendidikan Tinggi juga mengatur fungsi dan tujuan pendidikan tinggi.4 Adapun fungsi pendidikan tinggi berdasarkan undang-undang tersebut, yaitu a. mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; b. mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma; dan c. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora.
Selain itu tujuan pendidikan tinggi adalah; a. berkembangnya potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa; b. dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa; c. dihasilkannya ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia; dan d. terwujudnya pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ada berbagai alasan seseorang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, di antaranya dalam rangka mempertajam pengetahuan terkait ilmu yang didalami dan menyiapkan diri dalam berkarir. Sejatinya tidak ada jaminan ketika seseorang menempuh pendidikan tinggi dapat dipastikan akan mendapat kesuksesan dan pencapaian-pencapaian pribadi lain yang sudah direncanakan sebelumnya. Tidak pula ada jaminan seseorang yang menempuh pendidikan tinggi sudah pasti lebih sukses daripada rekan-rekannya yang tidak melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Akan tetapi, seseorang yang menempuh pendidikan tinggi diharapkan dapat membantu jalannya menuju kesuksesan agar semakin terbuka lebar dan dapat mewujudkan rencana-rencana hidup yang telah disusun sedemikian rupa. Melalui pendidikan tinggi, seseorang dapat semakin memperbaiki diri, mengubah nasib, serta dapat berkontribusi untuk membantu orang lain. Ketika mahasiswa lulusan perguruan tinggi berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja, selain mendapat pekerjaan yang menjanjikan, mahasiswa dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu serta kemajuan bangsa. Pencapaian-pencapaian tersebut sudah
4Ibid, Pasal 4 dan Pasal 5.
seharusnya terjadi ketika seseorang menempuh pendidikan tinggi, selaras dengan Tridharma perguruan tinggi. Ada pun Tridharma perguruan tinggi meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.5 Di mana seseorang pada akhirnya membawa kebermanfaatan bagi orang lain, bukan hanya pada diri sendiri.
Alasan-alasan yang telah diuraikan sebelumnya membuat orang-orang berlomba untuk mendapatkan pendidikan terbaik agar memperoleh kemajuan dalam hidupnya, terlepas dari alasan implisit apapun yang ada di dalamnya. Persaingan yang cukup ketat tersebut membuat calon mahasiswa menyiapkan diri sebaik mungkin dan sekuat tenaga, begitu juga dengan para orangtua. Mereka yang ingin menempuh pendidikan tinggi mulai menentukan bentuk dan program studi perguruan tinggi mana yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, belajar dengan giat, mengikuti try out atau simulasi ujian, dan lain sebagainya. Dalam kondisi ideal, orang tua tentu saja senantiasa mendukung dan ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka agar mampu lolos seleksi masuk sebuah perguruan tinggi, dengan harapan melalui pendidikan yang diperoleh di perguruan tinggi dapat membawa kebaikan pada hidup anak mereka. Salah satu cara yang orangtua tempuh adalah memberikan fasilitas penunjang pendidikan anak dengan mendaftarkan anak-anaknya mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah, walaupun terdapat lembaga bimbingan belajar berharga cukup fantastis. Namun apakah persiapan dan kerja keras calon mahasiswa beserta orangtua mereka serta ekspektasi tinggi yang tercurah pada lembaga pendidikan benar-benar tepat? Lalu bagaimana dengan pengangguran terdidik yang masih menjadi persoalan di Indonesia? 5
5Ibid, Pasal 1 angka 9.
BAB II
ISI
A.
Tata Pendidikan di Perguruan Tinggi
a. Bentuk Perguruan Tinggi
Undang-Undang Pendidikan Tinggi mendefinisikan perguruan tinggi sebagai satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi.6 Terdapat dua jenis
perguruan tinggi, yaitu; Perguruan Tinggi Negeri/PTN dan Perguruan Tinggi Swasta/PTS. Perbedaan keduanya terletak pada pembentuknya, PTN didirikan oleh pemerintah sedangkan PTS didirikan oleh suatu badan penyelenggara (seperti yayasan) yang sudah berbadan hukum dan fokus pada prinsip nirlaba. Berdasarkan Permendikbud RI No. 7 Tahun 2020 mengenai Pendirian, Perubahan, Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri, dan Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta, keduanya sama-sama bertujuan untuk meningkatkan akses, mutu, pemerataan, serta relevansi penelitian ilmiah dan pendidikan tinggi di seluruh wilayah Indonesia yang mengarah pada pengabdian masyarakat dalam rangka mendorong perkembangan dan pembangunan di negeri ini.
Sudah sepatutnya dalam perjalanannya, perguruan tinggi menjadi salah satu penyokong dan penghasil sumber daya manusia dengan kualitas yang baik, sehingga ketika fakta lapangan ternyata menghasilkan output yang tidak sejalan, dapat dijadikan alarm untuk kembali mengkaji apakah perguruan tinggi benar-benar menjalankan fungsinya sesuai dengan tujuan awal yang tertera dalam Permendikbud RI No. 7 Tahun 2020. Perguruan Tinggi memiliki berbagai jenis, tidak hanya universitas. Berikut uraian singkat tentang jenis-jenisnya.
a) Akademi, jenis perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu atau beberapa cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Akademi menyelenggarakan berbagai program, yaitu; diploma satu, diploma dua, diploma tiga, dan diploma empat/setara sarjana terapan. Akademi di Indonesia di antaranya adalah Akademi Keperawatan Pasar Rebo, Akademi Kebidanan RSPAD Gatot Soebroto, dan Akademi Militer/ Akmil.
b) Politeknik, jenis perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi (dapat pula profesi) dalam berbagai bidang rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi. Program yang dimiliki politeknik adalah diploma (I, II, III, dan
6Ibid, Pasal 1 angka 6.
IV/setara dengan sarjana terapan), magister terapan, doktor terapan, serta profesi. Politeknik di Indonesia di antaranya adalah PNJ/Politeknik Negeri Jakarta, Politeknik Negeri Bandung, dan Politeknik Negeri Manado.
c) Sekolah Tinggi, jenis perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, pendidikan vokasi, dan atau profesi hanya dalam satu rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi. Program yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi adalah sarjana, magister, doktor, diploma (III dan IV/setara sarjana), magister terapan, doktor terapan, serta profesi. Sekolah tinggi di Indonesia di antaranya adalah Sekolah Tinggi Sandi Negara/STSN dan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia/STPI Curug.
d) Institut, jenis perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, pendidikan vokasi, dan atau profesi dalam sejumlah rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi. Institut menyelenggarakan berbagai program seperti program sarjana, magister, diploma, profesi, dan lain sebagainya. Institut di Indonesia di antaranya adalah ITB/Institut Teknologi Bandung, IPB/Institut Pertanian Bogor, ITS/Institut Teknologi Sepuluh November.
e) Universitas, jenis perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, pendidikan vokasi, dan atau profesi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Program yang diselenggarakan universitas dapat dikatakan sama dengan yang ada di institut, di antaranya program sarjana, magister, doktor, diploma (III dan IV/ setara sarjana), magister terapan, profesi, dan sebagainya. Universitas di Indonesia di antaranya adalah Universitas Telkom, Universitas Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Bina Nusantara.
b. Manajemen Perguruan Tinggi
Manajemen menurut KBBI adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Manajemen erat kaitannya dengan manajemen bisnis, namun dalam perguruan tinggi, terdapat pula manajemen pendidikan. Pada dasarnya manajemen dalam perguruan tinggi prinsipnya sama, namun dalam perguruan tinggi menggunakan kacamata nirlaba dan fokus keuntungan digunakan untuk mengembangkan organisasi nirlaba tersebut, dalam konteks ini perguruan tinggi. Manajemen dalam perguruan tinggi meliputi P-O-A-C yaitu Planning/perencanaan,
Organize/pengorganisasian, Actualization/pelaksanaan, serta Control/pengawasan. Perencanaan meliputi hal-hal apa yang ingin diwujudkan oleh perguruan tinggi, yang
sesuai dengan Tridharma Perguruan Tinggi. Pengorganisasian meliputi penetapan kebijakan dalam mewujudkan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pelaksanaan berarti melakukan langkah dan aksi nyata sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Pengawasan meliputi pengkajian kembali serta evaluasi agar terlihat ketepatan dan kesesuaian suatu kebijakan yang dilaksanakan apakah sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi atau tidak.
Peningkatan dan pemeliharaan mutu pendidikan tinggi menjadi hal yang esensial dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, terutama melalui proses evaluasi. Evaluasi secara internal dapat dilakukan perguruan tinggi karena perguruan tinggi diberikan hak otonom agar mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain melalui evaluasi secara internal, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi perkembangannya kepada masyarakat secara luas. Perkembangan ini dapat diketahui melalui akreditasi yang dilaksanakan oleh BAN/Badan Akreditasi Nasional. Alasan mengapa manajemen dalam perguruan tinggi sangat diperlukan adalah karena perguruan tinggi memerlukan suatu sistem untuk pengelolaan agar dapat mencapai tujuan dengan cara yang efektif dan efisien. c. Tantangan Globalisasi
Perkembangan teknologi dan informasi sangat pesat dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Pengaruh dan keberadaannya mampu mempermudah kita dalam kehidupan sehari- hari seperti berkomunikasi, meningkatkan efisiensi bekerja, serta membuka peluang untuk industri kreatif. Meningkatnya efisiensi bekerja dapat mengurangi terserapnya angkatan kerja karena timbul fenomena penghematan sumber daya, perguruan tinggi menghadapi tantangan bagaimana mengentaskan masalah pengangguran ini di tengah arus dinamika globalisasi. Kita dituntut menjadi profesional di suatu bidang ilmu atau menyelami peluang industri kreatif. Pendidikan pun perlu mengikuti perkembangan zaman dan kemungkinan kebutuhan di masa depan agar tetap relevan. Perubahan yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengubah gaya pendidikan tradisional di mana hanya satu arah yaitu dari pengajar dan kita harus menerimanya begitu saja, berubah menjadi empowering of people, sehingga dapat mengembangkan kemampuan masyarakat.7
7 Ali Muhson (et.al.), Analisis Relevansi Lulusan Perguruan Tinggi dengan Dunia Kerja, Jurnal Economia, 2012, 8 (1), 42-52
Komunikasi dua arah selain membuat jelas interpretasi dari suatu ide, dan tentu hasil akhir yang diharapkan adalah menambah pengetahuan. Arus pengangguran yang kian menguat membuat perguruan tinggi memiliki tantangan baru yaitu bagaimana lulusannya selain brilian di bidang kognitif, mampu berdaya saing unggul dan memiliki kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan dengan dunia kerja. Karena persaingan dewasa ini kian mencekik dengan adanya penambahan jumlah penduduk di Indonesia ditambah lagi kehadiran perdagangan bebas di kawasan Asia, membuat tenaga kerja asing dapat bekerja di lintas negara termasuk Indonesia tanpa batasan yang berarti. Belum lagi tenaga kerja yang berlatar belakang pendidikan luar negeri yang kualitasnya jika dibandingkan dengan Indonesia, dapat dikatakan Indonesia masih tertinggal jauh. Perguruan tinggi harus mampu mencetak generasi emasnya agar para alumninya tidak kalah saing di negeri sendiri.
B.
Fenomena Pengangguran (Terdidik) di Indonesia
a. Pengangguran dan Pengangguran Terdidik di Indonesia
Pengangguran dari sisi ekonomi terjadi karena pasar kerja tidak mampu menyerap angkatan kerja yang tersedia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jumlah penduduk yang kian bertambah dari tahun ke tahun selaras dengan jumlah pencari kerja yang bertambah pula setiap tahunnya, sedangkan lapangan kerja yang tersedia relatif terbatas. Persaingan demi mendapat pekerjaan pun begitu keras, standar yang diajukan perusahaan atau suatu institusi semakin tinggi. Siapa yang mampu memiliki kemampuan “paket lengkap” akan semakin membuka peluang untuk diterima disuatu bidang pekerjaan. Namun bagaimana nasib dari si pelamar kerja yang kalah saing ini? Sebagian dari mereka memulai usahanya sendiri, ada yang menambah kemampuan melalui pelatihan atau sertifikasi, ada pula yang memilih untuk menganggur. Lalu bagaimana persoalan mengenai pengangguran ini? Dengan fakta pengangguran yang semakin menumpuk ini, apa faktornya lalu siapa pihak terkait yang semestinya ikut andil dalam permasalahan ini? Apakah karena si pelamar kerja tidak memiliki keterampilan yang memadai? Lantas bagaimana dengan pengangguran yang memiliki latar belakang lulusan perguruan tinggi? atau pemerintah yang kurang menyediakan lapangan pekerjaan.
Sebelum membahas terlalu jauh, kita perlu mengetahui terlebih dahulu kondisi pengangguran di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), struktur
ketenagakerjaan pada Februari 2020, terdapat 199,38 juta penduduk usia kerja, yaitu penduduk dengan usia 15 tahun dan atau lebih. Di antara 199,38 juta penduduk usia kerja, terdapat 137,91 juta angkatan kerja yaitu penduduk usia kerja yang bekerja, memiliki pekerjaan namun sedang tidak bekerja, dan pengangguran. Pengangguran di Indonesia per Februari 2020 menduduki angka 6,88 juta orang, yang artinya melonjak 0,06 juta orang dari Februari 2019.8 Dalam kurun waktu selama pandemi covid-19 terdapat indikasi penurunan pekerja di beberapa subsektor misalnya seperti pada subsektor penyediaan akomodasi yaitu penyediaan penginapan, sehingga dapat menambah jumlah pengangguran di Indonesia.
Perhitungan pengangguran dapat dilakukan melalui Tingkat Pengangguran Terbuka/TPT, yaitu perbandingan antara jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja. Menurut BPS terdapat empat jenis pengangguran yang termasuk pengangguran terbuka, yaitu;
1. orang yang tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan 2. orang yang tidak memiliki pekerjaan dan sedang menyiapkan usaha
3. orang yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak mencari karena merasa tidak akan mendapatkannya, serta;
4. orang yang sudah memiliki pekerjaan namun belum mulai bekerja.
Di Indonesia pada Februari 2020, tercatat TPT yang berasal dari lulusan pendidikan tinggi menempati 12,49%, yaitu 6,75% dari lulusan diploma (I,II, III) dan 5,73% dari universitas.
Data yang cukup menarik perhatian dari Badan Pusat Statistik/ BPS adalah mengenai keterkaitan antara tenaga kerja dan latar belakang pendidikannya. Walaupun terjadinya tren peningkatan penduduk yang bekerja berasal dari lulusan universitas daripada lulusan SD, lulusan perguruan tinggi (universitas dan diploma) hanya menempati 13.02% dari total penduduk bekerja, yaitu lulusan universitas sebesar 10.23% dan diploma (I, II, III) sebesar 2.79%. Jika kembali pada tujuan pendirian perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, hal ini tidak sesuai karena seharusnya perguruan tinggi menjadi wadah mahasiswa untuk mengembangkan potensi dirinya dan menghasilkan semakin banyak lulusan yang mampu diserap oleh lapangan kerja.
8 Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik 5 Mei 2020,
https://www.bps.go.id/website/materi_ind/materiBrsInd-20200505115439.pdf, diakses 16 Juli 2020.
Lulusan yang tentunya memiliki kualitas dan kemampuan yang memadai sehingga dapat diterima di lingkungan kerja bahkan menciptakan lapangan kerja bukan menambah pengangguran alias pencetak pengangguran. Maka dari itu perlu dikaji kembali apakah perencanaan pembangunan dan kebijakan yang ditempuh terkait pendidikan sudah tepat atau ada yang perlu direvisi kembali. Ada berbagai faktor dan aspek untuk mengkaji fenomena yang mendasari semakin melonjaknya keberadaan pengangguran terutama pengangguran terdidik di Indonesia, berikut uraiannya.
b. Tantangan Menuju Bonus Demografi
Transisi demografi yang terjadi di Indonesia ialah suatu keadaan di mana jumlah usia produktif dua kali lipat dari jumlah usia nonproduktif.9 Menurut United Nations, transisi demografi ini dapat membuka peluang untuk Indonesia menikmati bonus demografi di 2020-2030 dengan catatan penduduk usia produktif benar-benar “produktif” sehingga semakin mendorong perkembangan Indonesia ke depannya.10
Pada kenyataannya Indonesia masih harus menghadapi masalah lain akibat “meledaknya” populasi yaitu pengangguran terutama pengangguran terdidik. Fenomena ini menjadi perhatian karena pada dasarnya pengangguran jenis ini sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dan bahkan membantu orang lain pula dengan membuka lapangan kerja, namun mengapa masih saja menganggur? Diperlukan kebijakan yang diputuskan secara hati-hati dan cermat serta dukungan dari berbagai pihak dalam menangani hal ini, karena kita semua tidak ingin bonus demografi menjadi bonus pengangguran bukan?
Faktanya, Indonesia masih harus berhadapan dengan masalah-masalah lain yang juga menjadikan bonus demografi bukan fokus utama. Permasalahan tersebut di anataranya adalah; ketimpangan Indeks Pembangunan Manusia/IPM, ketimpangan indeks angka melek huruf, dan kecukupan gizi.11 Pertama, masih terjadi ketimpangan Indeks Pembangunan Manusia/IPM di wilayah Indonesia, di wilayah barat Indonesia tingkat IPM-nya masih lebih tinggi dari wilayah timur Indonesia karena pembangunan sebelumnya bersifat jawa sentris. Kedua, ketimpangan indeks angka melek huruf, di mana wilayah dengan angka melek huruf yang tinggi berada di kota- kota besar yang indeks IPM-nya tinggi. Hal ini menjadi valid karena angka melek huruf masuk dalam
9 SriMaryati, Dinamika Pengangguran Terdidik: Tantangan menuju Bonus Demografi di Indonesia. Economica: Jurnal Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumatera Barat, (2015), hlm. 124-136.
10Ibid. 11Ibid.
indikator IPM. Ketiga, ketimpangan angka kecukupan gizi, yang kembali lagi pada persoalan ketimpangan antarwilayah di Indonesia terutama wilayah papua dan papua barat. Walaupun pemerintah telah melakukan upaya dan mengebut pemerataan infrastruktur untuk mengejar pembangunannya, Indonesia masih harus bebenah diri lagi.
Belum lagi dampak dari bonus demografi yang harus diperhitungkan karena akan menghasilkan lansia dalam jumlah yang banyak dan memerlukan persiapan dan jaminan hari tua seperti melalui dana pensiun. Walaupun Indonesia memiliki tantangan yang begitu besar dan kompleks, Indonesia harus tetap menjamin kesejahteraan warganya karena sudah diregulasi dalam undang-undang. Undang- Undang terkait penjaminan kehidupan warga negara seperti; hak mendapat akses pendidikan dan dapat menikmati kemajuan teknologi, tertuang dalam UUD 1945 Pasal 28C ayat 1 serta warga negara berhak memiliki pekerjaan dan penghidupan yang layak seperti yang tertuang dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2.12Agar bonus demografi ini dapat diraih, persiapan yang perlu dilakukan di antaranya; meningkatkan pelayanan kesehatan, pendidikan yang berkualitas, pengendalian jumlah penduduk, serta kebijakan ekonomi yang mendukung fleksibilitas tenaga kerja dan pasar kerja, keterbukaan perdagangan dan peningkatan akses tabungan dan investasi nasional.
Bonus demografi yang ditandai dengan banyaknya penduduk usia lima belas tahun ke atas ini, dapat membawa fenomena pengangguran terdidik di Indonesia. Ketika lulusan terdidik ini melimpah dan lapangan pekerjaan cenderung tetap, daya saing pun meningkat. Mereka yang berkompeten, berketerampilan, dan berdaya saing unggul, memiliki peluang lebih besar untuk bekerja daripada yang tidak memilikinya. Maka dari itu diperlukan kemampuan dan keterampilan yang memadai serta menambah lapangan kerja untuk menyerap tenaga kerja tersebut. Kunci agar bonus demografi ini dapat membawa manfaat adalah penduduk usia produktif yang benar-benar “produktif”. Hal ini merujuk pada kualitas SDM sehingga diperlukan perbaikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, salah satunya melalui pendidikan tinggi dan lembaga perguruan tinggi.
12Ibid.
c. Mencari Pekerjaan Lain dan Menyiapkan Usaha Mandiri
Dalam bekerja, ada situasi ketika seseorang menolak atau berhenti dari suatu pekerjaan yang dirasanya kurang tepat baginya, dibalik alasan pribadi yang dimiliki seperti gaji yang kurang sesuai, lingkungan yang kurang tepat dan tidak dapat membantu kita untuk berkembang lebih baik, lokasi, dan alasan-alasan lain. Namun ada baiknya ketika memutuskan untuk mencari pekerjaan lain atau berhenti kerja, dipikirkan secara matang konsekuensinya. Misalnya dihadapkan pada situasi di mana gaji yang ditawarkan suatu pekerjaan dirasa kurang dan tidak sebesar usaha selama menempuh pendidikan tinggi dan keterampilan yang dimiliki, pelamar kerja boleh saja menolak dan mencari pekerjaan yang lebih sesuai baginya. Walaupun bisa menolak atau memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan yang sedang digeluti, konsekuensinya harus menganggur selama mencari pekerjaan baru. Situasi lain yang mungkin terjadi ketika seseorang menolak atau berhenti dari pekerjaan untuk menyiapkan usaha sendiri. Konsekuensinya adalah harus menyiapkan modal baik dari tabungan atau pinjaman modal dari pihak lain, harus berani untuk mengambil risiko sendiri, perhitungan apakah ketika usaha kolaps atau pailit masih ada dana untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Lulusan perguruan tinggi sudah seharusnya mampu mengambil risiko dengan tetap berhati- hati melalui perencanaan dan persiapan yang matang.
d. Kemampuan yang Tidak Sepadan dengan Ekspektasi pada Dunia Kerja
Dilema yang sering kali menghampiri lulusan baru adalah perihal mengajukan gaji dalam mencari pekerjaan. Ada sebagian pekerjaan yang meminta pelamar kerja untuk menyebutkan berapa gaji yang mereka inginkan. Namun permasalahannya adalah ketika si pelamar kerja menetapkan standar gaji dan fasilitas kantor yang terlalu tinggi untuk keterampilan yang tidak sepadan dengan yang mereka miliki, seperti pada beberapa kasus orang yang baru melamar kerja. Apalagi ketika membahas mengenai jam terbang yang tidak bisa dibohongi. Semakin tinggi jam terbang yang diiringi semakin terasah keterampilan, sehingga akan membuat seseorang memiliki jenjang karir yang baik dan membantu agar diterima di pekerjaan yang baik, bahkan mendorong perekonomian di Indonesia. Maka perlu untuk terus mengasah dan menambah keterampilan agar peluang untuk bekerja semakin besar. e. Gaji yang Tidak Sesuai
Setiap orang dalam hidup tentunya akan memilih pilihan yang terbaik dan memilih mana yang sekiranya memberikan kebermanfaatan lebih dari pilihan lainnya.
Keadaan ini pun berlaku ketika melamar pekerjaan. Kalau poin sebelumnya membahas mengenai kemampuan yang tidak sesuai untuk gaji yang besar, poin ini membahas bagaimana kesesuaian gaji ketika memiliki kemampuan mumpuni dan berkompeten di bidangnya. Ketika mencari pekerjaan, terutama bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan memiliki kemampuan di atas rata-rata, mereka akan mencari pekerjaan yang dapat mengakomodir kemampuan yang mereka miliki serta kebutuhan mereka untuk mengembangkan diri. Walaupun terkadang ada dilemma mengajukan seberapa besar gaji yang mereka inginkan, ketika kualitas mereka di atas rata-rata, maka sah-sah saja ketika mereka mengajukan gaji yang di atas rata-rata pula. Ketika mencari dan ternyata menemui gaji yang akan mereka dapati lebih rendah dari yang diharapkan, ada sebagian orang yang tetap mengambil pekerjaannya, ada pula sebagian orang yang menolak dan merasa lebih baik mencari pekerjaan yang lain.
f. Relevansi Lulusan dengan Bidang Kerja
Ketika tingkat pendidikan suatu negara rata- ratanya tinggi, pertumbuhan ekonomi yang mengiringinya akan bertambah cepat.13 Indikasi tersebut menunjukkan urgensi pendidikan tinggi karena dengan pendidikan tinggi, akan terwujud pertumbuhan ekonomi karena adanya human capital. Latar belakang pendidikan yang diiringi latihan tenaga kerja akan mempengaruhi produktivitas tenaga kerjanya.14
Menurut Payaman Simanjuntak dalam Ali Muhson, dkk (2012); pendidikan dan latihan merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengembangkan sumber daya manusia, karena tidak saja menambah pengetahuan, pendidikan dan latihan dapat meningkatkan keterampilan bekerja kemudian meningkatkan produktivitas kerja”. Maka berinvestasilah dalam pendidikan dan pelatihan. Investasi pada bidang SDM akan berdampak pada peningkatan penghasilan dan peningkatan tingkat konsumsi pula, yang disebut dengan human capital, human capital dapat diraih melalui; pendidikan, pelatihan, adanya migrasi, serta perbaikan gizi dan kesehatan. Perguruan tinggi menyiapkan lulusannya agar berkompeten di bidangnya masing-masing. Misalnya pada program studi Pendidikan Geografi pada LPTK terkait, di mana fokusnya adalah mencetak tenaga pendidik profesional, yang kompeten di bidangnya untuk bidang studi geografi dengan orientasi untuk pendidikan menengah.
13 Ali Muhson (et.al.), Analisis Relevansi Lulusan Perguruan Tinggi dengan Dunia Kerja, Jurnal Economia, 2012, 8 (1), 42-52.
14Ibid.
Perkuliahanpun, selain unsur ilmu geografi, mahasiswa juga diberikan kuliah terkait pendidikan, agar mampu memiliki kompetensi di bidang pendidikan geografi.
Relevansi terkait dengan dua dimensi kehidupan; pendidikan (perguruan tinggi) dan seusai pendidikan (dunia kerja dan atau masyarakat), karena itu suatu program pendidikan mengandung unsur; tujuan, input, proses, hasil, dan keterkaitan serta kebermaknaan antarunsur-nya, sehingga membentuk suatu sistem.15 Relevansi lulusan dapat dilihat dari kesesuaian pendidikan dengan pekerjaan, melalui profil pekerjaan yang mereka jalani, jumlah jam kerjanya, jabatan, serta pendapatan dari lulusan.16 Relevansi menjadi penting karena dalam pengabdian masyarakat, lulusan yang memiliki kompetensi untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat sesuai dengan bidang akan lebih terbentuk kompetensinya sampai di tingkat ahli. Relevansi pendidikan dan pekerjaan dapat pula menunjukkan eksistensi perguruan tingginya karena dianggap telah berhasil beradaptasi dan mengikuti dinamika serta kebutuhan masyarakat sesuai zaman.
g. Pengurangan dan Pemutusan Hubungan Kerja/PHK
Adanya krisis ekonomi, kemajuan teknologi dan informasi, serta bertambahnya penduduk di Indonesia yang meningkatkan persaingan dunia kerja karena setiap tahunnya ada ribuan orang yang lulus dari perguruan tinggi dan setelahnya mencari pekerjaan. PHK pun tak terelakkan dan dapat mencapai kepada mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi karena persaingan ketat menggeser mereka yang tidak mampu bertahan dan meningkatkan kemampuan serta kinerja selama bekerja. PHK semakin menjadi-jadi di masa pandemi covid-19 ini, tidak terkecuali oleh perusahaan besar di Indonesia. Dilansir dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI, menurut Kamar Dagang dan Industri/KADIN Indonesia, terdapat enam juta pekerja yang dirumahkan atau di-PHK.17 Berdasarkan hasil survey dari Tim Kaji Cepat IPSK-LIPI, selama pandemi covid-19, 3 dari 10 pekerja dari rentang usia 15 sampai 29 tahun kehilangan pekerjaan mereka.18 PHK besar- besaran ini sangat berdampak pada perekonomian negara, karena salah satu sektor yang terdampak adalah manufaktur.
15Ibid. 16Ibid.
17 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Kependudukan, Nasib Angkatan Kerja di Tengah Hantaman
Covid-19, https://kependudukan.lipi.go.id/id/berita/53-mencatatcovid19/1010-nasib-angkatan-kerja-muda-di-tengah-hantaman-covid-19 diakses pada 1 Agustus 2020.
18Ibid.
LIPI menyebutkan tiga sektor yang paling rentan selain manufaktur adalah makanan dan akomodasi, serta perdagangan eceran.19 Pemerintah mengambil langkah
untuk memberikan bantuan di masa pandemi kepada mereka yang sangat terdampak melalui pemberian bantuan sosial. Namun, selain distribusi yang kerap kali masih bermasalah, terdampak covid-19 tidak bisa hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah. Mereka dituntut untuk kreatif dan inovatif, agar mampu bertahan hidup dan menciptakan pekerjaan untuk mereka sendiri atau bahkan untuk orang lain. Langkah yang dapat ditempuh adalah melakukan bisnis yang berbasis daring dan digital. Misalnya seseorang yang memiliki hobi memasak sebelum pandemi tidak menjual makanan, di masa pandemi mulai menjual makanannya dan mengiklankan di media sosial pribadi.
h. Pencari Kerja Bukan Pencipta Lapangan Kerja
Menurut David McClelland, seorang psikolog Amerika Serikat dalam Nurseto, T. (2010) untuk menjadi makmur, sebuah negara setidaknya memiliki 2%
entrepreneur dari total jumlah warga negara.20 Dilansir dari Kementerian Perindustrian RI, walaupun Indonesia telah melampaui 2%, Indonesia memerlukan setidaknya empat juta untuk semakin menguatkan struktur ekonomi.21 Seperti yang
telah diuraikan pada poin sebelumnya, lulusan perguruan tinggi banyak yang menjadi pencari kerja. Banyak dari lulusan perguruan tinggi mencari lapangan kerja dan menjadi karyawan, bukan menciptakan lapangan kerja baru. Padahal dengan pendidikan tinggi diharapkan SDM yang terbentuk mampu memberikan manfaat selain pada diri sendiri, juga pada orang lain, dalam hal ini menyerap tenaga kerja dengan membuka lapangan kerja baru. Maka dari itu, sektor usaha kecil dan menengah harus didukung agar entrepreneur di Indonesia dapat mencapai empat juta. i. Pengangguran dan Sistem Pendidikan Nasional
Ketika perguruan tinggi belum mampu menciptakan lulusan yang berdaya saing unggul, mendapatkan pekerjaan pun terasa sangat sulit, artinya terdapat permasalahan yang harus dibenahi mengenai sistem pendidikan secara keseluruhan,
19Ibid.
20 Tejo Nurseto,Pendidikan Berbasis Entrepreneur. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia 8, (2010) no. 2.
21Kementerian Perindustrian RI, Indonesia Butuh 4 Juta Wirausaha Baru untuk menjadi Negara Maju,
https://kemenperin.go.id/artikel/19926/Indonesia-Butuh-4-Juta-Wirausaha-Baru-untuk-Menjadi-Negara-Maju diakses pada 1 Agustus 2020.
diantaranya; kurikulum yang terus berganti, biaya yang tinggi, kesenjangan wilayah barat dan timur, konsep pendidikan yang telah memudar.22
1) Kurikulum yang Terus Berganti
Sistem pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali berganti kurikulum. Tujuannya harusnya tentu untuk menemukan mana yang paling sesuai diberlakukan di Indonesia sesuai dengan kondisi nyata pendidikan di Indonesia. Namun kenyataannya uji coba kurikulum ini menelan uang negara yang tidak sedikit. Fakta lapangannya memang pendidikan meliputi permasalahan yang sangat kompleks, mengingat jumlah penduduk yang sangat banyak namun kebutuhan pendidikan harus merata, memerlukan dana yang tidak sedikit pula, sementara itu terdapat banyak sektor selain pendidikan yang perlu diperhatikan yang tentunya membutuhkan dana yang besar dan permasalahan yang kompleks pula. Walaupun memikul tanggung jawab yang besar dan banyak, negara sudah seharusnya menciptakan pendidikan nasional yang merata dan berkualitas. Diperlukan kajian dan riset yang lebih mendalam mengenai kurikulum dan sistem pendidikan di negeri ini, agar ditemukan konsep mana yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia serta budayanya. Pendidikan harus memenuhi fungsi selain fungsi kognitif, harus berfokus pula pada kemampuan psikomotorik, afektif, dan enterpreneurship.23
2) Biaya Tinggi
Pembedaan jalur masuk suatu lembaga pendidikan menunjukkan adanya diskriminasi dan menunjukkan mereka yang dari kondisi finansial baik memiliki
privilege untuk memasuki suatu institusi pendidikan. Namun, pemerintah telah berupaya untuk mengatasi permasalahan ini salah satu caranya melalui program bidikmisi, yang nantinya akan semakin menjangkau seluruh wilayah di Indonesia baik wilayah barat, tengah, maupun timur.
3) Konsep Pendidikan yang Telah Memudar
Pendidikan yang seharusnya berprinsip nirlaba lama-kelaman berubah menjadi bisnis yang menjanjikan kesuksesan pada lulusannya berdasarkan seberapa besar dana yang dimiliki. Sudah kabur konsep mulia yang seharusnya dimaknai oleh perguruan tinggi.
4) Kesenjangan antara daerah Timur dan Barat Indonesia
22 Asri Tadda, “Penyelarasan Pendidikan Tinggi dengan Dunia Kerja”, Seminar Nasional Penyelarasan
Pendidikan Tinggi dengan Dunia Kerja oleh Kemendiknas, Jakarta, 2010, (pp. 14-16). 23Ibid.
Perkembangan yang terkesan jawa sentris menimbulkan kesenjangan pendidikan di daerah timur Indonesia. Walaupun di bagian timur Indonesia sudah mulai mengejar keterlambatan dari wilayah barat Indonesia, tetap saja masih tajam kesenjangannya, terutama untuk wilayah pelosok.
C.
Pengaruh Pendidikan Vokasional terhadap Kualitas SDM
a. Latar Belakang
Pendidikan vokasi di perguruan tinggi adalah bentuk pendidikan yang fokus pada praktek nyata atau langsung di lapangan industri terkait daripada teori. Perbandingan praktek dan teori adalah praktek sekitar 70% dan sisanya, 30% adalah teori. Alasan mengapa pendidikan vokasi lebih lama menghabiskan waktu di praktek adalah karena tujuan dari pendidikan vokasi adalah untuk mencetak lulusan yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan terbiasa dengan budaya kerja, sehingga ketika lulus nanti lulusan pendidikan vokasi dapat langsung terserap di dunia kerja dan industri. Pendidikan vokasi di Indonesia memiliki beberapa jenis, yaitu; 1) Sekolah Menengah Kejuruan dan Madrasah Aliyah Kejuruan, 2) Akademi Komunitas, 3) Politeknik, 4) Universitas, 5) Balai Latihan Kerja dan dibawahi oleh berbagai bidang kementerian.24
Pembahasan pada poin ini lebih fokus ke arah pendidikan tingginya. Pendidikan vokasi meliputi program diploma I, II, III, IV/sarjana terapan, magister terapan, dan doktor terapan. Nantinya seseorang yang mampu menyelesaikan pendidikan vokasi, sesuai dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi akan mendapatkan gelar pendidikan, yaitu; ahli pratama, ahli muda, ahli madya, sarjana terapan, magister terapan, dan doktor terapan, sesuai dengan program studi mana yang ditempuh.
b. Tuntutan dan Tantangan Pendidikan Vokasi di Era Revolusi Industri
Revolusi industri di era sekarang, yaitu era 4.0 dan sedang bersiap ke revolusi 5.0. Menurut Suwardana (2017) dalam Hartanto, Rusdarti, & Abdurrahman (2019) ditandai dengan digitalisasi yang menyebabkan pergeseran pusat perekonomian yang tadinya pada manusia, sekarang digantikan teknologi.25 Digitalisasi dengan adanya teknologi mengubah bagaimana cara kita belajar. Digitalisasi membuat penyampaian
24 Cahya Fajar Budi Hartanto (et.al.), “Tantangan Pendidikan Vokasi di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Menyiapkan Sumber Daya Manusia yang Unggul”, Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana UNNES
(2019), Vol. 2, No. 1, pp. 163-171. 25Ibid.
informasi sangat cepat walaupun terpisah oleh ruang dan waktu, asalkan memiliki akses internet yang baik maka informasi pun akan langsung sampai. Digitalisasi dalam pendidikan sangat membantu kita dalam masa pandemi covid-19, di mana kita harus menjaga jarak dan interaksi secara langsung namun tetap harus melanjukan kehidupan dan aktivitas seperti sedia kala. Walaupun kelas dilaksanakan secara daring dan virtual sangat membantu tersampainya informasi dari dosen kepada mahasiswanya, tetap ada perbedaan perkuliahan secara daring dengan kuliah tatap muka secara langsung.
Digitalisasi dalam pendidikan sangat membantu kita dalam masa pandemi covid-19, di mana kita harus menjaga jarak dan interaksi secara langsung namun tetap harus melanjukan kehidupan dan aktivitas seperti sedia kala. Walaupun kelas dilaksanakan secara daring dan virtual sangat membantu tersampainya informasi dari dosen kepada mahasiswanya, tetap ada perbedaan perkuliahan secara daring dengan kuliah tatap muka secara langsung. Sebagian mahasiswa menyukai cara seperti ini yaitu penerapan PJJ, namun sebagian mahasiswa tidak menyukai cara ini. Untuk saat ini di mana covid-19 masih menghantui kita, pilihan untuk menerapkan PJJ adalah yang terbaik. Selain perkuliahan dan tugas maupun kuisnya dilakukan secara daring, layanan untuk mahasiswa seperti dari fakultas pun semua dilaksanakan secara daring dan justru lebih efektif dan efisien karena tidak perlu langsung datang ke kampus. Masifnya penggunaan teknologi di era sekarang, membuat persaingan di dunia kerja semakin ketat dan perlu dilakukan pengembangan kapasitas kognitif melalui high order thinking skills dan critical thinking.26 Selain pengembangan kognitif, kemampuan adaptif dan cepat belajar terhadap perubahan kebutuhan industri diperlukan agar lulusan vokasi benar-benar terserap ke dunia kerja.
Dalam wawancara yang dilakukan oleh Metro TV dalam program Metro Plus Siang, Dirjen Kelembagaan iptek kemenristekdikti, Patdono Suwignyo menyebutkan masalah lain yang sampai sekarang masih terjadi adalah lulusan perguruan tinggi tidak siap pakai, seharusnya lulusan vokasi siap pakai dan mendapat pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahliannya.27 Kunci dari lulusan vokasi agar siap pakai dan berdaya saing unggul adalah pada kualitas dan mutu, sehingga diperlukan revitalisasi terhadap pendidikan vokasi. Mutu dari lulusan vokasi juga bergantung pada kualitas
26Ibid.
27 Program Metro Plus, Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi, disiarkan oleh Metro TV
https://youtu.be/f-_yS8B5gCs diakses pada 31 Juli 2020.
dosen pengajar. Di Indonesia dapat dikatakan dosen pengajar di pendidikan vokasi memiliki background pendidikan 70% teori dan 30% praktek, seharusnya 70% praktek dan 30% teori, solusinya adalah mengirim dosen untuk pelatihan ke luar negeri dan memperoleh sertifikat kompetensi yang diakui oleh LSP.28 Dilansir dari Kompas.com, di tahun 2017, upaya tersebut mulai dicoba untuk direalisasikan oleh Menristekdikti melalui penganggaran 2000 dosen untuk dikirim ke luar negeri namun antusiasnya kurang, hanya 300 sampai 400 dosen saja yang berminat untuk mengikuti program sertifikat kompetensi ini.29 Hal ini sangat disayangkan karena jika semakin banyak dosen mengambil pendidikan dan program sertifikat kompetensi terlebih lagi standar internasional, akan menambah kompetensi dosen yang bersangkutan, artinya mahasiswa akan dididik oleh dosen yang ahli di bidangnya.
Dalam program acara yang sama, I Made Dana M. Tangkas sebagai Presiden Indonesia Automotive Institute menyebutkan bahwa sebelum membuat produk, diperlukan kualitas SDM yang baik dahulu dan hal itu dapat melalui; SKKNI/Standar Komptensi Kerja Nasional Indonesia, lembaga sertifikasi profesi, TUK/tempat uji kompetensi; langsung dari industri, dan asesor yang harus langsung melibatkan industri agar hasilnya relevan dengan kebutuhan industri.30 Dengan dilakukannya
upaya-upaya tersebut, diharapkan lulusan vokasi dapat langsung terserap di dunia kerja dan industri.
c. Pendidikan Vokasi, Pendidikan Akademik, dan Sekolah Kedinasan
Baik pendidikan vokasi, akademik, maupun kedinasan (yang di dalamnya sangat vokasional), ketiganya memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi untuk negeri. Lulusan akademik diharapkan mampu mengembangkan cabang ilmunya dan fokus melakukan riset serta penelitian. Lulusan vokasional diharapkan mampu mengimbangi keberadaan akademik dengan menjadi tenaga kerja siap pakai yang memiliki kemampuan terampil. Sekolah Kedinasan sebagai usaha pemenuhan kebutuhan atas negara terkait aparat negara yang siap pakai dan benar-benar memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Ketiganya saling berkaitan dan diperlukan keseimbangan. Namun, untuk perguruan tinggi yang jumlah peminatnya sudah
overload yang setiap tahunnya menerima ribuan bahkan puluhan ribu calon
28Ibid.
29 Kompas.com, Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi: Jangan Jadikan “Pilihan Kedua”,
https://edukasi.kompas.com/read/2019/07/18/15100001/revitalisasi-pendidikan-tinggi-vokasi-jangan-jadikan-pilihan-kedua?page=all diakses pada 1 Agustus 2020.
30 Program Metro Plus, Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi, disiarkan oleh Metro TV
https://youtu.be/f-_yS8B5gCs diakses pada 31 Juli 2020.
mahasiswa. Solusi untuk mengimbangi fenomena ini adalah dengan pembukaan sekolah atau pendidikan tinggi yang fokusnya pada ilmu terapan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, seperti pembukaan program studi yang berbasis teknologi dan industri kreatif. Nantinya, ketika pendidikan yang program studinya fokus pada ilmu terapan masa kini dibuka, pendaftar dari perguruan tinggi tadi akan mengisi kursi- kursi baru dan siap membawa ide-ide segar yang kreatif dan inovatif.
D. Penguatan Kualitas Lulusan oleh Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi sejatinya memiliki hak untuk memberlakukan kebebasan akademik, otonomi keilmuan, serta kebebasan mimbar dalam upayanya mewujudkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hal ini diatur pula dalam undang-undang yaitu UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Melalui Undang-Undang tersebut, perguruan tinggi dapat melakukan kebijakan terkait untuk mengembangkan iptek dan sebagainya dalam rangka memaksimalkan fungsi perguruan tinggi, di mana hal ini artinya membantu perkembangan kualitas sumber daya manusia agar semakin baik.
a. Pengembangan dan Peningkatan Mutu Terpadu dan Berkelanjutan
Perguruan tinggi yang memiliki otonomi harus akuntabel dengan cara evaluasi mandiri (internal melalui audit) dan pihak stakeholder melalui BAN-PT. Akreditasi menurut UU No. 12 Tahun 2012 ialah penilaian dan uji kelayakan program studi yang diselenggarakan pendidikan tinggi berdasarkan kriteria Standar Nasional Pendidikan Tinggi sebagai bentuk akuntabilitas perguruan tinggi kepada publik/ masyarakat/
stakeholders.
• Kriteria Mutu Perguruan Tinggi
Pengembangan potensi diri di perguruan tinggi dimaksudkan dalam menyiapkan generasi muda untuk menghadapi dan memberikan solusi atas permasalahan yang ada di masyarakat.31 Pengembangan potensi diri mahasiswa memerlukan mutu dan kualitas yang tinggi agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan terus- menerus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab secara morel untuk menjawab tantangan zaman dan peradaban termasuk masalah pengangguran terdidik di dalamnya agar mampu terserap lapangan pekerjaan atau justru menciptakan lapangan kerja baru.
31 Ernawati dan Hilwati, Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi dengan Pola Mananjemen
Terpadu,MIMBAR: Jurnal Sosial dan Pembangunan 17.1 (2001): 36-57.
Maka dari itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menyusun paradigma terkait tata sistem pendidikan tinggi meliputi hal berikut;a) hasil dan kinerja yang berprinsip pada “mutu yang berkelanjutan“ yang dilandasi kreativitas, kecerdasan dan produktivitas yang berasas otonomi; b) Otonomi harus akuntabel sebagai bentuk pemenuhan hak stakeholders (pemerintah, masyarakat, dan swasta ) memperoleh informasi terkait perguruan tinggi, dapat melalui akreditasi oleh BAN-PT; c) perencanaan dan pengambilan keputusan perguruan tinggi berdasarkan proses evaluasi; evaluasi yang mampu menjelaskan atribut mutu perguruan tinggi dan dapat diakomodir melalui TQM/ Total Quality Management.32
Yang dimaksud dengan atribut perguruan tinggi meliputi; 1) relevansi antara tujuan dan sasaran, seberapa sesuai dengan aspirasi stakeholders; 2) efisiensi, berhubungan dengan kehematan dalam menggunakan sumber daya; 3) produktivitas, yang dapat dihitung secara kuantitas output seperti publikasi dan penelitian; 4) efektivitas, seberapa sesuai antara tujuan dan sasaran dengan output; 5) akuntabilitas, mengenai tanggungjawab perguruan tinggi kepada stakeholders; 6) pengelolaan sistem, perguruan tinggi harus adaptif dengan dinamika di masyarakat; 7) suasana akademik, mengenai kesehatan dari organisasi itu sendiri, meliputi motivasi dan kepuasan sivitas akademika terhadap pelaksanaan Tridharma.33
• Manajemen Pendidikan Terpadu
Manajemen Pendidikan Terpadu meliputi beberapa prinsip, yaitu; komitmen dari pimpinan organisasi, orientasi konsumen, pengukuran kinerja, manajemen partisipatif, dan perbaikan secara kontinu.34
1) Komitmen Pimpinan Organisasi
Pengurus organisasi; perguruan tinggi; Rektor, Dekan, Pimpinan Fakultas dan Prodi, serta pihak yang membantu harus benar-benar memiliki komitmen dalam memajukan mutu perguruan tinggi dan memiliki pengetahuan teknis terkait bidang yang dibawahinya tidak terjadi jabatan hanya sekadar jabatan tanpa aksi nyata dan tanggung jawab. Pimpinan perguruan tinggi harus terjun langsung
32Ibid. 33Ibid. 34Ibid.
melihat bagaimana kegiatan di lapangan berjalan agar mengetahui faktanya dan mendapat aspirasi mahasiswa.
2) Orientasi Konsumen
Target konsumen perguruan tinggi yang paling nyata adalah mahasiswa sehingga pelayanan yang diberikan harus profesional dan prima, seperti; layanan yang cepat, ramah, dan tepat agar output di masyarakat dapat memuaskan. Evaluasi yang berkelanjutan dan fokus pada perbaikan mutu, semakin tidak dapat memisahkan pelayanan yang prima dalam sistem di perguruan tinggi.
3) Pengukuran Kinerja
Kinerja perguruan tinggi harus dapat diukur secara kuantitatif dan nantinya akan mengarah pada aspirasi perbaikan kinerja.
4) Manajemen Partisipasi
Birokrasi yang diperlukan di zaman sekarang adalah yang melibatkan staf untuk memberikan aspirasi dan perspektif untuk menyelesaikan masalah, tidak lagi otoriter. Kebijakan ini tepat karena staf lebih terpapar dalam melayani birokrasi secara langsung sehingga lebih familiar dengan fakta lapangan.
5) Perbaikan Kontinu
Perbaikan dan pemeliharaan mutu serta unit-unit pendukungnya dilakukan secara terus-menerus dan dalam jangka panjang.
• Implementasi TQM dalam Perguruan Tinggi
Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat rancangan manajemen mutu yang seperti apa yang dibutuhkan. Rancangan tersebut akan menjadi pemandu untuk berorientasi pada hasil yang telah disepakati dan kebijakan yang ditempuh lebih terarah.
Unsur strategis yang menjadi kunci dalam sistem mutu di antaranya adalah; 1) kebijakan mutu dan tanggung jawab manajemen, 2) organisme mutu; akan ada tim untuk membantu mengarahkan langkah awal perbaikan dan mengawasi pelaksanaannya, 3) pemasaran dan publikasi; seluruh informasi yang diperlukan msayarakat harus sampai dengan jelas dan lengkap, 4) seleksi masuk; akan mempengaruhi mutu lulusannya nanti, 5) rancangan dan pelaksanaan kurikulum; harus memiliki rincian spesifik mengnai tujuan yang ingin dicapai dan catatan yang akan membantu perbaikan dan penyesuaian kurikulum, 6) pelatihan dan pengembangan staf, 7) pengawasan, evaluasi, dan review manajemen institusi;
feedback dan penilaian kinerja secara keseluruhan mampu membantu perbaikan mutu perguruan tinggi.35
b. Relevansi Pendidikan dan Dunia Kerja
Dalam meningkatkan lulusan yang semakin relevan dengan dunia kerja, hal yang perlu dilakukan adalah membuka program studi yang dibutuhkan oleh dunia kerja dan industri. Semakin bervariasi penawaran program studi yang sesuai kebutuhan masyarakat, akan membawa keadaan seimbang antarlulusan, di mana tidak “mengagungkan” suatu prodi dan “menjatuhkan” prodi lain, karena masing- masing prodi yang ada menciptakan suatu sistem saling bergantung. Jika lulusan memiliki kompetensi yang baik dan menciptakan jenjang karir yang mantap, akan membuat semakin bertambah tenaga ahli dan profesional yang tentunya berdaya saing unggul.
Kompetensi profesional dibutuhkan, lalu bagaimana dengan kemampuan lain di luar itu? Seperti kemampuan berkomunikasi, berbahasa asing, hard skills, dan lain sebagainya? Tentu saja hal itu akan semakin diperlukan, dan justru akan menambah
value diri. c. Sertifikasi
Dilansir dari kominfo, Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi TIK Indonesia, Edwin Surjosaptanto dalam kegiatan Sertifikasi Kompetensi Berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Komunikasi di Surabaya yang diadakan pada Rabu (10/08/2016) menyatakan bahwa sertifikat selain ijazah yang dapat diterima di industri dan dunia kerja adalah sertifikat kompetensi sebagai nilai tambah.36
d. Mengimplementasikan Konsep Pendidikan yang Sesungguhnya
Dewasa kini berkaitan dengan finansial, sudah bukan rahasia ketika lembaga pendidikan justru hanya sekadar ijazah dan gelar bukan bagaimana kualitas pendidikan bagi para mahasiswanya. Belum lagi terdapat oknum perguruan tinggi yang seharusnya menanamkan konsep nirlaba justru menjadikan hal ini peluang bisnis. Uang lancar, kelulusan dan gelar pun dengan mudah diraih, tanpa perlu sungguh- sungguh belajar. Padahal di balik gelar yang disematkan memiliki tanggung jawab yang besar pula.
35Ibid.
36 Kominfo, Perbedaan Sertifikat Kompetensi dengan Sertifikat Lain,
https://kominfo.go.id/content/detail/7895/ini-beda-sertifikat-kompetensi-dan-sertifikat-lain/0/berita_satker
diakses pada 1 Agustus 2020.
Lain lagi dengan lembaga yang mengeluarkan ijazah palsu, di mana konsep pendidikan tinggi yang sesungguhnya tidak diterapkan di sini. Dilansir dari Kompasiana.com, menurut Sigit Rochadi, dosen sosiologi UNAS, beberapa alasan yang melatarbelakangi fenomena jual beli ijazah palsu adalah; 1) faktor prestise, dimana seorang lulusan perguruan tinggi dianggap menaikkan status sosialnya di masyarakat, walau yang sebenarnya dibutuhkan adalah kompetensi bukan gelar semata; 2) Lokasi bukan di kota besar melainkan di daerah, sehingga kurang menarik minat calon mahasiswa untuk mendaftar di perguruan ini.37 Buruknya, fenomena ini biasa dilakukan oleh pejabat dan PNS.38 Tidak mengherankan fenomena jual beli ijazah terjadi bahkan sejak lama, karena jika kita telaah kembali, selain kedua faktor tersebut, cukup banyak perekrut tenaga kerja yang mensyaratkan pelamar kerja memiliki latar belakang pendidikan tinggi, umumnya D3 dan S1. Padahal, lebih dari itu, fakta dibalik dimintanya syarat memiliki latar belakang pendidikan tinggi adalah karena perusahaan membutuhkan dan sedang mencari tenaga kerja dengan kompetensi dan keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh orang dengan latar belakang pendidikan tinggi, bukan meminta “gelar pendidikan tinggi”-nya saja.
Dalam wawancara yang dilakukan oleh Metro TV dalam program Prime Time News, Muhammad Nasir, Menristek Dikti pada kabinet kerja pemerintahan Jokowi-JK periode 2014-2019 menyebutkan bahwa pembubaran perguruan tinggi yang menjual ijazah palsu dilakukan karena kecurangan tidak dapat ditolerir.39 Bahkan
terdapat mahasiswa yang ingin diwisuda tidak tahu menahu di mana letak pasti dari perguruan tempat mereka akan memperoleh gelar akademik. Lalu apa yang sebenarnya yang mereka lakukan untuk mendapatkan gelarnya selain melalui uang? Sebenarnya keterampilan jenis apa yang mereka dapatkan dari membeli ijazah? Fenomena ini cukup menyakitkan karena cita-cita mulia yang ingin diwujudkan dari adanya Perguruan tinggi yang konsep pendidikannya telah meredup ini menjadikan semakin banyaknya lulusan yang sekedar lulusan, bukan yang memiliki kualitas dan produktivitas yang baik.
Perguruan tinggi harus kembali mengokohkan cita-cita mulia yang menjadi tujuan awal pendidikan yaitu mengarah pada sosialisasi, peningkatan mutu,
37 Kompasiana.com, Fenomena Jual Beli Ijazah Palsu,
https://www.kompasiana.com/tongamsinambela/555f1dd8949773470c8b45b1/fenomena-jual-beli-ijazah-palsu diakses 1 Agustus 2020.
38Ibid.
39 Program Prime Time News, Mengapa Kualitas Perguruan Tinggi di Indonesia Tertinggal dari Negara Tetangga, disiarkan oleh Metro TV https://youtu.be/6Voe3UXSyGc diakses pada 31 Juli 2020.
pengabdian masyarakat demi tercapainya pembangunan nasional. Perguruan tinggi seharusnya membawa solusi dan api penerang atas permasalahan yang sedang dihadapi negeri ini. Perguruan tinggi harus kembali mengokohkan cita-cita mulia yang menjadi tujuan awal pendidikan yaitu mengarah pada sosialisasi, peningkatan mutu, pengabdian masyarakat demi tercapainya pembangunan nasional. Perguruan tinggi seharusnya membawa solusi dan sebagai penerang atas permasalahan yang sedang dihadapi negeri ini.
e. Pemanfaatan Teknologi dan Industri Kreatif
Dewasa ini dapat dikatakan seluruh aspek kehidupan kita dipengaruhi teknologi. Perkembangan teknologi yang begitu pesatnya di seluruh bidang ilmu mempengaruhi cara kita hidup, termasuk pekerjaan. Teknologi sangat terasa membantu kehidupan dan mempermudah kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Penggunaan teknologi yang perkembangannya meningkat tajam memberikan pengaruh baik pada mereka yang memiliki usaha mandiri terutama bagi yang baru memulainya karena akan mengurangi biaya-biaya. Teknologi pun dapat bermanfaat untuk mengiklankan dan mempromosikan usaha mandiri yang tengah digeluti, selain itu kita dapat menambah wawasan dan ilmu terkait bidang baru yang sebelumnya belum pernah ditekuni melalui teknologi, dunia benar-benar ada dalam genggaman.
Namun apakah selamanya teknologi akan terus mempermudah hidup? Bagaimana ketika keberadaannya mulai menggeser keberadaan manusia dalam dunia kerja? Ketika masuk tol misalnya, dahulu kita semua perlu mengantri bahkan sampai berkilo-kilo meter di tol terutama ketika libur akhir tahun atau libur panjang karena petugas tol harus secara satu per satu mengurus uang kita keluar masuk tol. Kemudian adanya e-Toll membantu kita untuk lebih cepat melewati gardu tol tanpa perlu mengantri terlalu panjang. Hal ini juga diinisiasi oleh Bank Indonesia dalam Gerakan Nasional Non Tunai/GNNT pada 14 Agustus 2014 dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penggunaan instrumen nontunai. Lama-kelamaan semua pengguna tol sekarang menggunakan e-Toll di gardu otomatis di mana kita hanya perlu menempelkan kartu pada mesin dan kendaraan dapat langsung melewati gardu tol. Dilansir dari Media Indonesia, mulai 31 Oktober 2017 Indonesia menerapkan kebijakan e-Toll pada seluruh wilayah Indonesia. Bagaimana dengan nasib dari petugas penjaga gardu? Petugas yang sebelumnya berjaga di gardu tol setelah adanya kebijakan ini, dialihkan ke pekerjaan lain dalam perusahaan. Artinya akan semakin banyak pekerjaan yang minim tenaga manusia dan membuat kita sadar
bahwa peluang usaha dan industri yang kreatif dan inovatif harus semakin meluas, tidak hanya mengandalkan tenaga, karena seperti yang disebutkan sebelumnya pekerjaan kita terutama yang mengandalkan tenaga dapat tergantikan dengan teknologi dan mesin. Transisi menuju peradaban yang lebih moderen akan semakin cepat mengejar, kualifikasi suatu pekerjaan menjadi lebih tinggi, dunia kerja semakin menuntut tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus. Maka dari itu urgensi perguruan tinggi dalam melahirkan bibit unggul harus semakin dikejar.
Era digital semakin berkembang, termasuk saat pandemi covid-19. Situasi ini membuat kita terpaksa meminimalisasi interaksi secara langsung namun perekonomian harus tetap berjalan. Penguasaan penggunaan teknologi dan digital menjadi jawaban untuk kebutuhan ini. Pandemi ini membawa suatu perubahan tatanan dalam bermasyarakat, mau tidak mau, suka tidak suka, penguasaan terhadap teknologi dan digital harus dilakukan. Mereka yang tidak terbiasa menggunakan teknologi dan menyukai cara yang lebih tradisional terpaksa belajar untuk terbiasa. Akibatnya, pemerataan penguasaan teknologi dan digital semakin cepat.
Era digital kini menghasilkan berbagai jenis pekerjaan baru, seperti content creator, desain grafis, UX designer, dan lain sebagainya. Tidak hanya pekerjaan jenis baru, peluang usaha kecil dan menengah semakin terbuka dengan adanya kemudahan teknologi karena mengutamakan efektifitas dan efisiensi. Dengan mengembangkan pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien, teknologi mampu membantu membuka lapangan kerja baru yang dapat mengentaskan pengangguran.
f. Kerjasama dengan Lembaga Penyalur Kerja dan Stakeholders
Ketika perguruan tinggi menjalin kerja sama dengan pihak lain, pihak perguruan tinggi dan mahasiswa akan mendapat informasi terkait apa yang dunia kerja dan tuntutan pasar butuhkan. Informasi tersebut digunakan perguruan tinggi untuk mengetahui kemampuan dan kompetensi seperti apa yang diperlukan, sehingga dapat dipersiapkan sebaik mungkin kepada calon lulusannya.
g. Pembekalan Terkait Bidang Kerja
Mahasiswa memerlukan pengetahuan mengenai dunia kerja, sebagai persiapan sebelum memulai transisi menuju dunia kerja karena tentunya terdapat berbagai hal yang berbeda dari dunia pendidikan dan dunia kerja. Informasi sedini mungkin akan membuat mahasiswa semakin mantap memenuhi kebutuhan dunia kerja. Walaupun setiap perusahaan mungkin untuk memiliki kebijakan yang berbeda kepada karyawannya, setidaknya mahasiswa memiliki bekal dasar yang umumnya diminta
pihak perusahaan. Sebagai contoh terdapat sebagian perusahaan yang akan memberikan pendidikan khusus untuk beberapa waktu agar karyawan mampu menghadapi situasi terkait tugas dan posisinya saat bekerja nantinya, sebagian lagi yang sudah sedari awal meminta kemampuan dan keterampilan minimal yang harus dikuasai pelamar pekerjaan, dan lain sebagainya. Persiapan sedini mungkin akan membuat mahasiswa mempersiapkan diri dengan baik untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja dan disesuaikan dengan cabang ilmunya masing-masing.
Pembekalan dapat dilakukan melalui pembekalan sebelum magang dan seminar. Isi dari pembekalan beragam, di antaranya sharing mengenai gambaran dunia kerja, informasi mengenai lowongan pekerjaan, sifat pekerja yang dicari perusahaan, informasi terkait etika dalam bekerja, pembekalan untuk mengasah hard skills seperti; kemampuan analisa, desain, menulis, pemrograman komputer serta soft skills seperti; cara komunikasi yang baik dan asertif, regulasi diri, regulasi emosi, manajemen waktu. Semenjak pembatasan interaksi langsung karena merebaknya covid-19 dan ditetapkannya menjadi pandemi global oleh WHO, kegiatan dialihkan menjadi online. Semakin banyak webinar yang memberi pembekalan yang sangat bermanfaat, bahkan di antaranya gratis alias hanya perlu klik sana sini lalu ilmu yang bermanfaat itu pun sudah langsung tertera pada layar. Selain webinar online, terdapat pula panel diskusi online yang tersedia di berbagai platform media sosial, dan lagi-lagi gratis. Pembekalan-pembekalan tersebut sangat diperlukan karena diisi oleh pembicara yang informatif dan berkompeten di bidangnya, mahasiswa akan mengetahui hal-hal yang perlu mereka siapkan untuk dunia kerja nanti.ng akan memudahkan lulusan untuk beradaptasi di dunia kerja nantinya.
h. Pembekalan Kewirausahaan
Perguruan tinggi melalui program studinya memiliki program pendidikan sendiri yang mengarah pada bidang tertentu, namun dengan semakin tingginya tuntutan penyerapan tenaga kerja terhadap lapangan kerja, perguruan tinggi perlu menyiapkan pembekalan yang bermanfaat di luar bidang studi yang dipilih mahasiswanya, salah satunya adalah pembekalan di bidang wirausaha. Perguruan tinggi dapat mengadakan seminar, minimal. Di mana dalam seminar mengundang pembicara informatif yang akan memberikan hal-hal yang berkaitan dengan kewirausahaan, manajemennya, implementasi dalam kehidupannya, tips dan lain sebagainya. Pengenalan awal ini setidaknya menjadi insight bagi mahasiswa, mahasiswa aakn tahu bagaimana kehidupan usaha walau hanya tidak dengan
mengalaminya secara langsung. Untuk tingkat yang lebih tinggi lagi, perguruan tinggi dapat membuat produk kewirausahaan yang melibatkan mahasiswanya, hal ini akan membuat mahasiswa terbiasa dan terlatih bagaimana kehidupan usaha secara nyata berjalan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Fenomena pengangguran di Indonesia menjadi masalah yang terus terjadi sejak lama. Berbagai upaya dilakukan untuk mengentaskan permasalahan ini, salah satunya melalui pendidikan. Walaupun semakin banyak pengangguran yang diserap oleh lapangan kerja, namun masalah berikutnya yang muncul adalah fenomena pengangguran terdidik, yang kian hari semakin menumpuk. Melihat dari kenyataannya, perguruan tinggi belum benar-benar mampu menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang dibutuhkan industri dan dunia kerja. Pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan tinggi benar-benar harus mengambil langkah nyata untuk bebenah melalui kebijakan yang efektif dan efisien. Perencanaan strategis untuk menyelesaikan fenomena pengangguran terdidik adalah fokus pada mutu dan kualitas pendidikannya, langkah paling realistis adalah melalui TQM/Total Quality Management. Ketika sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia memiliki kualitas yang baik, maka output yang dihasilkan akan berkualitas baik pula. SDM berkualitas adalah mutlak karena era yang sedang kita jalani adalah era yang penuh dengan kejutan karena teknologi dan informasi berkembang begitu cepatnya, sehingga daya saing unggul harus menjadi yang utama.
B.
Saran
Permasalahan mutu dan kualitas di pendidikan tinggi memang kompleks, dibutuhkan keseriusan dan kerja sama dari seluruh pihak untuk mewujudkan Indonesia yang gemilang. Indonesia yang bukan hanya indah alamnya, namun indah pula aliran ide kreatif dan inovatif dari sumber daya manusianya dalam menghadapi tantangan globalisasi. Perguruan tinggi harus adaptif pada dinamika dan perubahan kebutuhan dunia, penyesuaian kurikulum yang sesuai zaman, serta perbaikan dan pemeliharaan mutu dalam jangka panjang harus dilakukan.
Manfaat dari menempuh pendidikan tinggi adalah dapat membuka peluang dalam berkarir karena pendidikan tinggi membantu kita untuk memiliki pola pikir yang logis dan baik, melihat sesuatunya tidak hanya berdasarkan perspektif ego semata namun juga dengan kenyataan dan beragam perspektif, serta menjadikan diri kita mampu berempati dengan tetap memiliki kemampuan untuk memberi solusi atas permasalahan dan kebutuhan masyarakat. Fenomena pengangguran terutama yang terdidik di Indonesia
seharusnya mampu menyadarkan kita bahwa diperlukan ketulusan hati dan niat serta langkah nyata untuk melakukan perubahan dan kontrol atas kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia. Tentunya diperlukan keteguhan hati, pikiran, dan perbuatan semua pihak untuk menjadikan pendidikan yang berkualitas dan merata di Indonesia menjadi kenyataan dan bukan angan semata. Karena seharusnya pendidikan mampu menjadi lentera penerang atas gelapnya permasalahan yang negeri ini hadapi termasuk dalam pengentasan pengangguran.