i
TUGAS AKHIR – RI141501
DESAIN INTERIOR HOTEL TENTREM SEMARANG DENGAN KONSEP
BUDAYA PERANAKAN CINA (PENGAPLIKASIAN WAYANG POTEHI
PADA INTERIOR HOTEL)
HANA KHAIRUNNISA
NRP 3813100023
Dosen Pembimbing:
Anggri Indraprasati, S.Sn., M.Ds., NIP: 19710819 200112 2 001 DEPARTEMEN DESAIN INTERIOR
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2017
i
CHINESE CULTURE CONCEPT (APPLYING WAYANG POTEHI TO
HOTEL INTERIOR)
HANA KHAIRUNNISA NRP 3813100023 Advisor: Anggri Indraprasati, S.Sn., M.Ds., NIP: 19710819 200112 2 001 INTERIOR DESIGN DEPARTMENTFaculty of Civil Engineering and Planning Sepuluh Nopember Institute of Technology Surabaya 2017
iii
Nama Mahasiswa : Hana Khairunnisa
NRP : 3813100023
Dosen Pembimbing : Anggri Indraprasti, S.Sn., M.Ds.,
ABSTRAK
Kota metropolitan terbesar ke-lima setelah Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung, juga ibukota dari provinsi Jawa Tengah, yaitu Semarang, mempunyai potensi yang besar dalam perkembangan ekonomi. Hotel Tentrem ini merupakan hotel bintang lima dengan sasaran segmen menengah ke atas berada di segitiga emas di Kota Semarang oleh pengembang, mencakup JL Gajahmada- Jl Pemuda- Jl Pandanaran hingga bertemu di kawasan Simpang Lima Semarang. Berawal dari isu belakangan ini, yaitu budaya membeda-bedakan suku dan ras menjadi salah satu ide untuk mencari hasil kebudayaan Tionghoa yang sudah terakulturasi dengan etnis pribumi (peranakan Tionghoa-Jawa). Wayang Potehi merupakan wayang asal Tionghoa pertama sebelum Wayang Thithi yang dibawa oleh Tionghoa dan dilestarikan di pulau Jawa. Namun sayangnya, tidak banyak orang Indonesia bahkan keturunan Tionghoa-pun kenal dengan wayang yang mempunyai banyak cerita moral, dan mempunyai nilai sejarah bangkitnya budaya Tionghoa pada Indonesia.
Keanekaragaman budaya di Semarang, terutama Tionghoa sangatlah menarik untuk dieksplor, karena pendatang di Semarang banyak berasal dari Tionghoa dibanding imigran lainnya, sehingga membentuk banyak hasil kebudayaan akulturasi antara kebudayaan Tionghoa dan kebudayaan Pribumi (Jawa). Salah satu bentuk akulturasi dan asimilasi budaya Cina yang dilahirkan di tanah Jawa adalah seni sastra dan wayang. Tugas akhir ini penulis akan banyak mengeksplor mengenai Wayang Potehi. Dari bentukan, dan warna setting Potehi dalam interior hotel dengan tujuan mengenalkan dan melestarikan kebudayaan Tionghoa-Jawa.
iv
Student Name : Hana Khairunnisa
Student ID : 3813100023
Advisor : Anggri Indraprasti, S.Sn., M.Ds.,
ABSTRACT
The biggest metropolitant city in Indonesia after Jakarta, Surabaya, Medan and Bandung, is also the capital city of Central Java, known as Semarang has great potential for the economic growth. Tentrem Hotel as a five-stars hotel with targeting middle upward segment located in central of the city by the developer included JL Gajahmada- Jl Pemuda- Jl Pandanaran and met on Simpang Lima Semarang region. Started from the recent issues, differentiating culture tribes and races become one of the ideas to find the results of Chinese culture that has already acculturated with ethnic indigenous (Peranakan between Chinese – Java). Wayang Potehi is the first chinese puppet before Wayang Thithi that carried by chinese and preserved in Java. Unfortunately, not many Indonesian people even the Peranakans didn’t known the puppets that has a lot of moral story, and having historical value the rise of chinese culture in Indonesia.
The cultural variety in Semarang, especially chinese culture is magnificent to be explored, because the visitors in Semarang is dominant from chinese than the other immigrants. So as to form many results of culture acculturation between chinese and indigenous culture (Java). The ones form of acculturation and assimilation of chinese culture who was born in Java is the literature and puppets. In this final project, the writer is to explore about Wayang Potehi. From its shape, and the color setting of Potehis shows in the interior of hotel for the purpose introduce and preserving culture of Chinese-Javanese. Keyword : Tentrem Hotel, Culture, Peranakan Chinese, Wayang Potehi
v
Puji syukur, Alhamdulillahirabbil’alamin penulis panjatkan kepada Allah SWT kareana dengan segala karunia dan nikmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul Desain Interior Hotel Tentrem Semarang Dengan Konsep Budaya Peranakan Cina (Pengaplikasian Wayang Potehi Pada Interior Hotel) dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan mata kuliah Tugas Akhir Jurusan Desain Interior, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Penyusunan laporan ini tidak mungkin akan selesai tanpa bantuan berbagai pihak, sehingga tidak lupa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT beserta junjunganya Nabi Muhammad SAW. Dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan,
2. Kedua orang tua saya, kakak saya, dan adik saya yang selalu memberikan doa dan dukungannya,
3. Bapak Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T., selaku ketua jurusan Desain Interior ITS Surabaya,
4. Ibu Anggri Indraprasti, S.Sn., M.Ds., selaku dosen pembimbing selama Tugas Akhir berjalan,
5. Dosen penguji yang telah memberikan masukan dan komentar,
6. Karyawan divisi interior PT. Airmas Asri dan staff Hotel Tentrem Yogyakarta,
7. Ryan, Belinda, Della, Syifa, Muthia, Redy, dan kawan-kawan lainnya yang selalu ada dan memberi dukungan kepada saya,
8. Teman-teman interior 2013, dan 2014,
9. Seluruh pihak yangtelah membantu menyelesaikan laporan ini.
Dengan ini diharapkan agar laporan yang telah disusun penulis dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Penulis menyadari bahwa laporan ini belum sempuna, maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca.
Surabaya, Juli 2017
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i LEMBAR PENGESAHAN ... ii ABSTRAK ... iii ABSTRACT ... iv KATA PENGANTAR ... v DAFTAR ISI ... vi DAFTAR GAMBAR ... xiDAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR BAGAN ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan dan Manfaat ... 2
1.3.1 Tujuan ... 2
1.3.2 Manfaat ... 3
1.4 Ruang Lingkup ... 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA, STUDI EKSISTING DAN STUDI PEMBANDING 2.1 Hotel ... 5
2.1.1 Pengertian Hotel ... 5
2.1.1.1 Sejarah Hotel ... 6
2.1.2 Penggolongan Hotel ... 9
vii
2.1.4 Aktifitas dan Fasilitas Hotel ... 16
2.1.4.1 Aktifitas ... 16
2.1.4.2 Fasilitas ... 17
2.1.4.3 Elemen Pembentuk Ruang ... 19
2.1.5 Organisasi Ruang Hotel ... 21
2.1.6 Standarisasi dan Kriteria Fasilitas Hotel Bintang Lima ... 22
2.2 Peranakan Cina 2.2.1 Pengertian Peranakan Cina ... 25
2.2.2 Akulturasi Etnis Tionghoa dan Jawa ... 28
2.2.2.1 Akulturasi Batik Tradisional Jawa dengan Tionghoa ... 29
2.3 Wayang Potehi ... 34
2.3.1 Asal Mula Wayang Potehi ... 34
2.3.2 Pertunjukan Wayang Potehi ... 35
2.4 Karakteristik Dalam Desain Interior ... 38
2.4.1 Feng Shui ... 38
2.4.2 Warna ... 38
2.4.3 Ragam Hias Simbol ... 40
2.4.4 Arsitektur Khas Cina ... 42
2.4.4.1 Penekanan Horisontal ... 43
2.5 Utilitas Hotel ... 44
2.5.1 Pencahayaan ... 45
2.5.2 Penghawaan ... 46
2.5.3 Audio ... 47
2.6 Ergonomi dan Antropometri ... 47
2.7 Studi Objek ... 52
2.7.1 Corporate Identity ... 52
2.8 Studi Eksisting ... 54
viii 2.9.1 Corporate Identity ... 58 2.9.2 Jenis Kamar ... 58 2.9.3 Analisa Arsitektur ... 59 2.9.4 Analisa Interior ... 60 2.10 Studi Pembanding 2 ... 61 2.10.1 Corporate Identity ... 61
2.10.2 Museum dan Galeri ... 61
BAB III METODOLOGI DESAIN 3.1 Tahap Identifikasi Objek ... 63
3.2 Tahap Identifikasi Judul ... 64
3.3 Tahap Identifikasi Tujuan ... 64
3.4 Tahap Identifikasi Masalah ... 64
3.5 Tahap Pengumpulan Data ... 65
3.6 Tahap Analisa Data ... 66
3.7 Metode Desain ... 68
BAB IV DATA DAN ANALISA 4.1 Data Hotel Tentrem ... 69
4.2 Studi Pengguna ... 70
4.2.1 Analisa Kegiatan Tamu ... 71
4.3 Studi Ruang ... 72
4.3.1 Lobby ... 72
4.3.2 Bar and Lounge ... 73
4.4 Hubungan Ruang ... 74
4.5 Identitas Hotel ... 75
4.5.1 Hotel Tentrem Jogjakarta ... 75
4.5.2 Hotel Tentrem Semarang ... 79
ix
4.5.4 Perencanaan Eksisting ... 79
4.5.4.1 Siteplan dan Denah Eksisting ... 81
4.6 Data Wayang Potehi ... 81
4.6.1 Data dan Analisa Wawancara ... 82
4.6.2 Hasil Survey ... 85
4.7 Konsep Desain ... 88
4.8 Aplikasi Konsep Desain pada Rancangan ... 89
4.8.1 Konsep Dinding ... 89 4.8.2 Konsep Lantai ... 89 4.8.3 Konsep Plafon ... 90 4.8.4 Konsep Penghawaan ... 90 4.8.5 Konsep Pencahayaan ... 91 4.8.6 Konsep Furnitur ... 92
4.8.7 Konsep Elemen Estetis ... 93
BAB V PROSES DAN HASIL DESAIN 5.1 Alternatif Layout ... 95
5.1.1 Alternatif Layout 1 ... 95
5.1.2 Alternatif Layout 2 ... 97
5.1.3 Alternatif Layout 3 ... 98
5.1.4 Pemilihan Alterntaif Layout ... 100
5.2 Pengembangan Alternatif Layout Terpilih ... 101
5.3 Desain Area Terpilih 1 ... 103
5.3.1 Layout Area Terpilih 1 ... 103
5.3.2 Visualisasi Area Terpilih 1 ... 104
5.3.3 Elemen Estetis dan Detail Furnitur ... 106
5.4 Desain Area Terpilih 2 ... 109
5.4.1 Layout Area Terpilih 2 ... 109
x
5.4.3 Elemen Estetis dan Detail Furnitur ... 111
5.5 Desain Ruang Terpilih 3 ... 112
5.5.1 Layout Ruang Terpilih 3 ... 113
5.5.2 Visualisasi Area Terpilih 3 ... 113
5.5.3 Elemen Estetis dan Detail Furnitue ... 116
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 117
6.2 Saran ... 117
DAFTAR PUSTAKA ... xviii
LAMPIRAN ... xix
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 City Hotel New York ... 7
Gambar 2.2 Tremont House Di Boston Dan Astor House, Ny ... 7
Gambar 2.3 Contoh Motel Di Nevada ... 8
Gambar 2.4 Perkawinan Baba Nyonya ... 26
Gambar 2.5 Contoh Pengaplikasian Langgam Peranakan Cina ... 27
Gambar 2.6 Contoh Pengaplikasian Langgam Peranakan Cina ... 27
Gambar 2.7 Contoh Pengaplikasian Langgam Peranakan Cina ... 27
Gambar 2.8 Batik Motif Cina ... 30
Gambar 2.9 Batik Motif Lasem ... 33
Gambar 2.10 Batik Motif Tokwi ... 33
Gambar 2.11 Wayang Potehi ... 34
Gambar 2.12 Tampil Wayang Potehi ... 35
Gambar 2.13 Skema Warna ... 39
Gambar 2.14 Ambient Lighting ... 43
Gambar 2.15 Accent Lighting ... 43
Gambar 2.16 Task Lighting ... 43
Gambar 2.17 Decorative Lighting ... 44
Gambar 2.18 Kinetic Lighting ... 44
Gambar 2.19 Antropometri Sarana Duduk Lobby Dan Lounge ... 46
Gambar 2.20 Antropometri Sarana Duduk Lobby Dan Lounge ... 47
Gambar 2.21 Antropometri Sarana Duduk Lounge ... 47
Gambar 2.22 Antropometri Sarana Tunggu Lobby ... 48
Gambar 2.23 Antropometri Meja Resepsionis Lobby ... 48
Gambar 2.24 Ergonomi Ruang Nyaman ... 49
Gambar 2.25 Ergonomi Ruang Nyaman ... 50
Gambar 2.26 Logo Hotel Tentrem Semarang ... 50
xii
Gambar 2.28 Foto Area Lobby ... 52
Gambar 2.29 Foto Area Resepsionis ... 52
Gambar 2.30 Foto Guest Room ... 53
Gambar 2.31 Foto Private Bar And Lounge ... 53
Gambar 2.32 Foto Area Masuk Gym ... 54
Gambar 2.33 Foto Ruang Ganti Dan Spa ... 54
Gambar 2.34 Foto Restoran All-Day Dining ... 55
Gambar 2.35 Logo Aman Summer Palace ... 56
Gambar 2.36 Foto Deluxe Suites Room ... 56
Gambar 2.37 Foto Deluxe Pavilion Room ... 56
Gambar 2.38 Foto Imperial Suite Room ... 57
Gambar 2.39 Foto Guestroom ... 57
Gambar 2.40 Foto Exterior Hotel ... 57
Gambar 2.41 Foto Lobby Hotel ... 58
Gambar 2.42 Denah Peranakan Museum ... 59
Gambar 2.43 Foto Exterior Museum Peranakan ... 60
Gambar 2.44 Foto Interior Museum Peranakan ... 60
Gambar 2.45 Foto Baju Adat Pernikahan. ... 60
Gambar 2.46 Foto Display Nyonya Needlework Khas Peranakan Cina ... 61
Gambar 4.1 Gambar Alur Kegiatan Tamu Yang Menginap ... 72
Gambar 4.2 Alur Kegiatan Tamu Yang Tidak Menginap ... 73
Gambar 4.3 Diagram Alur Kegiatan Pada Lounge... 73
Gambar 4.4 Matriks Hubungan Ruang ... 74
Gambar 4.5 Lokasi Hotel Tentrem Jogjakarta ... 75
xiii
Gambar 4.7 Gambar Lobby Hotel Tentrem Jogjakarta ... 77
Gambar 4.8 Gambar Area Resepsionis Hotel Tentrem Jogjakarta ... 77
Gambar 4.9 Gambar Lobby Hotel Tentrem Jogjakarta ... 78
Gambar 4.10 Gambar Bar Dan Lounge Hotel Tentrem Jogjakarta ... 78
Gambar 4.11 Logo Hotel Tentrem Semarang ... 79
Gambar 4.12 Lokasi Hotel Tentrem Semarang ... 79
Gambar 4.13 Alur Sirkulasi Eksisting ... 80
Gambar 4.14 Layout Setting Out Plan Ground Floor Hotel Dan Apartemen Hotel Tentrem Semarang ... 81
Gambar 4.15 Foto Interior Klenteng Hong Tiek Hian ... 85
Gambar 4.16 Foto Salah Satu Meja Di Ruang Doa Klenteng Hong Tiek Hian 86
Gambar 4.17 Foto Salah Satu Sudut Klenteng Hong Tiek Hian ... 86
Gambar 4.18 Foto Kain Motif 8 Dewa Dan Naga ... 87
Gambar 4.19 Foto Pakaian Dan Karakter Wayang Potehi ... 88
Gambar 4.20 Material Konsep Dinding ... 89
Gambar 4.21 Material Konsep Lantai ... 89
Gambar 4.22 Konsep Plafon ... 90
Gambar 4.23 Konsep Penghawaan ... 90
Gambar 4.24 Konsep Pencahayaan ... 91
Gambar 4.25 Konsep Furnitur ... 92
Gambar 4.26 Konsep Elemen Estetis ... 93
Gambar 5.1 Alternatif Layout 1 ... 95
Gambar 5.2 Sketsa Alternatif 1 ... 96
Gambar 5.3 Alternatif Layout 2 ... 97
xiv
Gambar 5.5 Alternatif Layout 3 ... 98
Gambar 5.6 Sketsa Alternatif 3 ... 99
Gambar 5.7 Alternatif Layout 3 (Awal) ... 101
Gambar 5.8 Alternatif Layout 3 (Akhir) ... 102
Gambar 5.9 3D View Desain Awal ... 102
Gambar 5.10 Area Terpilih 1 ... 103
Gambar 5.11 View 1 Area Terpilih 1 ... 104
Gambar 5.12 View 2 Area Terpilih 1 ... 105
Gambar 5.13 Elemen Estetis Area Terpilih 1 ... 105
Gambar 5.14 Detail Elemen Estetis Terpilih 1 ... 106
Gambar 5.15 Furnitur 1 Area Terpilih 1 ... 106
Gambar 5.16 Detail Furnitur 1 Terpilih 1 ... 107
Gambar 5.17 Furnitur 2 Area Terpilih 1 ... 107
Gambar 5.18 Detail Furnitur 2 Terpilih 1 ... 108
Gambar 5.19 Area Terpilih 2 ... 108
Gambar 5.20 View 1 Area Terpilih 2 ... 109
Gambar 5.21 View 2 Area Terpilih 2 ... 109
Gambar 5.22 Gambar Karakter Wayang Potehi ... 110
Gambar 5.23 Elemen Estetis Area Terpilih 2 ... 110
Gambar 5.25 Furnitur 1 Area Terpilih 2 ... 111
Gambar 5.26 Detail Furnitur 1 Area Terpilih 2 ... 111
Gambar 5.27 Furnitur 2 Area Terpilih 2 ... 112
Gambar 5.28 Detail Furnitur 2 Area Terpilih 2 ... 112
Gambar 5.29 Ruang Terpilih 3 ... 113
xv
Gambar 5.31 View 2 Ruang Terpilih 3 ... 114
Gambar 5.32 View 3 Ruang Terpilih 3 ... 114
Gambar 5.33 Elemen Estetis Ruang Terpilih 3 ... 115
Gambar 5.34 Detail El. Estetis Ruang Terpilih 3 ... 115
Gambar 5.35 Furnitur 1Ruang Terpilih 3 ... 116
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Daftar sebagian simbolis Cina ... 40
Tabel 4.1 Kebutuhan Data untuk Analisa ... 69
Tabel 4.2 Identifikasi Tamu Hotel ... 71
Tabel 4.3 Kebutuhan Area Lobby Saat Kegiatan Penuh ... 73
Tabel 4.4 Kebutuhan Bar and Lounge Saat Kegiatan Penuh ... 74
Tabel 5.1 Weighted Objective Method ... 100
Tabel 5.2 Weighted Objective Method ... 100
Tabel 5.3 Weighted Objective Method Alternatif Terpilih ... 101
DAFTAR BAGAN
Bagan 3.1 Alur Metodologi Desain ... 63xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I – RAB Area Resepsionis Lampiran II – Gambar Kerja
1. Siteplan
2. Layout Eksisting
3. Denah Alternatif Terpilih Keseluruhan 4. Area Terpilih 1
5. Area Terpilih 2 6. Ruang Terpilih 3 7. Potongan Eksisting
8. Potongan Alternatif Terpilih Keseluruhan 9. Potongan Area Terpilih 1 (1)
10. Potongan Area Terpilih 1 (2) 11. Potongan Area Terpilih 1 (3) 12. Potongan Area Terpilih 1 (4) 13. Potongan Area Terpilih 2 (1) 14. Potongan Area Terpilih 2 (2) 15. Potongan Area Terpilih 1 (1) 16. Potongan Ruang Terpilih 3 (1) 17. Potongan Ruang Terpilih 3 (2)
xviii
DAFTAR PUSTAKA
A Rutes, Walter and Richard Penner. 1985. Hotel Planning and Design. Architectural Press Ltd, New York.
Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. KM.3/HK.001/MKP.02,2002. Penggolongan Kelas Hotel.
Lawson, Fred. 1976. Hotels, Motels, and Condominiums: Design, Planning, and Maintanance.
Panero, Julius and Zelnik Martin. 1979. Human Dimension and Interior Space. New York: Whitney Library of Design
Knapp, Ronald. 2012. The Peranakan Chinese Home Art and Culture in Daily Life. Singapore: Turtle Publishing.
Hattrell, W.S. 1962. Hotels, Restaurants, and Bars. New York: Reinhold Publishing Corporation.
Wicaksono, Andie A, 2006. Menata Interior Sesuai Feng Shui. Jakarta: Penebar Swadaya.
Marlina, Endy. 2008. Panduan Perancangan Bangunan Komersil. Yogyakarta: ANDI.
Ngesti Lestari. 2005. Suatu Kajian Historis Seni Pertunjukan Wayang Potehi di Semarang dan Perkembangannya. Semarang: Jurnal Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.
Asmito. 1992. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Semarang: IKIP Semarang Press.
Kuardhani, Hiwan. 2011. Maecanas Potehi dari Gudo. Penerbit: Isaacbook. A.K, Ferry. 2010. Mendalami Wayang Potehi. Jakarta: Travel Club
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semarang merupakan kota metropolitan terbesar ke-lima setelah Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung, juga ibukota dari provinsi Jawa Tengah ini mempunyai potensi yang besar dalam perkembangan ekonomi. Menurut salah satu lembaga survei, dikatakan bahwa Semarang akan menjadi tempat terbaik untuk tinggal di tahun 2019. Oleh karena itu, maraknya pembangunan hotel dan apartemen selain untuk tempat singgah dan tinggal juga bisa berinvestasi jangka panjang. Salah satu hotel di Semarang yang sedang memajukan bisnis hotel dan apartemen, akan digabung dengan Mall di dalamnya.
Hotel Tentrem ini merupakan hotel bintang lima dengan sasaran segmen menengah ke atas berlogo bunga teratai dibangun dengan kapasitas 216 kamar dengan tipe deluxe, premier, executive, dan president suite. Berada di kawasan
segitiga emas di Kota Semarang, mencakup Jl Gajahmada- Jl Pemuda- Jl Pandanaran hingga bertemu di kawasan Simpang Lima Semarang.
Keanekaragaman budaya di Semarang, terutama Tionghoa sangat menarik untuk dieksplor, karena pendatang di Semarang banyak berasal dari Tionghoa. Akibat dari banyaknya pendatang membentuk hasil budaya akulturasi antara kebudayaan Tionghoa dan kebudayaan Pribumi (Jawa). Salah satu bentuk akulturasi budaya Cina yang dilahirkan di tanah Jawa adalah seni tekstil, seni sastra dan wayang, yang dikenal sebagai Wayang Potehi dan berkembang menjadi Wayang Thithi. Eksistensi Wayang Potehi di Indonesia sayangnya sudah mulai tertinggal, karena Wayang Potehi hanya berkembang di daerah tertentu.
Kesimpulannya, Hotel dan Apartemen Tentrem sebagai salah satu landmark di Semarang menyediakan hotel untuk tamu segmen menengah ke atas sebagai objek Tugas Akhir dan akan mendesain yang lebih sesuai dengan latar belakang sejarah hasil kebudayaan kota Semarang, yaitu Wayang Potehi. Dengan konsep ini
2
diharapkan dapat mengembangkan dan mewujudkan fasilitas hotel yang sesuai dan memberi pengalaman baru bagi pengguna.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana mendesain hasil studi akulturasi budaya Tionghoa – Jawa (Wayang Potehi) yang dapat menciptakan suasana khas pada Hotel Tentrem?
2. Bagaimana menciptakan interior yang dapat diterima dengan semua etnis
bagi pengguna Hotel Tentrem?
3. Bagaimana mewujudkan alur sirkulasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna Hotel Tentrem?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
1. Menciptakan suasana dan imej hotel yang diambil dari potensi Wayang Potehi.
2. Dapat menyesuaikan langgam akulturasi budaya Oriental dengan budaya lokal yang dapat menyesuaikan masyarakat modern dalam segi desain upaya meningkatkan kebudayaan setempat.
3. Menciptakan desain interior hotel yang dapat memberikan kenyamanan kepada pengelola maupun pengunjung hotel.
1.3.2 Manfaat
Bagi Hotel Tentrem Semarang
1. Menampilkan desain interior yang baru yang dapat meningkatkan daya saing terhadap hotel lainnya.
2. Dapat melestarikan dan menunjukan budaya Peranakan Cina dan Wayang
Potehi kepada pengunjung hotel.
Bagi Pengunjung Hotel Tentrem Semarang
3
2. Menambah pengetahuan tentang budaya Peranakan Cina dan Wayang
Potehi.
Bagi Mahasiswa
1. Menambah ilmu dan pengetahuan tentang hotel, klasifikasi, dan hasil kebudayaan Cina dan Jawa.
2. Menambah kemampuan tentang mendesain hotel yang sesuai dengan
kebutuhan dan standard.
3. Menambah kemampuan dalam menyelesaikan masalah dalam bidang
interior.
1.4 Ruang Lingkup
1. Desain interior meliputi area lobby, area lounge, dan guestroom.
2. Mengaplikasikan Feng Shui hanya pada warna elemen interior.
4
5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, STUDI EKSISTING DAN STUDI
PEMBANDING
2.1. Hotel
2.1.1 Pengertian Hotel
Hotel adalah suatu bentuk bangunan, lambang, perusahaan atau badan usaha akomodasi yang menyediakan pelayanan jasa penginapan, penyedia makanan dan minuman serta fasilitas jasa lainnya dimana semua pelayanan itu diperuntukan bagi masyarakat umum, baik mereka yang bermalam di hotel tersebut ataupun mereka yang hanya menggunakan fasilitas tertentu yang dimiliki hotel itu. Pengertian hotel berdasarkan beberapa definisi menurut para ahli:
Menurut Sulastiyono (2011:5), hotel adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang-orang yang melakukan perjalanan dan mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tampa adanya perjanjian khusus.
Menurut kamus Oxford, The advance learned’s Dictionary adalah “Buildig where meals and rooms are provided for travelers.” (bangunan (fisik) ang
menyediakan layanan kamar, makananan, dan minuman bagi tamu.)
Menurut The American Hotel and Motel Association (AHMA)
sebagaimana dikutip oleh Steadmon dan Kasavana: A hotel may be defined an estiblishment whose primary business is providing lodging facilities for the general public and which furnishes one or more of the followingservices, uniformed services, laundering of linens and use of furniturs. (Hotel dapat didefinisikan 13 sebagai sebuah bangunan yang dikelola secara komersial dengan memberikan fasilitas penginapan untuk umum dengan fasilitas pelayanan makan
6
dan minum, pelayanan kamar, pelayanan barang bawaan, pencucian pakaian dan dapat menggunakan fasilitas atau perabotan dan dapat menikmati hiasan-hiasan yang ada di dalamnya.)
Pengertian hotel menurut SK Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi No. KM 37/PW. 340/MPPT-86 dalam Sulastiyono (2011:6), adalah "Suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman, serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial. Hal senada juga dipaparkan oleh American Hotel and Association ia mengungkapkan bahwa hotel merupakan suatu tempat yang sengaja disediakan untuk tujuan pengianapan, makan dan mibum, serta pelayanan lainnya yang ada berupa fasilitas hotel lainnya. Berdasarkan SK Menparpostel RI No. PM/PW 301/PHB-77 hotel dibagi menjadi beberapa macam, diantaranya:
a. Hotel berbintang 1 (satu) b. Hotel berbintang 2 (dua) c. Hotel berbintang 3 (tiga) d. Hotel berbintang 4 (empat) e. Hotel berbintang 5 (lima)
Berdasarkan definisi para ahli diatas maka penulis menyimpulkan bahwa hotel adalah sebagai suatu usaha jasa yang merupakan sarana pendukung kegiatan pariwisata, dimana pengelolaannya dilakukan secara professional dan didukung oleh tenaga kerja yang memiliki keterampilan baik dalam bidang perhotelan. 2.1.1.1 Sejarah Hotel
Hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari bahasa Perancis kuno. Bangunan publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17. Maknanya kira-kira, "tempat penampungan buat pendatang" atau bisa juga "bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum". Jadi, pada mulanya hotel memang diciptakan untuk meladeni masyarakat.
7 Tak aneh kalau di Inggris dan Amerika, yang namanya pegawai hotel dulunya mirip pegawai negeri alias abdi masyarakat. Tapi, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan inap-makan ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu pun dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah. Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah.
Gambar 2.1 City Hotel New York tahun 1794 Sumber:
http://3.bp.blogspot.com/-tLPrP_54Z_M/UfHeisvA7TI/AAAAAAAAAjM/38xoCtxxT5c/s1600/70946-004-8A6D43D7.jpg (Akses 25/2/2017, 21.40 WIB)
Sampai pada tahun 1794, saat City Hotel dibangun di New York. City Hotel itulah pelopor pembangunan penginapan gaya baru yang lebih fashionable. Sebab, dasar pembangunannya tak hanya mementingkan letak yang strategis. Tapi juga pemikiran bahwa hotel juga tempat istirahat yang mumpuni. Jadi, tak ada salahnya didirikan di pinggir kota.
Gambar 2.2 Tremont House di Boston dan Astor House di New York Sumber: http://www.greatchicagofire.org/landmarks/tremont-house/ (Akses 25/2/2017,
21.40 WIB)
Setelah itu, muncul hotel-hotel legendaris seperti Tremont House (Boston, 1829) yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu tempat paling top
8
di Amerika Serikat (AS). Tremont bersaing ketat dengan Astor House, yang dibangun di New York, 1836. Saat itu, hotel modern identik dengan perkembangan lalu lintas dan tempat beristirahat. Saat pembangunan jaringan kereta api sedang gencar-gencarnya, hampir di tiap perhentian (stasiun) ada hotel.
Maksudnya jelas, untuk mengakomodasi orang-orang yang baru saja bepergian dengan kereta api. Karena masa itu naik kereta api sangat melelahkan, hotel-hotel pun dijadikan sebagai hiburan pelepas penat. Hotel jenis ini, diembeli-embeli dengan kata "transit", karena memang ditujukan buat para musafir.
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan makin luasnya jangkauan angkutan darat (terlebih setelah ditemukannya kendaraan bermotor), kawasan sekitar rel kereta api tak lagi menarik minat para investor. Orang kemudian lebih suka jalan-jalan pakai mobil ketimbang kereta. Kepopuleran hotel transit pun tersaingi oleh kehadiran "motel", gabungan kata "motor hotel" yang sama dengan tempat istirahat para pengendara kendaraan bermotor.
Gambar 2.3 Contoh Motel di Nevada Sumber:
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/12/Lorraine_Motel_02_15_MAR_201 2.jpg/220px-Lorraine_Motel_02_15_MAR_2012.jpg (Akses Akses 25/2/2017, 21.40 WIB)
Kejayaan motel tak berlangsung lama. Seiring makin pesatnya perkembangan kota, berakhir pula era motel. Terutama karena letaknya yang agak di pinggir kota dan fasilitasnya yang kalah bagus dengan hotel di pusat kota. Kalaupun terpaksa bermalam di kawasan pinggiran, motel harus bersaing dengan hotel resort, yang banyak tumbuh di tempat-tempat peristirahatan.
9 Selain hotel, resort, anak-anak kandung hotel yang lahir di era 1990-an tak kalah hebatnya. Sebut saja berbagai extended-stay hotel, khusus buat tamu yang membutuhkan tempat menginap minimal lima malam. Sedangkan pelaku bisnis yang harus bernegosiasi di kampung atau negeri orang, bisa mencari hotel apartment. Di Amerika, dua jenis hotel ini berkembang sangat pesat.
Di Indonesia, kata hotel selalu dikonotasikan sebagai bangunan penginapan yang cukup mahal. Umumnya di Indonesia dikenal hotel berbintang, hotel melati yang tarifnya cukup terjangkau namun hanya menyediakan tempat menginap dan sarapan pagi, serta guest house baik yang dikelola sebagai usaha
swasta (seperti halnya hotel melati) ataupun mess yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan sebagai tempat menginap bagi para tamu yang ada kaitannya dengan kegiatan atau urusan perusahaan.
2.1.2 Penggolongan Hotel
Pemerintah telah menetapkan kualitas dan kuantitas hotel yang menjadi kebijaksanaan yang berupa standar jenis klasifikasi yang ditujukan serta berlaku bagi suatu hotel. Penentuan jenis hotel berdasarkan letak, fungsi, susunan organisasinya dan aktifitas penghuni hotel sesuai dengan SK Mentri Perhubungan RI No. 241/4/70 tanggal 15 Agustus 1970. Hotel digolongkan atas:
a. Residential Hotel, yaitu hotel yang disediakan bagi para pengunjung yang
menginap dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi tidak bermaksud menginap. Umumnya terletak di kota, baik pusat maupun pinggir kota dan berfungsi sebagai penginapan bagi orang-orang yang belum mendapatkan perumahan di kota tersebut.
b. Transient Hotel, yaitu hotel yang diperuntukan bagi tamu yang mengadakan
perjalanan dalam waktu relatif singkat. Pada umumnya jenis hotel ini terletak pada jalan jalan utama antar kota dan berfungsi sebagai terminal poin. Tamu yang menginap umumnya sebentar saja, hanya sebagai persinggahan.
c. Resort Hotel, yaitu diperuntukan bagi tamu yang sedang mengadakan wisata
10
jenis ini pada umumnya mengandalkan potensi alam berupa pemandangan yang indah untuk menarik pengunjung.
Penentuan jenis hotel yang didasarkan atas tuntutan tamu sesuai dengan keputusan Mentri Perhubungan RI No.PM10/PW.301/phb-77, dibedakan atas: a. Bussiness hotel, yaitu hotel yang bertujuan untuk, melayani tamu yang
memiliki kepentingan bisnis.
b. Tourist hotel, yaitu bertujuan melayani para tamu yang akan mengujungi
objek objek wisata.
c. Sport hotel, yaitu hotel khusus bagi para tamu yang bertujuan untuk olahraga
d. Research hotel, yaitu fasilitas akomodasi yang disediakan bagi tamu yang bertujuan melakukan riset.
Sedangkan penggolongan hotel dilihat dari lokasi hotel menurut Keputusan Dirjen Pariwisata terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Resort hotel (pantai/gunung), yaitu hotel yang terletak didaerah wisata, baik pegunungan atau pantai. Jenis hotel ini umumnya dimanfaatkan oleh para wisatawan yang datang untuk wisata atau rekreasi.
b. City hotel (hotel kota), yaitu hotel yang terletak diperkotaan, umumnya
dipergunakan untuk melakukan kegiatan bisnis seperti rapat atau pertemuan-pertemuan perusahaan.
Penggolongan berbagai jenis hotel serta bentuk akomodasi tersebut pada dasarnya tidak merupakan pembagian secara mutlak bagi pengujung. Dapat juga terjadi overlapping yaitu saling menggunakan satu dengan yang lainnya, misalnya
seorang turis tidak akan ditolak jika ingin menginap pada sebuah city hotel,
ataupun sebaliknya.
2.1.3 Klasifikasi Hotel
Klasifikasi hotel merupakan pengelompokkan hotel berdasarkan kelas atau tingkatan, yang didasarkan ukuran penilaian tertentu. Hotel dapat dikelompokkan ke dalam berbagai kriteria menurut kebutuhannya. Kriteria di Indonesia, pada
11 tahun 1970, pemerintah menentukan klasifikasi hotel berdasarkan penilaian – penilaian tertentu sebagai berikut:
a. Luas bangunan
b. Bentuk Bangunan
c. Perlengkapan dan Fasilitas
d. Kualitas Pelayanan
Pada Tahun 1977, sistem klasifikasi yang telah ditentukan diganti menurut Surat Keputusan menteri Perhubungan No. PM.10/PW.301/Pdb – 77 tentang usaha dan klasifikasi hotel, klasifikasi hotel secara minimum didasarkan oleh:
e. Jumlah kamar
f. Fasilitas
g. Peralatan yang tersedia
h. Kualitas Pelayanan
Hotel dapat diklasifikasikan menurut bintang yang ditentukan oleh Dinas Pariwisata Daerah (Diperda) sesuai persyaratan fasilitas yang terdapat dalam hotel setiap tiga tahun sekali dalam bentuk sertifikat (Kusumo, 2012).
Berdasarkan keputusan Dirjen Pariwisata No. 14/U/II/1988, tentang usaha dan pengelolaan hotel menjelaskan bahwa klasifikasi hotel menggunakan sistem bintang. Dari kelas yang terendah diberi bintang satu, sampai kelas tertinggi adalah hotel bintang lima.
Sedangkan hotel-hotel yang tidak memenuhi standar kelima kelas tersebut atau yang berada dibawah standar minimum yang ditentukan disebut hotel non bintang. Pernyataan penentuan kelas hotel ini dinyatakan oleh Dirjen Pariwisata dengan sertifikat yang dikeluarkan dan dilakukan tiga tahun sekali dengan tata cara pelaksanaan ditentukan oleh Dirjen Pariwisata.
Dasar penilaian yang digunakan antara lain mencakup: a. Persyaratan fisik, meliputi lokasi hotel dan kondisi bangunan. b. Jumlah kamar yang tersedia.
12
d. Kualifikasi tenaga kerja, meliputi pendidikan dan kesejahteraan karyawan. e. Fasilitas olahraga dan rekreasi lainnya yang tersedia seperti kolam renang
lapangan tenis dan diskotik.
Klasifikasi hotel berbintang tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut:
A. Hotel bintang satu
1. Jumlah kamar standar minimal 15 kamar dan semua kamar dilengkapi kamar
mandi didalam
2. Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 20 m2 untuk kamar double
dan 18 m2 untuk kamar single
3. Ruang publik luas 3m2 x jumlah kamar tidur tidur, minimal terdiri dari lobby,
ruang makan (> 30m2) dan bar.
4. Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga.
B. Hotel bintang dua
1. Jumlah kamar standar minimal 20 kamar (termasuk minimal 1 suite room, 44
m2).
2. Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 20m2 untuk kamar double
dan 18 m2 untuk kamar single.
3. Ruang public luas 3m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari lobby, ruang
makan (>75m2) dan bar.
4. Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berhargam penukaran uang asing, postal service, dan antar jemput.
C. Hotel bintang tiga
1. Jumlah kamar minimal 30 kamar (termasuk minimal 2 suite room, 48m2).
2. Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 22m2 untuk kamar single dan
26m2 untuk kamar double.
3. Ruang publik luas 3m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari lobby, ruang
13 4. Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga, penukaran uang
asing, postal service dan antar jemput.
D. Hotel bintang empat
1. Jumlah kamar minimal 50 kamar (temasuk minimal 3 suite room, 48 m2)
2. Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 24 m2 untuk kamar single dan 28 m2 untuk kamar double
3. Ruang public luas 3m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari kamar
mandi, ruang makan (>100 m2) dan bar (>45m2)
4. Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga, penukaran uang asing, postal service dan antar jemput.
5. Fasilitas penunjang berupa ruang linen (>0,5m2 x jumlah kamar), ruang
laundry (>40m2), dry cleaning (>20m2), dapur (>60% dari seluruh luas lantai
ruang makan).
6. Fasilitas tambahan: pertokoan, kantor biro perjalanan, maskapai perjalanan, drugstore, salon, function room, banquet hall, serta fasilitas olahraaga dan sauna.
E. Hotel bintang lima
1. Jumlah kamar minimal 100 kamar (termasuk minimal 4 suite room, 58m2)
2. Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 26 m2 untuk kamar single dan 52m2 untuk kamar double.
3. Ruang public luas 3m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari lobby, ruang makan (>135m2) dan bar (>75m2).
4. Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga, penukaran uang asing, postal service dan antar jemput.
5. Fasilitas penunjang berupa ruang linen (>0,5m2 x jumlah kamar), ruang laundry (>40m2), dry cleaning (>30m2), dapur (>60% dari seluruh luas lantai ruang makan).
14
6. Fasilitas tambahan: pertokoan, kantor biro perjalanan, maskapai perjalanan, drugstore, salon, function room, banquet hall, serta fasilitas olahraga dan sauna.
7. Dengan adanya klasifikasi hotel tersebut dapat melindungi konsumen dalam memperoleh fasilitas yang sesuai dengan keinginan. Memberikan bimbingan pada pengusaha hotel serta tercapainya mutu pelayanan yang baik.
Tujuan umum dari penggolongan kelas hotel adalah:
1. Agar calon penghuni dapat mengerti dan mengetahui fasilitas dan pelayanan yang akan diperoleh di suatu hotel, sesuai dengan golongan kelasnya.
2. Untuk menjadi pedoman tekns bagi calon investor (penanam modal) di bidang
usaha perhotelan
3. Agar tercipta persaingan (kompetisi) yang sehat antara pengusaha hotel
4. Agar terciptanya keseimbangan permintaan dan penawaran dalam suatu usaha
perhotelan
Perencana dan perancang bangunan yang ingin membuat suatu hotel dapat mengacu pada Ketentuan dan Kriteria Klasifikasi Hotel yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata tahun 1995.Jumlah kamar tidak diharuskan sesuai dengan golongan kelas hotel, asalkan seimbang dengan fasilitas penunjang serta seimbang antara pendapatan dan pengeluaran dari hotel tersebut. Hal ini didasarkan pada Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor, KM 3/HK 001/MKP/02.
Pada golongan hotel berbintang, terdapat juga klasifikasi pembagian kamar. Kamar yang merupakan area privat dan utama bagi tamu dibedakan menjadi beberapa tipe kamar sebagai berikut:
A. Kamar menurut Jumlah Tempat Tidur dan Fasilitas
1. Single room, kamar yang memiliki satu tempat tidur untuk satu orang tamu.
2. Twin room, kamar yang memiliki dua tempat tidur untuk satu orang tamu.
15 4. Triple room, kamar yang memiliki double bed untuk dua orang ditambah
dungeon extra beds.
5. Junior room, sebuah kamar besar yang terdiri dari ruang tidur dan ruang tamu.
6. Suite room, kamar yang tardiri dari dua kamar tidur untuk dua orang ditambah
ruang tamu, ruang makan, dan sebuah dapur kecil.
7. President room, kamar yang tardiri dari tiga kamar besar, yakni kamar tidur,
kamar tamu, ruang makan dan sebuah dapir kecil.
B. Kamar menurut Letak dan Fasilitas
1. Connecting room, kamar yang terdiri dari dua buah kamar berdekatan, antara
kamar yang satu dengan yang lain dan dihubungkan oleh sebuah pintu.
2. Adjoining room, dua kamar yang berdekatan dan tidak mempunyai pintu penghubung.
3. Inside room, kamar-kamar yang menghadap ke bagian belakang hotel (facing the back).
4. Outside room, kamar-kamar yang menghadap ke jalan raya (facing the street). 5. Lanais, kamar-kamar dengan teras / balkon yang berlokasi menghadap ke
kolam atau kebun.
6. Cabana, kamar-kamar yang berlokasi di kawasan pantai atau kolam renang,
kamar ini dilengkapi dengan atau tanpa tempat tidur. Lokasi kamar ini biasanya terpisah dari gedung utama.
7. House use room, kamar yang diperuntukan bagi staf hotel yang mempunyai
otoritas dan digunakan untuk tempat tinggal dalam jangka waktu tertentu karena dinas.
C. Pengelompokan hotel berdasarkan lamanya hotel beroprasi, yaitu:
1. Full Lenght Operation Hotel adalah hotel yang beroperasi 365 hari dalam
setahun, 30 hari dalam sebulan, tujuh hari dalam seminggu, dan 24 jam dalam sehari. Tidak pernah tutup atau libur.
16
2. Seasonal Hotel beroperasi hanya pada saat tertentu saja. Kadang buka penuh
dan berfungsi sebagai sarana akomodasi yang juga menyediakan makanan serta minuman, tetapi sekali waktu juga tutup.
D. Pengelompokan Hotel berdasarkan kemewahan, yaitu:
1. Luxurious Hotel adalah hotel mewah. Dilihat dari arsitek bangunannya,
fasilitas dan kelengkapannya yang ada di dalamnya, semuanya serba mewah dan besar. Ukuran kamar, lobby dan kualitas restoran serta gedung atau ruang pertemuan, semua luas dan mewah.
2. Boutique Hotel adalah hotel yang mewah, walaupun belum tentu memiliki kamar yang banyak. Hotel ini bisa berbintang 3,4 atau 5. Mewah dalam hal fasilitas dan kelengkapan hotel, baik di lobby, kamar, restoran maupun gedung pertemuan. Dapat juga berupa hotel dengan tipe gedung antik, bersejarah dengan peralatan yang serba mewah.
3. Normal Hotel merupakan tipe hotel kebanyakan, baik di kota maupun di daerah tujuan wisata. Kemewahan dan kelengkapan fasilitasnya didasarkan atas bintang yang disandang hotel tersebut. Hotel bintang empat logikanya lebih lengkap dan mewah dari hotel bintang tiga, dan hotel berbintang lima lebih mewah dari hotel bintang empat.
2.1.4 Aktifitas dan Fasilitas Hotel
2.1.4.1 Aktifitas
A. Kelompok Aktifitas utama Kelompok
Aktifitas yang paling penting dalam sebuah hotel yang mencakup tamu hotel
B. Kelompok Aktifitas Pendukung Kelompok
Aktifitas yang mendukung kellangsungan kegiatan kelompok aktifitas utama, mencakup di dalamnya: kegiatan administrasi, penyediaan barang, perawatan dan pemeliharaan gedung. Yang terlibat di dalamnya adalah karyawan hotel.
17
C. Kelompok Aktifitas Pelayanan
Kelompok aktifitas di dalamnya kegiatan servis bagi tamu baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang terlibat dalam kelompok aktifitas ini adalah staf house keeping. Kelompok penyedia room dan beverage, dan room boy.
D. Kelompok Aktifitas Pengelola,
E. Kelompok Aktifitas Servis.
2.1.4.2 Fasilitas
A. Fasilitas kegiatan privat
Fasilitas yang digunkaan mewadahi kegiatan utama dalam beristirahat. Fasilitas yang dimaksud yaitu kamar tidur dan perlengkapannya
B. Fasilitas kegiatan publik
Ruang publik setiap jenis hotel akan berbeda-beda sesuai dengan jenis hotelnya. Ruang publik adalah ruang yang disediakan bersama-sama. Kegiatan yang tercakup di dalamnya yaitu:
1. Kegiatan pertemuan Fasilitas yang dibutuhkan dalam kegaiatan ini adalah function room (ruang serba guna) yang dilengkapi lobby, lavatory, dan meeting room.
2. Kegiatan Makan dan minum
3. Fasilitas yang diperlukan dibedakan untuk kegiatan formal dan informal. 4. Kegiatan formal: banquet room (ruang perjamuan) & Kegiatan informal: coffe
shop, bar, dan coctail lounge
5. Kreasi dan olahraga Fasilitas yang diperlukan pada kegiatan ini adalah: a. Kegiatan Indoor: fitness center, sauna, billiard, game room, dan massage b. Kegiatan outdor: lapangan tenis, kolam renang
c. Kegiatan Check in & Check Out Ruang yang diperlukan dalam kegaiatn ini adlah ruang lobby, front office, dan lounge
18
6. Kegiatan Pelayanan Khusus
Kegiatan ini mencakup pelayanan kesehatan, informasi bida jasa wisata, keuangan, shopping, dan lavatory. Adapun ruang yang diperlukan adalah klinik untuk tamu, wartel ataupun internet, bank, money charger, travel agent, butik, salon, dan souvenir shop.
7. Kegiatan Parkir
Kendaraan Fasilitas yang dibutuhkan adalah ruang parkir dalam bangunan maupun di luar bangunan yang memenuhi standar baik dalam ukuran maupun daya tampung. Untuk ruang parkir harus ada pemisah antara ruang parkir tamu dan pengelola hotel.
C. Fasilitas kegiatan servis
Fasilitas yang digunakan untuk menunjang berlangsungnya kinerja hotel dan melayani tamu secara tidak langsung. Kegiatan ini terbagi dalam:
1. Kegiatan pelayanan restoran, yang dibutuhkan adalah dapur yang dapat mewadahi kegiatan memasak sesuai kebutuhan ruang standar
2. Kegiatan pengelola hotel, yang dibutuhkan adlaah ruang kerja bagi pengelola dengan ruang rapat.
3. Kegiatan house keeping, yang dibutuhkan adalah ruang seragam, ruang laundry, dan ruang room boy.
4. Kegiatan operasional hotel, yang dibutuhkan adalah rung untuk menyimpan barang dan bahan. Termasuk dalam kegiatan ini adalah gudang makanan dan minuman, gudang peralatan dan perlengkapan, gudang mekanikal elektrikal, gudang barang-barang bekas, ruang loker karyawan, ruang ibadah, serta pusat tenaga (power supply).
5. Kegiatan keamanan hotel, yang dibutuhkan adalah ruang unruk kegiatan keamanan minimal pada setiap pintu masuk dan pintu keluar hotel.
19 2.1.4.3 Elemen Pembentuk Ruang
A. Plafon
Plafon adalah bagian dari konstruksi yang merupakan lapisan pembatas antara rangka bangunan dengan rangka atapnya. Tipe plafon yang umumnya digunakan pada hotel adalah:
1. Plafon Datar. Saat ini pemakaian panel dengan modul kecil semakin ditinggalkan, berganti dengan kecenderungan memakai modul yang lebih besar, bahkan customised, sehingga ukuran dan bentuknya sesuai bidang yang
akan ditutup. Plafon datar mampu memberikan kesan luas dan modern.
2. Plafon dinaikan (up ceiling), merupakan plafon yang sebagian besar permukaannya terangkat ke atas. Plafon ini diaplikasikan untuk mendapatkan ruang yang berkesan lebih luas. Up ceiling dapat dibuat lebih menarik dengan menambahkan unsur pencahayaan baik langsung maupun tidak langsung. 3. Plafon diturunkan (down ceiling), plafon yang sebagian besar permukaannya
diturunkan ke bawah. Jarak bidang yang diturunkan biasanya berkisar 15 - 20 cm.
B. Dinding
Dinding adalah elemen vertikal yang berfungsi sebagai pembatas, memberi nilai privasi, nilai kenyamanan, dan nilai kesehatan. Menurut Gatut Susanta (2007:5), fungsi dinding adalah:
1. Pemisah antar ruang yang mempunyai fungsi berbeda.
2. Pemisah ruang yang bersifat pribadi dan ruang yang bersifat umum.
3. Penahan cahaya, angin, hujan, banjir dan lain-lain yang bersumber dari alam. 4. Pembatas fisik ruangan.
5. Penahan struktur (untuk fungsi tertentu misal dinding, lift, reservoir dan lain-lain)
20
6. Penahan kebisingan untuk ruang yang memerlukan ambang kekedapan suara
tertentu.
7. Elemen estetis yang memiliki fungsi artistik tertentu.
C. Lantai
Lantai adalah bidang ruang interior yang datar, mempunya dasar yang rata sebagai bidang dasar penyangga aktivitas di dalam ruang. Pada bangunan komersial seperti hotel, restoran, cafe, mall dan gedung perkantoran, material yang digunakan untuk melapisi lantai turut berperan dalam menentukan kesan yang ingin disampaikan kepada para pengunjung.
Berikut material pelapis lantai yang umumnya digunakan pada hotel:
1. Marmer dan Granit
- Karakter: kaku, permanen
- Kelebihan: tampilan mewah, motif tidak sama satu sama dengan yang lainnya
dan tahan lama.
- Kelemahan: mahal, mudah kotor
- Perawatan: tidak boleh kena cairan lantai yang sangat keras 2. Parket
- Karakter: tekstur rata, kesan natural
- Kelebihan: motif beragam, memberikan kesan hangat
- Kelemahan: membutuhkan perawatan khusus
- Perawatan: tidak boleh terlalu lembab
3. Keramik
- Karakter: tahan air dan tahan gores, banyak corak dan warna - Kelebihan: tahan lama, tidak mudah kotor
- Kelemahan: terkesan kaku, mudah pecah, nat mudah kotor
- Perawatan: pemeliharaan mudah, cukup dengan air dan cairan pembersih
4. Vinyl
21
- Kelebihan: desain beragam
- Kelemahan: mudah kusam
- Perawatan: harus sering dipoles agar tidak terlihat kusam
5. Karpet
- Karakter: tidak kaku, terkesan formal
- Kelebihan: permukaan lantai tetap rapih, memiliki banyak motif dan warna, harga relatif murah, pemasangan mudah dab cepat, kedap suara.
- Kelemahan: sulit dibersihkan dan dikeringkan jika dipasang permanen
- Perawatan: perawatan harus rutin
2.1.5 Organisasi Ruang Hotel
Susunan organisasi ruang pada dasarnya, memiliki kesamaan, karena setiap hotel mempunyai pelayanan yang sama yaitu pelayanan penginapan, makan dan minum. Menurut Walter Rutes and Richard Penner dalam buku Hotel Planning and Design, 1985, membedakan organisasi ruang hotel menurut fungsinya, terdiri dari:
A. Pembagian organisasi ruang menurut fungsinya:
1. Public Space, merupakan kelompok /ruang umum termasuk lobby utama,
front office dan function room.
2. Confrences and rentable space, merupakan kelompok ruang yang disewakan
untuk melayani keperluan tamu hotel dan juga usaha bisnis lainnya yang terpisah dari kegiatan hotel.
3. Food and Beverage Store Space, kelompok ruang yang melayani bagian
makan dan minum bagi tamu yang menginap maupun yang tidak menginap. Termasuk kelompok ini adalah restaurant, coffee shop, bar, kitchen dan gudang.
4. General service space, kelompok ruang pelayanan secara umum meliputi bagian penerimaan (receiving) storage empoyee’s room, employee dining room, laundry, linen room, house keeping dan maintenance.
22
yang menginap, dilengkapi fasilitas untuk ruang tidur, toilet, koridor, lift dan perlengkapan lainnya.
6. Recreation and Sport Space, kelompok fasilitas rekreasi olahraga yang
biasanya diproritaskan untuk para tamu hotel yang memerlukannya dan ruang ini ternuka untuk masyarakat luar.
B. Pembagian organisasi ruang menurut sifatnya:
1. Public Room, kelompok ruang yang dipakai untuk keperluan umum seperti
lobby utama, front office, restaurant, recreation, and sport centre, function room, dan rentable room.
2. Bed Room, kelompok ruang tidur para tamu dengan fasilitas dan perlengkapannya.
3. Service Room, kelompok ruang yang sifatnya melakukan pelayanan, yaitu: depan, laundry, linen, general store, house keeping dan maintenance.
2.1.6 Standarisasi dan Kriteria Fasilitas Hotel Bintang Lima
A. Umum
1. Akses lokasi mudah dicapai.
2. Unsur dekorasi main themes atau main concept tercermin pada lobby, lift, lavatory, restaurant, kamar tidur dan function room.
3. Bangunan terawatt rapi dan bersih.
B. Kamar tidur
1. Minimum mempunyai 100 kamar standar dengan luasan 26 m2/kamar.
2. Terdapat minimum empat kamar suite dengan luasan kamar 52 m2/kamar.
3. Tinggi minimum 2,6 m tiap lantai.
23
C. Dining room
1. Mempunyai minimum 3 buah dinning room, salah satunya dengan spsialisasi
makanan (Japanese/Chinese/European food).
D. Bar
1. Apabila berupa ruang tertutup maka harus dilengkapi AC dengan suhu 24°C.
2. Lebar ruang kerja bartender setidaknya 1m2.
E. Ruang Fungsional
1. Minimum terdapat 1 buah pintu masuk yang ter/pisah dari lobby dengan kapasitas minimum 2,5 kali jumlah kamar.
2. Dilengkapi dengan toilet apabila tidak satu lantai dengan lobby. 3. Terdapat pre-function room.
F. Lobby
1. Mempunyai luasan minimum 50 m2
2. Dilengkapi dengan lounge.
3. Toilet umum minimum 1 buah dengan perlengkapan
4. Lebar koridor minimum 1,6 m.
G. Drugstore
1. Minimum terdapat drugstore, bank, money changer, biro perjalanan, air line agent, souvenir shop, perkantoran, butik dan salon.
2. Tersedia poliklinik. 3. Tersedia paramedis.
24
H. Sarana rekreasi dan olahraga
1. Area bermain anak (minimum dua permainan)
2. Minimum 1 buah dengan pilihan tenis. Bowling, golf, fitness, sauna, billiard, jogging track, diskotik.
3. Terdapat kolam renang dewasa yang terpisah dengan kolam renang anak.
I. Utilitas Penunjang
1. Terdapat transportasi vertikal yang bersifat mekanis 2. Ketersediaan air minum 700 liter/orang/hari
3. Dilengkapi dengan instalasi air panas/dingin
4. Dilengkapi dengan sentra video, musik, teleks, radio, carcall
J. Business center
1. Di business center ini tersedia beberapa staff yang dapat membantu dengan bertindak sebagai co-secretary para tamu yang ingin berkomunikasi dengan kantor pusatnya maupun relasi bisnisnya. Selain itu, ada pula fasilitas lain seperti faksimile, teleks, mecanograf. Para tamu dapat memanfaatkan pelayanan dengan akses internet melalui kamarnya untuk reservasi dan promosi usahanya, di samping juga dapat melakukan telekonferensi.
K. Restoran
Sub bagian restoran di hotel yang besar dapat dibagi menjadi:
1. Main dining room atau ruang makan utama yang menyediakan makanan
Perancis atau internasional.
2. Coffee shop, restoran yang menyediakan dan menyajikan makan pagi dengan
menu dan jenis pelayanannya lebih sederhana atau biasa disebut ready on plate.
25 3. Restoran yang spesilik seperti grill-room, pizzarea, japanesse, oriental.
4. Room service: restoran yang melayani dan menyediakan hidangan makanan dan minuman kepada tamu hotel yang enggan keluar kamar. Atas dasar pesanan tamu, makanan dan minuman diantar langsung ke kamar tamu.
5. Take out service dan out side catering: untuk lebih meningkatkan pendapatan
penjualan produk yang dihasilkan oleh dapur hotel, ada beberapa hotel yang melayani pesanan makanan dan minuman dan penyelenggaraan perjamuan di luar hotel seperti misalnya untukperjamuan instansi-instansi pemerintah, perjamuan kenegaraan dan instansi-instansi swasta. Di samping itu, toko makanan berupa kue-kue yang dijual oleh pastry shop yang ada di hotel juga melayani penjualan kue-kue dan ice cream untuk keperluan umum.
2.2 Peranakan Cina
2.2.1 Pengertian Peranakan Cina
Peranakan Cina atau hanya "Peranakan" dan "Baba-Nyonya" di Malaysia adalah istilah yang digunakan oleh para keturunan imigran Tionghoa sejak akhir abad ke-15 dan abad ke-16 telah bertempat tinggal di kepulauan Nusantara (sekarang Indonesia), termasuk Malaya Britania (sekarang Malaysia Barat dan Singapura). Di beberapa wilayah di Nusantara sebutan lain juga digunakan untuk menyebut orang Tionghoa Peranakan, sepert "Tionghoa Benteng" (khusus Tionghoa-Manchu di Tangerang) dan "Kiau-Seng" (di era kolonial Hindia Belanda).
Budaya Peranakan telah mulai menghilang di Malaysia dan Singapura. Tanpa dukungan kolonial Inggris terhadap netralitas ras kaum tersebut, kebijakan pemerintah di kedua negara setelah kemerdekaan dari Inggris telah mengakibatkan asimilasi budaya Peranakan kembali ke aliran umum budaya Tionghoa. Singapura kemudian mengklasifikasikan Peranakan sebagai etnis Tionghoa, sehingga mereka menerima instruksi formal dalam bahasa Mandarin alih-alih Melayu sebagai Bahasa kedua (sesuai dengan "Kebijakan Bahasa Ibu").
26
Di Malaysia, standarisasi semua Melayu ke dalam Bahasa Melayu yang diperuntukkan untuk semua kelompok etnis telah menyebabkan hilangnya karakteristik unik dari para Baba Melayu.
Gambar 2.4 Perkawinan Baba Nyonya atau Peranakan Cina yang ada di Malaysia Sumber:
http://www.penangmuseum.gov.my/museum/sites/default/files/Adat-Perkawinan-Baba-Nyonya.jpg (Akses: 23/3/2017, 21:58 WIB)
Desain interior rumah seorang Tionghoa peranakan yang lain menunjukkan kecenderungan asimilatif, ketika organisasi ruang massa bangunan utama dalam kompleks tempat tinggalnya masih mengikuti kecenderungan sintaks massa bangunan utama dalam apa yang diklaim sebagai pola desain rumah tradisional Tionghoa, tetapi sintaks relasi antar massa bangunan mengikuti kecenderungan dalam apa yang diklaim sebagai pola desain rumah tradisional Jawa. Sementara yang lainnya lagi menunjukkan desain modern minimalis dalam interior rumah tinggalnya, tetapi masih mempertahankan keberadaan halaman dalam dengan kolam yang luas yang dikelilingi oleh massa-massa bangunan untuk menghadirkan unsur air, memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami pada ruang-ruang yang mengelilinginya, yang dianggap sebagai energi positif (chi), sehingga dengan demikian tetap menerapkan feng-shui dalam desain rumah tinggal, walaupun bentuknya sudah modern. (Hidayat 2009: 29).
27 Gambar 2.5 Contoh pengaplikasian langgam Peranakan Cina dalam interior rumah di Indonesia
Sumber: pinterest.com (2016)
Gambar 2.6 Contoh pengaplikasian langgam Peranakan Cina dalam interior hotel di Singapura Sumber: pinterest.com (2016)
Gambar 2.7 Contoh pengaplikasian langgam Peranakan Cina dalam interior restaurant di Malaysia
28
2.2.2 Akulturasi Etnis Tionghoa dan Jawa
Di Indonesia, budaya Peranakan kehilangan popularitas dibandingkan budaya Barat modern, namun dalam beberapa tingkat kaum Peranakan mencoba untuk mempertahankan bahasa, masakan, dan adat istiadat mereka.
Menurut Koentjaraningrat akulturasi dapat didefinisikan sebagai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suaru kebudaraan asing dengan sedemikian rupa, sehingga lambat laun unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Sedangkan menurut Santoso, akulturasi merupakan sebuah bentuk perpaduan dua atau lebih budaya yang bersinergi untuk saling menjembatani karakter kedua budaya atau beragam kebudayaan.
Menurut Koentjaraningrat, proses akulturasi sudah terjadi sejak jaman dahulu, proses akulturasi yang biasanya terjadi bila suatu kebudayaan terkena pengaruh budaya asing. Hampir semua akulturasi mulai dalam golongan atasan yang biasanya tinggal di kota, lalu menyebar kegolongan-golongan yang lebih rendah di daerah pedesaan. Proses itu biasanya mulai dengan perubahan sosial-ekonomi. Proses inilah yang terjadi pada etnis Tionghoa di Semarang. Masyarakat etnis Jawa yang tinggal di daerah pecinan pada umumnya berasal dari kalangan menengah ke bawah, dan sebagian besar bekerja di pemilik usaha etnis Cina,
sehingga mereka menganggap bahwa penggunaan style and features Bahasa Cina
akan memperlancar hubungan psikologis dan solidaritas. Selain itu, masyarakat etnis Jawa yang secara sosial berkedudukan lebih rendah daripada etnis Cina, dalam setting lingkungan pecinan, akan berusaha untuk meningkatkan status sosial mereka dengan bertutur seperi penutur dai etnis Cina.
Gambaran diatas sudah jelas bahwa akulturasi merupakan sebuah wadah baru untuk menciptakan hal yang baru yang lebih bernilai, dan walaupun kadang ada sebagian orang yang tidak setuju dengan pembahuruan. Dengan adanya akulturasi kita dapat menilai bahwa betapa menariknya hasil tersebut, akulturasi
29 yang menarik pada saat ini adalah akulturasi antara budaya Cina dan budaya Jawa.
2.2.2.1 Akulturasi Batik Tradisional Jawa dengan Tionghoa
Batikan dalam bahasa Jawa berarti seratan, dibatik sama dengan dipun-serat,
yaitu diberi gambar dengan lilin. Dari pengertian itu maka batik dapat diartikan sebagai menulis diatas kain denga menggunakan alat canting dan memakai bahan lilin yang disebut rengrengan dan apabila telah selesai dibatik diberi warna.
Jika dilihat dari sejarah perkembangan kerajinan batik di Jawa, maka batik klasik Yogyakarta sudah dikenal sejak berdirinya keraton Yogyakarta pada pertengahan abad ke-18. Batik kraton atau luar keraton mempunyai ciri yang berbeda. Seolah-olah Sultan mengatakan bahwa batik adalah seni kerajaan yang hanya dikerjakan wanita-wanita kerajaan. Keputusan seperti itu memang tidak dapat dipaksakan, karena batik telah begitu akrab dengan rakyat terutama wanita. Raja mengeluarkan peraturan mengenai pemakaian kain batik agar dapat membedakan antara keluarga keraton dengan rakyat kebanyakan. Batik berfungsi sebagai:
A. Pakaian Adat
Batik tidak dapat dilepaskan dari dunia keraton karena disanalah batik banyak digunakan untuk keperluan adat. Keraton juga merupakan pusat aktivitas kebudayaan dan agama, maka di keraton juga berlangsung upacara keagamaan dan upacara-upacara tradisional.
B. Sebagai Pakaian Sehari-hari
Pemakaian kain batik saat ini sudah kurang melekat lagi dalam masyarakat Jawa karena berbagai pengaruh lingkungan. Pendidikan barat yang mengarah ke paham modern merupakan salah satu sebab timbulnya perubahan dalam cara berpikir masyarakat.
Pada umumnya batik tradisional memiliki ciri-ciri seperti bentuk dan gaya fuguratif dengan corak stilasi dari flora fauna dan manusia, sederhana dalam
30
konsep pencorakan dan umumnya menggunakan pola simetri, pencorakan dalam komposisi tertutup, corak umumnya bersifat simbolik spiritual, dan corak dibuat dalam lingkup fungsi-fungsi adati.
Hubungan Indonesia dengan bangsa-bangsat lain telah menimbulkan akulturasi. Proses terjadinya akulturasi memerlukan waktu lama sampai unsur-unsur kebudayaan asing dapat diterima oleh kebudayaan setempat. Batik Jawa mempunyai corak tersendiri, tetapi telat mendapat juga pengaruh luar. Pengaruh Cina telah disesuaikan dan diterima sbagai keterampilan seniman Jawa untuk membentuk bagian keseluruhan dri pola batik seperti corak Mega Mendung, salah satu corak batik yang mendapat pengaruh Cina yang sangat populer1. Pada batik
pesisiran ornamen-ornamen yang menampilkan adanya pengaruh Cina antara lain ular, singa, naga, burung Phoenix, bunga-bunga khas Cina dan ornamen-ornamen seperti pada keramin Cina. Batik pengaruh Cina menerapkan warna-warna cerah dan warna-warni pastel. Batik-batik dengan pengaruh Cina banyak dijumpai di Pekalongan, Cirebon, Kudus, dan Demak.
Gambar 2.8 Motif banji: memiliki makna keteraturan dalam kehidupan
Sumber: http://batik.club/wp-content/uploads/2014/09/motif-hias-batik-beserta-penjelasannya.jpg (Akses 2016)
Motif Banji mungkin merupakan tipe tertua motif ornament pada batik. Gambar dasarnya adalah swastika, persilangan sederhana dengan panjang yang sama, masing-masing lengan memiliki titik sudut arah yang sama. Desain banji yang lebih kompleks berbentuk pola geometris yang terdiri dari elemen ornamen
31 sederhana berupa serangkaian garis yang saling terhubung pada sudut 90 derajat, selalu mendasarkan pada bentuk swastika yang orisinil.
Penggunaan banji pada seni ornamental di Asia Tenggara dimulai sejak masa Hindu Budha, bahkan beberapa bukti menunjukkan telah muncul lebih awal. Swastika berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “sesuatu yang baik”, akan tetapi kata banji sendiri merupakan kata yang berasal dari Cina. Simbol Cina ini sama dengan versi Sanskerta yaitu kebahagiaan, panjang umur, dan kemakmuran. Pola banji kerap muncul pada dekorasi batik pesisir.
Selain motif banji, ada juga batik bermotif binatang banyak digunakan dalam batik Jawa tetapi juga dalam batik Cina. Namun demikian penggunaannya sangat berbeda. Seni motif dekoratif yang paling sering digunakan dalam batik Cina adalah ular, macan, singa, naga, burung-burung cinta dan phoenix. Motif-motif ini menemukan sendiri jalannya ke dalam desain batik pesisir bersama dengan motif bunga-bunga Cina. Perpaduan antara motif Jawa dan Cina menghasilkan desain bunga yang sangat berbeda dengan motif bunga yang sebelumnya dikenal di Asia Tenggara. Ornamen-ornamen yang ditemukan dalam keramik Cina merupakan sumber-sumber inspirasi yang lain. Selanjutnya penggunaan warna-warna yang cerah mendominasi batik Cina, seperti hijau, biru, merah, kuning, oranye dan warna warna pastel. Motif batik Cina juga suka disebut “esok sore” yaitu penggunaan latar yang berbeda dalam satu kain.
Batik Tokwi, merupakan perjalanan kain tradisi peranakan Cina di Indonesia. Kain batik penutup altar berukuruan sekitar satu meter persegi ini disebut tokwi dalam bahasa Hokkian, atau Zhuo Wei dalam bahasa Mandarin. Awalnya, kain tokwi di Cina merupakan kain penutup altar yang menggambarkan perpaduan antara motif Taois dan Buddhis. Diduga, kain tokwi populer pada masa Dinasti Tang sekitar abad ke-8 atau ke-9. Awalnya pula, tokwi dibuat dengan teknik sulaman.
32
Penggunaan kain penutup altar terus bertahan melintasi berbagai masa dinasti. Aneka warna benang sulam pun digunakan—merah, hijau, kuning, biru, ungu, hitam, putih, dan emas.
Tokwi dengan detail sulaman mewah dengan dekorasi simbol religius banyak digunakan oleh bangsawan dan saudagar di Cina. Zaman berganti, kain tokwi pun diperkaya dengan kombinasi hiasan ikatan benang, manik, cermin, dan metal. Tokwi semakin mewah memukau.
Seiring dengan migrasi orang Cina, tokwi pun menyebar ke penjuru dunia. Di Asia Tenggara, tokwi pun berubah rupa. Tokwi batik menjadi ikon peranakan Cina di Asia Tenggara terutama di Indonesia, Singapura dan Malaysia. Namun, satu hal yang tak dapat dipungkiri: Kreasi batik tokwi menjadi karya yang muncul dari tanah Nusantara. Munculnya tokwi di Indonesia menggambarkan bentuk adaptasi budaya Cina dalam batik Nusantara yang telah menjadi tren sejak abad ke-19.
Batik tokwi digunakan kaum peranakan Cina untuk menghias altar pada berbagai kesempatan upacara daur hidup keluarga—ulang tahun, pernikahan, kematian serta upacara-upacara tradisional Cina. Kain memiliki pakem motif yaitu Tiga Dewa (Fu Lu Shou), Delapan Dewa, naga, burung hong, singa, kilin, kelelawar, kupu-kupu, geometris, flora dan fauna, buah-buahan.
Batik Tokwi pun seolah ingin tampil beda, penggunaan elemen lokal membuat Tokwi asal pesisir utara Jawa ini berbeda dengan Tokwi asli tanah leluhur. Adaptasi warna dan motif pun terjadi dengan munculnya warna sogan, merah bata, motif hewan laut, motif flora fauna lokal dan motif bunga eropa seperti buketan berpadu dengan motif pakem tradisi Cina.
Terdapat beberapa motif yang dapat ditemukan dalam kain tokwi. Motif utama yang menjadi pusat tokwi biasanya menggambarkan tiga dewa (san xing tiga bintang) Fu Lu Shou, Dewa Keberuntungan, Dewa Kemakmuran, Dewa Panjang Umur pada bagian utama kain Tokwi. Motif lainnya adalah Naga yang
33 biasanya digunakan sebagai simbol kekaisaran juga bermakna keagungan, kekuatan, kewaspadaan, dan kebaikan.
Gambar 2.8 Motif batik naga Sumber: google.com (2016)
Gambar 2.9 Motif batik lasem siang-malam Sumber: google.com (2016)
Gambar 2.10 Motif batik tokwi
Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/09/tokwi-lasem-perjalanan-kain-tradisi-peranakan-cina-di-jawa (Akses 19/2/2017, 23.40 WIB)