• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode mekanik dalam konservasi di lahan rawa Kampus II UIN SGD Cimencrang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Metode mekanik dalam konservasi di lahan rawa Kampus II UIN SGD Cimencrang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Metode Mekanik dalam Konservasi di Lahan Rawa Kampus II UIN SGD Cimencrang Mechanical Methode in Land and Water Conservation of II Campus of UIN SGD of

Cimencrang

Siti Sapuroh [email protected] and Agung R Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

|

Abstrak

Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usaha secara berkelanjutan. Pada prinsipnya konservasi mekanik dalam pengendalian erosi harus selalu diikuti oleh cara vegetatif, yaitu penggunaan tumbuhan atau tanaman dan penerapan pola tanam yang dapat menutup permukaan tanah sepanjang tahun. Pengendalian erosi dan aliran permukanaan merupakan persyaratan utama untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas lahan. Metode tersebut ditujukan untuk memelihara, mempertahankan dan meningkatkan produktivitas tanah. Pengendalian erosi dapat dilakukan baik melalui cara vegetatif, mekanik dan kimia.

Kata kunci : konservasi mekanik, pengendalian, erosi

Abstract

Soil mechanical conservation is all physical and mechanical treatment of buildings aimed at reducing the flow of the surface to reduce erosion and improve the ability of the soil to support the business sustainably. In principle, mechanical conservation in erosion control should always be followed by vegetative means, ie the use of plants or plants and the application of cropping patterns that can cover the soil surface throughout the year. Erosion control and flow of demand are the main requirements to prevent land degradation. The method is intended to maintain, maintain and improve soil productivity. Erosion control can be done either through vegetative, mechanical and chemical methods.

Key Words : mechanical conservation, Control, Erosion.

Pendahuluan

Lahan rawa ialah suatu lahan yang sepanjang tahun atau selama waktu panjang dalam setahun tumpat air (waterlogged) atau tergenang air. Perbedaannya dengan danau ialah,

(2)

bahwa rawa tertumbuhi tumbuhan (pohon, glagah, rumput, tumbuhan akuatik), genangannya secara nisbi dangkal dan ladung (stagnant), dan tanah dasarnya berupa lumpur. Dalam pustaka Inggris dikenal istilah marsh, yaitu rawa yang tertumbuhi tumbuhan rapat, yang di daerah tropika biasanya berupa hutan. Swamp ialah rawa yang tertumbuhi pohon di sana sini dan lebih bersifat tumpat air daripada tergenang. Menurut pengertian Amerika, swamp ialah rawa bergambut, yang di Inggris dinamakan bog atau morass. (Tejoyuwono,2006).

Lahan yang demikian sebenarnya masih dapat diupayakan menjadi lahan yang bermanfaat, baik sebagai lahan pertanian maupun lahan perikanan tetapi sekarang lahan itu menjadi terlantar dan tidak termanfaatkan. Hal ini menjadi menganggur/mubazir dan dapat menimbulkan masalah lingkungan (menjadi sarang hama penyakit bagi tumbuhan maupun bagi manusia). Subandi (2012) menyebutkan “Our Prophet encouraged us to generate the production by cultivating the idle land (ihya al-mawat) to yield crops for foods. “

Ekosistem lahan rawa bersifat rapuh yang rentan terhadap perubahan baik oleh karena alam (kekeringan, kebakaran, kebanjiran) maupun karena kesalahan pengelolaan (reklamasi, pembukaan, budidaya intensif). Jenis tanah di kawasan rawa tergolong tanah bermasalah yang mempunyai beragam kendala. Misalnya, tanah gambut mempunyai sifat kering tak balik dan mudah ambles. Tanah gambut mudah berubah menjadi bersifat hidrofob apabila mengalami kekeringan. Gambut yang menjadi hidrofob tidak dapat lagi mengikat air dan hara secara optimal seperti kemampuan semula. Selain itu, khusus tanah suffidik dan tanah sulfat masam mudah berubah apabila teroksidasi. Lapisan tanah (pirit) yang teroksidasi mudah berubah menjadi sangat masam (pH 2-3) dan meningkatnya kelarutan. Lahan rawa yang cocok untuk budidaya tanaman umumnya adalah yang bebas dari pirit minimal di zona perakaran, dan gambut tipis yang tetap bersifat hidrofilik. Rawa yang tidak cocok untuk dikembangkan umumnya berupa gambut tebal dan tanah sulfat masam/berpirit pada jeluk yang dangkal.

Bagaimanapun keadaannya masyarakat harus mendapatkan hasil panen jika mereka ingin bertahan hidup, salah satu cara yang dilakukan yaitu eksperimen untuk menangani dan mengelola. Ini adalah sebuah pengabdian kepada Allah karena hasil percobaan mereka memberi manfaat bagi manusia. Dengan demikian, perubahan iklim menjadi bahan pembelajaran bagi manusia (Subandi and Abdelwahab, 2014).

Bahan dan Metode

Metode yang dilakukan yaitu dengan observasi ke lokasi yaitu Kampus II UIN SGD Bandung. Hasil yang didapatkan di tempat observasi dicatat kemudian dianalisis dan di bantu dengan jurnal dan artikel sebagai penunjang dalam memperoleh informasi yang lebih ilmiah dan terpercaya. Dalam pencarian data untuk menunjang pembuatan jurnal yaitu dengan metode pencarian di internet yang melibatkan mesin pencari seperti Google dan memasukan

(3)

berbagai macam keywords seperti : pengendalian air, potensi tanah di Kampus II UIN SGD Bandung, keadaan air dan tanah di Kampus II UIN SGD Bandung. Data jurnal ini berasal dari berbagai macam jurnal ilmiahdanartikel yang menyangkut pengendalian air dan tanah dan di dapat dari berbagai macam situs penerbitan jurnal yang terpercaya seperti : scoopus, google schoolarship, research gate dan berbagai macam situs lainnya. Selain itu data jurnal ini juga didapat dari pustaka primer yang terpercaya

Bahan yang didapat dari berbagai macam jurnal ilmiah tersebut di sortir dengan cara diseleksi dengan menggunakan kriteria inklusi dan eklusi, kedua cara tersebut berguna untuk menyeleksi jurnal ilmiah.

Hasil dan Pembahasan Kondisi Umum

Lokasi Wilayah Studi

Wilayah Studi merupakan Wilayah yang termasuk ke dalam Kecamatan Gede Bage KelurahanCimincrang. Kelurahan Cimincrang merupakan salah satu bagian dari wilayah Kecamatan Gede Bage Kota Bandung Provinsi Jawa Barat.

Kondisi Geografis

Kecamatan Gede Bage terdiri dari 4 kelurahan diantaranya yaitu : Kelurahan Cisaranten Kidul, Kelurahan Rancabalong, Kelurahan Cimincrang dan Kelurahan Rancanumpang. Wilayah penelitian yang dilakukan termasuk kedalam Kelurahan Cimincrang, Tepatnya di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Secara geografis sebagian besar kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini memiliki bentuk wilayah yang datar/berombak. Ditinjau dari sudut ketinggian tanah, lokasi penelitian berada pada ketinggian 750 m diatas permukaan air laut.

Aksebilitas

Akses menuju kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung bisa dengan menggunakan angkutan umum kemudian dengan berjalan kaki sekitar 100 meter. Dan terdapatduajalan lain yang dapatmenujutempatobservasi. Namun untuk akses menuju tempat observasi yaitu masih sangat terbatas karena dikelilingi oleh persawahan sehingga hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki.

(4)

Penggunaan lahan di tempat observasi yaitu adanya pemukiman warga, sawah, perkebunan, bangunan, sungai serta rel kereta api di bagian selatan dari gdung utama Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Penggunaan lahan jika tidak dengan pertimbangan untuk keseimbangan lingkungan disekitarnya akan berakibat pada permasalahan lingkungan. Berbagai masalah yang akan muncul diantaranya yaitu penurunan kualitas air tanah, masalah sampah yang belum dapat ditangani secara optimal, ketidakseimbangan kegiatan antar wilayah dan alih fungsi lahan terbuka yang akan berakibat terancamnya keberadaan lahan.

Metode mekanik pengolahan tanah

Termasuk dalam metode mekanik untuk konservasi tanah dan air di antaranya pengolahan tanah. Pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Tujuan pokok pengolahan tanah adalah menyiapkan tempat tumbuh bibit, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenamkan sisa-sisa tanaman dan memberantas gulma. Perlakuan mekanis untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman (sebagai tempat tumbuh bibit, daerah perakaran, membenamkan sisa tanaman, dan memberantas gulma). Pengolahan Tanah kurang / bahkan merugikan konservasi.

Pengolahan tanah berorientasi konservasi:

 Pengolahan tanah seperlunya saja (minimum tillage)  Pengolahan tanah pada kandungan air tepat (pF 3 – 4)  Pemberantasan gulma menggunakan herbisida.

 Merubah kedalaman pengolahan

Gambar 1. Lahan Cekungan (Rawa) UIN SGD Bandung

Pencetakan Sawah adalah lahan untuk usaha tani yang bisa tergenang air pada waktu dibutuhkan terutama untuk menanam padi sawah. Pada waktu-waktu tertentu, airnya dapat

(5)

dikeluarkan sehingga tanah menjadi macak-macak atau kering. Tahap-tahap mencetak sawah di lahan rawa menurut Sri Najiyati (1997) sebagai berikut:

1. Membersihkan tanah dari tunggul. Jika lapisan piritnya dangkal, pencabutan tunggul harus dilakukan bertahap. Tahap pertama adalah mencabut tunggul yang kecil. Setiap Periode tanam, tunggul yang lebih besar dicabut. Tunggul besar berdiameter >50 cm sebaiknya dibiarkan melapuk dengan sendirinya;

2. Melakukan pelumpuran. Pelumpuran dimaksudkan untuk membuat lapisankedap air di bawah lapisan olah tanah sedalam 25-30 cm. Pelumpuran dilakukan dengan cara mencangkul atau membajak sedalam 20 cm dalam keadaan basah lalu diratakan dan diaduk dengan lapisan tanah aluvial di bawah gambut setebal 10 cm. Lapisan kedap air umumnyabaru terbentuk setelah 5-7 kali musim tanam. Pengolahan tanah tidak boleh melebihi kedalaman lapisan pirit;

3. Membuat saluran drainase intensif berupa saluran kolektor dan saluran cacing. Saluran kolektor berukuran 40 x 40 cm, dibuat mengelilingi lahan dan tegak lurus saluran kuarter pada setiap jarak 20 - 25 m. Saluran cacing dibuat berukuran 30 cm x 30 cm, setiap jarak 6 - 12 m, tegak lurus saluran kolektor.

Pengelolaan air di lahan rawa Fungsi air di lahan rawa antara lain:

a) sebagai tandon air di musim hujan, terutama di rawa belakang (backswamp);

b) sebagai pelepas air secara perlahan lahan bilamana sumber air hujan/debit air sungai menurun di musim kemarau (aliran dari rawa belakang ke sungai);

c) untuk mempertahankan suasana reduksi bilamana aliran lateral dalam tanah (seepage) sangat lambat. Di daerah rawa yang belum direklamasi, fungsi ini berjalan sangat bagus. Kelebihan air akan mengalir ke luar rawa melalui aliran permukaan yang terakumulasi dalam saluran alami sempit yang melebar ke arah sungai.

Pengelolaan air di lahan rawa dapat diartikan sebagai pemanfaatan air secara tepat untuk keperluan domestik, meningkatkan produksi tanaman, antara lain untuk kebutuhan evapotranspirasi, pembuangan kelebihan air, mencegah terbentuknya bahan toksik dan melindi elemen toksik yang terjadi, serta mencegah penurunan muka tanah. Pengelolaan air ini sebetulnya mencakup kuantitas dan kualitas yang diinginkan oleh tanaman yang dibudidayakan dan rumah tangga.

Perbedaan antara lahan rawa dengan lahan non-rawa adalah dalam pengelolaan air. Kalau di lahan irigasi, kita dapat mengatur air sesuai dengan keinginan, maka di lahan rawa

(6)

sebaliknya, kita diatur oleh air. Keadaan rezim air sangat dominan berpengaruh di lahan rawa melalui gerakan pasang surut yang secara berkala sehingga pengelolaan rawa lebih bersifat pada pengelolaan adaptif (adaptive managemet approach). Pengelolaan air di lahan rawa dilakukan dengan membuat saluran air (handil). Pada sistem handil tersebut ,air sungai masuk ke dalam saluran handil yang selanjutnya dijadikan sebagai saluran

pengairan dan sebaliknya tatkala surut, air keluar dan air lindian dari sawah ditampung pada saluran handil selanjutnya bersamaan terjadi surut mengalir memasuki sungai. Dalam usaha tani tanaman pangan, khususnya padi sawah umumnya petani di lahan rawa memanfaatkan air yang masuk melalui handil ke saluran kuarter untuk kemudian ditahan dengan pembuatan tabat (dam over flow). Tabat dibuat difunsgikan dari mulai penyiapan lahan sampai tanam. Tabat kemudian dibuka saat padi memerlukan pengeringan, yaitu saat pemasakan sampai panen,Pada lahan gambut, tabat mengandung nilai kearifan untuk menjaga air gambut tidak kering sehingga tidak mudah atau rawan terbakar.

(Noor 1996; 2004). Berkenaan dengan sifat tanah rawa, upaya mempertahankan muka air pada batas di atas lapisan pirit merupakan kunci keberhasilan dalam pengembangan pertanian di lahan rawa.Pada kondisi pirit teroksidasi akibat kekeringan, tanahmenjadi sangat masam (pH 2-3) dan kelarutanAl, Mn, dan Fe meningkat (Noor 2004).

Ayat Al- Quran tentang air sebagai sumber kehidupan sehingga perlu pengelolaan dengan baik

Q.S Al- Baqarahayat 164

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

(7)

Konservasi tanah dan air secara mekanik di lahan rawa yaitu dengan cara pengolahan lahan Tujuan pokok pengolahan tanah adalah menyiapkan tempat tumbuh bibit, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenamkan sisa-sisa tanaman dan memberantas gulma. Pengolahan tanah berorientasi konservasi:

 Pengolahan tanah seperlunya saja (minimum tillage)  Pengolahan tanah pada kandungan air tepat (pF 3 – 4)  Pemberantasan gulma menggunakan herbisida.

 Merubah kedalaman pengolahan

Pengelolaan air di lahan rawa dapat diartikan sebagai pemanfaatan air secara tepat untuk keperluan domestik, meningkatkan produksi tanaman, antara lain untuk kebutuhan evapotranspirasi, pembuangan kelebihan air, mencegah terbentuknya bahan toksik dan melindi elemen toksik yang terjadi, serta mencegah penurunan muka tanah.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat beserta hidayat-Nya juga telah melimpahkan nikmat yang besar kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan jurnal ini. Tak lupa shalawat beserta salam selalu tercurah limpahkan kepada nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, tabi’in tabi’atnya dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada kedua orang tua yang senantiasa memberikan dorongan dan motivasi. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Konservasi Tanah dan Air yaitu Dr. H. M. Subandi, Drs., Ir., MP. yang banyak membantu dalam hal bimbingan penulisan dan pemberian materi yang membantu dalam penyelesaian jurnal ini.

Daftar Pustaka

Najiyati, Sri. 1997. Wetlands International Indonesia Programme. Bogor

Notohadiprawiro, Tejoyuwono, 2006. Ilmu Tanah. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Noor M, Hairani A, Nurzakiah S. 2012. Respon padi terhadap perbaikan kemasaman dan status hara pada tiga tipologi lahan rawa pasang surut di Kalimantan. Pros Sem Nasional Pemberdayaan Petani Melalui Inovasi Tekniologi Spesifik Lokasi. 25

(8)

Oktober 2011 207-216. Bogor/Yogyakarta: BBP2TP, BPTP Yogyakarta- STPP Magelang.

Noor M. 1996. Padi Lahan Marjin al. Penebar Swadaya, Jakarta.

Noor M. 2004. Lahan Rawa, Sifat dan Pengelolaan Tanah Bermasalah Sulfat Masam. Penerbit Rajawali Perss, Jakarta. Jawali Perss, Jakarta.

Subandi, M. (2012). Developing Islamic Economic Production. Sci., Tech. and Dev., 31 (4): 348-358.

Subandi, M, and Ahmedwahab, Mahmoud,M. (2014). Science as A Subject Learning in Islamic University. Jurnal Pendidikan Islam, 1(2):183-205.

Gambar

Gambar 1.  Lahan Cekungan (Rawa)  UIN SGD Bandung

Referensi

Dokumen terkait

Pada lahan pertanian di wilayah Kampus II UIN SGD Bandung yang mengalami terjadinya degredasi lahan seperti kondisi tanahnya yang menjadi kering dan tanah yang

Kehilangan tanah akibat erosi pada lahan sayuran di sentra tembakau di ke-dua desa tersebut dapat diturunkan secara drastis melalui penerapan teknik konservasi tanah secara

Langkah-langkah pokok yang penting dalam pemanfaatan dan pengembangan keanekaragaman tanaman buah eksotis ini, adalah (i) penyusunan strategi konservasi tanaman buah-buahan lahan

Karena ada jenis-jenis yang mampu tumbuh pada lahan yang tidak diolah dan ada pula yang memerlukan pengolahan tanah secara intensif agar dapat tumbuh baik dan optimal

Untuk melihat sejauh mana tingkat penerapan usahatani lahan surutan berbasis konservasi dapat dilihat dari kualitas pengolahan lahan (kedalaman olah tanah) dengan kualitas

Pada lahan pertanian di wilayah Kampus II UIN SGD Bandung yang mengalami terjadinya degredasi lahan seperti kondisi tanahnya yang menjadi kering dan tanah yang

Masalah yang kerap ditemukan di daerah aliran sungai adalah sedimentasi yang disebabkan oleh limbah di sungai, tergenangnya lahan disekitar sungai akibat aliran sungai yang

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,