Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi (JIMEKA) Vol. 2, No. 4, (2017)Halaman 52-66
ol.x, No.x, July xxxx, pp. 1
E-ISSN 2581-1002
PENGARUH PROFITABILITAS, TINGKAT HUTANG, DAN UKURAN
PERUSAHAAN TERHADAP BOOK TAX GAPPADA PERUSAHAAN
SUB-SEKTOR PROPERTY DAN REAL ESTATE YANG TERDAFTAR DI BURSA
EFEK INDONESIA TAHUN 2012-2015
Ikhsan Riansa*1, Rahmawaty*2
1,2
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala e-mail: [email protected]*1,[email protected]*2
Abstrak
This studyaims to examine the influence of probitability, leverage, and firm size to book tax gap. The samples of this research are the Sub-Sektor Property and Real Estate firms listed in BEI (Bursa Efek Indoensia) in 2012-2015. The Samplesare collected using purposive sampling method and resulted 32 companies become the finalsamples. Data was analised by using the multiple regression analysis. The results of this research show that (1) profitability, leverage, and firm size simultaneously influence for book tax gap, (2) profitability has positive influence and significantonbook tax gap, (3) leveragenegatively influence and significantonbook tax gap, and (4) firm size positively influence and significant on book tax gap.
Keywords: Profitability ,Leverage, Firm Size, Book Tax Gap.
1.
PendahuluanPajak memiliki peranan penting dalam kelangsungan perekonomian setiap negara termasuk Indonesia. Pajak digunakan untuk membiayai semua pengeluaran negara dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.Pemungutan pajak di Indonesia diatur oleh Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum Perpajakan Pasal 1 ayat 1, yang menyebutkan pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh wajib pajak baik pribadi ataupun badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Salah satu wajib pajak yang mempunyai kewajiban membayar pajak adalah perusahaan. Pajak dihitung dari laba bersih yang diperoleh suatu perusahaan. Semakin besar pajak yang dibayarkan oleh perusahaan kepada negara, maka semakin banyak pula pendapatan negara, namun sebaliknya bagi perusahaan, pajak merupakan beban yang akan mengurangi laba bersih (Kouba et al., 2015).
Laba merupakan informasi penting yang dibutuhkan pihak internal dan eksternal yang diperoleh
dari laporan keuangan suatu perusahaan. Terdapat dua versi laba yang dihitung oleh perusahaan setiap tahunnya yaitu laba berdasarkan SAK (StandarAkuntansi Keuangan) dan laba yang dihitung berdasarkan ketentuan perpajakan yang berlaku. Perbedaan perhitungan laba timbul karena ketentuan dan konsep yang berbeda antara SAK dan undang-undang pajak (Martani, 2014). Akibat adanya perbedaan ketentuan dan konsep tersebut menyebabkan perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal yang sering disebut dengan istilah BTG (Book Tax Gap) (Martani et al., 2011). Setiap akhir tahunpada saat menghitung pajak, perusahaan diwajibkan untuk melakukan penyesuaian terhadap laba akuntansi berdasarkan peraturan pajak penghasilan.
ISSN: 1978-1520 terjadi karena adanya perbedaan metode akuntansi serta saat pengakuan pendapatan dan biaya sedangkan perbedaan permanen terjadi karena adanya transaksi pendapatan dan biaya diakui menurut akuntansi komersial dan tidak diakui menurut fiskal (Resmi, 2016:389).
BTG dipengaruhi oleh beberapa hal yang pada penelitian ini dibatasi pada profitabilitas, tingkat hutang, dan ukuran perusahaan. Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba yang berhubungan dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri (Subramanyam, 2012). Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang rendah tidak akan dapat menarik investor untuk menanamkan saham atau modalnya pada perusahaan tersebut. Oleh karena itu, perusahaan yang memiliki profitabilitas yang rendah akan memiliki BTG yang rendah pula (Martani, 2014). Selain profitabilitas, tingkat hutang juga memiliki kaitan terhadap BTG. Apabila suatu perusahaan memiliki tingkat hutang yang lebih dominan daripada tingkat profitabilitasnya, maka tidak menutup kemungkinan adanya manajemen laba didalamnya. Jika tingkat hutang melebihi profitabilitas sesuatu perusahaan, maka perusahaan akan susah mendapatkan investor untuk perusahaan tersebut. (Martani et al., 2011). Hal ini dapat menyebabkan perusahaan melakukan rekayasa dalam pelaporan pajak untuk menekan keseluruhan jumlah pajak yang terhutang. Keadaan ini dapat mengakibatkan perusahaan melaporkan penghasilannya kurang dari semestinya atau pembebanan biaya melebihi dari yang seharusnya sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya BTGdalam suatu perusahaan.
Faktor lainnya yang mempengaruhi BTG adalah ukuran perusahaan. Hubungan BTG dengan ukuran dan keuntungan perusahaan memiliki dua sudut pandang yang berbeda, di satu sisi, semakin besar profitabilitas dan ukuran perusahaan maka semakin besar kemungkinan perusahaan tersebut menjadi sorotan dari aturan pemerintah (Watts dan Zimmerman 1986). Pajak merupakan salah satu elemen dari teori biaya politik yang menyebutkan bahwa perusahaan besar memiliki BTG yang kecil. Disisi lain, perusahaan yang besar dan sukses memiliki sumber daya yang besar untuk mempengaruhi proses politik sehingga mereka akan cenderung akan melakukan perencanaan pajak dan akan melakukan penghematan pajak. Dengan asumsi ini perusahaan yang memiliki
aset besar dan sukses cenderung akan mengalami BTG yang besar, Sovdan (2012).
Penelitian yang berkaitan dengan BTG telah banyak diteliti baik dalam maupun luar negeri. Long et al. (2013) menyatakan bahwa terdapat beberapa variabel yang dapat mempengaruhi BTG, antara lain pertumbuhan perusahaan, likuiditas, evaluasi pasar untuk saham, struktur modal, skala perusahaan, rasio kepemilikan saham investor institusional, dan berbagiharga. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa ukuran perusahaanmempunyai pengaruh positif terhadap BTG.
Koubaa et al. (2015) juga meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi BTG. Variabel yang diteliti adalah pengaruh pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, likuiditas, tingkat hutang, rasio laba harga, akrual diskresioner, pertumbuhan investasi, kepemilikan institusional, dan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pertumbuhan pendapatan, profitabilitas dan akrual diskresioner mempunyai hubungan yang signifikan terhadap BTG.
Selanjutnya Martani et al.(2011) melakukan penelitian berkaitan dengan besar kecilnya BTG. Pada penelitian ini ditambahkan perusahaan yang melakukan merger atau akuisisi dalam pemilihan sampel yang merupakan kekurangan penelitian Persada dan Martani (2010). Faktor-faktor yang diuji berbeda, antara lain manajemen laba yang menggunakan total akrual, aset atau kewajiban pajak tangguhan, ukuran perusahaan, perusahaan afiliasi, intensitas modal dan persediaan, dan perusahaan yang berafiliasi atau berkonsolidasi. Analisis deskriptif yang dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan sementara dan perbedaan permanen tidak berbeda secara signifikan maka nilai BTG sangat terkait dengan dua perbedaan tersebut. Analisis regresi menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi BTG di Indonesia adalah total akrual dan ukuran perusahaan.
IJurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi Vol. 2, No. 4, (2017)
ISSN: 1978-1520
property dan real estate dipilih menjadi objek penelitian karena jenis perusahaan tersebut banyak diminati oleh investor dalam berinvestasi. Perusahaan non financial khususnya pada sektorpropertydanreal estate adalah perusahaan yang dominan terdaftar di BEI. Penelitian ini mengambil data dari tahun 2012 sampai 2015.
2. Kajian Teoretis 2.1.Book Tax Gap
BTG merupakan perbedaan perhitungan antara laba menurut akuntansi dan perhitungan laba menurut perpajakan. Setiap perusahaan yang bergerak di bidang bisnis menyusun laporan keuangan untukdua tujuan. Tujuan pertama yaitu menyusun laporan keuangan sesuai dengan SAK dan tujuan yang kedua yaitu sesuai dengan Peraturan Undang-Undang Perpajakan untuk menentukan besarnya kewajiban pajak perusahaan yang harus dibayarkan ke pemerintah (Hanlon, 2005).
Pada penerapannya terdapat perbedaan prinsip antara SAK dan peraturan perpajakan yang berlaku sehingga menyebabkan dua jenis laba yang dihitung setiap tahunnya yaitu laba menurut akuntansi dan laba menurut perpajakan. Besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar oleh perusahaan dapat dihitung berdasarkan penghasilan kena pajak, dimana penghasilan kena pajak perusahaan diperoleh dari rekonsiliasi fiskal terhadap laba akuntansi (Long et al., 2013).
2.2. Profitabilitas
Riyanto (2008:25) mendefinisikan bahwa profitabilitas adalah masalah yang berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi. (Kamsir, 2012:127) Rasio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Apabila perusahaan tersebut memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi, maka perusahaan telah mampu bersaing di pasaran
Pada umumnya aspek Profitabilitas tidak dipandang hanya pada suatu periode, tetapi dikaitkan dengan satu periode tahun buku atau kadang-kadang diidentifikasikan dengan siklus operasi normal perusahaan. Siklus operasi normal perusahaan merupakan suatu jangka waktu yang tercakup dari sejak dimulainya aktivitas pembelian, produksi,
penjualan hingga aktivitas pengumpulan piutang. Penilaian atau pengukuran aspek Profitabilitas suatu perusahaan yang diidentifikasikan dengan siklus operasi normalnya. Profitabilitas mempunyai arti penting bagi setiap perusahaan karena berdampak pada berbagai akibat yang dapat merugikan atau tidak dapat digunakannya kesempatan untuk memperoleh laba, jika perusahaan berada dalam keadaan tidak (kurang). Apabila Profitabilitas suatu perusahaan itu mengalami kondisi yang baik, maka perusahaan tersebut mencerminkan BTG yang baik pula karena mampu menanggung biaya-biaya yang muncul seperti pajak (Martani, 2014).
H1: Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan
terhadapBook Tax Gap 2.3 Tingkat Hutang
Tingkat Hutang adalah pertumbuhan penjualan dan pertumbuhan total aktiva. Apabila suatu perusahaan memiliki tingkat hutang yang lebih dominan daripada tingkat profitabilitasnya, maka tidak menutup kemungkinan adanya manajemen laba didalamnya. Jika tingkat hutang melebihi profitabilitas sesuatu perusahaan, maka perusahaan akan susah mendapatkan investor untuk perusahaan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan perusahaan melakukan rekayasa dalam pelaporan pajak untuk menekan keseluruhan jumlah pajak yang terhutang. Keadaan ini dapat mengakibatkan perusahaan melaporkan penghasilannya kurang dari semestinya atau pembebanan biaya melebihi dari yang seharusnya sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya BTGdalam suatu perusahaan (Baker et al., 2011:10).
Utang akan menimbulkan beban tetap (fixed rate of return) yang disebut dengan bunga. Semakin besar utang maka laba kena pajak akan menjadi lebih kecil karena insentif pajak atas bunga utang semakin besar. Hal tersebut membawa implikasi meningkatnya penggunaan utang oleh perusahaan. Penelitian Taylor dan Richardson (2013) memberikan bukti bahwa perusahaan yang memiliki kewajiban pajak tinggi akan memilih untuk berutang agar mengurangi pajak. Dapat disimpulkan perusahaan yang mempunyai tingkat hutang yang tinggi akan memiliki BTG yang juga besar.
H2: Tingkat Hutang berpengaruh negatif dan
ISSN: 1978-1520 2.4. Ukuran Perusahaan
Ukuran Perusahaan merupakan proksi atas pertumbuhan ekonomi pada suatu perusahaan (Sovdan, 2012). Pendapatan itu sendiri merupakan jumlah uang yang diterima oleh suatu perusahaan dari suatu aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan tersebut, dan kebanyakan aktivitas tersebut adalah aktivitas penjualan produk dan atau penjualan jasa kepada konsumen.
Ukuran perusahaan adalah rata-rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan sampai beberapa tahun. Dalam hal ini penjualan lebih besar daripada biaya variabel dan biaya tetap, maka akan diperoleh jumlah pendapatan sebelum pajak. Sebaiknya jika penjualan lebih kecil daripada biaya variabel dan biaya tetap maka perusahan akan mengalami kerugian (Brigham dan Houston 2001). Sedangkan menurut Ferry dan Jones (dalam Sujianto 2001), ukuran perusahaan menggambarkan besarkecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata total penjualan, dan rata-rata total aktiva. Jadi ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya aset yang dimiliki oleh perusahaan.
Ukuran Perusahaan dalam penelitian ini menggunakan pengukuran ukuran perusahaan (size) sama dengan total asset. Pengukuran ukuran perusahaan ini mengacu pada penelitian Sovdan (2012) dan Sujianto (2001). Suatu perusahaan yang memiliki aset yang besar cenderung akan memiliki BTG yang besar.
H3: Ukuran Perusahaan berpengaruh Positif dan
signifikan terhadapBook Tax Gap 3. Metode Penelitian
3.1 Desain Penelitian
Tujuan penelitian ini adalahuntuk melihat pengaruh profitabilitas, tingkat hutang, dan ukuran perusahaan terhadap book tax gap melalui pengujian penelitian analisis regresi linear berganda. Metode penelitian analisis regresi linear berganda merupakan penelitian yang fungsinya untuk menguji pengaruh profitabilitas, tingkat hutang, dan ukuran perusahaan terhadap book tax gap yang diolah dengan program Statistical Package for Social Science(SPSS).Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling.Populasi yang menjadi pengamatan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan Sub-Sektor Propertydan RealEstate yang terdaftar di BEI selama periode 2012 sampai tahun 2016. Perusahaan Sub-SektorPropertydanRealEstate ditetapkan sebagai objek yang diteliti karena jenis perusahaaan ini memiliki karakteristik yang sama sehingga mudah diamati. Pada penelitian ini tingkat intervensi yang digunakan adalah minimal. Situasi studi yang digunakan dalam penelitian ini tidak diatur. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan perusahaan yang telah teraudit dalam satu periode akuntansi. Horizon waktu di dalam penelitian ini, untuk mengumpulkan data maka menggunakan metodecross sectional dan time series.
3.2 Populasidan Sampel Penelitian
Populasi pada penelitian ini ialah seluruh perusahaan yang terdaftar secara di BEI tahun 2012-2015. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini adalah metodepurposive sampling, yaitu sampel yang memiliki kriteria-kriteria tertentu. Sampel pada penelitian ini terdapat sampel untuk setiapeventyang menjadi amatan.
Sampel Penelitian
No Kriteria Sampel Jumlah Perusahaan
1. Perusahaan Sub-Sektor Property dan RealEstateyang terdaftar di BEI selama
periode pengamatan 47
2. Perusahaan yang mengalami kerugian menurut laba akuntansi, laba komprehensif,
dan laba pajak selama tahun pengamatan. (9)
3.
Perusahaan Sub-Sektor Property dan RealEstate yang tidak memiliki kelengkapan data yang dibutuhkan terkait dengan indikator-indikator perhitungan untuk variabel yang diamati pada penelitian ini.
(6)
4. Sasaran Sampel 32
5. Periode Penelitian 2012-2015 4 Tahun
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi (JIMEKA) Vol. 2, No. 4, (2017)Halaman 52-66
ol.x, No.x, July xxxx, pp. 1
E-ISSN 2581-1002
3.3 Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder. Menurut Sekaran (2011:77) data sekunder adalah data yang mengacu pada informasi yang dikumpulkan oleh seseorang atau suatu lembaga, dan bukan peneliti yang melakukan studi mutakhir. Data dalam penelitian ini merupakan data laporan keuangan teraudit perusahaan sub-sektor property dan realestate yang dipublikasikan BEI dari tahun 2012 sampai tahun 2015 melalui websitenya, yaituwww.idx.co.id.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Studi kepustakaan
Studi kepustakaan dilakukan dengan mempelajari literatur-literatur dan sumber-sumber tertulis yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini. Data yang dihasilkan dari studi kepustakaan hanya data pelengkap saja. 2) Metode dokumentasi
Metode dokumentasi dilakukan dengan mengamati dokumen-dokumen yang relevan, baik dari laporan keuangan perusahaan maupun dari pencarian melalui internet demi mendapatkan data-data yang menunjang penelitian.
3.4 Operasionalisasi Variabel
Penelitian ini dilakukan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi Book Tax Gap. Variabeldalam penelitian ini terdiri atas satu variabel dependen atau terikat yang menjadi pusat perhatian peneliti dan beberapa variabel independen atau bebas. Untuk memperjelas lingkup penelitian maka diperlukan pendefinisian variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian sehingga terdapat pembatasan dalam pengertian variabel-variabel tersebut. Pembatasan tersebut bertujuan agar dalam memahami variabel dapat lebih fokus dalam satu pengertian dan tidak keluar dari batas permasalahan yang ada di luar definisi yang diuraikan.
3.4.1 Book Tax gap
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya atau faktor-faktor lain. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah BTG yang disimbolkan dengan Y. Indikator variabel ini diukur dengan mengurangkan
laba akuntansi dengan laba pajak dan dibagi dengan total aset (Martani et al., 2014). Selanjutnya Martani et al. (2014) menjelaskan bahwa laba pajak didapat dari beban pajak kini dibagi dengan tarif pajak penghasilan.
BTG = –
Rumus untuk mendapatkan laba pajak yaitu:
= Beban pajak kini
Tarif pajak penghasilan
3.4.2 Profitabilitas
Suatu indikator kinerja manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukan dengan laba bersih yang dihasilkan. (Subramanyam dan Wild, 2012:43). Sebuah perusahaan dapat dikatakan memiliki Profitabilitas yang baik yaitu memiliki nilai > 1. Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Return of Asset. penelitian ini diukur dengan persamaan sebagai berikut:
Return of asset (ROA) = 100%
3.4.3 Tingkat Hutang
merupakan Rasio antara jumlah jaminan dan dana yang di pinjam yang dialokasikan untuk trading. (Sumadji, 2010)
Tingkat hutang = 100%
3.4.4 Ukuran Perusahaan
Ukuran Perusahaan merupakan proksi atas pertumbuhan ekonomi pada suatu perusahaan (Sovdan, 2012). Pendapatan itu sendiri merupakan jumlah uang yang diterima oleh suatu perusahaan dari suatu aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan tersebut, dan kebanyakan aktivitas tersebut adalah aktivitas penjualan produk dan atau penjualan jasa kepada konsumen.
ISSN: 1978-1520 3.5 Metode Analisis dan Pengujian Hipotesis
3.5.1 Metode Analisis
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode regresi linier berganda. Metode ini bertujuan untuk menguji pengaruh profitabilitas, tingkat hutang, dan ukuran perusahaan terhadap book tax gap yang diolah dengan program Statistical Package for Social Science (SPSS). Model regresi linier berganda pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Y : Book Tax Gap α : Konstanta
bi : i = 1, 2, 3, 4, 5 = Koefisien regresi x1 : profitabilitas
x2 : Tingkat Hutang
x3 : Ukuran perusahaan
e : Pengaruh variabel lain atau residual (error term)
3.5.2 Uji Asumsi Klasik 1) Uji Normalitas Data
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel dependen dan independen mempunyai distribusi normal atau tidak. Penelitian ini menggunakan uji statistic one samplekolmogorov-smirnove dalam menguji kenormalan data. Model regresi yang baik memiliki distribusi data yang normal atau mendekati normal (Ghozali, 2011: 160). Sebuah data dapat dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi > 0,05, dan sebaliknya apabila nilai signifikansi < 0,05, maka data tersebut berdistribusi tidak normal.
2) Uji Multikolinearitas
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah di dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik harus tidak memiliki korelasi di antara variabel independen. Untuk mendeteksi ada atau tidak multikolinieritas di dalam regresi, penelitian ini melihat dari: (1) nilai toleransi dan lawannya (2)VIF (variance inflation factor). Nilai pemisah yang umum digunakan untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥10 (Ghozali, 2011: 105-106).
3) Uji Heteroskedastisitas
Pengujian ini bertujuan apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedastisitas. Dalam penelitian cara untuk mendeteksi ada atau tidak heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel dependen yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Untuk melihat ada atau tidaknya heteroskedastisitas yaitu dengan melihat pola tertentu pada grafik, dengan sumbu Y adalah ZPRED dan sumbu X adalah SRESID. Jika tidak ada pola yang jelas dan titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka dapat dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas, dan sebaliknya jika ada pola tertentu, seperti bergelombang dan teratur maka telah terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2011: 139). 4) Uji Autokorelasi
Pengujian ini bertujuan untuk melihat apakah dalam model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya, ini sering terjadi pada datatime series. Model regresi yang baik adalah model yang terbebas dari autokorelasi. Pendekatan yang diambil guna mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dalam penelitian ini digunakan uji DW test (Durbin – Watson). Pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi yaitu:
0 < nilai DW < dl atau DW < 1,5 = adanya autokorelasi positif
dl≤ nilai DW ≤ ddu atau 1,54 < DW < 1,66 = tidak ada autokorelasi positif
du < nilai DW , 4-du atau 1,66 < DW < 2,34 = tidak ada autokorelasi
4-du≤ d ≤ 4-dl atau 2,34 < DW < 2,46 = tidak ada autokorelasi negatif
4-dl < nilai DW < 4 atau 2,46 <DW = ada autokorelasi negative
3.5.3 Rancangan Pengujian Hipotesis
Analisa regresi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara variabel independen
IJurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi Vol. 2, No. 4, (2017)
ISSN: 1978-1520
dengan variabel dependen. Pengujian statistik yang dilakukan adalah:
1) Koefisien Determinasi (R2)
Pengukuran koefisien determinasi (R2) dilakukan untuk mengetahui persentase pengaruh variabel independen terhadap perubahan variabel dependen sehingga nanti diketahui seberapa besar variabel dependen akan mampu dijelaskan oleh variabel independennya, sedangkan sisanya dijelaskan oleh sebab-sebab lain di luar model. Nilai koefisien determinasi (R2) adalah nol dan satu. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Nilai R2 yang kecil mempunyai arti bahwa variabel-variabel independen mempunyai kemampuan yang amat terbatas dalam menjelaskan variasi variabel dependen (Ghozali, 2011:83). Namun R2 mempunyai kelemahan yaitu setiap penambahan satu variabel bebas, maka R2 pasti meningkat tanpa mempedulikan apakah variabel tersebut berpengaruh atau tidak terhadap terhadap variabel dependennya. Oleh karena itu, banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R2 untuk mengevaluasi model regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai Adjusted R2 bisa naik turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model (Ghozali, 2011:169).
2) Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap variabel dependen. Apabila tingkat probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa semua variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.
Adapun prosedur pengujiannya adalah setelah melakukan perhitungan terhadap F hitung kemudian membandingkan nilai F hitung dengan F tabel. kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a) Apabila F hitung > F tabel dan tingkat signifikansi (α) < 0,05 maka H0 ditolak (Ha
diterima), yang berarti secara simultan semua
variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
b) Apabila F hitung < F tabel dan tingkat signifikansi (α) > 0,05 maka H0diterima (Ha
ditolak), yang berarti secara simultan semua variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Adapun rancangan pengujian hipotesis secara simultan dengan merumuskan hipotesis nol (H0)
dan hipotesis alternatif (Ha):
a) H01: b = b = b = b =0; profitabilitas,
tingkat hutang, dan ukuran perusahaan secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap BTG.
b) Ha1: paling sedikit ada satu dari β ≠ 0, i=
1,2,3,4; profitabilitas, tingkat hutang, dan ukuran perusahaan secara bersama-sama berpengaruh terhadap BTG
3) Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji t adalah pengujian secara statistik untuk mengetahui apakah variabel independen secara individual mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Jika tingkat probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 maka dapat dikatakan variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.
Adapun prosedur pengujiannya adalah setelah melakukan perhitungan terhadap t hitung, kemudian membandingkan nilai t hitung dengan t tabel. Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a) Apabila t hitung > t tabel dan tingkat signifikansi (α) < 0,05 maka H0 ditolak (Ha
diterima), yang berarti secara parsial variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
b) Apabila t hitung < t tabel dan tingkat signifikansi (α) > 0,05maka H0diterima (Ha
ditolak), yang berarti secara parsial variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
ISSN: 1978-1520 a) Hipotesis II
H02: b = 0; Profitabilitas tidak berpengaruh
terhadap BTG.
Ha2 : b ≠ 0; Profitabilitas berpengaruh
terhadap BTG. b) Hipotesis III
H03:b = 0; tingkat hutang tidak berpengaruh
terhadap BTG.
Ha3:b ≠ 0; tingkat hutang berpengaruh
terhadap BTG. c) Hipotesis IV
H04 : b = 0; Ukuran Perusahaan tidak
berpengaruh terhadap BTG.
Ha4:b ≠ 0; Ukuran Perusahaan berpengaruh
terhadap BTG.
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan 4.1. Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh profitabilitas, tingkat hutang, dan ukuran perusahaan terhadap BTG perusahaan sub-sektor property dan realestate yang dipublikasikan BEI. BTG pada penelitian ini diukur dengan membandingkan selisih laba akuntansi dan laba pajak dengan total aset. Profitabilitas diukur dengan membandingkan net profit
dan total aset. Tingkat hutang diukur dengan membandingkan total hutang dan total modal. Ukuran perusahaan diukur dengan mencari nilai logaritma natural dari total aset perusahaan.
Analisis dilakukan sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah unbalance panel data, yaitu penelitian yang datanya dikumpulkan dalam beberapa periode pengamatan dan memiliki jumlah observasi yang tidak selalu sama setiap tahunnya Populasi yang menjadi pengamatan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan Sub-Sektor Property dan RealEstateyang terdaftar di BEI selama periode 2012 sampai 2015. Data dalam penelitian ini merupakan data laporan keuangan teraudit perusahaan sub-sektor propertydanrealestateyang dipublikasikan BEI. Data dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan program IBM®SPSS®Version21Release21.0.0.0, 32-bitEdition.
4.1.1 Deskripsi Data Penelitian
Statistik deskriptif memberikan gambaran mengenai karakteristik variabel penelitian yang diamati. Statistik deskriptif variabel yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1
Deskriptif Data Penelitian
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
BTG (Y) 128 -151,7486 9,4124 -3,578972 17,1148381
Profitabilitas (X1) 128 ,0027 17,6874 ,338766 1,8276331
Tingkat Hutang (X2) 128 ,0856 2,8494 ,789609 ,4888167
Ukuran Perusahaan (X3) 128 8,7774 13,6162 11,555927 1,4199035
Valid N (listwise) 128
Berdasarkan Tabel 4.1 diperoleh nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata, dan standar deviasi untuk ukuran perusahaan, profitabilitas, BTG, dan tingkat hutang selama 4 tahun. Untuk BTG diperoleh nilai minimum sebesar -151,74, nilai maksimum sebesar 9,41, dan nilai rata-rata sebesar -3,57 dengan standar deviasi sebesar 17,11. Untuk profitabilitas diperoleh nilai minimum sebesar 0,002, nilai maksimum sebesar 17,68, dan nilai rata-rata sebesar 0,33 dengan standar deviasi sebesar 1,82. Untuk tingkat hutang diperoleh nilai minimum sebesar 0,085,
nilai maksimum sebesar 2,84, dan nilai rata-rata sebesar 0,789 dengan standar deviasi sebesar 0,488. Untuk ukuran perusahaan diperoleh nilai minimum sebesar 8,77, nilai maksimum sebesar 13,61, dan nilai rata-rata sebesar 11,55 dengan standar deviasi sebesar 1,41.
4.1.2 Hasil Pengujian Uji Asumsi Klasik 4.1.2.1 Uji Normalitas
IJurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi Vol. 2, No. 4, (2017)
ISSN: 1978-1520
bebas, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal (Ghozali, 2009:147). Uji kualitas data yang pertama dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan uji normalitas data melalui analisis statistik dengan
menggunakan uji statistik Non-Parametrik One-Sample Kolmogorov-Smirnov. Nilai Kolmogorov-Smirnov untuk variabel dependen profitbilitas dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 128
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation 16,48303056
Most Extreme Differences Absolute ,357
Positive ,232
Negative -,357
Test Statistic ,357
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000c
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction. Sumber: Output SPSS
Besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov adalah 0,357 dengan tingkat signifikansi 0,000 dibawah 0,05 sehingga dapat simpulkan data residual terdistribusi
tidak normal, sehingga data outlier dikeluarkan dan tersisa 70 sampel yang dilakukan uji normalitas dengan hasil dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Unstandardized Residual
N 70
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation ,00101243
Most Extreme Differences Absolute ,098
Positive ,098
Negative -,097
Test Statistic ,098
Asymp. Sig. (2-tailed) ,089c
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction. Sumber:OutputSPSS
Berdasarkan Tabel 4.3 hasil uji normalitas didapatkan bahwa nilai residual terstandardisasi berdistribusi normal memiliki Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,089 dimana nilai tersebut berada di atas tingkat toleransi 0,05. Dari tabel tersebut dapat dinyatakan data berdistribusi normal.
4.1.2.2 Uji Multikolonieritas
Uji Multikolonieritas data dapat dilakukan dengan matriks korelasi dengan melihat besarnya nilai VIF
ISSN: 1978-1520 Tabel 4.4
Hasil Uji Statistik Multikolonieritas Variabel
Model
Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)
Profitabilitas (X1) ,991 1,009 Tingkat Hutang (X2) ,990 1,010 Ukuran Perusahaan (X3) ,999 1,001
Pada Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilaitolerance dari semua variabel independen lebih besar dari 0,1 dan semua variabel juga menunjukkan nilai VIF yang lebih kecil dari 10. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinieritas pada variabel-variabel eksogen yang di teliti dalam penelitian ini. 4.1.2.3 Uji Heteroskedastisitas
Pengujian ini digunakan untuk melihat apakah variabel pengganggu mempunyai varian yang sama atau tidak. Heteroskedastisitas mempunyai suatu keadaan bahwa varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain berbeda. Uji scatterplot digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 4.1 yang menunjukkan bahwa grafik scatterplot tersebut, dapat diketahui bahwa titik data menyebar secara acak serta tersebar di atas manapun di bawah 0 pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi dalam penelitian ini.
4.1.2.4 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara
kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Uji autokorelasi dilakukan menggunakan uji Durbin-Watson (DW). Dengan menggunakan jumlah variabel eksogen dan jumlah data penelitian, maka didapat nilai Lower (DL) sebesar 1,524 dan nilai Durbin-Upper (DU) sebesar 1,702 dari tabel Durbin-Watson. Untuk hasil uji Durbin-Watson dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5 Uji Autokorelasi Hasil Penelitian Klasifikasi Kurang dari 1,524 Ada autokorelasi 1,524 sampai dengan 1,702 Tanpa kesimpulan 1,702 sampai dengan 2,298 Tidak ada autokorelasi 2,298 sampai dengan 2,476 Tanpa kesimpulan Lebih dari 2,476 Ada autokorelasi Sumber:OutputSPSS
Nilai Durbin-Watson yang didapat pada pengujian ini adalah sebesar 1,816, yang dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi pada data penelitian ini karena nilai Durbin-Watson yang didapat berada di antara nilai DU dan 4-DU.
4.1.3 Hasil Pengujian Hipotesis
4.1.3.1 Hasil Regresi Linear Berganda antara Profitabilitas, Tingkat Hutang, Ukuran Perusahaan, dan BTG
Penelitian ini merupakan penelitian dengan pengujian hipotesis yang menggunakan metode analisis regresi linear berganda (multiple regression analysis). Metode regresi linear berganda menghubungkan satu variabel dependen dengan beberapa variabel independen dalam suatu model penelitian untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen. Analisis linear berganda digunakan untuk mendapat koefisien regresi yang akan menentukan apakah hipotesis yang dibuat akan diterima atau ditolak atas dasar hasil analisis regresi dengan menggunakan tingkat signifikansi sebesar 5%.
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi (JIMEKA) Vol. 2, No. 4, (2017)Halaman 52-66
ol.x, No.x, July xxxx, pp. 1
E-ISSN 2581-1002
Tabel 4.6 Pengaruh Variabel
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -,0040 ,001 -3,370 ,001
Profitabilitas (X1) ,9961 ,003 ,997 358,501 ,000
Tingkat Hutang (X2) -,0024 ,000 -,019 -6,994 ,000
Ukuran Perusahaan
(X3) ,0005 ,000 ,014 4,923 ,000
Sumber:OutputSPSS
Persamaan regresi linear berganda yang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan statistik seperti yang terlihat pada Tabel 4.6 adalah:
Y=-0,004 + 0,996X1- 0,0024X2+ 0,0005X3+ε Dari persamaan regresi tersebut dapat diketahui bahwa:
1) Konstanta (α) sebesar -0,004. Artinya jika profitabilitas (X1),tingkat hutang (X2), dan ukuran
perusahaan (X3), dianggap konstan, maka besarnya
BTG di perusahaan sub-sektor property dan realestateperiode 2012-2015 menurun sebesar 0,4%.
2) Koefisien regresi profitabilitas sebesar 0,996, artinya setiap kenaikan 100% profitabilitas akan meningkatkan BTG di perusahaan sub-sektor property dan realestateperiode 2012-2015 sebesar 99,6%.
3) Koefisien regresi tingkat hutang sebesar -0,0024, artinya setiap kenaikan 100% tingkat hutang akanmenurunkan BTG di perusahaan sub-sektor property dan realestateperiode 2012-2015 sebesar 0,24%.
Koefisien regresi ukuran perusahaan sebesar 0,0005, artinya setiap kenaikan 100% ukuran perusahaan akan meningkatkan BTG di perusahaan sub-sektor property dan realestateperiode 2012-2015 sebesar 0,05%.
4.1.4 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji statistik t dilakukan dengan melihat nilai signifikansi yang diperoleh masing-masing variabel. Nilai t dapat dilihat pada Tabel 4.6. Hasil pengujian menunjukkan sebagai berikut:
1) Variabel profitabilitas (X1) memiliki nilai t
sebesar 358,501 dengan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 (5%). Hal ini menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap BTG Dengan demikian, hipotesis kedua (H2) yang menyatakan bahwa Profitabilitas
berpengaruh terhadap BTG diterima.
2) Variabel tingkat hutang (X2) memiliki nilai t
sebesar -6,994 dengan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 (5%). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat hutang berpengaruh terhadap BTG Dengan demikian, hipotesis kedua (H3) yang menyatakan bahwa tingkat hutang
berpengaruh terhadap BTG diterima.
3) Variabel ukuran perusahaan (X3) memiliki nilai t
sebesar 4,923 dengan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 (5%). Hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap BTG Dengan demikian, hipotesis kedua (H4) yang menyatakan bahwa
ukuran perusahaan berpengaruh terhadap BTG diterima.
ISSN: 1978-1520 hutang, dan ukuran perusahaan secara bersama-sama berpengaruh terhadap BTG diterima. Nilai F dan
signifikansinya dapat dilihat pada Tabel 4.7.
ANOVA
aModel
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
,140
3
,047
43428,751
,000
bResidual
,000
66
,000
Total
,140
69
a. Dependent Variable: BTG (Y)
b. Predictors: (Constant), Ukuran Perusahaan (X3), Profitabilitas (X1), Tingkat Hutang (X2)
4.1.6 Koefisien Determinasi
Pengujian regresi linear berganda ini dianalisis pula besarnya koefisien determinasi (R2). Uji koefisien determinasi dalam penelitian ini digunakan untuk melihat besar pengaruh variabel independen (profitabilitas,tingkat hutang, dan ukuran perusahaan). Hasil pengujian menunjukkan nilai R2 seperti yang terlihat pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8.
Nilai Koefisien Determinasi
Model R R Square
Adjusted R Square
1 1,000a ,999 ,999
Sumber:OutputSPSS
Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui bahwa nilai koefisien determinasi adalah sebesar 0,999 (99,9%), maka dapat disimpulkan bahwa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah sebesar 99,9%, sedangkan sisanya 0,01% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengaruh Profitabilitas terhadap BTG
Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa profitabilitas (X1) memiliki nilai signifikansi sebesar
0,000 yang berarti berada dibawah taraf signifikansi 0,05 (5%). Hal ini menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap BTG di perusahaan sub-sektor propertydanrealestateperiode 2012-2015.
Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Kouba dan Anis (2015) yang menyebutkan bahwa profitabilitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap BTG. Profitabilitas mempunyairti penting bagi setiap perusahaan. Jadi semakin besar tingkat Profitabilitas yang dihasilkan oleh suatu perusahaan maka akan semakin berpengaruh terhadap BTG, karena semakin besar profitabilitas yang dihasilkan suatu perusahaan maka perusahaan tersebut akan mampu menanggung biaya-biaya yang muncul seperti pajak.
4.2.2 Pengaruh Tingkat Hutang terhadap BTG Tabel 4.6 menunjukkan bahwa tingkat hutang (X2)
memiliki nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 (5%). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat hutang berpengaruh terhadap BTG di perusahaan sub-sektor property dan realestateperiode 2012-2015.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Kouba dan Anis (2015) yang menyebutkan bahwa tingkat hutang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap BTG. Hutang akan menimbulkan beban tetap yang disebut dengan bunga. Semakin besar hutang suatu perusahaan maka laba kena pajak akan lebih kecil karena insentif pajak atas bunga hutang semakin besar. Hal inilah yang menyebabkan Tingkat hutang berpengaruh terhadap BTG akan tetapi pengaruhnya tidak terlalu signifikan terhadap BTG.
4.2.3 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap BTG Tabel 4.6 menunjukkan bahwa ukuran perusahaann (X3) memiliki nilai signifikansi sebesar
0,000 yang berarti berada dibawah taraf signifikansi 0,05% (5%). Hal ini menunjukkan bahwaukuran perusahaanberpengaruh terhadap BTG di perusahaan sub-sektorpropertydanrealestateperiode 2012-2015.
IJurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi Vol. 2, No. 4, (2017)
ISSN: 1978-1520
ukuran perusahaan berpengaruh terhadap BTG. Ukuran perusahaan merupakan proksi atas pertumbuhan ekonomi pada suatu perusahaan. Pendapatan itu sendiri merupakan jumlah uang yang ditermia oleh suatu perusahaan dari suatu aktivitas yang dilakukakn oleh perusahaan tersebut. Semakin besar pendapatan suatu perusahaan maka akan semakin berkembang besar pula perusahaan tersebut. Semakin besar perbembangan yang dimiliki oleh suatu perusahaan, maka semakin besar pula profit yang di dapat oleh perusahaan tersebut. Hal ini mengakibatkan ukuran perusahaan memiliki pengaruh terhadap BTG. 5. Kesimpulan, Keterbatasan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah:
1) Profitabilitas, tingkat hutang, dan ukuran perusahaan secara bersama-sama berpengaruh terhadap BTG pada perusahaan sub-sektorproperty dan realestate yang terdaftar BEI periode 2012-2015.
2) Profitabilitas berpengaruh terhadap BTG pada perusahaan sub-sektorpropertydanrealestateyang terdaftar BEI periode 2012-2015.
3) Tingkat hutang berpengaruh terhadap BTG pada perusahaan sub-sektorpropertydanrealestateyang terdaftar BEI periode 2012-2015.
4) Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap BTG pada perusahaan sub-sektorpropertydanrealestate yang terdaftar BEI periode 2012-2015.
5.2 Keterbatasan
1) Periode pengamatan relatif singkat selama 4 tahun, yaitu dari tahun 2012 sampai tahun 2015 yang berakibat pada kecilnya jumlah perusahaan yang menjadi sampel penelitian.
2) Penelitian ini hanya menggunakan tiga variabel independen yaitu profitabilitas, tingkat hutang, ukuran perusahaan dalam melihat book tax gapyang dipegang oleh perusahaan. Beberapa faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi book tax gaptidak diikutsertakan dalam penelitian ini.
3) Penelitian ini hanya menggunakan data sekunder sehingga tidak menilai dari persepsi pihak manajemen.
5.3 Saran
1) Untuk Peneliti selanjutnya:
• Penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan menggunakan sampel perusahaan lain agar kita dapat membandingkan hasil penelitian pada perusahaan Sub Sektor Property dan Real Estate dan sektor lainnya.
• Menambahkan jangka waktu Periode pengamatan agar data yang diperoleh dapat lebih banyak, sehingga mendapatkan lebih banyak perbandingan.
• Menambah variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi BTG seperti kompensasi kerugian, perusahaan afiliasi, likuiditas, dan pertumbuhan pendapatan.
2) Untuk praktisi agar berhati-hati dalam menilai laba, baik laba akuntansi maupun laba pajak yang dilaporkan oleh perusahaan sub-sektor property dan real estate karena laba yang dilaporkan perusahaan terdiri dari beberapa laba sehingga pemangku kepentingan harus mampu memahami laba yang disajikan tersebut sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan3) Untuk pihak perusahaan, agar dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap perusahaan, maka perusahaan harus mampu menunjukkan kinerja perusahaan yang bagus dan menyampaikan informasi yang relevan kepada investor mengenai perkembangan perusahaan.
Daftar Pustaka
Agoes, Sukrisno dan Estralita Trisnawati. 2012. Akuntansi Perpajakan.Edisi 2
Revisi. Jakarta: Salembat Empat.
Atwood, T. J., Drake, M. S., & Myers, L. A. 2010. Book-tax conformity, earning persistence and the association between earnings and future cash flows. Journal Of Accounting and Economis, 50(1) : 111-125.
Baker, Richard E. 2011. Advanced Financial Accounting.McGraw Hill.
Belkoui, Ahmed Riahi. 2007. Accounting Theory. Jakarta: Salemba Empat.
Bursa Efek Indonesia. 2016. Aktivitas dan Profil Perusahaan. Melalui http://www.idx.co.id. Tanggal akses 9 – 13 Januari 2016 dan 15-20 April 2016.
ISSN: 1978-1520 E. Kieso, Donald, Jerry J, Weygandt and Teery D.
Warfield, 2011. Intermediate Accounting, Edisi 12 Jakarta : Erlangga
Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program IBM SPSS 19. Edisi ke-5. Semarang: Universitas Diponegoro.
Gupta, S., & Newberry, K. 1997. Determinants of the variability in corporate tax rates: Evidence from longitudinal data. Journal of Accounting and Public Policy,16: 1-34.
Hanlon, M. 2005. The Persistence of Earnings, Accruals, and Cash Flows When Firms Have Large Book-Tax Differences. The Accounting Review, 80: 137-166.
Harnanto. 2013. Perencanaan Pajak. Edisi Pertama. Jogjakarta: BPFE.
Husnan, Suad. 2000.Manajemen Keuangan, Teori dan Penerapan. Edisi 4. Jogjakarta: BPFE.
Ikatan Akuntan Indonesia.2010. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat
Jackson, Mark. 2009. Book Tax Differences and Earnings Growth. Working Paper, University of Oregon.
Jogiyanto. 2010. Teori Portofolio dan Analisis Investasi.Edisi 7. Jogjakarta: BPFE.
Kasmir, 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kiswara, Endang. 2011. Akuntansi Perpajakan. Semarang: BP UNDIP
Koubaa, Rakia Riguen and Jarbou Anis. 2015. Book-tax differences: Relevant explanatory factors. International Journal of Accounting and Economics Studies,3 (2) : 95-104.
Long, Yue’s, Kangtao Ye and Mingjun Lv. 2013.Non-institutional Determinants of Book-Tax Differences: Evidence from China. Journal of Accounting and Finance.13(3) : hal
Manzon, G. and G. Plesko. 2002. The Relation Between Financial and Tax Reporting Measures of Income.The Law Review, 55: 175-214.
Martani, Dwi, Debby Fitriasari, dan Yulianti Anwar. 2010. Influence Of Book Tax Gap Towards Earnings Persistence And Firm Value For The Period Of 1999 – 2007. The 3rd Accounting & The 2nd Doctoral Colloquium
Martani, Dwi, Yulianti Anwar, dan Debby Fitriasari. 2011. Book-Tax Gap: Evidence From Indonesia.China-USA Business Review. 10 (4) : 278-284
Martani, Dwi dan Amy Fontanella. 2014. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Book Tax Differences (BTD) pada Perusahaan listed di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XVII.Nusa Tenggara Barat.
Mills, L., & Newberry, K. 2001. The Influence of tax and non-tax costs on book-reporting differences : Public and private firms.Journal of the American Taxation Association,23(1): 1-19.
Munawir. 2010.Analisis Laporan Keuangan. Edisi 4. Yogyakarta: Liberty
Persada, Aulia Eka dan Dwi Martani. 2010. Analisis Faktor Yang MempengaruhiBook Tax Gap Dan Pengaruhnya Terhadap Persistensi Laba.Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. 7 (2)
Phillips, John., Morton Pincus, and Sonja Olhoft Rego. 2003. Earnings Management: New Evidence Based on Deferred Tax Expense. The Accounting Review, 78: 491-521.
Republik Indonesia. 2008. Undang-undang No. 36 Tentang Pajak Penghasilan.Jakarta.
Resmi, Siti. 2016.Perpajakan: Teori dan Kasus. Buku 1. Edisi 9. Jakarta: Salemba Empat.
Riyanto, Bambang. 2008. Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan. Jogjakarta: BPFE UGM
Sahamok. 2016. Daftar Perusahaan Non Financial. Melalui http://www.sahamok.com. Tanggal akses 3-7 April 2016.
Scott, William. 2014. Financial Accounting Theory. Seventh Edition. Toronto: Pearson Prentice Hall Sekaran, Uma. 2011. Metodologi Penelitian untuk
Bisnis. Buku 1. Edisi 4. Jakarta: Salemba Empat Sekaran, Uma dan Roger Bougie. 2013. Research
Methods For Business. Sixth Edition. Italy: Printer Trento Srl.
Sovdan, S. 2012. Book-tax differences and companies financial characteristics: The case of Croatia.The Business Review, Cambridge,19 (2): 265-271. Suandy, Erly. 2011. Perencanaan Pajak. Edisi 6.
Jakarta: Salemba Empat.
Subramanyam, K.and John J. Wild. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Edisi 10. Jakarta: Salemba Empat.
Slamet, Abdul dan Provita Wijayanti. 2012. Respon Perubahan Tarif Pajak Penghasilan, Insentif dan Non-Insentif Pajak Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Unissula.1 (1) : hal
Sumadji dan Yudha Pratama. 2010. Kamus Istilah Ekonomi.2010. Jakarta: Gama Press.
Sutrisno. 2009. Manajemen Keuangan Teori, Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Ekonisia.
Suwandika, I Made Andi dan Ida Bagus Putra Astika. 2013.Pengaruh Perbedaan Laba Akuntansi, Laba Fiskal, Tingkat Hutang Pada Persistensi Laba. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana.
IJurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi Vol. 2, No. 4, (2017)
ISSN: 1978-1520
Tang, T. dan Firth, M. 2011. Book-Tax Differences, a Proxy for Earnings Management and Tax Management - Empirical Evidence from China. The International Journal of Accounting, 46(2): 175-204.
Waluyo. 2012. Akuntansi Pajak. Edisi 4. Jakarta: Salemba Empat.
Wild, John J . 2005. Financial Statement Analysis: Analisis Laporan Keuangan. Edisi 8. Jakarta: Salemba Empat.