• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN MODEL PEMBELAJARAN SENI TARI T (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PELATIHAN MODEL PEMBELAJARAN SENI TARI T (1)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PELATIHAN MODEL PEMBELAJARAN SENI TARI TERPADU SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU SEKOLAH DASAR DI

KABUPATEN SEMARANG Eny Kusumastuti

Staf Pengajar Pendidikan Sendratasik, FBS UNNES e-mail: [email protected]

Model Pembelajaran seni tari terpadu merupakan perpaduan dari pendekatan ekspresi bebas, disiplin ilmu, dan multikultural. Model ini diberikan kepada guru dan kepala Sekolah Dasar Kabupaten Semarang dengan harapan mampu meningkatkan kompetensi profesional guru. Pengenalan model pembelajaran seni tari terpadu diberikan dengan bentuk penyuluhan dan pelatihan dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Balemong Resot Ungaran . Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan pelatihan. Peserta berasal dari guru-guru Sekolah Dasar di wilayah Kabupaten Semarang. Hasil penyuluhan dan pelatihan, guru mampu memahami konsep pembelajaran seni tari terpadu dan mempraktekkan dalam pembelajaran di kelas.

Kata Kunci: Pembelajaran, Seni Tari, Ekspresi bebas, Disiplin Ilmu, Multikultural

PENDAHULUAN

Berdasarkan pengamatan awal, pembelajaran seni untuk anak Sekolah Dasar berjalan sendiri-sendiri, dan tidak ada kesinambungan serta keterkaitan antara seni yang satu dengan seni yang lain. Penyebabnya adalah salah satunya karena ketidakmampuan guru dalam mengembangkan kreativitas anak (Nursito 2000: 11). Keadaan ini lebih diperburuk dengan kekurangmantapan keterampilan dalam berkarya seni dan minimnya wawasan guru terhadap materi, tujuan dan hakekat pendidikan seni dan kurangnya sarana yang ada di sekolah.

(2)

lebih terperinci lagi, mampu merancang dan mengaplikasikan strategi instruksional yang tepat serta dapat memacu dan mengembangkan kreatifitas anak didik.

Kendala-kendala tersebut diatas banyak dialami oleh guru yang mengajar di tingkat pendidikan pra sekolah dan dasar. Hal ini disebabkan bidang keilmuan guru tersebut tidak terfokuskan pada pendidikan seni. Guru Sekolah Dasar adalah guru kelas, yang harus mengajarkan semua materi berdasarkan kurikulum yang berlaku. Karena pendidikan seni mempunyai karakteristik yang berbeda dengan pelajaran lain, maka tidak semua guru mampu menguasai pendidikan seni, baik itu seni musik, seni tari, maupun seni rupa. Berdasarkan pengamatan awal, guru Sekolah Dasar dan kepala Sekolah Dasar mengajarkan pendidikan seni khususnya seni tari, sebatas pada pengetahuan dan kemampuan masing-masing. Bahkan tidak banyak guru Sekolah Dasar dan kepala Sekolah Dasar yang berani mengajarkan seni di kelas. Sehingga mau tidak mau, pihak sekolah harus mendatangkan guru yang mempunyai spesifikasi di bidang pendidikan seni secara khusus.

Melihat fenomena tersebut, muncul gagasan untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan model pendidikan seni tari terpadu sebagai usaha upaya untuk meningkatkan kompetensi profesional bagi Guru dan kepala Sekolah Dasar. Penyuluhan dan pelatihan ini dilaksanakan bekerjasama Diknas dan Kompass (Konsorsium Masyarakat Peduli Anak Kota Semarang). Kompass adalah sebuah Lembaga Swadya Masyarakat yang bergerak dibidang pendidikan anak. Sekolah yang mendapatkan pelatihan adalah Sekolah Dasar dampingan Kompass yang ada di Kabupaten Semarang.

Kompetensi Profesional Guru Sekolah Dasar

(3)

evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya; (3) Kompetensi Profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya; (4) Kompetensi Sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Hal ini mengacu pandangan yang menyebutkan bahwa sebagai guru yang berkompeten memiliki (1) pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, (2) penguasaan bidang studi, baik dari sisi keilmuan maupun kependidikan, (3) kemampuan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik, dan (4) kemauan dan kemampuan mengembangkan profesionalitas dan kepribadian secara berkelanjutan.

Kompetensi adalah sebuah kontinum perkembangan mulai dari proses kesadaran (awareness), akomodasi, dan tindakan nyata sebagai wujud kinerja. Sebagai suatu keutuhan, kompetensi guru Sekolah Dasar merujuk kepada penguasaan konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yang bersifat membantu, dan unjuk kerja profesional yang akuntabel. Kompetensi guru Sekolah Dasar harus dibangun dari landasan filosofis tentang hakikat manusia dan kehidupannya sebagai mahluk Allah Yang Maha Kuasa, pribadi, dan warga negara yang ada dalam konteks kultur tertentu, jelasnya kultur Indonesia. Guru Sekolah Dasar adalah pendidik, karena itu guru Sekolah Dasar harus berkompeten sebagai pendidik.

Guru Sekolah Dasar adalah seorang profesional, karena itu layanan pendidikan yang diberikan harus diatur dan didasarkan kepada regulasi perilaku profesional, yaitu Kode Etik. Seorang guru Sekolah Dasar yang profesional perlu memiliki kesadaran etik karena di dalam memberikan layanan kepada siswa (manusia) maupun dalam kolaborasi dengan pihak lain akan selalu diperhadapkan kepada persoalan dan isu-isu etis dalam pengambilan keputusan untuk membantu individu.

(4)

berbagai alat pelajaran dan media serta fasilitas belajar lain, (6) mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pengajaran, (7) mampu melaksanakan evaluasi belajar dan (8) mampu menumbuhkan motivasi peserta didik. Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004: 63) mengemukakan kemampuan profesional mencakup (1) penguasaan pelajaran yang terkini atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan bahan yang diajarkan tersebut, (2) penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, (3) penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa.

(5)

Pembelajaran seni untuk anak Sekolah Dasar idealnya diberikan saling keterkaitan antara seni musik, seni tari, seni rupa dan drama. Sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Depdiknas (2001: 7) bahwa pembelajaran seni meliputi semua bentuk kegiatan tentang aktivitas fisik dan cita rasa keindahan, yang tertuang dalam kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan berapresiasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran.

(6)

Pembelajaran seni dapat dilakukan melalui pendekatan terpadu yaitu pendekatan yang dapat memberikan pemahaman secara holistik pada anak tentang suatu konsep atau prinsip. Dalam pembelajaran seni dikembangkan kemampuan yang terpadu antara konseptual, operasional dan sintetik antar bidang seni dan lintas bidang seni. Goldberg (1997: 17-20) memberikan alternatif belajar tentang seni melalui pendekatan terpadu, yaitu : (1) belajar dengan seni (learning with the arts) adalah pengetahuan suatu subject matter yang dipelajari dari mata pelajaran lain dengan bantuan suatu karya seni, (2) belajar melalui seni (learning througth the arts) yaitu menggali suatu subject matter melalui berkarya seni dengan mengungkapkan suatu konsep dari mata pelajaran lain yang sedang dipelajari, (3) belajar tentang seni (learning with arts) yaitu belajar dengan seni adalah memahami dan mengekspresikan serta menciptakan berbagai konsep seni kedalam karya seni, dimana anak murni belajar seni dengan melalui proses penghayatan, penciptaan dan kreativitas.

Pembelajaran seni dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan yang membentuk jiwa dan kepribadian anak. Hal ini sejalan dengan pernyataan Plato (dalam Rohidi 2000 : 7) bahwa pendidikan seni dapat dijadikan dasar pendidikan. Pembelajaran seni memberikan andil untuk mengoptimalkan perkembangan potensi yang ada pada anak usia dini, yang sesuai dengan kebutuhan individu, sosial dan budaya warga masyarakatnya, yang hasilnya tercermin dalam cara berfikir, bersikap dan bertindak.

(7)

kemampuan perseptual, pemahaman, apresiasi, kreativitas, dalam berproduksi; (4) memiliki keterampilan dasar dan mampu berkreasi berdasarkan inspirasi yang bersumber pada alam dan lingkungan sekitar siswa dalam mengolah medium seni; (5) Mampu menghargai karya sendiri dan karya orang lain serta keragaman seni budaya setempat dan nusantara; (6) Mampu mempergelarkan, menyajikan karya seni dan atau merancang, memamerkannya di kelas dan atau di lingkungan sekolah (Depdiknas 2001: 8).

Model Pendidikan Seni Tari Terpadu

Model pembelajaran yang diperlukan adalah model yang memberikan peranan pada guru untuk mengelola lingkungan alam dan fisik, sosial, budaya, dan individual, serta sekaligus hidup atau bertindak di dalamnya dengan sikap-sikap yang memberi peluang berkembangnya potensi pribadi ke arah kreatif dan apresiatif terhadap seni tari. Model pendidikan tersebut dapat digambarkan sebagai sebuah sistem dengan tujuan akhir adalah kreatif dan apresiatif. Sebagai sebuah sistem, model tersebut terdiri dari unsur-unsur yang satu dengan yang lain terkait erat dalam satu kesatuan yang saling tergantung satu dengan yang lain dalam satuan sistem yang bulat dan utuh untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam hal ini unsur-unsur yang terlibat dalam model pembelajaran sebagai suatu sistem adalah (1) Guru; (2) Siswa dan potensi pribadinya; (3) Lingkungan alam dan fisik, budaya, sosial, dan individual; (4) Kreatif dan apresiatif.

METODE

Bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah pelatihan dan penyuluhan. Dalam prosesnya kegiatan dilakukan dengan menggunakan beberapa metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, latihan, dan tugas. Pada proses penyampaian materi teori beberapa metode seperti ceramah, tanya jawab, dan demontrasi digunakan secara bervariasi. Sedangkan pada materi praktek proses pelatihan dilakukan dengan menggunakan metode diskusi, demonstrasi, latihan, dan tugas.

(8)

Khalayak sasaran yang dilibatkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah para guru dan kepala Sekolah Dasar Dampingan Kompass di Kabupaten Semarang. Penentuan sasaran kegiatan tersebut selain sebagai upaya tindak lanjut kegiatan penelitian dan pengabdian yang pernah dilakukan sebelumnya, juga dengan mempertimbangkan bahwa Kabupaten Semarang merupakan salah satu wilayah Jawa Tengah yang berada pada posisi pinggiran, sehingga para guru dan kepala sekolah Dasar pada umumnya kurang mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan pengembangan pembelajaran yang ada (pelatihan, seminar, lokakarya, dan lain-lain).

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, dilakukan dengan kerjasama antara Fakultas Bahasa dan Seni UNNES, Diknas Kabupaten Semarang, Kompass serta guru dan kepala Sekolah Dasar dampingan Kompass Kabupaten Semarang. Fakultas Bahasa dan Seni UNNES dalam hal ini berperan selaku penyandang dana yang memfasilitasi pengabdi untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Diknas Kabupaten Semarang selaku pengawas Sekolah Dasar, Kompass Kota Semarang selaku pendamping Sekolah Dasar serta guru dan kepala Sekolah selaku peserta pelatihan. Manfaat yang diperoleh Fakultas Bahasa dan Seni UNNES dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini adalah adanya masukan dari guru dan kepala Sekolah Dasar tentang permasalahan-permasalahan, kebutuhan yang ada di lapangan sehingga memacu Fakultas Bahasa dan Seni UNNES untuk semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Guru dan kepala Sekolah Dasar dampingan Kompass Kota Semarang berperan sebagai peserta penyuluhan dan pelatihan. Manfaat yang diperoleh guru dan kepala Sekolah Dasar tersebut setelah mendapatkan pelatihan tentang pendidikan seni budaya adalah meningkatnya pengetahuan, dan keterampilan tentang pendidikan seni budaya.

(9)

pengabdi, (2) peserta pelatihan mengikuti setiap tahapan pelatihan sampai selesai, dan (3) peserta pelatihan dapat menerapkan model pembelajaran seni tari terpadu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelatihan dilaksanakan di Balemong Resot selama 3 hari berturut-turut mulai tanggal 1 -3 Agustus 2013. Peserta yang hadir berasal dari SD Binaan Kompass yang terdiri dari SDN Gondoriyo 01, SDN Gondoriyo 02, SDN Wonoyoso 01, SDN Wonoyoso 02, SDN Pringapus, SDN Wonorejo 01, SDN Wonorejo 02, SDN Wonorejo 03, SDN Wonorejo 04, SDN Klepu o3, SDN Bergas, UPTD Pendidikan Pringapus, UPTD Pendidikan Bergas, dengan jumlah peserta 37 orang. Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang, Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang dan Kompass Kabupaten Semarang. Berikut ini adalah gambar saat peserta sedang melakukan registrasi, dan kegiatan tim pengabdi sesaat menunggu kegiatan penyuluhan dan pelatihan dimulai.

Konsep-konsep Pendidikan Seni

Pelatihan Model Pembelajaran Seni Tari Terpadu Sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Profesional Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Semarang diawali dengan pemberian materi tentang konsep-konsep pendidikan seni. Konsep pendidikan seni dapat dibagi atas tiga orientasi utama, yaitu:

1.1. Konsep pendidikan seni yang berorientasi pada subject matter (isi pelajaran dalam hal ini bidang seni). Pakar yang berorientasi pada subject matter mengembangkan konsep yang mengarahkan peserta didik untuk mempelajari secara intensif bidang seni. Menurutnya, seni merupakan bidang yang perlu dipelajari dan diapresiasi oleh peserta didik karena memiliki niali instrinsik dan manfaat dalam kehidupan manusia.

1.2. Konsep pendidikan seni yang berorientasi pada anak/peserta didik.

(10)

terfokus pada kebutuhan anak, maka konsep pendidikan ini lebih populer di sebut konsep pendidikan seni berbasis anak/peserta didik.

1.3. Konsep pendidikan seni yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Konsep ini memandang pendidikan seni untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jika masyarakat menuntut agar lembaga pendidikan menyiapkan tenaga terampil yang dapat bekerja pada dunia industri, maka mata pelajaran yang diberikan (termasuk seni) haruslah mengabdi pada kebutuhan industri. Tuntutan masyarakat dewasa ini untuk mempromosikan gagasan multikultural telah disambut oleh pakar pendidikan seni dengan konsep pendidikan seni multikultural.

Ketiga konsep pendidikan seni tersebut diatas, merupakan suatu rangkaian yang saling berhubungan yang harus diberikan secara terpadu. Perbedaannya hanya terletak pada orientasi atau penekanannya saja. Pendidikan seni mempunyai tujuan ganda, yaitu tujuan pribadi dan tujuan masyarakat. Bertujuan pribadi karena pendidikan seni bersifat unik. Dengan keunikannya, pendidikan seni berbeda dengan bidang studi lainnya, sehingga dimasukkan dalam kurikulum (dalam konteks sekolah). Dalam tujuan masyarakat, pendidikan seni diajarkan karena memiliki kekhususan (dalam konteks masyarakat) dengan melihat dimensi ruang dan waktu. Keunikan pendidikan seni terletak pada dimensi estetik, dimensi ekspresif dan dimensi kreatif. Pada hakekatnya pendidikan seni adalah pendidikan melalui kegiatan estetik, ekspresif dan kreatif.

Pada sesi ini, terjadi diskusi yang cukup ramai karena muncul banyak pertanyaan dari peserta. Peserta banyak yang belum mengetahui dan memahami konsep-konsep pendidikan seni. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

Model-model Pendidikan Seni bagi Guru dan Kepala Sekolah Dasar

Pada sesi ini, pengabdi mengenalkan model-model pendidikan seni budaya yang bias dijadikan alternative pilihan untuk mengajar kepada peserta pelatihan. Model-model pendidikan seni budaya meliputi pendidikan seni berbasis anak, pendidikan seni berbasis disiplin ilmu, pendidikan seni multikultural.

Pendidikan Seni Berbasis Anak

(11)

dasar pendekatan ekspresi bebas adalah seni anak hanya bisa diciptakan oleh anak, sehingga anak harus diberi kebebasan untuk tumbuh kembang secara leluasa tanpa gangguan dari orang dewasa. Dengan pendekatan ekspresi bebas ini, tugas guru adalah memberikan pengalaman kepada anak yang dapat merangsang munculnya ekspresi pribadi anak. Pendekatan ekspresi bebas yang digunakan guru adalah yang terarah, dengan cara (1) bercerita atau berdialog untuk membangkitkan perhatian dan merangsang lahirnya motif untuk dijadikan dasar dalam berkarya, (2) memberikan ank pengalaman kontak langsung dengan alam secara sadar, (3) mendemonstrasikan proses penciptaan karya seni yang akan diajarkan. Setelah termotivasi, anak diminta untuk mengekspresikan dirinya secara bebas.

Pendidikan Seni Berbasis Disiplin Ilmu

Pendidikan seni sebagai disiplin ilmu mempunyai pengertian bidang studi yang mempunyai ciri (1) memiliki isi pengetahuan (body of knowledge), (2) adanya masyarakat pakar yang mempelajari ilmu tersebut, (3) tersedianya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian. Pendidikan seni berbasis disiplin bertujuan menawarkan program pembelajaran yang sistematik an berkelanjutan dalam empat bidang yaitu penciptaan, penikmatan, pemahaman, dan penilaian. Keempat bidang tersebut haruslah tercermin dalam kurikulum dan dilaksanakan secara terpadu.

Pendidikan Seni Berbasis Multikultural

Pendidikan seni multikultural adalah sebuah pendekatan pendidikan untuk mempromosikan keragaman budaya melalui kegiatan penciptaan, penikmatan, dan pembahasan keindahan visual. Dalam pendidikan seni berbasis multikultural, terdapat 3 model yaitu model pengenalan, model pengamalan, dan model perombakan.

Model pengenalan bertujuan untuk mengenalkan seni secara teoretis, apresiatif, dan praktis dari berbagai kelompok suku, ras, agama, kelas sosial, jenis kelamin, pandangan atau kondisi tertentu. Pengenalan dimaksudkan untuk memperluas wawasan murid agar ia dapat memahami orang lain dan karya seni yang dianut oleh sang murid. Pembelajaran dilaksanakan berupa kegiatan intrakurikuler atau ekstra kurikuler. Metode yang digunakan adalah ceramah, dilengkapi media pandang dengar, diskusi, praktik studio, dan studi lapangan.

(12)

berasal dari berbagai latar belakang suku, ras, agama, kelas sosial, jenis kelamin, pandangan, dan kondisi tertentu, mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar.

Pendidikan seni multikultural model perombakan merasa tidak puas dengan sekedar mengamalkan gagasan keragaman budaya dan sosial karena kondisi dasar suku, ras, agama, kondisi sosial, jenis kelamin, atau pandangan yang dianut. Karena ketidakadilan ini, maka pendidik seharusnya mengagendakan perombakan struktur dan pola hidup masyarakat dalam kurikulum dan kegiatan pembelajarannya.

Keterampilan di Bidang Pendidikan Seni

Pada sesi terakhir, peserta diajak untuk mendemonstrasikan salah satu tari bentuk yang sesuai dengan tingkat usia anak Sekolah Dasar yaitu tari Badindin. Tari Badindin ini merupakan tari kreasi yang diambil dari tari Saman dari Aceh. Gerakannya sederhana mulai dari ujung kepala dan ujung kaki. Peserta yang pada dasarnya tidak memiliki kemampuan menari terlihat antusias mengikuti dan mendemonstrasikan gerakan-gerakan yang diajarkan oleh pengabdi,.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Pembelajaran seni budaya khususnya seni tari perlu menggunakan konsep-konsep dan model-model pendidikan seni yang tepat. Konsep pendidikan seni yang bisa dijadikan alternative dalam pembelajaran seni tari yaitu (1) Konsep pendidikan seni yang berorientasi pada subject matter (isi pelajaran dalam hal ini bidang seni), (2) Konsep pendidikan seni yang berorientasi pada anak/peserta didik, dan (3) Konsep pendidikan seni yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Model pendidikan seni yang bisa dijadikan alternatif pembelajaran seni tari yaitu pendidikan seni berbasis anak, pendidikan seni berbasis disiplin ilmu dan pendidikan seni berbasis multikultural.

Saran

(13)

Daftar Pustaka

Anwar, Moch. Idochi. 2004. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Arikukunto, Suharisimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

---. 1993. Manajemen Pengajaran Secara Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdikbud. 1999. Konsep Pendidikan Kesenian, Panduan Teknis Sebagai Pelengkap Penataran Pendidikan Kesenian Bagi Guru Taman Kanak-kanak dan Guru SD di DKI Jakarta. Jakarta: Depdikbud.

Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kebijakan dan Strategi Direktorat PADU dalam Pembinaan Anak Dini Usia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia.

Firdaus .2005. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Departemen Agama RI.

Golberg, Merryl. 1997. Arts and Learning. An Integrated Approach to Teaching and Learning in Multicultural and Multilingual settings. New York: Longman.

Hidayat, Robby. 2005. Menerobos Pembelajaran Tari Pendidikan. Malang: Banjar Seni Gantar Gumelar.

Kamaril, Cut. 2001. Konsep Pendidikan Seni Tingkat SD-SLTP_SMU. Makalah. Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan Seni. 18-20 April 2001. Jakarta: Hotel Indonesia.

Kusumastuti, Eny. 2003. Pendidikan Seni Tari Pada Anak Usia Dini Di Taman kanak-kanak Tadika Puri cabang Erlangga Semarang sebagai Proses Alih Budaya. Laporan Penelitian. Semarang : LEMLIT UNNES.

Kraus, Richard. 1969. History of The Dance In Art And Education. New Jersey: Prentice Hall inc. Englewod Cliffs.

Lestari, Wahyu. 1989. Proses Sosialisasi, Enkulturasi dan Internalisasi dalam Pengajaran Seni Tari Pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Tesis. Yogyakarta: PPS IKIP Togyakarta.

Lasky dan Mukerji, 1984 . Art: Basic for Young Children. Washington DC: The National Assosiation for The education of Young Children.

(14)

Surya, Muhammad. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti Winaya.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. 1999.Fungsi Seni dan Pendidikan Serta Implikasinya dalam Pengembangan kebudayaan. Makalah dalam Penlok Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Seni Rupa.

--- 2000. Kesenian dalam Pendekatan Kebudayaan. Bandung: STSI Bandung.

Salam, Sofyan. 2005. Paradigma Dan Masalah Pendidikan Seni. Semarang: PPS UNNES.

Suryabrata, Sumadi. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa.

Triyanto. 2001. Pembelajaran Kreativitas Melalui Pendidikan Seni Rupa di Taman Kanak-kanak. Lingua Artistika: Jurnal Bahasa dan Seni FBS UNNES Semarang : CV. IKIP Semarang Press.

Referensi

Dokumen terkait

KARYA MEDIKA II (d/h RSIA) JL. ANANDA BEKASI JL. MEKAR SARI JL. APRILIA MEDIKA JL. Mangun Jaya Indah II Blok G10 No. MITRA MEDIKA JL. GRAHA JUANDA JL. BUDI LESTARI JL. CITRA

Aplikasi kamus percakapan bahasa Arab berbasis mobile menggunakan teknologi J2ME ini diharapkan dapat mempermudah dan membantu jamaah haji atau umrah yang kesulitan berkomunikasi

Perbedaan antara bank konvensional dan bank syariah yang paling mendasar adalah pembagian keuntungan, dimana bank konvensional menerapkan sistem bunga sebagai langkah

Perusahaan yang mampu memberdayakan karyawan secara individu dan berkelompok (team work) didalam berbagi pengetahuan maka perusahaan akan mampu menghasilkan kinerja yang

Dari hasil analisis pada Tabel 3.1 diperoleh bahwa secara umum bahwa variabel aglomerasi tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi sedangkan variabel

Jika di kesempatan lain Anda login kembali ke blog Anda dan hendak membuat tulisan baru, draft tersebut akan ditampilkan di bagian atas kotak penyuntingan teks.. Klik draft

Rekomendasi lain berupa saran untuk pemerintah, baik pusat maupun daerah sebagai berikut. 1) Pemerintah perlu segera menangkap isyarat dari gerakan sosial yang muncul

Salah satu pihak berpendapat auditor yang bersangkutan, yakni Salman telah berjasa mengungkap kasus ini, sedangkan pihak lain berpendapat bahwa Salman tidak