KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PEKERJA ANGKUT KARUNG BERAS DI PASAR TANJUNG, KABUPATEN
JEMBER
(sebagai tugas mata kuliah Metode Penelitian Kesehatan)
PROPOSAL PENELITIAN
Oleh :
Kelompok K3/2 Kelas D
1. Shinta Umi A. (112110101131) 2. Artma N.P.A. (122110101139) 3. Rizqi Dwi P (122110101142) 4. Iis Kresnawati (122110101150)
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JEMBER
ii
rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan proposal penelitian yang
berjudul ”HUBUNGAN BEBAN KERJA FISIK DAN POSISI KERJA
TERHADAP KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs)
PADA PEKERJA ANGKUT KARUNG BERAS DI PASAR TANJUNG, KABUPATEN JEMBER” ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan proposal ini:
1. Ibu Irma Prasetyowati, S.KM., M.Kes. selaku dosen pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian Kesehatan
2. Ibu Ni’mal Baroya, S.KM., M.PH selaku dosen pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian Kesehatan
3. Bapak Andre Ramani, S.KM., M.Kes selaku dosen pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian Kesehatan
4. Teman-teman Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember tahun angkatan 2012 yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. 5. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Penyusunan proposal penelitian ini telah disusun seoptimal mungkin. Penulis berharap semoga dari proposal penelitian ini dapat diperoleh manfaat dan tambahan ilmu pengetahuan bagi penulis dan pembaca, kami juga mengharapkan saran yang membangun demi kesempurnaan proposal penelitian ini.
Jember, 12 Mei 2015
iii
DAFTAR TABEL ... vi
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Hipotesis ... 2
1.4 Tujuan Penelitian ... 3
1.3.1 Tujuan umum ... 3
1.3.2 Tujuan Khusus ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
1.4.1 Manfaat Teoritis ... 3
1.4.2 Manfaat Praktis ... 3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Beban Kerja ... 5
2.1.1 Pengertian Beban Kerja ... 5
2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja ... 5
2.1.3 Pengukuran Beban Kerja ... 6
2.1.4 Dampak Beban Kerja ... 7
2.2 Postur Kerja ... 8
2.3 Musculoskeletal Disorders (MSDs) ... 9
2.4 Metode Penilaian Risiko MSDs ... 10
2.4.1 RULA (Rapid Upper Limb Assessment) ... 10
2.4.2 REBA (Rapid Entire Body Assessment) ... 11
2.4.3 QEC (Quick Expossure Checklist) ... 12
2.5 Kerangka Teori ... 16
2.6 Kerangka Konsep ... 17
BAB 3. METODE PENELITIAN... 18
iv
3.3.1 Populasi Penelitian ... 18
3.3.2 Sampel Penelitian ... 19
3.4 Teknik Pengambilan Sampel ... 19
3.5 Data dan Sumber Data ... 19
3.6 Variabel dan Definisi Operasional ... 20
3.6.1 Variabel Penelitian ... 20
3.6.2 Definisi Operasinal ... 20
3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 21
3.8 Teknik Pengolahan Data ... 22
v
1
menggunakan mesin, mulai dari mesin yang sangat sederhana sampai dengan menggunakan mesin yang berteknologi canggih. Peningkatan penggunaan mekanisasi dan otomatisasi pada kecepatan kerja, dapat mengakibatkan suatu pekerjaan menjadi pekerjaan yang monoton dan kurang menarik untuk dikerjakan. Akibatnya, beban kerja akan menjadi lebih dominan dirasakan oleh para pekerja. Di sisi lain, di berbagai industri masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan secara manual yang memerlukan tuntutan dan tekanan secara fisik yang berat.
Bekerja secara manual dengan penggunaan mekanisasi, dapat mengakibatkan terjadinya keluhan dan komplain pada pekerja, seperti sakit pada pinggang dan punggung, ketegangan pada sekitar leher, sakit di sekitar pergelangan lengan, tangan dan kaki, kelelahan mata dan masih banyak lagi komplain yang lainnya. Banyaknya komplain dalam bekerja baik secara fisik maupun secara psikis, dapat menurunkan performa kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Berkaitan dengan permasalahan ini, maka ergonomi dapat memberikan solusi dari setiap permasalahan yang muncul di tempat kerja (Tarwaka, 2010).
Menurut Annis & McConville (1996) dan Manuaba (1999), salah satu definisi ergonomi yang menitik beratkan pada penyesuaian desain terhadap manusia adalah kemampuan untuk menerapkan informasi menurut karakter manusia, kapasitas dan keterbatasannya terhadap desain pekerjaan, mesin dan sistemnya, ruangan kerja dan lingkungan sehingga manusia dapat hidup dan bekerja secara sehat, aman, nyaman dan efisien (Tarwaka, 2010).
berpotensi menimbulkan gangguan pada fisiologis tubuh karena faktor ergonomi, dimana gangguan kesehatan yang mungkin terjadi adalah gangguan otot rangka (Musculosceletal Disorders), cidera dari sistem muskuloskeletal dan saraf (Repetitive Strain Injury), timbul seperti sakit di pergelangan tangan (Carpal Tunnel Syndrome) (Ardi, 2012).
Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan ringan sampai yang sangat fatal (Grandjean dalam Tarwaka et al, 2004). Pada awalnya, keluhan MSDs berupa rasa sakit, nyeri, mati rasa, kesemutan, bengkak, kekakuan, gemetar, gangguan tidur, dan rasa terbakar. Akibatnya berujung pada ketidakmampuan seseorang untuk melakukan pergerakan dan koordinasi gerakan anggota tubuh atau ekstrimitas sehingga mengurangi efisiensi kerja dan kehilangan waktu kerja sehingga produtivitas kerja menurun.
Minimnya penelitian mengenai beban kerja fisik dan posisi kerja terhadap MSDs, terutama pada pekerja angkut karung beras. Selain itu, dengan beban kerja fisik yang sangat berat juga berpotensi besar menimbulkan masalah kesehatan, khususnya MSDs. Hal inilah yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian mengenai hubungan beban kerja fisik dan posisi kerja terhadap keluhan MSDs pada pekerja angkut karung beras di Pasar Tanjung, Kabupaten Jember.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana hubungan beban kerja fisik dan posisi kerja terhadap keluhan
musculoskeletal disorder (MSDs) pada pekerja angkut karung beras di Pasar Tanjung, Jember?
1.3Hipotesis
Ada hubungan antara beban kerja fisik dan posisi kerja terhadap keluhan
1.4Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum
Menganalisis hubungan beban kerja fisik dan posisi kerja terhadap keluhan
musculoskeletal disorder (MSDs) pada pekerja angkut karung beras di Pasar Tanjung, Kabupaten Jember.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui distribusi frekuensi beban kerja fisik pada pekerja angkut karung beras di Pasar Tanjung, Kabupaten Jember.
b. Mengetahui gambaran risiko pekerjaan pada oekerja angkut karung beras di Pasar Tanjung, Kabupaten Jember.
c. Mengetahui skor, level resiko dan level tindakan pada pekerja angkut beras di Pasar Tanjung, Kabupaten Jember.
d. Menganalisis terjadinya Musculoskeletal disorder (MSDs) pada pekerja angkut karung beras di Pasar Tanjung, Jember.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini diharapkan dapat menambah dan mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan Kesehatan Masyarakat, khususnya bidang Kesehatan dan Keselamatan kerja yang terkait hubungan beban kerja fisik dan posisi kerja terhadap keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja angkut karung beras di Pasar Tanjung, Kabupaten Jember dan dapat dijadikan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya agar dapat menghasilkan solusi terhadap pengendalian kejadian MSDs yang dapat menimpa pekerja.
1.4.2 Manfaat Praktis a. Bagi Pekerja
b. Bagi Pemerintah
Penelitan ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam upaya penyelamatan pekerja yang berkaitan dengan kejadian MSDs.
c. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya referensi mengenai hubungan beban kerja fisik dan posisi kerja terhadap keluhan MSDs pada pekerja angkut karung beras sehingga dapat menambah ilmu dan wawasan mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember.
d. Bagi Peneliti
5
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Beban Kerja
2.1.1 Pengertian Beban Kerja
Beban kerja adalah beban yang ditanggung tenaga kerja yang sesuai dengan jenis pekerjaanya ditunjukkan oleh Suma’mur dalam Tarwaka (2010). Beban kerja dalam penelitian ini diukur atau diditeksi dengan denyut nadi. Beban kerja fisiologis dapat didekati dari banyaknya O2 (oksigen) yang digunakan tubuh, jumlah kalori yang dibutuhkan, denyutan jantung suhu netral dan kecepatan penguapan lewat keringat. Beban kerja ini menentukan bahwa berapa lama seseorang dapat bekerja sesuai dengan kapasitas kerjanya (Suma’mur, 2009).
Menurut Meshkati dalam Tarwaka (2010), beban kerja dapat didefinisikan sebagai suatu perbedaan antara kapasitas atau kemampuan pekerja dengan tuntutan pekerjaan yang harus dihadapi Menurut Hart dan Staveland dalam Tarwaka (2010), bahwa beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari interaksi antara tuntutan tugas-tugas, lingkungan kerja dimana digunakan sebagai tempat kerja, ketrampilan, perilaku dan persepsi dari pekerja. Everly dkk (dalam Munandar, 2001) mengatakan bahwa beban kerja adalah keadaan dimana pekerja dihadapkan pada tugas yang harus diselesaikan pada waktu tertentu.
2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja
Rodahl (1989) dan Manuaba (2000) menyatakan bahwa beban kerja dipengaruhi faktor– faktor sebagai berikut :
6
2. Organisasi kerja seperti lamanya waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang.
3. Lingkungan kerja adalah lingkungan kerja fisik, lingkungan kimiawi, lingkungan kerja biologis dan lingkungann kerja psikologis. Ketiga aspek ini sering disebut sebagai stressor.
b. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri akibat dari reaksi beban kerja eksternal. Reaksi tubuh disebut Strain, berat ringannya strain dapat dinilai baik secara obyektif maupun subyektif. Faktor internal meliputi faktor somatis (jenis kelamin,umur,ukuran tubuh,statu gizi, kondisi kesehatan), faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan dan kepuasan). Sedangkan menurut Eko Nurmianto (2003:149), faktor yang mempengaru beban kerja antara lain:
1. Beban yang diperkenankan
2. Jarak angkut dan intensitas pembebanan
3. Frekuensi angkut yaitu banyaknya aktivitas angkut 4. Kemudahan untuk dijangkau oleh pekerja
5. Kondisi lingkungan kerja yaitu pencahayaan, temperatur, kebisingan, lantai licin, kasar, naik dan turun
6. Keterampilan bekerja
7. Tidak terkoordinasinya kelompok kerja 8. Peralatan kerja beserta keamanannya
2.1.3 Pengukuran Beban Kerja
7
dilakukan untuk menetapkan jumlah jam kerja dan jumlah orang yang diperlukan dalam rangka menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu (Komaruddin, 1996).
Pengukuran beban kerja dilakukan dengan cara mengukur denyut jantung pekerja. Pengukuran denyut jantung dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : merasakan denyut yang ada pada arteri radial di pergelangan tangan, mendengarkan denyut dengan stethoscope, menggunakan ECG (Electrocardiogram), yaitu mengukur signal elektrik yang diukur dari otot jantung pada permukaan kulit dada (Eko Nurmianto, 2003:136).
Menurut Cristensen (dalam Tarwaka, 2004) dan Grandjean(1993), pengukuran beban fisik melalui denyut jantung adalah salah satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja fisik selain ditentukan juga oleh konsumsi energi, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Pengukuran denyut nadi selama bekerja merupakan metode untuk menilai mendengarkan denyut jantung dengan stetoskop, menggunakan EKG dan menggunakan alat heart rate. Cardiovasculair strain . Pada batas tertentu ventilasi paru, denyut jantung/nadi dan suhu tubuh mempunyai hubungan linear dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang dilakukan. Pengukuran denyut jantung dilakukan dengan merasakan denyut pada arteri radial pada pergelangan tangan mendengarkan denyut jantung dengan stetoskop, menggunakan EKG dan menggunakan alat heart rate.
2.1.4 Dampak Beban Kerja
8 2.2 Postur Kerja
Postur kerja adalah posisi tubuh pekerja pada saat melakukan aktivitas kerja yang biasanya terkait dengan desain area kerja dan task requirements (Pulat, 1992:163). Salah satu penyebab utama gangguan otot rangka adalah postur janggal (awkward posture). Postur janggal adalah posisi tubuh yang menyimpang secara signifikan terhadap posisi normal saat melakukan pekerjaan. Bekerja dengan posisi janggal meningkatkan jumlah energi yang dibutuhkan untuk bekerja. Posisi janggal menyebabkan kondisi dimana perpindahan tenaga dari otot ke jaringan rangka tidak efisien sehingga mudah menimbulkan lelah. Termasuk ke dalam postur janggal adalah pengulangan atau waktu lama dalam posisi menggapai, berputar (twisting), memiringkan badan, berlutut, jongkok, memegang dalan kondisi statis, dan menjepit dengan tangan. Postur ini melibatkan beberapa area tubuh seperti bahu, punggung dan lutut, karena bagian inilah yang paling sering mengalami cidera (Straker, 2000).
Postur punggung yang merupakan faktor risiko adalah membungkukkan badan sehingga membentuk sudut 20° terhadap vertikal dan berputar dengan obyek ≥ 9 kg, durasi ≥ 10 detik, dan frekuensi ≥ 2 kali/menit atau total lebih dari 4 jam/hari. Memiringkan badan (bending) dapat didefinisikan sebagai refleksi dari tulang punggung, biasanya ke arah dapan atau ke samping. Berputar (twisting) adalah adanya rotasi atau torsi pada punggung (Hermans et al, 2000).
Postur bahu yang merupakan faktor risiko adalah melakukan pekerjaan dengan tangan di atas kepala atau siku di atas bahu lebih dari 4 jam/hari atau lengan atas membentuk sudut 45° ke arah samping atau ke arah depan terhadap badan selama lebih dari 10 detik dengan frekuensi ≥ 2 kali/menit dan beban ≥ 4.5 kg (Humantech, 1995).
9 2.3 Musculoskeletal Disorders (MSDs)
Musculoskeletal Disorders (MSDs) atau gangguan muskuloskeletal, yaitu cedera dan gangguan pada jaringan lunak (otot, tendon, ligamen, sendi, dan tulang rawan) dan sistem saraf. MSDs dapat mempengaruhi hampir semua jaringan, termasuk saraf dan selubung tendon, dan paling sering melibatkan lengan dan punggung. MSDs terjadi dalam kurun waktu yang panjang, yaitu mingguan, bulanan, bahkan sampai tahunan. MSDs dapat menyebabkan sejumlah kondisi, termasuk nyeri, mati rasa, kesemutan, sendi kaku, sulit bergerak, dan kadang-kadang kelumpuhan. Gangguan ini termasuk carpal tunnel syndrome, tendinitis, linu panggul, dan nyeri pinggang.Penelitian telah mengidentifikasi bahwa faktor risiko MSDs mencakup gerakan berulang dan gerakan yang terlalu kuat dan dipaksakan seperti mengangkat, memindahkan, dan reposisi. (OSHA, 2000).
Faktor risiko ergonomi yang dapat menyebabkan terjadinya MSDs meliputi: a. Pengulangan
Pengulangan adalah ukuran dari seberapa sering kita menyelesaikan gerakan atau tenaga yang sama selema bertugas. Tingkat keparahan risiko tergantung pada frekuensi pengulangan, kecepatan gerakan atau tindakan, jumlah otot yang terlibat dalam kerja, dan jumlah pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut.
b. Vibrasi
Menggunakan alat-alat listrik bergetar dapat meningkatkan tekanan pada tangan dan lengan. Hal ini dapat menurunkan aliran darah, kerusakan saraf, dan berkontribusi pada kelelahan otot.
c. Masa kerja
Masa kerja merupakan faktor risiko yang sangat mempengaruhi seorang pekerja untuk meningkatkan risiko terjadinya musculoskeletal disorders, terutama untuk jenis pekerjaan yang menggunakan kekuatan kerja yang tinggi.
10
a. Intersection Syndrome, disebabkan oleh rusaknya tendon pergelangan tangan yaitu di daerah ibu jari dan pergelangan tangan yang mengalami fleksi dan ekstensi berulang.
b. Tension Neck Syndrome, adalah ketegangan pada otot leher yang disebabkan oleh postur leher melengkung ke arah belakang dalam waktu lama sehingga timbul gejala kekakuan pada otot leher, kejang otot, dan rasa sakit yang menyebar ke bagian leher.
c. Trigger Finger, adalah rasa sakit dan tidak nyaman pada bagian jari-jari akibat tekanan yang berulang pada jari-jari yang menekan tendon secara terus menerus hingga ke jari-jari.
d. Carpal Tunnel Syndrome, yaitu tekanan pada saraf tengah yang terletak di pergelangan tangan yang dikelilingi jaringan dan tulang. Penekanan tersebut disebabkan oleh pembengkakan dan iritasi dari tendon. CTS dapat menyebabkan seseorang kesulitan menggenggam.
e. Tendinitis, merupakan peradangan (pembengkakan) hebat atau iritasi pada tendon, biasanya terjadi pada titik dimana otot melekat pada tulang. Keadaan tersebut akan semakin berkembang ketika tendon terus menerus digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang berlebih seperti tekanan yang kuat pada tangan, membengkokan pergelangan tangan selama bekerja, atau menggerakan pergelangan tangan secara berulang.
2.4 Metode Penilaian Risiko MSDs
2.4.1 RULA (Rapid Upper Limb Assessment) a. Definisi
11
dalam Santon (2005) sebagai faktor beban eksternal (external load faktors) yang meliputi :
1) Jumlah gerakan 2) Kerja otot statis 3) Gaya
4) Postur kerja yang ditentukan oleh perlengkapan dan perabotan 5) Waktu kerja tanpa istirahat
b. Pengukuran 1) Tahap 1
Untuk menghasilkan sebuah metode kerja yang cepat untuk digunakan, tubuh dibagi dalam segmen-segmen yang membentuk dua kelompok atau grup yaitu grup A dan B. Grup A meliputi bagian lengan atas dan bawah, serta pergelangan tangan. Sementara grup B meliputi leher, punggung, dan kaki. Hal ini untuk memastikan bahwa seluruh postur tubuh terekam, sehingga segala kejanggalan atau batasan postur oleh kaki, punggung atau leher yang mungkin saja mempengaruhi postur anggota tubuh bagian atas dapat tercakup dalam penilaian.
2) Tahap 2
Sebuah skor tunggal dibutuhkan dari Grup A dan B yang dapat mewakili tingkat pembebanan postur dari system musculoskeletal kaitannya dengan kombinasi postur bagian tubuh. Rekaman video yang dihasilkan dari postur Grup A yang meliputi lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan putaran pergelangan tangan diamati dan ditentukan skor untuk masing-masing postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan dalam tabel A untuk memperoleh skor A. 3) Tahap 3
Penyelidikan dan perubahan dibutuhkan sesegera mungkin (mendesak).
2.4.2 REBA (Rapid Entire Body Assessment)
12
Selain itu metode REBA memperhitungkan beban yang ditangani dalam suatu sistem kerja, coupling dan aktivitas yang dilakukan. Metode ini relative mudah digunakan karena untuk mengetahui nilai suatu anggota tubuh tidak diperlukan besar sudut yang spesifik, hanya berupa range sudut.Pada akhirnya nilai akhir dari REBA memberikan indikasi level resiko dari suatu pekerjaan dan tindakan yang harus dilakukan atau diambil (Neville Stanton, 2004). Terdapat empat tahapan proses perhitungan yang dilalui yaitu:
a. Menentukan sudut pada postur tubuh saat bekerja pada bagian tubuh 6) pergelangan tangan (hand wrist)
b. Menentukan berat beban, pegangan (coupling) dan aktivitas kerja. c. Menentukan nilai Reba untuk postur yang relevan dan menghitung skor
akhir dari kegiatan tersebut.
2.4.3 QEC (Quick Expossure Checklist)
a. Definisi
Quick expossure check (QEC) merupakan metode untuk mengukur risiko terkait penyakit akibat musculoskeletal disorders (MSDs) (Li dan Buckle, 1999). Penggunaan QEC sangatlah mudah diterapkan, berfungsi untuk mengevaluasi tempat kerja dan desain peralatan kerja serta memudahkan untuk mendesain ulang tempat kerja. QEC membantu mencegah banyak MSDs yang ada di tempat kerja. QEC mengukur 4 (empat) bagian tubuh yang paling berisiko terhadap MSDs. Metode ini telah dikembangkan oleh praktisi/ahli di bidang keselamatan dan kesehatan kerja pada beberapa perusahaan untuk:
13
3) Mengukur perbedaan risiko MSDs pada sebelum dan sesudah pekerjaan.
4) Mengembangkan tempat kerja menjadi sarana dalam mengurangi risiko MSDs dan mengurangi biaya yang dikeluarkan akibat MSDs.
5) Meningkatkan kesadaran tingkat manajer, teknisi, desainer, kesehatan dan pelaksana keselamatan terhadap factor risiko ergonomi di tempat kerja.
6) Membandingkan tingkat paparan yang diterima oleh dua pekerja atau lebih dengan pekerjaan yang sama, atau perbandingan risiko dengan pekerjaan lainnya.
Keunggulan yang paling utama dalam menggunakan QEC adalah : 1) Mudah untuk diterapkan.
2) Membantu untuk melakukan perubahan ergonomi. 3) Selaras dengan metod epengukuran lainnya. 4) Melindungi bahaya fisika akibat MSDs
5) Tidak perlu waktu lama untuk mempelajarinya.
6) Mempertimbangkan kombinasi bahaya yang ada di tempat kerja. Kekurangan dari metode ini adalah :
1) Metode ini hanya terfokus pada factor fisik tempat kerjas aja. 2) Skor/nilai paparan yang disarankan butuh validitas kembali.
3) Perlu pengembangan lebih lanjut untuk memberikan pengukuran yang tepat.
b. Pengukuran 1) Punggung
Mengukur postur punggung (fleksi, ekstensi, deviasi, radial, memutar) dengan posisi normal ≤ 200 yang ditulis dengan A1, sedangkan bahaya sedang dengan gerakan fleksi atau putaran atau bengkok 200-600 (A2) dan bahaya kategori berat dengan sudut ≥ 600 (A3). Serta dengan mempertimbangkan jenis pekerjaan kategori statis ataupun manual handling.
2) Bahu dan Lengan
14
Posisi bahaya adalah saat lengan berada di atas kepala (C3) ataupun melakukan pekerjaan dimana benda berada pada posisi di bawah pinggang (C1) dan C2 Pada ketinggian dada.
3) Pergelangan Tangan
Postur ini diukur selama pekerjaan dengan posisi pergelangan tangan tidak sesuai. (E1 Posisi netral lurus dengan lengan, E2 Menyimpang atau bengkok ≥ 450, F1 ≤10 kali/menit, F2 11 - 20 kali/menit, F3 ≥ 20 kali/menit)
4) Leher
Posisi leher didefinisikan berbahaya jika terdapat gerakan fleksi, ekstensi, deviasi dan radial lebih dari 200 serta gerakan memutar.
5) Berat beban
Berat beban yang dibawa pada saat melakukan pekerjaan dengan kategori beban rendah ≤ 5 kg (H1), beban sedang 5-10 kg (H2), beban berat 11-20 kg (H3) dan H4, sangat berat (≥ 20 kg). Untuk kategori berat benda yang digunakan/dibawa dengan menggunakan satu tangan adalah ringan K1 dengan berat benda≤ 1 kg, K2 sedang 1-4 kg & K3 dengan berat ≥ 4 kg.
6) Waktu kerja
Ketegori penilaian waktu kerja berdasarkan lama yang dibutuhkan dalam sehari oleh sesorang untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan kategori penilaian J1 untuk pekerjaan dilakukan ≤ 2 jam, 2-4 jam J2 dan J3 ≥ 4 jam
c. Penghitungan
Contoh perhitungan/penilaian MSDs untuk factor pekerjaan diuraikan sebagai berikut :
15
nantinya dibandingkan dengan nilai standar yang ada. Prosedur yang sama dapat dilakukan kembali pada perhitungan risiko MSDs bagian tubuh lainnya seperti bahu, pergelangan tangan, leher.
Gambar 2.1 Skor dan Penanganan hasil Quick Exposure Cheklis ( QEC )
2.4.4 Nordic Body Map
16 beban kerja begitu pula
sebaliknya Posisi Kerja Beban
17
MSDs
Keterangan:
: variabel yang diteliti : variabel yang tidak diteliti
Gambar 2.3 Kerangka Konsep Penelitian
Faktor Pekerjaan 1. Posisi kerja 2. Beban kerja
Karakteristik Individu 1. Usia
18 3.1 Jenis Penelitian
Dilihat dari pendekatan waktu pengumpulan data, penelitian ini menggunakan penelitian cross-sectional. Penelitian cross-sectional yaitu penelitian yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan tetapi dengan subjek yang berbeda-beda (Arikunto, 2006). Ditinjau dari kedalaman analisis atau hubungan antar variabel, penelitian ini termasuk penelitian korelasi. Penelitian korelasional bertujuan menyelidiki sejauhmana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi (Azwar, 2001).
Dilihat dari ada atau tidaknya intervensi, penelitian ini masuk dalam penelitian survei/obsevasional. Penelitian survei adalah penellitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis (Sugiyono, 2001).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terletak di Pasar Tanjung, Kabupaten Jember.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan selama bulan Mei s.d. Juli 2015
3.3 Objek Penelitian 3.3.1 Populasi Penelitian
Sampel dalam penelitian adalah pekerja angkut karung beras di Pasar Tanjung, Kabupaten Jember. Sampel dalam penelitian berjumlah 14 orang. Penentuan sampel ditentukan menggunakan rumus berikut:
Keterangan:
1. n : jumlah sampel minimal 2. d : tingkat kepercayaan/ketepatan 3. N : jumlah populasi
3.4 Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Teknik sampling ini diberi nama demikian karena di dalam pemberian sampelnya, peneliti “mencampur” subjek-subjek di dalam populasi sehingga semua subjek dianggap sama. Dengan demikian maka peneliti memberi hak yang sama pada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih menjadi sampel. Oleh karena itu, hak setiap subjek sama, maka peneliti terlepas dari perasaan ingin mengistimewakan satu atau beberapa subjek untuk dijadikan sampel (Arikunto dalam Siswanto dkk, 2013:222)
3.5 Data dan Sumber Data
pengisian Nordic Musculoskeletal Quesionnaire (QEC). Sedangkan gambaran pekerjaan, beban kerja fisik, posisi kerja, dan nilai aktivitas didapatkan berdasarkan observasi langsung menggunakan dan wawancara tidak terstruktur.
3.6 Variabel dan Definisi Operasional 3.6.1 Variabel Penelitian
Dalam Penelitian ini terdapat dua variabel penelitian yaitu:
a. Variabel bebas (independent variable)
Variabel bebas (independent variable) adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2012). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor pekerjaan, yaitu posisi kerja dan beban kerja
b. Variabel terikat (dependent variable)
Variabel terikat (dependent variable) merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keluhan musculoskeletal disorders (MSDs)
3.6.2 Definisi Operasinal
No Variabel yang diteliti
Definisi operasional
Alat ukur Kategori penilaian atau
RULA, REBA Tercantum pada instrumen
RULA, REBA Tercantum pada instrumen
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Wawancara
Observasi atau pengamatan adalah suatu prosedur yang terencana, antara lain meliputi melihat dan mencatat jumlah dan taraf aktifitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. beberapa alat bantu dalam observasi yaitu: check list, rating scale, daftar riwayat kelakuan, dan alat elektronik. (Nuryadi, et al., 2013)
3.8 Teknik Pengolahan Data
Setelah melakukan pengumpulan data, kemudian dilakukan pengolahan data melalui beberapa tahap:
a. Editing, yaitu kegiatan untuk memeriksa kelengkapan, kejelasan, kesinambungan dan keseragaman data.
b. Coding, yaitu merupakan kegiatan mengubah data berbentuk kalimat menjadi kode angka untuk mempermudah input dan pengolahan data.
1) Untuk variabel keluhan MSDs diberi kode 1 jika menderita keluhan MSDs; kode 0 jika tidak menderita keluhan MSDs.
2) untuk variabel faktor pekerjaan diberi kode sesuai tingkatannya, misal kode 1 untuk hasil skor rendah; kode 2 untuk hasil skor sedang; kode 3 untuk hasil skor tinggi.
3) Variabel umur diberi kode 1 jika usia ≥ 35 tahun dan kode 2 jika usia < 35 tahun.
4) Variabel kebiasaan merokok diberi kode 1 jika merokok ≥ 10 batang dan kode 2 jika merokok < 10 batang.
5) variabel masa kerja diberi kode 1 (rendah) jika masa kerja ≥ median; kode 2 (tinggi) jika masa kerja < median.
c. Processing, yaitu memproses data dengan cara mengentri ke dalam komputer. d. Cleaning, yaitu merupakan kegiatan pengecekan ulang data yang sudah di input.
3.9 Analisis Data 1) Univariat
24
Aprianto, Harrun. Analisis Faktor Penyebab Cumulative Trauma Disorders
Menggunakan Metode Quick Exposure Checklist Pada Profesi Penjahit.
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma Depok Jalan Margonda Raya 100, Depok 16424
Ardi, Khairil. 2012. K3 di Perusahaan Kelapa Sawit. (online available at
http://www.scribd.com/doc/110070646/Kesehatan-Dan-Keselamatan-Kerja-Industri-Perkebunan-Kelapa-Sawit-Dan-Industri-Minyak-Kelapa-Sawit diakses pada 21 Maret 2015)
Nuryadi, Herawati, Y. T. & Sandra, C., 2013. Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi Program Kesehatan di Masyarakat. Jember: UPT Penerbitan UNEJ.
Suma’mur, PK, 2009. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Gunung Agung, Jakarta.
Tarwaka, PGDip.Sc., 2010. Ergonomi Industri Dasar-dasar Pengetahuan Ergonomi dan Aplikasi di Tempat Kerja. Solo: Harapan Press.
25
1.a. Nordic Musculoskeletal Quesionnaire (NMQ)
Isilah semua pertanyaan ini dengan sebenarnya, dan berilah tanda silang “X” pada jawaban yang sesuai: (jawaban boleh lebih dari satu)
Nama : ………. minggu (isi 0, jika tidak)
3. Apakah Anda pernah merasakan gejala nyeri/sakit pada otot/tulang Anda setelah bekerja ?
Ya/Tidak *(bukan disebabkan oleh kecelakaan/olahraga/aktivitas lain diluar pekerjaan)
4. Jenis aktivitas apa yang menurut Anda sering menyebabkan timbulnya gejala nyeri/sakit pada otot/tulang Anda?
a. Berdiri terlalu lama b. Duduk terlalu lama c. Mencengkeram
d. Menengadah pada saat menyimpan beban di tempat tinggi
e. ……….
f. ………
5. Faktor apa yang menyebabkan timbulnya gejala nyeri/sakit pada otot/tulang Anda? (jawaban boleh lebih dari 1)
26
d. Suhu ruangan/mesin yang terlalu panas/dingin e. Alat Pelindung Diri yang tidak nyaman
f. Pencahayaan di tempat kerja terlalu terang/gelap g. Kurang istirahat
h. Target pekerjaan
i. ……….
j. ……….
6. Perbaikan apa yang Anda usulkan/perlukan di tempat kerja Anda yang dapat mengurangi atau menghilangkan timbulnya gejala nyeri/sakit pada otot/tulang Anda?
……… ……… ……… ……… ……
Lampiran 1.b: Nordic Musculoskeletal Quesionnaire
(lanjutan) Di bawah ini terdapat gambar bagian-bagian tubuh. Jika anda merasakan/pernah merasakan ketidaknyamanan, sakit, nyeri atau ngilu pada bagian tubuh Anda, beri tanda “X” pada kolom “Ya”, jika tidak ada keluhan beri tanda “X” pada kolom “Tidak” (Keluhan yang dimaksud adalah yang timbul akibat pekerjaan Anda, bukan disebabkan oleh kecelakaan/olah raga/aktivitas tubuh lainnya di luar pekerjaan).
No Bagian Tubuh Dalam 12 bulan Dalam 7 hari
Y Tidak Y Tidak
0 Leher bagian atas 1 Leher bagian bawah 2 Bahu kiri
3 Bahu kanan
4 Lengan atas bagian kiri 5 Punggung
6 Lengan atas bagian kanan 7 Pinggang
8 Pinggul 9 Pantat 10 Siku kiri 11 Siku kanan
15 Pergelangan tangan kanan 16 Telapak tangan kiri
17 Telapak tangan kanan 18 Paha kiri
19 Paha kanan 20 Lutut kiri 21 Lutut kanan 22 Betis kiri 23 Betis kanan
Lampiran 2: Kuesioner Quick Exposure Checklist
PENILAIAN PENELITI PENILAIAN POSTUR PUNGGUNG
A. Grup A Penilaian Untuk Postur Punggung (A1-A3)
Penilaian untuk postur punggung sebaiknya dibuat ketika punggung mengalami
beban yang berat.
a. Punggung dianggap normal atau “Almost neutral” (Level A1) apabila gerakan orang bekerja dengan sudut fleksi atau ekstensi, memutar punggung atau membungkuk kurang dan 20°.
b. Bagian punggung dianggap sedang atau “Moderately flexed or twisted” (Level A2) apabila gerakan orang bekerja dengan sudut fleksi atau ekstensi, memutar punggung atau membungkuk lebih dari 200 tetapi
kurang dari 600.
c. Punggung dianggap terlalu membungkuk atau memutar atau “Excessively flexed or twisted” (Level A3) apabila gerakan orang
B. B. Grup B Penilaian untuk Pergerakan punggung (B1-B5) a. B1 jika posisi tubuh non statis.
b. B2 jika posisi tubuh statis.
c. B3 jika pergerakan punggung jarang “infrequent” ( < 3 menit ).
d. B4 jika pergerakan punggung normal “frequent” (berkisar 8 menit). e. B5 jika pergerakan punggung terlalu sering “very frequent” ( > 18
menit).
C. Grup C Penilaian Untuk Postur Bahu atau Lengan ( C1-C3 )
Penilaian seharusnya dilakukan ketika bahu atau lengan mengalami beban yang berat selama bekerja, tetapi tidak terlalu mendesak apabila punggung sedang dinilai.
a. C1 jika posisi bahu atau lengan di bawah ketinggian pinggang. b. C2 jika posisi bahu atau lengan disekitar dada.
c. C3 jika posisi bahu atau lengan di sekitar atau diatas ketinggian bahu.
D. D. Grup D Penilaian untuk Pergerakan Bahu atau Lengan ( D1-D3) Pergerakan dari bahu atau lengan dianggap sebagai :
a. D1 Jarang atau “infrequent” apabila tidak ada pola pergerakan yang
rutin.
b. D2 Sering atau “frequent” apabila terdapat pola gerakan yang rutin
dengan beberapa istirahat pendek.
c. D3 Sangat sering atau “very frequent” apabila terdapat pola gerakan kontinyu selama bekerja.
PERGELANGAN TANGAN /TANGAN
E. Saat melakukan pekerjaan ,bagaimana postur pergelangan tangan /tangan anda? (pilih situasi kasus buruk)
F. Berapa kali gerakan repetitive pada pergelangan tangan/ tangan a. (F1) 10 kali per menit atau kurang
b. (F2) 11 sampai 20 kali per menit c. (F3) Lebih dari 20 kali per menit
LEHER
G. Ketika melakukan pekerjaan, apakah posisi kepala / leher tertekuk/ atau memutar ?
PENILAIAN PEKERJA
H. Berapakah berat maksimum yang anda kerjakan secara manual dalam pekerjaan anda?
H1 Ringan (5 kg atau kurang) H2 Sedang (6 sampai 10 kg) H3 Berat (11 sampai 20 kg) H4 Sangat berat (lebih dari 20 kg)
I. Rata-rata, berapa lama anda melakukan pekerjaan tersebut per hari? I1 Kurang dari 2 jam
I2 2 sampai 4 jam I3 Lebih dari 4 jam
J. Ketika melakukan pekerjaan, berapa berat beban yang dikerahkan oleh satu tangan ?
K. Apakah dibutuhkan ketelitian mata dalam melakukan pekerjaan anda K1 Rendah (hampir tidak perlu melihat rincian halus)
K2 Tinggi (perlu melihat beberapa rincian halus)
L. Apakah anda mengendarai kendaraan dalam melakukan pekerjaan anda? L1 Kurang dari satu jam per hari atau Tidak pernah
L2 Antara 1 dan 4 jam per hari? L3 Lebih dari 4 jam per hari?
M. Apakah anda menggunakan alat getar saat melakukan pekerjaan M1 Kurang dari satu jam per hari atau Tidak pernah
M2 Antara 1 dan 4 jam per hari M3 Lebih dari 4 jam per hari
N. Apakah anda merasa kesulitan dengan pekerjaan anda? N1 Tidak pernah
N2 Terkadang N3 Sering
O. Secara umum, menurut Anda bagaimana pekerjaan yang anda lakukan? O1 Tidak stres sama sekali