POLA TATA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL KUNO DESA BAKUNG KECAMATAN UDANAWU BLITAR
(The Spatial Structure Patterns in Ancient Houses in Bakung Village Udanawu District Blitar)
Siti Maria Ulfa, Antariksa, Ema Yunita Titisari
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Indonesia – Telp. (0341) 567886 E-mail: [email protected]
ABSTRACT
The spatial structures of the acient house in the village of Bakung, Udanawu District, Blitar have uniqueness on spatial changes thus forming a distinctive pattern. This change caused a change in mindset, one of which is influenced by the rapid modernization process of the modern information flow. The uniqueness comes with an adjustment to the condition of their home environment before making any changes. The purpose of this study was to determine the spatial structure pattern, the pattern changes and the factors influencing changes in the pattern. This study uses descriptive methods with historical approach. The study shows the spatial pattern of houses in this village. Changes in spatial structure patterns happen to create a new function, reduced function which may lead to changes in the type of space, symmetry, organization and hierarchy of space. Of these changes led to old-modern conception of the spatial structure pattern of it. Factors affecting change is the basic human needs, new technologies, life style, economy factor, inheritance system and cultures.
Keywords: the spatial structure patterns inner, changes, ancient houses
ABSTRAK
Tata ruang dalam rumah kuno di Desa Bakung, Kecamatan Udanawu Blitar mempunyai keunikan pada perubahan tata ruang sehingga membentuk suatu pola tersendiri. Perubahan ini disebabkan adanya perubahan pola pikir yang salah satunya dipengaruhi proses modernisasi melalui cepatnya arus informasi modern. Keunikan ini muncul dengan adanya penyesuaian terhadap kondisi lingkungan rumahnya sebelum melakukan perubahan. Tujuan studi ini adalah mengetahui pola tata ruang, pola perubahannya serta faktor yang mempengaruhi perubahan pola tersebut. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan historis. Hasil studi menunjukkan pola tata ruang rumah di desa ini. Perubahan pola ruang terjadi untuk membuat fungsi baru, pengurangan fungsi yang dapat mengakibatkan perubahan jenis ruang, kesimetrisan, organisasi serta hirarki ruang. Dari perubahan ini memunculkan konsepsi lama-modern pada pola tata ruang dalamnya. Faktor yang mempengaruhi perubahan adalah kebutuhan dasar manusia, teknologi baru, gaya hidup, faktor ekonomi, system hak waris dan budaya.
Kata kunci: pola tata ruang dalam, perubahan, rumah tinggal kuno
PENDAHULUAN
Di tengah era modernisasi, perubahan pola pikir manusia lebih mengarah ke bagaimana pemikiran
Kecamatan Udanawu, Blitar. Seiring derasnya arus informasi modern yang masuk ke desa ini. Menurut Pangarsa (2009), sejak tahun 1980-an perkembangan arsitektur rumah sangat patuh mengikuti “trend” arsitektur yang didiktekan dunia dagang dan politik. Yu (2009), mengatakan rumah modern lebih menonjolkan permainan bentuk dan tampilan untuk memperlihatkan status sosial si penghuni dari pada kualitas ruang yang ada di dalamnya. Hasil dari itu adalah terbentuknya ruang yang tidak mempunyai konsep berkelanjutan, sebab
ruang yang terbentuk tidak
memperhatikan iklim sekitar. Konsep rumah berkelanjutan dapat dilihat pada rumah-rumah di kampung dalam hal ini juga dapat dilihat pada rumah-rumah kuno di Desa Bakung.
Permasalahan utama adalah apabila rumah-rumah lebih mengarah ke trend, maka dimungkinkan rumah-rumah tersebut akan kehilangan karakteristik lokal rumah dan menurut Dakung (1986) dimungkinkan juga arsitektur tradisional akan punah di tengah-tengah masyarakat. Namun keunikan terjadi pada tata ruang rumah di Desa Bakung, yaitu adanya penyesuaian kondisi lingkungan rumahnya sebelum melakukan suatu perubahan. Dalam pembangunannya, rumah di desa ini selalu mengaitkan budaya serta adat istiadat. Jika ditinjau dari letak geografis desa ini berada di wilayah jawa timur namun secara historis merupakan wilayah Mataraman yang merupakan cikal bakal Kasunan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta, sehingga kebuyaan daerah Mataraman tidak jauh berbeda dari yang ada di Solo dan Jogja. Masyarakat di desa ini juga lebih mengedepankan tata karma dan suka memendam perasaan dengan alasanunggah-ungguh.
Dari penjelasan di atas, maka diperlukannya studi mengenai pola tata ruang rumah tinggal kuno di Desa Bakung yang dilihat dari pola awal serta perubahan yang terjadi untuk mengetahui bagaimana perubahan itu bisa disesuaikan dengan lingkunan rumah serta mengetahui bahwa arsitektur rumah
yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut.
METODE
Studi ini menggunakan metode penelitian deskriptif (pemaparan kondisi) yang dilakukan dengan pendekatan historis dan tipologis. Studi pola tata ruang rumah ini dilakukan dengan menganalisis gambar denah dari segi tata ruang di dalamnya, sehingga diketahui seperti apa pola tata ruang yang terbentuk dan perubahan apa yang terjadi pada pola tata ruang rumah tersebut dan dilanjutkan dengan mencari faktor-faktor penyebab perubahan pola tata ruang pada rumah tersebut dimulai dari faktor fisik ke faktor non fisik.
Ruang lingkup studi dibatasi oleh kriteria penentuan kasus bangunan rumah tinggal, antara lain sebagai berikut:
a. Merupakan bangunan rumah tinggal kuno, yaitu bangunan rumah tinggal yang berusia 50 tahun atau lebih (sesuai dengan UU RI No.11 tahun 2011).
b. Bangunan mempunyai tata ruang asli meskipun kulit bangunan sudah mengalami perubahan ke arah modern. Bangunan rumah tinggal yang masih terawat dapat memberikan informasi dan data yang menunjang untuk keperluan penelitian.
c. Bangunan masih dihuni atau ditempati oleh pemiliknya sehingga bisa mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan untuk keperluan penelitian. Informasi tersebut dapat memberikan gambaran apakah terjadi perubahan di dalam tata ruang rumah tinggal kuno.
Setelah mengadakan pengamatan berdasarkan kriteria di atas, maka di dapatkan 22 rumah tinggal kuno yang dijadikan sampel.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pola Tata Ruang Rumah Tinggal Kuno Di Desa Bakung
1. Bale-Omah-Pawonberbentuk letter L
2. Bale-Omah-Omah jujukan-Pawon berbentuk tangga
3. Omah-Pawonberjajar linier kesamping
4. Bale-Omahberjajar kebelakang,Pawon berada di samping susunanBale-Omah
Disetiap jenis tersebut dipengaruhi oleh perkembangan waktu dan pengetahuan. Dari keempat jenis tersebut terdapat kesamaan maupun berpedaan ditiap tata ruangnya, yaitu
• Orientasi
Orientasi bangunan pada keempat kasus sama-sama kearah Utara-Selatan, yaitu searah dengan arah mata angin sebab masyarakat di Desa Bakung ini menyakini bahwa dalam membangun rumah terdapat pantangan jika menghadap ke arah
timur atau barat dan selalu mengarahkan rumah ke arah selatan atau utara untuk tujuan keselamatan. Hal ini dikarenakan beberapa desa di Kecamatan Udanawu, termasuk desa ini selalu terkena hujan abu bila terjadi letusan Gunung Kelud dan jika dilihat dari letaknya, desa ini berada di sebelah Barat dari Gunung Kelud dan Gunung Kawi. Oleh sebab itu rumah-rumah kuno di desa ini menghadap
kearah Utara-Selatan untuk
menghindari abu dari jika terjadi letusan dari gunung tersebut. Selain adanya keyakinan, orientasi rumah juga didasarkan pada kondisi lingkungan atau kondisi geografis yaitu, dengan menghadapkan rumah ke arah utara–selatan akan memberikan keuntungan tersendiri, yaitu fasade rumah tidak akan terpapar oleh sinar matahari pagi atau sore (Gambar 1).
Gambar 1. Orientasi bangunan rumah kuno di Desa Bakung (Sumber: Analisis penulis, 2011)
di tempat rumah tersebut berada, yaitu iklim tropis, sehingga bukaan digunakan untuk mendapatkan pengaliran udara yang baik di dalam ruang. Konsep ini sejalan dengan konsep tanggap iklim pada bangunan rumah tinggal.
Gambar 2. Orientasi bukaan pada rumah kuno di Desa Bakung (Sumber: Analisis penulis, 2011)
Orientasi fasade bangunan rumah di Desa Bakung ini bukan ditentukan oleh letak jalan desa, melainkan oleh orientasi sumbu Utara-Selatan, sehingga terdapat beberapa bangunan yang menghadap ke utara maupun keselatan, Namun sebagian besar menghadap ke jalan desa dengan dukungan arah jalan desa melintang kearah Barat dan Timur.
Secara umum orientasi rumah tinggal kuno di desa ini cenderung dipengaruhi oleh faktor kenyamanan dan kemudahan. Dari adanya arah orientasi ini ternyata sangat mempengaruhi bentukan bangunan rumah, yaitu memanjang ke samping dan mempunyai proporsi dinding rumah lebih tinggi jika dibandingkan dengan atap rumah (Gambar 3). Hal ini juga dikarenakan masyarakat di desa ini takut akan adanya angin kencang dan merobohkan rumah jika dinding rumah terlalu tinggi.
Gambar 3. Proporsi rumah tinggal kuno di Desa Bakung (Sumber: Analisis penulis, 2011)
• Jenis dan Fungsi
Terdapat 3 jenis gugus yang ada di rumah kuno di desa Bakung, yaitu:1) rumah yang mempunyai gugus Bale, Omah, dan Pawon, 2) rumah dengan gugus Bale, Omah, Omah jujukan,Pawon, dan 3) rumah dengan gugus Omah dan Pawon. Fungsi gugus omah sebagi bangunan utama dan bangunan pelengkap adalah Bale, Pawon, Omah jujukandan sumur serta kamar mandi. Dari ketiga jenis tersebut sebenarnya merupakan pengurangan dari gugus asli (Gambar 4). mulai dari pengurangan gugus bale sampai pengurangan gugus bale dan pawon. Selain terdapat pengurangan juga
terdapat penambahan gugus
bangunan, yaitu berupa penambahan
gugus omah jujukan. Dari
penambahan dan pengurangan gugus tersebut muncullah variasi bentuk tipe rumah kuno yang ada di Desa Bakung ini.
Bentuk tipe setelah mengalami penguran pada gugusbale
Bentuk tipe setelah mengalami pengurangan pada gugusbaledanpawon
Bentuk tipe setelah mengalami penambahan gugus omah jujukan
Gambar 4. Bentuk varian tipe setelah mengalami pengurangan dan penambahan (Sumber: Analisis penulis, 2011)
Ruang-ruang yang ada di dalam gugus bale adalah teras, ruang tamu dan ruang tidur yang mana sebagian besar merupakan ruang tambahan. Pada gugus omah terdapat ruang sentong kiwo, tengah dan tengen, ruang keluarga dan ada tambahan ruang tidur. Di dalam gugus Pawon terdapat area tempat masak yang selalu ada luweng dan gentong, area makan dan lumbung, ruang tambahan lainnya adalah kamar tidur, gudang dan kamar mandi. Untuk gugus omah jujukan di dalamnya terdapat ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, musholla, dan kamar mandi.
Fungsi ruang yang terdapat pada rumah tipe satu ini merupakan pengelompokan ruang berdasarkan intensitas kebutuhannya (Tabel 1). Terdapat 3 fungsi, yaitu 1) primer, yaitu ruangan yang sering muncul dan dianggap penting oleh pemilik rumah, 2) sekunder, yaitu ruangan yang sering muncul namun tingkat kepentingannya lebih rendah jika dibandingkan dengan fungsi primer, 3) tersier, yaitu ruangan yang tingkat kepentingannya rendah dan sebagai pelengkap dari fungsi primer dan sekunder.
Tabel 1. Pengelompokan fungsi berdasarkan intensitas kebutuhannya •Garasi (fungsi
tambahan) •Garasi (fungsi
tambahan)
• Konfigurasi
Tatanan gugus bangunan ini dilihat dari kemudahan pencapaian yang mana arah dipengaruhi oleh kebutuhan fungsional dan pemikiran rasional dari pemilik rumah yang juga didasarkan pada pemikiran logika dan mental spiritual keagamaan. Pemikiran-pemikiran tersebut antara lain seperti posisi lahan rumah terhadap arah jalan desa dan juga letak sumber air. Tatanan gugus bangunan terdiri dari 2 macam jika dilihat dari perletakan gugus pawon terhadap gugus omah, yaitu gugus pawon yang berada di sebelah kiri maupun kananomah(Gambar 5).
Gambar 5. Posisi letak gugus berdasarkan letak lahan (Sumber: Analisis penulis, 2011)
Konfigurasi tatanan gugus bangunan berbentuk tatanan grid (Gambar 6). Bagian depan adalah bale, di belakang bale terdapat omah dan di samping omah terdapat pawon atau omah jujukan. Apabila terdapat omah jujukan maka letak pawon berada di belakang gugus omah jujukan. Adanya perbedaan atap dan klasifikasi fungsi yang di muat dalam gugus bangunan memungkinkan membuat rumah secara bertahap dengan bagian omah dibagun terlebih dahulu. Omah ini dapat menampung fungsi dari gugus lain secara sementara jika pada gugus yang lain terdapat pengurangan maupun telah mengalami penurunan kualitas fisik
bangunan sehingga sudah tidak layak untuk dipakai.
Gambar 6. Susunan gugus bangunan berbentuk grid
Luas bale ditiap tipe maupun ditiap sampel mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Hal ini berdasarkan status sosial dari si penghuni. Semakin besar bale makan kedudukan status sosial semakin tinggi. Fungi bale juga dipakai sebagai tempat pengeringan padi maupun sebagai tempat menyimpan barang jika tidak dapat ditampung di dalam gudang maupun pada rumah yang tidak mempunyai gudang. Susunan ruang di dalam rumah tinggal kuno juga menganut konsep dualisme (oposisi binair), yaitu antara luar dan dalam, kiri kanan, istirahat dan aktifitas serta wanita dan laki-laki. Hal ini dapat dilihat seperti pada pemisahan antara tempat duduk di ruang tamu antara tamu wanita dan tamu laki-laki serta adanya pemisahan sentong kiwo yang merupakan kamar bapak sedangkan sentong kanan kamar ibu.
• Organisasi
Gambar 7. Jenis organisai ruang pada rumah tinggal kuno di Desa Bakung (Sumber: Analisis penulis, 2011)
Hubungan antar ruang pada rumah berbentuk garis hubung yang terbentuk dari sirkulasi antara gugus bale danomah. Hubungan antara satu titik ke titik lainnya berupa pintu-pintu pada tiap ruangan yang membentuk sirkulasi ruang, dari halaman depan ke bagian sentong tengah (Gambar 8). Garis hubung juga terdapat pada gugus pawon, yaitu menghubungkan dari emper ke halaman belakang. Sebagian besar rumah tinggal kuno di Desa Bakung awalnya memiliki 2 sumbu simetri. Satu garis hubung terbentuk dari halaman depan dan berpusat ke sentong tengah. Arah pusat di sentong tengah ditandai dengan adanya bentukan yang berbeda dari pintu depan dan pintu
tengah meskipun terkadang
mempunyai ukurang yang hampir
sama. Garis hubung ini tidak akan hilang meskipun terdapat tambahan ruang di gugus bale maupun omah. Garis hubung lain terbentuk dari titik-titik pintu dari halaman depan ke halaman belakang pada gugus pawon. Namun garis hubung ini rentan hilang akibat adanya penambahan ruang.
Garis hubung antar ruang pada jenis 4 berdasarkan susunan gugus bangunan
Garis hubung antar ruang pada jenis 3 berdasarkan susunan gugus bangunan
Gambar 8. Garis hubung antar ruang (Sumber: Analisis penulis, 2011)
Adanya garis hubung ini menandakan adanya hubungan antara ruang dalam dengan ruang luar yang saling mengimbas tanpa ada batas yang tegas. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Budiharjo (1997), bahwa rumah yang memiliki ruang yang mengimbas antara ruang dalam yang ruang luar sangatlah cocok untuk daerah beriklim topis lembab, dan juga pas untuk mewadahi perilaku
masyarakat yang senang
bercengkrama dengan alam dan tetangga sekitar secara akrab (Gambar 9).
Gambar 9. Hubungan antara ruang luar dengan ruang dalam
• Simetrisitas
Kesimetrisan ruang pada rumah tinggal kuno di Desa Bakung dilihat
R.Tamu R. Kel
R. Makan
Dapur R.Tamu
R. Kel Taman dalam Musholla
integral rumah-rumah tersebut memiliki pola yang tidak simetris, namun jika dilihat secara parsial kebanyakan memiliki kesimetrisan di area yang terlihat oleh umum atau sebagai fungsi publik, namun ada sebagian yang sampai masuk ke dalam fungsi privat, yaitu gugus omah dengan sumbu simetri yang berupa atau berada di jalur sirkulasi (Gambar 10). Hal ini dikarenakan pemilik rumah ingin menambahkan nilai estetika dalam bentuk simetri kepada pengunjung rumah.
Gambar 10. Sumbu simetris pada denah jika dilihat secara parsial (Sumber: Analisis penulis, 2011)
Meskipun memiliki bentuk denah yang asimetris namun denah pada rumah kuno di desa ini memiliki keseimbangan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Budiharjo (1997), bahwa keseimbangan pada denah tercipta dari susunan ruang yang asimetris. Ruang tersebut terolah sebagai ruang yang dinamis yang berorientasi pada gerak. Manusia seolah dituntun dari satu ruang ke ruang lain dengan pandangan dan visual yang berbeda-beda.
• Hirarki
Hirarki ruang yang terbentuk dari rumah tinggal kuno di Desa Bakung adalah dilihat dari pelaku aktifitas yang memakai dalam ruang tersebut, atau kebutuhan privasi sang pemilik rumah dalam melakukan aktifitasnya mempunyai area publik di bagian depan rumah, semi publik 1 di kiri depan, semi publik 2 di depan kanan, semi privat 1 di belakang kanan, semi privat 2 kanan tengah dan area privat di kiri belakang.
Hirarki ruang pada acara-acara tertentu (eventual), seperti pada acara selamatan, perkawinan, kelahiran maupun kematian. Hirarki ruang tersebut tentunya berbeda dengan hirarki ruang sehari-hari jika dilihat dari aktifitas pengguna ruang. Hal ini dikarenakan adanya fleksibilitas dari susunan ruang yang ada di dalam rumah. Pembagian area publik dan semi publik dalam hal eventual hampir sama dengan hirarki sehari-hari, namun pada eventual ini hanya terdapat publik, semi publik dan privat dengan pembagian publik untuk tamu, semi publik untuk tamu dekat, saudara, semi privat untuk saudara dan anggota keluarga, sedangkan privat hanya untuk penghuni rumah.
Penggolongan hirarki juga dapat dilihat dari penempatan area bersih dan area kotor. Area kotor kebanyakan berada di sebelah kiri, sedangkan untuk area bersih berada di sebelah kanan. Hirarki untuk area sakral berada di area tengah bagian belakang, yaitu tepat di sentong tengah(Gambar 11).
Gambar 11. Hirarki ruang berdasarkan bersih, kotor dan sakral, profan
Perubahan Pola Tata Ruang
• Orientasi
Pada rumah-rumah kuno di Desa Bakung ini tidak ada yang mengalami perubahan pada orientasi bangunan, sebab masyarakat di desa ini sangat percaya akan adat yang ada serta sangat paham akan lingkungan rumah mereka. Namun pada rumah-rumah baru (umur rumah di bawah 40 tahun) orientasi rumah berubah mengikuti arah jalan.
• Jenis dan fungsi
Perubahan berupa penambahan jenis ruang sering terjadi di gugus bale maupun di gugus pawon, hal ini dikarenakan area ini merupakan area penunjang. Untuk gugus omah kebanyakan mengalami perubahan pada penambahan fungsi ruang namun tidak penambahan ruang ini tidak bersifat massif. Penambahan ruang sering terjadi pada penambahan fungsi ruang tidur sebagai akibat adanya perubahan gaya hidup
sehingga anggota keluarga
menginginkan adanya ruang privasi tersendiri. Penambahan ruang kebanyakan dipengaruhi oleh adanya perubahan gaya hidup serta naiknya status sosial penghuni rumah. Penambahan ruang omah jujukan sebagai akibat adanya perluasan dari gugus omah namun masih yang bersifat lebih umum jika dibandingkan dengan gugus omah. Rumah yang memiliki Omah jujukan, sering kali gugus ini dipakai sebagai tempat diskusi antar anggota keluarga, sedangkan gugus omah dipakai sebagai area istirahat.
Pengurangan fungsi sering terjadi pada area bale dan sebagaian di area pawon. Hal ini terjadi karena fungsi yang terdapat pada gugus bale adalah fungsi tersier sehingga sering diubah untuk mencukupi kebutuhan primer yang tidak terpenuhi. Faktor adanya pembagian hak waris dan kondisi ekonomi sering menyadi penyebab hilangnya gugusbale.
Penggabungan fungsi sering terjadi di area omah, yaitu ruang
sebagai ruang tamu. Hal ini dikarenakan terjadinya pengurangan pada gugus bale, sehingga ruang-ruang yang ada di bale wadahi di gugus ini.
Pembagian fungsi terdapat pada area memasak akibat adanya perubahan gaya hidup serta ditemukannya teknologi baru. Area memasak ini terbagi menjadi area memasak dengan cara tradisonal dan dengan cara modern. Pada beberapa kasus rumah pembagian juga terdapat pada area makan. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan status sosial sehingga muncul adanya pembagian sekat-sekat ruang yang jelas. Adanya perubahan berupa penambahan fungsi baru atau yang lainnya yang bersifat lebih modern menimbulkan adanya konsepsi pola ruang lama-baru yang diciptakan oleh pemilik rumah (Gambar 12). Konsep lama-baru dalam satu bangunan antara lain adalah adanya dua tempat masak (tradisonal dan modern), rumah dengan lantai tanah dan lantai keramik, serta rumah dengan batas tembok dan batas gedek (anyaman
bambu). Adanya konsep ini
menandakan bahwa si pemilik rumah di Desa Bakung ini mengadakan penyesuain sebelum melakukan perubahan kearah modern.
.
Gambar 12. Konsep lama-baru dalam satu bangunan
• Konfigurasi
Perubahan tatanan gugus bangunan seringkali terjadi pada area pawon, yaitu dengan adanya fungsi gugus
menempatkan area semi publik dibagian belakang dan area semi privat agak di bagian belakang.
Konfigurasi rumah-rumah kuno di Desa Bakung tidak mengalami perubahan pada bentuk susunan ruang meskipun terdapat perubahan pada jenis maupun fungsinya, yaitu tetap mempunyai organisasi berbentuk grid.
• Organisasi
Perubahan organisasi terjadi akibat adanya perubahan susunan gugus bangunan karena ada penambahan maupun pengurangan gugus.
Adanya perubahan terhadap tatanan ruang maupun fungsi yang terdapat pada rumah tinggal kuno di Desa Bakung tidak berpengaruh pada garis hubung antar ruang yang berpusat di sentong tengah. Namun sangat berpengaruh pada garis hubung yang terbentuk di gugus pawon. Hal ini dikarenakan posisi pintu di gugus bale dan omah tidak akan berubah, sedangkan di area pawon dapat diubah sesuai kebutuhan. Dengan adanya garis hubung ini ini dapat sangat mengesankan bahwa area di sentong tengah adalah area yang sakral.
• Simetrisitas
Sumbu simetris yang terdapat pada denah rumah-rumah tinggal kuno di Desa Bakung. Jika dilihat secara integral tidak ada yang memiliki pola simetrsi, namun jika dilihat secara parsial terdapat kesimetrisan di bagian publik. Namun kesimetrisan ini dapat berubah dengan adanya perubahan tatanan ruang baik berupa penambahan maupun pengurangan.
• Hirarki
Perubahan hirarki sering terjadi di antara area semi privat dan area semi publik. Perubahan ini dikarenakan selain adanya pengurangan maupun penambahan gugus bangunan juga akibat adanya tean teknologi baru serta perubahan dari kebiasaan penghuni rumah.
Faktor Penyebab Perubahan Pola Tata Ruang
Faktor penyebab perubahan pola tata ruang adalah:
• Kebutuhan dasar manusia
Bertambahnya jumlah penghuni rumah dan adanya keinginan untuk membuat ruang yang lebih privat.
• Teknologi baru
Faktor ini terdapat pada kasus berubahnya letak kamar mandi dari luar bangunan ke dalam bangunan serta adanya dua fungsi area memasak dengan klasifikasi menggunakan peralatan yang modern dan dengan menggunakan peralatan tradisional. Hal ini dikarenakan telah ditemukannya teknologi sanitasi yang tidak menimbulkan bau serta penemuan bahan bakar baru untuk memasak dengan cara yang mudah
• Gaya hidup
Adanya pengaruh dari era modern, sehingga merubah kebiasaan untuk hidup dengan cara yang lebih modern dan canggih.
• Faktor ekonomi
Perubahan terjadi pada pengurangan gugus bale akibat adanya penjualan soko agar bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga
• Sistem hak waris
Pembagian hak waris pada rumah sering kali mengakibatkan sebagian gugus hilang maupun adanya penambahan sekat yang jelas dari rumah.
• Budaya
Adanya perubahan akan menaiknya status sosial keluarga menyebabkan terjadinya perubahan penambahan ruang-ruang dalam rumah.
PENUTUP
ruang yang kesemuanya berbentuk grid. Rumah tersebut juga memiliki hirarki ruang dalam yang semakin kebelakang semakin privat dan semakin ketengah semakin sakral, sedangkan semakin ke kiri semakin kotor.
Perubahan pola tata ruang terjadi untuk membuat fungsi baru. Perubahan orientasi rumah hanya terjadi pada rumah-rumah baru yang berumur di bawah 40 tahun. Perubahan dalam bentuk pengurangan fungsi mengakibatkan perubahan jenis ruang, kesimetrisan, organisasi serta hirarki ruang. Namun perubahan-perubahan tersebut tidak disertai dengan penambahan ruang yang bersifat masiif. Ruang yang rentan mengalami perubahan adalah ruang-ruang di gugus bale dan pawon, sedangkan ruang yang tetap (sulit mengalami perubahan) adalah ruang-ruang di gugus omah, yaitu sentong tengah yang merupakan area paling sakral di dalam rumah.
Faktor yang mempengaruhi perubahan pola tata ruang dalam rumah tinggal kuno di Desa Bakung adalah
kebutuhan dasar manusia, teknologi baru, gaya hidup, faktor ekonomi, sistem hak waris dan budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Budihardjo, Eko. 1997. Arsitektur Sebagai Warisan Budaya. Jakarta: Djambatan Dakung, S. (Ed.). 1986. Arsitektur
Tradisional Daerah Istimewa
Frick, H. 1997. Pola Struktur dan Teknik Bangunan Di Indonesia. Yogyakarta: Kanisius & Soegijapranata University Press.
Pangarsa, Galih W. 2009. Arsitektur Berbudaya Kemasan Nilai Hakiki Berlanggam Bahasa Negeri.
http://arsiteknusantarawacana.blogsp ot.com/2009/03/arsitektur-berbudaya-kemasan-nilai.html(5 Maret 2011)
Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Yu Sing. 2009. Trend Arsitektur 2009.