• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di Luar Fokus Fotografi Independen di J

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Di Luar Fokus Fotografi Independen di J"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Visual Arts JANUARI/ FEBRUARI 202

DI LUAR FOKUS:

FOTOGRAFI INDEPENDEN

DI JAWA TIMUR

Zhuang Wubin

KEINDAHAN ALAM DAN SEJARAH KOTA PELABUHAN MERUPAKAN SALAH SATU

DAYA TARIK YANG DIMILIKI JAWA TIMUR, SALAH SATU DAERAH YANG PALING

INDAH DI INDONESIA, BAGI PARA FOTOGRAFER. SURABAYA, IBUKOTA PROPINSI

INI, ADALAH KOTA KEDUA BERPOPULASI TERBESAR DI INDONESIA SETELAH

JAKARTA. DAN MALANG, ADALAH KOTA UNIVERSITAS YANG MENJADI SAINGAN

KOTA BANDUNG DI JAWA BARAT. TAPI ANEHNYA, WILAYAH INI DIPANDANG

“TERTINGGAL” DALAM ARTIAN BUDAYA. SURABAYA, MISALNYA, SERING

DILIHAT SEBAGAI PUSAT INDUSTRI JARANG DIIDENTIKKAN DENGAN POLAR

PRODUKSI ARTISTIK.

(2)

S

iapa pun yang memiliki kepekaan sejarah akan melihat hal ini sebagai sebuah ironi. Karena dulunya, semasa Dinasti Ming, Jawa Timur –dengan kota-kota pesisirnya seperti Jepara dan Gresik– adalah sebuah wilayah yang kosmpolit jauh sebelum kekuasaan Belanda yang menyebabkan Batavia (atau Jakarta, red) menjadi polar yang menonjol. Belum lagi kalau kita melihat bahwa budaya “tradisional” Jawa Tengah sebenarnya sudah meminjam banyak dari budaya di kota-kota pesisir, sebagian melalui pengaruh Pangeran Pekik yang dibunuh tahun 1659 dan berasal dari keluarga kerajaan Surabaya.

Dalam hal dunia fotografi, fotografi pernikahan, iklan dan fotografi jurnalistik mendominasi wajah dunia fotografi di Surabaya dan Malang. Dan masyarakat luas penggemar fotografi baik yang amatir maupun profesional tertarik pada genre Pictorialism. Latar belakang inilah yang menyulitkan para fotografer independen

untuk secara positif tetap berkarya. Dari sedikit yang bertahan dengan idealismenya, seringkali mereka merasa kurang dihargai.

Memulai kariernya sebagai seorang desainer interior, Hari Yong (kelahiran Surabaya tahun 1955) kemudian beralih profesi menjadi seorang fotografer komersial di tahun 1985. Di luar kerja profesionalnya, pria generasi keenam peranakan Tionghoa ini berupaya mati-matian untuk masuk ke lingkar komunitas fotografi di Surabaya, tapi karya-karyanya kerap kali dipandang terlalu “pribadi” untuk komunitas fotografi salon yang ada. Ia pun kemudian menyimpan karya-karyanya hanya untuk dirinya sendiri sembari terus mendokumentasikan kota yang ia sebut sebagai rumahnya tersebut.

Pada tahun 2000, saat ia sedang memotret bersama seorang temannya, Yong tidak sengaja menyaksikan evakuasi penjara Kalisosok. Saat itu, ia hanya memiliki

dua hari sebelum penjara tersebut ditutup. Sementara sang teman tak tertarik, Yong melihat hal ini merupakan sebuah kesempatan untuk mendokumentasikan catatan sejarah tentang penjara tersebut. Ia pun mengajukan izin untuk memotret dan diberikan kesempatan untuk melakukannya selama 4 jam. Hasilnya adalah sebuah buku yang bertajukkan Abandoned Histories (2000).

Menurut Timoticin Kwanda, Kepala Departemen Arsitektur di Universitas Kristen Petra (2001-2006), Surabaya, Penjara Kalisosok ini dibangun pada 1808, era kolonial Belanda. Sebagai penjara terbesar di Jawa Timur, ia telah menampung orang-orang dari penjahat kriminal sampai pembangkang politik --termasuk Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno, dan lebih baru-baru ini, pejuang kebebasan dari Timor Timur dan Papua Barat.

“Setelah disesaki dengan narapidana

Kiri: Mamuk Ismuntoro; Dare to Live. Gambar keterangan: Graffiti di kamp pengungsian Pasar Baru di Porong, Jawa Timur, menyoroti penderitaan para korban dalam tragedi semburan lumpur disebabkan oleh PT Lapindo Brantas. (Juli 2008); Kanan: Mamuk Ismuntoro; Dare to Live. Diana, 19, akan menikah di kamp pengungsian Pasar Baru. Lulusan dari sekolah tinggi, ia berencana untuk tinggal sementara di kamp itu dengan suaminya. (Juli 2008).

FO

TO

-F

OT

O:

D

OK

P

EN

UL

(3)

Visual Arts JANUARI/ FEBRUARI 202

selama bertahun-tahun, Penjara Kalisosok akhirnya dibebaskan dari beban,”

ungkap Hari. “Tujuan karya saya adalah melestarikan kenangannya. Orang-orang di Surabaya biasanya menganggap remeh warisan budaya yang kita punyai. Setiap kali ada sebuah bangunan tak terpakai, selalu dirobohkan untuk membangun mal. “ Dan hal tersebut adalah rencana yang dimiliki sang investor untuk Kalisosok sejak tiga tahun yang lalu, tapi Surabaya Heritage Board menolak rencana ini. Sejak saat itulah, penjara ditinggalkan dalam keadaan kosong.

Selama bertahun-tahun, Hari telah mengunjungi berbagai sudut kota Surabaya dan melakukan katalogisasi melalui foto-fotonya. Karya Kalisosok tersebut hanyalah sebagian kecil dari proyek jangka panjangnya yang bertajukkan Surabaya Koe (1990-sekarang). Sepilihan karyanya pun sempat ditampilkan Galeri CCCL Surabaya selama program Bulan Fotografi yang diadakan oleh pusat kebudayaan Perancis pada tahun 2007.

Sebagai seorang peranakan, Hari tidak berbahasa Mandarin berdialek Hokkien (leluruhnya). Surabaya bukanlah rumah

Hari Yong; Abandoned Histories; Judul: Untitled Hari Yong; Abandoned Histories;

Judul: Untitled

sentimentil wajah kota dalam karyanya. Nostalgia kerap kali mengganggu baginya sehingga mengarahkannya hanya pada monumen-monumen tertentu saja ketimbang mendokumentasikan landmark seperti yang ia inginkan. Dan yang lebih buruk adalah nostalgia akan membawa pemirsa karya menjauhi makna budaya dan sejarah situs yang digambarkan.

Selain Hari, ada Mamuk Ismuntoro –kelahiran Surabaya tahun 1975– yang juga mengerjakan proyek pribadi selain bekerja sebagai seorang fotografer. Sebuah hal yang seringkali dilihat oleh rekan-rekan sejawatnya sebagai pemborosan waktu.

“Saya ingin berbagi hal-hal yang berkaitan dengan isu budaya dan sosial dengan orang,” ia menjelaskan. “Fotografi bukanlah sekedar permasalahan teknis. Dibutuhkan semangat, visi, kreativitas dan, tentu saja pendapat dan empati. Proyek jangka panjang pribadi saya inilah yang membuat saya tetap fokus terhadap nilai-nilai tersebut”. Lulusan jurusan Jurnalistik, ia telah bekerja sebagai fotografer untuk berbagai publikasi selama bertahun-tahun. Dia sekarang

angkatnya. Kota ini telah ia kenal sepanjang hidupnya. Dengan atau tanpa politik diskriminasi ras di Indonesia, Hari tak pernah membayangkan dirinya di tempat yang lain. Bahkan di China, ia benar-benar merasa menjadi orang “asing”. Dengan demikian, Surabaya Koe harus dilihat sebagai artikulasi kisah cinta Hari dengan kampung halamannya.

Dalam sebagian besar karyanya,

keberadaan manusia tidak ada, memaksa pemirsa untuk mempelajari “keheningan” berbagai landmark di Surabaya. Ini menjadi jelas bahwa Hari memiliki sedikit minat dalam arti sempit identitas budaya atau etnis. Segala sesuatu yang penting dalam masyarakat multikultural telah ada di Surabaya sejak era Dinasti Ming ketika Ma Huan, penerjemah muslim admiral Cheng Ho, datang dan menulis tentang kota ini saat ekspedisi keempat sang admiral (1413-1415) di Samudera Hindia. Kawasan Belanda dan China pun masih utuh sampai sekarang dan lebihh tua dari kota-kota Jawa kebanyakan.

(4)

selama bertahun-tahun, Penjara Kalisosok akhirnya dibebaskan dari beban,”

ungkap Hari. “Tujuan karya saya adalah melestarikan kenangannya. Orang-orang di Surabaya biasanya menganggap remeh warisan budaya yang kita punyai. Setiap kali ada sebuah bangunan tak terpakai, selalu dirobohkan untuk membangun mal. “ Dan hal tersebut adalah rencana yang dimiliki sang investor untuk Kalisosok sejak tiga tahun yang lalu, tapi Surabaya Heritage Board menolak rencana ini. Sejak saat itulah, penjara ditinggalkan dalam keadaan kosong.

Selama bertahun-tahun, Hari telah mengunjungi berbagai sudut kota Surabaya dan melakukan katalogisasi melalui foto-fotonya. Karya Kalisosok tersebut hanyalah sebagian kecil dari proyek jangka panjangnya yang bertajukkan Surabaya Koe (1990-sekarang). Sepilihan karyanya pun sempat ditampilkan Galeri CCCL Surabaya selama program Bulan Fotografi yang diadakan oleh pusat kebudayaan Perancis pada tahun 2007.

Sebagai seorang peranakan, Hari tidak berbahasa Mandarin berdialek Hokkien (leluruhnya). Surabaya bukanlah rumah

Hari Yong; Abandoned Histories; Judul: Untitled Hari Yong; Abandoned Histories;

Judul: Untitled

sentimentil wajah kota dalam karyanya. Nostalgia kerap kali mengganggu baginya sehingga mengarahkannya hanya pada monumen-monumen tertentu saja ketimbang mendokumentasikan landmark seperti yang ia inginkan. Dan yang lebih buruk adalah nostalgia akan membawa pemirsa karya menjauhi makna budaya dan sejarah situs yang digambarkan.

Selain Hari, ada Mamuk Ismuntoro –kelahiran Surabaya tahun 1975– yang juga mengerjakan proyek pribadi selain bekerja sebagai seorang fotografer. Sebuah hal yang seringkali dilihat oleh rekan-rekan sejawatnya sebagai pemborosan waktu.

“Saya ingin berbagi hal-hal yang berkaitan dengan isu budaya dan sosial dengan orang,” ia menjelaskan. “Fotografi bukanlah sekedar permasalahan teknis. Dibutuhkan semangat, visi, kreativitas dan, tentu saja pendapat dan empati. Proyek jangka panjang pribadi saya inilah yang membuat saya tetap fokus terhadap nilai-nilai tersebut”. Lulusan jurusan Jurnalistik, ia telah bekerja sebagai fotografer untuk berbagai publikasi selama bertahun-tahun. Dia sekarang

angkatnya. Kota ini telah ia kenal sepanjang hidupnya. Dengan atau tanpa politik diskriminasi ras di Indonesia, Hari tak pernah membayangkan dirinya di tempat yang lain. Bahkan di China, ia benar-benar merasa menjadi orang “asing”. Dengan demikian, Surabaya Koe harus dilihat sebagai artikulasi kisah cinta Hari dengan kampung halamannya.

Dalam sebagian besar karyanya,

keberadaan manusia tidak ada, memaksa pemirsa untuk mempelajari “keheningan” berbagai landmark di Surabaya. Ini menjadi jelas bahwa Hari memiliki sedikit minat dalam arti sempit identitas budaya atau etnis. Segala sesuatu yang penting dalam masyarakat multikultural telah ada di Surabaya sejak era Dinasti Ming ketika Ma Huan, penerjemah muslim admiral Cheng Ho, datang dan menulis tentang kota ini saat ekspedisi keempat sang admiral (1413-1415) di Samudera Hindia. Kawasan Belanda dan China pun masih utuh sampai sekarang dan lebihh tua dari kota-kota Jawa kebanyakan.

Tidak seperti fotografer salon lainnya, Hari menghindari mendramatisi secara

menjadi editor foto bagi Surabaya Post. Proyek pertamanya tentang komunitas peranakan Tionghoa di Surabaya memperlihatkan pergulatannya dengan mekanisme long-form documentary work. Sejak itu, gaya penceritaannya pun menjadi lebih matang dan terutama terlihat pada proyeknya yang bertajukkan Dare to Live (2006 - 08).

Bencana lumpur Porong pertama kali menghantam di Sidoarjo, Jawa Timur,

Hari Yong, Surabaya Koe; Judul: Sungai Kalianak, Surabaya Utara

pada Mei 2006. Dan sejak itu tak kurang 42.000 orang mengungsi akibatnya. Kebanyakan ahli geologi merasa bahwa PT Lapindo Brantas (yang terlibat dalam kegiatan pengeboran di daerah tersebut), setidaknya bertanggung jawab untuk bencana tersebut. Sejak Mei 2009, semburan lumpur telah mencakup sekitar 800 hektar lahan pertanian dan industri, menghancurkan tak kurang 12 desa. Sekitar 100.000 meter kubik lumpur keluar setiap hari, dan mungkin untuk 30 tahun

mendatang.

Pemerintahan Yudhoyono telah

mengalihkan perhatian terhadap isu-isu sosial dan infrastruktur terkait daerah ini ketimbang mencoba untuk menghentikan semburan lumpur yang keluar.

(5)

Visual Arts JANUARI/ FEBRUARI 202

padat di terimal Pasar Baru dan Gempol di Surabaya ini pun berupaya untuk mendapatkan kehidupan mereka kembali ke jalur melalui rutinitas sederhana seperti berdoa, bekerja dan sekolah.

Sejak awal, Ismuntoro telah sadar tentang obsesi berlebih para fotografer terhadap pemandangan bencana di Porong. Dan ia mengungkapkan hal ini pada Dare to Live dengan menampilkan kisah-kisah manusia yang sering hilang dalam reportase bencana.

Bagi Ismantoro, proyek ini tak memiliki tenggat waktu. Dan ia pun mengunjungi Porong dengan kamera digital 35mm-nya, mewawancarai para korban mencari detil kisah yang “terlupakan” oleh awak media.

Hasilnya adalah kombinasi mengejutkan dari potret orang-orang yang selamat dan gambar bangunan yang ditinggalkan. Sebuah gambar grafiti di kamp

pengungsian di Pasar Baru berbicara tentang kemarahan yang dirasakan para korban terhadap PT Lapindo Brantas. Dare to Live memungkinkan pemirsa untuk memahami tragedi Porong dari sudut

pandang korbannya.

Sementara itu di Malang, Nakula Tronic (kelahiran Kediri tahun 1980) dan Seto Hari W (kelahiran Madiun tahun 1982) memutuskan untuk mendirikan Insomnium pada tahun 2003. Terinspirasi oleh komunitas Mes 56 di Yogyakarta, Jawa Tengah, Insomnium bertujuan untuk menyediakan sebuah forum bagi fotografi kontemporer dan seni visual.

“Banyak orang menekuni fotografi salon selama bertahun-tahun. Kami hanya ingin menampilkan sisi lain fotografi. Fotografi adalahmulti-faceted dan kita dapat terhubung ke disiplin ilmu lain seperti antropologi atau sosiologi, “ungkap Hari W.

Pada tahun 2005, mereka menyewa sebuah rumah kemudian berfungsi sebagai galeri sekaligus rumah bagi beberapa anggota kelompok dan kolaborator. Tidak mengherankan, kurangnya pendanaan menjadi kendala dan memaksa mereka untuk meninggalkan ruang tersebut pada tahun 2007. Sebelumnya, Insomnium telah mampu melaksanakan berbagai program termasuk berbagai lokakarya dan pameran di Malang, bekerjasama

dengan British Council, komunitas Mes 56 atau pun juga ruangrupa. Kini Insomnium bekerja sebagai organisasi pendukung bagi komunitas lainnya Malang.

Sebagai mahasiswa ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nakula bergabung dengan klub foto sejak 2002 dan ia pun meninggalkan bangku kuliahnya yang hanya tinggal setahun lagi pada tahun 2007. Dalam The Bag Project (2006), Nakula meminta teman-teman, fotografer, seniman, desainer dan orang asing untuk mengosongkan tas mereka dan menggambil gambar dari barang-barang mereka. Orang-orang ini ia pilih secara acak. Benda-benda di setiap kantong, Nakula percaya, memperlihatkan kepribadian pemiliknya. Ia pun terbuka terhadap tentang sifat voyeuristik dari proyek ini.

Sadewa, kakak Nakula (kelahiran Kediri tahun 1980), di sisi lain, melakukan studi komunikasi di UMM dari 1999 hingga 2006. Ia bergabung Insomnium pada tahun 2004, karya besarnya yang pertama adalah Me and Mirrors (2005 - 06) yang menampilkan

(6)

serangkaian potret diri yang diambil di seluruh Indonesia pada momen-momen reflektif.

Ketika aku melihat diriku di cermin, aku sering memikirkan masalahku. Kadang-kadang, aku merasa sepertinya refleksi (di cermin, red) bukan aku. Saya merasa seperti saya tidak tahu siapa saya sendiri. Ketika saya punya pikiran-pikiran ini, saya ingin mengambil gambar untuk mengingatkan diriku sendiri. Saya ingin memberitahu orang bahwa: “Ini adalah aku!”

Namun, ada juga beberapa potret diri bahwa ia telah diambil karena pertimbangan estetis. Bila disatukan, karya-karyanya berfungsi sebagai

sebuah jurnal visual. Sementara dalam Transposition of Rahwana (2007), Sadewa bergerak melampaui fiksasi tubuh dan bekerja dengan Mujiyana, seorang penari Ramayana memainkan karakter Rahwana.

Orang-orang Jawa kuno percaya bahwa semangat Rahwana, simbol kejahatan, tidak pernah dapat dihancurkan, ungkap Sadewa. Bahkan, ia berada dalam setiap jiwa sebagai sisi gelap dari perilaku manusia. Untuk mengartikulasikan relevansi mitologi ini di dunia saat ini, fotografer mengundang penari berpakaian lengkap ke jalan-jalan modern di

Yogyakarta dan menempatkannya untuk berpose di pasar tradisional Beringharjo, di depan outlet McDonald dan melawan lalu lintas ramai. Penjajaran ini mitos karakter

terhadap realitas membantu untuk menyampaikan pesan peringatan-Nya: “Hati-hati! Rahwana dekat dengan Anda! “

Ironisnya, kebingungan para pejalan kaki yang melihat Rahwana menunjukkan kurangnya kesadaran masyarakat modern terhadap cerita lama. Seperti kebanyakan fotografer, kepercayaan Sadewa dalam kemampuan media untuk memperbaiki pengertian tentang identitas dan makna bisa jadi salah. Namun demikian, karya-karya fotografer Sadewa tersebut telah membawa ide-ide baru tentang praktek fotografi ke Jawa Timur. Tapi sekiranya akan memakan waktu beberapa tahun lagi untuk masukan-masukan mereka dapat terasa pada skala yang lebih luas. . [V] Nakula Tronic; The Bag Project;; Gambar diptych keterangan: Kim, 24 tahun, peneliti

... PENJAJARAN INI MITOS KARAKTER TERHADAP REALITAS

MEMBANTU UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN PERINGATAN-NYA:

Referensi

Dokumen terkait