• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potret Metafora dalam Seni Rupa Kontempo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Potret Metafora dalam Seni Rupa Kontempo"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Potret Metafora Dalam Seni Rupa Kontemporer Asia Tenggara Hariyanto

Universitas Negeri Malang [email protected]

Abstrak

Menjelang akhir abad ke 20 para perupa Asia Tenggara mulai menunjukkan identitas budaya melalui karya mereka. Identitas mereka sebagai kaum minoritas atau diaspora Ditunjukkan melalui visualisasi karya dengan menggunakan Potret diri dan figur manusia serta dengan simbol visual, teknik tradisi dan tema sosial politik. Pada makalah ini dibahas seni sebagai ideologi, politik identitas melalui tubuh, dan potret metafora dalam seni rupa kontemporer Asia Tenggara

Abstract

Towards the end of t he 20th century artists Southeast Asia began to show cultural identity through their work. Their identity as a minority and diaspora demonstrated by visualization works by using self-portraits and human figures as well as the visual symbol, engineering tradition and socio-political themes. In this paper discussed art as ideology, identity politics through body, and a portrait of metaphors in contemporary Southeast Asia art.

Penggunaan potret sebagai pokok persoalan dalam seni rupa sudah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu. Potret digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada raja atau tokoh dalam berbagai bidang seperti pahlawan, ilmuwan ataupun seniman. Para perupa memproduksi patung, relief, dan lukisan sebagai representasi dari tokoh-tokoh yang dihormati. Sejak masa pencerahan, posisi perupa semakin mendapat tempat di kalangan elite dan intelektual sehingga para perupa mulai mengeksplorasi wajah dan tubuhnya sendiri untuk dijadikan objek dalam produksi seni rupa. Potret diri perupa menggambarkan eksistensi diri dari perupa sebagai subjek yang otonom.

Karya seni rupa potret mengalami perkembangan pada era seni rupa kontemporer di mana potret tidak lagi menjadi penanda identitas diri seorang perupa, seorang tokoh terhormat, atau orang kaya, tetapi sebuah potret bisa menjadi media penyampai pesan pribadi perupanya atau pesan-pesan sosial di lingkungan perupa. Potret diri sang perupa atau potret diri seseorang bisa menjadi penanda yang memiliki makna yang lebih dari sekedar penampilan wajah atau tubuh seseorang.

(2)

negara. Potret menjadi semacam metafor bagi sesuatu yang terdapat di luar baik dialami sendiri oleh si perupa maupun hanya sebagai perantara bagi sesuatu persoalan masyarakat.

Di masing-masing negara asia Tenggara terdapat masyarakat minoritas dan mayoritas dan di beberapa negara masalah ini bisa menjadi akar konflik baik secara ideologis maupun fisik. Para perupa dari kalangan minoritas secara sadar atau tidak sering menampilkan identitas kulturalnya dalam karya-karya mereka. Pada era awal kemerdekaan negara-negara Asia Tenggara sekitar tahun 1950-1970-an para perupa dari kawasan ini lebih memilih menyajikan identitas kebangsaan yang ditunjukkan dengan semangat nasionalisme yang mendukun konsep negara-bangsa. Menjelang akhir abad ke-20 seiring dengan masuknya posmodernisme yang membawa semangat pluralisme, identitas personal lebih menonjol dibandingkan identitas kolektif. Narasi besar mulai ditinggalkan sehingga para perupa lebih tertarik untuk berbicara masalah yang lebih kongkrit yang dekat dengan kehidupan mereka.

Identitas seseorang termasuk para perupa tidak bersifat tunggal tetapi plural. Hampir semua negara di Asia Tenggara pada masa lampau telah mengalami kontak budaya dengan India dan China. Sebagian dari negara Asia Tenggara mengalami kontak budaya dengan Arab atau agama Islam. Hampir semua negara Asia Tenggara kecuali Thailand mengalami kolonisasi oleh negara Barat. Negara-negara Asia Tenggara sama-sama mengalami penderitaan pada masa pendudukan Jepang. Di tiap negara Asia Tenggara terdapat minoritas etnis Tionghoa yang biasanya tinggal di kawasan Pecinan. Di Malaysia terdapat keturunan Indonesia dari suku Jawa, Minang, Bugis dan lain-lain. Thailand dan Kamboja yang mayoritas Budha serta Philiphina yang mayoritas Katholik di masing-masing negara terdapat minoritas Muslim yang menuntut kebebasan politik. Militer dari tiga negara tersebut masih memerangi gerakan minoritas muslim di masing-masing negara. Kekerasan masih sering terjadi di ketiga kawasan minoritas tersebut sehingga rakyat merasa tidak aman.

Para perupa dari kelompok minoritas maupun dari mayoritas di negara-negara Asia Tenggara banyak yang bersimpati kepada korban perang dan mengutuk terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh semua pihak. Potret diri dan potret tokoh lain menjadi media yang menarik untuk dijadikan media mengungkapkan pesan damai atau kritik tajam terhadap kekerasan dalam perang yang menimbulkan penderitaan panjang bagi masyarakat sipil. Para perupa minoritas yang tinggal di negara yang tidak berkonflik lebih memilih menampilkan identitas dirinya melalui potret dirinya masing-masing.

Tulisan ini membahas tentang seni sebagai ideologi, politik identitas melalui tubuh, dan potret metafora dalam seni rupa kontemporer Asia Tenggara.

Seni rupa sebagai ideologi

(3)

mediasi personal dari kesadaran kelompok. Sebuah karya seni rupa adalah polisemik dan poliponik, yang memuat dan mengekspresikan makna yang melampaui individu.

Seni juga menjadi bagian dari suatu perjuangan sosial yang mana ekspresi-ekspresi tentang kenikmatan, agresi, hasrat, kelembutan, kekuasaan, sinisme, atau ketakutan mungkin berbagi bersama orang lain dan dianggap diperlukan dan mungkin bertemu dengan celaan. Sehingga seringkali seni disebut sebagai medan pertempuran simbolik (Smiers, 2003:2). Seni tidak hanya sebagai medan pertempuran simbolik tetapi juga sebagai medan pertempuran ekonomi. Sehingga seringkali seni menjadi bidang yang tidak netral. Seni juga merupakan bidang komunikasi yang spesifik sebab apa yang dikomunikasikan biasanya lebih padat, lebih fokus, mungkin lucu atau lebih refleksif daripada yang digunakan dalam kontak sehari-hari yang normal. Seni sebagai komunikasi spesifik dari manusia (Smiers, 2003:10).

Seni rupa kontemporer dengan prinsip pluralismenya memberi ruang kepada semua gaya, teknik, dan media perupaan yang merupakan wujud dari ungkapan “apapun boleh”. Berkembangnya seni media baru sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan penolakan terhadap media konvensional seperti seni lukis, seni patung, dan seni grafis tidak menghentikan para perupa untuk tetap memilih seni lukis dan seni gambar sebagai cara ungkap atau media pewacanaan. Berbeda dengan seni rupa modern yang lebih mengutamakan estetika dan formalisme, seni rupa kontemporer lebih mementingkan wacana atau isu politik. Apapun media yang digunakan baik konvensional atau media baru keduanya tetap mengusung wacana baik politik, sosial, ekonomi, atau budaya. Banyak perupa kontemporer yang mengeksplorasi tubuh dan wajahnya sendiri dan orang lain sebagai media untuk pewacanaan. Melalui tubuhnya sendiri para perupa lebih bebas berbicara tentang masalah dirinya sendiri atau masalah yang dialami masyarakat.

Para perupa kontemporer di negara-negara Asia Tenggara mengalami hal yang sama yaitu masih terdapat cukup banyak perupa yang tetap setia menggunakan media seni lukis dalam mengungkapkan gagasannya. Seni lukis dan seni gambar merupakan cabang seni rupa yang paling tua. Jenis seni ini yang paling banyak diminati oleh para kolektor seni karena lukisan dapat dijadikan sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan. Pasar seni rupa dunia lebih mudah menerima seni lukis dibandingkan seni media baru atau seni alternatif yang hanya dikoleksi oleh museum atau galeri resmi.

(4)

Budi Kustarto adalah para perupa Indonesia yang secara sadar mengikuti gaya realisme sinis dari China. Ketiga perupa itu semuanya mengeksplorasi tubuhnya masing-masing sebagai pokok persoalan dari karya mereka. Tubuh mereka seakan dijadikan kanvas atau papan tulis untuk menggambarkan atau menuliskan kisah yang mereka alami dan rasakan. Berbagai wacana sosial, budaya, atau politik mereka ungkapkan melalui tubuh mereka, Kanvas mereka seolah menjadi panggung teater yang menampilkan berbagai lakon dengan pemeran tunggal diri mereka sendiri. Pemeranan mereka dalam berbagai lakon seperti teater monolog dimana aktor berbicara sendiri. Para perupa kontemporer Indonesia itu tidak berbeda jauh dengan para pelukis potret diri pada era modern.

Secara historis, potret diri telah dikatakan sebagai klaim perupa untuk kebajikan (virtue), sebuah kata yang berasal dari bahasa Latin vir (laki-laki) dan awalnya berarti juga kejantanan, kedewasaan, kekuatan, semangat, keberanian dan keunggulan (McKenzie, 2006). Para pelukis modern memiliki kebiasaan untuk melukis dirinya sendiri seperti misalnya Van Gogh yang banyak membuat potret diri dalam berbagai pose dan teknik. Potret diri Van Gogh merupakan contoh yang paling menarik dan memikat dari keasyikan utamanya, baik dari segi teknis dan emosional (McKenzie, 2006). Dalam pandangan Eropa Barat dan tradisi sekuler cenderung untuk melihat seni lukis potret sebagai simbol status politik dan ekonomi. Menurut Clark (2011) para perupa kontemporer memperlakukan potret sebagai sarana untuk tidak hanya berbicara tentang diri mereka sendiri, tetapi juga untuk mengeksplorasi dan 'mengungkapkan keprihatinan yang lebih besar’.

Praktek dalam seni lukis potret tidak dapat dipisahkan dari persoalan tubuh karena para perupa menggunakan tubuhnya sebagai media untuk mengungkapkan gagasan. Menurut Saidi (2007, 246-259) tubuh tidak bisa didefinisikan sebatas fakta biologis atau entitas organik sebagai kerangka fisik belaka. Tubuh memiliki rujukan ke dalam dunia sosial, budaya, politik,

psikologi, filsafat, dan lain-lain. Tubuh manusia dimuati oleh simbolisme kultural, publik dan privat, positif dan negatif, politik dan ekonomi, seksual, moral, dan seringkali kontroversial; begitu pula dengan atribut-atribut, fungsi tubuh, kondisi tubuh, dan indera-inderanya (Synnott, 2003. 1-22).

(5)

karyanya selalu menampilkan tubuhnya sebagai pemeran tunggal dalam karyanya. Para perupa realisme sinis China sudah pernah mengalami masa kejayaan pada era revolusi kebudayaan yang menggunakan realisme sosialis untuk membuat karya lukis propaganda yang menyajikan ketua partai dan para pahlawan sebagai tokoh utama dalam karya mereka.

Pada era perang dingin seni rupa menjadi salah satu media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan politik sesuai dengan ideologinya masing-masing. Para perupa pendukung ideologi sosialis menggunakan pedoman seni realisme sosialis. Realisme sosialis merupakan produk dari sistem Soviet setelah konggres tahun 1934 ditetapkan aturan bahwa seni realisme sosialis harus relevan dengan rakyat pekerja, menggambarkan kehidupan sehari-hari, realistik, dan mendukung tujuan negara dan partai (Wikipedia). Praktek dari konsep realisme sosialis di Uni Soviet dan China para perupa tidak hanya menggambarkan kehidupan kelas pekerja, tetapi justru banyak menampilkan potret dan patung tokoh-tokoh partai seperti Lenin dan Mao Zhedong. Di Indonesia pada era Orde Lama para perupa pendukung Lekra menggunakan ideologi seni realisme sosialis untuk menciptakan karya mereka seperti ditunjukkan oleh para anggota Pelukis Rakyat dan Sanggar Bumi Tarung. Para perupa pendukung realisme sosialis di Indonesia lebih banyak menghasilkan karya yang menggambarkan kehidupan rakyat jelata sehingga pengamat menyebut gaya mereka “realisme kerakyatan”.

Para perupa yang berseberangan dengan pendukung realisme sosialis menggunakan potret diri sebagai bentuk ekspresi pribadi yang tidak terkait dengan kondisi sosial di sekitar kehidupan perupanya. Affandi adalah salah satu perupa dari Indonesia yang paling sering melukis dirinya sendiri sebagai tema penting dalam karya-karyanya. Dalam sebagian besar karya potret diri Affandi selalu muncul simbol-simbol seperti matahari, tangan dan kaki. Perupa-perupa dari negara-negara Asia Tenggara lainnya yang berkarya potret diri sebagai pokok persoalan penting tidak banyak. Ahmad Jamal dan Housein Enas dari Malaysia serta Juan Luna dan Amorsolo dari Philipina merupakan perupa-perupa penting dari kedua negara itu pernah menghasilkan potret diri tetapi jumlahnya tidak banyak dan dengan gaya yang realis.

(6)

Politik Identitas Melalui Tubuh

Mobilitas perupa kontemporer dari semua wilayah semakin tinggi intensitasnya, mereka bergerak mulai dari ruang lokal menuju ke ruang global (internasional). Para perupa kontemporer dari wilayah pinggiran/marjinal negara berkembang seperti dari negara-negara Asia Tenggara kini mulai tampil di pusat-pusat seni internasional. Pada saat ini telah muncul pusat-pusat baru di negara-negara Asia-Pasific yang bisa mengimbangi pusat-pusat seni rupa seperti Paris dan New York. Kota-kota besar seperti Singapura, Beijing, Tokyo dan Sydney kini menjadi pusat-pusat baru bagi perkembangan seni rupa kontemporer internasional. Beberapa biennale dan triennale seni rupa kontemporer diselenggarakan di kota-kota tersebut secara rutin.

Pengalaman para perupa Asia Tenggara mengikuti perhelatan seni rupa internasional memunculkan krisis kepercayaan tentang identitas para perupa baik sebagai bangsa, sebagai keturunan etnik tertentu, sebagai penganut keyakinan tertentu, dan sebagai perupa dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Identitas perupa menjadi persoalan penting bagi perupa kontemporer dari negara-negara berkembang. Identitas nasional sudah tidak menjadi isu penting bagi perupa negara berkembang seperti dulu.

Politik identitas adalah tindakan politis untuk memajukan kepentingan anggota dari suatu kelompok yang anggotanya memahami diri mereka sendiri mendapat tekanan, disebabkan karena identitas yang sama dan termarjinalkan (seperti ras, etnisitas, agama, jender, orientasi seksual) (Wikipedia, 2016). Pembahasan tentang identitas tidak dapat dipisahkan dari wacana kolonial dan poskolonial. Perkembangan seni rupa di negara-negara Barat yang sudah maju dan yang terjadi di wilayah bekas koloni Barat masih menunjukkan adanya ketimpangan. Barat belum sepenuhnya menerima kehadiran para perupa dari wilayah dunia ketiga. Politik identitas yang mewarnai produksi karya seni rupa kontemporer Yogyakarta bentuknya sangat beragam, hal ini disebabkan bahwa identitas budaya bersifat plural. Pluralitas identitas budaya disebabkan oleh persilangan antara berbagai budaya yang dengan mudah dapat mempengaruhi para perupa.

(7)

terhadap masa lampau yang mencegah asimilasi pada masa kini dan mendatang. Terjadi suatu tegangan antara identitas-identitas etnik, nasional dan transnasional yang dapat membawa pada formulasi kreatif (Cohen, 2001: 1-122).

Di hampir semua negara Asia Tenggara terdapat komunitas diaspora yang tinggal menetap dan beraktivitas seperti warga negara lainnya yang pribumi. Diaspora Tionghoa, India, dan Arab sudah tinggal di Asia Tenggara sejak berabad yang lalu. Masyarakat etnik keturunan Tionghoa paling bayak jumlahnya dan persebarannya paling meluas. Di antara masyarakat etnik keturunan Tionghoa terdapat cukup banyak yang berprofesi sebagai perupa. Pada masa lampau perupa etnik Tionghoa bisa dikenali dari hasil karyanya yang khas seni lukis cat air atau cat minyak dengan teknik aquarel dan sapuan khas China seperti bisa dilihat pada karya Lee Man Fong.

Etnis Jawa yang mayoritas di negri sendiri ternyata menjadi minoritas di Malaysia bersama dengan minoritas lainnya seperti etnis Tionghoa, India dan lain-lain. Di Thailand mayoritas penduduknya beragama Budha juga terdapat minoritas Muslim. Philipina mayoritas penduduknya menganut Katholik terdapat minoritas pemeluk Islam. Perupa Asia Tenggara yang menjadi minoritas di negaranya sebagian menggunakan tubuh dan potret dirinya sebagai wahana untuk menyampaikan persoalan sosial budaya yang dihadapinya atau untuk berkomentar terhadap masalah yang terjadi di sekitarnya.

Tubuh telah lama menjadi pokok permasalahan dalam penciptaan seni rupa dan juga menjadi kajian dalam filsafat, sosiologi, psikologi dan sebagainya. Synott (2003:12) menyatakan bahwa tubuh tidak hanya telah ada secara alamiah, melainkan menjadi sebuah kategori sosial dengan maknanya yang berbeda-beda yang dihasilkan dan dikembangkan setiap zaman, oleh berbagai populasi yang berbeda. Tubuh menjadi alat untuk aktualisasi diri dari para perupa Asia Tenggara. Aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang paling penting dalam teori Maslow. Ia mengatakan bahwa aktualisasi diri sebagai hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya (Hardiman, 2015:89).

(8)

para perupa minoritas di Asia Tenggara dinegosiasikan sehingga selalu mengalami transformasi yang konstan.

James Clifford (1994:302-328) menggunakan metafora ‘root’ (akar) dan ‘route’ (perjalanan) untuk membicarakan tentang budaya dan identitas. Akar berpijak atas dasar asal dan komonitas yang dimiliki. Rute adalah tentang perjalanan dan transisi. Setiap orang bergerak dan telah berabad-abad tinggal di perjalanan (Clifford, 1997:2). Metafora yang dilontarkan James Clifford ini bisa menjadi model untuk memahami fenomena para perupa minoritas di Asia Tenggara yang menggunakan potret diri atau tubuh sebagai pernyataan politik identitas.

Potret Metafora Dalam Seni Rupa Kontemporer Asia Tenggara

Para perupa minoritas di Asia Tenggara yang dibahas dalam makalah ini adalah Agus Suwage (Indonesia), Bayu Utomo Radjikin (Malaysia), Rameer Tawasil (Mindanau, Philipina), Jehabdulloh (Pattani, Thailand), dan Sunar Sugiyou (Singapore). Kelima perupa tersebut merupakan perupa yang di negaranya masing-masing menjadi warga negara yang berasal dari etnik minoritas atau keturunan dari bangsa tertentu di luar negara tersebut. Ekspresi seni rupa tidak bisa dipisahkan dari identitas perupanya. Sebagian perupa secara sengaja menggunakan wajah dirinya sebagai ‘etalase’ bagi gagasan sosial yang disampaikan perupa. Perupa yang lain menggunakan wajah anonim untuk menyatakan identitas budaya asalnya.

(9)

memberi gambaran kepada penonton bahwa dia merasa sering disakiti atau diganggu oleh orang yang berasal dari etnik mayoritas.

Gambar 1 : Agus Suwage, Ough Nguik (2003) (Sumber: http://archive.ivaa-online.org)

(10)

Gambar 2: Bayu Utomo, a. Empatbelas (2010); b. Pandangan Sisi (2012-2013) (Sumber: bayuutomo.blogspot.co.id)

Sunar Sugiyou lahir tahun 1961 di Singapura dan belajar seni rupa di St. Patrick’s Art School, Singapore. Sebagai warga negara Singapura yang mayoritas penduduknya berasal dari etnik Tionghoa, Sunar merasakan keterasingannya sebagai warga keturunan Jawa. Pada beberapa karya awalnya Sunar justru tidak menampakkan identitasnya karena karya-karyanya dalam pameran Journey 2012 menunjukkan kemampuannya dalam melukis dengan teknik akuarel tinta hitam putih dengan sapuan gaya Jepang. Dalam pameran bertajuk Home 2013, menampakkan identitasnya sebagai keturunan Jawa dengan beberapa karya lukisnya yang menggambarkan figur-figur manusia berwajah wayang. Pada karya berjudul Chakap chakap Kedai Kopi 2013, Sunar menggambarkan kerumunan manusia menggunakan topi wayang Jawa sedang berdiskusi. Karya berjudul Dance With The Dragon 2013 yang menggambarkan tujuh figur manusia berkepala wayang sedang menari-nari mengelilingi seekor naga merah. Melalui karya ini bisa dibaca pikiran dari Sunar yang ingin menunjukkan hubungan

harmonisnya antara minoritas Jawa dan Tionghoa di Singapura atau di Indonesia. Pada karya berjudul Sage 2013, Sunar memvisualkan tujuh penari berwajah wayang Jawa sedang

menari-nari mengelilingi seekor singa, karya ini menggambarkan hubungan antara orang Jawa dan orang Singapura. Sedangkan pada karya berjudul Ecstacy 2013, Sunar

(11)

Gambar 3: Sunar Sugiyou a. Dance With The Dragon 2013; b. Ecstacy 2013. (Sumber: www.mayagallery.com.sg)

Jehabdulloh Jehsorhoh lahir 1983 di Pattani Thailand belajar seni rupa di The Faculty of Painting , Sculpture and Graphic Arts, Silpakron University, Thailand. Pattani adalah propinsi di wilayah Thailand selatan berbatasan dengan Malaysia. Sebagian besar

penduduknya adalah suku Melayu beragama Islam. Sebagai warga negara Thailand yang lahir dan dibesarkan di Pattani Jehabdulloh merasakan suasana ketegangan yang menjadi pengalaman sehari-hari. Di propinsi Pattani masih terdapat sekelompok aktivis bersenjata yang memperjuangkan kepentingan mereka terhadap dominasi negara yang mayoritas penduduknya beragamaa Budha. Ketegangan dan kekerasan yang terjadi di Pattani mendorong Jehabdulloh untuk dijadikan tema utama dalam karya-karyanya.

Jehabdulloh menggabungkan tradisi visual Pattani yang kaya ragam hias batik dengan peristiwa aktual yang terjadi di lingkungannya. Tema-tema karya Jehabdulloh seperti My home at Pattani 2013-2014, Beauty in the dark at Pattani 2012, Birth and Death 2013 dengan jelas menunjukkan simpatinya terhadap situasi yang dialami warga muslim Thailand. Karya-karyanya sepintas mirip batik dengan motif tradisional dengan tambahan figur utama perempuan berhijab dengan gaya dekoratif sehingga karyanya tidak provokatif seperti lukisan tema sejenis dengan gaya realis. Pada karya-karya bertema My home at Pattani 2013-2014 Jehabdulloh memvisualkan figur perempuan berhijab hitam atau berhijab motif senjata api dengan latar motif senjata api. Pada salah satu karya tema ini ia menampilkan figur

(12)

melawan penguasa. Karya-karyanya pada tema ini kebanyakan menampilkan potret

perempuan berhadapan satu atau dua pasang sehingga di tengahnya membentuk siluet tiang atau nisan makam muslim. Kecantikan perempuan muslim dan kegelapan akibat peperangan terus-menerus ditunjukkan melalui karya-karyanya bertema Beauty in the dark at Pattani 2012. Identitas Jehabdulloh sebagai warga Thailand keturunan Melayu Muslim tergambar dalam karya-karyanya.

Gambar 4: Jehabdulloh, a. My home at Pattani 2013-2014; b. Beauty in the dark at Pattani 2012. (Sumber: www.jehabdulloh.com)

Rameer Tawasil lahir 1969 di Sulu Mindanau Philipina dan belajar arsitektur di Western Mindanau State University adalah seorang perupa dari minoritas muslim di Philipina. Di Sulu tempat kelahiran Rameer masih berkembang seni okkil yaitu istilah setempat untuk seni ukir. Karya-karyanya berciri dekoratif karena dikembangkan dari gaya okkil yang merupakan salah satu seni visual Islam yang menghindari larangan untuk

menggambarkan mahluk hidup. Sebagian karya Rameer menggambarkan kehidupan di laut yang menjadi andalan utama masyarakat Sulu. Figur-figur perempuan dan laki-laki sering juga ditampilkan dengan latar motif hias okkil. Rameer dalam beberapa pameran

(13)

Gambar 5: Rameer Tawasil, a. The Flight, 2008; b. The Burning of Jolo 2010 (Sumber: zamboangajournal.blogspot.co.id dan http://www.muslimmindanao.ph)

Simpulan

Para perupa Asia Tenggara dari kelompok minoritas di masing-masing negara mereka telah memproduksi karya visual terutama lukisan dan gambar dengan pokok persoalan atau tanda visual utamanya potret diri, potret atau figur manusia dengan ciri-ciri masing-masing telah menunjukkan relasi antara identitas budaya perupa dengan persoalan sosial politik di negaranya masing-masing. Identitas budaya para perupa ditunjukkan dengan berbagai cara yaitu melalui simbol visual, teknik visual, dan tema-tema sosial, politik, dan budaya yang dialami dan dipahami oleh masing-masing perupa.

Potret diri dan figur manusia bisa menjadi media untuk mengungkapkan gagasan para perupa yang ingin menunjukkan perbedaannya dengan masyarakat mayoritas di mana mereka tinggal. Perbedaan identitas yang ditunjukkan melalui karya seni rupa (potret diri dan figur manusia) tanpa berpretensi menyinggung kelompok tertentu dapat diterima sebagai bagian dari pluralisme seni rupa kontemporer di Asia Tenggara maupun di wilatah lainnya.

Daftar Rujukan

Clark, Christine, 2011. Beyond the Self, Contemporary Portraiture from Asia, Katalog Pameran, Adelaide:Anne & Gordon Samstag Museum of Art.

Clifford, James,1994. Diasporas, Jurnal Cultural Anthropology,Volume 9, Issue 3 August 1994

Cohen, Robin 2001. Global Diasporas: An Introduction, London: Routledge.

(14)

Hardiman, 2015. Eksplorasi Tubuh, Esai-esai Kuratorial Seni Rupa, Singaraja: Mahima Institute Indonesia.

McKenzie, Janet, 2006. “Self-Portrait: Renaissance to Contemporary”, online www.studiointernational.com diakses 20 September 2016.

Saidi, Acep Iwan, 2007. “Narasi-Narasi Tentang Tubuh dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia Studi atas Karya-Karya Agus Suwage, Arahmaiani, Ivan Sagita, dan IGAK Murniasih” Jurnal Visual Art ITB Vol. 1 D, No. 2, 2007.

Smiers, Joost, 2003. Arts Under Pressure, Promoting Cultural Diversity in the Age of Globalization, London-New York: Zed Books.

Synnott,Anthony, 2003.Tubuh Sosial: Simbolisme, Diri dan Masyarakat, Yogyakarta: Jalasutra.

Wikipedia, 2016. Identity Politics, online en.wikipedia.org/wiki/Identity_politics.

Wolff, Janet, 1993. The Social Production of Art, New York: New York University Press.

Gambar

Gambar 1 : Agus Suwage, Ough Nguik (2003)(Sumber: http://archive.ivaa-online.org)
Gambar 2: Bayu Utomo, a. Empatbelas (2010); b. Pandangan Sisi (2012-2013)(Sumber: bayuutomo.blogspot.co.id)
Gambar 3: Sunar Sugiyou a. Dance With The Dragon 2013; b. Ecstacy 2013.(Sumber: www.mayagallery.com.sg)
Gambar 4: Jehabdulloh, a. My home at Pattani 2013-2014; b. Beauty in the dark at Pattani2012
+2

Referensi

Dokumen terkait