MODEL AKOMODASI PRINSIP SUSTAINABLE DEVELOPMENT
PADA EVALUASI PROYEK PENGEMBANGAN KAWASAN BANTARAN SUNGAI
DI KABUPATEN MAROS
Fadly Ibrahim1), Fadhil Surur2)
1
PT. Yodya Karya (Persero), Kanwil II Makassar Jl. AP. Pettarani Makassar No. 74 E-mail : [email protected]
2
Jurusan Planologi Fakultas Sainstek UIN Alauddin Makassar, E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Kawasan bantaran Sungai Maros memiliki potensi pengembangan yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan cenderung mengalami degradasi lingkungan yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. Sebagai upaya meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mengoptimalisasi potensi kawasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Maros mengusulkan tiga alternatif usulan proyek pengembangan kawasan yaitu (1) kawasan permukiman, (2) kawasan rekreasi dan (3) kawasan bisnis.
Sebagai adaptasi terhadap perubahan iklim global, maka penilaian usulan proyek tersebut harus mengakomodasi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) diantaranya (1) aspek lingkungan dengan parameter konsumsi energy, produksi sampah, produksi limbah, konsumsi air, perubahan ekosistem sungai, estetika lingkungan, pemanfaatan lahan (2) aspek ekonomi dengan parameter lapangan kerja, peningkatan pendapatan dan biaya investasi (3) aspek sosial dengan parameter akses masyarakat, kepadatan penduduk, dan tingkat kriminalitas. Karena penilaian proyek tersebut mengakomodasi aspek yang bersifat multikriteria
maka dalam penelitian ini dirancang model analisis berbasis pendekatan Analytical Network
Process (ANP) untuk mengevaluasi setiap usulan proyek. Hasil analisis mengindikasikan bahwa pengembangan kawasan rekreasi merupakan proyek yang paling ideal diantara 3 alternatif yang diusulkan.
Kata kunci: kawasan bantaran sungai, pembangunan berkelanjutan, ANP.
1. PENDAHULUAN
Sungai merupakan bentukan lanskap alam yang dinamis dan hidup serta berguna bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Karenanya sungai tidak hanya memiliki fungsi ekologis tapi juga memiliki fungsi ekonomis yang dapat dieksplorasi pemanfaatannya untuk kepentingan kehidupan manusia tanpa mengabaikan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan. Sungai Maros yang membelah Kota Maros memiliki potensi pengembangan yang cukup besar, namun seiring dengan laju peningkatan kepadatan dan aktivitas penduduk di Kota Maros khususnya pada Kawasan Bantaran Sungai telah mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan yang kemudian berpengaruh pada penurunan kualitas lingkungan. Sebagai upaya meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mengoptimalisasi potensi kawasan bantaran Sungai Maros tersebut, Pemerintah Kabupaten Maros mengusulkan tiga alternatif usulan proyek pengembangan kawasan yaitu (1) kawasan permukiman, (2) kawasan rekreasi (theme park), dan (3) kawasan bisnis.
Dengan mempertimbangkan krisis lingkungan yang telah terjadi di beberapa tempat sebagai akibat dari kekeliruan pengambilan keputusan, maka penilaian usulan proyek tersebut harus didasarkan pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang menakankan pentingnya memahami hubungan timbal balik antara 3 dimensi utama kehidupan yang saling berinteraksi secara terus menerus, yaitu dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan. Untuk mengakomodasi prinsip-prinsip tersebut dibutuhkan suatu model pendekatan yang mampu mengintegrasikannya dalam satu sistem dan dapat memberikan satu kesimpulan yang merupakan representasi dari 3 dimensi pembangunan berkelanjutan.
kriteria yang independen, namun asusmi ini tidak selalu realistis, sehingga memungkinkan terjadinya bias yang
berdampak pada kesimpulan evaluasi yang tidak optimal. Untuk itu Analytical Network Process (ANP)
merupakan pendekatan yang tepat untuk memperhitungkan saling ketergantungan antar kriteria dan menghindari terjadinya kompensasi (Navarro, G, dkk, 2009). Berdasarkan pandangan tersebut, maka model penilaian usulan proyek pengembangan kawasan banataran sungai di Kabupaten Maros didasarkan pada pendekatan ANP.
2. KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pembangunan Berkelanjutan
Adanya kesadaran kritis tentang semakin terbatasnya sumberdaya alam yang tersedia dan kebutuhan manusia yang terus meningkat mengharuskan pendekatan pemanfaatan sumberdaya alam yang efesien. Lebih dari itu, pemanfaatan sumberdaya tidak boleh mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. Dalam perspektif konsep keberimbangan, pendekatan pembangunan dituntut untuk dituntut untuk
memperhatikan keberimbangan dan keadilan antar generasi (intergenerational equity). Konsep pembangunan
yang selanjutnya dikenal sebagai pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yakni suatu konsep
pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan generasi yang akan datang.
Gondokusumo, M.D (2011) menjelaskan bahwa rumusan tentang syarat-syarat untuk mencapai proses pembangunan berkelanjutan telah diajukan oleh beberapa pemikir. Pemikiran-pemikiran mereka dapat dilihat
dalam publikasi-publikasi, antara lain Brundtlant, G.H (1987), Independent Commission on Population and
Quality of Life – ICPQL (1996), dan Becker, F.et al. (1997).
Tabel 1. Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (Gondokusumo, M.D, 2011)
Dimensi Brundtlant, G.H
Sosial Pemenuhan kebutuhan dasar bagi
semua.
Ekonomi Pertumbuhan ekonomi untuk
memenuhi kebutuhan dasar
Ekonomi kesejahteraan Ekonomi kesejahteraan
Lingkungan Lingkungan untuk generasi
sekarang dan yang akan datang
ANP merupakan suatu sistem dengan pendekatan feedback yang digunakan untuk menilai hubungan multiarah
yang dinamis antar atribut keputusan. ANP adalah solusi untuk mengatasi keterbatasan pada metode
pendahulunya, yaitu AHP (analytic hierarchy process). ANP memiliki kelebihan mengacu pada fakta bahwa
tidak semua persoalan dapat disusun secara hirarkis karena dependensi (inner/outer), serta hubungan saling mempengaruhi di antara dan di dalam kluster (kriteria dan alternatif).
Pembobotan dengan ANP membutuhkan model yang merepresentasikan saling keterkaitan antar kriteria dan subkriteria yang dimilikinya. Ada 2 kontrol yang perlu diperhatikan didalam memodelkan sistem yang hendak diketahui bobotnya. Kontrol pertama adalah kontrol hierarki yang menunjukkan keterkaitan kriteria dan sub kriterianya. Kontrol lainnya adalah kontrol keterkaitan yang menunjukkan adanya saling keterkaitan antar kriteria atau cluster (Saaty, 1996).
Pengaruh dari satu set elemen dalam suatu cluster pada elemen lain dalam suatu sistem dapat direpresentasikan
melalui vektor prioritas berskala rasio yang diambil dari perbandingan berpasangan. Jaringan pada metode ini
memiliki kompleksitas yang tinggi dibanding dengan jenis lain, karena adanya fenomena feedback dari cluster
satu ke cluster lain, bahkan dengan cluster-nya sendiri (Ibrahim, F, 2013).
3. METODOLOGI PENDEKATAN
Tahap 1. Identifikasi Kriteria dan Subkriteria
subkriteria. Dengan mengkombinasikan beberapa referensi dapat diidentifikasi kriteria dan subkriteria penilaian usulan proyek pengembangan kawasan bantaran sungai di Kabupaten Maros.
Tabel 2.Klaster dan elemen ANP pada model penilaian usulan proyek pengembangan kawasan bantaran sungai
Klaster Elemen
Alternatif Proyek A
Proyek B Proyek C
1. Lingkungan 1.1 Konsumsi Energi (KE)
1.2 Produksi Sampah (PS) 1.3 Produksi Air Limbah (PAL) 1.4 Konsumsi Air (KA)
1.5 Perubahan Ekosistem Sungai (PES) 1.6 Estetika Lingkungan (EL)
1.7 Pemanfaatan Lahan (PL)
2. Ekonomi 2.1 Lapangan Kerja (LK)
2.2 Peningkatan Pendapatan (PP) 2.3 Biaya Investasi (BI)
3. Sosial 3.1 Akses Masyarakat (AM)
3.2 Kepadatan Penduduk (KP) 3.3 Tingkat Kriminalitas (TK)
Tahap 2. Perancangan Model Struktur ANP
Pada tahap ini akan dilakukan perancangan model struktur ANP yang terdiri dari 4 klaster yaitu; (1) klaster
“alternatif” yang berisi 3 elemen, (2) klaster “lingkungan” yang terdiri dari 7 elemen, (3) klaster “ekonomi”
terdiri dari 2 elemen, dan (4) klaster “sosial” terdiri dari 3 elemen. Selanjutnya dilakukan justifikasi keterkaitan antar klaster dan elemen, justifikasi keterkaitan ini penting dilakukan untuk menjadi dasar pembuatan matriks.
Dikarenakan matriksnya reciprocal di mana elemen-elemen diagonal sama dengan 1, maka banyaknya penilaian
yang diperlukan dalam menyusun matriks adalah n(n-1)/2 untuk setiap klaster atau elemen.
Tahap 3. Pembobotan dengan ANP
Untuk menilai tingkat kepentingan dari kriteria dan subkriteria pemilihan trase jalan, pada studi ini memanfaatkan metode multi kriteria ANP yang dikembangkan oleh Thomas, L. Saaty. Penilaian kriteria dan
subkriteria dilakukan berdasarkan preferensi responden yang dinilai memiliki kompetensi (expert) dalam bidang
perencanaan kawasan melalui kuesioner.
terlihat dalam Gambar 1); (ii) membuat matriks perbandingan berpasangan (pairwise comparison) antar kriteria;
dan (iii) mengembangkan algoritma solusi. Algoritma solusi terdiri dari: (a) membuat unweighted supermatrix
dengan cara memasukkan semua bobot-bobot kepentingan relatif yang dihasilkan dari perbandingan berpasangan (eigen vector) ke dalam sebuah supermatriks; (b) menyesuaikan nilai-nilai dalam unweighted supermatrix
sehingga tercapai kolom stokastik (weighted supermatrix), dan (c) membuat limiting supermatrix dengan
memangkatkan supermatriks secara terus menerus hingga angka disetiap kolom dalam satu baris sama besar (stabil), setelah itu limiting supermatrix.dinormalisasi untuk mendapat nilai akhir dari kriteriakriteria yang diperbandingkan.
Dalam studi ini diasumsikan bahwa kriteria dan subkriteria satu dengan lainnya bisa saling mempengaruhi (inner
dependence). Skala perbandingan berpasangan dilakukan mengikuti ketentuan seperti tersaji dalam tabel berikut (Saaty dan Vargas, 1994).
Tabel 4. Skala penilaian klaster dan elemen Tingkat
Definisi Penjelasan
kepentingan
1 Sama Penting Sama pentingnya dibanding yang lain.
3 Relatif lebih penting Moderat pentingnya dibanding yang lain.
5 Lebih Penting Kuat pentingnya dibanding yang lain.
7 Sangat Penting Sangat kuat pentingnya dibanding yang lain.
9 Jauh Lebih Penting Ekstrim pentingnya dibanding yang lain.
2, 4, 6, 8 Nilai Antara Nilai di antara dua penilaian yang berdekatan.
Kebalikan
Kebalikan Jika elemen i memiliki salah satu angka di atas ketika dibandingkan elemen j, maka memiliki nilai kebalikannya ketika dibandingkan elemen i.
Dalam penilaian kepentingan relatif, dua elemen berlaku aksioma reciprocal. Artinya jika elemen i dinilai 3 kali lebih penting dibanding j, maka elemen j harus 1/3 kali pentingnya dibanding elemen-i. Dua elemen yang berlainan bisa saja dinilai sama penting, yang mana angka yang sama akan menghasilkan angka 1, artinya sama penting. Jika terdapat n elemen, maka akan diperoleh matriks pairwise comparison berukuran n x n.
Selanjutnya adalah sintesa prioritas dengan cara mencari eigenvector dari setiap matriks pairwise comparison
untuk mendapatkan prioritas lokal. Dalam ANP/AHP, logical consistency menyatakan ukuran tentang konsisten
tidaknya suatu penilaian. Rasio konsistensi (consistency ratio) dihitung dengan rumus CR = CI / RI. Consistency
Index (CI) diperoleh dari CI = (λmax – n) / (n –1), di mana λmax = nilai eigen vector terbesar dari matriks perbandingan berpasangan, dan n = ukuran matriks. Sebagai contoh, jika A lebih penting dari B dan B lebih penting dari C, tapi C lebih penting dari A, maka tidak konsisten. Nilai CR harus kurang dari 10%, karena jika
lebih maka penilaian perbandingan berpasangan harus diulang (Saaty dan Vargas, 1994). Dalam hal random
c1 c2 cN
Untuk memudahkan proses analisis, semua langkah dilakukan menggunakan perangkat lunak Super Decision
yang yang dikembangkan oleh William J. Adams dari Embry Riddle Aeronautical University, Florida,
bekerjasama dengan Rozann W. Saaty (Saaty, 2003).
4. DESKRIPSI PROYEK
Perkembangan Kota Maros yang dipengaruhi oleh proses aglomerasi wilayah di Kota Makassar, telah berdampak pada terjadinya konversi lahan dari kawasan hutan/kawasan konservasi menjadi kawasan permukiman baru, kondisi ini dinilai menjadi penyebab perubahan pola hidrologi di Kawasan Kota Maros khususnya di kawasan bantaran Sungai Maros yang pada akhirnya berdampak pada degradasi lingkungan.
Luas kawasan terdeleniasi mencapai 27,27 Ha yang didalamnya terdapat 35 KK yang harus direlokasi apabila dilakukan penanganan pada kawasan tersebut. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa ada 3 proyek penanganan yang diusulkan yakni; (A) Proyek pembangunan permukiman vertikal (Rusunawa), direncanakan akan dibangun 3 tower dengan daya tampung 240 KK. (B) Proyek pembangunan kawasan rekreasi, direncanakan akan dibangun hotel dengan kapasitas 50 kamar tidur, kawasan kuliner, dan sarana penunjang wisata. (C) Proyek pembangunan kawasan bisnis, direncanakan akan direvitalisasi pasar lama menjadi pasar holtikultura dan membangun pasar modern dengan jumlah lods 200 unit. Penerima manfaat pada proyek tersebut diharapkan dari warga yang bermukim disekitar kawasan dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kota Maros. Pelibatan masyarakat tidak hanya terbatas pada tahap pembangunan namun mereka harus diprioritaskan untuk terlibat pada aktifitas ekonomi setelah proyek beroperasi khususnya proyek B dan C. Adapun perbandingan ketiga proyek tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4. Perbandingan setiap usulan proyek
No. Uraian Proyek A Proyek B Proyek C
1 Luas lahan terbangun (Ha) 2.00 4.20 6.30
2 Produksi air limbah (ltr/hari) 141,600.00 70,800.00 35,400.00
3 Produksi sampah (ltr/hari) 960.00 480.00 3,000.00
4 Konsumsi air (ltr/hari) 172,800.00 86,400.00 43,200.00
5 Konsumsi energi (kWh/bulan) 27,766.36 15,040.11 46,277.26
6 Biaya investasi (Rp x 1 Milyar) 60.00 52.00 115.00
5. ANALISIS PEMBAHASAN
Dengan melakukan perbandingan berpasangan terhadap hasil pendapat responden didapatkan bobot
masing-masing. Apabila klaster “alternatif” yang dijadikan respek maka aspek yang dominan dipertimbangkan dalam
penilaian proyek penanganan kawasan bantaran sungai adalah alternatif proyeknya sendiri dan aspek lingkungan dengan bobot masing-masing 0.35091. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya penanganan kawasan sama pentingnya dengan upaya pelestarian lingkungan pada kawasan tersebut. Selanjutnya adalah dimensi ekonomi dengan bobot 0.18906 dan dimensi sosial dengan bobot 0.10911.
tersebut memungkinkan lebih kecil kontribusinya dibanding cost recovery yang akan dikeluarkan pemerintah dan masyarakat untuk memperbaiki lingkungan yang rusak. Adapun permasalahan yang terkait dimensi sosial akan tereduksi apabila skenario pembukaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan berjalan pasca implementasi proyek. Struktur bobot yang didapatkan pada klaster yang respek terhadap ekonomi ini memiliki kesamaan pada klaster yang respek terhadap dimensi lingkungan. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5. Matriks Klaster
Klaster Alternatif Ekonomi Lingkungan Sosial
Alternatif 0.35091 0.26491 0.29696 0.66667
Ekonomi 0.18906 0.20661 0.00000 0.00000
Lingkungan 0.35091 0.42947 0.53961 0.00000
Sosial 0.10911 0.09901 0.16342 0.33330
Setelah dilakukan perbandingan berpasangan pada level klaster sebagaimana diuraikan diatas, selanjutnya dilakukan perbandingan berpasangan pada level elemen. Hasil analisis mengindikasikan bahwa pada klaster ekonomi elemen yang paling dominan dipertimbangkan dalam penilaian usulan proyek penanganan bantaran sungai di Kota Maros adalah ketersediaan lapangan kerja dengan bobot 0.35260, selanjutnya adalah elemen peningkatan pendapatan dengan bobot 0.34715 dan yang terakhir adalah aspek biaya investasi dengan bobot 0.29759. Sedangkan untuk klaster sosial, elemen yang paling dominan dipertimbangkan adalah kepadatan penduduk dengan bobot 0.53487, menyusul aspek akses masyarakat dengan bobot 0.23864 dan aspek tingkat kriminalitas dengan bobot 0.22649.
Apabila penilaian usulan proyek ditinjau dari klaster lingkungan, maka elemen yang paling penting menjadi pertimbangan adalah elemen tingkat konsumsi air dengan bobot 0.19662, kemudian tingkat produksi sampah dengan bobot 0.16929 dan menyusul pemanfaatan lahan dengan bobot 0.16574. Elemen yang lebih penting lainnya adalah tingkat produksi air limbah dan konsumsi energi dengan bobot masing-masing 0.14828 dan 0.13232. Sedangkan elemen yang memiliki tingkat kepentingan yang relatif rendah adalah elemen perubahan ekosistem sungai dengan bobot 0.09942 dan estetika lingkungan dengan bobot 0.08833.
Bobot yang didapatkan pada setiap klaster dan elemen merupakan bobot yang belum diinteraksikan secara keseluruhan (sintesis). Untuk itu hasil pembobotan yang didapatkan dari hasil perbandingan berpasangan
diformulasi dalam bentuk supermatriks yang menghasilkan unweighted supermatrix, dan kolom stokastik, serta
limiting supermatrix. Hasil analisis limiting supermatrix tersebut mengindiksdikasikan bahwa elemen yang paling dominan mempengaruhi penilaian usulan proyek penanganan kawasan bantaran Sungai Maros adalah aspek kepadatan penduduk dengan bobot 0.07810 hal ini sangat beralasan karena aspek-aspek yang lain sangat dipengaruhi oleh tingkat kepadatan penduduk, misalnya semakin banyak penduduk maka semakin tinggi kebutuhan lahan, konsumsi air, konsumsi energi, laju produksi sampah dan limbah, dll. Aspek yang lebih penting berikutnya adalah konsumsi air dengan bobot 0.06700 dan produksi sampah dengan bobot 0.05769, serta kebutuhan lahan dengan bobot 0.05647.
Tabel 6. Bobot akhir setiap elemen
No. Klaster/Elemen Normalized By Cluster Limiting
1 Proyek A 0.32360 0.12779
2 Proyek B 0.41209 0.16273
3 Proyek C 0.26431 0.10437
4 Biaya Investasi 0.29759 0.03522
5 Lapangan Kerja 0.35260 0.04205
6 Peningkatan Pendapatan 0.34715 0.04109
7 Estetika Lingkungan 0.08833 0.03010
8 Konsumsi Air 0.19662 0.06700
9 Konsumsi Energi 0.13232 0.04509
10 Pemanfaatan Lahan 0.16574 0.05647
11 Perubahan Ekosistem Sungai 0.09942 0.03388
No. Klaster/Elemen Normalized By Cluster Limiting
13 Produksi Sampah 0.16929 0.05769
14 Akses Masyarakat 0.23864 0.03484
15 Kepadatan Penduduk 0.53487 0.07810
16 Tingkat Kriminalitas 0.22649 0.03307
Hasil Sintesis mengindikasikan bahwa alternatif Proyek B memiliki elektabilitas tertinggi dengan bobot prioritas 0.41209, selanjutnya adalah alternatif Proyek A dengan bobot prioritas 0.32360, dan alternatif Proyek C memiliki tingkat elektabilitas terendah dengan bobot 0.264311.
Gambar 3.Masterplan dan visualisasi desain proyek terpilih
6. KESIMPULAN
Dalam penilaian usulan proyek penanganan kawasan bantaran sungai harus didasarkan pada pertimbangan yang kompleks dan komprehensif dengan mengakomodasi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Hasil analisis dengan menggunakan ANP mengindikasikan bahwa elemen yang paling dominan dipertimbangkan adalah kepadatan penduduk, konsumsi air, produksi sampah produksi limbah, konsumsi energy, dll. Selanjutnya dengan pendekatan ANP maka dapat diputuskan bahwa proyek pembangunan kawasan rekreasi merupakan usulan yang paling ideal dibandingkan dengan 2 usulan proyek lainnya.
7. DAFTAR PUSTAKA
Anonymous (2011). Laporan Akhir Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Maros. (Makassar, PT. Yodya Karya).
Anonymous (2010). Laporan Akhir Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kota Maros. (Makassar,
PT. Abdih Mulya Daya).
Gondokusumo, M, D, dkk (2011). Bunga Rampai Pembangunan Kota di Indonesia: Konsep dan Pendekatan.
(Jakarta. Lembaga Penerbit UI-URDI-YSS).
Ibrahim, F. (2013). Pemilihan Trase Jalan dengan Pendekatan ANP. Prosiding Kolokium Jalan Jembatan.
ISBN-978-602-264-032-5 Hal III-5-1.
Navarro, G, dkk (2009). Evaluation of Urban Development Proposals An ANP Approach. International Journal
of Human and Social Sciences 4:7 2009.
Saaty, T.L. (1996). Decision Making With Dependence and Feedback: The Analytic Network Process,
(Pittsburgh, RWS Publications).
Saaty, R.W. (2003). Decision Making In Complex Environments: The Analytic Hierarchy Process (AHP) for
Decision Making and The Analytic Network Process (ANP) for Decision Making with Dependence and Feedback. Super Decisions Tutorial.
Yuksen, I. Dagdeviren. M. (2005). Using the Analytic Network Process (ANP) In A SWOT Analysis – A Case