• Tidak ada hasil yang ditemukan

Krisis Ekonomi Perekonomian Indonesia Tu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Krisis Ekonomi Perekonomian Indonesia Tu"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV KRISIS EKONOMI

A. Jenis Krisis Ekonomi dan Jalur Transmisi Dampaknya

Suatu perubahan ekonomi dapat menjelma menjadi suatu krisis ekonomi. Dilihat dari proses terjadinya, krisis ekonomi mempunyai dua sifat yang berbeda. Pertama, krisis ekonomi yang terjadi secara mendadak atau muncul tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, yang umum disebut goncangan ekonomi tak terduga. Misalnya, kenaikan harga minyak yang sangat besar di pasar internasional pada tahun 1974, yang dilakukan oleh OPEC sebagai suatu reaksi keras dari negara-negara Barat terutama AS dan Eropa Barat terhadap Israel yang sedang terlibat suatu perang besar dengan negara-negara Arab, khususnya, Mesir, Suriah, Irak dan Yordania. Sedangkan bagi Indonesia yang saat itu masih menjadi salah satu pengekspor minyak di dunia, peristiwa tersebut merupakan suatu keuntungan besar (oil boom) yang memberikan pemasukan yang sangat besar (yang tidak terduga sebelumnya) bagi pemerintah.

Sedangkan krisis ekonomi yang sifatnya tidak mendadak, melainkan melewati suatu proses akumulasi yang cukup panjang, adalah seperti krisis ekonomi global yang terjadi pada periode 2008-2009. Krisis ini diawali dengan suatu krisis keuangan yang paling serius yang pernah terjadi di AS setelah depresiasi pada dekade 30-an, yang akhirnya merembet ke negara-negara maju lainnya seperti Jepang dan Eropa lewat keterkaitan-keterkaitan keuangan global. Setelah beberapa bulan kemudian ekonomi dunia mulai mengalami resesi yang ditandai dengan penurunan pendapatan dan permintaan global yang juga berimbas pada perekonomian Indonesia dan banyak negara lainnya di dunia.

Suatu krisis ekonomi di suatu negara atau wilayah bisa berasal dari luar atau dari dalam negara/wilayah tersebut. Bersumber dari dalam, misalnya penurunan produksi suatu komoditas secara mendadak. Bersumber dari luar adalah seperti krisis ekonomi global 2008-2009, atau krisis minyak pertama pada tahun1974 dan kedua pada tahun 1979.

Berikut ini akan dibahas sejumlah tipe krisis ekonomi yang mana dunia atau banyak negara pernah mengalaminya dalam 50 tahun belakangan ini (1961-2011, atau kemungkinan besar akan terjadi dimasa yang akan datang.

1. Krisis Produksi

(2)

Kelebihan permintaan/harga

Inflasi

Output Pertanian

Kemiskinan

Input bagi sektor-sektor lain

Kesempatan kerja/pendapatan Produksi di sektor-sektor lain

Gambar 1: Krisis Produksi Domestik dan Dampaknya terhadap Kemiskinan

Dalam tipe krisis ini, jalur-jalur transmisi dampaknya terhadap kemiskinan adalah perubahan-perubahan dalam harga (inflasi), jumlah kesempatan kerja dan tingkat pendapatan. Kelompok-kelompok masyrakat yang paling rentan terhadap tipe krisis ini adalah petani dan keluarganya, buruh tani dan keluarganya, dan pada peringkat berikutnya adalah pekerja dan pemilik-pemilik usaha sertai keluarga-keluarga mereka di sektor-sektor lainnya yang terkait lewat produksi dengan subsektor padi.

2. Krisis Perbankan

Dampak langsung atau fase pertama dari efek krisis perbankan adalah kesempatan kerja dan pendapatan mennurun disubsektor keuangan tersebut. Pada fase kedua krisis perbankan merembet ke perusahaan perusahaan yang sangat tegantung pada sektor perbankan.

Rumah tangga juga kena dampaknya. Ada dua macam dampak terhadap rumah tangga dan dua tipe kelompok rumah tangga yang terkena dampaknya. Pertama, kelompok rumah tangga kaya: tabungan mereka hilang karena bank-bank yang menyimpan uang mereka bangkrut. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pemeritah memberikan jaminan keamnan bagi pemilik-pemilik rekening tabungan di perbankan, tapi hanya hingga suatu batas (jumlah) tertentu saja. Kedua, kelompok rumah tangga non-kaya: pengeluaran-pengeluaran mereka terutama untuk barang-barang bukan kebutuhan pokok (seperti mobil, rumah, naik haji) menurun karaena mereka tidak bisa meminjam dari bank, atau masih tetap bisa mendapatkan kredir konsumen dengan tingkat R yang sangat tinggi yang membuat biaya pinjaman terlalu mahal.

(3)

Harga minyak di pasar Internasional

Biaya impor minyak

Biaya produksi

Kemiskinan Inflasi

Volume produksi konstan

Volume Produksi

Kesempatan kerja Memakai sumber enerji alternatif

jumlah kesempatan kerja, dan tingkat pendapatan masyarakat.Kelompok-kelompok masyarkat yang paling rentan terhadap krisis ini adalah bukan masyrakat miskin seperti dalam kasus krisis produksi pertanian, melainkan masyarakat kelas menengha dan atas seperti pegawai dan pemilik bank.

3. Krisis Nilai Tukar

Suatu perubahan kurs dari sebuah mata uang, misalnya rupiah terhadap dolar AS dianggap krisis apabila kurs dari mata uang tersebut mengalami penurunan atau depresiasi yang sangat besar yang prosesnya mendadak atau berlangsung terus-menerus yang membentuk sebuah tren yang meningkat (rupiah per satu dolar AS). Dampak langsung dari perubahan tersebut adalah pada ekspor dan impor. Paling tidak menurut teori konvensional mengenai perdagangan internasional, depresiasi nilai tukar dari suatu mata uang terhadap misalnya dolar AS yang membuat daya saing harga (dalam dolar AS) dari produk-produk buatan negara dari mata uang tersebut menjadi lebih murah, yang selanjutnya membauat volume ekspornya meningkat.

Dalam tipe krisis ekonomi ini, jalur-jalur transmmisi kuncinya adalah perubahan dalam volume ekspor-impor. Sedangkan jalur-jalur sekundernya adalah perubahan dalam volume produksi, jumlah kesempatan kerja, tingkat pendapatan dan laju inflasi. Kelompok masyrakat yang paling rentan terhadap krisis nilai tukar adalah mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang berurusan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan ekpor-impor.

4. Krisis Perdagangan

(4)

Gambar 2 Krisis Minyak dan Dampaknya pada Kemiskinan di Negara-Negara Pengimpor Minyak

Dalam kasus ini, jalur-jalur transmisi paling utama adalah perubahan-perubahan dalam output inflasi,dan kesempatan kerja. Kelompok-kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap krisis tipe ini yaitu: pertama, perusahaan-perusahaan yang sangat tergantung pada minyak sebagai sumber energi atau bahan baku utama dan pekerja-pekerja (termasuk keluarga-keluarga mereka) di perusahaan-perusahaan tersebut, dan kedua, lewat keterkaitan-keterkaitan produksi dan konsumsi/pendapatan domestik, yaitu perusahaan-perusahaan atau sektor-sektor yang terkait, termasuk pekerja-pekerja (termasuk keluarga-keluarga mereka).

5. Krisis Modal

Terakhir, suatu pengurangan modal di dalam negeri dalam jumlah besar atau penghentian bantuan serta pinjaman luar negeri akan menjadi sebuauh krisis ekonomi bagi banyak negara miskin di dunia, seperti di Afrika, dan Asia Tengah yang ekonomi mereka selama ini sangat tergantung pada ULN atau hibah Internasional.

Suatu pelarian modal, baik yang berasal dari sumber dalam negeri maupun modal asing, terutama investasi asing jangka pendek (yang umum disebut ‘uang panas’), dalam jumlah yang besar dan secara mendadak bisa menjelma menjadi sebuah krisis besar bagi ekonomi dari negara-negara yang sangat memerlukan modal investasi.

Dalam kasus ini, jalur-jalur transmisi memiliki dampak utama, yakni perubahan-perubahan dalam jumlah investasi, khususnya investasi jangka panjang (volume atau unit proyek), volume produksi, dan jumlah tenaga kerja yang bekerja. Kelompok-kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap krisis ekonomi dari kategori ini bisa kelompok miskin tetapi juga bisa kelompok non-miskin, tergantung pada sektor atau industri yang paling dirugikan dengan kekurangan modal investasi.

B. Jalur Transmisi Kunci dan Indikator Monitoring Dampak Krisis

(5)

(*) Jalur-jalur pertama atau primer, yaitu efek-efek pertama yang muncul; (**) Jalur-jalur kedua/sekunder

(***) jalur-jalur ketiga; dst

Tabel 1 : Jalur- Jalur Transmisi Dampak Utama dan Indikator-Indikator Utama untuk Memonitor Pengaruh dari Krisis Ekonomi menurut Tipe Krisis

Tipe Krisis Ekonomi Jalur-Jalur Transmisi Utama Indikator-Indikator Utama untuk Memonitor Dampak

Krisis Produksi Kesempatan Kerja* Pendapatan* Inflasi*

Output menurut sektor dan wilayah

Kesempatan kerja menurut sektor dan wilayah Pendapatan menurut sektor dan wilayah

Kesempatan kerja menurut sektor dan wilayah Pendapatan menurut sektor dan wilayah

Kesempatan kerja menurut sektor dan wilayah Pendapatan menurut sektor dan wilayah

Kesempatan kerja menurut sektor dan wilayah Pendapatan menurut sektor dan wilayah

Kesempatan kerja menurut sektor dan wilayah Pendapatan menurut sektor dan wilayah

(6)

untuk membuat banyak investor dan pengusaha gugup dalam menanggapinya. Pelarian tersebut mengakibatkan nilai tukar rupiah bath terhadap dolar AS terdepresiasi dalm jumlah yang besar. Dalam jangka waktu yang tidak lama, hal yang sama juga terjadi di Indonesia.

Prosesnya mulai terjadi pada pertengahan kedua taun 1997 dan terus berlangsung hingga sempat mencapai di atas Rp 10.000 per satu dolar AS dalam periode 6 bulan pertama tahun 1998. Pemerintah waktu itu berupaya mengehentikan jatuhnya nilai tukar rupiah dan sekaligus membalikkan arus modal yang lari kembali ke dalam negeri dengan menaikkan tingkat suku bungan tabungan dalm suatu persentase yang paling tinggi yang pernah dilakukan oleh otoritas moneter Indonesia dalam sejarah negara terebut. Namun, upaya itu gagal mengehentikan laju penurunan nilai rupiah dan tidak mampu menarik kembali modal dari luar Indonesia. Akhirnya, pemerintah Indonesia terpaksa melepas sistem penentuan kurs rupiah managed floating (bebas terkendali; kurs rupiah bebas bergerak ke atas dan ke bawah, namun ada batas maksimum dan minimum) pada tahun 1998, karena Bank Indonesia mulai kehabisan stok dolar AS untuk intervensi pasar.

Setelah pengalaman pahit tersebut, pemerintah Indonesia melakukan banyak langkah untuk mencegah agar di kemudian hari walaupun krisis seperti tahun 1997-1998 tersebut akan sangat mungkin muncul kembali namunn dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dapat ditekan seminimum mungkin. Langkah-langka tersebut terutama fokus pada:

1. Memperkuat ekspor non-migas

2. Mengurangi dan menghilangkan ketergantungan pada ULN (utang luar negeri), impor dan investasi jangka pendek atau yang bermotivasi spekulasi dihilangkan 3. Memperkuat sektor perbankan/keuangan

4. Menerpakan kembali mekanisme penentuan lurs berdasarkan sistem bebas terkendali

5. Menyiapkan cara penanggulangan krisis yang bagus dengan memperhatikan semua faktor-faktor yang secar teori sangat memungkinkan munculnya suatu krisis serupa

2. Krisis Ekonomi Global 2008-2009

(7)

krisis ini disebut sebagai krisis ekonomi paling serius setelah depresiasi ekonomi besar yang terjadi pada dekade 30-an.

Berdasarkan laporan mengenai perekonomian Asia dari IMF (International Monetery Fund) yang dikeluarkan pada bulan April 2009, pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut secara keseluruhan di prediksi menurun sekitar 1,4 persen pada tahun 2009.

Krisis 2008-2009 tersebut mempengaruhi banyak negara melalui sejumlah jalur, yaitu ekspor, investasi (termasuk PMA), dan pengiriman uang dari pekerja-pekerja migran. Namun demikian, jalur yang paling utama untuk sebagian besar negara-negara yang terkena dampaknya adalah ekspor.

Ekspor merupakan jalur transmisi yang memiliki dampak bagi kebanyakan negara, terutama negara-negara yang berorientasi ekspor seperti Hongkong-Cina, Korea Selatan, Malaysia, Singapora, Cina-Taipei, dan Thailand maka krisis ekonomi global 2008-2009 (berbeda dengan kasus krisis 1997-1998) bagi banyak negara, termasuk Indonesia, merupakan sebuah krisis permintaan dunia.

Sebuah krisis ekonomi bersumber dari luar seperti krisis 2008-2009 yang dapat memberi suatu dampak sangat buruk terhadap sebuah negara, namun pada saat yang bersamaan, beberapa sektor ekonomi di negara itu bisa sama sekali tidak merasakan dampaknya. Ada beberapa sektor yang lebih berorientasi ekspor daripada sektor-sektor lainnya, dan ada pula beberapa sektor yang mempunyai ketergantungan besar terhadap impor, sementara ada pula beberapa sektor lainnya yang sangat tergantung pada hanya menjualnya pada pasar domestik dan menggunakan hanya input-input dari dalam negeri. Jadi, dari sisi produksi/suplai, sektor-sektor ekonomi yang berbeda bisa mengalami dampak yang berbeda dari krisis 2008-2009. Untuk melihat hal ini, Tabel 2 memperlihatkan laju pertumbuhan PDB Indonesia berdasarkan tiga sektor periode yaitu: sebelum krisis 1997-1998, setelah krisis tersebut hingga menjelang krisis 2008-2009 dan krisis 2008-2009.

Tabel 2: Pertumbuhan PDB Indonesia menurut Sektor 1995-2010 (% tahun-ke-tahun)

Sektor 1995 2000 2007 2008 2009

Pertanian 4,4 2,3 3,4 4,8 4,1

Pertambangan 6,7 5,3 2,0 0,5 4,4

Industri Manufaktur 10,8 5,5 4,7 3,7 2,1 Listrik, Gas, dan Suplai Air 15,9 9,6 10,3 10,9 13,8

Bangunan 12,9 5,8 8,6 7,3 7,1

Perdagangan, Hotel, dan Restoran 7,9 8,5 8,4 7,2 1,1 Transportasi dan komunikasi 8,5 8,7 13,9 16,7 15,5

Keuangan 11,0 5,7 8,0 8,2 5,0

(8)

PDB 6,2 5,4 6,3 6,1 4,5

Seperti yang dapat dilihat, sebelum terjadinya krisis 1997-1998 itu, kinerja ekonomi Indonesia sangat baik dengan laju pertumbuhan PDB yang tinggi rata-rata pertahun selama dekade 80-an hingga pertengahan tahun 90-an. Satu tahun sebelum krisis 2008-2009 terjadi perekonomian Indonesia relatif sehat, walaupun laju pertumbuhan PDBnya masih di bawah tingkat yang pernah dicapai pada era sebelum krisis 1997-1998 itu terjadi. Selama periode krisis 2008-2009, semua sektor ekonomi mampu mempertahankan pertumbuhan output tetap positif walaupun dalam laju-laju yang menurun. Khusus industri manufaktur, indeks produksi (2000=100) di Indonesia mengalami suatu penurunan dari tingkat maksimum 131,83 yang tercatat pada bulan Agustus 2008 ke 124,17 pada bulan Januari 2009, setelah itu mulai naik kembali.

Gambar

Gambar 1: Krisis Produksi Domestik dan Dampaknya terhadap Kemiskinan
Tabel 1 : Jalur- Jalur Transmisi Dampak Utama dan Indikator-Indikator Utama
Tabel 2: Pertumbuhan PDB Indonesia menurut Sektor 1995-2010 (% tahun-ke-tahun)

Referensi

Dokumen terkait

Namun penurunan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia pada tahun 2004 dengan pertimbangan tekanan inflasi selama krisis ekonomi lebih banyak bersumber dari sisi penawaran