• Tidak ada hasil yang ditemukan

I NFORMATION FOR THEG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "I NFORMATION FOR THEG"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

K

EBUTUHAN

I

NFORMASI

K

ELOMPOK

M

ASYARAKAT

B

ERPENGHASILAN

R

ENDAH

T

HE

N

EED OF

I

NFORMATION FOR THE

G

RASS

R

OOTS

Kasiyanto

Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Surabaya

Taman Surya Agung Blok F2/14 Wage Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, Hp.082338216000 Email: [email protected]

diterima: 8 September 2015 | direvisi: 18 September 2015 | disetujui: 30 September 2015

ABSTRACT

The aim of the research is (1) to find out what are the information needed by the grass roots, (2) to find out what media used to find the information, and (3) to find out how do they fullfil their information need. This study uses information need theory, while the method is descriptive qualitative approach through choosing purposive method, leader of kertosari village as the informant. From the result it can be conclude that ,the information needed by the grass roots in Kertosari village are information about health, education, farming, market, the media which is used to find the information is television and radio. These media are actually used to fullfil their information coincidentally. It means that while they watch television and heard radio, they heard and watch the information which they need, and, the way they fullfil their information need. Besides television and radio, there is special way to fullfil information need that is the utilization of UNDP established by Telecenter institution as the tool to fullfil the information for the grass roots. It is also to answer a problem about information discrepancy/ digital descrepency to the grass roots in Kertosari village.

Keywords: Information Need, The Grass Roots, ICT, Digital Discrepancy.

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui informasi apa saja yang dibutuhkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, (2) mengetahui media apa saja yang digunakan untuk mencari informasi, dan (3) mengetahui cara pemenuhan kebutuhan informasi. Teori yang digunakan adalah teori kebutuhan informasi. Sedang metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan memilih secara purposif, tokoh masyarakat di Desa Kertosari sebagai narasumber. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Informasi yang dibutuhkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di Desa Kertosari adalah informasi kesehatan, informasi pendidikan, informasi pertanian, dan informasi pasar. Media yang digunakan untuk mencari Informasi adalah media televisi dan media radio. Media televisi dan radio sebenarnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi itu secara kebetulan, artinya kebetulan sedang menghidupkan televisi dan radio kemudian secara kebetulan ada informasi informasi yang dibutuhkan tersebut. Dan terakhir, Cara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi. Selain melaui media televisi dan radio terdapat cara khusus untuk memenuhi kebutuhan informasinya yaitu dengan cara memanfaatkan dengan bantuan UNDP didirikan lembaga telecenter Semeru sebagai sarana memenuhi kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah sekaligus menjawab masalah kesenjangan informasi / kesenjangan digital pada masyarakat berpenghasilan rendah di Desa Kertosari tersebut.

(2)

I.

PENDAHULUAN

Menurut Lewis (1984 dalam Suparlan) menyatakan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah adalah kelompok masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi, sosial, budaya dan politik yang cukup lama sehingga menghasilkan suatu kebudayaan yang disebut budaya miskin. Masyarakat berpenghasilan rendah ini terperangkap dalam budaya miskinnya sehingga mereka tidak dapat lagi melihat potensi-potensi yang dimilikinya. Sedangkan menurut Asian Development Bank (ADB) masyarakat berpenghasilan rendah adalah masyarakat yang tidak memiliki akses dalam proses menentukan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka. Dilihat dari segi sosial, mereka tersingkir dari institusi masyarakat. Dilihat dari segi ekonomi terlihat bahwa dari rendahnya kualitas sumber daya manusia, menyebabkan rendahnya tingkat penghasilan mereka. Dari segi budaya dan tata nilai, mereka terperangkap dalam etos kerja yang rendah, pola pikir pendek dan fatalism, serta akses terhadap fasilitas lingkungan sangat rendah, termasuk akses terhadap fasilitas informasi.

Permenpera No. 5/PERMEN/M/2007 menya-takan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah adalah masyarakat dengan penghasilan di bawah dua juta lima ratus ribu rupiah (RP.2.500.000) per bulan. Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah banyak yang hidup di desa, dalam keterbatasan ekonomi dan keterbatasan akses informasi, Masyarakat berpenghasilan rendah sebenarnya juga memiliki kebutuhan informasi yang sama dengan masyarakat lainnya, hanya masalahnya masyarakat berpenghasilan rendah yang kebanyakan tinggal di desa tidak memiliki atau belum terdapat fasilitas yang memudahkan akses informasi, Menurut Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Depkominfo, Sukemi terdapat tigapuluh dua ribu desa blankspot di Indonesia, Selain itu ada ratusan desa yang belum dialiri listrik. Tentu hal ini menghambat dalam memenuhi kebutuhan informasi.

Pemerintah pernah mencanangkan Desa Informasi untuk mengatasi kesenjangan ketersediaan informasi, karena pemenuhan akan

kebutuhan ini dijamin oleh UUD Pasal 28F. Namun, hingga saat ini, hanya sedikit desa yang menjadi percontohan desa informasi, bahkan proyek yang menelan biaya Rp 300.000.000 setiap desa percon-tohan itupun belum menunjukan hasil yang signifikan. Pemerintah juga telah memprogamkan perpustakaan desa sebagai sarana pemasok infor-masi bagi masyarakat desa. Dengan adanya UU NO.43 tahun 2007, masyarakat desa dijamin mem-peroleh pelayanan perpustakaan secara khusus dengan membentuk Perpustakaan Desa. Keputusan Menteri Dalam Negeri No 3 Tahun 2001 tentang perpustakaan desa/kelurahan juga memperkuat landasan hukum berdirinya perpustakaan desa. Dengan adanya instruksi ini pendirian perpustakaan desa dilakukan di berbagai daerah, namun usaha tersebut juga tidak menunjukkan hasil yang meng-gembirakan. Perpustakan didirikan di desa-desa tetapi sangat jarang masyarakat desa yang memanfaatakan perpustakaan tersebut, ini dise-babkan karena banyaaknya yang buta aksara

Data Susenas 2004 menunjukkan bahwa angka buta aksara penduduk Indonesia hampir 15 juta atau 8%. Penduduk berusia tua ternyata lebih tinggi dibandingkan penduduk berusia muda, sementara itu, buta aksara penduduk usia muda lebih banyak ditemukan di pedesaan dibandingkan di perkotaan (15,5 : 12,8), sebaliknya angka buta aksara penduduk berusia tua lebih banyak di perkotaan (39,1 : 30,4). Kemampuan keaksaraan ditentukan oleh tingkat pendidikan sehingga mayoritas (84,3%) tidak/belum pernah sekolah dan sisanya pernah bersekolah maksimal sampai kelas IV SD/MI. Artinya, ada anak yang sudah pernah sekolah tetapi tidak bisa membaca. Kemung-kinannya adalah: (1) pada dasarnya mereka belum bisa membaca; atau (2) mereka menjadi buta huruf kembali (rellapsed illiteracy) setelah tidak sekolah.

http://www.kompasiana.com/adinbondar.kom pasiana. com/logical-framework-pembangunan- perpustakaan-desa-kelurahan-dalam-rangka-

peningkatan-kegemaran-membaca_54f7b369a333112b6f8b4bc6

(3)

namun kondisi yang ada akses masyarakat terhadap buku bacaan yang berkualitas sangat rendah. Permasalahan ini juga diperparah rendahnya daya beli masyarakat terhadap buku yang diakibatkan tingkat ekonomi masyarakat yang masih rendah. http://www.kompasiana.com/

adinbondar.kompasiana.com/logical-framework- pembangunan-perpustakaan-desa-kelurahan- dalam-rangka-peningkatan-kegemaran-membaca_54f7b369a333112b6f8b4bc6

Perpustakaan desa/kelurahan sebagai lembaga pendidikan non formal dan lembaga penyedia informasi di masyarakat desa/kelurahan harus memiliki kinerja yang baik dan didukung dengan manajemen yang memadai, sehingga seluruh aktivitasnya mengarah para upaya pencapaian tujuan yang telah dicanangkan.

http://www.academia.edu/5535183/Kajian_Pe rpustakaan_DesaDi_Indonesia

Berdasar latar belakang masalah tersebut perlu dilakukan penelitian tentang kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah de-ngan rumusan masalah penelitian sebagai berikut.

1. Informasi apa saja yang dibutuhkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah?

2. Media apa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah?

3. Bagaimana cara kelompok masyarakat berpenghasilan rendah memenuhi kebutuhan informasinya?

Dengan latar belakang penelitian diatas, penelitian ini bertujuan:

1. Ingin mengetahui informasi apa saja yang dibutuhkan kelompok masyarakat berpeng-hasilan rendah.

2. Ingin mengetahui media apa saja yang digu-nakan untuk mencari informasi,

3. ingin mengetahui cara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi

Maslow (1994) dalam teori hirarki kebutuhan manusia mengklasifikasikan kebutuhan manusia menjadi lima tingkatan, sebagai berikut:

1. Kebutuhan fisiologis (psychological needs), yaitu kebutuhan akan sandang, pangan dan papan, yang merupakan kebutuhan primer.

2. Kebutuhan akan rasa aman (safety needs), yaitu kebutuhan akan keamanan jiwa dan harga diri.

3. Kebutuhan sosial (social needs), terdiri dari: kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain dalam hidup bermasyarakat dan bekerja (sense of belonging). Kebutuhan akan perasaan dihormati karena manusia merasa dirinya penting (sense of importance) Kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal (sense of achievement). Kebutuhan akan perasaan ikut serta (sense of participation)

4. Kebutuhan akan prestise (esteem needs). Prestise yang timbul karena prestasi, tapi ada pula yang berdasarkan kepada keturunan. Prestise yang timbul karena prestasi adalah sesuatu yang diusahakan, dan semakin tinggi kedudukan seseorang, prestisenya semakin baik.

(4)

Sebelum membahas teori kebutuhan informasi alangkah baiknya jika kita mengetahui apa yang disebut dengan informasi. Beberapa ahli merumuskan definisi informasi, Menurut Krikelas informasi adalah suatu rangsangan yang menciptakan ketidakpastian, membuat seseorang sadar akan kebutuhan dan menciptakan suatu perubahan dalam tingkat derajat tertentu.

Sehubungan dengan itu, penemuan informasi sangat penting karena informasi telah menjadi kebutuhan bagi setiap diri manusia. Seseorang akan melakukan penemuan informasi karena adanya sebuah kebutuhan, kebutuhan informasi ini didorong oleh keadaan diri seseorang dan peran dalam lingkungannya. Hal ini muncul jika sese-orang merasa bahwa pengetahuan yang dimiliki kurang dan ada hasrat untuk memenuhi penge-tahuannya tersebut dengan cara menemukan infor-masi yang diinginkan. Selanjutnya inforinfor-masi terse-but digunakan untuk menambah pengetahuan dalam hal pekerjaan, lingkungan (seseorang tersebut berada), untuk mengambil keputusan, dan lain sebagainya.

Wilson, menyatakan bahwa perilaku pene-muan informasi (Informatin Seeking Behaviour) merupakan upaya menemukan dengan tujuan tertentu sebagai akibat dari adanya kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu termasuk kebutuhan informasi. Dalam upaya ini, seseorang dapat saja berinteraksi dengan sistem informasi hastawi, (mi-salnya, surat kabar, majalah, perpustakaan), atau yang berbasis komputer (misalnya, World Wide Web atau internet). Teori perilaku penemuan infor-masi tergolong dalam teori modern yang kemudian berkembang menjadi teori model peri-laku informasi manusia dan kebutuhan informasi.

(http://shoima93.

blogspot.co.id/2013/12/teori-penemuan informasi- information. html)

Menurut Krikelas (1983), kebutuhan informasi adalah pengakuan tentang adanya ketidakpastian dalam diri seseorang yang mendorong seseorang untuk mencari informasi. Dalam kehidupan yang sempurna, kebutuhan informasi (information needs) sama dengan keinginan informasi (information wants), namun pada umumnya ada kendala seperti ketiadaan waktu, kemampuan, biaya, faktor fisik,

dan faktor individu lainnya, yang menyebabkan tidak semua kebutuhan informasi menjadi kei-nginan informasi. Jika seseorang sudah yakin bahwa sesuatu informasi benar-benar diinginkan, maka keinginan informasi akan berubah menjadi permintaan informasi (information demands).

Menurut Lewis (1984 dalam Suparlan) masyarakat berpenghasilan rendah adalah kelompok masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi, sosial, budaya dan politik yang cukup lama sehingga menghasilkan suatu kebudayaan yang disebut budaya miskin. Masyarakat berpenghasilan rendah ini terperangkap dalam budaya miskinnya. Sehingga mereka tidak dapat lagi melihat potensi-potensi yang dimiliki. Sedangkan menurut Asian Development Bank (ADB) masyarakat berpenghasilan rendah adalah masyarakat yang tidak memiliki akses dalam proses menentukan keputusan yang menyangkut kehi-dupan mereka. Secara sosial mereka tersingkir dari institusi masyarakat. Secara ekonomi terlihat dari rendahnya kualitas sumber daya manusia sehingga menyebabkan rendahnya tingkat peng-hasilan mereka. Secara budaya dan tata nilai mereka terperangkap dalam etos kerja yang rendah, pola pikir pendek dan fatalisme. Serta akses mereka terhadap fasilitas lingkungan yang sangat rendah. Termasuk akses terhadap fasilitas informasi juga rendah.

Kemudian menurut Permenpera No. 5/PERMEN/M/2007 masyarakat berpenghasilan rendah adalah masyarakat dengan penghasilan dibawah dua juta lima ratus ribu rupiah per bulan.

Budihardjo (1991) berpendapat bahwa menen-tukan golongan masyarakat berpenghasilan rendah tidaklah mudah karena ketidak pastian penda-patannya.

Sehingga dalam hal ini pendapat yang paling mudah diidentifikasi dilapangan adalah masyarakat berpenghasilan rendah berdasarkan Permenpera No. 5/PERMEN/M/2007, sedangkan pengertian lainnya merupakan akibat maupun dampak dari lemahnya

II.

METODOLOGI

(5)

dan kata-kata serta tingkah laku subyek studi. Penelitian kualitatif menggunakan teknik pengamatan berperan serta (participant observation) dan melakukan dialog-dialog yang tidak terstruktur (unstructured interviewing), namun tetap terarah sesuai permasalahan studi. Dengan demikian metode kualitatif dapat memberikan data yang lebih luas dan dalam, karena adanya peluang bagi peneliti dan informan untuk berinteraksi secara leluasa (Reinharz 1991).

Penelitian pada hakikatnya merupakan wahana untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran (Moloeng 1998). Moleong mengungkapkan metodologi kualitatif se-bagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskritif berupa kata kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Sehubungan dengan itu maka, jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti setatus sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskipsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Addin, Metode Penelitian Deskriptif http://addhintheas. blogspot.co.id/2013/ 04/metode-penelitian-deskriptif.html

Teknik pengumpulan data yang dilakukan terhadap tokoh masyarakat Desa Kertosari melalui tiga (3) cara antara lain:

1. Wawancara mendalam yang bersifat terbuka untuk menggali data kualitatif tentang kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

2. Observasi terhadap kebiasaan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dalam memenuhi kebutuhan informasi, dan observasi terhadap kegiatan telecenter Semeru terutama kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan mengatasi masalah kesenjangan informasi pada masyarakat miskin di Desa Kertosari, Kabupaten Lumajang.

3. Dokumentasi, mengumpulkan data file dokumentasi berupa data yang tercatat di Desa

Kertosari tentang kegiatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasi dan dokumen profil telecenter Semeru.

Penentuan informan dilakukan dengan mencari informan kunci yaitu orang yang dianggap mengerti dan memahami permasalahan yang diteliti, dan sekaligus mampu membantu peneliti, jika mengalami kesulitan dalam proses di lapangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Yin (1996) yang mengatakan bahwa “Informan-informan kunci sangat penting bagi keberhasilan studi. Mereka tak hanya memberi keterangan tentang sesuatu kepada peneliti tetapi juga memberi saran tentang sumber-sumber bukti lain yang mendukung serta menciptakan akses terhadap sumber yang bersangkutan

Informan penelitian yang diminta untuk memberikan pendapat, tanggapan, argumentasi di sekitar pemenuhan kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di Desa Kertosari adalah: (1), Bapak Wiro Patmo SE (Kepala Desa Kertosari), (2) Bapak Sahlan (Ketua Pengelola Telecenter Semeru Kertosari Lumajang). Dua (2) informan tersebut dianggap mengerti dan banyak mengetahui tentang permasalahan penelitian. Dengan demikian sangat dimungkinkan semua permasalahan penelitian dan pertanyaan-pertanyaan penelitian akan dapat dijawab dan diberikan argumentasi yang baik dan rasional, dengan harapan informasi yang diberikan itu dapat menghasilkan rumusan model kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di Desa Kerto sari Kabupaten Lumajang.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif, yaitu analisis data yang berupa kata-kata, tulisan dan gambar berbagai kegiatan Telecenter Semeru. Analisis data dibagi dua tahap yaitu tahap analisis mikro dan tahap analisis makro. Pada analisis mikro melalui beberapa tahap dengan langkah-langkah analisis sebagai berikut:

(6)

2. menentukan kesamaan-kesamaan pendapat dan atau penilaian subyek penelitian terhadap obyek penelitian tentang pemenuhan kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

3. melakukan klarifikasi dan kategorisasi terhadap pendapat subyek penelitian.

4. mencari hubungan di antara masing-masing kategorisasi yang ada untuk menentukan bentuk bangunan permasalahan penelitian yang dirumuskan.

5. menyiapkan draf laporan penelitian untuk didiskusikan dalam analisis data penelitian.

Pada tahap analisis makro, dilakukan analisis mendalam untuk menemukan contoh kasus lengkap dan terperinci tentang pemenuhan kebutuhan informasi di Desa Miskin Kertosari Lumajang.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Informasi Yang Dibutuhkan Kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Menurut Wiro Patmo, Kepala Desa Kertosari dan Pak Sahlan Ketua/pengelola Telecenter Semeru Kertosari. Kabupaten Lumajang, Informasi yang dibutuhkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah/masyarakat miskin di Desa Kertosari adalah informasi kesehatan, pendidikan, pertanian, dan informasi pasar.

Bapak Wiro Patmo SE (Kepala Desa Kertosari), menerangkan tenteng berbagai informasi yang dibutuhkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di desa kertosari sebagai berikut :

“informasi mendasar yang sangat

dibutuhkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah adalah infor-masi tentang kesehatan, inforinfor-masi tentang pendidikan, informasi ten-tang masalah pertanian, tentang bi-bit pertanian dan cara bercocok tanam

yang baik”

Bapak Sahlan selaku Ketua pengelola Telecenter Semeru Lumajang menjelaskan bahwa:

“Kebutuhan informasi kelompok

masyarakat berpenghasilan rendah

/miskin di Desa Kertosari adalah ke-butuhan informasi pendidikan, kebu-tuhan informasi kesehatan, kebukebu-tuhan informasi pertanian dan kebutuhan in-formasi pasar inin-formasi yang dibu-tuhkan sangat minim karena terken-dala oleh beberapa hal, seperti keti-adaan waktu, kurangnya kemampuan, biaya yang minim, faktor fisik, dan

faktor individu lainnya”

B. Media Yang Digunakan Untuk Mencari Informasi

Berdasarkan wawancara mendalam terhadap dua tokoh Desa Kertosari diperoleh informasi/data mengenai media yang tersedia di Desa Kertosari dan dapat digunakan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah untuk memenuhi kebutuhan informasi adalah televisi, dan radio, perpustakan desa, dan telecenter.

Kepala Desa Kertosari dan ketua/pengelola telecenter, menyampaikan pengetahuannya bahwa media untuk mencari informasi masyarakat berpenghasilan rendah di Desa Kertosari ada empat (4) macam media yaitu :

1. Televisi, menurut dua tokoh desa tersebut, televisi merupakan media yang paling banyak digunakan masyarakat desa Kertosari, term-asuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah karena televisi merupakan media yang hampir semua masyarakat miskin memiliki. 2. Radio, menurut dua tokoh desa tersebut, Radio

merupakan media yang paling banyak kedua setelah televisi yang digunakan masyarakat desa Kertosari, termasuk kelompok masya-rakat berpenghasilan rendah untuk mencari informasi, karena Radio merupakan media yang hampir semua masyarakat juga memiliki. 3. Perpustakaan Desa. menurut dua tokoh desa tersebut perpustakaan desa merupakan media yang paling sedikit digunakan masyarakat Kertosari, karena banyak masyarakat miskin Desa Kertosari yang buta huruf dan kemampuan membacanya kurang, jadi walaupun telah disediakan perpustakaan desa masyarakat tidak tertarik untuk mencari infor-masi melalui perpustakaan desa.

(7)

member-dayakan masyarakat miskin di daerah-daerah tertinggal. Pembangunan telecenter dapat mengidentifikasi potensi, kondisi, dan kebu-tuhan masyarakat sehingga dapat memberikan layanan yang optimal sesuai dengan kebutuhan spesifik pengguna.

Pak Sahlan Ketua/pengelola Telecenter Se-meru Lumajang menyatakan bahwa:

“Pendirian telecenter Semeru di Dea Kertosari merupakan program pe-ngembangan komunitas lokal dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, untuk itu sebagaimana maksud dan tujuan dibangunnya tele-center, di harapkan telecenter Semeru mampu: (1) Memberdayakan masya-rakat dengan kemudahan akses ter-hadap informasi dasar seperti infor-masi pasar, pertanian, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain; (2) Meningkatkan kemampuan masya-rakat dalam hal mengakses informasi dengan penggunaan komputer, mana-jemen telecenter dan lain-lain melalui pelatihan-pelatihan; (3) Mendorong masyarakat untuk meningangkatkan perekonomian setempat dengan kegi-atan pembangunan komunitas melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi; (4) Mengembangkan ker-jasama dengan pihak-pihak terkait

untuk membangun komunitas lokal.”

Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari penggunaan telecenter, diperlukan adanya pengembangan informasi tentang telecenter, juga sosialisasi terhadap masyarakat yang menjadi sasaran tujuan pembentukan telecenter. Dengan adanya pengembangan website dan sistem informasi telecenter ini di harapkan masyarakat mendapatkan manfaat dari telecenter. Berkait dengan itu lembaga telencer Semeru melaksanakan kegiatan pengembangan dan sosialisasi kepada masyarakat miskin seperti melakuakan pengem-bangan dan sosialisasi keberadaan Telecenter Semeru.

Pak Sahlan Ketua/pengelola Telecenter Se-meru Lumajang menyatakan bahwa:

“Untuk menunjang kemampuan akses

Internet maupun e-mail, pengguna harus mampu mengoperasionalkan komputer. Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan meng-gunakan komputer baik untuk tingkat dasar maupun lanjutan, Telecenter Se-meru menyediakan paket Kursus Komputer dan akses internet untuk umum, dengan biaya yang sangat

murah”.

C. Cara Kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah Memenuhi Kebutuhan Informasi

Cara kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dalam memenuhi kebutuhan Informasi adalah dengan cara, pertama, secara tidak sengaja kebutuhan informasi terpenuhi melalaui media televisi dan radio. Kelompok masyarakat berpeng-hasilan rendah tidak miliki media khusus yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan infor-masinya.

Kedua, secara khusus pemenuhan kebutuhan informasi dilakukan dengan pemanfaatan TIK. Secara kebetulan ada seseorang yang memiliki pengetahuan tentang TIK (teknologi informasi dan komunikasi), mereka tergerak hatinya dan merasa peduli terhadap masyarakat miskin di desa Kertosari.

Ketiga, melalui mekanisme bekerjasama dengan pihak luar yaitu UNDP, melakukan kerjasama kemitraan yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Informasi yang dibutuhkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah diharapkan dapat terpenuhi dengan bantuan pemanfaatan TIK (teknologi informasi dan komunikasi). Maka didirikanlah lembaga telecenter Semeru sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dan sekaligus untuk menjawab masalah kesenjangan informasi pada masyarakat miskin di Desa Kertosari.

(8)

akses terhadap informasi dasar seperti informasi pasar, pertanian, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. (2) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam hal mengakses informasi penggunaan kom-puter, manajemen telecenter dan lain-lain melalui pelatihan-pelatihan; (3) Mendorong masyarakat untuk meningkatkan perekonomian setempat dengan kegiatan pembangunan komunitas melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi; dan (3) Mengembangkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk membangun komunitas lokal.”

Selain untuk mencapai mencapai tujuan telecenter. Menurut pak Sahlan pengelola telecenter Semeru mempuyai tujuan khusus yaitu:

1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat miskin (petani dan nelayan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat miskin dalam pengelolaan usaha dan pemasaran hasil usaha di bidang pertanian telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan tujuan Telecenter Semeru. Pak Sahlan Ketua/pengelola Telecenter Semeru menyatakan bahwa:

Telecenter Semeru Melayani akses internet kepada masyarakat sesuai dengan kebu-tuhan misalnya, informasi pertanian, peternakan, pendidikan, kesehatan, resep-resep masakan/kue dan lain-lain”. Kegi-atan ini meru-pakan salah satu bentuk upaya

menambah pengetahuan masyarakat”

2. Meningkatkan pendapatan serta kesejah-teraan masyarakat miskin melalui penyuluhan dengan pemanfaatan Telecenter. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa usaha mening-katkan pendapatan serta kesejhteraan masyarakat miskin telah dilak-sanakan dan berhasil dengan baik sesuai dengan tujuan Telecenter, seperti yang dikatakan Pak Sahlan Ketua Telecenter Semeru dalam suatu wawancara, bahwa:

Telecenter Semeru memberikan pelatihan produktif yang berupa tambahan ketrampilan kepada masyarakat antara lain pelatihan budidaya bunga, dan budidaya Katak

Bullfrog : Budidaya bunga adalah pusat pelatihan dalam menanam kepada

masyarakat pecinta bunga” dan

semuanya berhasil dengan baik, bahkan dapat meningkatkan pendapatan

masyarakat”.

Dari paparan di atas dapat dikatakan bahwa cara kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dalam memenuhi kebutuhan Informasinya adalah Pertama : secara tidak sengaja terpenuhi melalaiui media televisi dan radio. Kedua : secara khusus memenuhi kebutuhan informasinya melalui media berbasis internet yaitu telecenter dengan dipandu dan atau dibantu pelaksanaannya oleh pengelola telecenter.

D. Pembahasan

Berdasarkan penyajian data dapat dianalisis bahwa informasi yang dibutuhan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di desa kertosari ada empat (4) jenis informasi yaitu : (1) informasi kesehatan ; (2) informas pendidikan; (3) informasi pertanian; (4) informasi harga-harga pasar.

Jenis-jenis informasi tersebut dibutuhkan masyarakat berpenghasilan rendah di desa kertosari karena disesuaikan dengan pekerjaan masyarakat yang bersangkutan, dimana sebagian besar bekerja sebagai petani, maka yang dibutukan adalah informasi pertanian dan informasi tentang harga-harga pasar, selain itu masyarakat juga membutuhkan informasi yang berkait dengan kesehan dan pendidikan, informasi ini sesuai dengan keinginannya untuk menjaga kesehatan dan keinginannya untuk meningkatkan pendidikan keluarganya.

Sebagai kelompok masyarakat berpeng-hasilan rendah yang bekerja sebagai petani perlu terus menjaga kesehatannya agar dapat bekerja dengan baik setiap hari, dan perlu untuk terus meningkatkan pendidikan keluarga dengan harapan dapat meningkatkan pekerjaan agar tidak hanya sebagai petani saja tetapi bisa bertambah dengan pekerjaan lain yang sesuai dengan pendidikannya.

(9)

informasi adalah media Televisi dan media Radio. Televisi dan radio adalah alat elektronik yang sekarang sudah menjadi kebutuhan primer bagi manusia. Televisi adalah sebuah alat pe-nangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Dengan televise, kita bisa mendapatkan banyak informasi baik politik, social , budaya, agama, ekonomi dan lain sebagainya. Dengan begitu televise setiap hari telah mengajak pemirsa untuk berkomunikasi secara searah. (Nisa Abroro (http://semangat-cari-ilmu. blogspot. co.id/2009/10/ peran-dan-fungsi-televisi-sebagai-media.html).

Selanjutnya, media radio merupakan salah satu media komunikasi massa yang Audiensnya mencakup orang-orang dari berbagai jenis pekerjaan, usia, budaya, tempat, dan kondisi sosial ekonomi yang berbeda. Perhatian mereka terfokus pada hal yang sama yaitu berita atau acara yang disajikan. Karena itu informasi radio bersifat publik dan heterogen. Isinya terbuka bagi semua orang. Sama seperti media komunikasi massa lainnya, radio memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai alat penerangan, pendidikan, mempengaruhi massa, dan hiburan. Berkaitan dengan fungsi hiburan, radio tampil memenuhi kebutuhan afektif - estetis seperti emosi dan pengalaman estetis massa. Kepenatan dan kelelahan pun bisa hilang dengan mendengar acara-acara hiburan yang disiarkan oleh suatu stasiun radio.

(http://ptkom.blogspot.co.id/2010/07/meng

ulik-peran-dan-fungsi-radio-masa.html)

Televisi dan radio merupakan media komunikasi massa elektronik yang sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan masyarakat berpenghasilan rendah. Hasil penelitian ini membuktikan, walaupun media televisi dan radio bukan merupakan media yang secara khusus digunakan untuk mencari informasi atau memenuhi kebutuhan informasi. Media yang digunakan mencari informasi secara khusus oleh kelompok masyarakat miskin di Desa Kertosari adalah

media telecenter. Media ini merupakan media berbasis internet yang digunakan oleh masyarakat miskin secara kelompok, dengan bimbingan dan bantuan para pengelola Telecenter kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah secara berkelompok dipenuhi melalui pemanfaatan dan penggunaan telecenter. Telecenter merupakan suatu fasilitas warga, tempat berinteraksi, belajar, bekerja dan bermain dengan memanfaatkan komputer, internet dan berbagai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) lainnya.

Indikasi menunjukkan bahwa segala upaya yang telah dilakukan oleh lembaga telecenter selama ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Layanan informasi yang disediakan oleh lembaga telecenter kelihatannya sudah dimanfaatkan secara optimal oleh petani di desa kertosari melalui bimbingan para pengelola telecenter.

Permintaan informasi (information de-mands) kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di Desa Kertosari boleh dikatakan cenderung minim. Sesuai teori di atas, minimnya permintaan informasi bukan berarti minim pula kebutuhan informasinya, ada kemungkinan bahwa karena berbagai faktor, seperti ketiadaan waktu, kurangnya kemampuan, biaya yang minim, faktor fisik, dan faktor individu lainnya” tetapi juga bisa disebabkan oleh kebutuhan informasi tidak berubah menjadi permintaan informasi.

Sehubungan dengan itu media telecenter Semeru di Desa Kertosari dapat digunakan sebagai contoh dan sebagai sarana menjawab masalah kesenjangan informasi dan akan diabstraksikan secara teliti dan jelas agar dapat dicontoh dalam pemenuhan kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di daerah lain.

(10)

pada umumnya ada kendala seperti ketiadaan waktu, kemampuan, biaya, faktor fisik, dan faktor individu lainnya, yang menyebabkan tidak semua kebutuhan informasi menjadi keinginan infor-masi. Jika seseorang sudah yakin bahwa sesuatu informasi benar-benar diinginkan, maka ke-inginan informasi akan berubah menjadi permintaan informasi (information demands).

Dalam kasus pemenuhan kebutuhan informasi kelompok berpenghasilan rendah/ masyarakat miskin di Desa Kertosari, jika dikaji menurut teori kebutuhan informasi menurut Krikelas, menunjukkan bahwa kebutuhan informasi masyarakat miskin di Desa Kertosari tidak terpenuhi secara maksimal, Hal ini bisa saja diakibatkan oleh ketiadaan waktu, kemampuan yang minim, kekurangan biaya, faktor fisik lainnya. Dilihat dari segi waktu, ada kecen-derungan tidak ada waktu untuk memenuhi kebutuhan informasi, dikarenakan sibuk meme-nuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan primer keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Dilihat dari kondisi ekonomi terlihat bahwa masyarakat Desa Kertosari adalah kelompok masyarakat miskin yamg tidak memiliki biaya untuk memenuhi kebutuhan informasi. Desa Kertosari memiliki tingkat kemiskinan sebesar 55.13 %. Tingkat kemiskinan di Desa Kertosari merupakan tingkat kemiskinan yang tertinggi di Kabupaten Lumajang. http://tctanjungjaya. wordpress. com/about/apa-itu-telecenter/

Salah satu solusi pemenuhan kebutuhan informasi untuk mengatasi masalah kemiskinan yang dapat segera direalisasikan antara lain ialah membangun informasi berbasis internet, yang kegiatannya diawali dengan penyusunan sistem informasi. Dengan membangun basis informasi diharapkan begitu banyak informasi akan dapat diketahui dan akan berdampak pada banyaknya kesempatan berusaha yang bermanfaat bagi masyarakat pedesaaan, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah atau kelompok masyarakat miskin di desa.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Informasi yang dibutuhkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah/masyarakat miskin di Desa Kertosari adalah informasi kesehatan, pendidikan, pertanian, dan informasi pasar.

Media yang tersedia di Desa Kertosari dan dapat digunakan kelompok masyarakat berpeng-hasilan rendah untuk memenuhi kebutuhan infor-masi adalah media televisi, radio, perpustakaan desa dan telecenter. Dalam penelitian ini televisi dan radio tidak secara khusus digunakan untuk mencari atau memenuhi kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di Desa Kerto-sari. Media yang dipersiapkan secara khusus untuk memenuhi keutuhan informasi masyarakat berpeng-hasilan rendah di Desa Kertosari adalah media informasi berbasis internet yaitu Telecenter Semeru Kertosari Lumajang.

Cara kelompok masyarakat berpenghasilan rendah memenuhi kebutuhan Informasi, pertama terpenuhi secara tidak sengaja melalaiui media televisi dan radio, sebenarnya akses televisi dan radio untuk mencari hiburan tetapi secaara kebetulan terdapat informasi yang dibutuhkan. kedua terpenuhi melalui media yang dipersiapkan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan infor-masi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dengan cara membentuk media informasi berbasis internet yaitu Telecenter Semeru, sebagai sarana menjawab masalah kesenjangan informasi pada masyarakat miskin di Desa Kertosari.

B. Saran

(11)

Media televisi dan radio bukan merupakan media yang secara khusus digunakan untuk mencari informasi atau memenuhi kebutuhan informasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, disa-rankan Kementerian Komunikasi dan Infor-matika (Kominfo) membina kedua media tersebut agar digunakan sebagai media mencari informasi atau pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat.

Cara pemenuhan kebutuhan informasi di Desa Kertosari yang paling urgen adalah melalui Telecenter, disarankan kepeda Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) memaksimalkan lembaga Telecenter di desa-desa yang mengalami kesenjangan lnformasi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih disampaikan kepada pimpinan dan para peneliti di Balai Pangkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Banjarmasin, yang telah pembantu peneliti dalam proses pengumpulan data.

DAFTAR PUSTAKA

Addhin, 2013. Metode Penelitian Deskriptif, [online] 27 April. Tersedia di: http://addhintheas.blogspot. co.id/ 2013/04/ metode-penelitian-deskriptif.html [tanggal akses: 24 Maret 2015]

Budihardjo, Eko, 1991, Arsitektur dan Kota di Indonesia, Bandung : Alumni. Chrysnanda. DL dan Yulizar Syafri; 2008. Jakarta. Penerbit JPKIK.

Nasaru, A. 2011. Teknologi Informasi dan Kemiskinan (Digital Devide), [online]

November 2011. Tersedia di:

http://bozscript.blogspot.co.id/2011/11/teknol ogi-informasi-dan-kemiskinan.html [tanggal akses: 25 Maret 2015]

Ahmad, F. 2011. UU KIP Dan Akses Informasi Masyarakat Miskin, [online] http://medialink.or.id/uu-kip-dan-akses-informasi-masyarakat-miskin [tanggal akses: 15 April 2015]

Irwanto, Drs, dkk. 1989. Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Linnas, K. A, 2013. Teori Penemuan Informasi : Information Seeking Theory, [online] 10 Desember. Tersedia di: http:// shoima93. blogspot.co.id/2013/12/teori-penemuan- informasi- information.html [tanggal akses: 25 Juni 2015]

Koswara, E. ed, 1998. Dinamika Informasi Dalam Era Global. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Krikelas, J. 1983. Information Seeking Behavior : Pattern and Concepts. Drexel Library Quarterly, Vol.19 (2)

Lewis, O., 1988. Kisah Lima Keluarga. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Maslow, A., 1994. Motivasi Dan Kepribadian Edisi 2. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.

Moleong, L. J., 1998 Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : Rajagrafindo Persada

Suparlan, P. ed, 1984. Kemiskinan Di Perkotaan, Bacaan Untuk Antropologi Perkotaan. Jakarta : Penerbit Sinar Harapan

Reinharz, S., 1991. Feminist Methods in Social Research. London: Oxford University Press.

(12)

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Seakan-akan ayat yang lalu dan ayat ini menyatakan seandainya ada tuhan-tuhan bersama-Nya pastilah kekuasaan-Nya menjadi rebutan, tetapi kekuasaan di langit dan di bumi

Sedangkan bila dilihat dari karakter komponen hasil seperti jumlah anakan, panjang malai, jumlah malai, umur berbunga, umur panen, berat gabah berisi per rumpun,

Berdasarkan hasil penelitian yaitu menunjukan bahwa ke tujuh wanita PUS akseptor MKJP yang tidak mewujudkan Norma Keluarga Kecil (NKK) di Kelurahan Kelapa Tiga

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024) 8508081, Fax. Bambang

Berdasarkan hasil penelitian tentangefektivitas konsumsi tablet Fe selama menstruasi terhadap peningkatan kadar haemoglobin pada siswi SMAN 3 Palu, maka perlu

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri & Christina (2013: 274) menyatakan bahwa dalam suatu penelitian yang menggunakan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui isi pesan visual, teknik visual, dan strategi kreatif yang dibuat oleh pemenang kategori print ad gold, silver, dan bronze Citra

[r]