MALUKU YANG KAYA ORANG MALUKU YANG MISKI

Teks penuh

(1)

1

MALUKU YANG KAYA

ORANG MALUKU YANG MISKIN

Dalam suatu masyarakat modern, sumber daya adalah modal utama

memajukan kehidupan dan memastikan memperoleh kesejahteraan hidupnya. Sumber daya manusia yang unggul dengan dilengkapi ketersediaan sumber daya alam yang kekayaan dan beragam, mestinya tidak akan terjadi kesulitan hidup

masyarakatnya, bilamana dapat dimanfaatkan secara baik dan benar.

Maluku memiliki segalanya . Ya, sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM), bahkan boleh dibilang melimpah. Akan tetapi apa yang salah dari

kekayaan ini sehingga kesejahteraan hidup masyarakat Maluku sebagian masih tergolong miskin. Yang menarik, perbandingan antara ketersediaan SDA yang melimpah melebihi populasi penduduk yang tidak seberapa jumlahnya. Sangat berbeda jauh dari ukuran kesesuaian ketersediaan sumber daya untuk pemenuhan

kebutuhan hidup masyarakat penduduk Maluku dapat hidup sejahtera, hingga mencapai tingkat hidup makmur.

Sumber Daya Alam Maluku

Provinsi Maluku memiliki luas wilayah 712.479,65 Km2, terdiri dari luas daratan

(2)

2 terbatas 22,81% dan 33.80 % untuk hutan yang dapat dikonversi, ( Keterangan ; Azam Bandjar, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku/Tribun-Maluku.com/30 April 2015). Terdapat perbedaan penurunan luas hutan dari 2(dua)sumber data tersebut di atas. setidaknya terdapat

743,729 Ha hutan yang telah hilang selama 10 tahun belakangan ini, sayangna tidak ada penjelasan kenapa seperti itu. Setidaknya masih tersedia luas hutan (produksi, produksi terbatas, dan yang dapat dikonversi) seluas 2.862.823 Ha atau 73,03 %,

yang dapat dimanfaatkan secara baik dan maksimal menurut peruntukan dengan sistim tata kelola sejak awal hingga akhir yang benar, baik dan modern, serta ketersediaan akses modal yang murah dan mudah oleh pemerintah daerah. Sehingga usaha berbasis lahan pertanian dan perkebunan atau peternakan, akan

menjadi satu bagian lain dari upaya dan cara mengatasi permasalahan kemiskinan Maluku. Hanya saja, jangan lagi menerima kehadiran transmigran dari luar daerah Maluku, sebab sama sekali tidak berdampak positif bagi masyarakat asli, malah

menimbulkan kecemburuan dan mengurangi peluang bersifat kepentingan lokal kedaerahan. ( lihat ; transmigrasi-di-maluku )

Sumber daya alam (SDA) Maluku, menunjukan potensi kekayaan luar biasa yang

tentu mampu memberikan penghidupan yang lebih layak, berupa kesejahteraan dan kemakmuran bagi penduduknya. Pola hidup tradisonal bertani dan nelayan yang masih lekat dengan budaya penduduk Maluku hingga kini, tersedia lahan dan lautan

untuk berusaha untuk memenuhi kebutuhan demi kesejahteraan hidup.

Potensi sumber daya alam pertambangan emas, semen, batu bara, batu gamping, dan batuan mineral lainnya, minyak dan dan gas bumi, tersedia di perut bumi

(3)

3 bagian barat, Semen di Seram bagian selatan, dan lain lagi masih banyak tempat potensi kekayaan pertambangan.

Hal yang sama juga untuk usaha masyarakat berbasis laut dengan ketersediaan luas perairan laut 658.294.69 Km2 atau 92,4% dari luas daratan, potensinya begitu menjanjikan bagi pemenuhan kesejahteraan masyarakat Maluku melalui

pengembangan usaha perikanan tangkap dan usaha budidaya laut. Sektor kelautan mestinya menjadi andalan utama sebagai wilayah kepulauan. Perhatian dan pandangan sudah harus diarahkan sungguh-sungguh ke laut mulai sekarang, karena di darat telah memakan korban salah urus dan akibat perkembangan zaman, kepada

usaha komoditi perkebunan kebanggaan Orang Maluku yaitu cengkeh dan pala, sehingga kebun-kebunnya kini terbengkalai dan merana ( lihat;

komuditas-unggulan-maluku-yang-merana ). Hebatnya, bila TNI-Angkatan Laut memiliki semboyan; Jales veva jaya

mahe – di laut kita jaya, harusnya bagi Orang Maluku ; di laut katong makmur. Masa depan yang lebih menjanjikan terbentang luas, ada pada laut ( lihat ; potensi-perikanan-maluku).

Kemiskinan Maluku

Tingkat kesejahteraan masyarakat Maluku ternyata menurut data statistik tahun 2014, sebagian tergolong berada pada level hidup miskin. Masih miskinnya

sebagian orang di Maluku terbaca seperti sesuatu yang aneh tapi nyata, menyaksikan ketersediaan sumber daya alam yang kaya, maka sangat tidak dimungkinkan masyarakatnya mengalami penghidupan dalam derita, apalagi

(4)

4 kecenderungan menggunakan indikator kemiskinan yang bersifat absolut, asyik dengan angka prosentase yang katanya terus menurun. Seperti itu, maka menurut

Ivanovich Agusta, Sosiolog Pedesaan dari IPB /Kompas, 30 Oktober 2012, kemiskinan yang terjadi adalah kemiskinan struktural. Terjadi sebagai impak dari keburukan tata cara bernegara. Bisa dipastikan tidak ada Orang Maluku yang senang ketimpahan hidup miskin. Nah lho, bukan absolut khanbro !

Memakanai pendapat Ivanovich Agusta, dengan menggunakan indeks gini dalam asumsi penyusunan RAPBD di Maluku, baik Provinsi maupun Kota/Kabupaten, mungkin akan lebih parah karena akan diketahui bahwa hanya sedikit orang

Maluku yang menikmati porsi pembangunan atau kekayaan dengan prosentas nilai lebih besar. Sesuatu yang akan menampik kebaikan dan keuntungan hidup dalam satu wilayah – daerah, dengan anugerah Tuhan atas kelimpahan sumber daya alamnya, tetapi tidak terdistribusi secara adil dan merata.

Sepuluh tahun lalu, data dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Maluku diketahui terdapat 280.824 keluarga hidup di bawah garis kemiskinan, 48,12 % dari jumlah

keluarga rumah tangga Maluku. Angka ini berbeda dengan olahan Litbang Kompas dari data BPS tahun 2004 terhadap jumlah penduduk dengan pendapatan per kapita per bulan rata-rata 136.159,6 rupiah, maka jumlah penduduk miskin ada 397,6 orang atau 31,36%, (Kompas, 17 Maret 2005). Hal ini mungkin dianggap data lama, tetapi sengaja diangkat yang sudah barang tentu bisa saja telah berubah situasi

data-nya saat ini. Silahkan diperdebatkan seperti apa perubahannya saat sekarang, apa sudah lebih baik atau masih seperti yang dulu, artinya sama saja.

(5)

5

tidak memiliki uang. Memiliki barang tetapi tidak terjual, seperti itu yang masih terjadi di banyak wilayah dengan akses pasar(pembeli) tergolong minim. Akibatnya daya beli masyarakat yang rendah atau ketidak mampuan bertransaksi dengan

uang, sebagai akibat kurangnya pendapatan oleh penjualan dari hasil produksi dan hasil usaha, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan maupun lain komuditas dan produk lain bernilai ekonomis ( baca ; komuditas-unggulan-maluku-yang-merana ).

Contoh menarik yang mengakibatkan penderitaan yang terjadi di Maluku, kondisi ini dimaknai sebagai kemiskinan . Berbeda mungkin dengan di daerah lain, orang Maluku miskin tapi masih bisa makan. Memang itu yang terjadi karena sumber

makanan masih mudah diperoleh, ke darat atau ke laut potensi SDA tersedia dengan mudah diperoleh. Bila tak punya sesuatu apa-apa bukan uang, anda masih bisa memintanya ke tetangga atau siapapun, orang Maluku masih sangat berbaik hati untuk berbagi bila hanya sekadar untuk makan atau minum, yang sulit adalah

sumber makanan ada tetapi tidak berarti untuk membuat menjadi uang.

Kemiskinan yang menimpah masyarakat Maluku, adalah kemiskinan yang

disebabkan unsur kesengajaan secara sadar dan menunjukan ketidakpedulian pemerintah. Bukan sekadar tidak punya uang, tetapi lebih diperparah oleh kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan yang mudah dan terjangkau, pendidikan yang memungkinkan menjangkau jenjang lebih tinggi, ketersedian kemudahan akses

terhadap permodalan usaha dan sarana penunjang.

Belum mudah dan murah, akses transportasi darat dan apalagi laut antar wilayah

pulau, tarif angkutan masih liar tanpa control berarti dari pihak pemerintah

(6)

6 dan bebas menentukan biaya tarif, sementara angkutan darat umum masih berkonsentrasi di perkotaan.

Seram sebagai pulau terbesar di Maluku, jalan lingkar pulaunya pun masih seperti pengidap penyakit asma akut. Di wilayah selatan bagian tengah pulau hingga ke ujung timur pulau Seram, harus banyak sabar menunggu oleh cara pembangunan

jalan dan jembatan yang bertahap, semau gue, beta pung suka-suka, atau mungkin karena tidakmampuan kepemimpinan dalam memaksimalkan ketersediaan anggaran pembangunannya. Terdapat jembatan terpanjang mungkin di Maluku yang terdapat di kali Kawa-Nua, hamper sepuluh tahun dibangun hingga tahun

2016 ini, belum juga tersambung. Apalagi alasannya, kecuali ketidak mampuan pemerintah (daerah) memenuhi anggarannya secara pasti dalam jumlah yang dibutuhkan sehingga cepat terselesaikan. Itupun bila merasa peduli dan mau ikhlas serta jujur meilaht kesulitan dan penderitaan masyarakat oleh belum

terselesaikannya jembatan tersebut.

Infrastruktur jalan, jembatan, sarana kesehatan dan pendidikan, transportasi darat

dan laut, ketersediaan dan kemudahan akses permodalan usaha, terbina, terlatih, dan terbimbing oleh para ahli dibidangnya, adalah modal proses mempercepat mobilitas masyarakat yang sangat dibutuhkan untuk dengan mudah dan cepat meningkatkan kehidupannya menjadi lebih baik.

Keadilan bagi-bagi Kue Pembangunan

Maluku pada kenyataannya hanya menerima pembagian anggaran dari APBN(Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) hanya didasarkan pada luas wilayah daratan yang hanya 7,4% (lautan 92,6%) dan berdasarkan jumlah

(7)

7 Maluku dalam kapasitas memiliki kekayaan sumberdaya alam yang luar biasa, dan yang untuk wilayah Indonesia lain yang padat penduduknya. Sudah barang tentu dengan minimnya anggaran tidak mampu memenuhi kebutuhan maksimal rencana

belanja pembangunan guna mempercepat laju mensejahterakan masyarakat Maluku.

Masyarakat Maluku tidak terbiasa meminta-minta atau mengemis haknya, tetapi itu menjadi kewajiban Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku, berkewajiban dan tugasnya untuk memperjuangkan secara sungguh-sungguh, tulus dan ikhlas kepada pemerintah pusat yang telah selama ini memindahkan hasil kekayaan alam bumi

Maluku ke Pemerintah Pusat(Pempus), agar dikembalikan secara proporsional dan adil antara hasil tergarap dan hak kepemilikan kekayaan oleh masyarakat Maluku.

Kebijakan regulasi oleh Pemerintah Pusat adalah hal lain yang juga ikut

berkontribusi memiskinkan masyarakat Maluku, betapa tidak pada kebijakan

membagi hasil pengerukan sumber daya alam laut Maluku, ternyata

pengembaliannya jauh di bawah harapan. Selain pendapatan yang harusnya

langsung diperoleh oleh Provinsi Maluku dari aktifitas pengerukan dimaksud, telah dipangkas melalui perubahan regulasi, sementara Pemerintah Daerah Provinsi Maluku hanya berdiam diri tidak ada reaksi cerdas menyikapinya.

Bila saja ketulusan dan keikhlasan lebih ditonjolkan, bersamaan dengan kemampuan kepemimpinan Pemerintah Daerah dalam upaya meningkatkan taraf hidup hingga pada level sejahtera bagi masyarakat Maluku benar-benar dilakukan secara maksimal, tentu akan termotivasi untuk giat meperjuangkan hak-hak

(8)

8 bukannya hanya asal tadah tangan, menerima saja apa adanya karena rasa kasihan

dan asal suap dari Pemerintah Pusat.

Maluku sangat kaya sumber daya alamnya, tetapi ternyata masih saja miskin kehidupan masyarakatnya.

Bersama bernegara dengan maksud saling sama-sama membangun demi

mensejahterakan masyarakatnya secara adil dan merata, sehingga terasa ada manfaatnya. Sebaliknya bila yang menikmati keuntungan bernegara hanya sepihak, maka pilihan-pilihan pemikiran yang lainpun tersedia dan dengan manis dan indah bakal berkembang cepat kearah sebaliknya.

Bersama tetapi sebagian menderita, sama artinya dengan mengajak lebih baik berpisah untuk tidak terus saling bertengkar dan itu demi kebaikan bersama agar

tidak ada yang terluka .

Depok, 31 May 2016

Penulis

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...