Sanksi Pelanggaran Pasal 72 :
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan seba-gaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Judul Buku :
Jakarta: Modernitas dan
Pembangunan Manusia
Penulis : Ir. Triwisaksana, M.Sc. Disain sampul : Erwin Sinae
Tata Letak : Farid
Foto ilustrasi : Dudi, Khoirudin
Penerbit : Lingkar Sejahtera Jakarta Gedung Sarinah Lt. 11 Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat Tahun Terbit : Juli, 2011
Kata
Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa
di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhoi. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman
sentosa. Mereka (tetap) menyembahKu dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu maka mereka
itulah orang-orang yang fasik
(QS An-Nur, 55)
P
ada hakikatnya, tujuan setiap negara atau suatu pemerintahan dimanapun dia berada dan dalam sistem apapun yang dijalankan adalah sama. Menciptakan keadilan dan menghasilkan kesejahteraan bagi penduduknya. Keadilan dan kesejahteraan yangLuthfi Hasan Ishaaq, MA
Kata Pengantar
dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat akan terwujud dalam bentuk terpenuhinya kebutuhan hidup serta terjaminnya rasa aman dalam kehidupan.
Secara eksplisit Allah SWT telah menjamin kedua hal tersebut sebagaimana disampaikan dalam firman-Nya di dalam Surat Al-Quraisy ayat ke 3-4 : “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ke-takutan.” Tinggal persoalannya adalah bagaimana pi
hak-pihak yang diberi amanah untuk mengelola suatu negeri atau wilayah itu mampu mewujudkannya. Rasa aman dan nyaman, suatu keadaan yang Allah janjikan sebagaimana kutipan ayat 55 Surat An-Nur diatas, menjadi amanah bagi orang-orang yang beriman, yang dijadikan oleh Allah sebagai penguasa di muka bumi ini.
Nilai strategis yang dimiliki oleh Jakarta bukan hanya pada usianya semata. Sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi bangsa yang berpenduduk terbesar keempat di dunia, Jakarta merupakan amanat Allah yang tidak boleh disia-siakan. Berbagai bentuk “peradaban” (jika ingin disebut demikian) yang telah berlangsung di Jakarta semenjak jaman penjajahan hingga reformasi telah menghasilkan wajah Jakarta yang beragam. Namun dari seluruh periode tersebut, sepertinya ada satu bentuk kemiripan. Masing-masing era seakan-akan bertekad untuk memiliki prasasti
yang menandai kemegahan sekaligus keberhasilan pembangunan.
Kata Pengantar
Namun setiap keberhasilan selalu memiliki ongkos yang harus dibayar. Ongkos itu bisa berupa beban sosial, ekonomi maupun moral. Di sinilah, saya berfikir, buku ini memiliki ‘angle’ yang menarik. Buku ini mencoba melawan arus tema-tema keseharian publik Jakarta. Di saat sebagian besar media dan publik sibuk berbicara tentang kemacetan yang mengerikan dan banjir yang tak jenuh berkunjung, Triwisaksana seakan ingin menarik perhatian publik pada problem yang lebih humanis dan mendasar. Kesejahteraan. Bagi Bang sani yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD DKI problem asasi dari Jakarta saat ini ialah keselarasan antara pembangunan -yang diwakili dengan kata modernitas- dan kesejahteraan.
Bang Sani mampu menguraikan pemikiran-pemikiran dan gagasan tentang kesejahteraan secara runtut. Termasuk di dalamnya menyampaikan gagasan-gagasan baru dalam mewujudkan jaminan sosial bagi warga. Contoh, ide menjadikan urusan ketenagakerjaan dan perumahan yang selama ini menjadi domain bidang perekonomian dan pembangunan, menjadi bagian bidang kesejahteraan (sosial) merupakan tawaran yang berani dan bukan ‘asal beda’. Argumen yang terangkum dalam kumpulan buah pemikiran ini menjelaskan bahwa peningkatan kesejahteraan dapat dilakukan melalui fokus peningkatan kesejahteraan para pekerja (upah, jaminan sosial pekerja), pengurangan angka pengangguran dan perumahan bagi kelompok miskin.
Kata Pengantar
Kontribusi tulisan dari Selamat Nurdin yang mem ban-dingkan kondisi “Jiwa dan Raga” di kota-kota besar lain di beberapa negara, serta tulusan dari Prof. Eko Prasodjo yang mengulas tentang Reformasi Birokrasi yang menjadi faktor penting kebijakan sosial turut memperkuat bobot buku ini meskipun disampaikan secara ringan.
Saya yakin buku ini akan sangat memberikan manfaat ba gi para pembacanya yang mencoba memahami pentingnya kebijakan sosial di Jakarta. Para penikmat buku ini juga akan memahami ragam aspek yang selama ini belum banyak tergali dari Jakarta. Lebih khusus bagi penulisnya, buku ini harus menjadi tonggak awal evaluasi terhadap keterlibatannya sebagai salah satu elemen strategis penentu kebijakan di Jakarta.
Selamat berkarya lebih jauh... Semoga cita-cita Jakarta Sejahtera segera terwujud.
Luthfi Hasan Ishaaq, MA Presiden PKS
Pengantar
Penerbit
K
urang lebih empat dasawarsa yang lalu, Simon Kuznets, mengungkapkan kerisauannya atas temuan yang telah mengantarkannya meraih hadiah nobel pada tahun 1971. Kuznets-lah yang pertama kali memperkenalkan kumpulan indikator aktivitas ekonomi yang dinamakan dengan neraca pendapatan nasional. Salah satu indikator utama yang termasuk di dalamnya, Pendapatan Domestik Bruto atau PDB.1Mengapa temuan ini begitu penting? Bayangkan sejenak! Coba posisikan diri Anda menjadi pemimpin sebuah negara pada masa sebelum Kuznets mengumumkan temuannya. Lalu Anda dirongrong oleh sebuah pertanyaan. Bagaimana cara menentukan bahwa negara yang Anda pimpin lebih makmur atau lebih kaya daripada negara lainnya? Sebelum Kuznets memperkenalkan ide brillian-nya, nyaris
tidak ada jawaban yang seragam. Inilah lompatan besar yang dihasilkan oleh Kuznets.
Namun, pakar ekonomi yang mengajar di Universitas Harvard itu rupanya cukup kuatir akan warisan intelektual yang dia miliki. Kuznetz kuatir bahwa serangkaian indikator perekonomian yang dia formulasikan lantas
1 Lihat Buku Mengukur Kesejahteraan, Joseph E. Stiglitz, Amartya Sen and Jean-Paul Fitousi, penerbit Margin Kiri
Rico Marbun, M.Sc
Pengantar Penerbit
disalah-artikan sebagai formulasi kesejahteraan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, PDB tinggi memang berarti semakin tinggi pula kekayaan yang dimiliki oleh sebuah negara. Namun, sejatinya itu tak lantas berujung dengan tingginya kesejahteraan warga.
Kegelisahan itulah yang akan kita temukan dalam buku yang tersaji di hadapan Anda. Kumpulan ide yang dimiliki oleh Triwisaksana, dengan detail menghadirkan potret
disharmoni pembangunan fisik dan pembangunan
manusia di dalam kota yang telah berusia 484 tahun ini. Sebagai politisi yang pernah menjadi Ketua Partai Politik Islam terbesar di Jakarta dan kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD, Bang Sani tentu paham benar segala kompleksitas yang terjadi di ibukota.
Kegelisahan yang ditata dalam setiap sub-tema, sejatinya tidak tepat bila dibaca sebagai sekadar ungkapan ketidakpuasan, apalagi hanya kemarahan tanpa solusi. Sebagai orang yang berkecimpung secara langsung dalam pengelolaan Jakarta, Bang Sani seperti ingin menghentak para pembaca untuk memalingkan perhatiannya lebih dari sekadar himpitan hidup sehari-hari. Sebut saja masalah kemacetan dan banjir yang tidak asing lagi bagi penduduk Jakarta. Bukan berarti kader PKS itu tidak peduli. Namun jika dibaca dengan cermat, pria kelahiran asli Jakarta itu ingin menjabarkan bahwa ada satu tema yang tidak boleh ditinggalkan dalam setiap deru roda pembangunan di
Pengantar Penerbit
Jakarta. Tema itu adalah Kesejahteraan dan Pembangunan Manusia.
Karena narasi besar tentang humanisasi pembangunan, maka Lingkar Sejahtera Jakarta merasa beruntung menjadi pihak yang pertama kali menyusun, merapikan serta menghadirkan buku ini kepada khalayak Ibukota. Harapannya, semoga sedikit jerih payah yang tentu belum menghadirkan kesempurnaan ini, dapat membawa secercah kebaikan buat kita semua.
Selamat Menikmati...
Rico Marbun, M.Sc
Segores Tinta
dari Penulis
S
ejarah panjang Jakarta dengan pelabuhan besar Sunda Kelapa-nya, memang sudah menarik minat orang untuk datang sejak dahulu kala. Termasuk di antaranya, kedatangan Portugis yang kemudian diikuti dengan Belanda. Pihak-pihak tersebut yang pernah menguasai Jakarta, sejak zaman Portugis hingga VOC-Belanda, telah menjadikan Jakarta (Jayakarta) sebagai pusat kekuasaan. Demi menopang fungsi sebagai ‘power epicentrum’, berbagai bangunan simbol kekuasaan, bendungan, stasiun kereta dan ruang publik dibangun. Dan hingga kini, sisa-sisa kemegahan itu masih bisa kita saksikan dalam jejak kota tua dan bangunan tua peninggalan Belanda yang bertebaran di Jakarta.Memasuki periode pasca kemerdekaan di era Bung Karno, pembangunan simbol-simbol kemegahan Jakarta juga terus berlanjut. Monumen Nasional, Mesjid Istiqlal, dan Kawasan Senayan, kerap dibanggakan sebagai simbol keberhasilan atas capaian kemerdekaan. Orde Baru juga tidak ketinggalan. Presiden Soeharto dengan gelarnya sebagai Bapak Pembangunan, merancang Jakarta sebagai daerah yang sangat menarik bagi investor. Hasilnya, pemodal asing berduyun-duyun memadati Jakarta. Dan sempurnalah Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi negara, dimana 70% uang nasional beredar di
Segores Tinta dari Penulis
Ir. Triwisaksana, M.Sc
dalamnya. Bahkan era reformasi yang sering didengungkan sebagai antitesa Orde Baru juga tidak ingin kalah dalam
‘memegahkan’ ibukota. Supermall mewah, toko-toko
cabang dari berbagai merek terkenal dunia, gedung-gedung pencakar langit, apartemen, superblock dan lainnya, seakan bertumbuh bak jamur di musim hujan.
Sesungguhnya, tidak ada yang salah dengan kemegahan Jakarta. Bukan pula hal yang tercela bila pembangunan fisik dan infrastruktur melaju dengan pesat di ibukota. Namun tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh pembuat kebijakan di Jakarta adalah bagaimana mengelola perkembangan dan dinamika kota dengan segala beban berat yang ditanggung, plus tuntutan warganya yang sangat beragam. Dengan status sebagai kota berpenduduk terbesar, kompleksitas permasalahan kota yang berusia hampir lima abad ini, tentu membutuhkan penanganan yang serius dan kerja yang cerdas.
Salah satu tantangan terbesar dalam mengelola Ja-kar ta adalah bagaimana menciptakan keseimbangan pertumbuhan kota dan pembangunan manusia di dalamnya. Disamping tingginya pertumbuhan ekonomi dan pesatnya pembangunan fisik, Jakarta harus memiliki Indeks Pembangunan Manusia sebagaimana negara maju. Bukan hal yang berlebihan jika Indeks Gini Ratio di ibukota harus ditargetkan serendah mungkin. Sebab inilah yang menjadi indikator bahwa pesatnya pembangunan Jakarta dapat dinikmati oleh semua penduduk.
Segores Tinta dari Penulis
Bagaimanakah kita bisa menilai indikator kesejahteraan seperti indeks pembangunan manusia, indeks kualitas kesehatan dan indeks kualitas hidup. Tentu yang dimaksud bukanlah sekadar angka statistik semata. Secara riil, indikator ini bisa dicermati dari capaian pemenuhan kebutuhan dasar bagi semua penduduk. Kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, perumahan dan sanitasi, haruslah telah terpenuhi dengan memadai.
Buku ini mencoba merefleksikan sisi yang perlu mendapat perhatian kita semua. Jakarta tidak hanya terbangun secara fisik (raga), namun juga kesejahteraan semua penduduknya. Keterlibatan saya sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dalam proses penyusunan kebijakan, penyerapan aspirasi, serta pemantauan kondisi masyarakat, telah mengantarkan saya pada perenungan panjang tentang sisi Jakarta yang lain. Kesejahteraan penduduk adalah tanggungjawab kita semua, terlebih bagi para perancang kebijakan. Perjuangan menyejahterakan warga Jakarta harus menjadi kesungguhan dengan azas kesetaraan yang melingkari rasa kebersamaan bagi kesejahteraan untuk semua. Harapan Saya, melalui lahirnya gagasan dalam buku ini dibarengi dengan embrio Komunitas
Lingkar Sejahtera Jakarta, akan memantapkan langkah segenap warga semakin giat bergegas dalam kesetaraan dan kebersamaan cita-cita menuju kesejahteraan.
Dan tak lupa ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada keluarga tercinta, istri dan
anak saya, orang tua dan mertua yang telah mendukung penuh kerja dan pengabdian saya di DPRD DKI Jakarta, yang bersabar atas kesibukan saya sebagai wakil rakyat maupun kader partai. Terimakasih juga saya sampaikan kepada seluruh rekan dan kolega yang telah bekerja sama dan mendukung kerja saya selama ini dan tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Juga kepada para sesepuh, tokoh masyarakat, pakar, LSM dan peneliti yang telah banyak memberikan nasehat, sumbangan pemikiran, diskusi dan masukan kepada saya dalam menjalankan amanah sebagai wakil rakyat. Secara khusus saya mengucapkan terimakasih kepada Sdr. Selamat Nurdin dan Prof. Eko Prasodjo yang bersedia menyumbangkan gagasan pemikirannya dalam bentuk tulisan untuk memperkuat wacana dalam buku ini, Ustadz. Lutfi Hasan Ishaaq, MA atas kesediaannya memberikan pengantar untuk buku ini ditengah kesibukan beliau memimpin salah satu partai terbesar di negeri ini, dan kepada Lingkar Sejahtera Jakarta (LSJ) yang telah menghimpun pemikiran saya dan menerbitkannya dalam bentuk buku. Terakhir, buku ini merupakan persembahan saya untuk seluruh warga Jakarta yang terus mendambakan kesejahteraan. Semoga memberikan manfaat dan kesejahteraan itu dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Kebon Sirih, 22 Juni 2011.
Segores Tinta dari Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar___
iii
Pengantar Penerbit___
vii
Segores Tinta dari Penulis___
x
Jakarta
1. : Modernitas & Pembangunan Manusia___
1
Bangun Jiwa dan Raga Jakart2. a Bercermin kepada Negara ASEAN___
22
I. Jakarta Sejahtera Berkelanjutan, Mengapa Tidak?___
33
Gagasan Besa
1. r Kesejahteraan___
34
Menakar Visi Kesejahteraa2. n Kepemimpinan Jakarta___
39
Membangun Basis Politik
3. , Menciptakan Kesejahteraan___
44
Mimp
4. i Ibukota Sejahtera___
49
II. Menuju Jaminan Sosial di Ibukota___
57
Paradoks Waja
1. h Pembangunan Jakarta___
58
Jamsosda2. ala Jakarta___
65
III. Sistem dan Jaminan Kesehatan bagi Warga___
75
Warga Miski
1. n Dilarang Sakit?___
76
Jamkesda Baru2. untuk Jakarta Baru___
82
Model Pembiayaa3. n Jamkesda Baru___
89
IV. Semua Berhak Dapat Pendidikan Layak___
97
Wajib Belajar 12 Tahun di Jakart
1. a Mungkinkah?___
98
Pendidikan Berkualita2. s untuk Semua Penduduk___
103
V. Menempatkan Ekonomi Kerakyatan di Ibukota___
109
Menggeliatkan UMK
1. M di Jakarta___
110
Menyelamatka
2. n Pasar Tradisional___
126
VI. Transportasi publik Nyaman untuk Warga___
139
Transportasi Publik Handal
1. sebagai Prioritas___
140
Perlu Terobosan Kebijaka
2. n untuk Busway___
151
Tantanga
3. n Implementasi ERP___
156
VII. Birokrasi yang Bekerja dan Melayani___
171
Mengubah Paradigm
1. a Pelayanan Birokrasi di Jakarta___
172
Reformasi Birokrasi menuju Profesionalitas dan Moralitas Aparatu2. r
untuk Keadilan dan Kesejahteraan Masyarakat___
179
Menuju Birokras3. i yang Melayani___
196
VIII. Bekerja untuk Ibukota___
203
Menanggulangi Kemiskina
1. n di Ibukota___
204
Rumah untu
2. k Warga Marjinal___
214
Tanggungjawab Bekerj3. a untuk Negeri___
223
Jakarta :
Modernitas &
Pembangunan Manusia
M
emasuki usianya yang menjelang limaabad, Jakarta berkembang semakin cantik dan megah. Gedung pencakar langit terus bertambah, lengkap dengan cahaya yang gemerlapan di malam hari. Pusat-pusat perbelanjaan yang juga berfungsi sebagai ‘meeting point’ terus bertambah, diisi oleh gerai-gerai yang menjual produk fashion lokal hingga global. Demikian pula dengan apartemen yang terus menjamur. Keberadaannya kerap menarik orang untuk tinggal di Jakarta yang menawarkan segala pesona. Melting point juga berkembang di berbagai kawasan dalam bentuk kafe, resto yang didukung dengan fasilitas cyber yang memberikan akses tanpa batas.
Namun pada saat yang sama, Jakarta juga terlihat semakin rapuh menanggung beratnya beban pembangunan. Pesatnya pertumbuhan kota, tidak diikuti dengan daya dukung alam dan keseimbangan ekologis. Permasalahan sampah, eksploitasi air tanah yang berlebihan, hilangnya ruang terbuka hijau hingga rusaknya daerah aliran sungai, tidak kunjung terselesaikan secara tuntas. Akibatnya, berbagai permasalahan lingkungan pun rutin mengunjungi Jakarta. Jakarta juga menghadapi meningkatnya segregasi fungsional antara daerah bisnis/perkantoran dan daerah pemukiman. Akibatnya terjadi pemborosan waktu
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
dan biaya transportasi, inefisiensi lahan dan kawasan, penurunan kualitas lingkungan terutama akibat polusi udara yang parah, serta kebutuhan yang besar terhadap sarana transportasi dan infrastruktur terkait lainnya.
Di sisi lain, segregasi sosial juga nampak tidak semakin membaik. Kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan antar kelompok pendapatan, etnis, suku dan golongan, rawan menimbulkan konflik-konflik sosial. Hal ini semakin diperburuk dengan semakin tergerusnya ruang-ruang publik kota yang digantikan oleh pusat-pusat bisnis, perbelanjaan dan perumahan mewah. Akhirnya Jakarta seperti sumbu panas yang mudah sekali tersulut menjadi konflik horizontal antar etnik, antar kampung maupun antar kelompok.
P
erekonomian Jakarta yang digambarkan denganPDRB dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu dari Rp. 501,8 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp. 862,02 triliun pada tahun 2010. Dominasi sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dalam perekonomian Jakarta belum tergoyahkan disamping sektor bangunan dan sektor jasa-jasa. Perekonomian Jakarta juga tumbuh pesat dengan pertumbuhan ekonomi diatas pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam periode 2006-2008, pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai
Jakarta yang
Semakin Megah
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
6,2%. Dengan pendapatan per kapita sebesar Rp. 73,3 juta per tahun, Jakarta menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dari pertumbuhan dan pendapatan per kapita nasional.
Pertumbuhan ekonomi Jakarta disokong oleh sektor tersier yang menyumbang sebesar 70% terhadap total PDRB. Sektor tersier ini terutama adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang mempunyai kontribusi terhadap perekonomian daerah sekitar 20 persen; sektor jasa keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sekitar 28 persen; dan sisanya diberikan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi, serta sektor jasa-jasa lainnya. Pada tahun 2009, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu sebesar 15,6 persen, kemudian diikuti oleh sektor jasa-jasa sebesar 6,5 persen, sektor bangunan sebesar 6,2 persen, sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar 4,6 persen, sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 4 persen, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dengan pertumbuhan 4 persen, sektor industri pengolahan sebesar 0,14 persen, sektor pertanian dengan pertumbuhan 0,3 persen, dan sektor pertambangan dan penggalian dengan pertumbuhan sebesar minus 4,34 persen.
Pertumbuhan ekonomi secara sektoral memperlihatkan sektor-sektor seperti sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan; sektor jasa-jasa mengalami pertumbuhan yang relatif stabil. Sementara
Dengan pendapatan per kapita sebesar Rp. 73,3 juta per tahun, Jakarta menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dari pertumbuhan dan pendapatan per kapita nasional.
sektor bangunan dalam lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan relatif cepat dibandingkan sektor-sektor lainnya. Menjamurnya pembangunan tower-tower apartemen di hampir seluruh penjuru ibukota, pusat-pusat perbelanjaan dari yang kelas menengah sampai yang super mewah menjadi simbol pertumbuhan dari sektor konstruksi. Belum lagi pembangunan yang berasal dari pengeluaran sektor pemerintah seperti Banjir Kanal Timur, jalan layang non tol dan rumah susun.
Selain konstruksi, sektor pengangkutan dan komunikasi selama lima tahun juga mengalami pertumbuhan fe-no menal dengan kisaran sekitar 14 persen per tahun. Pertumbuhan ini didorong oleh perkembangan peng gunaan teknologi informasi khususnya internet dan komunikasi seluler. Jakarta pun memiliki peluang besar untuk menjadi sentra industri teknologi-informasi yang sangat bertumpu pada sumber daya manusia (SDM) unggul. Jakarta sebagai pusat pendidikan teknologi in for masi dan telekomunikasi di Indonesia, memiliki potensi besar menjadi pusat industri teknologi-informasi karena memiliki infrastruktur dan SDM terlatih yang ber limpah. Jakarta ke depan bahkan dapat diposisikan se bagai electronic super sites yang fokus pada riset dan pengembangan teknologi (R&D), SDM, industri IT dan mikroelektronika.
Kemegahan Jakarta juga ditandai dengan lalulintasnya yang semakin padat dan kemacetan yang semakin akut. Tahun 2010 jumlah kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 6,7 Juta unit, dengan kendaraan roda dua mencapai 4,3 Juta Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
unit dan sebanyak 2,4 Juta unit kendaraan roda empat. Setiap harinya pertumbuhannya mencapai 1.172 Unit dengan komposisi 986 kendaraan roda dua dan 186 roda empat. Kepadatan ini berdampak pada kondisi lalulintas yang tidak seimbang dimana sebagian besar waktu di jalan justru berada dalam kemacetan. Dari total waktu perjalanan pada beberapa ruas jalan, 40% merupakan waktu bergerak dan 60% merupakan waktu hambatan. Kecepatan rata-rata lalu lintas adalah 20,21 km/jam.
Penanaman modal baik PMDN maupun PMA dalam kurun waktu 2006-2009 mengalami perkembangan yang fluktuatif. Investasi yang ditanamkan oleh pemodal asing di DKI Jakarta mengalami kinerja yang meningkat pada tahun 2008, namun menurun tajam pada tahun 2009. Sementara untuk PMDN, investasi masih cenderung mengalami peningkatan meskipun peningkatan yang relatif rendah. Berbagai faktor memberikan pengaruh terhadap fluktuasi investasi di Jakarta. Walau penurunan investasi asing pada tahun 2009 diduga dipengaruhi oleh krisis global yang berlangsung saat itu, iklim investasi di Jakarta saat ini juga belum sepenuhnya menunjukkan kondisi yang kondusif. Dalam survei Doing Business 2011 yang dilakukan oleh IFC-The World Bank, Indonesia yang direpresentasikan oleh Jakarta, masih menempati peringkat 121 dari 180 negara dalam hal kemudahan melakukan usaha. Peringkat ini lebih rendah dari peringkat negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam, yang menjadi kompetitor dalam
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
menarik investasi. Di Jakarta masih dibutuhkan waktu 43 hari untuk mengurus berbagai perijinan untuk investasi dengan 9 prosedur yang harus dilalui. Bandingkan dengan negara-negara maju yang hanya butuh 14 hari dan enam prosedur. Bahkan dibandingkan dengan kota-kota lain, dalam survei Sub National Doing Business 2010, Jakarta hanya menempati peringkat ke-7 dari 14 kota dalam kemudahan berusaha.
D
itengah kemegahan yang muncul, Jakartajuga masih menyimpan sejumlah kondisi yang paradoks dengan kemegahan, modernitas dan gemerlap wajah kota. Secara ekonomi ini ditandai dengan angka koefisien Gini yang rendah. Dalam periode tahun 2006-2010, koefisien Gini di DKI Jakarta relatif stabil pada angka 0,36-0,38 yang menunjukkan masih cukup tingginya kesenjangan pendapatan diantara penduduk. Penilaian Bank Dunia menunjukkan bahwa 40% penduduk Jakarta hanya menikmati sekitar 17% kue ekonomi kota . Secara ekstrem, fenomena ketimpangan ini ditunjukkan dengan gedung-gedung perkantoran, apartemen mewah dan pusat perbelanjaan raksasa yang berdampingan dengan pemukiman padat dan kumuh. Potret lain adalah manusia gerobak yang berada di kolong-kolong flyover, atau bahkan di depan gedung perkantoran. Keberadaan kafe-kafe dan resto mewah yang hanya berjarak puluhan meter dengan warung-warung makan kecil yang tidak higienis.
Potret Paradoks
Jakarta
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
Menumpuknya mobil-mobil mewah di samping bus kota non AC yang penuh sesak penumpang. Sementara, KRL ekonomi melaju dengan atap yang dipenuhi penumpang.
Tidak berlebihan jika dikatakan Jakarta masih dipenuhi dengan berbagai permasalahan sosial dan persoalan kesejahteraan ditengah kemegahan yang dihadirkan. Tuntutan sebagian masyarakat kota khususnya kaum pekerja dan kelas menengah kota mungkin lebih banyak pada bagaimana menghadirkan kota yang nyaman dan modern. Hal ini pula yang menggiring visi pembangunan kota juga diarahkan pada membangun kenyamanan kota. Akibatnya pembangunan kota juga diarahkan pada upaya menciptakan kenyamanan kota seperti infrastruktur jalan (flyover, underpass, jalan layang non tol), infrastruktur pengendali banjir seperti kanal banjir, waduk, pompa pengendali dan sebagainya. Padahal pembangunan infrastruktur jalan ini seperti beradu cepat dengan pertumbuhan kendaran di Jakarta dan sayangnya selalu kalah sehingga kemacetan semakin tidak teratasi. Pembangunan fisik juga didukung oleh sektor swasta yang secara agresif membangun properti seperti gedung perkantoran, apartemen, pusat perbelanjaan,
entertainment center, berbagai bentuk melting point, bahkan rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang megah. Gedung pendidikan, kesenian dan kebudayaan juga berdiri megah baik yang didirikan pemerintah maupun swasta untuk mendukung gaya hidup kota metropolitan internasional.
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah apakah pembangunan infrastruktur dan fisik ini sudah seimbang dengan pembangunan “perangkat lunak”nya untuk menghasilkan kesejahteraan bagi semua penduduk Jakarta? Apakah pembangunan fisik ini juga sudah dirasakan manfaatnya oleh warga Jakarta khususnya 40% penduduk yang masih berpendapatan rendah? Apakah kebijakan yang diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat dan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk juga berjalan sama cepat dengan pembangunan fisik? Apakah peningkatan kualitas manusia yang ditunjukkan dengan indeks pembangunan manusia (IPM) penduduk Jakarta sudah sama tinggi dengan pertumbuhan ekonomi daerah? Sementara, sebagai konsekuensi tumbuh sebagai kota metropolitan modern, Jakarta juga dihinggapi problema yang berasal dari modernitas. Penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, kenakalan remaja dan konflik yang terjadi di pusat-pusat hiburan dan kriminalitas yang lahir dari kesenjangan ekonomi, bukan sesuatu yang asing di Jakarta.
Tentu saja pertanyaan-pertanyan ini tidak bermaksud
mendikotomikan atau mempertentangkan antara
perkembangan kota modern dengan kesejahteraan masyarakat, seolah keduanya tidak dapat berjalan beriringan. Bukankah wacana “growth with welfare” sudah lama didengungkan para ekonom dunia? Kita tidak harus memilih salah satu, apakah pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik atau pemenuhan Pertanyaan besar yang
kemudian muncul adalah apakah pembangunan infrastruktur dan fisik ini sudah seimbang dengan pembangunan “perangkat lunak”nya untuk menghasilkan kesejahteraan bagi semua penduduk Jakarta?
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
kebutuhan dasar? Bahkan dalam konsep welfare state
yang berkembang di dunia terutama di Eropa Utara, pertumbuhan ekonomi dan berkembangnya bisnis sektor swasta menjadi pilar pembentuk kebijakan dan penerapan negara kesejahteraan. Tentu saja yang ingin ditekankan disini, adalah sejauh mana kebijakan sosial dan komitmen pembangunan kesejahteraan rakyat sudah dijalankan dengan baik, dan apakah anggaran sudah secara efektif diarahkan pada upaya peningkatan kesejahteraan rakyat untuk pemenuhan kebutuhan dasar.
D
ari sudut pandang ekonomi pembangunan,terdapat beberapa kecenderungan yang patut diperhatikan bagi kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan di Jakarta. Pertama, korelasi positif antara pembangunan ekonomi dan tingkat urbanisasi. Tingkat urbanisasi akan semakin tinggi karena Jakarta memiliki gemerlap dan posisi sebagai pusat kegiatan ekonomi, bisnis dan pemerintahan. Pendatang dari berbagai strata sosial-ekonomi dan level
Perbandingan Indeks
Pembangunan Manusia Indonesia dan Jakarta
No Tahun Jakarta Indonesia
1 2004 76.1 71.1
2 2005 76.0 72.8
3 2006 76.1 72.6
4 2007 76.3 73.4
5 2008 77.3 71.7
6 2009 77.2 73.4
Tantangan
Pembangunan
Ibukota
Pertama, korelasi positif antara pembangunan ekonomi dan tingkat urbanisasi.
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
intelektualitas berduyun-duyun menuju Jakarta untuk “bertarung” meraih kesuksesan di ibukota.
Padahal bagi Indonesia, Jakarta berperan sebagai “engine of development” dengan peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan Jakarta akan secara langsung berpengaruh pada pertumbuhan nasional. Dengan besarnya kontribusi Jakarta pada perekonomian nasional, maka setiap gangguan pada perekonomian Jakarta secara langsung akan berpengaruh pada perekonomian nasional. Karena itu menjadi penting untuk terus mempertahankan dan memastikan pertumbuhan Jakarta yang tinggi dan lestari (sustainable) ke depan.
Kedua, daerah-daerah metropolitan tumbuh lebih cepat
dibandingkan daerah perkotaan lainnya yang lebih kecil. Karena memiliki ukuran lebih besar dari kota disekililingnya, Jakarta akan terus menghadapi masalah yang semakin meningkat intensitasnya. Masalah yang dimaksud terutama terkait dengan penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, pembangunan infrastruktur dan penyediaan jasa publik, serta perlindungan alam dan lingkungan hidup. Kegagalan dalam mengelola Jakarta, akan berimplikasi pada semakin meningkatnya derajat dan intensitas permasalahan sehingga berbagai permasalahan tersebut akan semakin sulit dipecahkan.
Ketiga, dengan intensitas keterkaitan antara desa-kota yang masih tinggi, Jakarta masih akan terus menjadi sasaran bagi Kedua, daerah-daerah
metropolitan tumbuh lebih cepat dibandingkan daerah perkotaan lainnya yang lebih kecil.
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
intelektualitas berduyun-duyun menuju Jakarta untuk
engine of development” dengan peranan penting bagi
perekonomian nasional, maka setiap gangguan pada
penting untuk terus mempertahankan dan memastikan pertumbuhan Jakarta yang tinggi dan lestari (
daerah-daerah metropolitan tumbuh lebih cepat
Ketiga, dengan intensitas keterkaitan antara desa-kota yang masih tinggi, Jakarta masih akan terus menjadi sasaran bagi
Ketiga, dengan intensitas keterkaitan antara desa-kota yang masih tinggi, Jakarta masih akan terus menjadi sasaran bagi datangnya pendatang dari desa-desa yang mulai mengalami surplus tenaga kerja di sektor pertanian. datangnya pendatang dari desa-desa yang mulai mengalami
surplus tenaga kerja di sektor pertanian. Hal ini diperparah dengan semakin mudahnya transportasi menuju kota, dan kesenjangan desa-kota yang semakin tinggi.
Selain itu, penting pula bagi para pengambil kebijakan untuk mengetahui dan memahami permasalahan Jakarta yang kompleks dan telah menahun. Pertama, semakin meningkatnya segregasi sosial dan fungsional dari kelompok-kelompok pendapatan. Daerah bisnis/perkantoran dan daerah pemukiman yang semakin berjarak telah melahirkan masyarakat Jabodetabek yang sebagiannya “penglajo” dari pinggiran bahkan luar kota ke pusat kota dan membutuhkan mobilitas tinggi. Jakarta juga menjadi kota unik dimana “jumlah penduduk” pada siang hari bisa dua kali lipat dari jumlahnya pada malam hari. Pola “penglajo” ini telah menimbulkan masalah pemborosan dan inefisiensi yang muncul akibat kemacetan. Segregasi ini juga melahirkan Jakarta yang dipenuhi oleh perumahan dan apartemen mewah yang hanya mampu diakses oleh rumah tangga kaya. Sementara kelompok pekerja menengah-bawah yang merupakan kelompok terbesar di Jakarta terpaksa tinggal luar kota seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi atau memaksakan diri hidup di lingkungan padat dan kumuh, sebagian bahkan di kamar-kamar kontrakan atau kost sempit dengan fasilitas seadanya.
Pada saat yang sama, Jakarta juga sayangnya belum memiliki sistem transportasi makro yang bersifat
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
massal, murah dan cepat. Akibatnya, ketidakseimbangan fungsional ini harus dibayar mahal oleh kota ini dalam bentuk munculnya kawasan-kawasan kumuh, penurunan kualitas lingkungan, rendahnya efisiensi lahan dan kawasan, serta jauhnya penduduk dengan tempat kerja. Variasi dari dampak yang muncul dalam mengatasi persoalan ini oleh masyarakat adalah, dipenuhinya jalan oleh sepeda motor sebagi pilihan sarana transportasi yang murah dan cepat.
Sementara itu, segregasi sosial antara kelompok pendapatan bawah dan menengah-atas di Jakarta yang terus meningkat. Ini merupakan sumber potensial bagi konflik-konflik sosial. Sistem kepemilikan pertanahan yang rumit dan tidak tersedianya rumah murah yang layak, telah menciptakan pemukiman kumuh perkotaan dan rusaknya daerah aliran sungai. Kelompok miskin kota yang tidak memiliki tempat tinggal, kemudian menciptakan permukiman kumuh dan padat serta permukiman liar di bantaran sungai, bawah jembatan, dan jalur hijau. Ditambah lagi dengan hilangnya ruang-ruang publik kota, taman kota, ruang interaksi masyarakat, termasuk lapangan olahraga yang digantikan oleh berbagai pusat bisnis dan perbelanjaan telah semakin meningkatkan kerawanan sosial.
Kedua, masih tingginya jumlah penduduk miskin,
pengangguran dan sektor informal kota. Kemiskinan terlihat semakin akut di Jakarta dan memiliki dampak sosial yang luas seperti kriminalitas, prostitusi, anak-anak jalanan, daerah-daerah kumuh, dan bahkan kerusuhan. Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
Sementara itu pengangguran masih terjadi dalam skala luas akibat rendahnya investasi dan masih terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Belanja pemerintah bahkan nyaris tidak memberi kontribusi terhadap pengurangan pengangguran. Penduduk yang sumber pendapatannya berasal dari usaha kecil dan mikro, umumnya sulit keluar dari tingkat pendapatan yang rendah. Mereka tumbuh hanya menjadi usaha yang subsisten, sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan penyerapan tenaga kerja yang terbatas.
Ketiga, masalah Jakarta yang semakin rawan adalah masalah lingkungan yang semakin parah akibat pertumbuhan populasi dan pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Masalah banjir, sampah, air bersih, pencemaran air, udara, dan tanah, menyusutnya daerah resapan air dan kawasan hijau, dan rusaknya daerah aliran sungai, terlihat semakin parah. Tanpa usaha perbaikan yang serius dan berkesinambungan, bukan mustahil suatu saat nanti lingkungan tidak akan mampu lagi menampung pertumbuhan kota. Hingga saat ini saja, Jakarta sudah menjadi kota paling tercemar ke-tiga di dunia setelah Mexico City dan Bangkok.
J
akarta memang memiliki pendapatan per kapita yang jauh lebih tinggi daripada daerah-daerah lain. Namun itu semua bukanlah berarti Jakarta tidak membutuhkan kebijakan sosial dan program yangKerangka
Dasar Menuju
Pembangunan
Manusia Jakarta
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan. Betul, kita memang bisa mengatakan biarkan pasar dan sektor swasta bekerja karena mereka relatif bisa menciptakan efisiensi. Namun kebijakan yang secara khusus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan terpenuhinya kebutuhan dasar juga menjadi kebutuhan yang mendesak.
Memberikan perhatian pada penciptaan kesejahteraan di ibukota memiliki banyak rasionalitas. Pertama,
kesejahteraan adalah tujuan bernegara selain keadilan. Dalam konteks daerah, kesejahteraan adalah tujuan utama kebijakan dan pengelolaan daerah dalam bentuk pemenuhan kebutuhan dasar penduduk. Bahkan indikator keberhasilan sebuah daerah atau negara adalah kesejahteraan penduduknya dalam bentuk indeks pembangunan manusia. Secara politik, dukungan juga akan datang ketika sang pemimpin daerah bisa menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Kedua, kesejahteraan mempromosikan efisiensi
ekonomi. Kesejahteraan yang lebih tinggi memiliki dampak eksternalitas positif baik dari sisi mikro maupun makro ekonomi sehingga akan mendorong peningkatan efisiensi ekonomi. Efisiensi inilah yang diharapkan akan dapat lebih memperbaiki alokasi sumber daya anggaran agar lebih mencapai sasaran. Sebagai kota modern, sudah selayaknya Jakarta menempatkan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya anggaran dan sumber daya ekonomi yang dimilikinya.
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
Ketiga, kesejahteraan akan menurunkan kemiskinan yang menjadi problem utama sekaligus musuh pembangunan. Tidak ada satupun negara atau daerah yang ingin dicap sebagai miskin atau dikatakan memiliki tingkat kemiskinan tinggi. Keempat, kesejahteraan mendorong kesamaan sosial dan menurunkan kesenjangan sosial. Persamaan hak-hak ekonomi, politik, sosial-budaya hingga kesamaan perlakuan di depan hukum dapat dipromosikan dengan penciptaan kesejahteraan secara merata.
Kelima, kesejahteraan mempromosikan stabilitas
sosial-politik. Stabilitas yang sejati hanya akan tercapai ketika semua warga sejahtera lahir dan batin. Stabilitas yang bersumber dari tindakan represif-manipulatif negara, hanya akan menciptakan stabilitas artifisial yang semu.
Keenam, kesejahteraan mendorong pemberdayaan
ma-syarakat yang dibutuhkan untuk melahirkan kemandirian. Dengan kemandirian ini diharapkan masyarakat se ma kin kreatif dan inovatif, serta semakin mengurangi keter-gantungannya kepada pemerintah.
Secara historis, penciptaan kesejahteraan bagi seluruh warga merupakan amanat perjuangan kemerdekaan. Para pendiri negeri telah menegaskan bahwa negara-bangsa bernama Indonesia ini dibentuk untuk mengupayakan terciptanya kemakmuran lahir dan batin bagi segenap penduduknya. Sejak awal merdeka, pemerintahan Indonesia selalu mengupayakan penyelenggaraan sistem
Secara historis, penciptaan kesejahteraan bagi seluruh warga merupakan amanat perjuangan kemerdekaan.
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
kesejahteraan sosial, salah satunya dicetuskan Kabinet Hatta (1949-1950) dengan rumusan “jaminan sosial”.
Pada prinsipnya, penciptaan kesejahteraan masyarakat membutuhkan tiga prasyarat dasar. Pertama, kehadiran pemerintahan yang memihak rakyat banyak (pro-poor government) dalam lingkungan politik yang stabil. Dalam alam demokrasi saat ini, stabilitas ini hanya dapat diraih melalui aliansi politik. Namun aliansi politik harus didasari oleh tujuan kesejahteraan publik (welfare-driven), bukan kepentingan pragmatis jangka pendek orang-perorang.
Kedua, kehadiran institusi yang memihak rakyat banyak
(pro-poor institutions). Penyediaan kesejahteraan membutuhkan institusi yang responsif, kompeten dan bersih untuk memberikan pelayanan publik secara optimal. Disinilah reformasi birokrasi menjadi kata kunci terpenting dalam penciptaan kesejahteraan di Jakarta.
Ketiga, kehadiran kebijakan yang memihak rakyat banyak (pro-poor policy). Dalam dunia nyata, implementasi idealita adalah sulit dan sering menemui resistensi dari
vested interest groups. Lebih jauh lagi, seringkali terjadi deviasi antara rencana dan realisasi. Disinilah dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah untuk mendahulukan kepentingan sosial diatas kepentingan kelompok-kelompok
status quo, dalam bentuk mempromosikan
kebijakan-kebijakan pembangunan sosial yang luas. Hanya dengan komitmen yang kuat maka kesejahteraan untuk semua akan terwujud.
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
Kerangka Dasar Pembangunan Kesejahteraan di DKI Jakarta
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
M
eskipun sebagian penduduk Jakartasu-d ah pasu-da tahap pemenuhan kebutuhan ter sier dan gaya hidup, namun tetap ada kewajiban bagi pengelola pemerintahan dan pengambil kebijakan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pemenuhan kebutuhan ini adalah bagian dari tanggungjawab negara/ daerah terhadap penduduknya. Bahkan jika melihat bahwa, masih lebih dari 300 ribu penduduk Jakarta yang hidup dibawah garis kemiskinan dan masih cukup banyak penduduk yang hidup dengan pendapatan kurang dari 1 juta per bulan, maka menjadi sangat penting bagi pemerintah untuk tetap menyediakan pelayanan publik yang menjadi kebutuhan dasar penduduk.
Pembangunan
Manusia melalui
Memenuhi
Kebutuhan Dasar
DKI Jakarta“Welfare City”
Aliansi Politik
“welfare-driven”
Reformasi Birokrasi dan Peran
Stakeholders
Komitmen Pembangunan
Sosial
Pro-poor policy Pro-poor institutions
Kebutuhan dasar penduduk pertama yang harus dipenuhi adalah hak dasar bagi penduduk untuk memperoleh pendidikan yang layak. Bagi Jakarta sebagai kota inter-nasional, paling tidak setiap penduduk bisa bersekolah sampai dengan SMU atau wajib belajar 12 tahun. Namun dari sisi anggaran, tentu saja target ini tidak mudah untuk dipenuhi. Partisipasi publik masih tetap diperlukan untuk dapat terpenuhinya pemenuhan kebutuhan pendidikan 12 tahun. Setidaknya pemerintah dapat menjamin penduduk yang masuk kategori tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar. Jakarta juga dapat berfokus pada peningkatan kualitas dan sarana pendidikan dan pemenuhan pada pendidikan khusus seperti pendidikan kejuruan dalam rangka penyiapan sumber daya manusia siap kerja. Apalagi umumnya pendidikan kejuruan ini lebih diminati oleh siswa dari kelompok ekonomi menengah ke bawah, sehingga menjadi sangat wajar jika subsidi dialokasikan kepada pendidikan kejuruan ini untuk pemenuhan kebutuhan pendidikan 12 tahun.
Pada urutan kedua kebutuhan dasar yang harus dipenuhi adalah kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan ini umumnya diimplementasikan melalui jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Pada beberapa daerah, cakupan jaminan layanan kesehatan ini bahkan bisa mencakup seluruh penduduk. Hal ini bisa direalisasikan bila jumlah penduduk tidak banyak atau ada skema keterlibatan partisipasi masyarakat melalui premi. Jakarta memiliki Kebutuhan dasar
penduduk pertama yang harus dipenuhi adalah hak dasar bagi penduduk untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Pada urutan kedua kebutuhan dasar yang harus dipenuhi adalah kebutuhan akan pelayanan kesehatan.
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
APBD yang cukup besar, namun juga memiliki jumlah penduduk yang jauh lebih besar pula dibanding kabupaten/ kota lainnya di Indonesia. Sehingga di Jakarta mungkin saja diwujudkan jaminan pelayanan kesehatan yang mencakup seluruh penduduk, namun dekat residual, atau hanya diberikan bagi penduduk yang belum memiliki jaminan kesehatan dari sumber lain (Askes, Jamsostek, ASABRI dan asuransi swasta). Tentu saja jaminan ini memiliki batasan pelayanan kesehatan tingkat tiga, sebagaimana penggolongan dalam sistem kesehatan daerah. Namun yang juga sangat penting adalah memberikan jaminan layanan bagi ibu hamil dan balita, khususnya dalam memperoleh jaminan pelayanan pemeriksaan dan pemeliharaan gizi, mengingat mereka adalah kelompok yang rentan dan memerlukan perhatian khusus.
Jaminan Sosial menjadi kebutuhan ketiga yang harus dipenuhi setelah kebutuhan penduduk. Jaminan sosial ini mencakup jaminan sosial diluar pendidikan dan kesehatan. Jaminan ini riilnya berupa jaminan khusus bagi kelompok masyarakat berkebutuhan khusus dan jaminan memperoleh pekerjaan/kesempatan berusaha. Jaminan sosial bagi pen-duduk berkebutuhan khusus mencakup layanan maupun prioritas khusus dalam pelayanan publik , bahkan termasuk potongan harga khusus untuk jasa yang disediakan oleh pemerintah, termasuk dalam bidang pariwisata. Sehingga penduduk berkebutuhan khusus ini mendapat pelayanan yang juga istimewa sesuai kebutuhannya tanpa bermaksud memandangnya sebagai kelompok yang lemah.
Jaminan Sosial menjadi kebutuhan ketiga yang harus dipenuhi setelah kebutuhan penduduk. Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
Jaminan penyediaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha adalah wujud dari pemenuhan kebutuhan ekonomi penduduk. Hal ini dapat diwujudkan melalui peraturan dan iklim usaha yang kondusif untuk tumbuhnya kegiatan ekonomi dan usaha, termasuk mendorong berkembangnya usaha-usaha baru melalui berbagai skema kebijakan baik sisi permodalan maupun keterampilan usaha dan kemitraan usaha. Di negara-negara Eropa Utara, penerapan welfare state sangat didukung oleh berkembangnya sektor swasta dan kegiatan bisnis yang memungkinkan didapatkan penerimaan pajak yang cukup tinggi untuk membiayai sektor-sektor dan program jaminan sosial.
Kebutuhan dasar keempat yang harus terpenuhi untuk pembangunan manusia di Jakarta adalah kebutuhan perumahan dan air bersih. Pembangunan pemukiman yang dilakukan oleh pengembang swasta dengan mekanisme pasar tidak mampu dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah yang justru membutuhkan pemukiman dan saat ini tinggal dalam pemukiman yang tidak layak. Oleh karena itu tetap dibutuhkan keterlibatan pemerintah dalam penyediaan pemukiman bagi kelompok masyarakat ini yang merupakan pekerja pada berbagai sektor ekonomi di Jakarta. Disisi lain, pembenahan dan penataan kawasan padat penduduk juga diperlukan agar masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut dapat lebih baik. Apalagi kita juga harus memenuhi target pencapaian MDGs yaitu tercapainya City Without Slums . Bagian dari Kebutuhan dasar
keempat yang harus terpenuhi untuk pembangunan manusia di Jakarta adalah kebutuhan perumahan dan air bersih.
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
penataan pemukiman ini adalah pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi yang layak bagi penduduk, termasuk penduduk yang tinggal di kawasan padat dan kumuh.
Mewujudkan kesejahteraan untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia memang harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi. Oleh karena itu, gagasan yang ditawarkan adalah menyatukan urusan-urusan yang terkait dengan kesejahteraan dalam suatu koordinasi. Penyatuan urusan kesejahteraan yang mencakup pendidikan, kesehatan, jaminan sosial dan layanan administrasi kependudukan, perumahan dan ketenagakerjaan bahkan bukan hanya di tingkat eksekutif pelaksana kebijakan, namun juga di legislatif sebagai perumus kebijakan. Sudah selayaknya urusan-urusan yang terkait dengan kesejahteraan penduduk ini berada dalam satu komisi tersendiri di legislatif di DKI Jakarta sehingga pembahasannya lebih komprehensif.
Meningkatkan kualitas pembangunan manusia memang harus
dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Jakarta : Modernitas & Pembangunan Manusia
B
erbagai indeks dan parameter konsep pembangunan dan kesejahteraan kini semakin berkembang sesuai dengan tahapan kualitas kehidupan di era modern. Jika dahulu kesejahteraan sebuah negara dilihat hanya pertumbuhan ekonomi kuantitatif semata (baca: raga), kini telah bergeser dengan memasukan unsur-unsur kualitatif seperti pendidikan, kesehatan, serta kualitas kehidupan lainnya (baca: jiwa). Sebagaimana sya’ir lagu kebangsaan Indonesia Raya, kita harus senantiasa ‘bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya!’. Hal pertama yang harus menjadi prioritas hakikatnya adalah membangun jiwa terlebih dahulu, baru kemudian membangun raga.Puluhan tahun lalu orang lebih melihat pembangunan sebagai pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produk domestik bruto (PDB) ataupun peningkatan PDB dan pendapatan per kapita atau hanya aspek raga saja. Jika PDB meningkat dari tahun ke tahun dan bila pendapatan per kapita juga meningkat per tahun dalam periode
Bangun Jiwa dan Raga Jakarta
Bercermin kepada
Negara ASEAN
Selamat Nurdin
Ketua DPW PKS DKI Jakarta
Bangun Jiwa dan Raga Jakarta Bercermin kepada Negara ASEAN
waktu tertentu, itu sudah dikatakan sebagai terjadinya pembangunan di negara yang bersangkutan.
Perekonomian Jakarta yang digambarkan dengan PDRB atas dasar harga berlaku dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu dari Rp. 501,8 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp. 862,19 triliun pada tahun 2010. Perekonomian Jakarta juga tumbuh dengan pesat dengan pertumbuhan ekonomi diatas pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam periode 2006-2008, pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 6% dengan tingkat inflasi di bawah 6%.
Namun kemudian, kebanyakan wilayah yang mengalami pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan per kapita tidaklah menunjukkan perbaikan dalam kehidupan dan pembangunan manusia, karena masih melupakan sebagian besar rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan. Para ahli dan banyak orang memandang pembangunan yang terjadi hanya menciptakan ketimpangan distribusi pendapatan. Beberapa kelompok masyarakat memang betul mengalami perbaikan raga atau badannya, namun secara kejiwaan mereka terancam derajatnya, aspek ‘bangunlah jiwanya’ luput diperhatikan.
Sasaran pembangunan milenium atau Milenium De-velopment Goals telah dicanangkan oleh Badan PBB untuk Program Pembangunan (UNDP) yang meliputi delapan tujuan yang harus dicapai pada tahun 2015 yang meliputi sektor pemerataan pendidikan, pengentasan kemiskinan
Peningkatan pendapatan per kapita tidaklah menunjukkan perbaikan dalam kehidupan
dan pembangunan manusia, karena masih melupakan sebagian besar rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan.
Bangun Jiwa dan Raga Jakarta Bercermin kepada Negara ASEAN
dan kelaparan, peningkatan kualitas kesehatan dan lingkungan hidup, kesetaraan gender, serta pemberdayaan perempuan.
Parameter yang masih belum dipenuhi itu relevan diukur dengan data UNDP yang selalu dirilis tahunan, yakni Indeks
Pembangunan Manusia atau Human Development Index
yang kini lebih populer menjadi parameter standar kualitas kesejahteraan sumber daya manusia di dunia. Kualitas ini mencerminkan kemampuan SDM untuk berusaha dalam meningkatkan kesejahteraannya sehingga dapat keluar dari jerat kemiskinan.
Berikut ini dapat ditampilkan bagaimana besaran dan ketimpangan IPM antara Jakarta dan beberapa provinsi besar pilihan, yang relatif berkembang dari tahun ke tahun. DKI Jakarta senantiasa memimpin di ranking pertama.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa IPM DKI Jakarta selalu berada di atas rata-rata provinsi lainnya, bahkan melebihi capaian kinerja IPM Indonesia, seperti yang disajikan data berikut:
Peringkat Provinsi IPM
8 Provinsi Pilihan 1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. DKI Jakarta Sulawesi Utara Riau Yogyakarta Kalimantan Timur Kepulauan Riau Sumatera Utara Sumatera Barat 76,1 71,8 76,6 71,8 71,4 66,5 70,5 69,2 72,5 67,1 67,3 68,7 67,8 67,3 66,6 65,8 75,6 71,3 69,1 70,8 69,9 67,3 68,8 67,5 76,1 73,4 73,2 72,9 72,2 70,8 71,4 70,5 76,0 74,2 73,6 73,5 72,9 72,2 72,0 71,2 76,1 74,4 73,8 73,7 73,3 72,8 72,5 71,6 76,3 74,9 74,4 74,1 73,8 72,9 72,7 72,1 77,3 75,6 75,1 74,8 74,5 75,1 73,3 72,9
Jika Jakarta ingin bercermin terkait dengan capaiannya selama ini, selayaknya dapat dibandingkan dengan kondisi yang terjadi di Kawasan Asia Tenggara atau negara tetangga di ASEAN. Negara-negara ASEAN kini banyak yang telah mampu mencapai beberapa target dalam Millenium Development Goals (MDG) seperti menurunkan angka kemiskinan, memberikan pendidikan dasar, menurunkan kematian bayi, dan kesejahteraan gender di bidang pendidikan sebagai indikator kualitatif. Namun untuk parameter lainnya seperti meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya serta memelihara kelestarian lingkungan hidup lainnya untuk beberapa negara seperti Laos, Vietnam dan Indonesia nampak masih sangat minim.
Sebagai perbandingan yang lebih fair, mengingat Jakarta sudah harus bercermin kepada Negara di ASEAN maka berikut ini dikemukakan tentang IPM Indonesia, bahkan dalam hal ini Jakarta jika dibandingkan negara-negara Asia Tenggara yang termasuk dalam Kelompok IPM Menengah. IPM yang terdiri dari dimensi kesehatan, akses kepada pendidikan dan batasan standar hidup di Jakarta masih relatif tertinggal dibandingkan negara
Kinerja dan Peringkat IPM
Indonesia IPM (%) Peringkat Dunia
2004 2005 2006 2007 2008
71,1 72,8 72,6 73,4 71,7
108 107 109 108 107
Sumber: UNDP
Bangun Jiwa dan Raga Jakarta Bercermin kepada Negara ASEAN
tetangga, meski sudah masuk ke dalam IPM yang relatif tinggi diantara Kelompok HDI menengah. Jika saja Jakarta dalam hal ini mampu menembus angka psikologis IPM 80,0 maka ibukota republik ini sudah layak bersanding dengan Kelompok IPM Tinggi di ASEAN.
Berdasarkan data-data serta penelitian ini, di ASEAN Indonesia hanya berada di atas Vietnam dan Kamboja, sedangkan Thailand, Singapura, Filipina dan Malaysia posisinya selalu berada di atas Indonesia.
Sejak 2002, Singapura misalnya berada di ranking 25 (IPM 90,2), Brunei Darussalam ranking 33 (IPM 86,7), dan Malaysia ranking 59 (IPM 79,3). Sementara Thailand berada pada ranking 76 (IPM 76,3), dan Filipina ranking
IPM Jakarta & Indonesia di ASEAN Masih Berada pada Kelompok Menengah
Indeks Pembangunan Manusia
di ASEAN Tahun 2002 Tahun 2005
Tahun 2007 *penyesuaian
Kelompok Negara IPM (%) Peringkat IPM (%) Peringkat IPM (%) Peringkat
Kelompok IPM Tinggi (kisaran 80,0 –
100,0) Singapura Brunei Dslm Malaysia 90,2 86,7 79,3 25 30 63 92,2 89,4 81,1 25 33 59 94,4 92,0 82,9 23 30 66 Kelompok IPM Menengah (kisaran 53,0 –
79,9) Thailand Filipina 76,3 75,3 78 90 78,1 77,1 76 83 78,3 75,1 86 105
Jakarta 75,6 - 76,0 - 76,3
-Indonesia Vietnam Laos 69,2 69,1 53,4 107 105 130 72,8 77,3 60,1 111 112 135 73,4 72,5 62,9 108 116 133
Sumber: UNDP, www.wikipedia.org
Bangun Jiwa dan Raga Jakarta Bercermin kepada Negara ASEAN
83 (IPM 75,3). Ranking IPM Indonesia di level 111 IPM (69,2) masih lebih baik dari Vietnam dan Laos yang berada pada ranking 112 dan 135. Untuk Jakarta di tahun 2002 mengungguli Filipina namun di bawah Thailand dengan IPM 75,6.
Lalu tahun 2005, Singapura tetap di ranking 25 (IPM 92,2), Brunei Darussalam naik di ranking 30 (IPM 89,4), dan Malaysia turun di ranking 63 sementara Thailand dan Filiphina masing-masing ranking 78 dan 90. Ranking IPM Indonesia sempat naik ke level 107 IPM (72,8) namun Vietnam menyalip ke ranking 105 sementara Laos di ranking 130. Jakarta di tahun 2005 turun di bawah Thailand dan Filipina dengan IPM 76,0 karena problem bencana banjir, rob dan sanitasi.
Untuk kondisi 2007, Singapura sudah di level 23 (IPM 94,4), Brunei Darussalam ranking 30 (IPM 92,0), dan Malaysia ranking 66 (IPM 82,9). Sementara Thailand berada pada ranking 86 (IPM 78,3), dan Filipina ranking 105 (IPM 75,1). Ranking IPM Indonesia masih lebih baik dari Vietnam dan Laos yang berada pada ranking 116 dan 133. Di tahun 2007, IPM Indonesia 73,4 di ranking 108 merupakan angka indeks di bawah rata-rata untuk kawasan Asia Tenggara . Namun untuk kawasan Asia Pasifik, pencapaian itu sudah di atas rata-rata sebesar 68,6, sehingga IPM Indonesia masih dikategorikan pada posisi menengah. Sementara Jakarta di tahun 2007 kembali mengungguli Filipina meski tetap di bawah Thailand dengan IPM 76,3.
Bangun Jiwa dan Raga Jakarta Bercermin kepada Negara ASEAN
Bagaimana dengan pemetaan IPM 2010? Masih tingginya angka kematian ibu menyebabkan Indonesia baik akibat minimnya tindakan preventif ataupun karena bencana alam, diprediksi akan memiliki IPM terendah di Asia Tenggara. Berdasarkan hasil penelitian World Bank pada 2008, angka kematian ibu di Indonesia kembali meningkat menjadi 420/100.000 kelahiran. Sementara pada 2007, angka kematian mencapai 302/100.000 kelahiran. Berdasarkan hasil survei UNDP 2010, IPM Indonesia diindikasikan akan turun ke level 71,1 atau merosot di ranking 111, jauh di bawah Singapura 91,6, Malaysia 80,5, Thailand 78,4, dan Filipina 76,3. Vietnam mungkin akan menyalip kembali Indonesia dari segi ranking IPMnya, tapi jika IPM Jakarta yang dibandingkan tentunya masih jauh lebih baik dari Vietnam dan Laos.
Nampaknya, upaya pencapaian sasaran pembangunan milenium (MDGs) Indonesia umumnya dan Jakarta khususnya masih terhambat oleh tingkat disparitas (kesenjangan) yang tinggi. Disparitas adalah masalah utama bagi Jakarta secara khusus dan di Indonesia secara keseluruhan, termasuk pula negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam mencapai Millenium Development Goals.
Tingkat pertumbuhan ekonomi di Jakarta memang relatif selalu berada di atas 6%, bahkan kini mendekati angka psikologis 7%, sebuah pencapaian yang mungkin sangat diharapkan oleh negara-negara maju, namun masih perlu meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam Sebuah pencapaian
yang mungkin sangat diharapkan oleh negara-negara maju, namun masih perlu meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam hal tata kelola pemerintahan yang baik guna mengikis kesenjangan tersebut.
Bangun Jiwa dan Raga Jakarta Bercermin kepada Negara ASEAN
hal tata kelola pemerintahan yang baik guna mengikis kesenjangan tersebut. Proses peningkatan kualitas sumber daya manusia membutuhkan waktu yang panjang sejak manusia itu dilahirkan, diisi oleh asupan gizi yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya, cara orang tua mengenalkan nilai dan pilihan pendidikan bagi si anak, serta keteladanan pemimpin menjadi faktor utama yang menentukan kualitas anak bangsa.
Lebih jauh lagi, parameter Human Development Index dan Gender Development Index di hampir seluruh negara ASEAN masih menghadapi permasalahan. Permasalahan itu terkait rendahnya partisipasi perempuan di angkatan kerja sebagai salah satu parameter gender yang pergunakan untuk mengukur pembangunan ekonomi suatu negara. Unsur kesetaraan seperti akses, partisipasi dan tingkat kapabilitas untuk perempuan masih sangat lemah.
Kesulitan Indonesia, khususnya Jakarta untuk menaikkan IPM-nya adalah karena faktor kesenjangan ekonomi yang sangat dalam diantara data demografi yang padat (densitas tinggi), sehingga nampak kesenjangan kualitas kehidupan yang digambarkan secara kontras dengan adanya apartemen gedung mewah dengan latar belakang pemukiman kumuh. Di sisi lain pemerintah daerah juga kurang berperan dalam menyediakan layanan publik dan berbagai perangkat infrastruktur dalam mendukung kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Peran
Di sisi lain pemerintah daerah juga kurang berperan dalam menyediakan layanan publik dan berbagai perangkat infrastruktur dalam mendukung kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Bangun Jiwa dan Raga Jakarta Bercermin kepada Negara ASEAN
pemerintah daerah dalam menyediakan layanan publik dan infrastruktur untuk membangun manusia Indonesia masih sangat terbatas, oleh karena itu kita memerlukan peran proaktif dari anggota masyarakat untuk meningkatkan kualitas dan mengembangkan kemampuan dirinya sendiri. Ini hanya dapat dilakukan jika kita mempunyai kesadaran bahwa pembangunan manusia merupakan tanggung jawab diri kita sendiri, tanpa mengesampingkan peran pemerintah. Setiap anggota masyarakat perlu melakukan evaluasi, lebih bijak dalam gaya hidup dan pengeluaran, disiplin dalam menabung, serta mengalokasikan tabungan untuk investasi dalam pendidikan dan kesehatan. Masyarakat dan sektor swasta juga perlu didorong proaktif dalam hal CSR dan kegiatan kedermawanan untuk mengangkat derajat sosial di lingkungannya.
Singkatnya, belajar dari negara maju maka investasi dan orientasi jangka panjang berbagai pihak (pemerintah pusat dan daerah, swasta, kampus dan masyarakat secara umum) dengan fokus alokasi investasi di sektor kesehatan dan pendidikan merupakan determinan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Pemerintah Daerah Jakarta juga harus mulai serius menggarap Sistem Jaminan Kesehatan Daerah, juga harus mulai mencoba menerapkan pola ear-marking atau dedikasi khusus dalam pola pendapatan dan pengeluaran anggaran, untuk kesejahteraan rakyat sehingga anggaran kesejahteraan dapat terdorong lebih tepat sasaran. Hanya dengan kesadaran ini maka Bangun Jiwa dan Raga Jakarta Bercermin kepada Negara ASEAN
setiap anak bangsa dapat mengumpulkan bekal untuk meningkatkan kualitas dirinya, lebih mandiri dan dapat keluar dari jerat kemiskinan.
Bangun Jiwa dan Raga Jakarta Bercermin kepada Negara ASEAN
S
ebuah periode kepemimpinan akan selalu dikenang dalam sejarah ketika ada gagasan-gagasan besar yang dimunculkan dan diwujudkan oleh sang pemimpin. Sependek apapun periode kepemimpinan tersebut, ketika mampu menghasilkan suatu ide atau gagasan besar yang berujung pada manfaat riil, maka sang pemimpin akan selalu dikenang dan dijadikan teladan bagi generasi kepemimpinan berikutnya. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi seorang pemimpin untuk meninggalkan jejak gagasan yang dapat diimplementasikan sekaligus memberi maslahat. Hukum ini berlaku tanpa kecuali.Contohnya, terlepas dari kekurangan yang ada, keber-hasilan Ali Sadikin dalam proyek jalan MHT-nya menjadikannya sebagai gubernur yang paling diingat masyarakat. Bahkan nama beliau tetap lekat di hati mereka yang belum lahir pada masa kepemimpinannya. Sutiyoso sedikit banyak juga dikenang dengan gagasan Megapolitan dan busway-nya. .
Ketika seorang tokoh atau sebuah partai politik besar di Jakarta mencita-citakan untuk memimpin Jakarta pada periode mendatang, maka keinginan dan kesiapan tersebut juga harus didukung oleh sebuah gagasan besar tentang Ketika seorang tokoh
atau sebuah partai politik besar di Jakarta mencita-citakan untuk memimpin Jakarta pada periode mendatang, maka keinginan dan kesiapan tersebut juga harus didukung oleh sebuah gagasan besar tentang arah atau visi Jakarta ke depan.
Gagasan Besar
Kesejahteraan
Gagasan Besar Kesejahteraan
arah atau visi Jakarta ke depan. Terlebih lagi, bagi partai dengan label kesejahteraan. Gagasan tersebut haruslah sebuah visi yang jelas tentang ide besar pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat banyak. Sehingga gagasan tersebut juga akan sejalan dengan visi dan idealisme partai tersebut yang mencita-citakan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Dalam usianya yang mendekati lima abad, Jakarta tumbuh tanpa ciri dan tujuan yang jelas secara fisik maupun kondisi penduduknya. Tata ruang nyaris tanpa arah. Tidak ada ciri kota tua nan klasik dan serasi. Jakarta kini justru memiliki wajah lingkungan yang semrawut. Sungai yang kotor, pemukiman yang kumuh, belum lagi banjir yang selalu menyambangi ibukota ini setiap tahunnya.
Penduduknya juga hidup dalam suasana ketimpangan yang sangat kontras. Diantara belantara gedung bertingkat yang modern, ratusan pemukiman kumuh dengan penduduk yang padat dan minim sarana masih menjadi wajah Jakarta kita. Lebih dari 90 ribu penduduk hidup di bantaran sungai dan ratusan ribu lagi tidak memiliki tempat tinggal tetap.
Dari sisi sosial ekonomi masyarakat, masih banyak warga Jakarta yang hidup dalam kondisi tidak layak. Lebih dari setengah juta penduduk menganggur dan lebih dari 1,5 juta penduduk masuk dalam kategori miskin. Banyak penduduk sulit mendapatkan akses layanan kesehatan secara layak, dan lebih dari lima ribu kasus gizi buruk
Jakarta Sejahtera Berkelanjutan, Mengapa Tidak?
masih terjadi setiap tahunnya. Sementara itu, penyakit menular dan musiman seperti DBD terus mengancam kehidupan masyarakat. Wajah pendidikan juga tak kalah kelam. Angka putus sekolah hampir mencapai 10 ribu, akibat biaya pendidikan yang masih tinggi dan banyaknya pungutan tak resmi di sana sini.
Dengan kondisi Jakarta yang demikian, keinginan untuk menjadikan Jakarta sebagai tempat untuk penduduknya hidup sejahtera menjadi cita-cita sekaligus sebagai gagasan besar yang harus dibawa. Menjadikan Jakarta sebagai kota kesejahteraan yang berkelanjutan (welfare and sustainable city) adalah sebuah gagasan besar untuk memimpin Jakarta ke depan. Ia adalah gagasan besar meskipun terkesan sederhana. Mengapa? Karena kepemimpinan Jakarta saat ini masih abai terhadap pemenuhan hak-hak penduduk dan kebutuhan dasar masyarakat. Ia adalah cita-cita besar yang asasi. Sebab pada hakikatnya, kesejahteraan adalah keinginan hidup semua manusia dan cita-cita semua bangsa.
Kita tidak perlu melihat konsep welfare state yang mendasari gagasan welfare and sustainable city sebagai konsep yang berasal dari barat karena sesungguhnya tidak ada definisi yang baku tentang welfare city. Jangan pula melihat welfare city sebagai gagasan yang bercorak sosialis dan anti liberalisme karena sesungguhnya gaga-san-gagasan dalam welfare city justru menjembatani kegagalan kedua pendekatan tersebut. Bahkan welfare
Kita tidak perlu melihat konsep welfare state yang mendasari gagasan welfare and sustainable city sebagai konsep yang berasal dari barat karena sesungguhnya tidak ada definisi yang baku tentang welfare city.
Gagasan Besar Kesejahteraan
state sendiri bukanlah suatu konsep atau pendekatan baku. Ia lebih dikenali dari atribut-atribut kebijakan pelayanan dan transfer sosial yang diberikan oleh negara/ pemerintahan kepada warganya.
Welfare state sebenarnya merupakan kumpulan kebijakan sosial untuk kesejahteraan rakyat, dengan tetap mendorong peran masyarakat dan sektor swasta. Suatu
welfare state dicirikan dengan empat pilar utama yaitu (i)
social citizenship, (ii) full democracy, (iii) modern industrial relation systems, dan (iv) right to education and the
expansion of modern mass education systems. Keempat pilar ini dimungkinkan karena negara memperlakukan kebijakan sosial sebagai penganugerahan hak-hak sosial kepada warganya yang dijamin oleh pemerintah. Pemenuhan hak ini juga harus diimbangi oleh dua hal yang saling terkait . Pertumbuhan ekonomi tinggi (economic growth) dan kesempatan kerja (full employment) . Welfare state juga bukan suat