PERTEMPURAN SURABAYA
DAN
PERISTIWA BANDUNG LAUTAN API
A. SITUASI SURABAYA SEBELUM PERTEMPURAN
SURABAYA
1. Situasi Indonesia Secara Umum
Pada tanggal 15 September 1945, sekutu mendaratkan tentaranya di Tanjung Priok yang disusul dengan pendaratan tentara sekutu yang dipimpin oleh W.R. Paterrson. Untuk menjalankan tugas di Indonesia, sekutu membentuk AFNEI denagn panglimanya Letjend Sir Philip Christison yang membawahi 3 pasukan divisi, yaitu divisi Jakarta, Surabaya, dan Sumatra.
Tugas AFNEI :
Menerima kekuasaan dari Jepang
Membebaskan tawan perang dan interniran sekutu
Melucuti dan mengumpulkan tentara Jepang kemudian dipulangkan ke negaranya
Menegahkan dan mempertahankan keadaan damai kemudian disahkan kepada pemerintah sipil
Menghimpun peperangan dan menuntut pejahat perang
Kedatangan sekutu di Indonesia awalnya diterima dengan baik oleh pemerintah dan rakyat Indonesia. Ternyata kedatangan sekutu diboncengi NICA, hal ini yang menimbulkan berbagai macam pertempuran di berbagai kota menghadapi tentara jepang dan sekutu bahwa setelah jepang menyerah kepada sekutu pada diduduki sampai kedatangan pasukan sekutu di daerah tersebut termasuk Indonesia. Jepang berusaha menghalangi bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam BKR berusaha melucuti senjata pasukan Jepang dengan alasan:
Mendapatkan senjata untuk mempertahankan kemerdekaan Agar senjata pasukan Jepang tidak jatuh ke tangan Belanda
Agar pasukan Jepang tidak menyerang demi mempertahankan “status quo”
secara diplopmasi (Perjanjian Linggajati, Perjanjian Renville, KMB, dan Perundingan Roem-Roeyen.
2. Situasi Surabaya
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih. 26 Oktober 1945, tercapai persetujuan antara Bapak Suryo, Gubernur Jawa Timur dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak harus menyerahkan senjata mereka. Sayangnya terjadi salah pengertian antara pasukan Inggris di Surabaya dengan markas tentara Inggris di Jakarta yang dipimpin Letnan Jenderal Sir Philip Christison.
milisi Indonesia marah waktu membaca selebaran ini dan menganggap Brigjen Mallaby tidak menepati perjanjian tanggal 26 Oktober 1945.
28 Oktober 1945, pasukan Indonesia dan milisi menggempur pasukan Inggris di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di Surabaya, Brigjen Mallaby meminta agar Presiden RI Soekarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke Surabaya dan mengusahakan perdamaian.
29 Oktober 1945, Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap bersama Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding.
Pada siang hari, 30 Oktober 1945, dicapai persetujuan yang ditanda-tangani oleh Presiden RI Soekarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan ke 3 pimpinan RI meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta.
Pada sore hari, 30 Oktober 1945, Brigjen Mallaby berkeliling ke berbagai pos pasukan Inggris di Surabaya untuk memberitahukan soal persetujuan tersebut. Saat mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio, dekat Jembatan merah, mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio.
Karena mengira komandannya akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris kompi D yang dipimpin Mayor Venu K. Gopal melepaskan tembakan ke atas untuk membubarkan para milisi. Para milisi mengira mereka diserang / ditembaki tentara Inggris dari dalam gedung Internatio dan balas menembak. Seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith melemparkan granat ke arah milisi Indonesia, tetapi meleset dan malah jatuh tepat di mobil Brigjen Mallaby.
Granat meledak dan mobil terbakar. Akibatnya Brigjen Mallaby dan sopirnya tewas. Laporan awal yang diberikan pasukan Inggris di Surabaya ke markas besar pasukan Inggris di Jakarta menyebutkan Brigjen Mallaby tewas ditembak oleh milisi Indonesia. Letjen Sir Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen Mallaby dan mengerahkan 24000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya.
B. KRONOLOGI PERTEMPURAN SURABAYA
1. Awal Mula Pertempuran Surabaya
menguasai Surabaya. Secara diam-diam Sekutu memperkuat posisinya. Tanggal 1 November pukul 08.00 Laksamana Muda Patterson dengan kapal perang HMS Sussex tiba di Surabaya, 1500 pasukan didaratkan dengan kapal Carron dan Cavallier. Tanggal 3 November menyusul pula Mayor Jendral E.C.Manseergh, Panglima Divisi ke-5 Infanteri India, tiba di Surabaya dengan membawa 24.000 pasukan, lengkap dengan panser, satu divisi arteleri dilindungi dari Tanjungperak dan Ujung oleh satu kruiser dan empat destroyer dengan meriam jarak jauh yang lengkap, ditambah 21 Sherman tank dan meriam yang dilindungi 24 pesawat terbang jenis Mosquito (pemburu) dan Thunmderbolts (pelempar bom). Pesawat-pesawat ini berpangkalan di kapal-kapal perusak yang mengadakan straffing serta menjatuhkan bom-bom di Surabaya. Kekuatan laut yang dikerahkan oleh Inggris terdiri dari jenis kapal LST destroyer. Kapal itu dibawah komando Naval Commander Force 64 yang dipimpin olehCaptain RCS Carwood. Beberapa buah kapal ini sudah beroperasi sejak kedatangan Inggris 25 Oktober 1945. Dan banyak lagi kekuatan Inggris dari laut, udara dan darat untuk menyerbu Surabaya 10 November 1945.
2. Ultimatun 10 November
Tanggal 9 November 1945, Mansergh menyerahkan 2 surat kepada Gubernur Suryo. Yang pertama berupa ULTIMATUM yang ditujukan kepada “All Indonesians of Sourabaya” lengkap dengan “Instructions”.
Yang kedua merupakan rincian dari ultimatum tersebut. Bunyi ultimatum yang disebarkan sebagai pamflet melalui pesawat udara pada 9 November pukul 14.00. adalah :
“November, 9th. 1945.
TO ALL INDONESIANS OF SOERABAYA.
On October 28th, the Indonesians of Soerabaya treacherously and without provocation, suddenly attacked the british Forces who came for the purpose of disarming and concentrating the Japanese Forces, of bringing relief to Allied prisoners of war and internees, and of maintaining law and order. In the fighting which ensued British personel were killed or wounded, some are missing, interned women and children were massacred, and finally Brigadier Mallaby was foully murdered when trying to implement the truce which had been broken in spite of Indonesian undertakings.
The above crimes against civilization cannot go unpunished. Unless therefore, the following ordes are obeyed without fail by 06.00 hours on 10th.November at the latest, I shall enforce them with all the sea, land and air forces at my disposal, and those Indonesians who have failed to obey my orders will be solely responsible for the bloodshed which must inevitably ensue.
Instructions My orders are:
1. All hostages held by the Indonesians will be returned in good condition by 10.00 hours 9th. November.
2. All Indonesian leaders, including the leaders of the Youth Movements, the Chief Police and the the Chief Official of the Soerabaya Radio will report at Bataviaweg by 18.00 hours, 9th November. They will approach in single file carrying any arms they possess. These arms will be laid down at a point 100 yards from the rendezvous, after which the Indonesians will approached with their hands above their heads and will taken into custody, and must be prepared to sign a document of unconditional surrender.
3. (a) All Indonesians unauthorized to carry arms and who are in possession of same will report either to the roadside Westerbuitenweg between South of the railway and North of the Mosque or to the junction of Darmo Boulevard and Coen Boulevard by 18.00 hours 9 th November, carrying a white flag and proceeding in single file. They will lay down their arms in the same manner as prescribed in the preceeding paragraphs. After laying down their arms they will be permitted to return to their homes. Arms and equipment so dumped will taken over by the uniformed police and regular T.K.R. and guarded untill dumps are later taken over by Allied Forces from the uniformed police and regular T.K.R. (b) Those authorises to carry arms are only the uniformed police and the regular T.K.R.
4. These will thereafter be a search of the city by Allied Forces and anyone found in possession of firearms of conealing them will be liable to sentence of death. 5. Any attemp to attack or molest the Allied internees will be punishable by death. 6. Any Indonesian women and children who wish to leave the city may do so provided that they leave by 19.00 hours on 9th November and go only towards Modjokerto or Sidoardjo by road.
(Signed) Maj.Gen.R.C.Mansergh
Commander Allied Land Forces, East Java
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan isi dari ultimatum Mansergh, sebagai berikut :
Semua orang yang ditahan sebagai tanggungan orang Indonesia mesti dikembalikan dalam keadaan baik, selambat - lambatnya pada jam 6 sore tanggal 9 November 1945.
-masing dan mereka akan ditahan, serta harus menandatangani surat penyerahan dengan tidak pakai perjanjian apa-apa.
Semua orang Indonesia yang bersenjata dan tidak berhak mempunyai senjata harus menyerahkan senjata itu.
Semua orang perempuan dan anak bangsa Indonesia yang tidak berhak mempunyai senjata juga mesti datang ke sebelah jalan Westerbuitenwerg yang terletak di sebelah selatan dari jalan kereta api, dan di sebelah utara dari masjid di situ atau di persimpangan Jalan Darmo Boullevard dan Coen Boullevard, paling lambat pukul 6 sore tanggal 9 November 1945 dengan membawa bendera merah putih dan berbaris satu - persatu.
Setelah semua pekerjaan itu selesai mereka tentara Serikat akan memeriksa seluruh kota, dan apabila kedapatan masih ada orang Indonesia yang menyimpan atau menyembunyikan senjata, mereka akan dituntut, dengan hukuman mati.
Semua orang perempuan dan anak bangsa Indonesia harus meninggalkan kota, mereka boleh melakukan itu selambat - lambatnya pada waktu magrib tanggal 9 November 1945. Akan tetapi, hanya boleh pergi menuju Mojokerto dan Sidoarjo melalui jalan raya.
Tentara Serikat akan melakukan pembersihan di seluruh kota.
Jika ultimatum ini tidak ditaati, Inggris akan menghancurkan seluruh kota Surabaya.
Ultimatum ini ditandatangai oleh Mayor Jenderal E.C. Mansergh, Panglima Angkatan Darat Serikat di Jawa Timur. Adanya Ultimatum ini para pemimpin di Surabaya mengadakan pertemuan.
“Surabaya merupakan satu kekuatan kita, bahwa di Surabaya TKR kita tersusun dengan baik. Bahwa pemuda - pemuda dan kaum buruh telah membentuk persatuan-persatuan yang sangat teguh.
Bahwa pertempuran - pertempuran kita dengan tentara Inggris pada tanggal 28 Oktober sampai 30 Oktober 1945, kurang baik menggunakan kekuatan itu dengan tidak didasarkan atas siasat bekerja bersama - sama dengan bahagian di Indonesia lain, dan tidak didasarkan siasat yang bersifat perjuangan lama, maka kini timbul keadaan yang melemahkan kekuatan di Surabaya dan di Indonesia.”
Pada bagian akhir pidatonya, Bung Karno berpesan, bahwa musuh kita bukan Sekutu, tetapi NICA. Oleh sebab itu, semua pertempuran dengan Sekutu harus dihentikan. Setelah peristiwa tewasnya Mallaby, keadaan Surabaya makin mencekam. Para pejuang Arek Suroboyo, terus siaga. Sementara biro - kontak terus melakukan rapat - rapat, tanpa kehadiran Mallaby lagi.
3. Pertempuran 10 November 1945
Pada 10 November 1945, tepat pukul 06.00 pagi, Inggris membombardir Kota Surabaya. Tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan bom udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Dua pesawat Inggris ditembak jatuh pasukan RI dan salah seorang penumpang Brigadir Jendral Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya.
Menjelang senja, Inggris telah menguasai sepertiga kota. Surat kabar Times di London mengabarkan bahwa kekuatan Inggris terdiri dari 25 ponders, 37 howitser, HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, 12 kapal terbang jenis Mosquito, 15.000 personel dari divisi 5 dan 6000 personel dari brigade 49 The Fighting Cock.David Welch menggambarkan pertempuran tersebut dalam bukunya, Birth of Indonesia (hal. 66).
Berbagai bagian kota Surabaya dibombardir dan ditembak dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Serangan Pejuang RI terhadap Tank-Tank Inggris. Pejuang RI berhasil menembak jatuh Pesawat Tempur Inggris. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal mupun terluka.
Gelas-gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah gedung-gedung kantor yang kosong.
Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang”
Pertempuran berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. seluruh kota telah jatuh ke tangan sekutu. Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris pada akhir bulan November 1945, tepatnya tanggal 20 November 1945. Para pejuang Indonesia yang masih hidup mengikuti ribuan pengungsi yang melarikan diri meninggalkan Surabaya dan kemudian mereka membuat garis pertahanan baru mulai dari Mojokerto di Barat hingga ke arah Sidoarjo di Timur.
4. Pidato Bung Tomo
Bismillahirrohmanirrohim.. MERDEKA!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara jepang
mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan
membawa bendera puitih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka Saudara-saudara
di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan
pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini
di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing
dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol
telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara
dengan mendatangkan presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pentempuran
tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya Saudara-saudara kita semuanya
kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara inggris itu
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya ingin mendengarkan jawaban rakyat Indoneisa
ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini
dengarkanlah ini tentara inggris ini jawaban kita
ini jawaban rakyat Surabaya
ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian hai tentara inggris
kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu
kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu
kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada
tetapi inilah jawaban kita:
selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting!
tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak
baru kalau kita ditembak
maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka
Dan untuk kita saudara-saudara
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! MERDEKA!!!
5. Korban Pertempuran Surabaya
Setidaknya 6,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang. Lebih dari 20.000 tentara indonesia, laskar dan penduduk surabaya gugur dalam pertempuran ini. Kota surabaya benar-benar hancur lebur di bumi hanguskan. Korban dipihak inggris lebih dari 1.500 serdadu tewas. Sedangkan 300 tentara inggris dari india serta pakistan memilih disersi dan bergabung bersama pejuang republik Indonesia. Dunia internasional mengutuk serangan Inggris di Surabaya serangan ini dianggap sebagai perbuatan yang biadab.
C. TOKOH-TOKOH PERTEMPURAN SURABAYA
1. Gubernur Suryoa. Biografi
Lahir di Magelang, 9 Juli 1898, Wafat di Ngawi, 10 September 1948 di makamkan di Magelang. Raden mas (R.M.) Suryo memiliki latar belakang pendidikan kepamongprajaan antara lain OSVIA dan Bestuurs School. Selain itu Suryo juga pernah mendapat pendidikan polisi di Sukabumi.
Awal karirnya dirintis saat ia bekerja sebagai pamongpraja di Ngawi, kemudian sebagai mantri di Madiun, dan pada masa penjajahan belanda sebagai bupati Magetan. Pada masa penjajahan jepang, suryo diangkat sebagai Syucokan (Residen) di Bojonegoro.
R.M. Suryo kemudian diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ibukota Provinsi Jawa Timur ini berkedudukan di kota Surabaya.
pemberontakan. R.M. Suryo mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional seperti tertera pada SK Presiden RI No. 294 Tahun 1964.
b. Peranan Dalam Pertempuran Surabaya
Peran R.M. Suryo adalah sebagai penyemangat rakyat Surabaya agar tidak menyerah kepada Sekutu. Tanggal 23 Oktober 1945, pasukan Sekutu (AFNEI) dari Brigade di Surabaya. Kedatangan AFNEI sebenarnya bertujuan melucuti pasukan Jepang dan memulangkanya ke negeri asal mereka. Namun, ternyata pasukan Belanda turut membonceng dan ingin menjajah Indonesia Kembali. Kemudian terjadilah pertempuran yang menewaskan Brigjen Mallaby.
Sekutu menjadi amat marah dan mendatangkan pasukan tambahan di bawah pimpinan Mayjend R.C. Mansergh. Tanggal 9 November 1945, sekutu mengultimatum agar para pejuang Surabaya menyerah. Masih di tanggal yang sama, R.M. Suryo segera melakukan turun rembuk dengan tentara keamanan rakyat (TKR). Hasilnya, 9 November 1945, pukul 23.00 WIB melalui siaran radio R.M. Suryo menyatakan menolak ultimatum Inggris. R.M. Suryo juga memerintahkan rakyat Surabaya untuk siap berperang melakukan perlawanan. Maka pada tanggal 10 November 1945 terjadilah pertempuran besar-besran yang sering disebut sebagai Pertempuran 10 November.
2. Bung Tomo a. Biografi
Sutomo atau lebih dikenal sebagal Bung Tomo dilahirkan di Kampung Blauran, Surabaya, pada 3 Oktober 1920. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, Sutomo adalah sosok yang aktif berorganisasi sejak remaja. Bergabung dalam Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), beliau tercatat sebagai salah satu dari tiga orang pandu kelas I di seluruh Indonesia saat itu.
Sutomo meninggal di Mekkah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke Indonesia dan dimakamkan di TPU Ngagel, Surabaya. Bung Tomo, pahlawan pengobar semangat Juang arek-arek Surabaya ini mendapat gelar pahlawan secara resmi dan
pemerintah pada tahun 2008.
b. Peranan dalam Pertempuran Surabaya
Surabaya yang terdiri atas berbagai suku bangsa sangat dahsyat. Tidak ada rasa takut menghadapi tentara Inggris yang bersenjata lengkap. Tanggal 10 November pun kemudian kita kenang sebagai Hari Pahlawan. Salah satu kutipan dari Bung Tomo untuk menyemangati para pemuda Surabaya adalah sebagai berikut :
“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!”
3. Brigjen AWS Mallaby
a. Biografi
Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby atau juga dikenal dengan Brigadir Jenderal Mallaby (lahir di Britania Raya pada 1899 – meninggal di Surabaya, Indonesia, 30 Oktober 1945 pada umur 46 tahun) adalah brigadir jenderal Britania yang tewas dalam peristiwa baku tembak 30 Oktober di Surabaya dan memicu keluarnya ultimatum Inggris dan meledaknya Pertempuran 10 November.
Karier militer
1941–1942: Deputi Direktur Operasi Militer, India. 1943–1944: Direktur Operasi Militer, India
1944–1945: Perwira Komandan Brigade 49 Divisi India, Hindia Belanda
1945: Tewas dalam pertempuran di Surabaya, Indonesia (Hindia Belanda setelah proklamasi kemerdekaan)
b. Peranan dalam Pertempuran Surabaya
mengembalikan Indonesia kembali menjadi Hindia Belanda kekuasaan Belanda di bawah administrasi NICA (Netherlands Indies Civil
Administration). Mallaby memimpin pasukannya di Surabaya untuk ikut mengambil alih daerah Surabaya.
D. PERTEMPURAN SURABAYA DAN HARI PAHLAWAN
Pertempuran yang meletus pada 10 November 1945 berawal dari ultimatum pasukan Sekutu (yang diwakili Inggris) kepada para pejuang Indonesia, khususnya di Surabaya. Pasukan Sekutu mulai berdatangan di Indonesia, termasuk Surabaya, pada 15 September 1945 setelah Sekutu menang Perang Dunia (PD) II melawan pasukan Amerika yang diperkuat Jerman dan Jepang. Puncaknya, kata Hartoyik, adalah saat ultimatum diberikan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh setelah tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby (pimpinan tentara Sekutu/Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 di sekitar Jembatan Merah. Mansergh merupakan pengganti Mallaby, dan menuduh bahwa yang menewaskan Mallaby adalah pejuang Indonesia.
a.JUMLAH KORBAN
Soal perang di Surabaya, Eddy Samson memiliki fotokopi potongan berita koran United Press terbitan Inggris. 20,000 tentara 100,000 sukarelawan melawan 30,000 (puncak) didukung tank, pesawattempur, dankapalperang. Dalam surat kabar bertanggal 22 November 1945 tertulis bahwa penyerangan Sekutu di Kota Surabaya diduga telah menyebabkan 60.000 warga Kota Surabaya tewas, termasuk sekitar 5.000 warga etnis Tionghoa yang bermukim di Surabaya. Sekitar 200.000 rakyat sipil berbondong-bondong mengungsi dari Surabaya untuk menghindari perang.
b. WAKTU PERTEMPURAN
mendukung setelah munculnya resolusi jihad yang dicetuskan para ulama Jatim, di antaranya KH. Hasyim Asy`ari (pendiri NU), KH. Wahab Hasbullah serta para kyai pesantren lainnya.
Meskipun kalah, kegigihan dan militansi para pejuang arek - arek Suroboyo dalam menghadapi pasukan penjajah telah mengilhami rakyat di daerah - daerah lain di Indonesia untuk berani melawan penjajah baru. Di antaranya di Jakarta pada tanggal 18 November, di Semarang pada 18 November, di Riau 18 November, di Ambarawa tanggal 21 November, di Bandung 6 Desember dan di Medan pada 6 Desember.
Perjuangan arek - arek Suroboyo telah menggugah rasa kebersamaan patriotik dalam perjuangan. Itu pula tampaknya alasan yang mendasari Pemerintah di zaman Soekarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.
c.KEPUTUSAN PRESIDEN
Menjelang tahun 1950-an, Presiden Soekarno menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan. Sebagaimana diusulkan Soemarsono, mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang ikut ambil bagian dalam peperangan sengit itu. Menurut sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal, Bung Karno sengaja memanfaatkan momentum itu untuk melegitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer.
Mengenai makna Hari Pahlawan sendiri, sejarawan menilai, saat ini lebih mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai - nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan ini. Padahal, kata dia, yang terpenting adalah mengambil tauladan dari nilai - nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari - hari. Akan menjadi ironi jika memperingati Hari Pahlawan sebatas seremoni.
E. SITUASI BANDUNG SEBELUM PERISTIWA BANDUNG
LAUTAN API
1. Bandung sebelum Kedatangan Inggris
Sebelum kedatangan Tentara Inggris di Bandung, beberapa tokoh pimpinan di Bandung antara lain : Arji Kartawinata, Suriadarma, Omon Abdurahman, Hidayat dan lain-lainya telah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang terdiri dari para pemuda-pemuda bekas PETA, HEIHO dan KNIL. Diluar Organisasi BKR, di Bandung telah terbentuk laskar-laskar perjuangan yang ingin mempertahankan NKRI yang baru diproklamasikan yaitu antara lain : Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Hisbullah, Angkatan Pemuda Indonesia, Laskar Pangeran Fak-fak .
Dengan banyaknya jumlah pasukan dan laskar-laskar perjuangan di daerah Priangan maka pada tanggal 15 September 1945 di Bandung dibentuk sebuah badan koordinasi yang dinamakan “Majelis Dewan Perjuangan Priangan” disingkat MDPP dibawah komando pimpinan Letkol Sutoko dengan tujuan untuk mengkoordinasikan semua unsur kekuatan pasukan dan laskar-laskar perjuangan yang ada, sehingga terjadi kesatuan komando dalam perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 14 Desember 1945 Majelis Dewan Perjuangan Priangan diubah menjadi “Majelis Persatuan Perjuangan Priangan” yang disingkat MPPP yang terdiri dari semua pasukan-pasukan, laskar-laskar, jawatan-jawatan Sipil dan perwakilan TKR.
Jawatan Kereta Api, merebut dan menguasai Kantor Pertambangan, Kota Praja, Karesidenan dan obyek-obyek militer di Gudang Utara.
Upaya untuk merebut tempat-tempat strategis terus berlanjut pada tanggal 9 Oktober 1945 para pemuda dibawah pimpinan Ki Cokro berhasil mengambil alih Pabrik Senjata Kiaracondong ACW (sekarang Pindad). Bentrokan antara para pemuda dengan tentara Jepang yang secara de facto masih memegang senjata meskipun sudah kalah dari Sekutu terus terjadi seperti yang terjadi di Markas Kempetai Jepang di Jalan Heetjanweg sekarang jalan Mohamad Toha, dan dilanjutkan dengan serangan pada malam hari tanggal 11 Oktober 1945 dipimpin oleh Walikota Bandung Atmawinata dan para pemuda dan berhasil melumpuhkan kekuatan Tentara Jepang di Tegalega. Selanjutnya pemuda Ali Hanifiah berhasil merebut Gudang DKA (Jawatan Kereta Api) dan kemudian juga Pasukan Abdullah Sajad berhasil merampas persenjataan Batalyon 10 Jepang di Jalan Menado Bandung.
Dalam suasana yang masih hangat berhubung adanya insiden bersenjata dengan tentara Jepang tersebut tibalah di Kota Bandung Brigjen Mc. Donald bersama anak buahnya, mereka datang dari Jakarta menuju Bandung dengan naik Kereta Api.
2. Insiden Perobekan Bendera
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda (tentara NICA) dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia.
Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.
Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan.
Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.
Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan.
F. KRONOLOGI BANDUNG LAUTAN API
1. Tentara Sekutu (Inggris) memasuki Kota Bandung.
Pada tanggal 12 Oktober 1945 Brigade Mc. Donald dari Devisi ke-23 Inggris tiba di Bandung atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. Tujuan Mc. Donald ke Bandung adalah dalam rangka mengemban misi Sekutu untuk melucuti Tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang dan interniran Sekutu. Misi ini awalnya berjalan dengan baik, namun setelah diketahui bahwa pasukan Inggris membiarkan bekas tawanan Jepang yaitu orang-orang Belanda dan Indo Belanda mulai mempersenjatai diri dan mulai bertindak arogan dan mulai membuat kekacauan-kekacauan ditambah dengan hadirnya Orang-orang NICA Belanda maka, para pemuda dan pasukan TKR dari Batalyon Achmad Wiranatakusumah mulai mengadakan serangan terhadap pusat Kamp tawanan Belanda d Hotmanweg (sekarang Jalan Supratman). Disamping itu patut kita kagumi keberanian dari salah seorang pemuda Bandung yang gagah berani yaitu Pemuda E. Karmas yang dengan keberaniannya naik keatas Gedung Denis (Sekarang Bank Karya Pembangunan) terletak di jalan Braga, untuk merobek Bendera Belanda Warna merah putih biru sehingga yang tinggal warna merah dan putihnya saja. Inggris tidak senang dengan kejadian tersebut sehingga Tentara Inggris mulai melakukan balas dendam dengan melakukan pemboman-pemboman terhadap Cicadas, Lengkong Besar dan Tegalega yang merupakan Markas Batalyon TKR.
hubungan dengan pejabat-pejabat pemerintah RI di Bandung antara lain dengan Walikota Bandung. Dari pertemuan tersebut disepakati terbentuknya “Badan Penghubung” yang dalam hal ini pihak Inggris diwakili oleh Kapten Gray dan Clark sedangkan Indonesia diwakili Syamsurizal dan Male Wiranatakusuma. Dari Badan penghubung diperoleh kesepakatan dengan pihak Sekutu bahwa dalam segala hal, pihak Sekutu harus meminta pertimbangan dan persetujuan Pemerintah RI di Bandung namun untuk usulan yang kedua dimana Inggris meminta agar senjata yang dimiliki penduduk diserahkan ke pahak Inggris tidak dapat dipenuhi. Akibatnya ketegangan antara kedua belah pihak tak terhindarkan lagi. Dalam situasi dan kondisi ketidak pastian tersebut pada tanggal 23 Nopember 1945, 19 orang serdadu Inggris yaitu orang-orang India dan Pakistan, menyeberang ke pihak kita lengkap dengan persenjataannya dan dua buah Truk. Mereka itu sudah jemu dan lelah berperang dan bersimpati terhadap perjuangan Kemerdekaan Indonesia.
Pihak Inggris mengeluarkan ultimatum agar orang-orang India/Pakistan itu diserahkan kembali ke pihak Inggris. Ultimatum itu ditolak oleh pihak Indonesia. Untuk menghadapi segala kemungkinan yang mungkin timbul, maka TKR dan para pemuda mulai mengadakan persiapan-persiapan untuk serangan malam dengan menempatkan barikade-barikade di jalan-jalan dibeberapa tempat di kota Bandung untuk menghambat gerak maju tentara Inggris di Bandung. Pada malam hari tanggal 24 Nopember 1945 dengan serentak kita memadamkan aliran listrik di seluruh kota Bandung, untuk kemudian secara serentak TKR dan para Pemuda dibawah Komando pertempuran Letkol Arudji Kartawinata selaku Komandan TKR, mengadakan serangan-serangan terhadap kedudukan Tentara Inggris di Kota Bandung Utara dan Hotel Preanger serta Savoy Homan yang ada disebelah selatan. Komando serangan tersebut diberikan melalui pemancar radio “Banteng Hitam” yang berlokasi di Gang Asmi. Akibat serangan mendadak dan bertubi tubi, maka pihak Sekutu tidak mampu lagi menghadapi pasukan TKR dan para pejuang, sehingga Inggris mengambil siasat untuk melakukan perundingan sambil menyusun siasat baru.
2. Banjir Sungai Cikapundung dan Ultimatum Sekutu
Cikapundung yang terjadi pada Minggu malam tanggal 25 Nopember 1945. Banjir besar sungai Cikapundung yang penuh dengan keganasan telah meremdam daerah-daerah Lengkong Besar, Sasak Gantung, Banceuy dan daerah Balubur yang telah berubah menjadi Telaga. Banjir besar itu telah menelan ratusan orang korban dan menurut penyelidikan banjir itu diakibatkan oleh sabotase yang dilakukan oleh agen-agen NICA yang telah menjebol pintu air Cikapundung di Bandung utara atas yaitu Dago.
Penderitaan dan kepedihan penduduk Bandung belum berakhir, datang kembali ujian berat yang harus dipikul oleh rakyat Bandung. Pada tanggal 27 Nopember 1945 Markas Besar Tentara Inggris di Bandung mengeluarkan ultimatum yang ditujukan kepada Penduduk Bandung. Isi Ultimatum tersebut berbunyi “Orang-orang Indonesia yang bertempat tinggal di daerah utara Kota Bandung dengan batas rel kereta api yang membujur dari barat ke timur, mereka yang tinggal di sebelah utara rel kereta api harus meninggalkan rumah dan halaman mereka dan pindah ke selatan rel Kereta Api”. Alasan dari Brigjen Mac Donald adalah untuk menjaga keamanan jangan sampai orang-orang tidak berdosa terbunuh dan teraniaya. Batas ultimatum adalah tanggal 29 Nopember 1945 pukul 12.00 WIB. Apabila sampai batas waktu yang ditentukan tidak ditaati maka Inggris/Belanda akan menangkap setiap orang-orang yang ditemui dan menembak mati setiap orang Indonesia yang bersenjata.
Setelah tersiarnya ultimatum Sekutu tersebut maka beberapa penduduk yang mendiami daerah Bandung Utara pindah ke bagian Selatan. Tetapi unsur-unsur bersenjata kita tetap tinggal di utara dan membentuk kantong-kantong gerilya disekitar rumah sakit Boromeus, Sekeloa dan Sadang Serang. Setelah batas waktu ultimatum habis, maka Sekutu menetapkan dan mengumumkan bahwa Bandung telah terbelah Dua, bagian utara adalah daerah Sekutu sedangkan bagian selatan adalah daerah RI. Selanjutnya pasukan Sekutu/Inggris mulai menembaki pemukiman penduduk yang masih bertahan disebelah utara rel Kereta Api dan berusaha menguasai Gedung Sate yang sudah menjadi milik Republik Indonesia. Para pemuda yang terdiri dari : Didi Kamarga, Malhatarudin, Subengat, Suryono, Suhado, Rana dan Susilo dengan gagah berani berusaha untuk mempertahankan Gedung sate dari serbuan Sekutu dan bertempur dengan senjata seadanya tanggal 3 Desember 1945 melawan sekutu sehingga ketujuh pejuang tersebut gugur sebagai ratna mempertahankan Republik Indonesia.
Desember 1945, TKR, laskar dan para pemuda dapat mengimbangi tentara Sekutu, hingga Sekutu harus mengerahkan 3 buah pesawat jenis F 51 Musteng, 2 buah pesawat B 25 dan diperkuat oleh Tank-tank dan Pasukan Ghurka yang bergerak dari markas tentara sekutu di Hotel Homan dan Preanger untuk dapat menembus barekade-barekade yang dipasang disepanjang Jalan Lengkong dan akhirnya Sekutu dapat membebaskan para interniran Belanda yang berada di Ciatel.
3. Pengeboman Sekutu terhadap daerah Cicadas dan Tegalega
Daerah Cicadas merupakan jalur pelintasan para pejuang dari daerah Bandung selatan ke daerah Bandung Utara atau sebaliknya, sehingga Inggris pada tanggal 14 Desember 1945 membombardir Cicadas untuk memutus jalur perlintasan jalan yang biasa digunakan oleh para pejuang dan untuk mengamankan gudang senjata Bojong Koneng yang ditunggui tentara Jepang. Inggris menempatkan pasukan Gurkha sebagai Pos terdepan didepan Rumah Sakit Santo Yusuf (sekarang). Pada siang hari merekalah yang mengendalikan keadaan tetapi pada malam hari secara gerilya pejuang kitalah yang menguasai keadaan.
Pertempuran-pertempuran secara seporadis antara tentara Inggris dan TKR, Laskar-laskar dan para pemuda terus berlangsung disepanjang garis demarkasi rel kereta api sampai akhir tahun 1945 hingga awal tahun 1946, dan garis demarkasi sepanjang Viaduct-Cikudapateuh sepenuhnya masih dalam pengawasan pasukan kita.
Pada tanggal 20 Maret 1946 tentara Inggris melancarkan serangan udaranya dengan membombardir daerah Tegalega dan sekitarnya dengan mengerahkan 2 Pesawat pembom B 25. Tegalega dijadikan target serangan Sekutu karena di daerah tersebut terletak Markas TRI Batalyon Sumarsono, Anggota Pasukan Istimewa dan Studio Radio Republik Indonesia Bandung sehingga banyak jatuh korban di pihak kita terutama para penduduk yang tidak berdosa, sehingga kejadian ini mendapatkan protes dari walikota Bandung Samsurizal tetapi dijawab oleh Inggris bahwa pemboman-pemboman yang dilakukan sekutu adalah sebagai pembalasan terhadap pihak TRI yang telah melepaskan tembakan mortir ke arah kedudukan Inggris di Utara jalan rel kereta api sehingga banyak wanita dan anak – anak yang menjadi korban.
4. Kota Bandung Menjelang Peristiwa Bandung Lautan Api
Menghadapi situasi tersebut, TRI bersama para pemuda dan laskar-laskar perjuangan mulai mengadakan persiapan untuk mengadakan penghadangan terhadap konvoi Sekutu yang akan memasuki kota Bandung. Dibawah kendali pimpinan Mayor Sumarsono, Komandan Batalyon II Resimen Kota Bandung siap melakukan penghadangan terhadap pasukan Sekutu di jalan Foker (sekarang jalan Garuda).
Tidak berapa lama iring-iringan konvoi sekutu berdatangan memasuki kota Bandung dari arah Cimahi. Iring-iringan tersebut cukup panjang diperkirakan berkekuatan 1000 orang diperkuat dengan kendaraan-kendaraan Power Wagon, Tank, Jeep dan lain-lainnya. Setelah iring-iringan konvoi memasuki Jalan Foker mendapatkan serangan secara mendadak dari batalyon Sumarsono sehingga mereka tidak sempat menghindar atau berlindung sehingga Inggris mendatangkan bala bantuan pasukan dari Andir yang sebagian besar adalah pasukan Gurkha akibatnya pasukan kita terdesak dan mulai merubah pola penyerangan bersifat seporadis. Dalam suasana pertempuran tersebut, seorang Kapten Ghurka yang bernama Mirza bersama dengan sebagian anak buahnya menyeberang ke pihak kita bersama kendaraan Power Wagon beserta persenjataan dan munisinya. Kapten Mirza kemudian bergabung dengan Batalyon Sumarsono.
Menjelang Magrib pasukan-pasukan penghadang yang sudah berhasil mengadakan penghadangan terhadap konvoi Sekutu di Jalan Foker mengundurkan diri kedaerah Situ Aksan (sekarang situnya sudah tidak ada dan berubah menjadi pemukiman padat). Hasil dari penghadangan tersebut antara lain pasukan TRI berhasil merebut sebagian perbekalan musuh, senjata dan sebuah pemancar radio. Dari pihak TRI dan pemuda beberapa prajurit/pemuda gugur dan demikian pula dipihak musuh.
5. Ultimatum kedua dan Bandung dibumihanguskan
Mayor Jenderal Didi Kartasasmita dan wakil menteri Mr. Syafrudin Prawiranegara telah tiba di Bandung untuk menyampaikan amanat Perdana Menteri RI Sutan Syahrir.
Sebagai kelanjutan agar diperoleh keputusan yang pasti tentang amanat Perdana Menteri RI, maka Jenderal Mayor Didi Kartasasmita sebagai Komandan Komandemen I Jawa Barat didampingi oleh Komandan TRI Divisi III Kolonel A.H. Nasution kembali ke Jakarta tanggal 23 Maret 1946. Tanggal 24 Maret 1946 pukul 10.00 WIB Komandan TRI Divisi III Kolonel A.H. Nasution tiba kembali di Bandung dari Jakarta dan langsung memberikan penjelasan kepada Pemerintahan Sipil, Polisi, Badan Pekerja, KNI Priangan serta Badan-badan perjuangan tentang hasil pertemuanya dengan Perdana Menteri RI.
Dikatakan oleh A.H. Nasution bahwa Pemerintah Pusat tetap pada keputusan yang telah diambil untuk kepentingan deplomasi yaitu “Semua orang dan pasukan bersenjata selambat-lambatnya tanggal 24 Maret 1946 harus meninggalkan kota Bandung keluar hingga jarak 11 kilometer dan tidak diperbolehkan melakukan pembakaran-pembakaran atau pengrusakan pengrusakan”. Karena pendirian Pemerintah Pusat tetap seperti keputusan semula akhirnya dengan berat hati patuh atas keputusan Pemerintah Pusat. TRI minta pengunduran waktu sampai 10 hari karena perlu persiapan, tetapi ditolak oleh Inggris. Dilain pihak Syamsurizal (Walikota Bandung) bersikukuh untuk tetap tinggal di dalam kota bersama masyarakat kota Bandung. Untuk menghindari jatuhnya korban, maka pukul 16.00 tanggal 24 Maret 1946 Komandan Divisi III mengirimkan pesan supaya pemerintah kota Bandung jam 22.00 harus meninggalkan kota sebab seluruh kota akan dibakar dihancurkan.
Perintah pengosongan kota Bandung sebelum jam 22.00 dari Komandan Divisi III, menyebabkan seluruh instansi dan jawatan Republik Indonesia serta penduduk kota Bandung sibuk mempersiapkan diri untuk mengungsi keluar kota Bandung, berat memang yang dirasakan oleh masyarakat Bandung harus rela meninggalkan rumah, harta benda yang dimilikinya untuk kepentingan perjuangan dan sebagai bentuk loyalitas terhadap Keputusan Pemerintah RI. Maka berbondong-bodonglah penduduk kota Bandung menuju kearah selatan kota Bandung .
tersebut diatas maka pada tanggal 24 Maret 1946 malam kurang lebih pukul 20.00 mulai dilancarkan serangan umum dan pembumihangusan tempat-tempat penting di kota Bandung sekaligus merupakan “upacara-upacara pemunduran dari kota”, mundur bukan berarti menyerah kalah tetapi mundur untuk menyusun kekuatan baru.
Meskipun para pejuang melakukan pemunduran tetapi mereka tidak rela menyerahkan kota Bandung dalam keadaan utuh, terlebih dahulu mereka membagi-bagikan bensin dan dinamit untuk keperluan pembumihangusan kota kepada pasukan-pasukan yang akan meninggalkan kota Bandung. Menurut rencana pembakaran kota Bandung akan dilaksanakan tepat pukul 24.00 dan sebagai tanda pembumihangusan kota Bandung akan ditandai tanda ledakan di tengah-tengah kota. Tetapi gelora semangat para pejuang tidak terbendung lagi ditambah situasi tiap-tiap daerah tidak sama dan mereka tidak sabar lagi menunggu sampai dengan pukul 24.00. Tak ayal lagi pada pukul 20.00 tanggal 24 Maret 1946, terdengarlah ledakan pertama kemudian disusul ledakan demi ledakan menggelegar di seluruh penjuru kota Bandung. Langit kota Bandung memerah sehingga dinginya udara Bandung tidak terasa lagi. Seluruh kota terasa panas oleh api yang sedang mengamuk membakar kota. Api yang berasal dari tempat yang dibakar itu semula hanya merupakan kobaran api kecil kemudian menjalar ketempat-tempat lainnya, sehingga merupakan riak gelombang dilautan, malam itu Kota Bandung merupakan lautan Api.
Selanjutnya Pasukan TRI dan laskar, pemuda, penduduk Kota Bandung mundur kearah Bandung Selatan dan bermarkas di Daerah Kulalet seberang sungai Citarum dan juga Ciparay. Ada pula yang mundur kearah barat sejauh 11 km sampai ke daerah Cililin dan juga kearah Timur Kota Bandung.
Dari Bandung Selatan disusun kembali taktik dan Strategi untuk merebut kembali Kota Bandung dengan melakukan serangan-serangan secara seporadis seperti yang dilakukan oleh pemuda Toha dan Moch Ramdan yang berjibaku menghancurkan gudang senjata/munisi di Dayeuh Kolot. Strategi yang diterapkan adalah gerilya di pegunungan disekitar Bandung sambil sesekali menyanyikan lagu Halo-halo Bandung dan lagu Bandung selatan diwaktu malam. Pihak Rebublik bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Dua pemuda pemberani tersebut berhasil melaksanakan tugas berat itu.
mesiu yang mereka ledakkan. Semula, staf pemerintah Kota Bandung memutuskan akan tetap tinggal di dalam kota. Namun, demi keselamatan mereka ikut keluar kota pada pukul 21.00.
Sekitar pukul 24.00 Bandung Selatan telah dikosongkan dari penduduk dan Tentara Republik Indonesia. Akan tetapi, api masih membakar kota. Kota Bandung telah berubah menjadi lautan api.
G. TOKOH-TOKOH BANDUNG LAUTAN API
1. Muhammad Tohaa. Biografi
Mohammad Toha dilahirkan di Jalan Banceuy, Desa Suniaraja, Kota Bandung pada tahun 1927. Ayahnya bernama Suganda dan ibunya yang berasal dari Kedunghalang, Bogor Utara, Bogor, bernama Nariah. Toha menjadi anak yatim ketika pada tahun 1929 ayahnya meninggal dunia. Ibu Nariah kemudian menikah kembali dengan Sugandi, adik ayah Toha. Namun tidak lama kemudian, keduanya bercerai dan Mohamad Toha diambil oleh kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu Bapak Jahiri dan Ibu Oneng. Mohamad Toha mulai masuk sekolah rakyat pada usia 7 tahun hingga kelas 4. Sekolahnya terhenti ketika Perang Dunia II pecah. b. Peranan dalam Peristiwa Bandung Lautan Api
Pada tanggal 23 Maret 1946 tentara Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum kedua. Mereka menuntut agar semua masyarakat dan pejuang TKR mengosongkan kota Bandung bagian selatan. Namun, para pejuang TKR tidak mau meninggalkan Bandung. Atas perintah pemimpin, Muhammad Toha bersama dengan Muhammad Ramdhan melepaskan bom bunuh diri untuk menghancurkan gudang persenjataan Jepang dan membuat Bandung menjadi Lautan Api.
2. Kolonel Abdul Haris Nasution
a. B
iografi
Panggilan Tugas (7 jilid). Di bidang pendidikan, Nasution aktif sebagai ketua Yayasan Perguruan Cikini. Meninggal di Jakarta, 6 September 2000 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
b. Peranan dalam Peristiwa Bandung Lautan Api
Jenderal Mayor Didi Kartasasmita sebagai Komandan Komandemen I Jawa Barat didampingi oleh Komandan TRI Divisi III Kolonel A.H. Nasution kembali ke Jakarta tanggal 23 Maret 1946. Tanggal 24 Maret 1946 pukul 10.00 WIB Komandan TRI Divisi III Kolonel A.H. Nasution tiba kembali di Bandung dari Jakarta dan langsung memberikan penjelasan kepada Pemerintahan Sipil, Polisi, Badan Pekerja, KNI Priangan serta Badan-badan perjuangan tentang hasil pertemuanya dengan Perdana Menteri RI. Kolonel A.H. Nasution mengumumkan hasil musyawarah MP3 ( Majelis Persatuan Perjuangan Priangan ) untuk membumihanguskan Bandung dan memerintahkan evakuasi kota Bandung.
3. MAC DONALD
a. Biografi
Étienne Jacques Joseph Alexandre MacDonald, duke 1 dari Taranto (17 November 1765 - 7 September 1840) adalah seorang Marsekal dari Perancis dan pemimpin militer selama Revolusi Perancis dan Perang Napoleon. MacDonald lahir di Sedan, Ardennes , Perancis . Pada 1791, ia menikah Marie-Constance Soral de Montloisir (d 1797.) Dan memiliki 2 anak perempuan yaitu, Anne-Charlotte (1792 - 1870) dan Adele-Elisabeth (1794 - 1822). Pada tahun 1802, ia menikah Felicite-Francoise de Montholon, janda (d 1804.) General Joubert , dan memiliki seorang putri yaitu, Alexandrine-Aimee (1803 – 1869). Pada 1821, ia menikah Ernestine-Therese de
Bourgoing (1789-1825) dan memiliki seorang putra yaitu, Louis-Marie (1824 - 1881).
b. Peranan dalam Peristiwa Bandung Lautan Api
1. PERTEMPURAN SURABAYA
Hotel Oranje
Kedatangan Mallaby di Surabaya
Mallaby tewas didalam mobilnya
Bung Tomo A.W.S Mallaby
2. PERISTIWA BANDUNG
LAUTAN API