• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN DANA APBN APBD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGGUNAAN DANA APBN APBD"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Penjelasan

Mengenai

Mekanisme

Perpajakan

TAHUN 2014

PENGGUNAAN DANA

APBN/APBD

(2)

DANA APBN/APBD

Pada dasarnya di dalam setiap penggunaan dana

APBN/APBD terdapat PPN dan/atauPPh.

PPN dan/atau PPh atas pengeluaran dana APBN/APBD

dipungut atau dipotong oleh Bendahara Pengeluaran dana APBN/APBD yang telah memiliki NPWP.

Bendaharawan Pemerintah yang mengelola dana

APBN dan atau APBD wajib mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP. Nama Bendahara pada NPWP sebaiknya dikaitkan dengan nama SATKERnya.

REKANAN yang menerima dana APBN/APBD adalah

Badan Hukum atau Orang Pribadi yang telah memiliki NPWP dan telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).

(3)

KEWAJIBAN BENDAHARA

PENGELOLA DANA APBN DAN ATAU APBD

MENDAFTARKAN DIRI UNTUK MENDAPATKAN NPWP

MENGHITUNG, MEMOTONG, MENYETOR DAN MELAPOR

PPh YANG TERUTANG SETIAP BULAN DENGAN FORMULIR YANG SESUAI

MEMBERIKAN BUKTI PEMOTONGAN PADA SAAT MELAKUKAN

PEMOTONGAN PAJAK (PPh pasal 21, PPh PASAL 23 DAN PPh FINAL)

MENGISI DAN MENANDATANGANI DAN MENYAMPAIKAN

SURAT PEMBERITAHUNAN PAJAK DENGAN FORMULIR YANG SESUAI

(4)

LAPORAN BENDAHARA

PENGELOLA DANA APBN DAN/ATAU APBD

SPT MASA PPh PASAL 21 (SETIAP BULAN)

SPT MASA PPh PASAL 22 (SETIAP BULAN PENGADAAN BARANG)

SPT MASA PPh PASAL 23 (SETIAP BULAN PENGADAAN JASA)

SPT MASA PPh FINAL PASAL 4 AYAT 2 (SETIAP BULAN JASA KONSTRUKSI DAN /ATAU SEWA TANAH DAN BANGUNAN)

(5)

5

DANA APBN/APBD

BENDAHARA PEMERINTAH

* BADAN HUKUM USAHA * ORANG PRIBADI

REKANAN

KE

KPP PRATAMA

BANK/ KANTOR POS

LAPOR

SETOR

PAJAK PPh & PPN SSP

(6)

PENGGUNAAN DANA

APBN/APBD

PEMBAYARAN ATAS GAJI/HONOR/UPAH/

HADIAH/UANG TRANSPORT

DIKENAKAN

PEMOTONGAN PPh

21

PENGADAAN (PEMBELIAN)BARANG

DIKENAKAN PEMUNGUTAN PPh 22 DAN ATAU

PPN

PENGADAAN JASA (PERBAIKAN)

DIKENAKAN

PEMOTONGAN PPh 23/PPh FINAL DAN PPN

PENGENAAN BEA METERAI

(7)

PPh PASAL 21

GAJI

PEMBAYARAN HONOR

UPAH

UANG TRANSPORT

DLL

(8)

DASAR HUKUM

UU No.7 Tahun 1983 stdtd UU No.36 Tahun 2008

tentang Pajak Penghasilan Pasal 21

PP No. 80 tahun 2010 tentang tarif pemotongan

dan pengenaan PPh Pasal 21 atas penghasilan yang menjadi beban APBN atau APBD

Permenkeu 262/PMK.03/2010 tentang Tata Cara

Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi Pejabat Negara, PNS, Anggota TNI, Anggota

POLRI, dan Pensiunannya atas Penghasilan yang Menjadi Beban APBN atau APBD

PerdirjenPajak Nomor 31/PJ/2012 tentang pedoman

teknis Pemotongan PPh Pasal 21

(9)

ILUSTRASI SINGKAT

1. GAJI & TUNJANGAN dikurangi Biaya Jabatan, Iuran Pensiun

dan PTKP = Penghasilan Kena Pajak X (Tarif PPh pasal 17)

2. HONOR*) PNS Gol. IV = 15% (FINAL)

Gol. III = 5% (FINAL)

Gol. I dan II = 0% (FINAL)

NON PNS ber NPWP = 5% Tidakber NPWP = 6%

*) Pembayaran lain dengan nama apa pun, kecuali biaya

perjalanan dinas, perlakuannya dipersamakan dengan honor

(10)

3. HONOR kepada BUKAN PEGAWAI (NON PNS)

sehubungan dengan pemberian jasa a. Tidak berkesinambungan

Tarif Ps. 17 x 50% x Jumlah Bruto

(min : 5% x 50% x jumlah bruto atau 6% x 50%

x jumlah bruto bagi yg tidak ber NPWP) b. Berkesinambungan

- 50% Jumlah bruto kumulatif x Tarif psl 17 (lapisan tarif berdasar 50% x jumlah bruto kumulatif)

(11)

Lanjutan

:----

(50% Jumlah bruto –PTKP) x Tarif Pasal 17

(lapisan tarif berdasar jumlah PKP Kumulatif)

dengan syarat :

- tidak mendapat penghasilan di tempat lain

dan

- ber NPWP

Bagi yang tidak punya NPWP dikenakan 20%

lebih tinggi

(12)

Yang termasuk kategori bukan pegawai (non PNS) meliputi :

 tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari

pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;

 pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film,

bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya;

 olahragawan

 penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;  pengarang, peneliti, dan penerjemah;

 pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan

sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;

Agen iklan

(13)

Lanjutan : kategori bukan pegawai (non PNS)

 pengawas atau pengelola proyek;

 pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang

menjadi perantara;

 Petugas penjaja barang dagangan;  Petugas dinas luar asuransi

 Distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling

dan kegiatan sejenis lainnya

(14)

Lanjutan

:---4. Honor ke peserta kegiatan (non PNS) : a.l.

a. peserta perlombaan dalam segala bidang

b. peserta rapat, konferensi, sidang,

pertemuan,

atau kunjungan kerja

c. peserta atau anggota dalam suatu

kepanitiaan

sebagai penyelenggara kegiatan ttn

d. peserta pendidikan dan pelatihan

e. peserta kegiatan lainnya

(15)

Lanjutan….

PPh 21 terutang

Tarif psl 17 x jumlah penghasilan bruto

Bagi yang tidak punya NPWP dikenakan

20% lebih tinggi

(16)

LANJUTAN

5. UPAH HARIAN/MINGGUAN

UPAH PERHARI<200.000 TDK DIPOTONG PAJAK UPAH PERHARI>200.000 MAKA SISANYA

DIKENAKAN PAJAK 5% yg ber NPWP DAN 6%(TDK berNPWP)

CONTOH

Upah Budi 140.000 maka tdk dipotong pajak Upah Anto 210.000 maka

210.000-200.000=10.000

PPh 21 Anto = 5% X 10.000 = Rp 500

(17)

Pemungutan Penyetoran dan

Pelaporan PPh Pasal 21

PPh Pasal 21 dipotong oleh bendaharawan

pada saat pembayaran penghasilan (membuat

bukti potong)

Penyetoran paling lambat tanggal 10 bulan

berikutnya menggunakan SSP atas nama

Bendaharawan dan ditandatangani dan dicap

oleh bendaharawan pemotong

Pelaporan menggunakan formulir SPT 1721

ke KPP Pratama; paling lambat tanggal 20

bulan berikutnya

(18)

PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK

(PTKP)

URAIAN SETAHUN SEBULAN

DIRI PEGAWAI

24.300.000 2.025.000

TAMBAHAN UNTUK PEGAWAI YANG

KAWIN 2.025.000 168.750

TAMBAHAN UNTUK SETIAP ANGGOTA KELUARGA SEDARAH DAN SEMENDA DLM GARIS KETURUNAN LURUS SERTA ANAK ANGKAT YG DITANGGUNG

SEPENUHNYA, MAKS 3 ORANG

2.025.000 168.750

STATUS

Mulai 2013

STATUS Mulai 2013

TK/0

24.300.000

K/0

26.325.000

TK/1

26.325.000

K/1

28.350.000

TK/2

28.350.000

K/2

30.375.000

TK/3

30.375.000

K/3

32.400.000

(19)

PTKP UNTUK KARYAWATI

HANYA UTK DIRI SENDIRI, YAITU RP 24.300.000,00

SETAHUN

STATUS KAWIN STATUS TDK KAWIN

- UTK DIRI SENDIRI

- TANGGUNGAN MAKS 3 ORG

SYARAT.

MENUNJUKKAN KET. TERTULIS DARI PEMERINTAH DAERAH SETEMPAT

SERENDAH-RENDAHNYA KECAMATAN STATUS KAWIN SUAMI TDK MENERIMA/ MEMPEROLEH PENGHASILAN

- UTK DIRI SENDIRI

(20)

PPh PASAL 22

BELANJA BARANG

(21)

DASAR HUKUM PPh 22

UU No. 36 Tahun 2008 tentang perubahan keempat

atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak

Penghasilan Pasal 22

Permenkeu 154/PMK03/2007 Jo 236/KMK03/2003

Jo 392/KMK.03/2001 Jo 254/KMK.03/2001

(DIHAPUS mulai 31 Agustus 2010)

Permenkeu 154/PMK.03/2010 mengganti PMK

254/KMK.03/2001 mulai 31 Agustus 2010

(22)

BESARNYA PUNGUTAN PPh PASAL 22

ATAS PEMBELIAN BARANG

OLEH :

BENDAHARA PEMERINTAH PUSAT/DAERAH,

KUASA PENGGUNA ANGGARAN

INSTANSI/LEMBAGA PEMERINTAH

DAN LEMBAGA NEGARA LAINNYA

PPh 22 = 1,5 % DARI HARGA BELI

(23)

DIKECUALIKAN DARI

PEMUNGUTAN PPh Pasal 22

PEMBAYARAN ATAS PENYERAHAN BARANG YANG JUMLAHNYA PALING BANYAK Rp 2.000.000,00

(BUKAN JUMLAH YANG DIPECAH-PECAH) mulai 31-8-2010

Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

mulai 31-8-2010

(24)

TATA CARA

PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN

DIPUNGUT PADA SETIAP PELAKSANAAN PEMBAYARAN

DISETOR PADA HARI YANG SAMA

KE BANK PERSEPSI/KANTOR POS DAN GIRO

Setelah Penyetoran maka

SSP lembar ke 1 untuk WP Rekanan

SSP Lembar ke 3 dan 5 untuk Bendahara Pemungut PPh PASAL 22

(25)

PENGISIAN PADA SSP

SSP DIISI ATAS NAMA DAN NPWP WAJIB PAJAK REKANAN TETAPI DITANDATANGANI OLEH

BENDAHARA

-

SSP sekaligus merupakan bukti pemungutan

PPh Pasal 22

-

Apabila WP rekanan belum berNPWP maka

SSP diisi atas nama dan NPWP bendaharawan,

dengan konsekuensi tarif pemungutan menjadi

3% (100% lebih tinggi dari tarif normal)

(26)

TATA CARA PELAPORAN

PELAPORAN PPh PASAL 22

SPT MASA

F.1.1.32.02

KE KPP PRATAMA

SELAMBAT-LAMBATNYA

TANGGAL 14 BULAN BERIKUTNYA

JIKA JATUH PADA HARI LIBUR

(27)

TARIF PPh 22 & PENGHITUNGANNYA

(28)

CONTOH

Pembelian ATK Tgl Pembayaran

Rp 2.310.000,-12 April 2010

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) 100/110 x

2.310.000 Rp 2.100.000,-PPN 10 % x

2.100.000 Rp

210.000,-PPh pasal 22 1.5% x 2.100.000

Rp 31.500,- (Rekanan ber-NPWP)

3% x 2.100.000 Rp 63.000,- (Rekanan Tidak ber-NPWP)

PPh pasal 22 PPN

12 April 2010 7 Mei 2010

PPh pasal 22 14 Mei 2010

Batas Waktu Penyetoran

Batas Waktu Pelaporan

(29)

PPh PASAL 23

BELANJA JASA

(30)

DASAR HUKUM PPh 23

UU No. 36 Tahun 2008 tentang perubahan

keempat atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang

Pajak Penghasilan pasal 23

Permenkeu 244/PJ.03/2008 tentang jenis jasa

lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23

ayat (1) huruf c angka 2 UU No. 7 Tahun

1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana

telah diubah terakhir dengan UU No. 36

Tahun 2008

(31)

PEMOTONG PPh PASAL 23/26

ADALAH :

• BADAN PEMERINTAH

SUBJEK PAJAK BADAN DALAM NEGERI PENYELENGGARA KEGIATAN

BENTUK USAHA TETAP

PERWAKILAN PERUSAHAAN LUAR NEGERI LAINNYA

ORANG PRIBADI TERTENTU YANG DITUNJUK DIRJEN PAJAK

Saat MEMBERIKAN PENGHASILAN YANG BERASAL PENYERAHAN JASA BARANG MODAL PENYELENG. KEGIATAN SELAIN YG TLH DIPOTONG

(32)

JENIS JASA YANG DIKENAKAN PPh Pasal 23

No. Jenis Penghasilan

(ber-NPWP) (tidak ber-NPWP)

1 Dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g UU PPh

15% 30% 2 Bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)

huruf f UU PPh

15% 30% 3 Royalti 15% 30% 4. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain

yang telah dipotong PPh 21

15% 30% 5. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan

penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai PPh Final pasal 4 (2)

2 % 4%

6. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi (*), jasa konsultan

2% 4%

(33)

7 Jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan PMK-244/PMK.03/2008 dengan tarif 2%

a. Jasa penilai (appraisal);

b. Jasa aktuaris;

c. Jasa akuntansi, pembukuan, dan asestasi laporan keuangan;

d Jasa perancang (design);

e Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas), kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap;

f Jasa penunjang di bidang penambangan migas :

g Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas :

h Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara: 1)bidang aeronautika, termasuk :

2)bidang non-aeronatika, termasuk : i Jasa penebangan hutan;

j Jasa pengolahan limbah;

k Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services);

l Jasa perantara dan/atau keagenan;

m Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI dan KPEI;

(34)

n Jasa custodian/penyimpanan/penitipan, kecuail yang dilakukan oleh KSEI;

o Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara

p Jasa mixing film;

q Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan;

r Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;

s Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, perawatan, listrik, telepon, air, gas, AC, TV Kable, alat transportasi/kendaraan dan/atau bangunan selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;

t Jasa maklon

u Jasa penyelidikan dan keamanan;

v Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer; yaitu kegiatan usaha yang dilakukan oleh pengusaha jasa penyelenggara kegiatan meliputi antara lain penyelenggaraan pameran, konvensi, pagelaran musik, pesta, seminar, peluncuran produk, konferensi pers, dan kegiatan lain yang memanfaatkan jasa

penyelenggara kegiatan w Jasa pengepakan;

x Jasa penyediaan tempat dan / atau waktu dalam media masa, media luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi;

y Jasa pembasmian hama;

z Jasa kebersihan atau cleaning service;

(35)

TARIF PPh 23 & PENGHITUNGANNYA

(36)

CONTOH

Sewa Kendaraan Tgl Pembayaran

Rp 1.100.000,-20 April 1.100.000,-2010

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) 100/110 x

1.100.000 Rp 1.000.000,-PPN 10 % x

1.000.000 Rp

100.000,-PPh pasal 23 2% x 1.000.000 Rp 20.000,- (Rekanan ber-NPWP)

4% x 1.000.000 Rp 40.000,- (Rekanan Tidak ber-NPWP)

PPh pasal 23 PPN

10 Mei 2010 7 Mei 2010

PPh pasal 23 20 Mei 2010

Batas Waktu Penyetoran

(37)

37

TATA CARA PEMOTONGAN PPh PASAL 23

BUKTI PEMOTONGAN

DILAKUKAN PADA SAAT PENGHASILAN DIBAYARKAN

F.1.1.33.06 1

2

3

UNTUK REKANAN

LAMPIRAN SPT MASA PPh PASAL 23

(38)

38

TATA CARA PENYETORAN PPh PASAL 23

JUMLAHKAN PPh PSL 23 DALAM BUKTI PEMOTONGAN

SELAMA SATU BULAN TAKWIM

DISETOR KE BANK PERSEPSI ATAU

KANTOR POS DAN GIRO DGN MENGGUNAKAN SSP atas nama Bendaharawan

PALING LAMBAT TGL 10 BULAN TAKWIM BERIKUTNYA SETELAH BULAN SAAT

TERUTANGNYA PAJAK

APABILA TGL 10 JATUH PD HARI LIBUR, MAKA PENYETORAN DILAKUKAN PADA

(39)

39

TATA CARA PELAPORAN PPh PASAL 23/26

MENGISI DGN LENGKAP DAN BENAR SPT MASA PPh PSL 23/26 (F.1.1.32.03)

RANGKAP 2

* LEMBAR KE-3 SSP BUKTI SETORAN PPh PSL 23/26

* DAFTAR BUKTI PEMOTONGAN PPh PSL 23/26 (D.1.1.32.05) * LEMBAR KE-2 BUKTI PEMOTONGAN (F.1.1.33.06)

LAMPIRAN

KE KPP PRATAMA

SELAMBAT-LAMBATNYA TANGGAL 20 BULAN

BERIKUTNYA

JIKA JATUH PD HARI LIBUR PD HARI KERJA

(40)

DASAR HUKUM UU PPh Pasal 4 ayat (2)

PP No. 5 Tahun 2002

TARIF = 10 % DARI JUMLAH BRUTO NILAI PERSEWAAN

Tanah, Rumah, Toko, Gudang

ruangan, gedung perkantoran, rumah toko

SEWA ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN

Termasuk Biaya Perawatan, Pemeliharaan, Keamanan, Fasilitas Lainnya

(41)

DASAR HUKUM UU PPh Pasal 4 ayat (2)

PP No.51Tahun 2008

Jasa Konstruksi :

layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan

layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi

JASA KONSTRUKSI

Pekerjaan Konstruksi :

keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan

perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan

yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya

(42)

TARIF JASA KONSTRUKSI

2% (dua persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha kecil

4% (empat persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha

3% (tiga persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa selain Penyedia Jasa

sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b

4% (empat persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha

(43)

PENYETORAN DAN PELAPORAN

PPh FINAL

SEWA DAN JASA

KONSTRUKSI

PENYETORAN PAJAK DILAKUKAN PALING

LAMBAT TANGGAL 10 BULAN BERIKUTNYA

MENGGUNAKAN SSP ATAS NAMA DAN NPWP

BENDAHARAWAN SERTA DITANDATANGANI OLEH BENDAHARAWAN

MEMBUAT BUKTI PEMOTONGAN PPh FINAL

PELAPORAN PAJAK DILAKUKAN PALING

LAMBAT TANGGAL 20 BULAN BERIKUTNYA MENGGUNAKAN SPT MASA PPh FINAL

DILAMPIRI BUKTI POTONG PPh FINAL

(44)

P P N

ATAS

BELANJA BARANG

DAN

BELANJA JASA

(45)

DASAR HUKUM PPN

BENDAHARAWAN

UU Nomor 42 Tahun 2009 perubahan keempat

atas UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai

PP 144 tahun 2000 tentang barang dan jasa yg

tidak kena PPN

PP 12 tahun 2001 stdtd PP 31 tahun 2007 Tentang

Impor dan atauPenyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yg bersifat strategis yg dibebaskan dari pengenaan PPN

Kepmenkeu 563/KMK.03/2003 tentang Penunjukan

Bendaharawan Pemerintah dan KPPN untuk

Memungut, Menyetor dan Melaporkan PPN dan PPnBM

(46)

MENGENAL PPN

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak

yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean.

Pengenaan PPN pada prinsipnya semua Barang

dan Jasa dikenakan PPN, kecuali yang

dikecualikan oleh Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Bendahara HARUS mencari rekanan PKP, apabila

terpaksa/sulit menemukan rekanan PKP maka

sementara dengan rekanan non PKP dengan syarat tidak boleh membuat Faktur Pajak/ membuatkan Faktur Pajak.

(47)

TIDAK DIKENAKAN PPN

1. Pembayaran yg jumlahnya paling banyak Rp

1.000.000 (termasuk PPN) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah

2. Pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan

buku-buku pelajaran agama

3. Pembelian barang hasil pertambangan yang diambil

langsung dari sumbernya

4. Barang-barang kebutuhan pokok, barang hasil

pertanian

5. Makanan ternak,unggas dan ikan

6. Bibit dan atau benih pertanian, perkebunan,

kehutanan, peternakan dan perikanan

(48)

LANJUTAN

8. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik seperti

Jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan,

laboratorium kesehatan, dan sanatorium;

9. Jasa di bidang pelayanan sosial;

10.Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko 11.Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna

usaha dengan hak opsi;

12.Jasa di bidang keagamaan; 13.Jasa di bidang pendidikan;

14.Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah

dikenakan Pajak Tontonan;

(49)

LANJUTAN

15.Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan;

16.Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air; 17.Jasa di bidang tenaga kerja;

18.Jasa dibidang perhotelan meliputi jasa persewaan

kamar termasuk fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap dan jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan dihotel, penginapan, motel, losmen dan hostel

19.Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka

menjalankan pemerintahan secara umum

(50)

Pemungutan Penyetoran dan

Pelaporan PPN

PPN dipungut oleh bendaharawan pada saat

pembayaran

Penyetoran menggunakan SSP atas nama

Wajib Pajak Rekanan dan ditandatangani dan

dicap oleh bendaharawan pemungut paling

lambat tanggal 7 bulan berikutnya

Pelaporan menggunakan formulir

1107

PUT

ke KPP Pratama; paling lambat tanggal 14

bulan berikutnya

(51)

BEA METERAI

UU No.13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai Permenkeu nomor 55/PMK.03/2009

KepdirjenPajak Nomor 02/PJ/2003

Bea Meterai adalah Pajak atas dokumen.

Dokumen yg memuat jumlah uang atau dokumen

kontrak /perjanjian.

Penerima Dokumen terutang Bea Meterai

- 3.000 atas bukti pembayaran senilai 250.000 s.d 1 juta - 6.000 atas bukti pembayaran senilai diatas 1 juta

- 6.000 atas dokumen kontrak/perjanjian

(52)
(53)
(54)

JENIS PAJAK NPWP TANDA TANGAN DAN CAP

PPh PASAL 22 DAN PPN

REKANAN

BENDAHARA

PPh PASAL 21

BENDAHARA BENDAHARA

PPh PASAL 23

BENDAHARA BENDAHARA

PPh FINAL SEWA TANAH

DAN /ATAU BANGUNAN

BENDAHARA BENDAHARA

PPh FINAL JASA

KONSTRUKSI

BENDAHARA BENDAHARA

(55)

JENIS PAJAK KODE AKUN PAJAK KODE JENIS SETORAN

PPh PASAL 21

Gaji PNS dan Honor non PNS

411121

100

PPh PASAL 21 Final

Honor PNS

411121

402

PPh PASAL 22 (Barang)

411122

900

PPh PASAL 23 (Jasa )

411124

104

PPh FINAL SEWA TANAH

DAN /ATAU BANGUNAN

411128

403

PPh FINAL JASA KONSTRUKSI

411128

409

(56)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Lihat : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008 tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008 tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan yang Harus dibayar Sendiri oleh

sebagai pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22 telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2010 tentang Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22

Pengertian Pajak Penghasilan Pasal 21 Pengertian PPh pasal 21 berdasarkan peraturan Menteri Keuangan No 252/PMK.03/2008 menyebutkan bahwa PPh pasal 21 adalah pajak

Dalam Pasal 4 yang telah ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24/PMK.03/2008, Kepala Kantor Pelayanan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a

Hal tersebut menunjukkan bahwa penyeoran pajak penghasilan pasal 4 ayat 2 atas penggunaan jasa konstruksi yang dilakukan PT Semen Bosowa Maros telah sesuai dengan

PPh Pasal 23 Pajak yang dipotong dari penghasilan yang diterima rekanan atas sewa tidak termasuk sewa tanah dan atau bangunan, serta imbalan jasa manajemen, jasa teknik, jasa

Pasal 11 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008 tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan dalam Tahun Pajak