Oleh : Ki Supriyoko
A. PENGANTAR
Faktor atau determinan apa saja yang berpengaruh terhadap mutu pendidikan dasar, utamanya SD, di Indonesia? Sejauhmanakah pengaruh faktor guru dalam mutu pendidikan dasar tersebut?
Apabila pertanyaan tersebut disampaikan kepada para pendidik kira-kira jawabnya di sekitar sarana pendidikan, fasilitas belajar, kemampuan guru, bimbingan orang tua, dan sejenisnya. Demikian pula kalau pertanyaan tersebut disampaikan kepada para pengelola pendidikan umumnya seperti pegawai dinas pendidikan, pengurus yayasan pendidikan, pegawai sekolah, dsb. Jawaban atas pertanyaan tersebut kiranya hampir sama dengan jawaban pendidik. Hampir dapat dipastikan jarang di antara mereka yang menjawab dengan hal-hal yang berskala internasional seperti krisis ekonomi, mere-baknya teknologi informasi, gaya kepemimpinan presiden, dan sejenisnya. Namun demikian ternyata hal itu berbeda kalau dalam menjawab pertanyaan tersebut digunakan pendekatan Future Search Conference
(FSC), sebuah pendekatan baru di Indonesia. Bahkan di negara tempat
B
. MELIBATKAN BANYAK PIHAKBeberapa waktu yang lalu United Nations Children's Fund (Unicef) menjadi sponsor penyelenggaraan workshop mengenai peningkatan kualitas pendidikan dasar di Indonesia. Dalam acara yang diselenggarakan di sebuah hotel atau tempat pertemuan di dekat kantor Depdiknas Jakarta tersebut hadir lebih dari seratus orang yang berkepentingan terhadap pendidikan dasar seperti siswa SD dan SMP, guru SD dan SMP, kepala sekolah berbagai satuan pendidikan, orang tua, pengurus asosiasi pendidikan, perencana pendidikan, bupati, ketua Bappeda, aktivis LSM, pimpinan Depdiknas, Depag, Bappenas, anggota DPR, MPR, serta perwakilan badan internasional Unesco, Plan International dan Unicef sendiri. Dilihat dari latar belakang yang sangat heterogen, pertemuan ini cukup representatif bagi para yang berkepentingan terhadap pendidikan dasar di Indonesia. Sesuai dengan tema workshop maka pembicaraan pokok dalam acara tersebut tentang usaha peningkatan mutu pendidikan dasar di Indonesia; dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang pernah dihadapi dalam tiga puluh tahun terakhir, masalah yang sedang dihadapi hari ini, sampai dengan impian sepuluh tahun yang akan datang. Dari masalah yang dihadapi masa lalu sampai dengan impian pada`masa depan itulah kemudian strategi peningkatan mutu pendidikan dasar dikembangkan.
Salah satu hal yang menarik dalam workshop yang mengaplikasi FSC tersebut, satu pendekatan baru dalam mengakomodasi aspirasi guna menen-tukan strategi pencapaian tujuan tertentu, ialah dilibatkannya banyak orang yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembuatan keputusan.
Pelibatan banyak pihak dalam pengambilan keputusan penting relatif merupakan barang asing di Indonesia sampai saat ini. Ambillah contoh yang sangat aktual sekarang ini; ketika kurikulum sekolah yang dikemas dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan oleh pemerintah apakah para guru, kepala sekolah, siswa, dan orang tua banyak yang telah dilibatkan? Rasanya tidak!
Dalam pengembangan KTSP di SD misalnya, rasanya tidak banyak guru SD yang dilibatkan sejak membangun konsep sampai hal-hal teknis yang sering terjadi di kelas dan atau di sekolah. Kalau pun ada guru SD yang dilibatkan dapat dipastikan jumlahnya sangat sedikit dan daya representativitasnya sangat rendah. Apakah siswa SD juga dilibatkan di dalam penyusunan KTSP di SD? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada 100 orang Indonesia rasanya mereka semua akan menjawab tidak; artinya tidak ada siswa SD yang dilibatkan dalam penyusunan KTSP di SD. Selama ini siswa SD kita sepertinya dipandang sebelah mata menyangkut hal-hal yang dipandang strategis seperti penyusunan kurikulum, penentuan ujian, dsb. Meskipun siswa tersebut yang akan memakai atau menjalani namun tidak dilibatkan dalam proses penyusunannya.
Dalam pendekatan FSC ternyata lain; dalam hal ini banyak pihak yang berkepentingan terhadap pendidikan dasar dilibatkan secara langsung dalam proses pengambilan keputusannya. Pada kasus ini seorang anak SD atau SMP dihargai sama pendapatnya dengan seorang anggota DPR RI, seorang ibu rumah tangga orang tua siswa dihargai harapannya seperti seorang bupati, seorang guru pendapatnya dihargai sama dengan seorang pimpinan departemen, dan sebagainya.
C
. GLOBALISASI DAN KRISISSebagaimana yang ditemakan dalam workshop, hampir semua yang hadir menyatakan bahwa pendidikan dasar khususnya SD memang sangat menentukan kemajuan suatu negara karena kualitas pendidikan dasar amat menentukan kualitas suatu bangsa. Secara empirik tidak pernah ada negara yang maju kalau kualitas bangsanya rendah, pada sisi yang lain tidak pernah ada bangsa yang kualitasnya tinggi apabila kualitas pendidikan dasarnya rendah. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, Taiwan, Singapura, dsb, semuanya memiliki kualitas pendidikan dasar yang sangat memadai.
Keadaan tersebut di atas sangat disadari oleh peserta workshop. Namun yang diragukan, jangan-jangan hal yang sangat penting tersebut justru tidak pernah disadari oleh para pemimpin nasional sebagai pengambil kebijakan politis bangsa Indonesia.
Selanjutnya ada hal yang cukup menarik untuk dicermati bersama yaitu ketika kepada para peserta workshop diberi waktu untuk menganalisis determinan kualitas pendidikan dasar. Ternyata hasil yang diperoleh hasil adalah sbb: faktor globalisasi mendapatkan skor 56 dari skor kemungkinan tertinggi 232 atau 24 persen; krisis ekonomi, sosial dan politik 54 atau 23 persen; proses belajar mengajar di sekolah 34 atau 15 persen; sarana dan fasilitas belajar 32 atau 14 persen; peraturan pendidikan 27 atau 12 persen; bantuan masyarakat terhadap pendidikan 17 atau 7 persen; dan faktor lainnya seperti terjadinya eforia politik; dsb. sebesar 12 atau 5 persen. 232 adalah angka tertinggi berdasar banyaknya alternatif menurut peserta.
Penskoran tersebut di atas merupakan “common sense” atau suatu pandangan umum, bukan pandangan pakar atau praktisi pendidikan saja. Artinya, menurut pendapat umum terjadinya proses globalisasi yang tengah melanda dunia dan terjadinya krisis ekonomi, sosial dan politik di Indonesia sangat berdampak pada kualitas pendidikan dasar di Indonesia. Dua faktor ini bahkan pengaruhnya lebih tinggi daripada faktor-faktor yang lainnya. Hasil seperti inilah yang tidak pernah terbayangkan oleh para praktisi dan pakar pendidikan selama ini.
Bagaimana logikanya sehingga faktor globalisasi sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan dasar di Indonesia? Jawabnya tidaklah terlalu sulit. Dalam era globalisasi sekarang ini semua orang yang ingin maju dituntut dapat berkomunikasi dengan bangsa lain menggunakan bahasa internasional, yaitu Bahasa Inggris, padahal kenyataannya lulusan SD dan SMP di Indonesia mayoritas tidak dapat berbahasa Inggris. Dengan demikian pendidikan dasar di Indonesia dituntut untuk dapat menjadikan lulusannya akrab dengan Bahasa Inggris.
Ilustrasi lain dalam era globalisasi sekarang ini ada semacam tuntutan pada semua orang untuk familiar dengan teknologi komunikasi seperti tel-pon, telegram, faksimile, komputer, dan internet. Bahkan menurut laporan UNDP, penggunaan komputer dan internet telah dijadikan indikator dari masyarakat global. Itulah sebabnya siswa sekolah dasar di negara-negara maju sudah mulai diakrabkan dengan penggunaan komputer dan internat, misalnya saja siswa SD di Jepang sudah difasilitasi dengan laptop atau komputer kecil yang canggih dalam proses belajar mengajarnya, sementara siswa SD di Australia sudah dikenalkan dengan internet.
Implikasinya, siswa pendidikan dasar di Indonesia seharusnya juga sudah mulai dikenalkan dengan komputer dan internet dalam arti penggu-naannya pada proses belajar mengajar. Namun begitu dalam kenyataannya teknologi komunikasi seperti itu sekarang masih merupakan benda asing. Bahwa sebagian SD sudah mengenalkan komputer kepada siswa rasanya memang benar, namun demikian jumlahnya masih sangat terbatas.
Mengenai pengaruh krisis ekonomi, sosial, dan politik terhadap kualitas pendidikan dasar lebih mudah untuk dijelaskan. Semenjak krisis berlangsung di Indonesia yang secara riil dimulai pada pertengahan tahun 1997 sampai sekarang ternyata penambahan sarana pendidikan dan fasilitas belajar menjadi seret.
Dalam realitasnya banyak gedung SD yang roboh tidak dapat diperbaiki karena kesulitan anggaran dan banyak laboratorium sekolah yang tidak bisa dioperasionalkan karena tidak ada duit yang cukup untuk membeli peralatan dan bahan. Secara nasional bahkan angka putus sekolah semakin naik, sedangkan angka melanjutkan studi justru menurun. Setelah ditelusuri penyebabnya ternyata banyak orang tua yang kesulitan keuangan untuk membayar sekolah anaknya. Di sisi lain banyaknya oknum siswa yang terlibat narkoba dan tawuran pelajar kiranya tidak dapat dilepaskan dari terjadinya krisis sosial dan politik.
Ilustrasi tersebut di atas menunjukkan bahwa faktor globalisasi yang melanda dunia dan faktor krisis ekonomi, sosial dan politik yang melanda Indonesia benar-benar berpengaruh pada kualitas pendidikan dasar. Inilah yang barangkali jarang kita sadari.
D
. MENCARI SOLUSIHarus diakui bahwa kualitas pendidikan dasar Indonesia masih belum memuaskan sampai saat ini. Tidak usah dibandingkan negara maju, dengan negara tetangga atau negara sekitar saja Indonesia kalah bersaing. Bank Dunia dalam “Education in Indonesia: From Crisis to Recovery” (1998) melaporkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia paling rendah dibandingkan siswa sederajat dari Hong Kong, Malaysia, Filipina dan Thailand. Untuk penguasaan Matematika sama saja. Menurut laporan IEA dalam “Trends of International Mathematics and Science Study (TIMSS)
2003” (2003), prestasi Matematika siswa grade 8, atau SMP tingkat 2,
hanya berada pada ranking ke-35 dari 44 negara; sementara prestasi Sains berada pada ranking ke-37 dari 44 negara. Memang sudah banyak yang telah dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat untuk mensolusi hal tersebut, namun demikian hasilnya belum banyak dirasakan.
Dalam rangka mencari solusi tersebut barangkali ada baiknya dilihat pengalaman Australia yang tiga puluh tahun yang lalu mengalami hal yang sama dengan Indonesia.
Sekitar tiga puluh tahun yang lalu pendidikan dasar di Australia, baik pendidikan untuk kulit putih maupun kulit berwarna (Aborigin), sangat memprihatinkan kondisi dan kualitasnya. Sistem pendidikan dasar yang diadopsi dari Inggris tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Sarana dan fasilitas belajar terbatas, kualitas guru kurang memadai, dan anak-anak sekolah tidak dapat berprestasi. Pendek kata kualitas pendidikan dasar di Australia masih rendah.
Untuk menghadapi kenyataan tersebut pada Desember 1972 perdana menteri Australia membentuk The Interim Committee for the Australian
Schools Commission (ICASC). Komisi yang salah satu tugasnya mencari
akar permasalahan persekolahan dan alternatif solusinya ini bertanggung jawab kepada menteri pendidikan. Badan ini beranggotakan sepuluh orang. Setelah bekerja, setahun kemudian badan ini sudah bisa menghasilkan laporan setebal 170 halaman yang didalamnya membahas tujuh masalah utama yang dihadapi pendidikan dasar di Australia. Bahkan didalamnya dilengkapi 49 rekomendasi yang konkret untuk mensolusinya, antara lain meningkatkan kualitas guru.
Ketika pemerintah Australia mulai memperhatikan dan menjalankan rekomendasi tersebut di tahun-tahun yang berikutnya maka pendidikan dasar di Australia mulai bangkit. Memang perjalanannya tidak secepat kereta api ekspres karena sifat pendidikan itu sendiri yang evolusioner. Kalau sekarang ini pendidikan dasar di Australia termasuk yang terbaik di dunia hal itu tidak dapat dilepaskan dari usaha-usaha yang dilakukan sejak awal tahun 70-an tersebut.
Rekomendasi yang pernah dialami Australia tersebut, yaitu mening-katkan kualitas guru ternyata berlaku pula di Indonesia. Dalam workshop FSC tersebut salah satu rekomendasi yang diusulkan oleh peserta adalah meningkatkan kualitas guru. Rupanya para peserta workshop dari berbagai latar belakang tersebut banyak yang menyadari bahwa guru sangat menen-tukan kinerja pendidikan dasar, sementara di sisi lain disadari pula bahwa kualitas guru di Indonesia masih rendah. Atas dasar inilah kemudian mun-cul rekomendasi untuk meningkatkan kualitas guru, utamanya guru SD.
Apabila kualtas guru SD di Indonesia diukur dengan pendidikannya memang demikianlah adanya. Sebagai salah satu penjabaran UU Sisdiknas sekarang kita telah memiliki PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 29 ayat (2) PP tersebut menyebutkan Pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1), b) latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan c) sertifikat profesi guru untuk SD/MI.
Bagaimana realitasnya? Menurut data Balitbang Depdiknas dalam
“Statistik Persekolahan SD 2004/2005” (2005) di Indonesia terdapat
147.973 sekolah; dari jumlah tersebut terdapat 1.189.041 guru. Apabila dicermati dari pendidikannya maka sebanyak 855 orang atau 0,07 persen berpendidikan pascasarjana, 152.881 orang atau 12,86 persen berpendidikan sarjana keguruan, dan 13.540 orang atau 1,14 persen berpendidikan sarjana nonkeguruan. Dengan demikian guru yang berkualitas, dalam arti yang memenuhi PP tersebut tidak lebih dari 15 persen terhadap keseluruhan guru SD di Indonesia. Bagaimana dengan SMP? Pada dasarnya sama saja hanya angkanya yang bervariasi.
Angka-angka tersebut di atas kiranya memperkuat rekomendasi yang pernah dihasilkan dalam workshop FSC tentang peningkatan pendidikan dasar di Indonesia. Seandainya saja rekomendasi tersebut terus dilaksana-kan dan diintensifdilaksana-kan pelaksanaannya, barangkali kualitas guru SD (dan SMP) di Indonesia sudah mengalami peningkatan secara signifikan; apalagi kalau kualitas guru itu tidak semata-mata diukur dari pendidikannya, misal intensitas komunikasi dengan siswa.
E
. KESIMPULANMemang banyak faktor sebagai determinan mutu pendidikan dasar di Indonesia; namun untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan dasar, utamanya SD di Indonesia maka peningkatan kualitas guru kiranya menjadi alternatif yang tidak mungkin dapat ditolak. Australia sudah membuktikan, dengan meningkatkan kualitas guru maka meningkat pula mutu pendidikan dasarnya meskipun untuk dapat merealisasikannya diperlukan waktu yang tidak singkat !!!*****
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Prof. Dr. H. Ki Supriyoko, M.Pd. adalah Anggota Badan Akreditasi Nasional Sekolah dan Madrasah (BAN S/M); Pengasuh Pesantren “Ar-Raudhah” Yogyakarta, dan Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private
Education (PAPE) yang bermarkas di Tokyo, Jepang