• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN. I.1 Peralatan Panen

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBAHASAN. I.1 Peralatan Panen"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAHASAN

Kegiatan panen merupakan salah satu kegiatan budidaya kelapa sawit yang paling penting. Cara panen yang tepat sangat mempengaruhi kuantitas produksi dan waktu yang tepat mempengaruhi kualitas produksi. Dengan demikian, diharapkan kegiatan panen dilakukan dengan tepat dan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sehingga dapat meminimalisasi losses panen.

Permasalahan secara umum yang sering dijumpai dalam pengelolaan kegiatan panen di Perkebunan Bangun Bandar yaitu terjadinya kehilangan produksi (losses), mutu buah yang belum sesuai dengan ketetapan perusahaan serta permasalahan dalam proses pengangkutan TBS ke PKS. Hal ini dapat disebabkan karena sistem panen yang belum diterapkan dengan baik, rotasi panen yang tidak dijaga, pelaksanaan taksasi produksi yang belum tepat serta kurang efektifnya pengawasan dari Asisten divisi, Mandor I dan mandor panen.

Persiapan Panen

Kegiatan persiapan panen dilakukan pagi hari pada saat antrian pagi. Antrian pagi dilakukan oleh asisten divisi, mandor I produksi dan mandor panen. Asisten divisi memberi pengarahan kepada mandor I produksi dan mandor panen meliputi kebutuhan tenaga kerja, penetapan seksi potong buah, penetapan ancak permandoran panen, dan kesiapan peralatan panen yang akan digunakan oleh pemanen. Selain itu, dijelaskan juga mengenai kriteria buah matang yang akan dipanen.

Setelah melaksanakan antrian pagi, masing-masing mandor panen langsung menuju ke lapangan dan melakukan antrian pagi bersama pemanen. Hal yang disampaikan oleh mandor panen kepada pemanen adalah pembagian ancak panen, mengecek persiapan alat panen, dan memastikan pemanen telah menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

I.1 Peralatan Panen

Peralatan panen merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan kelapa sawit. Peralatan yang kurang memadai dapat menyebabkan

(2)

losses panen. Peralatan panen yang digunakan di divisi II Perkebunan Bangun

Bandar yaitu (1). Pisau Egrek, untuk pemotongan TBS tanaman berumur >9 tahun dengan ketinggian pokok >2 meter; (2) Bambu egrek dan Allumunium Pole, sebagai gagang pisau egrek; (3). Tali nilon, untuk pengikat pisau egrek; (4). Angkong, untuk tempat atau wadah TBS dan brondolan yang akan diangkut ke TPH; (5). Kapak, sebagai alat pemotong tangkai tandan yang panjang; (6). Gancu, berfungsi sebagai alat penyusunan TBS di TPH; (7). Goni eks pupuk, untuk mengumpulkan brondolan ; (8). Tojok, sebagai alat muat buah ke dalam dump truck pengangkut buah. Selain peralatan panen yang telah disebutkan diatas, pemanen diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) untuk meminimalisir kecelakaan kerja pemanenan. APD yang digunakan oleh pemanen adalah (1). Helm, (2). Sarung tangan, (3). Sepatu boot, (4). Kaca mata.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis, peralatan panen yang digunakan oleh pemanen banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Sebagai contoh pada saat pelaksanaan panen di tanaman yang sudah tinggi, egrek yang digunakan pemanen tidak dapat mencapai TBS yang akan dipanen. Selain itu APD yang digunakan oleh pemanen tidak lengkap, hal ini dikarenakan APD tersebut dapat mengganggu aktifitas dan kecepatan pemanen dalam melaksanakan pemanenan. Alat-alat panen yang digunakan di Perkebunan Bangun Bandar dapat dilihat pada Gambar 9-12.

(3)

Gambar 11. Gancu Gambar 12. Pisau egrek

I.2 Rotasi Panen

Rotasi panen atau pusingan panen merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pemanenan kelapa sawit. Rotasi panen berfungsi untuk menentukan tempat yang akan dipanen, jumlah produksi TBS, mutu buah, dan pengolahan TBS di PKS. Rotasi panen yang berlaku di divisi II Perkebunan Bangun Bandar adalah 6/7. Berdasarkan praktik langsung penulis di lapangan, terjadi ketidaksesuaian rotasi panen yang berlaku. Ketidaksesuaian tersebut berupa rotasi panen yang cepat (< 7 hari) dan rotasi panen lambat (>7 hari). Penulis melakukan pengamatan rotasi panen dengan data yang tersaji dalam Tabel.

Rotasi panen yang lambat disebabkan oleh tingkat kehadiran pemanen yang rendah, hari libur nasional (Hari Raya Idul Fitri) dan tidak selesainya ancak panen saat itu sehingga harus dilanjutkan esok harinya. Akibat dari rotasi panen

yang lebih lambat adalah TBS yang dipanen banyak yang sudah tua. Rotasi panen yang lebih cepat disebabkan oleh angka kerapatan panen rendah, dan

untuk mengejar target rotasi panen setelah hari liburan nasional kembali normal. Akibat dari rotasi panen yang cepat adalah banyaknya buah mentah yang dipanen untuk memperoleh basis panen yang ditetapkan oleh perusahaan.

(4)

Selain dapat mempengaruhi mutu buah, rotasi panen yang bertambah lambat (≥ 10 hari) juga dapat mengakibatkan terjadinya kehilangan produksi (losses). Dapat dilihat pada Tabel 10, rotasi panen selama 11 hari yang terjadi di Blok 35 juga mengakibatkan brondolan yang tertinggal di piringan dan pasar pikul lebih banyak jika dibadingkan dengan rotasi panen selama 9 dan 10 hari sebesar 162 brondolan dan 98 brondolan.

Tabel 10. Hubungan Rotasi Panen Terhadap Losses dan Mutu Buah

Blok Rotasi

Mutu Buah (%) Losses (buah)

M LM BSK BrP* BrL**

33 9 95.79 3.16 1.05 151 72

35 11 95.03 3.81 1.16 162 98

28 10 95.28 3.58 1.14 143 65

Sumber : Data Pengamatan Lapangan (2012) Keterangan :

M : Matang

LM : Lewat matang BrL : Brondolan di pasar pikul

BSK : Busuk * : 10 pokok diamati

BrP : Brondolan di piringan ** : Sepanjang 1 TPH (3 gawangan)

Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa rotasi panen yang paling lama terjadi yaitu di Blok 35 selama 11 hari. Rotasi yang lambat ini mempengaruhi mutu buah yaitu sebesar 3,81 % buah lewat matang dan 1,16 % buah busuk yang persentasenya lebih besar daripada rotasi panen 9 dan 10 hari. Terjadinya rotasi panen yang lambat di Perkebunan Bangun Bandar disebabkan beberapa hal, yaitu: (1) Jumlah tenaga kerja kurang (persentase kehadiran karyawan rendah); (2) Banyaknya hari libur; (3) Tidak selesainya ancak pemanen. Buah yang dipotong cenderung terlalu matang (over ripe) dan busuk/janjangan kosong (empty bunch).

Permasalahan yang pernah terjadi di Perkebunan Bangun Bandar yaitu meningkatnya rotasi (pusingan) panen terutama di Divisi II. Rotasi panen mencapai >8 hari sehingga diambil solusi cepat dengan mengambil bantuan yang disebut “gardang” yang berfungsi untuk mengutip brondolan karena sebelumnya tenaga bantuan ini tidak ada. Tenaga bantuan tersebut umumnya adalah karyawan

(5)

harian lepas (KHL) yang ditransfer dari anggota mandoran lain atau dapat menggunakan istri atau saudara pemanen.

I.3 Taksasi Panen

Taksasi panen merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum melakukan pemanenan. Tujuan dari taksasi panen adalah untuk meperkirakan jumlah TBS yang sudah siap untuk dipanen, memperkirakan jumlah tenaga kerja pemanen yang dibutuhkan, dan memperkirakan jumlah berat TBS yang diperoleh. Kegiatan taksasi panen di divisi II Perkebunan Bangun Bandar dilaksanakan oleh mandor panen pada sore hari setelah seluruh pemanen selesai melakukan pemanenan. Taksasi panen ini tertuang dalam Angka Kerapatan Panen (AKP). Taksasi panen dilakukan dengan cara mengambil 5 % dari jumlah pokok yang akan dipanen.

Sebagai contoh, pada saat magang berlangsung penulis melakukan pengamatan taksasi produksi harian secara langsung di Divisi II pada seksi yang berbeda-beda (A, B, C, D, E, F) pada mandoran B. Pokok sampel yang diamati sebesar 5% dari total pokok produktif dan dilakukan secara acak. Pengamatan dilakukan penulis bersama dengan mandor panen. Hasil pengamatan taksasi produksi harian pada Divisi II disajikan di Tabel 11.

Tabel 11. Pengamatan Kematangan Panen pada Divisi II

Seksi Blok Luas (ha) Tanaman Produktif Tanaman Sampel Tanaman Sampel Dipanen Angka Kerapatan Panen (%) A 42 39.91 4 829 241 94 39 B 41 23.08 2 770 138 56 41 40 18.80 2 425 121 51 42 C 40 41.85 5 399 270 102 38 D 40 18.48 2 384 119 40 34 33 23.37 3 435 172 71 41 E 33 15.46 2 273 114 42 37 32 26.40 3 590 180 78 43 F 32 43.75 5 950 298 123 41

(6)

Dapat dilihat pada Tabel 11, bahwa persentase kematangan panen yang didapat berbeda-beda. Angka kerapatan panen (AKP) berkisar antara 34-43 %. Perbedaan nilai kerapatan panen tersebut dapat dipengaruhi oleh iklim, umur tanaman dan tempat/lokasi. Umumnya umur tanaman berpengaruh terhadap

potensi pokok untuk berproduksi. Kegiatan taksasi ini dilaksanakan pada 2 mandoran panen yang berbeda yaitu di mandor B (seksi A, B, E dan F) serta di

mandor C (seksi C dan D).

Contoh Perhitungan Tenaga Kerja Panen blok 42 (2000), luasan panen 39,91 ha dengan jumlah pokok 4 829 taksasi pokok yang akan dipanen 5 %, dan basis panen 75 TBS serta AKP 39 %, maka tenaga kerja yang dibutuhkan adalah :

 Taksasi 5% x jumlah pokok =5% x 4829 pokok

=242 pokok (121 pokok/ ha) • Jumlah TBS yang ditaksasi

=Jumlah pokok taksasi x AKP =121 pokok x 39%

=47 TBS

• Jumlah TBS untuk seluruh luasan =Luas x Jumlah TBS yang ditaksasi =39,91x 47 TBS = 1876 TBS

• Jumlah tenaga kerja pemanen yang dibutuhkan (diharapkan setiap pemanen dapat memanen 2 basis panen)

=Jumlah TBS seluruh luasan / 2 basis panen =1876 TBS / 150 TBS

= 12 orang

I.4 Kriteria Matang Panen

Dalam pelaksanaan panen, para pemanen harus memperhatikan kriteria TBS yang sudah siap untuk dipanen. Hal ini ditujukan untuk menghindari terjadinya buah mentah yang dipanen sehingga dapat menyebabkan losses panen. Ketentuan kriteria matang panen yang ditetapkan oleh Perkebunan Bangun Bandar adalah 4 brondolan yang telah jatuh ke piringan (berondol 4).

(7)

Bedasarkan pengamatan penulis di lapangan (secara visual) terdapat perbedaan yang jelas antara buah matang dan buah mentah seperti (1). Jumlah yang membrondol dimana buah mentah belum ada yang membrondol, sedangkan buah matang, jumlah yang membrondol sesuai dengan ketetapan perusahaan, yaitu 4 berondolan; (2). Warna buah mentah umumnya berwarna hitam kemerahan, sedangkan buah matang berwarna merah jingga mengkilat; (3). Seludang duri buah mentah masih terbungkus oleh seludang duri disekitarnya yang berwarna hijau, sedangkan buah matang umumnya tidak dibungkus oleh seludang lagi dan duri sudah berwarna cokelat kehitaman.

Pada saat melakukan kegiatan magang, penulis melakukan pengamatan kriteria mutu buah menurut ketetapan perusahaan. Penulis melakukan pengamatan di Divisi II dengan mengambil sampel 5 pemanen di 3 mandoran (mandor A, B, C). Setiap pemanen diambil 5 TPH dimana di setiap mandoran diambil 3 ulangan (3 blok yang berbeda-beda). Hasil pengamatan mutu buah per mandoran di Divisi II dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Mutu Buah per Kemandoran Divisi II

Mandoran Blok

Umur Tanaman

(Tahun)

Jumlah TBS (Tandan) Persentasi TBS (%) Dipanen Matang Mentah Lewat

Matang Matang Mentah

Lewat Matang (%) Mandor A (Hasyim) 39 14 974 961 7 6 98.66 0.72 0.62 37 28 310 296 6 8 95.48 1.94 2.58 44 26 422 408 6 8 96.68 1.42 1.90 Rata – rata 569 554 6 9 96.94 1.36 1.70 Mandor B (Bahrum) 42 12 823 811 9 3 98.55 1.09 0.36 40 9 1023 1011 8 4 98.83 0.78 0.39 41 13 504 494 4 6 98.02 0.79 1.19 Rata – rata 783 772 7 4 98.47 0.88 0.65 Mandor C 45 4 1786 1768 11 7 98.99 0.62 0.39 (Miswadi) 28 6 1309 1291 12 6 98.62 0.92 0.46 34 6 1508 1492 7 9 98.94 0.46 0.60 Rata – rata 1534 1517 10 7 98.85 0.67 0.48

(8)

a). Buah Mentah b). Buah Matang

c). Buah Lewat Matang

Gambar 13. Hasil Pengamatan Mutu Buah pada Divisi II

Penulis merekapitulasi data persentase kematangan buah untuk keseluruhan mandoran. Hasil pengamatan mutu buah untuk keseluruhan mandoran dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Rekapitulasi Pengamatan Mutu Buah pada Divisi II

Kemandoran/Standard Matang (%) Mentah (%) Lewat

Matang (%)

A 96.94 1.36 1.70

B 98.47 0.88 0.65

C 98.85 1.30 0.48

Rata – rata (A, B, C) 98.09 0.97 0.94

Standard 100 0 0

(9)

Persentase rata-rata mutu buah di Divisi II adalah 98,09% buah matang normal, 0,97% buah mentah, 0,94% buah lewat matang. Bedasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa persentase buah matang belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 100%. Hal ini dapat disebabkan antara lain: (1) Pedoman panen yang ditetapkan oleh perusahaan tidak dilaksanakan oleh pemanen, sehingga mengakibatkan terpotongnya buah mentah atau kurang matang; (2) Saat melaksanakan panen di suatu blok terdapat ancak pemanen yang tidak selesai, sehingga saat kembali lagi ke lokasi yang sama mengakibatkan adanya buah lewat matang atau busuk. Buah mentah yang terpanen tidak dibenarkan oleh perusahaan untuk diangkut dan dikirim ke PKS karena dalam proses pengolahannya memerlukan waktu yang lebih lama dan biaya eksploitasi yang tinggi.

Menurut Mangoensoekarjo (2005), panen buah mentah dapat merugikan perusahaan karena tanaman menjadi stress akibat pelukaan saat panen, menurunkan ekstrasi minyak dan mengakibatkan produktivitas minyak kelapa sawit akan menurun. Jika buah mentah dan buah kurang matang terbawa ke PKS maka pengolahan di pabrik memerlukan waktu yang lama ± 85-95 menit dan menurunkan % OER (Oil Extraction Rate). Pemotongan buah mentah, buah busuk tidak dibenarkan untuk diangkut dan dikirim ke PKS.

Pelaksanaan Panen

Cara panen untuk tanaman yang masih rendah menggunakan alat dodos, sedangkan untuk tanaman yang sudah tinggi menggunakan alat egrek yang bertangkai panjang. Cara panen di Divisi II menggunakan egrek. Sebelum tandan dipotong, pelepah daun yang menyangga buah dipotong lebih dahulu. Bekas potongan pada pelepah lengkung menyerupai tapak kuda, yaitu dengan potong miring ke luar. Tandan buah dipotong pada gagangnya sependek mungkin (mepet). Standar panjang janjang setelah dipotong di PT. Socfin Indonesia adalah 2 cm (membentuk cangkam kodok). Tandan buah diletakkan di pinggir pasar pikul. Buah yang lepas (brondolan) dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung. Tandan buah dikumpulkan di TPH, disusun 5 tandan per baris, dan

(10)

ganggangnya menghadap ke atas. Brondolan disatukan dan dimasukkan ke dalam karung. Kenyataan dilapangan menunjukkan masih ada terdapat buah yang tidak disusun rapi di TPH dan tangkai panjang. Pelaksanaan panen dapat dilihat pada Gambar 14.

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 14. Teknis pelaksanaan panen. (a) Pemanenan TBS (b).Pengangkutan TBS ke TPH (c) Cangkem Kodok (d). Penyusunan TBS di TPH

Pemanenan dilakukan setengah pasar terlebih dahulu dan pengangkutan TBS ke TPH juga diangkut setengah pasar ke TPH kiri dan setengah pasar ke TPH kanan. Pemanenan dilakukan oleh seorang pemanen yang dibantu oleh seorang helper. Helper tersebut bertugas untuk mengutip berondolan dan mengangkut TBS ke TPH. Pemanen yang tidak memilki helper akan mengangkut TBS nya sendiri.

(11)

Pengawasan Panen Kehilangan Produksi (Losses)

Kehilangan produksi (losses) merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tidak tercapainya kuantitas dan kualitas produksi yang optimal. Sumber losses yang umumnya sering terjadi di lapangan, yaitu :1). Buah mentah yang terpanen, 2). Buah masak tertinggal di pokok, 3). Buah masak tertinggal di piringan/gawangan (tidak diangkut ke TPH), 4). Brondolan tidak dikutip dan 5). Brondolan di tangkai panjang.

Pengawasan dan pengontrolan tenaga kerja panen perlu dilakukan untuk memperkecil losses yang terjadi dan mengetahui apakah kinerja tenaga kerja panen sudah sesuai dengan Standar Operational Producure (SOP). Saat melaksanakan kegiatan panen, terdapat beberapa kejadian buah tinggal di dalam ancak, seperti buah matang tidak dipanen, pemanen tidak mengeluarkan buah karena lupa ataupun terlewat. Hal tersebut dapat merugikan bagi pemanennya sendiri dan bagi pihak perusahaan. Pengamatan dilakukan dengan mengambil 3 orang pemanen (nomor pemanen 5, 16, 23) pada kemandoran B sebagai sampel. Pengamatan dilakukan dengan mengikuti kegiatan panen di blok 27 selama 1 hari untuk 1 pemanen dan hanya dilakukan 1 kali pengamatan untuk setiap pemanen.

Persentase data pengamatan TBS yang tinggal ancak panen terdapat pada Tabel 14.

Tabel 14. Hasil Pengamatan TBS Tinggal di Dalam Ancak di Kemandoran B Divisi II No. Pemanen TBS Panen (tandan)

TBS Tinggal (tandan) Persentase TBS tinggal (%) Pokok Piringan Gawangan Pokok Piringan Gawangan

11 138 3 1 0 2.17 0.72 0

16 162 3 0 1 1.85 0 0.62

18 174 4 0 1 2.30 0 0.57

Total 474 10 1 2 6.32 0.72 1.19

Rata-rata 158 3.33 0.33 0.67 2.11 0.24 0.40 Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2012

(12)

Penulis juga melakukan pengamatan mengenai jumlah brondolan yang tidak dikutip. Umumnya pada saat melakukan panen, tenaga pemanen terkadang lalai dalam mengutip brondolan, sehingga terdapat brondolan tinggal di piringan dan di pasar pikul. Kehilangan brondolan juga sering terjadi saat pemanen hendak membuat cangkem kodok atau huruf “V”. Pengamatan dilakukan dengan mengambil 5 pemanen (9, 12, 18, 24, dan 27) pada kemandoran B sebagai sampel. Pengamatan dilakukan dengan mengikuti kegiatan panen selama 1 hari untuk 1 pemanen dan dilakukan 1 kali pengamatan untuk setiap pemanen. Data jumlah brondolan yang tidak dikutip disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 . Jumlah Brondolan yang Tidak Dikutip di Kemandoran B

No. Pemanen

Brondolan Tinggal (Buah) Persentase terhadap Total Brondolan Tinggal (%) Piring -an* Pasar Pikul** Potong- an Tangkai

Total Piringan* Pasar

Pikul** Potong- an Tangkai 9 27 11 8 46 58.7 23.9 17.4 12 35 26 14 75 46.7 34.7 18.6 18 24 15 7 46 52.2 32.6 15.2 24 33 28 11 72 45.8 38.9 15.3 27 41 30 17 88 46.6 34.1 19.3 Rata-rata 32 22 11.4 65.4 48.9 33.6 17.5

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan (2012)

Keterangan : * : Brondolan di piringan yang diamati yaitu 10 pokok yang dipanen ** : Brondolan di pasar pikul yang diamati sepanjang dalam 1 TPH (3

gawangan)

Data Tabel 15 menujukkan bahwa persentase terhadap total brondolan tinggal paling banyak terdapat di piringan dibandingkan yang terdapat di pasar pikul maupun di potongan tangkai. Pengamatan yang dilakukan di potongan tangkai berdasarkan jumlah brondolan yang ikut terbuang saat pemanen memotong TBS.

Penulis juga melakukan pengamatan faktor losses berdasarkan tahun tanam yang berbeda-beda (1986, 1998, 2000) di Divisi II. Penulis mengambil 5 pemanen (Nomor pemanen 1, 2, 4, 17, dan 29) pada kemandoran A. Setiap tahun tanam diamati 1 blok (Blok 44, 39, dan 38) dan diamati saat kegiatan panen sedang berlangsung pada blok tersebut. Setiap pemanen diamati satu kali

(13)

pengamatan. Kehilangan produksi (losses) yang terjadi di Divisi II disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16. Total Losses Berdasarkan Tahun Tanam (1986, 1998, 2000) di Blok Divisi II

Faktor Blok

1986 1998 2000

1. Buah Mentah (tandan) 3 5 3

2. Buah Masak tinggal di pokok (tandan) 6 4 3 3. Buah Masak tidak diangkut ke TPH

(piringan/gawangan) (tandan) 1 2 1

4. Brondolan di piringan (buah)* 85 62 43 5. Brondolan di pasar pikul (buah)** 72 98 65 6. Brondolan tertinggal di TPH (buah) 28 26 33 7. Brondolan di potongan tangkai (buah) 32 25 27

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2012

Keterangan : * : Brondolan di piringan yang diamati yaitu 20 pokok yang dipanen. ** : Brondolan di pasar pikul yang diamati sepanjang 1 TPH (3

gawangan)

Berdasarkan Tabel di atas, buah masak tinggal di pokok paling banyak ditemukan pada areal tanaman tahun tanam 1986. Buah masak tinggal di pokok dapat disebabkan karena tanaman tersebut terlalu tinggi sehingga menyebabkan alat panen yang digunakan pemanen tidak dapat mencapai TBS tersebut. Jumlah brondolan yang tidak terkutip di piringan dan pasar pikul juga ditemukan paling banyak pada tahun 1986. Hal ini dapat disebabkan karena banyaknya gulma yang tumbuh di sekitar piringan dan pasar pikul, sehingga pemanen menjadi malas untuk mengutip brondolan.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, faktor yang menyebabkan terjadinya kehilangan produksi (losses), yaitu faktor tenaga kerja, faktor alat panen, faktor lahan dan faktor keadaan tanaman. Faktor tenaga kerja yang dapat menyebabkan hal ini terjadi karena kurangnya kedisiplinan dan ketelitian dari pihak pemanen sendiri. Ketidakdisiplinan yang sering dijumpai seperti memotong buah mentah, brondolan yang tidak dikutip seluruhnya dan tidak membuat buah cangkem kodok. Selain itu, masih ditemukan juga ketidaktegasan dari para

(14)

mandor panen ataupun kerani buah untuk memberikan denda kepada pemanen yang melakukan pelanggaran.

Faktor alat panen juga dapat menyebabkan banyaknya losses panen terutama untuk pokok tua yang tanamannya sudah terlalu tinggi sehingga pemanen sering melewati pokok yang alat panennya tidak dapat mencapai TBS tersebut. Faktor lahan merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kehilangan produksi. Contohnya adalah kondisi lahan yang banyak ditumbuhi semak (gulma) di daerah piringan ataupun pasar pikul, sehingga pemanen terkadang lalai untuk masuk ke lahan untuk mengutip brondolan. Selain itu, pemanen dapat menggunakan kondisi piringan dan gawangan mati yang tidak bersih untuk menyembunyikan brondolan ataupun buah mentah yang tidak sengaja dipanen.

Faktor keadaan tanaman juga dapat menyebabkan kehilangan produksi. Faktor keadaan tanaman yang dapat menyebabkan kehilangan produksi seperti tanaman under pruning ataupun masih adanya pelepah sengkleh. Penulis juga melakukan pengamatan berdasarkan kondisi tanaman pada areal tahun tanam 1986 pada blok 44 dan 45. Penulis mengambil sampel 3 pemanen dari setiap kemandoran A. Pengamatan dilakukan dengan mengikuti kegiatan panen selama 1 hari untuk setiap pemanen. Setiap pemanen diamati satu kali pengamatan dan jumlah tanaman yang diamati berkisar 60-70 tanaman. Hasil pengamatan kondisi tanaman pada tahun tanam 1986 dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Pengamatan Kondisi Tanaman Tahun Tanam 1986

Blok Pemanen Jumlah Tanaman Kondisi Tanaman Pelepah Sengkleh Under Pruning ...tanaman... 44 1 64 12 13 2 68 15 5 3 70 11 8 45 1 66 21 9 2 62 26 25 3 68 14 12

(15)

Berdasarkan Tabel di atas, menujukkan kondisi tanaman yang paling banyak terjadi yaitu masih terdapatnya pelepah sengkleh. Pelepah sengkleh umumnya disebabkan karena banyaknya pelepah-pelepah tua yang tidak ditunas sehingga menjadi kering dan busuk yang dapat menghambat kegiatan panen. Tanaman yang under pruning (gondrong) juga dapat menyebabkan pemanen malas untuk memanen karena banyaknya pelepah yang harus ditunas terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan panen. Selain itu, kedua kondisi pokok ini juga dapat menyebabkan tersangkutnya brondolan di ketiak pelepah.

Basis dan premi panen

Basis panen adalah ketentuan batas minimum TBS yang dipanen oleh pemanen dalam 1 HK. Basis panen tersebut telah ditentukan oleh Departemen Tanaman PT. Socfindo. Penentuan basis panen berbeda-beda pada setiap umur tanaman yang akan dipanen. Semakin tua umur tanaman, maka basis TBS yang akan dipanen akan semakin rendah. Hal ini disebabkan oleh Berat Janjang Rata- rata (BJR) TBS yang semakin tinggi dan tingkat kesulitan pemanen dalam memanen TBS di pokok yang tinggi. Basis panen yang ditetapkan pada setiap harinya sama. Khusus hari Jumat, basis panen ditetapkan 5/7 dari basis panen hari biasa, hal ini disebabkan oleh pada hari Jumat waktu dinas para pemanen adalah 5 jam, berbeda dengan hari biasa yaitu 7 jam

Premi merupakan reward apabila dapat memanen TBS lebih dari basis yang ditentukan. Premi tersebut diberi kepada KHT panen, kerani buah, mandor panen, dan mandor I produksi. Dengan adanya premi tersebut, diharapkan seluruh pekerja yang terlibat dalam pemanenan tersebut, dapat lebih meningkatkan produktivitas untuk memanen TBS melebihi dari basis yang telah ditentukan, mengurangi terjadinya losses panen, dan meningkatkan pendapatan. Premi yang diberikan berbeda-beda menurut tingkat pekerjaannya. Premi yang diberikan kepada pemanen adalah premi lebih basis. Basis dan premi lebih basis yang diberikan kepada KHT panen disajikan pada Tabel 18.

(16)

Tabel 18. Basis dan Premi Lebih Basis Pemanen di Divisi II Umur (tahun) Blok Tahun Tanam Luasan (ha) BJR (kg) Basis TBS (Biasa) Premi (Rp) Basis TBS (Jumat) Premi (Rp) 1 Basis 2 Basis 1 Basis 2 Basis 4 45 2008 25.31 7.44 200 160 250 143 160 250 6 28 2008 58.89 8.55 160 190 295 115 190 295 8 32 2004 70.15 14.51 130 220 340 93 220 340 8 33 2004 38.83 14.39 130 220 340 93 220 340 9 27 2003 52.34 16.65 90 260 405 65 260 405 9 40 2003 79.13 16.13 90 260 405 65 260 405 10 35 2002 38.30 18.87 80 310 480 58 310 480 12 38 2000 47.34 17.31 75 380 590 54 380 590 12 42 2000 39.91 17.56 75 380 590 54 380 590 13 41 1999 23.08 19.37 70 400 620 50 400 620 14 39 1998 55.75 18.91 65 430 670 47 430 670 20 31 1992 81.35 20.63 40 570 885 29 570 885 26 44 1986 27.18 16.50 40 650 1010 29 650 1010 26 45 1986 25.52 17.30 40 650 1010 29 650 1010 28 37 1984 48.81 19.45 40 650 1010 29 650 1010

Sumber : Kantor Perkebunan Bangun Bandar, 2012

Jika seorang pemanen di Divisi II panen di Blok 35 umur tanaman 10 tahun dengan basis 80 TBS dapat memperoleh 140 TBS, maka perhitungan premi pemanen adalah sebagai berikut

Contoh perhitungan premi pemanen di Divisi II, yakni :

Nomor pemanen : 12

Hari / Tanggal : Senin/ 27 Agustus 2012

Jumlah TBS yang dipanen : 140 TBS

Basis Panen : 80 TBS

Premi Lebih 1 Basis : Rp 310,00

Jumlah Premi : (Jlh TBS yg dipanen – TBS basis borong) x Rp jjg lebih basis

(140 – 80) x 310 Rp 18 600,00

(17)

Apabila pemanen dapat memanen TBS mendapatkan 2 basis atau lebih, pada kondisi yang sama dari contoh diatas, maka perhitungan premi sebagai berikut :

Nomor pemanen : 15

Hari / Tanggal : Senin/ 27 Agustus 2012

Jumlah TBS yang dipanen : 180 TBS

Basis Panen : 80 TBS

Premi Lebih 2 Basis : Rp 480,00

Jumlah Premi : (Jlh TBS yg dipanen – TBS basis borong) x Rp jjg lebih basis

(180 – 80) x 480 Rp 48 000,00

Berdasarkan premi yang ditentukan oleh perusahaan, premi yang diterima oleh mandor panen sebesar 12% dari jumlah premi pemanen, kerani buah menerima 10% dari premi pemanen, dan mandor I produksi menerima premi sebesar 1,5 kali dari premi mandor panen.

Pengangkutan Tandan Buah Segar

Kegiatan pengangkutan harus terorganisasi dengan baik sehingga dapat berjalan dengan lancar. Sistem pengangkutan yang dilaksanakan di Divisi II Perkebunan Bangun Bandar memiliki 3 orang KHT tukang muat buah. Basis ketiga tukang muat buah terssebut adalah 12 ton/HK.

Selesai apel pagi bersama kerani buah, supir dan pemuat bersiap untuk memulai pengangkutan TBS. Dump truck mendatangi setiap TPH di setiap jalurnya. Kemudian para pemuat buah mengangkut TBS dan brondolan di setiap TPH yang berada di jalurnya. Brondolan yang tercecer juga harus dikutip bersih, sehingga para pemuat membawa penggaruk untuk mengutip brondolan. Penulis juga melakukan pengamatan terhadap kinerja pemuat. Penulis melakukan pengamatan 3 tukang muat buah sebanyak 2 kali pengangkutan dump truck di 2 blok yang berbeda dan tahun tanam yang berbeda. Hasil pengamatan disajikan pada Tabel 19.

(18)

Tabel 19. Hasil Pengamatan Kinerja Kerja Pemuat Blok Pengangkutan ke- Brondolan Tinggal (buah) TBS Muat (tandan)

Waktu Angkut (menit)

Aktual Efektif

27 1 225 308 134 120

34 2 347 578 166 120

Total 572 886 300 240

Rata- rata 286 443 150 120

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan (2012)

Berdasarkan data Tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata kehilangan brondolan tinggal dalam satu trip sebanyak 286 brondolan. Hal ini dapat disebabkan karena belum ditetapkannya denda bagi pemuat buah sehingga pemuat buah kurang bertanggung jawab. Waktu angkut dalam 1 trip juga melebihi waktu efektif yang ditetapkan perusahaan. Waktu yang dibutuhkan ± 120 menit untuk satu trip. Kurangnya pengawasan yang ketat oleh mandor dan kerani buah dapat menyebabkan hal ini terjadi. Mekanisme pengirimannya yaitu bila dump truck sudah penuh, dump truck menuju PKS untuk mengantarkan TBS. Sesampai di PKS, dump truck beserta TBS ditimbang di stasiun timbangan. Lalu dump truck menuju ke tempat tuangan buah (Loading Ramp) untuk segera diolah. Sebelum diolah, Staf Tekniker II yang berada di PKS melakukan pemeriksaan terhadap mutu buah.

Setelah selesai mengantar buah ke PKS, dump truck kembali ke stasiun timbangan untuk mengetahui berat TBS yang telah diangkut dump truck tersebut. Dump truck melanjutkan kembali kegiatan muat buah sampai trip terakhir. Berat TBS yang telah diketahui, lalu diinformasikan dalam bentuk formulir penerimaan buah kepada asisten divisi, mandor I produksi, mandor panen, dan kerani buah untuk dimasukkan ke dalam buku biaya dan produksi.

Pengaturan yang baik perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya buah restan. Selain itu, kondisi jalan yang buruk atau tergenang air dapat mempengaruhi kegiatan pengangkutan buah. Pada musim hujan, jalan di divisi II Perkebunan Bangun Bandar umumnya tergenang air, sehingga jalan menjadi licin dan berlumpur.

Gambar

Gambar 9. Alat egrek    Gambar 10. Angkong
Gambar 11. Gancu  Gambar 12. Pisau egrek
Tabel 10. Hubungan Rotasi Panen Terhadap Losses dan Mutu Buah
Tabel 13. Rekapitulasi Pengamatan Mutu Buah pada Divisi II
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dari analisis ini diketahui bahwa sampel Belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi L) positif mengandung terpen hal ini dibuktikan dengan adanya perubahan warna (hijau) pada

Hidrofilisitas membran, fluks permeat, permeabilitas, dan rijeksi garam semakin meningkat dengan semakin kecilnya ukuran partikel silika dan semakin besarnya konsentrasi silika

Barang Asal usul Tahun Cetak / Pem- belian Harga (Rp).. BUKU PENJAS ORKES

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan saat akan memasuki dunia kerja pada masa dewasa awal.

Dalam penelitian ini, faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dibatasi hanya pada faktor atau Iklim Sosial, Program keselamatan kerja dan Sistem kompensasi terhadap

Tujuan dari dibentuknya komite sekolah dalam hal pendistribusian program dana BOS di MTs Tarbiyatul Banin Banat adalah sebagai penghubung antara masyarakat dengan

Sebagai contoh pertama kita akan mempelajari sistem ekologi ideal terdiri dari dua spesies binatang dimana masing-masing bersaing untuk makanan yang sama (kasus 1) atau

DELETE FROM pegawai; -- Menghapus semua data dari tabel pegawai.