KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT
Disampaikan dalam rangka Rapat Koordinasi Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2014
OLEH
DR. GEDE PASEK SUARDIKA, M.Sc
DIREKTUR KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT
DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT
PEMERINTAH
HARUS
HADIR
DALAM
PENANGANAN
KESELAMATAN LLAJ, ANTARA LAIN DENGAN :
1. NEGARA HARUS MEMASTIKAN
KENDARAAN YANG
BERKESELAMATAN
;
2. NEGARA
HARUS
MEMASTIKAN
JALAN
YANG
BERKESELAMATAN
;
3. NEGARA HARUS MEMASTIKAN PERUSAHAAN ANGKUTAN
UMUM
MENJALANKAN
SISTEM
MANAJEMEN
KESELAMATAN (SMK)
;
4. NEGARA
HARUS
MEMASTIKAN
MASYARAKAT
MENDAPATKAN
HAK KESELAMATAN YANG SAMA DALAM
BERLALU LINTAS
(DIFABLE PEOPLE).
1. MEMASTIKAN KENDARAAN YANG BERKESELAMATAN
Pemerintah harus segera memperbaiki sistem
Pengujian Kendaraan Bermotor, Tujuan Pengujian
Kendaraan Bermotor adalah memastikan sarana
angkutan yang beroperasi laik jalan.
2. MEMASTIKAN JALAN YANG BERKESELAMATAN
Undang – Undang No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ, pasal 206 :
Pengawasan terhadap pelaksanaan program Keamanan dan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan meliputi:
a. Audit;
b. Inspeksi; dan
c. Pengamatan dan pemantauan
Undang – Undang No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ, pasal 22 :
Jalan yang dioperasikan harus memenuhi persyaratan laik
fungsi Jalan secara teknis dan administratif , Uji Laik fungsi
jalan dilaksanakan oleh Tim Uji Laik Fungsi Jalan (terdiri dari unsur penyelenggara Jalan, instansi yang bertanggung jawab di bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta Kepolisian Negara Republik Indonesia)
Peralatan Survai
Inspeksi Bidang Keselamatan LLAJ
The Hawkeye 1000 Digital Imaging System (DIS)
Contoh Hasil Pelaksanaan
Inspeksi Keselamatan Jalan
Lokasi Posisi Kondisi Eksisting RekomendasiC : 84.981 (Km) S : 40.2 (Km/h) La : -5.93766200 Lo : 106.00191200 Al : 16.8 (m)
Terdapat lajur yang menyatu Marka memudar
Perlu penambahan rambu persimpangan tiga serong kiri serta penambahan marka yang memadai
C : 75.816 (Km) S : 71.2 (Km/h) La : -5.99021300 Lo : 106.04343800 Al : 52.6 (m)
Terdapat RPPJ yang terhalang oleh pepohonan dan tidak terdapat guard rail yang dilengkapi delineator pada sisi kanan jalan
Hambatan yang mengganggu visualisasi RPPJ perlu dibersihkan, perlu delineator pada guard rail dan perlu pemasangan guardrail yang dilengkapi deliniator
3. PERUSAHAAN ANGKUTAN UMUM MENJALANKAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN (SMK);
UU No. 22 Tahun 2009 Ttg LLAJ
1. Pasal 138 ayat (2) : Pemerintah bertanggung jawab atas penyelenggaraan angkutan umum ;
2. Pasal 141 ayat (1) : perusahaan angkutan umum wajib memenuhi standard pelayanan minimal yang meliputi: keamanan, keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan dan keteraturan;
3. Pasal 204 ayat (1) : perusahaan angkutan umum wajib membuat, melaksanakan dan menyempurnakan sistem manajemen keselamatan dengan berpedoman pada rencana umum keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.
4
.
MASYARAKAT MENDAPATKAN HAK KESELAMATAN YANG
SAMA DALAM BERLALU LINTAS (DIFABLE PEOPLE)
PP 79 TAHUN 2013, TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN
Setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan jalan berupa fasilitas untuk sepeda, Pejalan Kaki, dan penyandang cacat
1. World Health Organization (WHO) telah mempublikasikan
bahwa kematian akibat kecelakaan di jalan diperlakukan sebagai salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah kematian tertinggi ;
2. Kerugian akibat kecelakaan lalulintas jalan diperkirakan mencapai 2,9 – 3,1 % dari total PDB Indonesia;
3. Tahun 2010 Majelis Umum PBB mendeklarasikan Decade of
Action for Road Safety 2011 – 2020 yang bertujuan untuk
menstabilkan dan mengurangi tingkat fatalitas korban kecelakaan secara global dengan meningkatkan kegiatan yang dijalankan pada skala nasional, regional dan global; 4. Semangat pendeklarasian Decade of Action for Road Safety
2011-2020 ini sejalan dengan amanat UU 22/2009 untuk menyusun Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan.
ESENSI KESELAMATAN MENJADI ISU GLOBAL
ISU GLOBAL
World Health Day (7 April 2004), tema “ Road Safety is not Accident”.
Resolusi PBB (A/64/255) Tanggal 2 Maret 2010 Tentang "Decade of Road
Safety" 2011 - 2020 Kesepakatan 4 Menteri+Kapolri Pekan Nasional Keselamatan Jalan 2008 Pekan Nasional Keselamatan Jalan 2009
Disusun draft Rencana Aksi Keselamatan Jalan
Dekade Aksi Keselamatan (DoA)
Dibuka Wapres di Silang Monas Jakarta, 20 April 2008
Dibuka Menhubdi Teater Tanah Airku TMII Jakarta,tanggal 17 Juni 2009
Dibuka Wapres tanggal 20 Juni 2011 di Jakarta
RUNK LLAJ
Resolusi PBB 60/5
Tanggal 20 Oktober 2005 Tentang Improving Global
Road Safety
Pekan Nasional
Keselamatan Jalan 2007
Dibuka Presiden RI di TMII Jakarta, 23 April 2007
Pekan Nasional
Keselamatan Jalan 2010 Para Gubernur di 7 Provinsi
UNDANG – UNDANG NO. 22 TAHUN 2009
BAHWA PEMERINTAH MEMILIKI TTGJWB TERHADAP
KESELAMATAN;
AREA YANG DITANGANI TERHADAP KESELAMATAN
MENCAKUP SARANA DAN PRASARANA :
MANAJEMEN KESELAMATAN;
SARANA YANG BERKESELAMATAN ;
JALAN YANG BERKESELAMATAN ;
PENGAWASAN KESELAMATAN LLAJ (AUDIT,
INSPEKSI, PENGAMATAN DAN PEMANTAUAN)
(Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang LLAJ)
Pasal 203
(1). Pemerintah bertanggungjawab atas terjaminnya Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
(2). Untuk menjamin Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan rencana umum nasional keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Meliputi:
a. penyusunan program nasional kegiatan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
b. penyediaan dan pemeliharaan fasilitas dan perlengkapan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
c. pengkajian masalah Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; dan d. manajemen Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
• Keselamatan sudah menjadi bagian dari Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2014-2019 yang turunannya di daerah berupa Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD);
• Sebagai perwujudan dari disentralisasi fiskal, pemerintah
telah menganggarkan
Dana Alokasi Khusus (DAK)Sub
Bidang Keselamatan Transportasi Darat
bagi Pemerintah
Provinsi maupun Kab./kota yang didalamnya termasuk
bidang keselamatan.
• Pemerintah Daerah (Provinsi/Kab/Kota) melalui
SKPD
yang
terkait
dengan
penanganan
keselamatan jalan juga melaksanakan Rencana
Aksi yang ada dalam RUNK;
• Pemerintah Daerah melaksanakan
program-program
keselamatan
jalan
secara
berkesinambungan yang perlu dituangkan
dalam RPJMD.
POSISI RUNK DALAM PENYUSUNAN RAKJN DAN RAKJD PROVINSI DALAM SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
• SPPN • RUNK
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI NASIONAL Inpres DOA RPJP 2005 - 2025 (UU NO. 17 Th2007) Rancangan Awal RPJMN RENS TRA K/L RANCANGAN RPJMN MUSRENBANG NAS JM Rancangan Akhir RPJMN PERPRES RPJMN RPJPD Rancangan Awal RPJMD RENS TRA SKPD RANCANGAN RPJMD MUSRENBANG DAERAH JM Rancangan Akhir RPJDN PERGUB RPJMD RAKJN K/POLRI RAKJD PROVINSI
KINERJA KESELAMATAN
DI TINGKAT PROVINSI, KABUPATEN/KOTA
TAHUN 2013
KINERJA KESELAMATAN
DI TINGKAT PROVINSI
KINERJA KESELAMATAN
DI TINGKAT KABUPATEN/KOTA
KEBIJAKAN
Kebijakan dari aspek Sumber Daya Manusia (SDM)
Penanganan keselamatan akan dilakukan oleh SDM
yang berkompetensi, sehingga perlu disiapkan SDM
yang kompeten untuk melaksanakan :
1.
Audit Bidang Keselamatan LLAJ;
2.
Inspeksi Bidang Keselamatan LLAJ;
3.
Pengamatan dan Pemantauan
4.
Sistem
Manajemen
Keselamatan
Bagi
Perusahaan Angkutan Umum
1. Audit Bidang Keselamatan LLAJ
Untuk
meningkatkan
kompetensi,
Secara
berkesinambungan Dit. KTD telah melaksanakan
kegiatan
Bimbingan
Teknis
Audit
Bidang
Keselamatan LLAJ kepada aparatur perhubungan
Provinsi, dan Kabupaten/Kota.
2.
Inspeksi Bidang Keselamatan LLAJ
Untuk meningkatkan kompetensi, Secara berkesinambungan
Dit. KTD telah melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis
Inspeksi Bidang Keselamatan LLAJ kepada aparatur
perhubungan Provinsi, dan Kabupaten/Kota.
3. Sistem Manajemen Keselamatan Bagi Perusahaan Angkutan Umum
UJI COBA
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN
Dilaksanakan di 3 provinsi meliputi Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta;
Perusahaan yang dilakukan uji coba adalah
perusahaan bus dengan trayek AKAP;
Setelah dilakukan pendataan kemudian
masing – masing perusahaan diberikan
UJI COBA
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN
No. Waktu Lokasi Total P.O
Jumlah P.O AKAP yang hadir (%) (5) : (4) P.O mengembali kan formulir (s.d 27 Maret 2012) (%) (7) : (5) P.O yang BELUM mengembalikan formulir 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1. 01 Maret 2012 Surabaya, Jatim 65 36 55,4% 19 52,8% 17 2. 02 Maret 2012 Semarang, Jateng 141 29 20,6% 19 65,5% 10 P.O2 DIY 29 9 31,0% 6 66,7% 3 TOTAL 235 74 31,5% 44 59,5% 30
JUMLAH PERUSAHAAN YANG MENGIKUTI SOSIALISASI PENGISIAN FORM ISIAN SMK
29
PENILAIAN PERUSAHAAN BUS (PO) AKAP BERDASARKAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN (SMK)
Provinsi Jawa Timur
NO NAMA PERUSAHAAN
FORMULIR & BOBOT
NILAI RATA - RATA TOTAL NILAI BOBOT KATEGORI A. ASPEK REGULASI B. ASPEK PENGEMUDI C. ASPEK KENDARAAN D. ASPEK BENGKEL E. ASPEK MANAJEMEN NILAI 20% NILAI 25% NILAI 20% NILAI 15% NILAI 20%
1 MEDALI MAS 3,50 0,70 3,31 0,83 3,22 0,64 4,00 0,60 3,67 0,73 3,54 3,51 B 2 SARI INDAH 3,25 0,65 2,81 0,70 3,67 0,73 3,83 0,58 4,00 0,80 3,51 3,46 B 3 SUMBER KENCONO 3,38 0,68 2,31 0,58 3,44 0,69 4,00 0,60 4,00 0,80 3,43 3,34 B 4 AKAS NNR 3,50 0,70 2,69 0,67 3,33 0,67 3,67 0,55 3,67 0,73 3,37 3,32 B 5 DAHLIA INDAH 3,50 0,70 2,50 0,63 3,00 0,60 4,00 0,60 2,83 0,57 3,17 3,09 B 6 MANDALA 3,25 0,65 2,69 0,67 3,11 0,62 3,33 0,50 2,83 0,57 3,04 3,01 B 7 MAJU UTAMA 3,38 0,68 2,25 0,56 3,00 0,60 4,00 0,60 2,83 0,57 3,09 3,00 B 8 MENGGALA 3,00 0,60 2,31 0,58 3,11 0,62 3,33 0,50 3,50 0,70 3,05 3,00 B 9 EKA - MIRA 3,38 0,68 2,00 0,50 3,22 0,64 3,33 0,50 3,33 0,67 3,05 2,99 C 10 MOEDAH 2,88 0,58 2,69 0,67 3,22 0,64 4,00 0,60 2,33 0,47 3,02 2,96 C 11 SANTOSO 3,38 0,68 2,69 0,67 2,78 0,56 3,17 0,48 2,50 0,50 2,90 2,88 C 12 HARAPAN JAYA 3,13 0,63 2,50 0,63 2,89 0,58 3,00 0,45 2,67 0,53 2,84 2,81 C 13 AKAS ASRI 3,25 0,65 2,44 0,61 2,67 0,53 3,00 0,45 2,33 0,47 2,74 2,71 C 14 JAWA INDAH 2,63 0,53 2,13 0,53 3,89 0,78 3,17 0,48 2,00 0,40 2,76 2,71 C 15 KURNIA JAYA 2,63 0,53 1,56 0,39 3,33 0,67 3,17 0,48 2,67 0,53 2,67 2,59 C 16 ZENA 3,13 0,63 2,38 0,59 3,11 0,62 2,17 0,33 2,00 0,40 2,56 2,57 C 17 INDONESIA 3,25 0,65 2,13 0,53 2,56 0,51 3,33 0,50 1,83 0,37 2,62 2,56 C 18 JAYA UTAMA 3,13 0,63 2,13 0,53 2,56 0,51 3,33 0,50 1,83 0,37 2,59 2,53 C 19 BOROBUDUR INDAH 2,75 0,55 2,06 0,52 3,11 0,62 3,33 0,50 1,67 0,33 2,58 2,52 C
30 Provinsi DIY
NO NAMA PERUSAHAAN
FORMULIR & BOBOT
NILAI RATA - RATA TOTAL NILAI BOBOT KATEGORI A. ASPEK REGULASI B. ASPEK PENGEMUDI C. ASPEK KENDARAAN D. ASPEK BENGKEL E. ASPEK MANAJEMEN NILAI 20% NILAI 25% NILAI 20% NILAI 15% NILAI 20%
1 PRAYOGO 3,25 0,65 3,13 0,78 3,78 0,76 3,67 0,55 3,83 0,77 3,53 3,50 B
2 SUHARNO 3,13 0,63 3,13 0,78 3,78 0,76 3,67 0,55 3,83 0,77 3,51 3,48 B
3 CITRA ADI LANCAR 3,13 0,63 3,13 0,78 3,22 0,64 3,67 0,55 3,83 0,77 3,39 3,37 B
4 MAJU LANCAR 3,13 0,63 3,13 0,78 3,22 0,64 3,67 0,55 3,50 0,70 3,33 3,30 B
5 RAHARJA PUTRA MULYA 3,00 0,60 2,50 0,63 3,22 0,64 3,67 0,55 0,00 0,00 2,48 2,42 C
6 SUMBER WARAS 2,63 0,53 1,94 0,48 2,78 0,56 2,83 0,43 1,83 0,37 2,40 2,36 D
Keterangan :
* Jumlah sementara data perusahaan yang masuk sampai dengan tanggal 27 Maret 2012 = 44 Perusahaan
* Kategori A total nilai 3,60 - 4,0
* Kategori B total nilai 3.00 - 3,59
* Kategori C total nilai 2,40 - 2,99
4.
Sosialisasi dan Kampanye Keselamatan
a. Pemilihan Duta Keselamatan untuk Anak
4.
Sosialisasi dan Kampanye Keselamatan
c. Workshop Pembentukan KMSK
e. Sosialisasi Keselamatan melalui Televisi, Radio dan Media Cetak f. Pembuatan Filler (Film Animasi Keselamatan Serial Zeta)
g. Pembuatan dan Penayangan Reality Show
h. Pembuatan dan Penyusunan Bahan Sosialisasi Keselamatan i. Pengadaan Helm Keselamatan
1. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat telah
menyusun Rencana Umum Nasional Keselamatan
(RUNK)
Penyusunan
RUNK
merupakan
aktualisasi
pelaksanaan amanat Undang‐undang (UU) Nomor
22 Tahun 2009 tentang LLAJ yang sinergis dengan
Semangat pendeklarasian Decade of Action for
Road Safety 2011‐2020 yang dideklarasikan oleh
Majelis Umum PBB;
2. PENYUSUNAN RENCANA AKSI DARI 5 PILAR YANG ADA DALAM RUNK OLEH MASING-MASING INSTITUSI PENGAMPU PILAR
5 PILAR PENINGKATAN KESELAMATAN LLAJ
PENINGKATAN MANAJEMEN KES. LLAJ (Safe Management) PENINGKATAN JALAN YG BERKESELAMATAN (Safer Road) PENINGKATAN PERILAKU PENGGUNA JALAN BERKESELAMATAN (Safer People) PENINGKATAN KEND. YG BERKESELAMATAN ( Safer Vehicles) PENINGKATAN PERAWATAN PASKA LAKA (Post
Crash)
PENDEKATAN PENANGANAN KESELAMATAN LLAJ
PILAR 1:
Manajemen Keselamatan Jalan (Road Safety Management)
Penyelarasan dan Koordinasi Keselamatan Jalan Riset Keselamatan Jalan
Surveilance Injury dan Sistem Informasi Terpadu
Dana Keselamatan Jalan
Sistem Manajemen Keselamatan Angkutan Umum Kemitraan Keselamatan Jalan
Penyempurnaan Regulasi Keselamatan Jalan
Program Aksi
TARGET: Mendorong terciptanya kemitraan multi-sektoral untuk mengembangkan dan menetapkan strategi keselamatan jalan nasional, rencana dantarget yang didukung oleh pengumpulan
data dan bukti penelitian untuk menilai desain penanggulangan dan memantau implementasi dan efektifitas.
1. Penyelarasan koordinasi melalui forum LLAJ;
2. Pendataan kecelakaan lalu lintas
koordinasi dengan Polri;
3. Riset kecelakaan lalu lintas koordinasi
dengan Polri dan PU;
4. Pendanaan keselamatan jalan komitmen
Kepala Daerah;
5. Kemitraan keselamatan jalan terutama
dengan swasta
PILAR 2:
JALAN YANG BERKESELAMATAN (SAFER ROAD)
1. Perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan yang berkeselamatan
2. Pemasangan perlengkapan jalan
Program Aksi
TARGET:
Meningkatkan keselamatan kualitas perlindungan atas kualitas jaringan jalan untuk
kepentingan semua pengguna jalan, terutama
yang paling rentan (misalnya pejalan kaki, sepeda dan sepeda motor). Hal ini akan dicapai melalui
implementasi penilaian infrastruktur jalan dan peningkatan perencanaan,
desain, konstruksi dan pengoperasian jalan yang
berkeselamatan.
3. Penyediaan jalur khusus (pejalan kaki, pesepeda,
1. Perencanaan jalan yang berkeselamatan
koordinasi dengan PU;
2. Identifikasi daerah /lokasi (potensi) rawan
kecelakaan implementasi inspeksi/audit
jalan;
3. Manajemen dan rekayasa lalu lintas yang
berkeselamatan;
4. Penataan lingkungan jalan yang
berkeselamatan.
TINDAK LANJUT PELAKSANAAN RUNK
Perbaikan-Perbaikan DRK/LRK di Jalan Nasional
Tikungan di ruas jalan Palembang-Indralaya
PILAR 3:
Kendaraan Yang Berkeselamatan (Safer Vehicle)
Kepatuhan Pengoperasian Kendaraan
Penyelenggaraan dan Perbaikan Prosedur Uji Berkala
dan Uji Tipe
Penanganan Overloading (Kemenhub) Penghapusan Kendaraan (scrapping)
Program Aksi
TARGET:
Perkembangan global peningkatkan teknologi keselamatan kendaraan,
baik untuk keselamatan pasif maupun aktif melalui kombinasi, harmonisasi standar
global yang relevan, informasi konsumen dan skema insentif untuk mempercepat penyerapan teknologi
baru.
1. Penyelenggaraan pengujian kendaraan
bermotor;
2. Penanganan overloading melalui jembatan
timbang;
3. Pemeriksanaan kelaikan kendaraan angkutan
umum di terminal;
4. Penindakan pelanggaran kepatuhan
pengoperasian kendaraan Polri;
5. Pembinaan perbengkelan.
PILAR 4:
Perilaku Pengguna Jalan (Safer People)
Peningkatan Sarana dan Prasarana Sistem Uji SIM (POLRI)
Pembinaan Teknis Sekolah Mengemudi
Penggunaan Elektronik Penegakan Hukum
Kampanye Keselamatan: 1. 5 faktor resiko utama plus (helm, sabuk keselamatan, speeding, mabuk, penggunaan telepon seluler, penguna jalan rentan) 2.
Perilaku sehat di jalan.
Pendidikan Formal dan Informal Keselamatan Jalan
Program Aksi
TARGET:
Penegakan hukum lalu lintas jalan yang berkelanjutan dan
standar – standar peraturan yang dikombinasikan dengan
kesadaran masyarakat atau kegiatan pendidikan
(Disektor publik maupun sektor swasta) yang akan
meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan yang mengurangi dampak dari
1. Peningkatan sarana dan prasarana uji SIM
Polri;
2. Pembinaan sekolah mengemudi;
3. Penanganan terhadap 5 faktor resiko utama
(helm, sabuk keselamatan, speeding, mabuk,
penggunaan HP) Polri;
4. Pendidikan formal/informal keselamatan jalan
koordinasi dengan Kemendiknas;
5. Kampanye Keselamatan.
PILAR 5:
Perawatan pasca kecelakaan (post crash)
Sistem Layanan Gawat Darurat Terpadu
Penjaminan Korban Kecelakaan yang Dirawat di
Rumah Sakit Rujukan
Asuransi Pihak Ketiga (Kemenkeu)
Riset PenangananKecelakaan
Program Rehabilitasi Pasca Kecelakaan
Program Aksi
TARGET: Peningkatan responsivitas untuk keadaan darurat dan
meningkatkan kemampuan sistem
kesehatan untuk memberikan perawatan darurat yang sesuai dan
rehabilitasi jangka panjang.
1. Pembangunan sistem gawat darurat terpadu
koordinasi Kesehatan dan Polri;
2. Kesiapan perawatan kecelakaan lalu lintas
koordinasi dengan kesehatan/ RS;
3. Penjaminan korban kecelakaan koordinasi
dengan PT. Jasa Raharja.
MELAKSANAKAN INSTRUKSI PRESIDEN
NO. 4 TAHUN 2013 TTG PROGRAM DEKADE AKSI
KESELAMATAN JALAN
INSTRUKSI KEPADA : KEMENTERIAN/LEMBAGA (PEKERJAAN UMUM,
PERHUBUNGAN, KESEHATAN, PERINDUSTERIAN, DALAM NEGERI, PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, KEUANGAN, KOMINFO, BAPPENAS, RISTEK, TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, LINGKUNGAN HIDUP, POLRI, GUBERNUR,
BUPATI/WALIKOTA)
DENGAN BERPEDOMAN KEPADA 5 PILAR DALAM RUNK DIINSTRUKSIKAN UNTUK
MENGAMBIL LANGKAH-LANGKAH YANG DIPERLUKAN SESUAI TUGAS, FUNGSI DAN KEWENANGAN MASING-MASING UNTUK MELAKSANAKAN PROGRAM DEKADE AKSI KESELAMATAN
TANTANGAN KE DEPAN
DALAM PENANGANAN KESELAMATAN
1. SEGERA
MENYELESAIKAN
PEDOMAN-PEDOMAN
TEKNIS DALAM PENANGANAN KESELAMATAN
(al : Telahdikeluarkan Permenhub No. 13 Th 2014 ttg Rambu Lalu Lintas, Permenhub No. 34 th 2014 ttg Marka jalan, Peraturan Dirjen Hubdat No. SK.1304/AJ.403/DJPD/204 tgl 10 Maret 2014 ttg Zona Selamat Sekolah)
2. MELAKUKAN
BIMBINGAN
TEKNIS
BIDANG
KESELAMATAN SECARA BERKESINAMBUNGAN;
3. PERKUATAN KOORDINASI DENGAN DAERAH;
4. PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
KESELAMATAN.
TANTANGAN BAGI PEMERINTAH PUSAT
TANTANGAN KE DEPAN
DALAM PENANGANAN KESELAMATAN
TANTANGAN BAGI PEMERINTAH DAERAH
1. MEMASUKKAN PROGRAM KESELAMATAN LLAJ DALAM PERATURAN DAERAH;
2. KELEMBAGAAN (MEMBENTUK SUB BAGIAN ORGANISASI YANG MENANGANI BIDANG KESELAMATAN DAN PEMBERDAYAAN TERHADAP ORGANISASI YANG SUDAH ADA DI BIDANG KESELAMATAN);
3. PENGANGGARAN DALAM BIDANG KESELAMATAN DIDALAM APBD SELAIN PENGADAAN DAN PEMASANGAN PERLENGKAPAN JALAN; 4. PENYIAPAN SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) YANG KOMPETEN;
5. PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KESELAMATAN YANG TERINTEGRASI DENGAN SISTEM INFORMASI PEMERINTAH PUSAT.
TANTANGAN KE DEPAN
DALAM PENANGANAN KESELAMATAN
1. PERLU SEGERA DIFORMULASIKAN KEBIJAKAN STRATEGIS PENANGANAN SEPEDA MOTOR (DATA MENUNJUKKAN PROSENTASE KECELAKAAN TERBESAR MELIBATKAN SPD MOTOR); 2. PERLU SEGERA DILAKUKAN PENINGKATAN DALAM PENANGANAN
KENDARAAN YANG BERKESELAMATAN (PENGUJIAN KENDARAAN SEGERA DIPERBAIKI);
3. PENINGKATAN KOMITMEN DALAM PENANGANAN KESELAMATAN (POLITICAL WILL)
4. PENINGKATAN KOLABORASI ANTAR INSTANSI DAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENANGANAN KESELAMATAN;
5. PENGGALIAN DANA KESELAMATAN (SWDKLLJ, INSURANCE, CSR DLL)
6. PERAN SERTA MASYARAKAT DAN NGO DALAM PENANGANAN KESELAMATAN, YANG SUDAH KITA MILIKI GRSP.