BAB III
METODOLOGI PENILITAN
3.1 PENDAHULUAN
Metode penelitian merupakan cara atau prosedur yang berisi tahapan–tahapan yang jelas yang disusun secara sistematis dalam proses penelitian. Tiap tahapan maupun bagian yang menentukan tahapan selanjutnya sehingga harus dilalui dengan teliti. Untuk memenuhi dan mencapainya tujuan tersebut maka dibutuhkan metode pelaksanaan yang tepat, dengan mempertimbangkan bahwa suksesnya suatu pekerjaan sangat bergantung kepada penyusunan pendekatan metodologi penelitian dan implementasi yang telah diterapkan dalam mempersiapkan dan mengeksekusi pekerjaan tersebut.
Maka metodologi pelaksanaan kerja yang di gunakan dalam menjawab masalah kebutuhan jaringan telekomunikasi data di Kementerian Dalam Negeri sebagai berikut :
START IDENTIFIKASI MASALAH ALTERNATIF SOLUSI DESAIN JARINGAN IMPLEMENTASI END SIMULASI DESAIN JARINGAN
Gambar 3.1 Diagram alur pelaksanaan kerja 3.2 IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan penjelasan pasal 82 ayat (2) menyebutkan “ Pembangunan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan dilakukan dengan menggunakan perangkat keras, perangkat lunak dan sistem jaringan komunikasi data yang efisien dan efektif agar dapat di terapkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Maka, untuk kelancaran pelaksanaan pemutakhiran Data Kependudukan, Penerbitan NIK, dan penerapan KTP Elektronik diperlukan penyedian jaringan komunikasi data untuk konsolidasi data kependudukan.
Dalam proses kegiatan pelaksanaan pemutakhiran data administrasi kependudukan (SIAK, SIAK Konsolidasi dan KTP Elektronik), infrastruktur jaringan komunikasi data menjadi salah satu penentu utama keberhasilan dari proses pemutakhiran data kependudukan. Pada saat ini, perkembangan dunia teknologi telekomunikasi semakin terus berkembang ke arah yang lebih modern dan lebih canggih.
MPLS (Multi Protocol Label Switch) VPN IP merupakan salah satu teknologi jaringan komunikasi data any to any connection yang digunakan oleh PT. Telkom Indonesia yang dapat mendukung kombinasi dari autentifikasi, integrasi, control akses dan kerahasiaan dalam proses pengiriman data kependudukan. Untuk tetap menjamin kenyamanan dan keamanan dari jaringan MPLS VPN IP ini, perlu dilakukan cara penanganan yang cepat dan tepat jika terjadi gangguan pada layanan MPLS VPN IP. 3.3 ALTERNATIF SOLUSI
Dalam proses implementasi pelaksanaan pemutakhiran data administrasi kependudukan (SIAK, SIAK Konsolidasi dan KTP Elektronik), infrastruktur jaringan komunikasi data menjadi salah satu penentu utama keberhasilan dari proses pemutakhiran data kependudukan. Infrastruktur jaringan komunikasi data berfungsi untuk menghubungkan tempat perekaman data kependudukan di 267 Kelurahan di Provinsi DKI Jakarta, 6.101 Kecamatan (diluar Kecamatan Pemekaran), 345 Kecamatan pemekaran, 508 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten/Kota, 34 Provinsi dengan Data Center dan DRC Batam, serta dari Data Center dengan DRC (Disaster Recovery Center) Direktorat Jendral Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Maka dari itu, untuk menunjang pemutakhiran data kependudukan diperlukannya topologi infrastruktur jaringan komunikasi data yang baru yang lebih efisien dengan menggunakan teknologi MPLS VPN IP. Gambaran topologi infrastruktur jaringan komunikasi data Direktorat Jendral Kependudukan dan Pencatatan Sipil dapat dilihat pada gambar 3.3 sebagai berikut ini :
Gambar 3.2 Topologi Infrastruktur Jaringan Komunikasi Data E-KTP
Sedangkan untuk detail dari topologi infrastruktur jaringan komunikasi data yang baru pada Direktorat Jendral Kependudukan dan Pencatatan Sipil, seperti pada gambar 3.4 dibawah ini :
SIAK Konsolidasi dan KTP Elektronik pada dasarnya merupakan aplikasi pelayanan administrasi kependudukan bagi penduduk yang berfungsi secara kontinyu, berkesinambungan dan terpadu. Dari aplikasi tersebut, hasil perekaman data kependudukan di setiap link pelayanan dikirimkan melalui jaringan komunikasi data secara online ke Data Center Ditjen. Dukcapil, untuk mereplikasi semua database SIAK dari kabupaten/kota ke satu database pusat di Jakarta dan proses identifikasi ketunggalan terhadap setiap data biometrics penduduk.
Pada umumnya data KTP Elektronik yang mengalir dari link pelayanan ke Data Center ukurannya cukup besar. Setiap record data penduduk yang dikirimkan berisi antara lain image seluruh sidik jari, iris mata dan foto wajah dengan metode pengiriman data yang berlangsung secara real-time ataupun secara batch, sehingga untuk itu dibutuhkan infrastruktur jarkomdat yang handal dan dapat memenuhi hal-hal teknis sebagai berikut :
Memiliki jaminan stabilitas ketersediaan layanan → Availability; Memiliki Quality of Service (QoS) untuk jenis data kritikal → Quality; Memiliki tingkat keamanan yang tinggi → Security;
Untuk dapat memenuhi kebutuhan teknis jaringan dari proses pemutakhiran data kependudukan KTP Elektronik seperti tersebut di atas, maka dipilih alternatif solusi teknis jaringan komunikasi data dengan menggunakan teknologi VPN IP MPLS seperti pada gambar 3.3 dan 3.4 tentang topologi infrastruktur jaringan komunikasi data.
Link Akses di seluruh lokasi kantor Provinsi, Dinas Dukcapil Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Kelurahan diutamakan menggunakan link akses berbasis terresterial (fiber optic, kabel tembaga atau radiomicrowave), dimana link akses berbasis VSAT atau Jaringan Seluler dengan APN (AccessPointName) tersendiri diposisikan sebagai solusi alternatif. Untuk Link Backhaul di DC MMU, DC Kalibata dan DRC Batam maupun Link yang menghubungkan DC MMU, DC Kalibata dengan DRC Batam satu dengan lainnya diwajibkan menggunakan media fiber optic (fo).
3.4 DESAIN JARINGAN KOMUNIKASI DATA
Teknologi VPN IP MPLS adalah teknologi komunikasi data any to any connection berbasis IP MPLS (Multi Protocol Label Switching) dengan menggunakan hardware Cisco System. Teknologi ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan teknologi komunikasi data melalui leased line maupun teknologi VPN berbasis frame relay. VPN IP merupakan suatu teknologi yang dibangun di atas arsitektur jaringan terpadu yang secara dinamis dapat mengenali jenis aplikasi enterprise untuk memperoleh layanan sekuriti antar node layanan, performansi yang unggul dan ketersediaan yang dapat di andalkan (end to end security, performance dan availability).
Dalam memenuhi persyaratan teknis dari jaringan komunikasi data untuk proses pemutakhiran data kependudukan sebagaimana yang sudah di tetapkan, teknologi VPN IP MPLS merupakan solusi sangat praktis bagi kantor cabang yang memerlukan komunikasi ke kantor pusat secara intensif (terus menerus). Dengan menggunakan teknologi VPN IP MPLS, kantor cabang dapat berhubungan dengan kantor pusat dan kantor cabang lainnya.
Salah satu keunggulan VPN IP MPLS adalah digunakannya fasilitas CoS (Class of Services) dimana pelanggan dapat mengimplementasikan aplikasinya untuk tiga kategori aplikasi, baik berupa aplikasi yang delay sensitive, mission critical maupun non mission critical pada satu platform jaringan privat IP MPLS.
Keunggulan lain yang didapat dari penggunaan teknologi VPN IP MPLS sebagai berikut:
a. Layanan Jamak / Multiservices Offering: 1. Komunikasi untuk data, suara, dan video.
2. Dapat mensupport banyak aplikasi bisnis, seperti : ERP, CRM, etc.
3. Tidak tergantung atas teknologi akses di titik ujung (last-mile-access independent)
b. Kemudahan Ekspansi/ Provisioning Scalability:
1. Implementasi yang fleksibel, dapat dimulai dari infrastruktur sederhana, untuk selanjutnya di kembangkan secara lebih komprehensif.
2. Fasilitas konfigurasi yang sederhana, sehingga meminimalisir waktu downtime akibat kebutuhan maintenance.
c. Aspek Kemudahan Pengaturan / Manageability : 1. Pengaturan secara end-to-end.
2. NMS tunggal. 3. Ramah pengguna.
4. Web-based reporting (real time).
d. Aspek Biaya / Total Cost of Ownership (TCO) Savig:
1. Tarif tidak lagi ditentukan berdasar jarak, namun sudah berdasar jumlah dan volume trafik koneksi.
2. Utilisasi dan Integrasi atas komponen CPE.
Teknologi VPN IP MPLS memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Tingkat keamanan dari teknologi VPN IP MPLS ini masih dapat ditingkatkan dengan menggabungkan teknologi VPN IP MPLS dan IPSec yang menerapkan mekanisme tunneling dan enkripsi untuk keamanan serta kriptografi yang secara fleksibel dapat mendukung kombinasi dari autentifikasi, integrasi, control akses dan kerahasiaan. Sistem keamanan yang dijamin atas jaringan berbasiskan VPN IP MPLS adalah :
1. Address Space dan Routing Separation 2. Hiding of The MPLS Core Structure 3. Resistance to Attacks
4. Tidak dimungkinkannya VPN Spoofing
Dengan metode dan fitur-fitur security diatas, maka keamanan jaringan dan data yang melewati dapat terjamin dan tidak dapat disadap oleh pihak ketiga. Fitur lain yang dimanfaatkan adalah dengan dilakukannya End-To-End Encryption di perangkat router, semakin memberikan aspek security yang terjamin untuk data yang lewat.
Untuk mengimplementasikan teknologi VPN ( Virtual Private Network) dalam jaringan MPLS, solusi yang digunakan dalam proses pemutakhiran data kependudukan memanfaatkan fitur VRF (virtual routing forwarding) pada router-router PE. Dengan fitur ini setiap VPN yang dibentuk tidak akan saling berhubungan satu sama lain.
Gambar 3.4 Pola Traffic VRF pada teknologi VPN IP MPLS Jarkomdat Dukcapil Dari ilustrasi pola traffic VRF pada gambar 3.4 diatas, dapat dijelaskan bahwa VPN untuk grup yang berwarna cokelat tidak dapat mengakses/berkomunikasi dengan VPN untuk grup yang berwarna ungu. Pelanggan VPN tidak akan dapat men-traceroute jaringan node-node yang berada di dalam network MPLS, pengguna hanya dapat melihat VRF-nya masing-masing.
Dengan metode ini, koneksi yang mungkin terbentuk adalah koneksi any to any (dalam 1 VPN saja). Sehingga tidak ada batasan satu remote tidak dapat berkomunikasi secara langsung dengan remote yang lain. Untuk membatasi koneksi-koneksi tersebut maka tabel routing di setiap router CE akan dikonfigurasi pembatasan koneksi.
3.4.1 Infrastruktur Jaringan Komunikasi Data Data Center (DC) dan Disaster Recovery Center (DRC).
A. Alamat lokasi DC dan DRC :
1. Alamat lokasi Backhaul Data Center (DC) di Kalibata, Jakarta;
2. Alamat lokasi Backhaul Data Center (DC) di Medan Merdeka Utara, Jakarta; 3. Alamat lokasi Backhaul Disaster Recovery Center (DRC) di Batam.
B. Menggunakan media akses Fiber Optik dengan rentang Respon Time Trip (RTT) maksimal 30 ms.
C. Kapasitas bandwidthdedicated dan simetris/tidak ada CommitedInformation Rate (CIR), masing-masing sebagai berikut :
1. Menggunakan koneksi berbasis VPN IP MPLS (layer 3) untuk main Backhaul di lokasi Data Center Medan Merdeka Utara terkoneksi dengan Bandwidth = 75 Mbps termasuk penyediaan Backup Backhaul;
2. Menggunakan koneksi berbasis VPN IP MPLS (layer 3) untuk main Backhaul di lokasi Data Center Kalibata terkoneksi dengan Bandwidth = 75 Mbps termasuk penyediaan Backup Backhaul;
3. Menggunakan koneksi berbasis VPN IP MPLS (layer 3) untuk main Backhaul di lokasi DRC Batam terkoneksi dengan Bandwidth = 10 Mbps termasuk penyediaan BackupBackhaul;
4. Menggunakan koneksi DC Kalibata ke DC Medan Merdeka Utara dengan koneksi layer 2 dengan Bandwidth = 10 Mbps;
5. Menggunakan koneksi berbasis VPN IP MPLS (layer 2) untuk lokasi DC Medan Merdeka Utara ke DRC Batam terkoneksi dengan Bandwidth = 20 Mbps;
6. Menggunakan koneksi berbasis VPN IP MPLS (layer 2) untuk lokasi DC Kalibata ke DRC Batam terkoneksi dengan Bandwidth = 2 Mbps;
7. Menggunakan koneksi berbasis VPN IP MPLS (layer 3) untuk lokasi Kantor Dukcapil Pasar Minggu ke Backhaul DC Kalibata, DC Medan Merdeka Utara dan DRC Batam terkoneksi dengan Bandwidth = 2 Mbps.
D. Topologi jaringan data berbentuk star topology dengan pusat di Data Center di Medan Merdeka Utara, Jakarta dengan DC di Kalibata, Jakarta dan DRC di Batam sebagai backup data di lokasi.
E. Teknologi VPN-IP MPLS yang digunakan harus memenuhi persyaratan sistem sebagai berikut :
1. MultiservicesOffering dengan parameter teknis class of services;
2. Parameter yang digunakan dalam data protokol untuk membedakan jenis muatan yang terkandung pada paket sedang dikirim. Tujuan dari diferensiasi tersebut umumnya terkait dengan menugaskan prioritas ke tingkat beban payload data.
3. Topologi komunikasi data Star Topology;
Distribusi Star Topology (model jaringan VPN IP MPLS) dimana sebuah sistem koneksi yang terhubung ke semua lalu lintas jaringan bergerak sepanjang jari-jari terhubung ke backhaul di pusat setiap Data Center (MMU dan Kalibata) pada sebuah model jaringan terdistribusi.
4. Bandwidth yang disediakan bersifat fullduplex dan simetris;
5. Scalable, penambahan jumlah lokasi tidak boleh mengganggu lokasi lain yang sudah eksisting;
6. Manageable, sistem network corporate dapat diakses/dimanage untuk memantau tingkat performansi jaringan.
7. Sistem jaringan harus menjamin keamanan jaringan dan data sedemikian rupa sehingga tidak bisa diganggu melalui jaringan komunikasi yang disediakan oleh penyelenggara jasa telekomunikasi lainnya (Closed Network).
F. Layanan VPN-IP MPLS yang dipersyaratkan memiliki class of service untuk aplikasi dengan kriteria sebagai berikut :
1. Aplikasi Kritikal (Aplikasi SIAK, SIAK Konsolidasi dan KTP Elektronik) dengan alokasi 70% dari kapasitas bandwidth;
2. Aplikasi Non Delay Sensitive (email, FTP, HTTP) dengan alokasi 30% dari kapasitas bandwidth.
G. Layanan VPN-IP MPLS menggunakan standar Protokol TCP/IP. H. Security yang digunakan harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Sistem jaringan harus menjamin keamanan jaringan dan data sedemikian rupa sehingga tidak bisa diganggu melalui jaringan komunikasi yang disediakan oleh penyelenggara jasa telekomunikasi lainnya;
2. Tidak menggunakan IP address publik sebagai identifikasi link;
3. Data yang melewati WAN tidak dapat disadap oleh pihak manapun, harus mempunyai encryptionend-to-end yang disediakan oleh Provider, dan apabila menggunakan teknologi mobile seluler harus mengaktifkan protokol berbasis security.
3.4.2 Komponen Backhaul Jarkomdat Data Center MMU (Main & Redundant).
Pemasangan Backhaul jaringan pada Data Center Kependudukan Medan Merdeka Utara (MMU) yang terkoneksi dengan 267 Kelurahan (khusus Provinsi DKI Jakarta), 6.101 Kecamatan (diluar Kecamatan Pemekaran), 345 Kecamatan Pemekaran, 508 Kabupaten/Kota, 1 Provinsi DKI dengan kapasitas bandwidth sebesar 2 x 75 Mbps. Tersedianya Backhaul untuk Data Center Kependudukan Medan Merdeka Utara (MMU) untuk mendukung pelaksanaan pelayanan administrasi kependudukan.
3.4.3 Komponen Backhaul Jarkomdat Data Center Kalibata (Main & Redundant).
Pemasangan Backahaul jaringan pada Data Center Kependudukan Kalibata yang terkoneksi dengan 508 Kabupaten/Kota dan 34 Provinsi dengan kapasitas bandwitdh sebesar 2 x 75 Mbps. Tersedianya Backhaul untuk Data Center Kependudukan Kalibata untuk mendukung pelaksanaan pelayanan administrasi kependudukan.
3.4.4 Komponen Backhaul Jarkomdat Disaster Recovery Center (DRC) Batam (Main & Redundant).
Pemasangan Backhaul jaringan pada Disaster Recovery Center (DRC) Batam yang terkoneksi dengan 508 Kabupaten/Kota dan Provinsi DKI Jakarta dengan kapasitas bandwitdh sebesar 10 Mbps. Tersedianya Backhaul pada Disaster Recovery Center (DRC) Batam untuk mendukung pelaksanaan pelayanan administrasi kependudukan.
3.4.5 Komponen Link Data Center (DC) Kalibata ke Data Center (DC) MMU.
Pemasangan Link akses jaringan yang terkoneksi dari DC Kalibata ke DC MMU untuk mendukung layanan akses data kependudukan dari Data Center Kependudukan Kementerian Dalam Negeri DC Kalibata ke DC MMU Jakarta dengan kapasitas bandwidth sebesar 10 Mbps. Tersedianya Link dari Data Center Kalibata ke Data Center MMU untuk mendukung pelaksanaan konsolidasi data kependudukan dan layanan akses terkait data KTP Elektronik.
3.4.6 Komponen Link Data Center (DC) MMU dengan Disaster Recovery Center (DRC) Batam.
Pemasangan Link akses jaringan yang terkoneksi dari DC MMU ke DRC Batam untuk mendukung layanan akses dan replikasi data kependudukan termasuk data biometric dengan kapasitas bandwidth sebesar 20 Mbps. Tersedianya Link akses dari DC MMU
ke DRC Batam untuk mendukung layanan akses dan replikasi data kependudukan termasuk data biometrik.
3.4.7 Komponen Link Data Center (DC) Kalibata dengan Disaster Recovery Center (DRC) Batam.
Pemasangan Link akses jaringan yang terkoneksi dari DC Kalibata ke DRC Batam untuk mendukung layanan akses dengan kapasitas bandwidth sebesar 2 Mbps. Tersedianya Link akses dari DC Kalibata ke DRC Batam untuk mendukung layanan akses.
3.5 SIMULASI DESAIN JARINGAN KOMUNIKASI DATA
3.5.1 Solusi yang diusulkan
Solusi yang diusulkan untuk merancang jaringan komunikasi data tersebut dapat menggunakan melalui emulators seperti GNS (Grafis Jaringan Simulators) yang berlaku untuk skenario yang real-time. Langkah-langkah untuk merancang jaringan ini dapat dilihat seperti dibawah ini:
Step 1: Membuat VRF di PE Routers.
VRF ini digunakan untuk setiap pelanggan didalam jaringan. Route-Distinguisher (RD) dan Route-Target (RT) adalah dua konsep yang berbeda yang digunakan dalam sebuah MPLS VPN. RD digunakan untuk menyimpan semua prefixs tabel unik di BGP (Perbatasan Gerbang Protocol), dan RT ini digunakan untuk menstransfer rute antara VRF/VPN. Pada PE Routers, RT harus sama agar VRF dapat terhubung satu dengan yang lainnya.
Step 2: Membuat Trunk Ports.
MPLS Multi-VRF memungkinkan setiap pelanggan untuk menggunakan fisik link yang sama antara CE dan PE Routers. Trunk Ports dengan menggunakan beberapa paket VLANS yang berbeda diantara pelanggan dan oleh karena itu setiap pelanggan memiliki VLAN sendiri-sendiri. Hal ini untuk mengurangi kelebihan hubungan antara CE dan PE Routers.
Step 3: Routing Protokol untuk setiap VRF dan antara CE dan PE Routers. Untuk setiap VRF pada PE Routers harus dikonfigurasi sebuah routing protokol untuk menghubungkan antara CE dan PE Routers. Kebanyakan routing protokol yang digunakan adalah BGP, OSPF, EIGRP, RIP, dan Statik. Dalam kasus MPLS VPN, semua routing protokol sangatlah dibutuhkan untuk setiap VRF di CE dan PE Routers.
Step 4: Aktifkan MPLS didalam jaringan inti penyedia layanan.
Pada inti penyedia layanan jaringan, konfigurasi standar MPLS ini di lakukan pada jaringan inti, dengan begitu perbedaan antara MPLS dengan beberapa VRF atau VPN biasa yang digunakan di beberapa CE Routers.
Step 5: Routing protokol di dalam jaringan.
Multi-protokol BGP memungkinkan beberapa alamat keluarga melintasi jaringan secara paralel untuk pertukaran informasi routingan pelanggan. BGP dirancang untuk menjadi protokol yang beroperasi di beberapa sistem mandiri (AS) dan lebih cocok untuk mendistribusikan jumlah peta informasi yang sangat besar bersama dengan label distribusi untuk MPLS. Informasi ini membantu dalam mendukung beberapa pelanggan. Selain itu, untuk mempelajari jejak dan menukar label LDP (Label Distribusi Protokol) di jaringan MPLS.
3.5.2 Skenario desain jaringan
Skenario desain jaringan disimulasikan untuk menunjukan bagaimana fitur multi VRF dapat dimanfaatkan untuk menghubungkan antara CE router yang ada di daerah menuju ke CE router yang ada di pusat. Skenario desain jaringan komunikasi data terlihat seperti pada gambar dibawah ini:
Gambar 3.5 Skenario desain jaringan komunikasi data
CORE_LAN : Terhubung dengan kedua router CE Backhaul dan difungsikan sebagai penghubung ke server data center.
BH : Router CE Backhaul Main Link yang difungsikan sebagai penghubung antara router CE CORE_LAN ke semua router CE yang ada didaerah dan router PE.
BU_BH : Router CE Backhaul Backup Link yang difungsikan sebagai standby router apabila router CE Backhaul Main Link terjadi gangguan.
3.6 IMPLEMENTASI
Implementasi ini adalah upaya untuk mendetailkan parameter yang digunakan dalam layanan jaringan komunikasi data sehingga dapat memenuhi seluruh aspek teknis dan kualitas jaringan komunikasi data E-KTP baik untuk menjalankan aplikasi E-KTP maupun SIAK.
3.6.1 Realisasi pekerjaan Backhaul ke Data Center
Pekerjaan fisik:
2. Pemasangan router CE Backhaul. 3. Routing table di router CE Backhaul.
3.6.2 Realisasi pekerjaan routing table MPLS VPN IP KELURAHAN
Pekerjaan fisik:
1. IP WAN dan IP LAN menggunakan IP yang sudah ditentukan. 2. Terintegrasi ke NMS Solarwinds.
3. Penarikan Link MPLS-VPN IP di 267 Kelurahan di Provinsi DKI Jakarta dengan Bandwidth 128 Kbps.
4. Pemasangan router di 267 Kelurahan di Provinsi DKI Jakarta. 5. Konfigurasi Virtual Routing Protocol (VRF/VPRN) di PE router.
3.6.3 Realisasi pekerjaan routing table MPLS VPN IP KECAMATAN
Pekerjaan fisik:
1. IP WAN dan IP LAN menggunakan IP yang sudah ditentukan. 2. Terintegrasi ke NMS Solarwinds.
3. Penarikan Link MPLS-VPN IP di 6170 Kecamatan dengan Bandwidth 128 Kbps. 4. Pemasangan router di 6170 Kecamatan.
5. Konfigurasi Virtual Routing Protocol (VRF/VPRN) di PE router.
3.6.4 Realisasi pekerjaan routing table MPLS VPN IP KABUPATEN
Pekerjaan fisik:
1. IP WAN dan IP LAN menggunakan IP yang sudah ditentukan. 2. Terintegrasi ke NMS Solarwinds.
3. Penarikan Link MPLS-VPN IP di 508 Kabupate dengan Bandwidth 1024 Kbps. 4. Pemasangan router di 508 Kabupaten.