• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DI INDONESIA. 1. Pengakuan Korporasi Sebagai Subjek Tindak Pidana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DI INDONESIA. 1. Pengakuan Korporasi Sebagai Subjek Tindak Pidana"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

Referensi

Dokumen terkait

1 Tahun 1946 pada tanggal 26 Pebruari 1946 sebagai hukum pidana materiel yang berlaku secara unifikasi dan terkodifikasi di Indonesia walau dalam pasal pasalnya menyebutkan

kedepannya dapat lebih berperan dalam memberikan perlindungan hukum terhadap korban perdagangan orang yang dilakukan korporasi serta dapat memberikan kepastian hukum, keadilan dan

Tindak pidana dapat dilakukan oleh manusia alamiah dan badan hukum; Apabila suatu tindak pidana dilakukan oleh badan hukum, dapat dilakukan tuntutan pidana dan jika dianggap perlu

Korporasi dapat dipertanggungjawabkan secara pidana terhadap suatu perbuatan yang dilakukan untuk dan/atau atas nama korporasi, jika perbuatan tersebut termasuk dalam

Reorientasi dan reformulasi pertanggungjawaban pidana terhadap korban kejahatan korporasi antara lain meliputi ketentuan mengenai: (1) ketentuan mengenai kapan suatu tindak

Reorientasi dan reformulasi pertanggungjawaban pidana terhadap korban kejahatan korporasi antara lain meliputi ketentuan mengenai: (1) ketentuan mengenai kapan suatu tindak

Simons memberikan pendapatnya mengenai delict yaitu, delik merupakan suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh

Perumusan tindak pidana dalam Bab II Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jika dihubungkan dengan subjek hukum yang dikenal dalam Undang-Undang Pemberantasan